CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 11 November 2018

Persepsi Laki-Laki, Dandanan Perempuan, dan Body Shaming



   Sering sekali saya mendengar bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang tidak berdandan. Ekspresinya beragam, seperti “ngapain sih pake dandan tebel-tebel segala”, “cowok tu lebih suka yang natural tau”, “kamu tu lebih cantik kalo ngga pake apa-apa loh”, dan lain sebagainya yang menurut saya sangat membuat para perempuan berpikir “apa banget sih”. Ekspresi-ekspresi yang diutarakan laki-laki bahkan tidak sebatas mengomentari dandanan saja. Terkadang, mereka menyentil apa yang dipakai perempuan, bentuk wajah, bentuk bagian tubuh, atau bahkan bau badan.
   Suatu ketika di sebuah forum, teman saya kebetulan sedang menderita sakit mata dan mengenakan kacamata untuk menyembunyikannya. Saat ia datang, teman laki-laki saya mengatakan, “eh kamu kok pake kacamata gitu? Gedean kacamatanya daripada mukamu”. Saya tahu ia barangkali tidak bermaksud menyakiti teman saya itu. Namun, dalam hati kok saya merasa perkataannya terlalu jleb. Sontak saya merasa perlu protes, yang kemudian keluar dari mulut dengan “eh kamu tu jangan body shaming gitu dong”. Ia lantas mengatakan bahwa ia hanya berusaha berterus terang atas apa yang dipikirkannya—walaupun saya tetap saja tidak sepenuhnya setuju.
   Semacam itu pulalah yang biasanya saya hadapi: dikomentari ini itu mengenai alasan pakai make up, ditanyai mengenai mengapa sekarang sering pakai gincu, atau bahkan dikomentari perihal eyeliner yang sudah mbleber ke mana-mana. Inilah barangkali yang menyebabkan saya akhirnya menyembur teman saya itu. Disadari atau tidak, jika ada sesuatu yang dianggap berbeda atau berubah dari seorang laki-laki atau perempuan—terutama yang berkaitan dengan penampilan, pasti akan ada banyak komentar yang menyertai. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika perubahan tersebut kemudian menimbulkan stigma-stigma tertentu.
   Terkait komentar laki-laki tentang perempuan yang saya utarakan di awal, dapat saya katakan bahwa perempuan tidak selamanya ingin dipuji atau diperhatikan ketika ia mencoba menghias dirinya. Ungkapan “hello laki-laki, jangan kegeeran deh kalian” mungkin mewakili suara perempuan yang merasa tidak terima ketika mendengar para lawan jenis yang nyinyir itu. Bagi saya sendiri secara subjektif, berdandan adalah ekspresi kesenangan saya akan keindahan, selain juga yang baru-baru ini menjadi hobi buat saya. Masa bodoh sekali ketika mendengar beberapa orang berkomentar negatif tentang dandanan saya, toh saya juga bukan berdandan buat mereka.
   Sama halnya dengan persepsi negatif berdandan, ketika laki-laki mengomentari bentuk tubuh atau penampilan perempuan pun pada hakikatnya dalam pikiran mereka sudah tertanam sebuah konstruksi kecantikan atau idealitas penampilan perempuan itu sendiri. Padahal, seperti yang pasti dirasakan oleh laki-laki juga, perempuan tidak ingin ditentukan standar kecantikannya—meskipun kini kuasa media sudah memonopoli standar itu dan banyak pula perempuan yang berusaha mengikutinya. Laki-laki tentu tidak mau dibilang tidak keren hanya karena perawakannya tidak macam Jojo yang tubuhnya bak roti sobek. Mereka juga pasti ogah dibilang tidak tampan hanya karena wajahnya tidak menyerupai Salman Khan.
  Pada akhirnya, meskipun di sini saya kurang lebih banyak menyenggol laki-laki yang punya persepsi macam-macam mengenai perempuan, saya juga tidak dapat mengklaim bahwa perempuan tidak pernah punya persepsi dan standar tertentu mengenai laki-laki. Hal-hal yang demikian tak dapat dipungkiri akan tetap ada. Namun, persoalannya kembali pada bagaimana kita mengutarakannya kepada si objek, entah itu perempuan atau laki-laki. Ya, minimal kalo punya standar tertentu mbok yo jangan diutarakan secara terus terang banget lah, wong setiap orang juga punya hak masing-masing buat mengekspresikan dirinya. (shy2cat)

Ikuti USICON, Anggota CSSMoRA Unjuk Kemampuan dalam Konferensi Internasional



Yogyakarta, Senin (5/11) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adakan USICON (Ushuluddin International Conference). Acara ini berlangsung selama dua hari (5-6/11). Acara ini dilaksanakan dalam berbagai tahap, yaitu; call for paper, desain konferensi, proceding, dan publikasi paper.
Acara yang dibawahi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama ini, membuka peluang bagi seluruh akademisi dari kalangan mahasiswa dan dosen untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Acara ini juga menghadirkan berbagai pembicara tingkat nasional dan internasional yang ahli dibidangnya, serta bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain (Perguruan Tinggi, Jurnal terakreditasi, NGO, dan komunitas-komunitas terentu).
Di antara mahasiswa CSSMoRA yang turut serta dalam acara ini adalah Muhammad Alan Juhri, Alif Jabal Kurdi, Mohamad Abdul hanif, Muhammad Rafi, Nur Azka Inayatussahara, Andy Rosyidin, Muhammad wahyudi, dan Hamdi Putra Ahmad. Kedelapan mahasiswa CSSMoRA ini berhasil mempresentasikan papernya setelah melalui beberapa tahap pemilihan.
 “Motivasi mengikuti acara ini adalah ingin mengasah kemampuan menulis, berbicara, dan ingin belajar dari para akademisi nasional dan internasioanl. Jarang-jarang juga kan konferensi internasional gratis” tutur Alan salah satu pembicara USICON. Baginya mengikuti konferensi bukan untuk berbangga diri atau terlihat lebih dari yang lain, melainkan akan merasakan sebaliknya jika telah mengikuti acara-acara seperti itu. Salah satu hal yang menarik dari acara ini adalah pembicara-pembicaranya yang keren dan tema yang aktual.(Nad)

Kamis, 08 November 2018

Kepekaan Sejarah, Perdamaian, dan Optimalisasi Bonus Demografi

Holocaust Monument. source: Google


Oleh: Alif Jabal Kurdi*
            Pagi ini saya baru saja membaca buku yang membahas tentang rekonsiliasi konflik di Ambon. Dari pengantar buku itu saya mendapatkan fakta yang sangat menarik. Fakta tentang model pembelajaran sejarah di Jerman yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi pembangunan paradigma damai dalam diri peserta didik. Tentu kita tahu sejarah kelam Bangsa Jerman dengan praktik genosidanya terhadap kaum Yahudi atau yang diistilahkan dengan Holocaust. Tragedi kelam itu diperingati dengan dibangunnya monumen Holocaust di Berlin.
            Monumen itu ternyata tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap harinya selalu ada anak sekolah yang datang ke sana untuk tujuan studi sejarah. Di Jerman, setiap sekolah wajib mengenalkan kepada murid-muridnya tentang sejarah kelam Holocaust serta mengajak mereka melihat monumen yang memperingati tragedi tersebut. Pelajaran itu bukanlah tanpa tujuan. Di sana, murid-murid dituntut mampu mengembangkan nalar abstraktifnya dengan membayangkan jika mereka berada dalam situasi tersebut. Selanjutnya mereka akan dimintai respon dan diajak berdiskusi tentang sikap terhadap diri sendiri serta lingkungan di sekitarnya agar tragedi itu tidak berulang.
            Pendidikan yang digalakkan di Jerman ini, saya rasa sudah sangat memikirkan tentang bagaimana kehidupan generasi selanjutnya. Mereka tidak ingin generasi-generasi penerus justru terbelenggu dalam stigma-stigma yang akan membawa mereka pada kecurigaan antara satu etnis dengan etnis lainnya yang dulu pernah saling berseteru. Mereka ingin membuka pikiran generasi penerus dengan memperlihatkan kronologi yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu generasi penerus tidak lagi memikirkan tentang kebanggaan antar etnis. Tetapi lebih substansial dari itu, yakni bagaimana antar etnis bisa saling bersinergi dan membangun peradaban dengan asas perdamaian agar tragedi kelam itu tidak terulang kembali.
            Dari sini saya merasa adanya perbedaan yang signifikan dengan pola pengajaran di Indonesia. Semisal dalam membahas sejarah-sejarah kelam yang berkaitan dengan konflik yang terjadi antar etnis di Indonesia. Kita jarang sekali diberitahu tentang kronologi yang terjadi. Kita hanya diberitahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan garis besarnya saja, seperti tempat, tanggal, dan etnis yang bersitegang.
            Sebenarnya ada beberapa asumsi yang mendasari keterbatasan informasi yang kita dapatkan. Pertama, mungkin ketakutan untuk mengkronologikan ulang tragedi yang terjadi. Kedua, mungkin juga ada ketakutan untuk menyampaikan fakta sebenarnya yang justru akan memberatkan salah satu pihak sebagai pemicu konflik. Namun, justru ketakutan ini akan terus berdampak bagi kehidupan generasi selanjutnya. Mereka yang tumbuh dan berkembang dalam stigma-stigma yang tidak diketahui kepastiannya, akan cenderung membawa mereka pada kecurigaan antar sesama anak bangsa. Kecurigaan inilah yang sangat berpotensi menimbulkan gesekan karena hanya di muka saja terlihat tenang tapi di belakang ternyata saling menghujat dan merendahkan serta membanggakan etnis asal.
            Bisa dipastikan jika paradigma sosial ini masih terus berlanjut pada generasi muda, maka akan sangat sia-sia bonus demografi yang sebentar lagi akan menghampiri Indonesia. Sudah semestinya generasi muda mengenal kronologi konflik yang terjadi di tanah airnya. Membayangkan betapa rusaknya moral kemanusiaan setelah terjadinya konflik. Membayangkan betapa malangnya anak-anak yang kehilangan orang tuanya, tangisan istri-istri saat melihat jasad suaminya, atau bahkan tangisan adik-adik yang kehilangan kakak panutannya. Dari situ mereka akan menyadari arti pentingnya membangun perdamaian dengan menjaga tali persaudaraan. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, akan tetapi persatuan dan kesatuan dalam upaya menciptakan harmonisasi sosial adalah sebuah tuntutan. Mari sebagai generasi muda kita tingkatkan kepekaan kita akan sejarah, terutama sejarah tanah air kita sendiri. Dengan perdamaian yang sudah digenggam, bukanlah hal yang mustahil bonus demografi dapat kita optimalkan.
*) Mahasiswa PBSB Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Semester V


Minggu, 04 November 2018

Srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara 3 di Ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an



Srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara 3 di Ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net-  Salah satu srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali berhasil menunjukkan kapasitasnya dalam perhelatan Musabaqah Hifdzil Qur’an tingkat pesantren ke-13 yang berlangsung di Islamic Centre Semarang, Jawa Tengah. Adalah Rachma Vina Tsurayya, yang berhasil menyabet juara 3 pada acara yang diikuti oleh sekitar 300-an peserta tersebut. Ia menuturkan, bahwa acara yang diselenggarakan antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan LPTQ Jateng tersebut merupakan event tahunan yang mempertemukan para hafidz/hafidzoh se-Jawa Tengah. “Acara ini berlangsung tiga hari, mulai dari tanggal 29-31 Oktober 2018,” ungkapnya. Event tersebut terbagi dalam tiga cabang, yaitu tahfidz 20 juz, tahfidz 30 juz, dan tafsir Bahasa Arab & tahfidz 30 juz. “Kebetulan saya ikut di cabang tafsir Bahasa Arab dan tahfidznya,” tambahnya.
Dalam mengikuti event tersebut, santri asal Banjarnegara ini menuturkan bahwa ia termotivasi untuk menambah pengalaman, teman baru, serta belajar hal-hal yang baru. “Lomba-lomba seperti ini juga bisa menjadi acuan supaya tetap istiqamah mempelajari apa-apa yang sudah pernah dipelajari. Intinya, biar tidak malas nderes dan muthala’ah-nya,” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan persiapan yang ia lakukan sebelum berlomba, diantaranya muraja’ah (mengulang hafalan), belajar beberapa kitab tafsir serta meminta doa restu dan nasihat dari orang tua & para guru.
Tak lupa, mahasiswi semester 5 ini juga membagikan sedikit tips bagi pembaca yang ingin mengikuti event serupa. “Semangat belajar, jangan takut untuk mencoba, selalu mendoakan orang tua dan guru, serta meminta nasihat sekaligus doa restu dari mereka,” tuturnya. (Ahn)



Jumat, 02 November 2018

Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara III di Event Kepenulisan


Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menorehkan prestasinya di bidang kepenulisan tingkat Nasional. Mereka yakni Ahmad Faruq Khaqiqi dan Ahmad Fahrur Rozi (Mahasiswa prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir angkatan 2017). Keduanya berhasil membawa pulang kemenangan sebagai Juara III dalam event Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Bandung, tepatnya di UIN Sunan Gunung Djati (25/10).
Event LKTIN ini sendiri merupakan salah satu event yang diselenggarakan oleh CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.”Karena ini kegiatan yang diadakan oleh CSSMoRA juga, sehingga kami mengikutinya”, ungkap Faruq ketika diwawancarai via whatsApp. LKTIN yang diusung oleh CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati ini bertemakan “Merawat Keberagaman Nusantara melalui Jalan Spiritualitas”. Dalam event ini terdapat beberapa tahapan yang harus lalui, yakni pengumpulan abstrak, pengumpulan full paper dan yang terakhir ialah presentasi. Walaupun dalam proses pembuatan karya terdapat kesulitan seperti  tema yang bukan bidangnya, namun mereka tetap mencoba sampai pada akhirnya dapat membawa pulang piala kemenangan. “Awalnya kami ragu dan tidak berharap lolos apalagi mendapatkan juara.”, ungkap Faruq.
            Keikutsertaan mereka dalam event ini pun alih-alih untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran. “Dari sini saya mendapatkan tambahan ilmu yang begitu luas”, ungkap Rozi. “Kami juga mendapat pengalaman dari UIN Bandung sendiri serta teman-teman di sana.”, tambahnya. Mereka berharap dengan mengikuti event semacam ini dapat meningkatkan kualitasnya dalam bidang kepenulisan atau dunia akademis. (Ana)

Rabu, 31 Oktober 2018

Buletin Sarung Edisi Oktober 2018

Buletin Sarung Edisi Oktober 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi Oktober 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Edisi Oktober 2018


Dua Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Unjuk Gigi dalam Seminar Nasional Hadis dan Media di IAIN Kudus



Dua anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali tampil sebagai speaker dalam forum Seminar Nasional. Keduanya yakni Melati Ismaila Rafi’i – mahasiswa PBSB angkatan 2015—dan Alan Juhri – mahasiswa PBSB angkatan 2016. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus. Adapun tajuk dari kegiatan ini adalah “Seminar Nasional Hadis dan Media serta Call For Paper Jurnal Hermeneutika-Riwayah”. Kegiatan tersebut sukses digelar pada Rabu (24/10) di IAIN Kudus.
Suatu kebanggaan bisa mengikuti kegiatan seperti ini”, kesan Alan. Selain mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen dari beberapa universitas lainnya. Diantara yang hadir adalah Ahmad Rafiq, Ph.D—Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta—, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M. Ag— Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta—, dan beberapa tokoh lainnya. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor IAIN Kudus, Dr. Mundakir, M. Ag yang sekaligus membuka acara tersebut.
Sebagai salah satu pembicara, Mela (panggilan Melati) merasa senang. Ini semacam warming up bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang nyekripsi seperti saya”, katanya. Memang, bukan kali pertama dua mahasiswa ini mengikuti forum-forum semacam ini. Maka, keduanya sudah tidak asing lagi dengan kegiatan seperti ini. "Harapannya bisa memicu semangat kita semua”, ungkap mela. “Terlebih temanya menarik, berkaitan dengan al-Qur’an Hadis dan media”, tambahnya. (Can)

Minggu, 28 Oktober 2018

Dulu, kini

source: google


Oleh : Failal Azmi Azkia
Dulu...
Kau berjuang untuk bumi pertiwi
Jiwa serta raga pun kau taruhkan
Demi jayanya akan masa depan
Dulu…
Kata Indonesia kau perjuangkan
Tak kau relakan diambil penyerang
Dulu…
Waktu kau bentangkan
Kau bentang panjang tuk berbincang
Berbincang kemerdekaan
Kini…
Kau menghilang terbawa derasnya arus
Bersembunyi
Berselimut
Tak kah kau lihat dirimu dahulu
Kembalilah ! bangkitlah ! berjuanglah !
Demi ibu pertiwi