CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Rabu, 12 Desember 2018

Khotmul Qur’an dan Sima’an Akbar dalam Rangka Harlah CSSMoRA yang ke-11



Bantul, (9/12) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan acara Khotmul Qur’an dan Sima’an Akbar dalam rangka menyambut harlah CSSMoRA yang ke-11. “Acara ini merupakan program kerja dari CSSMoRA Nasional. Namun untuk CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga sendiri juga sebenarnya mempunyai progam kerja Sima’an dan Muqoddaman bulanan. Makanya, dalam satu acara ini proker CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan CSSMoRa Nasional dapat terlaksana sekaligus”, tutur Ketua Panitia, Abdi Nur Muhammad.  
Sementara itu, acara ini juga mendapat respon positif dari para peserta. Andi Fatihul Faiz misalnya, salah satu mahasiswa PBSB angkatan 2018 mengatakan bahwa kegiatan Khotmul Qur’an ini sangat positif. Menurutnya, selain sebagai formalitas dalam menyambut harlah CSSMoRA yang ke-11, acara ini juga memberikan manfaat. “Dengan adanya acara Khotmul Qur’an dan Simaan ini, saya merasa waktu saya tidak terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya”, tutur Faiz.
 Acara ini secara langsung dibuka oleh Ketua Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, Dr. M Alfatih Suryadilaga, M.Ag. Meski begitu, dikarenakan ada sedikit miss communication, menyebabkan acara pembukaan dan acara inti tidak bisa dilaksanakan secara bersamaan. Untuk acara pembukaan dilaksanakan secara mendadak pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB di Joglo LSQ Ar-Rohmah, sedangkan acara inti dilaksanakan setelah Dzuhur di Masjid Jami’ Rahmatan Lil Alamin, Perumahan Tamanan. Namun, secara umum kegiatan tersebut tetap berjalan dengan lancar dan meriah.
Untuk peserta sendiri, Abdi mengatakan, “Kegiatan Khotmul Qur’an ini hanya diperuntukan bagi anggota aktif CSSMoRA. Sementara untuk alumni tidak diwajibkan". Setelah acara Khotmul Qur’an dan Sima’an selesai, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi yang dipimpin oleh grup hadrah dari LSQ Ar-Rohmah. Acara tersebut kemudian ditutup dengan sesi pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas harlah CSSMoRA yang ke-11 dan makan bersama. Pemotongan tumpeng dilakukan secara simbolik oleh ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Nuzul Fitriansyah dan perwakilan CSSMoRA Nasional, Ahmad Ramzi Amiruddin.(Nsd)




Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Raih Prestasi pada MUMTASH 3 di UAD




Yogyakarta, Sabtu (08/12) Universitas Ahmad Dahlan kembali selenggarakan acara tahunan HMPS Ilmu Hadis 2018. Event yang bertajuk Musabaqah Mahasiswa Tafsir Hadis (MUMTASH) 3 tersebut ditujukan kepada seluruh Mahasiswa se-Yogyakarta disetiap tahunnya. Tema yang diusung adalah Aktualisasi Nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis di Era Digital untuk Indonesia Berkemajuan dan Berkeadaban.
Kegiatan ini diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan Kampus 4. Dalam pelaksanaannya, acara ini dibagi menjadi 3 event yaitu Pelatihan Software Hadis bersama Hatib Hermawan, S.Th.I., S.Pd., M.Pd. (08/12), Lomba Mahasiswa se-DIY dan Bazar (09/12).
Adapun lomba-lomba yang diselenggarakan antara lain yaitu Musabaqah Makalah Ilmu Hadis (M2IH), Musabaqah Hifdzul Hadis (MHH) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 5 Juz. Selain itu, ada pula lomba Battle, diantaranya Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dan Musabaqah Khattil Hadis (MKH).
Dalam ajang perlombaan ini, delegasi dari  CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga berhasil meraih juara dalam beberapa lomba yang diselenggarakan. Diantaranya yaitu Muhammad Alan Juhri (Juara I Fahmil Qur’an), Mayola Andika (Juara III Fahmil Qur’an) dan Arini Nabila Azzahra (Juara II Hifdzil Hadis).
 Arini, salah satu peserta lomba dan pemenang ajang MHH dari CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga tersebut mengaku senang dengan terselenggaranya MUMTASH 3 ini. Menurutnya, lomba yang ditawarkan sesuai dengan prodi yang diambil. “Saya sangat senang mengikuti lomba MHH ini karena dengan mengikuti lomba ini kita dapat menambah wawasan dan juga teman mahasiswa se-DIY yang lainnya. Selain itu, kita juga dapat mengembangkan potensi akademik melalui ajang lomba ini” tuturnya.(Yun)


Jumat, 07 Desember 2018

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Adakan Bedah Buku Sebagai Rangkaian SERSANTARA



Yogyakarta (05/12) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Bedah Buku “Tafsir Jawa” oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. sebagai salah satu rangkaian Semarak Santri Nusantara (SERSANTARA) yang ke-11. Kegiatan ini diadakan di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Acara ini merupakan rangkaian kedua SERSANTARA setelah Sayembara Logo dan Kaos.
            Bedah buku ini dimulai pukul 08:30 - 11:30 WIB. Rangkaian acara dimulai dengan sambutan dari Muhammad Abdul Hanif selaku Ketua Umum SERSANTARA ke-11 dan Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag., M.Ag. selaku Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga. Acara ini dihadiri langsung oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. selaku penulis buku, dan Drs. Muhammad Mansur, M.Ag. sebagai pembedah buku.
            Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. atau yang kerap dipanggil Abi Mustaqim ini merupakan salah satu pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga. Beliau juga merupakan Ketua Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT). Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang giat menulis. Buku “Tafsir Jawa: Eksposisi Nalar Shufi-Isyari Kiai Soleh Darat Kajian atas Surat al-Fatihah dalam Kitab Faidl al-Rahman” merupakan salah satu karya beliau. Alasan beliau memfokuskan penelitian pada tokoh Kiai Soleh Darat karena beliau merupakan guru dari para kiai di Jawa yang memiliki banyak karya, dan satu-satunya kiai yang memperkenalkan tafsir sufi-isyari. “Dalam menghidupkan tokoh harus ada epistem, sama kayak milih istri gak bisa hanya karena pokoknya suka,” Papar beliau saat menjelaskan alasan memilih Kiai Soleh Darat.
Selanjutnya buku ini dibedah oleh Pak Mansur, salah satu dosen senior Prodi IAT. Berulang kali beliau menjelaskan tentang keistiqomahan Abi Mustaqim dalam corak riset penafsiran. Beliau mengaku bahwa baru mendapatkan buku tadi malam dan harus membedahnya pagi ini. Namun ini ia lakukan sebagai wujud sami’na wa atha’na kepada Abi Mustaqim yang juga seorang kiai. Acara ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama panitia.(Nad)

Markomat Jadi Nabi



(Ahmad Ahnaf Rafif)

“Aku adalah Dia yang aku cintai. Dan Dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami.” -al-Hallaj.

”Menyatunya manusia dengan Tuhan itu ibarat cermin dengan orang yang sedang bercermin. Bayangan dalam cermin itu adalah manusia.” -konsep manunggaling kawulo gusti.
Sambil menyemil kerupuk, Markomat membaca syair-syair yang sama sekali tidak dipahaminya. Alih-alih mendapat hal baru, ia justru semakin bingung. Bagaimana mungkin manusia menyatu dengan Tuhan? Atau bagaimana bisa Tuhan bersemayam dalam diri manusia? Dalam buku itu tertulis kalau konsep-konsep itu bisa menjadi alternatif bagi dekadensi moral. “Mananya yang solutif?” Pikir Markomat.
“Aku menyerah! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Beri aku solusi, Sub!”
“Cuma satu, Mat. Jadilah Nabi.”
Markomat tersedak, “hei! Yang benar kamu, Sub! Ah, aku gak percaya sama kamu. Sesat itu namanya, Sub.”
“Hahahaha.. memangnya apa yang kamu pahami, Mat? Kemana-mana pakai gamis, pergi naik unta, jenggot panjang, atau mendaku jadi nabi? Bukan itu maksudku, Mat,” tertawa.
“Ya jelas-jelas kamu tadi bilang kalau aku harus jadi nabi. Ingat kamu, terakhir kali ada yang mengaku nabi, langsung dilaporkan ke polisi. Warga gak terima, karena jelas itu sesat!”
“Bukan begitu, Markomat bin Syu’aib. Kamu tak perlu mendaku jadi nabi. Tak perlu memproklamirkan diri sebagai nabi. Tak perlu mengajak orang untuk mengikutimu. Yang perlu kamu lakukan cuma menyatu dengan pribadi nabi. Ikutilah segala perbuatannya yang luhur. Akhlaknya, pribadinya, budi pekertinya. Dan kalau itu yang kamu lakukan, kamu sudah menjadi nabi. Kamu berhasil manunggaling dengan nabi, baik kamu sadari atau tidak. Tanpa kamu mendaku secara lisan, orang dengan sendirinya akan memperhatikanmu.”
“Pernyataanmu masih belum aku terima, Sub.”
“Oke, sekarang begini. Kamu lihat sekarang, justru banyak orang yang manunggaling dengan iblis. Namun mereka tidak mendaku bahwa mereka itu iblis. Mereka juga tidak memakai atribut-atribut iblis semacam gigi taring atau tanduk di kepalanya. Kamu bayangkan bagaimana kalau mereka mengumumkan kalau mereka manunggaling dengan iblis.”
“Lebih bahaya mana, mendaku menjadi nabi atau mendaku menjadi iblis?”
“Ya tergantung, Mat. Kalau kamu mendaku nabi di hadapan iblis bisa bahaya, begitu juga sebaliknya. Yang terpenting tak usahlah mendaku-daku. Cukup liat dirimu sendiri, kira-kira kamu sudah manunggaling dengan siapa, nabi atau iblis?”
“Tapi aku penasaran. Aku ingin mendaku. Aku ingin tahu bagaimana responnya.”
“Terserah kamu, asal tanggung sendiri resikonya. Memangnya dimana kamu mau mendaku?”
“Di depan mukamu, Sub.”

Jumat, 30 November 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi Oktober 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi November 2018

Senin, 26 November 2018

Mengapa Kita Dihidupkan??


Oleh: Ahmad Mushawwir*


Dahulu waktu berumur 8 tahun, saya pernah bertanya kepada ayah (kakek), “Ayah, untuk apa yah kita hidup??” Kakek langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan itu, kemudian dia berkata, “Anakku, pertanyaanmu itu sungguh bagus sekali, tapi kamu ndak usah terlalu memikirkannya. Yang penting kamu itu harus rajin sholat dan membaca Qur’an saja yah?” sambil mengusap kepala saya.
Waktu itu saya berpikir kalau ayah tidak menjawab pertanyaan itu. Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya baru menyadari ternyata ayah sudah menyinggung tujuan hidup di dunia ini.
Ketahuilah..
            Hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, minum, dan kawin saja. Sekali lagi, tidak. Kalau memang demikian, apa bedanya dengan binatang?
Allah Swt telah lama memberikan arahan-Nya dalam firman-Nya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Mengetahui tujuan hidup saja tidaklah cukup. Sebagai orang yang beriman kita telah diberikan tugas mulia dan dituntut untuk memenuhi tugas tersebut.
Tugas apakah itu? Allah langsung menjawab dengan Firman-Nya:
  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Suatu tujuan tidak akan tercapai kecuali dengan mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-sebaiknya. Dan kita tahu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara bukan selamanya. Jadi,  jangan pernah lupa dengan tugas hidup yang telah diberikan. Seriuslah!! seperti kita fokus dalam mengerjakan suatu tugas penting. Kenapa? Karena tak satu pun di antara kita yang dapat hidup abadi. Kehidupan pasti akan menemukan titik akhir. Allah Swt berfirman :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
.
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia”.( QS. Al-Mu’minun [23]: 115-116)
            Selanjutnya, jangan pernah kita mengira apapun yang pernah kita lakukan selama berada di dunia ini dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan setimpal. Ingat! Bahkan sekecil atom pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Allah Swt berfirman :
 أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”. ( QS. Al-Qiyamah [75] : 36 ).
            Kembali ke permasalahan awal. Persoalannya sekarang adalah pada tugas kita. Kerjakan tugas utama tersebut dengan sebaik-baiknya, lalu sempurnakan. Itu saja. Oleh sebab itu, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya muslim hendaklah dia berusaha dengan maksimal untuk merealisasikan pengabdiannya kepada Sang Khalik di mana pun dan dalam kondisi apapun itu. Pada setiap gerak dan diam, ucapan dan tingkah laku, bahkan sampai kepada getaran hati kita yang teramat dalam sekalipun, hendaklah selalu berarti di sisi-Nya. Jangan biarkan satu nafas pun yang keluar  dengan sia-sia. Dengan begitu kita senantiasa mendapat pahala dan rida-Nya.
            IBADAH = PAHALA, itulah janji Allah Swt.
            Abdullah bin Abdul Aziz al-Li mengatakan, “Kita diciptakan sebagai manusia dengan tabiat dan karakter yang khusus. Artinya gabungan dua makhluk Allah; malaikat dan iblis. Malaikat orientasinya selalu pada aspek spiritual, tunduk, dan ingin selalu dekat di sisi-Nya. Sementara iblis identik dengan kesombongan, kerusakan, serta kedurhakaan. Maka, setiap manusia berbeda tingkah laku lahir dan batinnya. Dilihat siapa di antara dua sifat makhluk tersebut yang mendominasi dalam jiwanya, hina atau mulia sejalan dengan karakter dan tabiat setiap kita.
            Abdullah bin Wahhab r.a berkata, “Semua kenikmatan dunia hanya satu kenikmatan, kecuali kenikmatan ibadah. Ibadah mempunyai tiga kenikmatan: (1) Ketika sedang beribadah, (2) Ketika sedang diingatkan untuk beribadah, dan (3) ketika mendapatkan pahala di akhirat kelak.” (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalah wa at-Tahajjud)
            Saatnya kita semua berusaha sedini mungkin mengembalikan tujuan hidup dengan tujuan yang sesungguhnya. Beribadah semata kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam.
*Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Prodi Ilmu Hadis Semester V.

Jumat, 23 November 2018

Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Ikuti Olimpiade Pecinta Qur’an



     Abdy Nur Muhammad, anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menjadi delegasi kota asalnya, Jayapura dalam event OPQ (Olimpiade Pecinta Qur’an) tingkat Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh komunitas ODOJ (One Day One Juz). Jenis cabang yang diperlombakan diantaranya: MHQ 3 juz, MHQ 10 juz, tilawah dewasa, dan kaligrafi. Adapun cabang yang ia ikuti adalah MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an) 10 juz. Sebelum mengikuti event tingkat nasional ini, Abdy telah meraih juara di tingkat provinsi Jayapura pada bulan Ramadhan lalu.
     Event ini berlangsung selama 4 hari yaitu pada tanggal 15-18 November 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perlombaan yang diikuti oleh 43 peserta putra dan putri se-Indonesia ini juga menjadi ajang silaturahmi serta mempererat tali persaudaraan dengan sesama muslim pecinta al-Qur’an, tutur Abdy. Ia juga berpesan “bagi siapa saja yang suka ikut lomba, berlatih tidak hanya saat mau lomba saja, berlatihlah setiap hari. Kalau kebetulan ada lomba baru ikut, untuk menguji sampai di mana kemampuan kita”.
      Abdy juga memberikan motivasi apabila ingin mengikuti event perlombaan seperti ini, “kepada para penghafal al-Qur’an agar senantiasa menjaga hafalannya dengan cara sering me-muraja’ah, karena mengulang hafalan merupakan kewajiban. Adapun lomba dan juara adalah bonus” tuturnya.(Arf)

Selasa, 20 November 2018

Mahasiswi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Peroleh Predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga




      Zidna Zuhdana Mushthoza, telah berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga. Dengan berbekal keyakinan bahwa semua orang punya kehebatan dan kelebihan di bidangnya masing-masing, putri dari Bapak Drs.H.Tajuddin Thalabi, M.Ag dan ibu Dra. Hj. Amilah, M.Pd.I ini dapat memperoleh IPK yang nyaris sempurna, yaitu 3,92. Tidak lupa, dengan dukungan orang tua dan keluarga, mahasiswi asal Gresik ini dapat melanjutkan perolehan prestasinya dari juara 3 lomba pidato bahasa Indonesia (MTs), juara 2 Lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 3 lomba Pelajar Teladan Putri tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 2 lomba Cipta Puisi Kandungan Ayat Al-Quran tingkat Jawa Timur Tahun 2013, juara 1 lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik tahun 2013, dan juara 1 lomba  Musabaqah Qiroatul Qutub (MQK) tingkat Ula Kabupaten Gresik tahun 2011.
         Dalam proses belajarnya, santri yang memiliki hobi travelling ini tidak memiliki trik atau gaya khusus. “Karena belajar itu proses bukan hasil. Dan sampai sekarang pun, mbak harus banyak belajar. Gelar mahasiswa terbaik ini sebenarnya tidak  ada pengaruh apapun. Tapi, tentu ada motivasi terbesar dan utama yang membuat mbak sampai pada tahap ini, yaitu orang tua dan keluarga, jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa sangat setuju dengan statement  Kuliah itu bukan balapan lulus atau tinggi-tinggian IPK. Jalani saja dengan tanggung jawab dan versi terbaik menurutmu”. Untuk kendala yang dialami, mahasiswi angkatan 2014 ini memaparkan bahwa hambatan terbesar adalah diri sendiri; bagaimana melawan rasa malas dan mengatur waktu untuk melakukan tanggung jawab ketika kuliah, misalnya organisasi, hafalan, tugas-tugas kuliah, dan lain-lain. Tak lupa ia juga memberi solusi bahwa kendala tersebut tidak akan dapat dihilangkan. Yang dapat dilakukan yaitu meminimalisir kendala tersebut. Itulah yang harus dilakukan.
      Santri yang suka makan cokelat ini juga memberikan sedikit pesan kepada teman-teman mahasiswa serta lulusan UIN Sunan Kalijaga. “Bahwasanya lulusan UIN Sunan Kalijaga harus membangun narasi positif dalam mimbar apapun, baik mimbar akademik maupun mimbar sosial. Lulusan UIN harus dan perlu mengisi pos-pos strategis dalam membangun narasi yang baik dan berlandaskan ilmu, agar orang-orang yang berbicara tanpa landasan ilmu dan tidak pada ranah keilmuannya tergerus arus sebab dikalahkan oleh orang-orang yang belajar serius,” jelasnya. “Di era milenial ini kan banyak sekali orang-orang yang berbicara tidak pada ranah keilmuannya, tapi malah fasih sekali membicarakanya. Mereka kebanyakan berbicara sesuai kehendak sendiri. Bukan ahli politik, bukan ahli agama, membiacarakan keduanya. Meskipun sebenarnya tidak menutup kemungkinan mereka yang bukan ahlinya memiliki kemampuan, namun ada baiknya tabayun pada orang-orang yang sudah ahli. Nah, di sinilah peran lulusan UIN yang sudah banyak belajar dan menimba ilmu, mereka harus membangun narasi positif di manapun, baik akademik maupun sosial,” tambahnya. (dek)