CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 28 Mei 2017

Pelantikan Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2017-2018

Setelah diadakannya Musyawarah Besar (Mubes) dan Pemilihan Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (20/5) lalu, pagi tadi (28/5) ketua terpilih Melati Ismaila Rafi’i resmi dilantik bersama 37 pengurus baru CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2017-2018 di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Pelantikan tersebut dilaksanakan langsung oleh ketua CSSMoRA Nasional, Annas Rolli Muchlisin. Selain jajaran pengurus, Kru Sarung yang berada di bawah naungan Departemen Jurnalistik juga ikut serta dilantik oleh Ketua Umum terpilih.
Kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan dari Luqman Hakim, selaku ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Periode 2016-2017 kepada Melati Ismaila ketua umum periode 2017-2018.
“Dalam kepengurusan nanti, kita membutuhkan kekompakan dan komunikasi yang berjalan baik hingga bisa membangun CSSMoRA kita menjadi lebih baik lagi. Kita berkerja dengan serius tapi santai juga santai namun dengan keseriusan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang perlu kita lakukan adalah saling mengerti dan memahami agar senantiasa berjalan dengan harmoni,” tutur Mela dalam kata sambutan singkatnya.
Setelah acara pelantikan, dilanjutkan dengan sosialisasi proker CSSMoRA Nasional oleh Annas (Ketua Nasional), Marwah (Sekretaris I Nasional) serta Perwakilan dari Departemen KOMINFO dan PSDM Nasional. Bapak Afdawaiza selaku pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga juga turut hadir dan memberikan wejangan-wejangan kepada seluruh mahasantri PBSB UIN Sunan Kalijaga. Beliau merasa senang dengan keantusiasan mahasantri UIN Sunan Kalijaga yang hadir pada acara pelantikan tersebut walau dalam suasana Ramadhan (read: puasa). (Nai)

Selasa, 23 Mei 2017

Surat untuk Para Kekasih



Surat untuk Para Kekasih
(Halaman Terakhir)
Oleh: M. Basyir F.M.S.*

Minggu lalu (21/5), sebuah motor menyeret saya dari tempat tidur sampai puluhan kilo jauhnya. Sendiri, saya duduk di atas sadel, hingga akhirnya saya terdampar di sebuah bukit. Candi Barong, begitu orang-orang menyebutnya. Entah mengapa saya selalu bersedia tiap kali ada tarikan seperti ini. Padahal, saya sama sekali tidak suka rekreasi wa akhwatuha.
            Tarikan yang saya maksud adalah ajakan untuk sengsara bersama para pengurus Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Sering sekali tarikan itu saya terima. Benar saja saya begitu sengsara. Karena tiap kali menerimanya saya selalu sadar bahwa ini takkan terjadi dalam waktu yang lama.
            Ya, semua sudah berakhir. Saya sudah tidak bisa bersama mereka lagi. Saya sangat benci pada waktu yang harus mempertemukan kami. Saya juga sangat tidak menyukai tempat yang telah menyatukan kami.
            Tetapi, minggu itu benar-benar menghibur saya. Kami berkumpul untuk terakhir kalinya, juga ditemani oleh pendiri yang tercipta sebelum kami. Biasanya kami hanya berenam, namun kemarin kami bersepuluh. Rasanya, saya seperti diberi salam perpisahan dengan suguhan istimewa, lebih nikmat dari meneguk corona di saat salju tiba maupun menghembuskan surya tatkala hujan tak kunjung reda.
            Belasan keberhasilan dan puluhan kegagalan dalam setahun terakhir telah memberikan arti yang membekas dalam hati nurani. Bayangan bahwa para akademisi akan selalu menyakiti jiwa aktivis dalam diri saya rupanya sama sekali tidak nyata. Selama persamaan ditemukan dan nafsu persaingan dikesampingkan, semua akan menjadi nikmat yang tak tergambarkan.
            Seluruh anggota PBSB UIN Sunan Kalijaga telah saya anggap kekasih walau itu munafik. Karena pada akhirnya akan ada kekasihnya kekasih, kekasih dari kekasihnya kekasih, kekasihnya kekasih dari kekasihnya kekasih, dan begitu seterusnya. Namun sungguh, mereka akan tetap menjadi kekasih meski pada tingkatan yang jauh dari belas kasih.
            Maka saya pikir tidak harus menjadi kekasih tingkat pertama untuk bisa bersama-sama. Saya bukan kekasih tingkat pertama bagi mereka berlima, begitupun masing-masing kebalikannya. Namun ketika kami benar-benar telanjang dari ego dan kesombongan, kami menjadi urat nadi bagi masing-masing dari lainnya. Dan kami bukanlah satu-satunya. Banyak komplotan lain yang melakukan hal setara atau bahkan lebih baik sejatinya.
            Sebentar lagi beberapa tempat akan menyatukan sejumlah insan lagi, seperti kami dan beberapa keluarga lain pada periode sebelumnya. Sebagaimana pada umumnya, dalam hal semacam ini pengalaman jauh lebih berharga dari kecerdasan dan tetek bengek lainnya. Maka diharapkan orang-orang yang telah sempat menyusun kekeluargaan di masa lalu, agar melakukan hal yang, setidaknya, serupa di masa selanjutnya.
            Sementara itu, para pendatang baru bukanlah bayi yang belum bisa berbicara. Mereka telah memiliki jalan hidup masing-masing dengan aneka ragam keberhasilan dan kegagalan. Maka seharusnya mereka tahu bahwa ada yang pantas dan tidak sama sekali bagi diri mereka. Dengan mengetahui dan menurutinya, kelak takkan terjadi salah alamat maupun sejenisnya.
            Pada rumpi minggu itu, para sesepuh kami telah berbagi begitu banyak cerita dan derita. Seikat nasehat mereka sumbangkan pada kami agar dapat terhindar dari luka tak berdarah. Juga sebungkus doa mereka sedekahkan supaya kami dilindungi dari sikap acuh tak acuh yang terkutuk.
            Layaknya orang tua tentu mereka berharap kami dapat lebih baik dari sebelumnya. Karena keberhasilan suatu masa dapat disahkan dengan suksesnya penerus mereka dalam melebihi para pendahulunya. Maka setiap anak berhutang untuk mengabulkan harapan tersebut. Meski tidak dicatat, tapi tetap harus dibayar. Karena harga diri adalah taruhannya.
            Wahai para kekasih, dari selatan sampai utara, ijinkan kusampaikan salam terakhir untuk seluruh kalian, sebelum ditutupnya kotak kenangan. Yang katanya pendahulu, lepaskan genggaman kalian pada tangan kami, tapi jangan sekali-kali lupakan kami. Yang katanya penerus, berjalanlah ke depan walau perlahan, tapi jangan pernah nyerong ke samping, lebih-lebih mundur ke belakang, apalagi menghilang.
            One thing you should remember, masa lalu memang telah menghadirkan pertikaian di antara semuanya. Adu mulut, berbicara di belakang, perang media sosial, mungkin pernah memisahkan aku, engkau, dan dia. Namun sebagai santri, tentu semuanya bukan termasuk (meminjam bahasa Mas Akil) generasi baper, kan? Jadi, sudikah tetap menjadi kekasih? Wallahu a’alamu bi al-shawab…
            Hormat Kami…
            *Staf Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga masa bakti 2016-2017.

Sabtu, 20 Mei 2017

SEJARAH TERULANG, MELATI TERPILIH MENJADI KETUA UMUM

Melati saat samutan sebagai ketua terpilih

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net - CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan “Musyawarah Besar dan Pemilihan Umum 2017” pada Sabtu (20/5). Setelah melewati proses pemungutan suara, akhirnya Melati Ismaila Rafi’i terpiilih sebagai ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2017-2018. Dari 106 suara yang sah, 51 suara diraih Melati sebagai kandidat nomor satu. Selainnya 20 suara diraih Sholahuddin Zamzambela dari kandidat nomor dua dan 35 suara diraih Muhammad Wahyudi dari kandidat nomor tiga.
Kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) dan Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini mengambil tema  “Gerakan Internalisasi melalui Pesta Demokrasi”. Luqman Hakim selaku ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2016-2017 dalam sambutannya mengatakan bahwa tema ini disesuaikan dengan GBHO (Garis-garis Besar Haluan Organisasi) CSSMoRA tahun ini. Sebelum pemilihan umum, rangkaian kegiatan ini diawali dengan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2016-2017. 
“Ada program yang menurut pengurus sudah maksimal, ternyata bagi anggota itu belum berhasil. Nah, tujuan LPJ itu untuk menyamakan persepsi  antara pengurus da anggota lainnya”, tegas Luqman saat sambutan pada kegiatan yang diselenggarakan di Balai RW Serbaguna Sapen tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Annas Rolli Muchlisin juga hadir selaku Ketua Umum CSSMoRA Nasional. Ia menegaskan agar Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dijadikan sebagai tolok ukur dan pijakan untuk pengurus selanjutnya.
“Yang kemaren kampanye sampe ada yang baperan. Habis ini kita salam-salaman ya, yang lalu biarlah berlalu”, kata Annas saat sambutan.
Pemaparan LPJ dilakukan mulai dari Badan Pengurus Harian (BPH), Departemen Pengabdian Pondok Pesantren dan Masyarakat (P3M), Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Departemen Jurnalistik (DJ), Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) hingga Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Setelah proses panjang evaluasi dan pembahasan bersama anggota, lalu LPJ diterima dengan beberapa syarat yang diajukan masing-masing perwakilan angkatan.
Setelah LPJ, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) CSSMoRA periode ini. Selain Annas, sosialisasi itu juga dilakukan bersama Marwah selaku Sekretaris 1 CSSMoRA Nasional. Annas juga memberi penjelasan terkait GBHO tahap VI untuk tahun 2017 hingga 2019 yang berisi “Mengoptimalkan persatuan internal CSSMoRA melalui pemberdayaan anggota aktif dan pasif guna memperkuat eksternalisasi”.
“Penguatan internal tersebut diterapkan dalam tiga ranah. Pertama, penguatan anggota aktif di tiap PTN, yang ini kan kita semua. Kedua, perangkulan anggota pasif dengan membentuk jejaring alumni PBSB. Ketiga, penguatan persatuan antar-PTN dengan membudayakan saling mengunjungi PTN lain terdekat. Nah, seperti sekarang ini kan ada teman-teman dari UGM juga yang hadir”, papar Annas.
Usai sosialisasi AD/ART, barulah beranjak ke acara Pemilihan Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2017-2018. Acara dimulai dengan pemaparan visi misi dari masing- masing calon dan debat kandidat. Selanjutnya ada sesi pertanyaan dari penguji khusus, yaitu Annas (Ketua Umum CSSMoRA Nasional periode 2017-2018), Moh Kamil Anwar (Sekretaris CSSMoRA Nasional periode 2016-2017), Lukman Hakim (Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2015-2016) dan Luqman Hakim (Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga perode 2016-2017). Barulah setelah itu diadakan pemungutan suara.
Foto bersama
Lalu, sejarah kembali terulang dalam estafet kepemimpinan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Melati Ismaila Rafi’i sebagai satu-satunya kandidat perempuan berhasil mengungguli dua kandidat lain. Dalam sejarahnya, Lailia Muyasaroh juga pernah menjadi perempaun pertama yang memimpin CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga pada periode 2013-2014.
“Terimakasih atas kepercayaannya. Saya bukan yang terbaik diantara kalian. Saya hanya harus memiliki kaki dan tangan yang lebih kuat untuk kalian. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa”, tukas Melati saat sambutan sebagai ketua terpilih. (Ray)

Kamis, 18 Mei 2017

Mengenal Lebih Dekat Profil dan Kriteria Calon Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

 Mengenal Lebih Dekat Profil dan Kriteria Calon Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

 Oleh : Muhammad Farid Abdillah

       Dua hari ini, Rabu dan Kamis (17-18/5) adalah masa kampanye bagi calon Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga masa kepengurusan 2017-2018. Tahun ini, calon yang diusung angkatan 2015—selaku angkatan yang dibebani kepengurusan tahun depan—berjumlah tiga orang. Agak berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengusung empat calon.


       Adalah Melati Ismaila Rafi’i sebagai calon ketua nomor urut 1. Calon pertama ini dikenal sebagai salah satu sastrawan di kalangan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Tulisan-tulisannya sudah tak diragukan lagi. selain itu, alumni Pondok Pesantren Yanaabi’ul Ulum Warrahmah, Kudus ini dikenal sebagai seorang yang ulet dan tegas. Kualitasnya terbukti setelah setahun sebelumnya mendapat jabatan sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Sarung yang menjadi kebanggaan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, Kru (istilah bagi pengurus majalah sarung di bawah Departemen Jurnalistik) yang ia pimpin juga berhasil menerbitkan majalah setelah setahun sebelumnya belum berhasil untuk menerbitkan majalah ini.

       Nomor urut 2 diisi oleh Sholahuddin Zamzambela. Calon kedua ini dikenal sebagai pribadi yang tekun dan pantang menyerah. Namanya terangkat setelah sebelumnya alumni Pondok Pesantren At-Tanwir, Bojonegoro ini berposisi di Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi. Departemen yang dipimpin Saudari Maharani Rumfoat serta Azam (Panggilan akrab calon ketua) cukup berhasil membantu finansia CSSMoRA dan membawa keuntungan yang lumayan dengan program-program kerja yang telah dijanjikan di awal kepengurusan tahun lalu. Di sisi lain, jabatan sebagai sekretaris PAC IPNU Mantrijeron menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu calon ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga.

       Calon terakhir adalah alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Muhammad Wahyudi. Dikenal sebagai salah satu aktifis di kalangan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Koordinator Komunikasi dan Informasi PP LSQ Ar-Rohmah ini memiliki karakter yang tegas dan berpendirian kuat. Selain itu, keaktifannya dalam beberapa organisasi juga menunjukkan kapasitas yang cukup sebagai calon ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Berdiri di Departemen Penelitian dan Pengembangan pada tahun sebelumnya membuktikan kecerdasan mahasiswa satu ini. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang yang melawan sifat hedonis mahasiswa lewat rambut gondrongnya.

       Cukup menarik jika melihat profil ketiga calon Ketum ini. Melalui karakter dan kapasitas masing-masing mereka menunjukkan keunggulan dan kemampuan menjadi calon Ketua Umum UIN Sunan Kalijaga berikutnya. Dan yang harus diingat adalah pesta demokrasi ini diadakan untuk mencari sang maestro kemajuan CSSMoRA setahun ke depan. Oleh karena itu, menentukan pilihan sesuai hati dan kapasitas sang calon guna kemajuan CSSMoRA menjadi suatu keniscayaan bagi seluruh anggota CSSMoRA.

       Setelah menjelaskan profil ketiga calon, nampaknya tidak etis jika tidak mencantumkan pra-syarat ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Lalu apa-apa saja prasyarat menjadi ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga? Berikut adalah jawaban-jawaban yang diberikan oleh beberapa orang anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Sengaja dituliskan apa adanya agar menjaga kemurnian jawaban dari beberapa anggota. Termasuk di dalamnya jawaban-jawaban dari BPH CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (angkatan 2014)

1.      Loyal pada CSSMoRA
2.      Terbuka
3.      Komunikatif
4.      Amanah
5.      Bertanggung Jawab
6.      Konsisten
7.      Berkepala dingin
8.      Merakyat (mengayomi)
9.      Peka dan memahami aspirasi anggota
10.  Tegas
11.  Mampu mendorong terciptanya kultur yang baik di kalangan CSSMoRA

       Beragam ya jawabannya ? hal ini karena Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga adalah sang mediator utama bagi anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Kedewasaan dalam berpikir, ketepatan dalam bertindak, kedewasaan dalam menentukan keputusan adalah sederet karakter yang juga harus “dipaksakan” dimiliki bagi seorang ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena merekalah sosok penyatu bagi angkatan-angkatan muda dan angkatan yang telah menyelesaikan studi.

       Selain itu, menjalankan sebuah organisasi yang terdiri dari orang-orang cerdas tentu saja tidak mudah. Mensinergikan antara kecakapan berteori dan kemampuan dalam bertindak nyata bagi seluruh anggota, terlebih pengurus, menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang nahkoda berbenderakan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga.
   
      Akhirnya, penulis menyampaikan selamat BERPESTA DEMOKRASI CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Pilih calon terbaik menurut hatimu. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Masa depan CSSMoRA ada di depan mata.

CSSMoRA, Loyalitas Tanpa Batas!

Jayalah CSSMora ku, CSSMoRA mu, CSSMoRA kita !!!

Kamis, 27 April 2017

Belajar Move On Pilkada dari Rivalitas Sepakbola



Belajar Move On Pilkada dari Rivalitas Sepak Bola
Mutawakkil Hibatullah
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga


          Rasanya sudah sangat cukup lelah dan menguras banyak energi kontestasi pilkada yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pilkada DKI tersebut dianggap yang paling menyita perhatian dari berbagai aspek, berbagai dimensi serta berbagai lapisan masyarakat. Banyak para peneliti dari berbagai media bahkan mengatakan bahwa pilkada ini rasa Pil-Pres bahkan bisa jadi lebih. Hal ini bisa terbukti dari banyaknya sorotan media dari awal masa kampanye hingga tanggal 19 April kemarin ketika secara konstitusional warga Jakarta menggunakan hak pilihnya. Bahkan bisa jadi dimulai semenjak salah satu “kasus” yang menimpa Ahok terjadi hingga saat ini masih kita semua rasakan.
            Secara pribadi, saya tidak akan membahas apakah Ahok telah menista atau tidak terhadap al-Qur’an. Saya juga tidak akan membahas apakah terjadi politisasi dari pihak Anies terhadap kasus yang sedang dijalani oleh Ahok. Karena “mungkin” jika saya membahasnya akan menimbulkan sentimen dari kedua pihak tersebut, selain memang bukanlah menjadi kapasitas saya untuk masuk kedalam ranah-ranah yang begitu dinamis dan fleksibel terebut. Dan bisa jadi juga akan menambah ke-sakit hati-an dari para supporter yang belum move on dari Pilkada tersebut.
            Ketika kontestasi serta kompetisi ada dimanapun dan kapanpun, maka sudah menjadi hal yang lumrah bahwa ada pihak pemenang dan juga pihak yang kalah. Anggaplah bahwa Pilkada ini merupakan pertandingan sepak bola yang rivalitasnya sudah tak bisa di sanksikan seperti pertandingan antara Barcelona vs Real Madrid (Spanyol), Manchester United vs Liverpool (Inggris), Ac Milan vs Inter Milan (Italia), serta Bayern Munchen vs Borussia Dortmund (Jerman). Atau dalam kompetisi sepak bola kita pertandingan antara Persib vs Persija atau Arema vs Persebaya yang tidak kalah seru serta menegangkannya.
            Saya ambil contoh satu yaitu pertandingan antara Barcelona vs Real Madrid. Harus diakui bahwa rivalitas Barcelona dan Real Madrid merupakan yang terbesar atau salah satunya yang ada dalam dunia sepak bola. Perhatian para pecinta sepak bola juga saya yakin banyak yang tidak mau meninggalkan pertandingan tersebut walau dari pendukung tim lain, misal Manchester United, seperti saya. Selain karena kesejarahannya yang sangat melekat, juga karena prestasi dan prestise yang ditonjolkan kedua tim dalam dunia sepakbola. Pemain-pemain hebat lahir, juara di berbagai kompetisi eropa dan dunia, serta basis suporter dan penghasilan tim yang begitu luar biasa. Rivalitas dua tim tersebut tersaji dalam laga yang bertajuk el-Classico setiap tahunnya.
            Lalu yang jadi pertanyaan, apa hubungannya dengan pilkada DKI tersebut ? Jawabannya mari kita urai bersama. Sudah sedikit disinggung di atas bahwa Pilkada yang terjadi tak ubahnya seperti laga el-Classico dimana perhatian masyarakat khususnya para penikmat sepak bola terfokuskan. Tak peduli dari kalangan elite atau bawah, kanan atau kiri, atas atau bawah semuanya menikmati dengan seksama hingga pertandingan usai. Adalah hal yang sudah menjadi kewajaran jika selama pertandingan para pemain dilapangan memiliki tensi tinggi bahkan tak terkecuali kepada para penonton yang mungkin banyak “ngenyek” pemain padahal belum tentu dia bisa. Hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat lumrah dalam pertandingan sepak bola apalagi jika mengingat rivalitas kedua tim ini begitu extra ordinary.
            Namun yang menarik dari el-Classico ini adalah ketika kompetisi La Liga atau Liga Champion usai. Atau lebih jelasnya ketika ada kompetisi EURO atau Piala Dunia. Pemain-pemain yang berasal dari Barca atau Madrid tersebut bisa bersama-bersama membela negaranya tanpa memandang apakah dia dari Barca atau Madrid. Bahkan bisa dibuktikan bahwa Negara Spanyol pernah meraih kejayaan di tahun 2008, 2010, dan 2012. Inilah yang sekiranya penting untuk kita ambil hikmahnya. Bagaimanapun atau seketat apapun Pilkada yang terjadi, mari kita move on jika kita sudah kembali dalam membangun daerah serta membela negeri kita tercinta.
            Begitu juga rasanya rivalitas dalam banyak tim-tim yang telah disebutkan diatas, tak terkecuali tim-tim sepakbola yang ada di negara kita. Ketika para pemain yang diambil membela tanah airnya, maka yang akan muncul adalah nasionalisme bukan justru egoisismenya. Karena ketika sudah menjadi bagian dari sebuah negara, wilayah, daerah, siapapun pemimpinnya harus didukung dan jika ada kesalahan harus diingatkan bukan malah dibesar-besarkan. Karena lagi-lagi ini karena bagi kemajuan bersama dan daerahnya bukan sebagian golongan. Tak perlu lagi kiranya ada patah hati atau eufooria berlebih hanya gara-gara pilkada. Karena yang terpenting persaudaraan dan rasa kebersamaan masih tetap terjaga sebagaimana sebelumnya. Lebih apalah-apalah jika kita bukan warga Jakarta tapi ikut baper. Bisakah kita seperti itu? atau kita kalah dari hanya “sekedar” pertandingan sepakbola? Salam Glory Glory Manchester United…

Rabu, 26 April 2017

Mengenali Diri dalam Organisasi Lewat Agenda Bernama Follow-Up Kaderisasi



Mengenali Diri dalam Organisasi
Lewat Agenda Bernama Follow-Up Kaderisasi
Oleh: Mohamad Abdul Hanif*

Follow-up ini merupakan sebuah tindak lanjut dari kaderisasi anggota baru CSSMoRA atau lebih tepatnya mahasiswa penerima PBSB di UIN Sunan Kalijaga angkatan 2016 yang telah diselenggarakan beberapa bulan yang lalu di sebuah pantai yang disebut Pantai Baru. Dalam kaderisasi ini dijelaskan berbagai hal mengenai ke-CSSMoRA-an UIN Sunan Kalijaga termasuk di dalamnya pengenalan terhadap beberapa divisi yang ada di dalam kepengurusan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (baca:UIN SUKA) seperti divisi kominfo, PSDM dan lain-lain serta perihal mengenai aktivitas yang lazimnya ada pada suatu organisasi seperti sidang dan perancangan AD ART serta lainnya.
Kaderisasi CSSMoRA ini sebenarnya merupakan kaderisasi perdana yang diadakan oleh CSSMoRA UIN SUKA. Sebelumnya, yakni pada tahun angkatan 2015 serta tahun-tahun sebelumnya tidak diadakan acara ini. Namun dengan mempertimbangkan berbagai hal yang salah satunya adalah karena sebagian PTN dan PTIN lain mitra PBSB sudah terlebih dahulu mengadakannya, maka akhirnya diadakanlah kaderisasi ini beserta follow-upnya yang diadakan berkala setiap tiga atau empat bulan sekali sebanyak tiga kali.
Sebelumnya telah dilaksanakan follow-up yang pertama di Alun-alun Kidul (Alkid) dengan materi analisis sosial, lalu beberapa bulan setelahnya diadakan follow-up yang kedua bertempat di Hutan Pinus Mangunan dengan materi persidangan dan AD ART. Dan beberapa hari yang lalu diadakan yang terakhir di tempat yang menurut sebagian anggota CSSMoRA UIN SUKA angkatan 2016 adalah tempat yang istimewa dan spesial yakni joglo Ponpes LSQ Ar-Rahmah, tempat di mana para mahasiswa santri PBSB putra mengkaji kitab-kitab kuning baik yang klasik maupun yang kontemporer, tempat di mana ketenangan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran diperoleh.
            Follow-up ketiga ini telah diselenggarakan dengan baik dan lancar pada hari senin tanggal 24 April 2017 tepatnya pada pukul 10:00 WIB di joglo LSQ Ar-Rahmah. Materi kali ini diisi dengan topik mengenai analisis diri dalam organisasi dilanjutkan setelahnya dengan sosialisasi mengenai divisi-divisi yang ada dalam kepengurusan CSSMoRA yang disampaikan oleh perwakilan dari masing-masing divisi. Materi mengenai analisis diri dalam organisasi disampaikan dengan baik oleh saudara Lukman Hakim (2014) selaku ketua CSSMoRA UIN SUKA dan dimoderatori oleh saudara Farid Abdillah. Dalam pemaparannya Lukman Hakim menjelaskan urgensi analisis diri ini, menurutnya dalam suatu organisasi seorang anggota harus mengetahui arah minat dan passion dirinya sendiri sehingga dapat menentukan pilihan akan masuk memperdalam pada divisi yang mana. Beliau menambahkan pula bahwasanya  minat dan passion seseorang tidak dapat dipaksakan, artinya jika minatnya ada pada divisi A namun dimasukkan secara paksa dalam divis B maka hasilnya tidak akan maksimal.
Setelah materi mengenai analisis diri dalam organisasi disampaikan, beranjaklah saatnya ke sesi pertanyaan. Terdapat beberapa pertanyaan yang menyeruak diajukan oleh peserta follow-up ini. Salah satu pertanyaan yang patut diinformasikan adalah mengenai otoritas dalam suatu organisasi. Problem yang diilustrasikan adalah saat seorang anggota suatu organisasi yang tidak menjabat pangkat apapun dalam struktur kepengurusan organisasi hanya sebagai anggota, namun dia menemukan adanya sebuah kejanggalan dan ketidakberesan pada diri ketua atau kebijakannya misalkan lalu dalam hati dia sebenarnya ingin memperingatkan atau merubah ketidakberesan tersebut akan tetapi di sisi lain dia tidak punya otoritas untuk melakukannya. Solusi yang ditawarkan oleh pemateri adalah dengan menyampaikan keluhan dan unek-unek tersebut kepada ketua tanpa harus ada kekhawatiran mengenai otoritas yang tidak dimiliki atau jika memang terasa kurang etis bisa disampaikan kepada orang-orang yang dekat dengan ketua tersebut.
Setelah sesi pertanyaan ini selesai, dilanjutkan lagi dengan sosialisasi divisi-divisi dalam CSSMoRA beserta program kerjanya. Sosialisasi ini dilakukan oleh perwakilan masing-masing divisi. Sejauh yang penulis ingat terdapat empat divisi yang telah mensosialisasikan dirinya dan program kerjanya, yaitu: divisi litbang, kominfo, PSDM dan P3M. Masing-masing divisi telah memaparkan dan mensosialisasikan program-program kerjanya dengan baik sehingga memunculkan beberapa pertanyaan dari peserta. Maka dibukalah sesi pertanyaan mengenai program-program kerja dari setiap divisi. Terdapat satu pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas, yakni mengenai pelatihan aplikasi-aplikasi penunjang perkuliahan seperti Maktabah Syamilah dan Mausu’ah Hadis bagi angkatan baru yang dihapuskan secara permanen dengan alasan adanya mahasiswa yang belum mempunyai laptop atau notebook. Penanya sangat menyayangkan dihapusnya program kerja produk divisi litbang ini. Pasalnya program kerja ini sangatlah bermanfaat bagi mahasiswa dan alasan penghapusannya pun -yaitu adanya beberapa yang belum punya laptop- dapat dihindari dengan melaksanakannya pada semester II sehingga seluruh mahasiswa anggota CSSMoRA UIN SUKA angkatan baru sudah mempunyai laptop semua. Pertanyaan sekaligus masukan ini pun dijawab oleh perwakilan divisi litbang dengan cukup baik. Alasan dihapusnya program kerja ini adalah problem yang telah dijelaskan sebelumnya dan alasan kenapa tidak dilaksanakan pada semester II saja adalah sistematika program kerja yang memang harus terancang dari awal mandat bukan di tengah.
Sesi pertanyaan mengenai program kerja divisi selesai pada pukul 12:10 WIB dan sesi pertanyaan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara follow-up kaderisasi CSSMoRA UIN SUKA. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan menu yang telah disediakan oleh panitia.
Terdapat satu hal yang masih sangat mengganggu di pikiran penulis. Hal itu adalah mengenai keterlambatan dimulainya acara ini. Informasi yang dipublikasikan sebelumnya adalah pukul 8:00 merupakan waktu dimulainya acara ini, namun realitasnya acara ini delay dan molor dimulai hingga jam menunjukkan pukul 10:00 WIB. Fenomena ini (baca:jam karet) mungkin sudah melekat namun tak seharusnya dilestarikan. Maka dibutuhkan tekad bersama untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini sehingga nantinya tidak berakibat fatal bagi setiap individu dan organisasi secara umum.
*Mahasiswa aktif prodi Ilmu Hadis Semester II fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga