CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Sabtu, 24 September 2016

Buletin Sarung Edisi 24 September 2016

Setelah selesai menerbitkan Buletin Sarung Edisi sebelumnya, maka pada kesempatan ini, kami dari kru sarung sudah melakukan revisi dan membuat versi digital untuk bisa dibaca, diunduh, dan dicetak bagi yang ingin membacanya. Kritik dan saran diperlukan untuk perkembangan buletin digital ini pada Edisi selanjutnya. Untuk download bisa masuk ke halaman berikut : Buletin Sarung Edisi 24 September 2016 atau bisa membacanya disini.

Kamis, 22 September 2016

Resensi Buku SALEH RITUAL SALEH SOSIAL




Resensi Gus Mus
Oleh : Luqman Hakim

Judul buku      : SALEH RITUAL SALEH SOSIAL (Kualitas Iman, Kualitas Ibadah, dan    Kualitas Akhlak Sosial)
Penulis            : KH. A. Muatofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit           : Diva Press tahun 2016
Tebal               : 204 halaman

Gerak-laku kita (ibadah) didalamnya sering kita hanya gerak laku rutin yang kosong makna. Dzikir dan bacaan-bacaan kita didalamnya seringkali sekedar terluncur oleh bibir-bibir yang terbiasa, bukan dikendarai dan dikendalikan oleh makna yang terkandung didalamnya. Maka tak mengherankan jika shalat, misalnya, yang seharusnya tanha ‘anil fakhsya-i wal munkar (dapat membentengi orang yang melakukanya dari perbuatan keji dan munkar), justru tak tampak pengaruh positifnya dalam kehidupan musholli yang bersangkutan. (hlm 36)
Gus Mus mengungkapkan adanya dikotomi yang sungguh tidak menguntungkan bagi kehidupan beragama di kalangan kaum Muslim, yaitu ungkapan tentang adanya kesalehan ritual di satu pihak dan kesalehan sosial di pihak lain. Padahal kesalehan dalam Islam hanya satu, yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertaqwa) yang mencakup sekaligus ritual dan sosial. Berangkat dari kegelisahan ini KH. A. Mustofa Bisri atau yang akrab disebut Gus Mus memaparkan banyak sekali hal-hal yang sepertinya sepele namun memiliki pengaruh signifikan. Dengan sudut pandang yang berbeda, hal-hal yang terlewatkan oleh kebanyakan orang dibahas dengan bahasa yang menjadikannya menarik dan layak untuk direnungi, seperti tamsil dari sahabat Umar tentang amar ma’ruf nahi munkar. Atau bagaimana dicintainya kiai Basyuni oleh berbagai lapisan masyarakat di daerah Rembang sebab terkenal kebaikan dan kesantunanya. Dengan bahasa yang ringan pula Gus Mus mamaparkan beberapa pembahasan yang berat menjadi mudah dicerna, seperti permasalahan sosial-politik kehidupan bernegara atau persoalan keimanan.
Salah satu judul yang sangat menarik “Nabi yang Manusia” berisi teladan dari Nabi Muhammad yang selain sebagai seorang nabi, beliau juga sebagai anggota masyarakat terkadang pula sebagai kepala rumah tangga yang sangat memanusiakan manusia. Diceritakan Nabi menambal sendiri terompahnya yang putus dan menjahit pakaianya yang robek. Sebagai seorang yang berkeluarga Nabi memanjakan, bertengkar dan bercanda dengan istri-istrinya, Nabi berlomba lari dan menonton ”kesenian daerah” bersama sayyidatina ‘Aisyah. Nabi pernah ”mentakziahi” sahabatnya yang burungnya mati dan mendoakan semoga segera mendapat pengganti, menggoda lelaki yang meminta disediakan kendaraan unta untuk ikut berjihad dengan mengatakan “yang ada Cuma anak untu” Nabi bercanda dengan ucapan yang benar. Cerita lain tentang Nabi yang sangat memanusiakan manusia yaitu ketika Nabi melihat tali melintang di masjid dan ketika ditanyakan kepad seseorang, ia memperoleh jawaban bahwa itu tali Zainab sebagai “piranti” bersembayang, untuk beregangan jika tanganya mulai lelah. Lalu beliaupun memerintahkan untuk melepaskan tali iti dan bersabda “ hendaklah kamu sembahyang  seukur kondisi tenagamu, bila lelah tidurlah”. Dengan contoh yang sedemikian lengkap Gus Mus menyimpulkan bahwa sangatlah mudah mengenali ajaran Nabi Muhammad Saw. dari ajaran yang lain, yaitu apabila manusia wajar merasa wajar melakukanya,tidak sulit dilakukan umumnya manusia, itulah ajaran Nabi Saw.
Lewat buku ini pula Gus Mus memberikan sentilan-sentilan kehidupan beragama dewasa ini. seperti semangat (ghirah) beragama mendorong kita untuk mensyiarkanya, salah satunya dengan memanfaatkan pengeras suara untuk panggilan sembahyang, dan nyatanya berlebihan. Segala macam bacaan selain adzan pun kita kumandangkan setiap saat. Kita melupakan etika berdzikir, adab membaca al-Qur’an dan tentang idza, menyakiti hati orang yang terbisingi lengkingan suara kita. atau bahkan mencari-cari dalil untuk membenarkan suatu perbuatan atau dalam bahasanya Gus Mus “ndalili kepentingan”.
Beberapa hal diatas seringkali luput dari perhatian kita sebagai umat beragama maupun sebagai anggota masyarakat, atau terkadang kita masih bingung apa alamat seseorang itu dicintai oleh Allah. Gus Mus menjelaskan dengan mengutip hadis Nabi Saw. yang kesimpulanya bahwa siapa yang dicintai dibumi maka dicintai pula dilangit. Selain itu ada hadis yang lain yang berbunya “Khairun naas anfauhum lin naas” sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat untuk yang lain.
Dengan kepiawaianya menyederhanakan pembahasan Gus Mus menggambarkan bahwa beragama yang benar bukanlah perkara yang sukar dan jangan dijdikan sukar. Emha Ainun Nadjib berkata Gus Mus adalah pendekar kehidupan yang bukan sekedar sanggup mnemukan ketentraman dalan kecamasan, menggali kebahagiaan dari jurang derita, atau menikmati kekayaan di dalam kemiskinan. Lebih dari itu Gus Mus bahkan mampu membuat kegelapan menjadi tidak ada, karea yang ada pada beliau, dan bahkan beliaunya sendiri adalah cahaya.

Sabtu, 17 September 2016

PENSIL '16 (Pentas Silaturrahmi) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Kemarin (18/9), Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan acara Pentas Silaturrahmi (PENSIL). Kegiatan ini dihadiri oleh segenap mahasiswa aktif PBSB UIN Sunan Kalijaga. Bertempat di Teatrikal Fakultas Dakwah, progam kerja pertama KOMINFO itu berlangsung sejak pukul 09.00 wib dan berakhir pada 14.00 wib.

Dengan dipimpin Dian dan Anti selaku pembawa acara, kegiatan itu diawali dengan pembukaan. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran oleh Andi Rasyidin dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta mars CSSMoRA oleh seluruh peserta acara. Kemudian ketua panitia PENSIL dan ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga memberikan sambutan secara bergantian.

Rizki Rahmad Fikri, ketua panitia PENSIL ini menuturkan bahwa, acara ini bukan tanpa tujuan. "Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan anggota CSSMoRA antar angkatan," ungkapnya.

Setelah sambutan, masing-masing angkatan mempersembahkan penampilan di atas panggung. Dimulai dari angkatan 2015 dengan dramanya, lalu angkatan 2016 dengan penampilan uniknya, kemudian angkatan 2013 dengan musikalisasi puisinya, dan dipungkasi angkatan 2014 dengan rentetan macam pertunjukannya. Adapun urutan tersebut ditentukan berdasarkan undian sebelum pertunjukan dimulai.

Acara tersebut mendapat respon positif dari para peserta khususnya anggota baru. Mereka mengaku mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman dari kegiatan tersebut. "Pensil 2016 benar-benar luar biasa bagi kami," ujar Alif, salah satu anggota baru PBSB UIN Sunan Kalijaga.


Mahasiswa asal Bali tersebut menambahkan, dia dan teman-temannya sangat berterimakasih kepada panitia yang telah mencurahkan waktu dan keringatnya demi menyukseskan acara tersebut. "Terima kasih atas sambutannya dan terima kasih atas perkenalannya," pungkasnya.(bsr)

Senin, 12 September 2016

Pendidikan Karakter; Solusi Mengatasi Krisis Moralitas Generasi Bangsa

Pendidikan Karakter; Solusi Mengatasi Krisis Moralitas Generasi Bangsa
Oleh : Azhari Andi
Azhariandi59@gmail.com
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Pendidikan merupakan hal yang sangat urgen bagi manusia dan bahkan ia merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Begitu pentingnya pendidkan hingga ia selalu ramai diperbincangkan. Pada hakikatnya, tujuan dari pendidikan adalah membentuk manusia menjadi pribadi yang berbudi pekerti mulia sebagaimana yang dikatakan oleh Socrates bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good dan smart. Senada dengan Socrates, tujuan diutusnya nabi Muhammad saw. adalah menyempurnakan budi pekerti mulia.
Tokoh fenomenal pendidikan Barat, Klipatrick juga mengatakan hal yang sama bahwa karakter atau budi pekerti adalah tujuan dari pendidikan. Jika sedemikian luhurnya tujuan pendidikan, mengapa realitas yang terjadi sangatlah berbeda dengan idealitas? di berbagai penjuru dunia, tak terkcuali Indonesia,  psikotropika dan narkoba beredar di kalangan anak sekolah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang masih berstatus siswa menjadi penjual narkotika. Pesta miras, kasus pelecahan seksual, berbagai tawuran antar anak sekolah, tindakan kriminal dan tindakan amoral lainnya solah-olah sudah menjadi pemandangan yang sudah biasa dijumpai. Sementara, sekolah-sekolah yang tak terhitung jumlahnya dengan mudah kita jumpai di berbagai pelosok Indonesia. Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? Apa yang salah dengan pendidikan ?
Menjawab permasalahan di atas, pendidikan karakter nampaknya dipandang sebagai solusi yang tepat oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi problematika krisis moral yang tengah melanda bangsa. Hal ini dapat dilihat  dari dicanangkannya visi penerapan pendidikan karakter pada tahun 2010-2014 oleh Kemendiknas.

Pendidikan Karakter
Karakter berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “”kharassein”, dan “kharak” yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Karakter mempunyai definisi beragam, namun esensinya sama, yaitu menekankan etika. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, Karakter diartikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti.
Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yakni mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan memikian pendikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah upaya membimbing prilaku manusia menuju satndar-stadar baku. (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2011).
Upaya ini menegaskan untuk mengahargai persepsi dan nilai-nilai pribadi yang dimiliki siswa. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, namun pada praktiknya meliputi kecakapan-kecakapan sosial siswa. Singkatnya, pendidikan karakter bertujuan untuk memanusiakan manusia.
Pendidikan Karakter Konteks Indonesia : Tinjaun Sejarah
Sejak beribu abad yang lalu, pendidikan karakter telah diperbincangkan. Socrates misalnya, ia mengatakan bahwa good and smart  adalah tujuan luhur pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan karakter mengalami kemunduran hingga pada tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter kembali ramai diperbincangkan. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya yang sangat fenomenal The Return of Character Education.
Dalam konteks Indonesia, pendidkan karakter dapat ditelusuri dari keterkaitannya dengan pendidikan kewarganegaraan. Pada era pra-kemerdekaan, pendidikan karakter lebih dikenal dengan  pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti ini berupaya menanamkan etika dan moral yang melandasi sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, era Demokrasi Terpimpin, pendidikan karkater dikenal dengan national and character building. Namun pada perkembangannya hancur oleh doktrin-doktrin yang melemahkan. (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2011)
Memasuki pemerintahan orde baru, pendidikan karakter berganti menjadi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Upaya penanaman pembentukan karakter bangsa melalui mata pelajaran Pancasila terus dilakukan sampai awal tahun 90-an. Bergulirnya era reformasi, pendidikan karakter dikukuhkan dengan lahirnya Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Pada tahun 2010, Pendidikan karakter dijadikan oleh pemerintah sebagai program utama yang harus diimplematsikan di sekolah dengan dicanangkannya visi penerapan pendidikan karakter pada tahun 2010-2014.
Berdasarkan paparan singkat di atas, seyogyanya peserta didik di Indonesia mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dari tujuan pendidikan. Namun realita yang terjadi sagatlah kontras dengan idealitas dari tujuan pendidikan.
Peserta Didik Indonesia : Potret Moralitas
Memang tak dipungkiri bahwa banyak dari peserta didik Indonesia yang telah meraih prestasi gemilang baik di kancah nasional maupun kancah internasional, dan bahkan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri pada universitas terkemuka. Namun di satu sisi, siswa dan pelajar juga tak luput dari sorotan tentang tinta hitam yang ditorehkan dan mencoreng tujuan luhur pendidikan, terutama aspek moralitas. Bagaimana tidak, sejatinya pendidikan bertujuan membentuk pribadi yang berkarakter, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Pengaruh teknologi juga menambah parah hancurnya moralitas siswa. Tifatul Sembiring mantan Menkominfo menuturkan bahwa Indonesia merupakan pengakses internet nomor tiga terbesar di dunia. Selain itu, Tifatul menyebutkan Indonesia merupakan pengakses nomor dua terbesar situs pornografi di dunia.
Hal ini mendukung data bahwa berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar di Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. Data selanjutnya juga menambahkan bahwa 91 persen dari mereka sudah pernah melakukan kissing, petting atau oral sexs. Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan abortus. (www.republika.co.id)
Selain itu, kasus narkoba juga menjerat para siswa. Bahkan lebih tragis lagi, menurut data BNN dalam kurun waktu 2008-2012 tercatat bahwa proporsi terbesar tersangka narkoba berlatar belakang pendidikan SLTA, SLTP, SD dan diikuti perguruan tinggi. Lebih lanjut, pengguna narkoba berumur 16-19 mencapai 2.238 dalam kurun waktu 2008-2012. (www.kompasiana.com 27/4/15)
Tidak hanya kasus di atas, tawuran antar sekolah, perampokan, tindakan amoral dan lain sebagainya juka ikut memperparah moralitas siswa. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil atau bisa dikatakan gagal. Lalu apakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia?

Pendidikan Karakter Solusi Mengatasi Krisis Moralitas
Memang Indonesia telah menerapkan pendidikan karakter sejak era pra kemerdekaan. Nampaknya pendidikan karakter belum sepenuhnya diaplikasikan dengan baik. Selama ini pendidikan anak atau siswa seringkali dipahami sebagai tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan saja. Sehingga menimbulkan paham bahwa orang tua dan sosial lepas dari tanggung jawab untuk memberikan pendidikan terhadap anak. Apalagi di era modern ini, banyak orang tua yang sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga mengabaikan pendidikan anak dalam lingkungan keluarga.
Persepsi seperti ini tentunya tidak bisa dibenarkan. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Dalam buku Educating for Character, Thomas Lickona menyatakan bahwa sekolah membutuhkan bantuan dari rumah untuk memberikan pendidikan karakter kepada anak. Meski sekolah dapat memperbaiki tingkah laku siswa ketika mereka berada di sekolah –dan bukti menunjukkan bahwa sekolah memang bisa- namun sangat mungkin dampak yang mampu bertahan lama pada karakter anak akan lenyap apabila nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak didukung dari rumah. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sekolah dan keluarga harus bekerja sama demi mencapai tujuan yang sama. Dengan bekerja sama, kedua lembaga sosial ini akan memiliki kekuatan untuk membesarkan manusia yang bermoral dan meninggikan kehidupan moral bangsa ini.
Selain sekolah dan keluarga, sosial atau lingkungan adalah salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, lingkungan yang baik sangat diharapkan untuk mendudukung pendidikan nilai yang telah dipelajari di sekolah dan di rumah. Artinya, guru, orang tua, keluarga dan sosial harus memberikan teladan nilai yang baik bagi anak agar terwujud tujuan luhur pendidikan karakter.
Jika kerja sama di antara ketiga lembaga sosial tersebut berjalan dengan baik, maka tujuan luhur pendidikan –membentuk manusia yang bermoral dan berbudi pekerti- dapat terwujud. Karena, hal ini akan mendorong terwujudnya komunitas moral baik itu di sekolah, keluarga dan sosial. Pada akhirnya akan memberikan efek postif pada diri siswa sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab, menghormati nilai dan nilai-nilai positif lainnya. ini menunjukkan bahwa pendidikan siswa tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab keluarga dan sosial.
Pendidikan karakter yang diperoleh di sekolah, rumah dan sosial akan menumbuhkan tiga unsur dari karakter itu sendiri pada diri siswa , yakni mengetahui kebaikan (knowing the good); mencintai kebaikan (loving the good); dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan demikian, pendidikan karakter diharapkan mampu menjawab permasalahan krisis moral yang tengah melanda generasi bangsa.

Minggu, 11 September 2016

Idul Adha; Berkurban Untuk Seorang atau Sekeluarga?



Idul Adha; Berkurban Untuk Seorang atau Sekeluarga?
Oleh :
Muhammad Farid Abdillah


             Idul Adha adalah salah satu hari besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Idul Adha atau yang sering disebut dengan Idul Qurban memang merupakan hari raya bagi umat Islam setelah berlalunya hari raya Idul Fitri. Sehingga euforia menyambut datangnya hari raya Idul Adha sudah terdengar berminggu-minggu sebelum datangnya hari raya ini.
            Tidak jauh berbeda dengan hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha juga memiliki tradisi takbiran di malam sebelum sholat id, sholat id di pagi hari raya, dan tradisi hari raya umat Islam pada umumnya. Namun, ada satu hal yang membedakan Idul Adha dengan Idul Fitri. Yakni adanya perintah berkurban bagi orang-orang yang mampu. Perintah yang melandasi hal ini tentu saja yang sudah sering kita dengar, surat Al-Kautsar ayat 2 :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢
Artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
            Berkurban yang dimaksud di sini adalah menyembelih unta, kambing, sapi, atau lembu. Biasanya pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah. Namun, sebagaimana pemahaman kita bahwa penyembelihan ini masih dapat dilaksanakan hingga hari Tasyrik atau tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.
Lebih lanjut membahas tentang adanya perbedaan pendapat, menurut hemat penulis, segala aspek kehidupan akan selalu memiliki titik perbedaan di mata semua orang. Tidak dapat dipungkiri hal ini juga terjadi dalam pelaksanaan hari raya kurban. Perdebatan yang sering terjadi ini adalah perdebatan mengenai apakah seekor kambing itu untuk satu orang atau satu kepala keluarga, yang tentu saja hal ini berdampak kepada hewan kurban yang lain, yakni sapi, unta, ataupun lembu yang notabene jumlahnya lebih banyak, yaitu 7 orang atau 7 kepala keluarga.
Jika direntet ke belakang tentu saja kedua pendapat ini memiliki dasar landasan berpendapat sendiri-sendiri. Entah yang mengatakan satu ekor hewan untuk satu orang maupun satu ekor hewan untuk satu kepala keluarga. Sehingga tidak sepantasnya jika kedua pendapat ini saling menjatuhkan dan menyalahkan satu sama lain.
Pendapat yang menyatakan bahwa qurban hanya untuk satu orang yaitu:
“Kami menyembelih hewan pada saat Hudaibiyyah bersama Rasulullah SAW. Satu ekor badanah (unta) untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi)
Sedangkan, yang menyatakan bahwa qurban boleh untuk satu keluarga adalah:
“Pada masa Rasulullah SAW ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
 Terlepas dari perbincangan hangat mengenai apakah seekor hewan kurban itu untuk satu orang atau satu kepala keluarga, poin terpenting yang dapat diambil di sini adalah bagaimana agar dengan adanya hari raya Idul Adha rasa kekeluargaan dari setiap muslim akan semakin erat. Karena jika yang terjadi adalah perdebatan terus-menerus antara dua pemahaman yang berbeda, maka sampai kapanpun persaudaraan umat Islam hanya akan menjadi sebuah wacana tanpa ada tindakan konkritnya.
Mengetahui ada perbedaan seperti ini. Lalu mana yang kita ambil pendapatnya ? apakah yang mengatakan hanya untuk satu orang, atau yang mengatakan untuk satu keluarga? Keadaan yang paling umum terjadi ketika ada pertanyaan seperti ini adalah adanya unsur paksaan dalam memberikan pemahaman kepada orang lain. Yakni dengan cara mengatakan bahwa pendapatnya lah yang paling benar. Namun, menghadapi keadaan seperti ini, penulis lebih realistis. Yakni dengan cara pilihlah pendapat yang menurut anda paling pasdi hati, tanpa ada unsur paksaan atau apapun dari pihak lain.
Setelah membicarakan tentang berbagai hal yang mengitari perbedaan pendapat di atas,pertanyaan selanjutnya pasti lah bagaimana kita menyikapi adanya perbedaan tersebut. Daripada saling menjatuhkan dan saling menyalahkan, lebih baik kita mengambil jalan tengah. Yakni jawaban yang tak jauh berbeda dengan pertanyaan pendapat mana yang kita ambil. Yaitu ambil pendapat yang menurut kita meyakinkan dan menyemangati diri dalam berkurban. Serta tak perlu saling menyalahkan dan menjatuhkan orang lain.
Sebenarnya tidak ada di musuh di dunia ini, yang ada hanyalah Saudara yang berbeda pendapat. Lagu kita tetap sama INDOONESIA RAYA”
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1437 H.

Selasa, 16 Agustus 2016

JIHAD SANTRI, DULU DAN KINI




Mengulas tentang kemerdekaan Republik Indonesia tentu tidak terlepas dari peran Ulama dan kaum Santri. Berbagai pergerakan yang dilakukan oleh umat Islam begitu tampak mewarnai sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Pergerakan tersebut dilakukan dalam bentuknya yang bermacam-macam, mulai dari perjuangan diplomasi hingga pertaruhann nyawa dalam berbagai peperangan pada masa itu. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam, khususnya kaum santri di masa kini untuk menghargai jasa-jasa para pendahulu tersebut dengan meneruskan perjuangan mereka.
Menurut Marwan Saridjo (1980) dalam bukunya Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, ada tiga fase ulama pesantren dalam menentang penjajah. Pertama, mengadakan ‘uzlah, yakni mengasingkan diri ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan penjajah. Oleh karena itu, apabila pada awalnya kebanyakan pesantren berada di pedalaman perlu dipahami dalam konteks ‘uzlah, sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah. Seandainya tidak pernah terjadi penjajahan, Nurcholish Madjid (1997) menduga keberadaan pesantren tidak akan begitu jauh terpencil di daerah pedesaan, mungkin akan berada di kota-kota yang menjadi pusat kekuasaan dan perekonomian, atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh dari sana. Kedua, bersikap non-kooperatif dan sering mengadakan perlawanan secara diam-diam. Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan secara fisik. Pada perlawanan fisik inilah kaum pesantren berjuang dalam jihad mengangkat senjata di medan perang.
Selama masa penjajahan pesantren memiliki peran ganda, yaitu sebagai pusat penyebaran Islam sekaligus sebagai pusat penggemblengan para santri dan umat Islam untuk menumbuhkan semangat jihad agar suatu saat bangkit, sebagai hizbullah, membela agama dan tanah air dari cengkeraman penjajah. Untuk membakar semangat jihad melawan penjajah, ulama pesantren mengeluarkan sejumlah fatwa seperti; hubb al-wathan min al-iman (cinta tanah air merupakan bagian dari iman), man tashabbaha bi qawm fahuwa minhum (barang siapa meniru suatu kaum, berarti ia termasuk bagian dari kaum itu). Karena itu, memakai dasi ketika itu hukumnya haram lantaran menyerupai Belanda, berbahasa Belanda diharamkan karena akan menyerupai dan bermental Belanda. Akan tetapi, jika belajar bahasa Belanda untuk kewaspadaan terhadap tipu muslihat mereka, maka hukumnya menjadi boleh, sambil berdalil man ‘arofa lughota qawm amina min syarrihim (barang siapa yang memahami bahasa suatu bangsa, maka ia akan tehindar dari tipu muslihat mereka). Kemudian fatwa yang sangat menakutkan kaum penjajah adalah Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadlratusyaikh KH Hasyim Asy’ari pada bulan Oktober tahun 1945, dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI dari agresi Belanda dan sekutunya. Fatwa-fatwa di atas dan keterlibatan langsung ulama-ulama pesantren dalam peperanganmelawan kolonial, menjadi dokumen tak terbantahkan betapa pesantren memiliki jasa yang besar dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan Mohammad Kosim (2006) dalam tulisannya berjudul Pesantren dan Wacana Radikalisme, mengutip perkataan Budi Utomo, tokoh pergerakan nasional, yang mengatakan; “Jika tidak karena sikap kaum pesantren ini, maka gerakan patriotisme kita tidak sehebat seperti sekarang”.
Memasuki 71 tahun kemerdekaan, santri dituntut untuk terus aktif dalam memajukan NKRI. Perjuangan yang dibutuhkan pada masa ini bukan lagi jihad qitalmengangkat senjata. Akan tetapi perjuangan masa kini dilakukan dalam bentukjihad intelektual untuk kemajuan bangsa. Kaum santri dapat bergerak dalam segala bidang untuk berpartisipasi membangun NKRI, menjaga keutuhannya serta menciptakan kedamaian di dalamnya. Dengan demikian, jihad kaum santri dapat terus hidup dalam segala konteks zaman.
Dengan kontekstualisasi makna jihad, diharapkan kaum santri menjadi tonggak kemajuan NKRI. Di tengah maraknya isu terkait islamofobia, maka tugas kaum santri adalah menampilkan wajah Islam yang damai sebagai rahmat bagi seluruh alam. Menghadapi derasnya arus informasi, maka kaum santri mesti turut bergerak melawan provokasi pihak-pihak tertentu yang ingin memecah belah umat Islam.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga menuntuntut kaum santri menjadi bagian aktif di dalamnya. Artinya kaum santri tidak mesti mengasingkan diri di tempat terpencil sebagaimana pada masa penjajahan dahulu, dalam konteks ‘uzlah.  Dalam bidang ekonomi, sosial, politik maupun budaya pun mesti ada peran jihad kaum santri yang turut memberi warna di dalamnya. Hal demikian telah sejalan dengan pesantren yang juga turut melangkah pada kemajuan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan sains dalam pembelajarannya.

Berbekal semangat jihad yang menggebu untuk menegakkan kalimat Allah, serta diiringi dengan kecakapan intelektual yang mumpuni, menjadikan kaum santri begitu potensial membangun peradaban. Jihad santri, dulu dan kini, mesti terus menyala di bumi Indonesia.

Ditulis oleh: Hendriyan Rayhan

Memaknai Merdeka, Meneladani Mereka





Merdekaku, Memanggul Rindu
(1)
Mak, sekarang tujuh belas agustus!
Lalu kenapa nak?
Dan tangan tuanya masih memilah mana batu mana beras
Tangan kecil disampingnya memegang koran bekas bungkus gorengan
Tangan tuanya menyeka peluh
Tangan kecilnya menyeka rindu
Merindukan merdeka!
(2)
Merdeka! Merdeka!
Berantas kemiskinan!
Teriakan pemuda di perempatan jalan
Sepasang mata tua memandang dari seberang
Tangannya memegang perut berkereok
Merindukan merdeka!

                Puisi diatas adalah puisi yang disusun atas perenungan dan refleksi realita negara kini. Memaknai merdeka, yang terlintas di pikiran senantiasa tentang tugas ‘memerdekakan’ yang belum dan rasanya tak pernah usai. Dari aspek terkecil dalam negara ini, hingga aspek terumit negara yang tiada terbaca orang-orang awam. Orang-orang yang hanya tahu merdeka adalah perut mereka terisi. Dan tugas yang diemban oleh segenap rakyat indonesia itu rasanya tiada pernah habis.
                Menelisik kembali perjuangan rakyat indonesia kala itu, tak pernah luput sederet nama pahlawan. Dari yang terabadikan di buku sejarah hingga yang tertera di nisan taman makam pahlawan. Terlepas dari itu, masih banyak nama yang syahid tak terbadikan disini namun tak pernah luput di langit-langit. Setiap dari mereka tentu memiliki karakter yang beragam, sesuai watak ataupun asal mereka. Dari mereka kita dapat mengambil sejuta pelajaran. Ini hanya sedikit dari lebih banyak lagi keteladanan dari mereka dan orang-orang di sekitar kita.
Tanggung Jawab
Nasionalisme tumbuh dari besarnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Para pejuang yang mempunyai rasa memiliki negara dan rasa tanggung jawab tanpa gentar maju memperjuangkan kemerdekaannya. Semata-mata karena rasa tanggung jawabnya sebagai warga negara. Andai saja mereka tidak memiliki hal itu, mungkin mereka hanya bisa mengumpat para tentara ataupun orang-orang besar negara kala itu. Membiarkan mereka terkungkung dalam nasib hingga ratusan tahun kedepan. Namun tidak, karena adanya rasa tanggung jawab itulah mereka tetap melakukan perjuangan, sekalipun perjuangan itu tak nampak banyak pengaruhnya. Tak apa, karena kekuatan kecil mereka itulah kekuatan besar lahir. Serta lahirnya bangsa yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap negaranya.
Memang rasanya ringan saja mengatakan tanggung jawab. Namun tak mudah untuk melaksanakannya. Sikap tanggung jawab ini akan melahirkan sebuah pemahaman kedewasaan, yang akan mengantarkan kita pada sebuah kesadaran dan tindakan nyata. Tanggung jawab sebagai mahasiswa, sebagai pengemban amanah, dan sebagai santri. Tinggal bagaimana memposisikan diri. Apakah membiarkan kelalaian merajai hingga lupa bahwa tanggung jawab memiliki kekuatan besar bagi masa depan kita, serta memiliki kekuatan di hadapan Tuhan kita. Apalagi kalau bukan pertanggungjawaban?
Keteguhan
Keteguhan dalam meraih apa yang dicitakan. Jika saat itu mereka sungguh bercita-cita memiliki negara kesatuan dan terebas dari jajahan, memiliki kedaulatan sendiri serta bebas sebagai warga negara, maka kini tentu cita untuk bangsa itu telah berubah. Para pahlawan tanpa ragu melangkah di baris paling depan untuk menantang penjajah. Dengan senjata yang tak sebanding, mereka tak akan pernah berani maju dan bertahan untuk tetap menyerang tanpa adanya keteguhan. Dengan serangan hebat penjajah tentu mereka akan mundur jika tanpa keteguhan.
Tak hanya di masa itu, kini masih banyak teladan yang dapat kita ambil untuk memaknai keteguhan itu sendiri. Seperti yang diungkap dalam puisi diatas, keteguhan orang-orang yang berada di garis kemiskinan juga seringkali luput menjadi contoh untuk menumbuhkan rasa syukur. Tak sedikit kita temui teladan itu di sekitar kita, namun tak banyak yang dapat mengambilnya sebagai sebuah pelajaran berharga.
Ya, keteguhan merupakan kekuatan untuk bertahan dalam segala situasi. Bertahan ketika situasi sedang sulit. Bertahan untuk tetap melakukan sesuatu semaksimal mungkin yang dapat dilakukan. Sebagai seorang akademisi, memiliki kekuatan untuk ‘survive’ dalam situasi apapun tentu sangat penting. Bukankah banyak dari mereka yang gagal karena tak memiliki kekuatan untuk bertahan? Ditambah menjadi seorang santri yang juga membutuhkan keteguhan untuk mempertahankannya. Bukankah santri adalah jati diri yang juga membutuhkan keteguhan?
                Menjadi santri yang akademis, menjadi pengajar yang tengah mengabdi, menjadi apapun kita, alangkah indah jika tanggungjawab yang dibarengi keteguhan itu tumbuh dalam diri. Seperti mereka, para pahlawan yang bertanggungjawab terhadap negara dan agamanya, meneguhkan diri mereka untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Seperti mereka, orang-orang yang tumbuh di garis kemiskinan, yang memiliki tanggungjwab terhadap keluarga dan agamanya, meneguhkan diri untuk tetap bertahan dalam keterbatasannya. Dan kitapun dapat menjadi seperti mereka. Bertanggungjawab terhadap negara dan agama, lantas meneguhkan diri melaksanakan tanggungjawab itu. Apabila kita temui sisi hitam negeri ini, tengoklah saja. Masih banyak sisi terang yang akan membangkitkan kita. Dirgahayu Indonesiaku, kami pemuda negerimu kelak akan membuatmu bangga memiliki kami!

Ditulis oleh : Melati Ismaila Rafi'i

Minggu, 14 Agustus 2016

Orientasi Mahasiswa Baru 2016



Orientasi Mahasiswa Baru
Oleh: Irfan Faizri
Tak kenal maka tak sayang.  Mungkin pribahasa ini rasanya sangat cocok untuk mengambarkan kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (OMB)  Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) angkatan x tahun akademik 2016/2017 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Uin Suka Yogyakarta atas kerjasama dengan PD. Pontren Kemenag RI.
Acara OMB tersebut digelar di Hotel Satya Nugraha Yogyakarta selama 6 hari,  yakni dari tanggal 8-13 Agustus 2016. Bapak Afdawaiza M.A selaku pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi PTN Uin Suka Yogyakarta menjadi pembuka acara OMB tersebut.  Mahasantri baru diajak untuk semakin mengenal kehidupan kampus,  peran, budaya akademik, serta tugas sebagai seorang mahasantri.   
Pada OMB tersebut, digelar beberapa rangkaian acara, mulai dari talkshow yang diisi oleh tokoh-tokoh inspiratif,  hingga penyampaian wejangan-wejangan oleh Prof. K.H. Drs. Yudian Wahyudi M.A. Ph.D selaku rektor UIN Suka Yogyakarta yang bukan kebetulan beliau juga tumbuh berkembang di lingkungan pesantren. "Setiap manusia adalah pemimpin,  dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertangung jawaban. Begitu juga dengan amanat. Kalian memilih beasiswa ini juga merupakan bagian dari amanat negara." tegas bapak rektor sembari mengutip beberapa hadis nabi.
Selain pembrian wejangan oleh rektor Uin Suka, peserta OMB juga diberi beberapa arahan oleh Dr. Ainurrofiq, M.Ag. selaku Kasubdit Pemberdayaan Santri Direktorat PD Pontren Dirjen Pendis Kemenag RI. " Meski kalian kini telah menjadi seorang mahasantri, namun jangan sampai kalian meninggalkan tradisi-tradisi yang sudah kalian istiqomahkan sewaktu di pesantren asal." pesan belia. OMB PBSB Uin Suka diakhiri dengan kegiatan out bound di desa wisata Karang Asri yang berlokasi di Dusun Karanggeneng Purwobinangun Pakem Sleman Yogyakarta,