CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 16 September 2018

Tak hanya Teori, tetapi juga Praktik


Bantul, Sabtu (15/9) Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan pelatihan jurnalistik dengan tema "Raih Mimpi Lewat Literasi". Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Monumen TNI AU ini menghadirkan dua narasumber, Achmad Muchlish Amrin untuk fiksi dan Imron Mustofa untuk non-fiksi. Ketua pelatihan jurnalistik, Fikru Jayyid mengatakan tujuan pelatihan ini untuk mengasah dan membimbing anggota CCSMoRA khususnya angkatan 2018 dan peserta lainnya untuk mengetahui dasar-dasar dan cara menulis yang baik, serta kegiatan ini diselenggarakan berkaitan dengan adanya kaderisasi bagi anggota CSSMoRA 2018.
Pelatihan jurnalistik tersebut dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Acara pembukaan pada kegiatan ini dipimpin oleh Nadyya selaku pembawa acara, lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alqur'an oleh Alief Yundha. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA yang dipimpin oleh Hasaroh setelahnya. Kemudian sambutan ketua panitia dan wakil ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang sekaligus membuka acara tersebut. Penutupan seremomial dipimpin dengan do’a oleh saudara Andi Aqib.
Pada pelatihan jurnalistik ini peserta tidak hanya mendapatkan teori, namun juga mempraktikkannya. Biasanya hal yang paling melekat dalam otak adalah ketika telah mendapatkan suatu teori lalu mempraktikkannya secara langsung tutur Yundha salah  satu  peserta pelatihan jurnalistik.
Kegiatan ini juga diselingi game atau tantangan menyusun puisi bagi para peserta. Masing-masing kelompok menyusun kata hingga menjadi puisi lalu membacakan puisi tersebut di hadapan peserta lainnya. (Vivi)

Senin, 10 September 2018

Tahun Baru Hijriyah sebagai Bentuk Toleransi Beragama

Oleh: Nadyya Rahma Azhari
   Tahun baru Hijriyah merupakan tahun baru Islam. Agama Islam tentunya mempunyai pola penanggalan tersendiri yang berbeda dengan sistem penanggalan lain. Tahun Hijiriyah dalam Islam tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, hingga tahun itu dijadikan sebagai tahun pertama dalam penanggalan Hijriyah. Berdasarkan pola pergerakan bulan, umat Islam menggunakan penanggalan Hijriyah untuk menandai kejadian-kejadian penting Islam.
   Kaitan penanggalan Hijriyah dengan hijrahnya Nabi tentu saja menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika dipandang secara kasat mata, proses hijrah mungkin hanya dianggap sebagai suatu perjalanan dakwah atau perpindahan  Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya dari kota Mekkah ke Madinah. Kita lebih cenderung memperingati itu sebagai suatu strategi dakwah yang dilakukan Nabi atas perintah Allah. Bahkan mungkin ada yang menganggap bahwa hijrah tersebut dilakukan karena dakwah yang dilakukan di kota Mekkah tidak berjalan dengan lancar.
   Memang tidak salah jika menyebut hijrah sebagai strategi dakwah. Terang saja, dakwah yang dilakukan di Madinah  menghasilkan pemeluk ajaran Islam  lebih banyak daripada dakwah di kota Mekkah. Dakwah di Mekkah yang kurang lebih selama tiga belas tahun tidak menghasilkan pengikut yang lebih banyak dari Madinah. Semenjak di Madinah pun, Islam berhasil membentuk struktur pemerintahan yang sesuai dengan syari’at Islam. Perkembangan Islam begitu pesat saat berada di Madinah. Namun jika ditinjau lebih jauh, hijrah  memiliki makna yang lebih dalam dari hanya strategi dakwah.
  Kurang lebih selama tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah telah menggunakan berbagai metode dakwah, mulai dari sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Mulai berdakwah dari kerabat dekat sampai secara terang-terangan menyeru seluruh masyarakat Mekkah. Namun dakwah Rasul selalu saja mendapat tentangan dari masyarakat kota Mekkah. Berbagai hal pun mereka lakukan untuk menentang dakwah Rasul. Hingga tidak banyak yang mengikuti ajaran Islam.
  Meskipun ditentang dengan berbagai cara, Rasulullah dan para sahabat beliau tetap sabar dan menyebarkan Islam dengan lemah lembut tanpa ada paksaan. Setelah beberapa tahun melihat perkembangan dakwah yang semakin sulit, Allah pun menurunkan perintah untuk berhijrah ke Madinah. Salah satu alasan hijrah ini tentu saja melihat pada kondisi Madinah yang lebih terbuka terhadap Islam. Banyak dari masyarakat Madinah yang telah datang ke Mekkah menemui Rasul untuk diislamkan. Namun dalam peristiwa hijrah ini sebenarnya Allah juga mengajarkan toleransi kepada umat islam.
  Pada saat mengajak seseorang atau menasihati, kita harus senantiasa mengajaknya denga lemah lembut dan sabar.Seperti yang dilakukan Rasul, tetap sabar selama tiga belas tahun berdakwah tanpa bersikap kasar. Setelah lama kita mengajak seseorang untuk beriman kepada Allah namun dia masih tetap tidak beriman, maka kita tidak berhak memaksanya. Itulah yang Rasul ajarkan dari peristiwa hijrah. Setelah lama berdakwah pada masyarakat Mekkah, penduduk Mekkah tetap bertahan dengan ajaran yang mereka anut. Maka Rasul memulai dakwah di tempat lain tanpa memaksa penduduk Mekkah untuk mengikuti ajaran Allah. Bahkan setelah memimpin Madinah pun, Rasullah tidak memaksa penduduk Madinah yang tidak mau memeluk Islam. Namun Rasul tetap membuat perjanjian dengan masyarakat yang tidak mau memeluk Islam tersebut. Hal ini membuktikan bahwa rasulullah tidak mengesampingkan orang lain hanya karena berbeda keyakinan.
  Dalam era modern ini, hendaknya kita mencerminkan apa yang telah Rasullah ajarkan kepada kita, terutama dalam hal toleransi beragama. Ketika kita mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, kita harus sabar, bersikap lemah lembut, dan tidak memaksa. Sehingga jika kita benar-benar mengaplikasikan apa yang dicontohkan Rasulullah maka tidak akan ada lagi pertengkaran antara umat beragama. Karena dalam berdakwah, bukan hanya keyakinan yang harus benar, tetapi cara meyakinkan orang lain juga harus benar.

Minggu, 09 September 2018

MESRA: Langkah Awal Mengenal CSSMoRA



Kemarin (8/9), dalam rangka memperkenalkan CSSMoRA, Badan Pengurus Harian CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan sebuah kegiatan MESRA (mengenal CSSMoRA) dengan tema “Tak Kenal? Yuk Ta'arufan”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 08 September 2018 bertempat di Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada pukul 08.50 WIB acara tersebut dimulai dengan dipimpin oleh salah seorang mahasiswa baru PBSB 2018, Failal Azmi Azkia. Diikuti dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an, sambutan-sambutan, dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh M. Taufikkurrahman.

MESRA merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh kepengurusan CSSMoRA yang ditujukan untuk anggota baru CSSMoRA. Tentunya ini merupakan langkah awal dalam memperkenalkan CSSMoRA kepada anggota baru CSSMoRA sendiri. Seperti yang disebutkan oleh Karina, ketua panitia dalam sambutannya "Karena sekarang kalian sudah menjadi bagian dari CSSMoRA, maka ini merupakan langkah awal dari kami untuk memberikan penjelasan kepada kalian apa sih CSSMoRA itu? Aspek apa saja yang ada didalamnya? dan kemana CSSMoRA akan berjalan?".

Seperti tahun-tahun sebelumnya, materi yang diberikan ialah mengenai ke-CSSMoRA-an, kepesantrenan serta keorganisasian. Pembahasan pertama disampaikan oleh perwakilan CSSMoRA Nasional dan ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sendiri.

Selanjutnya, Agil Muhammad sebagai pemateri pada sesi “kepesantrenan” menjelaskan berbagai hal mengenai kepesantrenan. Beliau mengawali sesi ini dengan sebuah pertanyaan “Apa yang dimaksud pesantren itu?”. "Pesantren itu terdiri dari 5 unsur yang saling berkaitan satu sama lain. Namun yang paling sentral dari itu semua ialah Kiai, sebab dari beliaulah didapatnya keberkahan ilmu", tuturnya.

Kemudian acara tersebut diakhiri dengan penyampaian materi mengenai keorganisasian oleh Faziri, Koordinator P3M CSSMoRA Nasional. "Kegiatan ini tidak serta merta hanya bertujuan untuk menanamkan jiwa ke- CSSMoRA-an yang kuat dalam diri anggota CSSMoRA, melainkan mengenalkan keorganisasian secara keseluruhan. Dan yang terpenting dalam berorganisasi ialah professional.", tutur Faziri. (Arn)

Sabtu, 08 September 2018

Kunjungi Atambua, Bukti Implementasi Positif Mahasiswa terhadap Masyarakat


Miniatur Yogyakarta, seperti itu kiranya yang terlintas di benak Nanda Ahmad Basuki mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga ketika menetap bersama masyarakat Atambua. Potret masyarakat Desa Leuntolu yang menjunjung tinggi adat istiadat kental dijumpai di sana. Penduduk desa yang terdiri dari 559 kepala keluarga, Islam menjadi komposisi agama minoritas dibanding Katholik dan agama lainnya. Untuk sampai ke pemukiman muslim, mereka harus mencapai 10 km dari posko.
Seperti  beberapa daerah pedalaman Indonesia lainnya, kondisi pendidikan di Atambua sangat rendah. Bukti yang mengindikasikan kondisi tersebut terlihat dari minimnya lembaga pendidikan yang berdiri di daerah tersebut. Di dusun tersebut hanya dapat dijumpai 3 instansi tingkat kanak-kanak, 1 instansi Sekolah Dasar. Sedangkan Sekolah Menengah Pertama dan Atas belum berdiri di daerah tersebut. Bahkan rumah ibadah yang menjadi tempat peribadatan masyarakat juga tidak tampak di daerah tersebut. Hanya terdapat sebuah bangunan yang berlokasi di kecamatan yang berfungsi sebagai musholla meski belum diresmikan  sebagai musholla.
Menilik kondisi realitas masyarakat Dusun Suka Bitetek di Atambua, menjadi potensi bagi mahasiswa untuk melakukan pengabdian yang terfokus pada kerukunan beragama dan pendiikan. Hal itulah yang menjadi latar belakang pemilihan lokasi Atambua sebagai tempat KKN tematik riset Aksi Kebangsaan pada 19 Juli hingga 25 Agustus yang merupakan kerjasama Universitas Islam Negeri dengan Kemenag Pusat. Nanda bersama 9 delegasi dari UIN Sunan Kalijaga salah satu diantara 6 PTN lainnya di Indonesia  melakukan pengabdian di daerah tersebut.
Kondisi Atambua yang perlu mendapat perhatian terlebih di bidang pendidikan, menjadi  pilihan untuk pemerataan pendidikan sebagaimana yang tetuang dalam Nawacita,  sebagai bentuk impelementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengajaran, pengabdian dan penelitian. Pemberangkatan Nanda bersama tim KKN ke Atambua  dari Lembaga Puslitbang Pendidikan  Agama dan Keagamaan merupakan salah satu bentuk penguatan peran Kementrian Agama.(mas)
Sumber: wawancara mahasiwa PBSB UIN Sunan Kalijaga

Sabtu, 18 Agustus 2018

Refleksi Kemerdekaan Indonesia Ke-73 Apakah Indonesia Sudah Benar-Benar Merdeka?


Oleh: Febrian Candra Wijaya



Jumat 17 Agustus 2018 Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-73. Tiga setengah abad bukanlah waktu yang singkat bagi Republik Indonesia ini untuk berjuang terbebas dari cengkraman penjajah. Perjuangan para founding fathers untuk mencapai sebuah kata “merdeka” mesti dibayar dengan mahal. Segenap tumpah darah serta semangat persatuan dan kesatuan menyatukan tekad mereka. Hingga akhirnya 17 Agustus 1945 menjadi puncak perjuangan dengan deklarasi pembacaan proklamasi sebagai tanda bahwa Indonesia telah merdeka.
Usia 73 bukanlah angka sedikit. Perjalanan setengah abad lebih itu telah menghasilkan banyak catatan yang menorehkan tinta emas. Pun demikian juga masih banyak kekurangan dalam rentetan cerita sejarah Indonesia. Karena bagaimanapun kelebihan dan kekurangan mesti ada dalam segala sesuatu, termasuk Indonesia.
            Semangat persatuan dari para pendahulu yang berjuang mati-matian inilah agaknya menjadi senjata terampuh yang harus dijaga sampai akhir nanti. Satu strategi besar yang mampu membuat hengkang para kaum kolonialis dari bumi pertiwi. Sebagai generasi penerus, sudah menjadi kewajiban setiap elemen bangsa untuk senantiasa menjaga rasa persatuan. Tak lain dan tak bukan tujuannya adalah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun, akhir-akhir ini banyak ditemukan pada media, terlebih media digital tentang berita-berita yang menjerumuskan pada perpecahan. Berbagai isu yang beredar mengakibatkan pada saling caci dan hujat. Mulai dari isu agama sampai ras dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Apalagi di tahun politik menjelang pemilihan presiden 2019.
Tak hanya disitu, salah satu masalah yang ‘terbesar’ adalah segelintir orang mengatakan bahwa Indonesia adalah Thaghut. Pancasila dianggapnya sebagai kafir. Demokrasi pun tak luput dari hujatan. Berbagai usaha dilakukan untuk menggulingkan pemerintah yang sah dan hendak mengganti dengan sistem yang mengatasnamakan suatu golongan tertentu yaitu Islam.
Menafikan kebhinekaan ibarat mencabut ruh Indonesia. Mengingat masyarakat indonesia adalah heterogen. Maka akan menjadi problem tatkala menerapkan sebuah sistem yang menonjolkan sebuah kelompok dan tidak dengan lainnya. Tak tanggung-tanggung, perpecahan akan sangat rawan dalam kondisi seperti tersebut.
Lebih jauh, bahwa berdirinya bangsa yang besar ini bukan hanya dari keringat satu golongan saja. Akan sangat tidak adil jika memaksa menerapkan sistem tersebut. Pun juga harus disadari bahwa sistem itu hanyalah sebuah alat. Dalam artian alat tak bisa menghasilkan apa-apa jika yang menjalankan tidak serius dan sungguh-sungguh serta cermat.
Kaitannya kali ini, generasi muda mempunyai tanggung jawab yang besar dalam laju perjalanan Indonesia ke depan. Baik buruknya negara sangat dipengaruhi oleh generasi penerus yang akan menjadi tampuk roda. Sehingga sangat miris ketika melihat calon-calon penerus terjebak dalam kubangan kebodohan, kemerosotan mental serta moral.
Inilah sebenarnya masalah terbesar yang di hadapi oleh bangsa Indonesia. Di satu lini, ada yang berusaha menggerogoti dasar-dasar negara dan ingin menggantinya. Sedangkan lini lainnya dengan rusaknya generasi penerus bangsa yang membuat roda tak bisa berputar dengan maksimal.
Maka tak ayal jika pertanyaan “Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?” sampai muncul ke permukaan. Ataukah hanya kemerdekaan terbebas dari belenggu penjajah saja? Tidak dengan kebodohan dan kemerosotan mental dan moral?. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul bukan tanpa dasar. Sebuah respon terhadap fenomena yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Momentum memperingati kemerdekaan mesti menjadi salah satu cambuk serta memotivasi seluruh elemen bangsa agar senantiasa mengisi serta menjaga keutuhan negara Indonesia. Semangat persatuan dan kesatuan harus dipupuk subur dan ditanamkan kepada generasi penerus. Begitupun dengan semangat nasionalisme, harus ditancapkan kuat-kuat dalam hati. Sudah menjadi kewajiban yang tak dapat dipungkiri.