CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Kamis, 14 Desember 2017

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News


Rabu lalu (13/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menyelenggarakan Bincang Jurnalistik. Kegiatan yang termasuk Program Kerja Departemen Jurnalistik tersebut dilaksanakan di lembah kampus. Acara berlangsung selama satu setengah jam lebih, dari pukul 08.15 WIB sampai sekitar pukul 10.00 WIB.
Bincang kemarin merupakan yang kedua dari empat pelaksanaan sesuai perencanaan. Adapun materi yang dibahas ialah Indepth News. Pematerinya adalah Wulan Agustina, salah seorang redaktur Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena.
Sebanyak duapuluh peserta hadir pada kegiatan tersebut. Uniknya, Annas Rolli Muchlisin (Ketua CSSMoRA Nasional) dan Melati Ismaila Rafi’i (Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga) turut berpartisipasi di dalamnya. Hendriyan Rayhan selaku moderator memimpin berjalannya acara dari awal hingga akhir.
Kendati membahas tentang Indepth News, Wulan tidak monoton mengulas tentang tata cara penulisannya. Dia juga memberi selingan pembahasan tentang kode etik jurnalistik yang sangat penting untuk diketahui oleh para jurnalis. “Jadi yang kita sampaikan bukanlah kebenaran filosofis, melainkan kebenaran fungsional,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah tersebut menambahkan, jurnalis harus berusaha seobjektif mungkin dalam menyajikan berita. Jangan sampai ada opini penulis tercantum di dalamnya. “Hindari penggunakan kata semisal banyak dan cantik. Karena memang tidak ada takaran yang pas dalam hal tersebut,” tegasnya.

Acara berjalan dengan tidak formal atau santai. Kegiatan tersebut mendapat respon baik dari para peserta, salah satunya Annas. “Selain diajarkan untuk bersikap kritis, kita juga diajarkan agar mampu melihat suatu persoalan secara holistik dengan melihat fakta-fakta yang ada,” ungkapnya.(bsr)

Sabtu, 02 Desember 2017

HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat

   
HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat
Oleh : Triyanti Nurkhikmah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) 

   Kemarin (01/12), penduduk dunia telah memperingati Hari AIDS Sedunia (selanjutnya disebut HAS). HAS pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Selanjutnya, konsep tersebut disetujui oleh Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS) dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama HAS akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988. Konsep yang mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia sejak 1988 ini diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

   Membincang HIV/AIDS, setidaknya ada dua PR utama bagi masyarakat dunia umumnya, dan Indonesia khususnya. PR tersebut adalah kurangnya edukasi (pengetahuan) mengenai HIV/AIDS dan stigma negatif yang ditujukan kepada penderita HIV/AIDS. Dua hal tersebut menjadi layak diperbincangkan, setidaknya untuk memperluas wawasan tentang HIV/AIDS dan menghilangkan “noda hitam” bagi para penderita HIV/AIDS.

HIV atau AIDS?

   HIV dan AIDS; dua kata yang terlihat seperti pasangan tak terpisahkan ini menjadi bias maknanya di sebagian besar masyarakat. Apakah dua kata tersebut berbeda, saling berkaitan, sebab akibat, atau bahkan sama maknanya. 

   HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. 

   Adapun AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali. Sederhananya, AIDS merupakan level lanjutan atau dampak jangka panjang yang muncul karena virus HIV. Menurut medis, penderita HIV akan sampai pada AIDS setelah sepuluh tahun terinfeksi. Dengan catatan, tidak sering melakukan hal-hal yang beresiko.

Sarana penularan HIV 

   HIV memiliki “sarana khusus” dalam penularannya, bukan semata-mata dengan bersentuhan saja bisa tertular. Ada tiga perantara penularan HIV, yaitu pertama, melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya. Kedua, dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui. Ketiga, melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).

   Tiga sarana tersebut mempunyai prinsip penularan yang biasa disebut ESSE (Exit, Survive, Sufficient sarana penularan dan Enter). Exit; keluar. Virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, maupun jarum suntik yang terkontaminasi. Survive; hidup. Untuk dapat menularkan HIV, virus harus bisa bertahan hidup di luar tubuh. Akan tetapi, virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Sufficient; cukup. Artinya, jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi. Apabila virus hanya dalam jumlah sedikit (belum cukup), maka penularan tidak akan terjadi. Enter; masuk. Berarti, virus tersebut harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini menandakan, apabila salah satu prinsip tersebut tidak terpenuhi, maka virus tidak akan menular. 

Stigmatisasi penderita HIV/AIDS

   Selama ini banyak anggapan bahwa HIV hanya dapat menular pada orang-orang tertentu saja; yakni orang-orang yang berbuat dosa. Lebih dari itu, klaim bahwa HIV dikirim Tuhan sebagai hukuman, bahkan kutukan sudah menjadi jamur yang cepat mmenyebar dan tumbuh subur di masyarakat. Maraknya informasi dan data yang seharusnya difilter sebelum dikonsumsi dan disebarkan, membuat adanya “noda hitam” bagi penderita HIV/AIDS. Padahal, edukasi mengenai HIV/AIDS masih di bawah standar maksimal. Hal ini menciptakan kesenjangan sosial dalam tatanan masyarakat,

   Orang Dengan HIV/AIDS (biasanya disebut ODHA), merupakan salah satu komponen masyarakat yang mempunyai hak yang sama dengan masyarakat umumnya. Mempunyai hak untuk hidup, bersosialisasi dan berinteraksi layaknya masyarakat umum. Akan tetapi, fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat adalah berkembangnya sigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA. Sebagai contoh, seorang ODHA dijauhi bahkan sampai pada pengucilan yang dilakukan masyarakat sekitar. 

   Bukan hanya di Indonesia saja, stigmatisasi terhadap ODHA juga terjadi di negara pada umumnya. Sejarah mencatat, awal ditemukannya virus HIV muncul di Kasensero, sebuah desa di tepi danau Victoria, Uganda Barat. Wilayah ini menjadi sorotan dunia pada tahun 1982 dikarenakan hanya dalam beberapa hari, warganya meninggal dunia setelah mengidap penyakit misterius (yang kemudian dikenal dengan HIV). Setelah berita itu mencuat ke telinga masyarakat dunia, desa tersebut mempunyai “noda hitam” di mata dunia. Selain itu, hal ini juga terjadi  di sebagian wilayah AS, Tanzania dan Kongo. Stigmatisasi terhadap ODHA semakin kuat melekat di telinga masyarakat dunia. 

   Anggapan yang sama juga datang dari negara Kamboja. Seorang pendeta Buddha yang selibat ternyata mengidap HIV. Para pengikutnya pun marah mengira dia melakukan hubungan seks secara diam-diam. Ternyata setelah ditelusuri, beliau tertular akibat kelalaian dokter yang merawatnya. Si dokter, untuk meminimalkan biaya pembelian alat suntik, telah melakukan injeksi obat-obatan ke ratusan orang tanpa mengganti alat suntik. Seharusnya alat suntik adalah sekali pakai.

Menghapus stigma dan diskriminasi ODHA 

   Beberapa tahun terakhir, beredar short message service (SMS) menyebar ke masyarakat. Isi dari SMS tersebut memaparkan bahwa ada penderita HIV yang menyebarkan virus lewat tusuk gigi yang tersedia di restoran. Caranya, tusuk gigi itu dipakai hingga terkena darah lalu diusap hingga orang tidak curiga tusuk gigi tersebut pernah dipakai. Kemudian tusuk gigi diletakkan kembali ke tempatnya. Yang menjadi pertanyaan, bisakah virus HIV menular lewat cara tersebut? Apakah melakukan kontak sosial dengan ODHA berbahaya?

   Di awal telah dijelaskan, bahwa virus HIV mempunyai prinsip dan sarana tertentu dalam penularannya. Maka, hal-hal yang tidak termasuk dalam prinsip dan sarana tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa HIV tidak menular di kolam renang umum, tidak menular melalui batuk atau bersin, tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga lainnya, tidak menular dengan berbagi alat makan bersama dan tidak menular karena berjabat tangan. Kontak sosial dengan ODHA tersebut sah-sah saja, tidak perlu dikhawatirkan. Lha wong kita sama-sama manusia kok, bagaimana kalau saya atau anda di posisi mereka? Oke, jauhi penyakitnya, bukan orangnya. 

Minggu, 26 November 2017

Menjalin Keakraban dan Sportifitas Antar Angkatan, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Turnamen Futsal

Kemarin (25/11), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali gelar Turnamen Futsal Angkatan. Event yang dimotori oleh Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) tersebut merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari proker departemen. Digelar di Gedung Olahraga (GOR) UIN Sunan Kalijaga, turnamen ini diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan sebagian alumni yang masih berdomisili di Yogyakarta atau sengaja menyempatkan diri ke Yogyakarta di tengah-tengah kesibukannya. “Mumpung gak ada kegiatan di rumah, pas ada futsal juga si”, ujar Kaysie, alumni angkatan 2012 yang sekarang berdomisili di Malang.
Sebelum turnamen dimulai, acara dibuka sambutan dan tendangan finalti oleh Azam, wakil ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Nyanyian mars CSSMoRA dan lagu Indonesia Raya juga turut menambah semangat diawal pertandingan. Dipimpin oleh Suriyanti dan Karin, seremonil/pembukaan yang dimulai pukul 09.00 tersebut ditutup dan dilanjutkan dengan pertandingan.
Tidak ada yang berbeda dari turnamen futsal tahun ini. Semua angkatan baik putra maupun putri bertemu dalam pertandingan. Keseluruhan, team putra berjumlah lima team (terdiri dari alumni, angkatan 2014, 2015, 2016 dan 2017), sedangkan team putri berjumlah empat team (angkatan 2014, 2015, 2016, dan 2017. Total permainan sebanyak 16 pertandingan selama kurang lebih sepuluh jam.
Turnamen berjalan lancar, walaupun sempat terjadi gesekan antar pemain di salah satu sesi pertandingan. Selama pertandingan, sorak sorai supporter juga terdengar riuh memenuhi langit-langit GOR UIN Sunan Kalijaga. Berbagai atribut dikenakan oleh para supporter, seperti botol, panci, tali rafia dan berbagai properti lainnya yang menambah semarak lapangan.  Tidak jarang juga dari masing-masing angkatan menyanyikan yel-yelnya sebagai dukungan team mereka. “Aku sorak-sorak itu ya demi kelas, demi mereka yang ku anggap keluarga. Setidaknya kita memberikan semangat yang positif ke teman-teman yang sedang “berjuang” demi angkatan”, tutur Khairun Nisa, salah satu supporter dari angkatan 2014.
Sebagai penutup acara, panitia mengumumkan para juara turnamen kali ini. Ada enam kategori juara dalam turnamen ini. Juara 1 putra diraih oleh angkatan 2014, begitupula juara 1 putri. Juara top scorrer diraih oleh Alif Jabal Kurdi (angakatan 2016), sedangkan juara kategori pemain terfavorit diraih oleh Nur Azka Inayatussahara (angkatan 2016). Selain itu, terdapat kategori juara bagi angkatan, koreografi terbaik dan team tersportif. Kategori pertama diraih oleh angkatan 2015 sedangkan yang terakhir diraih oleh angkatan 2017. Sampai berita ini dipublikasikan, masih ada dua kategori juara yang on going, yaitu kategori foto terbaik dan caption termenarik yang diupload di akun instagram. Nyanyian mars CSSMoRA kembali menggema di lapangan sebagai penutup acara. Selain sebagai penutup, nyanyian tersebut menyatukan kembali persaudaraan yang sempat terpecah selama pertandingan berlangsung.

Acara ini bukan tanpa tujuan. “Tujuan utamanya sih, mempererat tali silaturami antar angkatan dan alumni yang dibalut dengan turnamen. Selain itu, juga memperkuat hubungan silaturahmi di masing-masing angkatan”, kata Ramzy, ketua panitia sekaligus koordinator Departemen KOMINFO. Dia berharap, turnamen selanjutnya dapat lebih baik dan meriah. Selain itu, on time kedatangan dari seluruh anggota juga menjadi satu hal penting yang perlu disadari.  “Pertandingan hanya sepuluh jam, selebihnya kita saudara. Jangan sampai turnamen ini malah bias sampai perpecahan di luar lapangan”, ujarnya di akhir acara. “Ini kan pertandingan persahabatan, yo di bawa heppy aja. Jangan sampai terbawa emosi, toh kita juga satu keluarga”, kata Akrima, angkatan 2017 ketika ditanya kunci sportifitas team. [red]

Minggu, 19 November 2017

Departemen KOMINFO CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan Ngaji Design Jilid 1

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net –Kemarin (19/11) Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga telah melaksanakan kegiatan Ngaji Design yang merupakan proker terbaru dan perdana di CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh angkatan 2017 dan sunnah bagi angkatan lainnya. Namun, pada kegiatan perdana hari ini belum ada dari angkatan lain yang mengikuti Ngaji Design karena kepentingan yang lain juga cuaca yang tidak mendukung. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa pihak dari BPH, yaitu Wakil Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Dilaksanakan di LSQ, Ngaji Design perdana ini dibimbing oleh Sdr. Nanda Ahmad Basuki (angkatan 2015) yang dulunya pernah menjabat sebagai sekertaris KOMINFO periode 2016/2017.

Walau mengalami beberapa kendala di awal, kegiatan berjalan lancar hingga akhir. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat peserta dalam mengaplikasikan corel secara langsung dibawah bimbingan Sdr. Nanda. Acara ini berlangsung mulai pukul 10:15 wib –bergeser dari perkiraan awal, yaitu pukul 08:00 wib karena sempat terjadi kesalah teknis- dan berakhir pukul 12:30 wib. Diharapkan setelah adanya Ngaji Design ini, para peserta mampu memiliki output dalam bidang design grafis, baik itu mendesign pamphlet dan lain sebagainya. Ramzy, selaku koordinator Departemen KOMINFO menjelaskan bahwa alasan diadakan Ngaji Design ini karena ia melihat kurangnya anggota CSSMoRA UIN Suka yang mahir dalam bidang design grafis. Ia juga menambahkan, bahwa fenomena ini dapat dilihat secara nyata dalam penunjukan sebuah kepanitian sebuah event yang diadakan CSSMoRA UIN Suka khususnya panitia divisi Pubdekdok yang mana selalu diisi oleh orang yang sama.

Kenapa Ngaji Design ini diwajibkan (read: memfokuskan) bagi angkatan 2017? Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. “Angkatan 2017 adalah angkatan paling muda. Mereka merupakan penerus CSS, supaya anggota tua (read: 2016 ke atas) yang telah mahir dapat memiliki pengganti dengan cepat. Berganti dengan tunas baru (angkatan 2017)” Terang Ramzy.

Selain itu, jika peminat dari Ngaji Design ini banyak, Departemen KOMINFO juga berencana untuk membuat Club Design sebagai wadah bagi mereka yang menyukai design grafis.


Setelah Ngaji design jilid 1 ini, Ngaji Design jilid 2 dan 3 juga akan segera dilaksanakan di bulan-bulan berikutnya dengan perkiraaan waktu kondisional.

Sabtu, 18 November 2017

Simaan Rutinan Bulan Ke-3 Kembali Dihelat

Pagi tadi, Sabtu (18/11) telah dilaksanakan kegiatan rutin oleh CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Yakni simaan dan sowan dosen. Simaan adalah salah satu program kerja Departemen PSDM CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman dosen-dosen yang mengajar anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Bulan November ini simaan dilaksanakan di kediaman bapak Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag. Kegiatan ini dihadiri oleh 27 anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Simaan dimulai pukul 10.30 wib dari perkiraan jam 08.00. Sebelum dimulai pembacaan al-Quran, simaan tersebut diawali dengan pembacaan wasilah yang dipimpin langsung oleh Bapak Fatih, sapaan akrab beliau. Kemudian dibagi berdasarkan kelompok yang telah ditentukan beberapa hari sebelumnya. Simaan tersebut juga dibagi dalam dua kelompok besar, bi al-Ghaib dan bi an-Nazhar. Antusiasme anggota CSSMoRA cukup mengalami penurunan pada pelaksanaan simaan bulan ini. Dari target 40 peserta, hanya 27 orang yang hadir disebabkan beberapa hal dan kepentingan yang tidak dapat ditinggalkan. Tentu saja, hal ini menjadi PR bersama seluruh anggota dan pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga agar pelaksanaan selanjutnya semakin meriah dan dihadiri lebih banyak peserta lagi. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para mahasiswa yang hadir. Hal ini ditunjukkan dengan semangat yang terlihat ketika para mahasiswa membaca bagian bi al-Ghaib yang kemudian dilanjutkan dengan membaca bagian bi an-Nazhar. Dalam sambutannya, kepala prodi Ilmu Hadis UIN SUKA tersebut menyampaikan bahwa seluruh anggota CSSMoRA yang notabene merupakan mahasiswa yang mendapat anugerah beasiswa harus mampu menyelesaikan studinya tepat waktu. Biarlah segala sesuatu yang telah terjadi menjadi pelajaran, bukan tradisi yang seharusnya dilestarikan. Beliau juga menyampaikan bahwa agenda ini adalah agenda yang sangat bagus dan perlu dikembangkan. Baik dari segi konsep dan segala sisi. Agar ke depan acara tersebut meriah, terang Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia tersebut. Setelah semua proses pembacaan al-Quran selesai, agenda simaan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil. Tahlil dipimpin oleh saudara Taufikurrahman, mahasiswa angkatan 2014. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Doa juga dipimpin oleh beliau Bapak Fatih sebagai penutup rangkaian susunan acara simaan pagi tadi. Kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan foto bersama.

Selasa, 14 November 2017

Buletin Sarung Edisi 13 November 2017

Buletin Sarung Edisi 13 November 2017


Untuk Buletin Sarung Edisi 13 November 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017

Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017


Untuk Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017

Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017


Untuk Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini