CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Selasa, 14 Agustus 2018

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Orientasi Mahasiswa Baru PBSB



Yogyakarta, Sabtu (11/8) telah berlangsung pembukaan Orientasi Mahasiswa Baru PBSB UIN Sunan Kalijaga angkatan XII. Acara yang bertempat di Joglo LSQ ar-Rahmah ini dihadiri oleh pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, diantaranya Ahmad Mujtaba,   Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy S.Th.I., M.A., dan Dr. Afdawaiza, S.Ag, M.Ag. Selain itu, Dr. Ahmad Baidhowi selaku perwakilan dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam turut hadir dalam acara ini.
Orientasi ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, yaitu pada Sabtu-Ahad (11-12/8). Hari pertama orientasi, penyampaian materi mengenai PBSB dan ke-CSSMoRA-an serta materi seputar pengenalan kampus. Acara ini diikuti oleh 38 Mahasiswa baru PBSB UIN Sunan Kalijaga. 20 Mahasiswa baru dari prodi Ilmu Alquran dan Tafsir dan 18 Mahasiswa baru dari prodi Ilmu Hadis.
Alfa Puspita, salah satu Mahasiswi baru 2018 mengaku sangat antusias dengan adanya kegiatan ini. "Pemateri yang sangat inspiring bagi kami dan kegiatan yang interesting (menyenangkan) sehingga kami sangat antusias dalam mengikuti setiap seasonnya, dan membangkitkan kami kembali untuk terus berfikir bebas namun positif."
Ahmad Faruq Khaqiqi, selaku ketua panita mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya Orientasi ini adalah sebagai permulaan keakraban mereka dalam kebersamaan yang akan dijalaninya selama menjadi Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga. Juga untuk mengenalkan kepada Mahasiswa baru PBSB UIN Sunan Kalijaga mengenai program ini secara umum. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini panitia berharap terjalinnya rasa kekeluargaan dari seluruh Mahasiswa baru PBSB UIN Sunan Kalijaga.
Berlanjut pada hari kedua yakni acara outbound  yang diselenggarakan di Pantai Goa Cemara, Gunung Kidul. Pada kegiatan ini, Mahasiswa baru diajak bermain sambil memperakrab rasa kekeluargaan mereka sebagaimana tujuan awal diadakannya kegiatan ini.  Rangkaian kegiatan ini terdiri dari beberapa agenda. Mulai dari briefeng mengenai agenda yang harus dilaksanakan sampai akhirnya pembagian hadiah.
Kegiatan ini diawali dengan ice breaking yang dipandu oleh Febrian Candra, Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga angkatan 2017. Dilanjutkan dengan beberapa rangkaian games yang telah disiapkan oleh panitia acara. Hingga pembagian hadiah bagi para pemenang pada setiap perlombaan yang ada.
Pada penghujung acara, selain pembagian hadiah juga dilaksankan penutupan acara  oleh Dr. Syaifuddin Zuhri Qudsy,S. Th. I., MA. Dengan demikian acara orientasi ini telah dinyatakan selesai. Para Mahasiswa baru telah dinyatakan bergabung dengan keluarga besar PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Akr)

Sabtu, 07 Juli 2018

Masaku



Masaku
Tak sedikit pun aku melewatkanmu
Matahari yang bergulir begitu perlahan
Terhitung cepat oleh mataku dengan jelas
Kuberi tahu akan khayalku
Bahwa itu bukanlah waktuku
Hanyalah halusinasi diambang terpurukku,
Kuyakin akan hal itu
Namun,  tergoyahkan jiwaku
Oleh jatuhnya hitungan angka,

Masaku
Dialah akhir bagi kelopak-kelopak mawar  merah darah
Ujung dari aroma angan bak ruh kehidupan
Dan pengabdian abadi untuk-Mu ruh suci
Tak akan kugenggam kelopak kering nan rapuh itu
Sebab tak ada satupun serpihannya yang jatuh ke tangan-Mu
 Tak akan kubawa aroma itu
Sebab Kau ambil terlebih dahulu
Hanya Abdi, penghambaanku pada-Mu
Teman sejatiku dalam kegelapan, keheningan malam abadi

Masaku
Hanya waktu untuk berkelana
Mencari amalan-amalan dunia
Menumbuhkan akar-akar yang bukan sekedar rasa
Namun asa yang tak terhingga.

by: ANA

Kamis, 14 Juni 2018

Merenungi Kembali Makna Hari Kemenangan

            Ramadan telah berlalu meninggalkan duka dan pilu bak disayat sembilu. Bagaimana tidak? bulan Ramadan yang penuh berkah dan keistimewaan telah beranjak pergi.  Semua keistimewaan yang hanya ada di bulan nan mulia itu kini harus menemui ujung. Tidak ada lagi keberkahan malam lailatul qadar,  tidak ada lagi puasa sebulan penuh, tidak ada lagi tarawih. Ramadan akan digantikan dengan bulan Syawal yang khas dengan hari raya Idul Fitri.
            Terdapat beragam penafsiran mengenai arti dari kata Idul Fitri. Kata Id berasal dari kata ‘aada-ya’uudu yang artinya kembali, sedangkan fitri bisa berarti berbuka puasa untuk makan dan bisa juga diartikan  suci. Kata fitri yang bermakna berbuka puasa diambil dari akar kata ifthar (sighat mashdar afthara-yufthiru). Oleh karena itu pada saat hari raya Idul Fitri 1 Syawal Allah mensunahkan makan dan minum sebelum hendak melaksanakan salat id, meskipun makan atau minum itu hanya sedikit. Hal itu merupakan tanda bahwa hari raya Idul Fitri adalah waktu untuk berbuka dan bahkan haram berpuasa di hari itu.
 Idul Fitri, kembali ke fitrah begitu sebagian orang menyebutnya adalah suatu hari raya yang diagungkan umat Islam selepas menjalankan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh. Kembali fitri atau kembali suci berarti kembali bersih jiwa dan raga setelah sebulan penuh menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang diharamkan saja, bahkan makan dan minum yang pada awalnya dihalalkan juga harus ditahan hingga azan magrib berkumandang. Setelah sebulan lamanya menahan  diri, saat hari raya Idul Fitri inilah kita bisa dianggap kembali suci layaknya bayi. Hal itu jika kita menjalankan puasa serta ibadah-ibadah lainnya dengan sepenuh hati serta menjauhi dosa.
            Hari kemenangan telah tiba. Seluruh umat Islam menyambut dengan riang gembira. Tapi coba kita renungkan kembali apakah sebenarnya hakikat dari hari kemenangan itu. Hakikat dari hari raya Idul Fitri sendiri dapat kita pahami jika kita mengerti apakah sebenarnya tujuan dari puasa di bulan Ramadan. Tujuannya adalah untuk menjadikan hamba bertakwa. Jadi makna utama yang harus kita renungkan dari hari raya Idul Fitri adalah bagaimana ibadah puasa itu dapat menjadikan kita hamba yang bertakwa serta menjauhkan diri dari dosa. Sebab kebanyakan orang hanya menjadikan Ramadan sebagai saat untuk menjeda dosa, bukan sebagai ajang latihan diri untuk terus-menerus menjauhi dosa. Setelah ditempa selama sebulan penuh maka sia-sia saja jika selepas bulan Ramadan kita tidak menjadi lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya.
            Hari raya Idul Fitri sendiri harus dimaknai secara positif. Tidak dimaknai dengan hal-hal yang berlebihan seperti menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja. Terdapat beragam cara untuk menjadikan hari raya ini menjadi lebih bermakna, baik dengan silaturahmi ke sanak saudara, berziarah kubur, ataupun dengan berkumpul dengan keluarga. Semoga dengan momen hari raya ini amalan-amalan kita diterima oleh Allah, sehingga menjadikan batu lonjakan untuk menjadi hamba yang bertakwa. Taqabbal Allahu minna wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum, semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu, amalan puasa saya dan puasa kamu.(Akr)

Minggu, 10 Juni 2018

UIN Sunan Kalijaga Kembali Menerima 40 Mahasiwa PBSB


Yogyakarta – Senin (04/05), 40 santri dinyatakan lulus seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2018 setelah melalui beberapa seleksi. Pengumuman yang dikeluarkan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (DITPDPONTREN) Kemenag menyatakan bahwa ada 262 santri yang dinyatakan lulus pada pilihan program studi di 12 Perguruan Tinggi Mitra (PTM) PBSB.
Pada seleksi tahun ini ada perbedaan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain peserta yang mendaftar semakin banyak, juga banyak pendaftar yang berasal dari pendidikan Diniyah formal dan Takmiliyah. Santri lulusan kedua pendidikan tersebut juga bisa bersaing dengan santri lulusan madrasah aliyah swasta pada seleksi PBSB tahun ini.
UIN Sunan Kalijaga mendapatkan kouta 40 mahasiswa yang akan diterima pada dua program studi, yaitu Ilmu Alquran dan Tasfir serta Ilmu Hadis. Masing-masing prodi memilki kuota sebanyak 20 mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Alfatih Suryadilaga selaku pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga menyatakan bahwa sebenarnya penambahan kouta tersebut tidak ada. “Sebenarnya istilah yang tepat yaitu pengembalian kouta sama seperti pada tahun 2015, ada 20 mahasiswa yang diterima per-prodi : IAT dan ILHA.” jelasnya
Mengenai pengunduran diri dari PBSB, ia menjelaskan bahwa tahun ini ada kebijakan yang menyatakan bahwasanya pengunduran diri diajukan maksimal empat hari setelah pengumuman hasil seleksi. Bagi mereka yang mengundurkan diri dari PBSB maka secara otomatis akan digantikan oleh cadangan yang telah disiapkan. Lewat wawancara via media sosial ia juga menjelaskan, “Khusus di UIN Jogja, yang mundur hanya ada satu orang tahun ini dan telah digantikan oleh cadangan.”
Adapun peserta yang mendaftar PBSB di UIN Sunan Kalijaga pada tahun ini ada sekitar 950 santri, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah sekitar 730 santri. Peserta yang memilih prodi Ilmu Alquran dan Tafsir masih lebih banyak dibanding dengan prodi Ilmu hadis. Namun, penerimaan tetap diratakan jumlahnya pada setiap prodi. " Pertimbangan tahun ini yang diterima adalah yang lebih banyak hafalannya.” Lanjutnya.
Penerimaan PBSB tahun ini afirmatif, karenanya dari semua provinsi di Indonesia masing-masing ada yang diterima. Jawa Timur sebagai provinsi terbanyak yang pesertanya berhasil lulus seleksi. Terkahir, ia menjelaskan bahwa sedikit banyaknya mahasiswa yang diterima pada PBSB juga disesuaikan dengan anggaran dari Ditpontren. (Ai)

Selasa, 15 Mei 2018

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Peduli: Aksi Solidaritas dan Doa Bersama untuk Indonesia Damai


Yogyakarta, Minggu (13/5) Sejumlah elemen masyarakat dan ormas-ormas mahasiswa mengadakan sebuah aksi. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan doa bersama bagi saudara kita setanah air yang ada di Surabaya. Lebih dari 60 elemen  masyarakat yang mengikuti aksi ini, diantaranya Gusdurian Jogja, Forum Jogja Damai, Srikandi Lintas Iman, Young Interfaith Peace Maker Commuity (YIPC), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan lainnya.
Aksi ini berlangsung di Monumen Tugu Yogyakarta yang bertujuan untuk menguatkan kekeluargaan dan kebersamaan. Mukhibullah salah satu tokoh penggerak aksi ini mengatakan “Tujuan aksi ini adalah yang pertama menyampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa tidak ada agama apapun yang mengajarkan aksi terorisme. Yang kedua bahwa kita takut terhadap aksi teror yang ada. Yang ketiga kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu-membahu membantu menyuarakan aksi terorisme ini”
“Sedangkan untuk pemerintah kita serukan, yang pertama meminta kepada kepolisian Republik Indonesia untuk menemukan dan menindak tegas otak aksi teror yang terjadi di Surabaya. Yang kedua meminta kepada pemerintah khususnya kepolisian untuk memperkuat perlindungan hak konstitusional warga negara dalam segala bentuknya. Yang ketiga meminta pemerintah untuk mewaspadai menguatnya pelemahan kekuatan demokrasi di Indoneisa. Yang keempat memita kepada masyarakat untuk tetap tenang dan waspada atas tindakan teror dan tindakan kekerasan serta tidak terpancing untuk membalas tindakan tersebut dengan memanfaatkan sentimen warga bangsa. Yang kelima memperjuangkan kedaulatan hukum dan persamaan hak warga negara adalah hal yang mutlak untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur, dan sudah selayaknya bagi setiap warga negara berkonstribusi untuk menjaganya. Yang keenam meminta kepada warga bangsa untuk bersama-sama memperkuat kehidupan masyarakat yang baik dan rukun sehingga ideologi kebencian dan terorisme tidak mendapatkan dukungannya”, lanjut Seknas Gusdurian tersebut.
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga sebagai organisasi santri penerima beasiswa berprestasi ikut menyatakan solidartas bersama. “Aksi ini memiliki tujuan baik, dan kami sebagai santri sangat perlu untuk membantu menyuarakan aksi ini dengan bergabung ke dalam barisan agar tidak kembali terulang teror yang terjadi”, tutur Nuzul sebagai Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2017-2018. (Bhr)

Senin, 14 Mei 2018

Kerja Sama dengan CSSMoRA, Kemenag DIY Adakan Acara untuk Mengenal PBSB dan CSSMoRA








Yogyakarta, Minggu (13/5) Bidang  Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama DIY mengadakan acara pengenalan bertema Kiat Sukses Menggapai Beasiswa PBSB Tahun 2018”. Dalam acara tersebut, Kemenag, pengurus CSSMoRA Nasional, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, dan CSSMoRA UGM bekerja sama dalam satu acara yang dihadiri oleh para santri yang akan mengikuti ujian PBSB tahun 2018 di Yogyakarta.
Acara yang berlangsung di aula Kanwil Kemenag DIY tersebut, dimulai pukul 08:00 WIB dengan dipimpin oleh Febrian Candra Wijaya dan Rania Nurul Rizqia selaku pembawa acara. Diawali dengan pembukaan, lantunan ayat-ayat suci al-Quran oleh Abdy Nur Muhammad, serta sambutan-sambutan.
Faturrahman, Kanwil Kemenag DIY dalam sambutannya mengharapkan, berakar dari acara ini para peserta yang akan mengikuti ujian PBSB selalu semangat, “Kami juga berharap agar jumlah peserta yang lulus di DIY dapat meningkat dibanding tahun sebelumnya.” Ujar Beliau. Melati Ismailia Rafi’i mewakili CSSMoRA mengucapkan terima kasih kepada Kemenag DIY atas amanah yang dipercayakan, sehingga CSSMoRA turut bekerja sama dalam acara tersebut. “Kami sangat berterima kasih atas inovasi Kemenag menyelenggarakan acara ini dan telah mengajak CSSMoRA untuk ikut berpartisipasi.” Tutur Mela.
            Beranjak pada acara inti yakni Talkshow yang dimoderatori oleh Putri Adelia. Talkshow yang mengundang perwakilan CSSMoRA Nasional, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, dan CSSMoRA UGM sebagai pemateri ini diisi oleh beberapa sesi.  Sesi pertama yaitu pengenalan seputar PBSB, tips serta kiat mengikuti ujian PBSB yang dibawakan oleh Annas Rolli Muchlisin, Ketua CSSMoRA Nasional periode 2017/2018. “Tak hanya siap materi, fisik pun harus siap, usahakan mengonsumsi makanan yang bergizi sebelum mengikuti ujian.” Ujar Annas sembari menyelingi penjelasannya dengan beberapa humor.
            Berlanjut ke sesi selanjutnya, yaitu pengenalan CSSMoRA oleh Maulana Ihsanul Karim, Dian Aulia Nengrum, dan Ahmad Ramzy Amiruddin sebagai perwakilan dari CSSMoRA Nasional. Diisi dengan pemaparan terkait organisasi, filosofi logo, dan sejarah terbentuknya CSSMoRA. Tak luput pula dengan pemaparan visi dan misi, struktur kepengurusan CSSMoRA Nasional 2018/2019 dan program kerja tiap departemen. Lalu Karim menutup sesi tersebut dengan  menjelaskan beberapa konsekuensi yang harus ditanggung tatkala seseorang telah masuk gerbang di PBSB dan mengajak para peserta bersama-sama menyanyikan Mars CSSMoRA. “Kurang afdhal jika mengenal CSSMoRA tapi tidak mengenal marsnya.” Tutur Karim.
            Sebelum menuju ke sesi terakhir dilakukan Ice Breaking untuk menyegarkan suasana. Moderator meminta perwakilan dari CSSMoRA UIN SUKA, Febrian Candra Wijaya dan Mayola Andika mengajak para peserta untuk menguji kecepatan dan ketepatan.
            Pada sesi terkahir, Muhammad Ridho dari CSSMoRA UGM dan Nur Azka Inayatussahra dari CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menjelaskan terkait soal tes PBSB yang akan dihadapi para peserta sekaligus memberikan gambaran soalnya. “Tingkat kesulitan soal ujian PBSB ini berada di tengah-tengah antara ujian SBMPTN dan UN.” Ujar Ridho. Acara berakhir sekitar pukul 12:00 WIB, yang ditutup dengan foto bersama pengurus CSSMoRA dan peserta. (Ai)