Rabu, 28 Agustus 2013

Tradisi Akademik di Perguruan Tinggi (membaca, menulis, dan meneliti)

Diskusi LITBANG
Tempat/Waktu: Kampus UIN Sunan Kalijaga/27 September 2013
Presentator      : Muhamad Anshori

TRADISI AKADEMIK  DI PERGURUAN TINGGI  (MEMBACA, MENULIS DAN MENELITI)

  • Pengantar (Introduction/al-madkhal)
Ada banyak pengertian tradisi akademik menurut para ahli, but Accoding to Mochtar Buchori – sebagaimana dikutip Akh Minhaji – yang dimaksud dengan tradisi akademik adalah suatu aktivitas yang diabdikan untuk pengembangan pengetahuan baru dan pencarian kebenaran yang dilakukan secara terus menerus, serta penjagaan khazanah pengetahuan yang telah ada dari berbagai jenis pemalsuan. Jadi menurut definisi ini ada 3 hal pokok menyangkut pengertian tradisi akademik yaitu:
  1. Usaha mengembangkan pengetahuan baru secara terus menerus (the continous search for new knowledge).
  2. Usaha mencari kebenaran yang dilakukan secara terus menerus (the continous search for truth).
  3. Usaha menjaga khazanah pengetahuan yang telah ada dari berbagai jenis pemalsuan (the continous defense of the body knowledge against falsification).
Perguruan Tinggi (PT) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mendorong mahasiswa untuk melakukan studi secara intensif dan mendalam. Pada jenjang ini, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan menyelesaikan tugas-tugasnya secara mandiri. Dalam setiap mata kuliah yang ditawarkan hampir semua tenaga pengajar (baca: dosen) memberikan tugas kepada mahasiswanya. Tentu ini merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan bakat dan atau potensi mereka sebagai cendikiawan yang berkompten.
Diakui bersama bahwa tidak semua orang memiliki bakat atau potensi yang sama dalam segala hal. Namun tidak menutup kemungkinan jika ada yang berusaha untuk mengasah kecerdasannya secara konsisten, niscaya ia akan menjadi seorang pemikir. Menjadi seorang pemikir memang tidak mudah  apalagi dalam kapasitas sebagai mahasiswa semester satu. Tetapi perlu diingat bahwa ini merupakan pintu masuk bagi terwujudnya impian itu.
Lalu bagaimana caranya supaya kita menjadi seorang sarjana yang berkualitas? Tentunya adalah dengan melaksanakan 3M, yakni membaca (reading), menulis (writing) dan meneliti (research). Tiga tradisi ini merupakan ciri seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT) yang harus dilaksanakan dengan baik. Dengan tradisi 3M di atas, diharapkan mahasiswa bisa berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creative thinking) dan berpikir iniovatif (inovative thinking). Untuk mencapai tiga kriteria berpikir ini, ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu membaca (reading), menulis (writing) dan meneliti (research).
  1. Membaca (Reading/qirā’ah)
Membaca merupakan pintu masuk (al-madkhal) atau gerbang (gate) bagi tercapainya ilmu pengetahuan (knowledge), tanpa membaca kita tidak akan mengetahui apa-apa. Bisa dikatakan bahwa membaca itu bagaikan berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Ketika seseorang membaca sebuah buku – umpamanya – maka seolah-olah ia berbicara dengan bahasa penulis buku itu. Ambil saja contoh yang paling mudah dicerna adalah membaca SMS dari seseorang. Ketika kita membaca SMS, secara tidak langsung kita telah berbicara sekaligus membaca dari tulisan orang lain.
Diakui bersama bahwa kita memiliki kesenangan dan kegemaran yang berbeda-beda dalam hal membaca. Ada yang senang membaca puisi, komik, dongeng ataupun yang lainnya. Dan model atau cara membacapun berbeda-beda, ada yang senang dengan suara nyaring, sir dan ada juga yang membaca di dalam hati. Itu semua tergantung kepada pribadi masing-masing karena yang terpenting bagi kita adalah membaca. Dan hasilnyapun juga berbeda, ada yang cepat paham, sedang-sedang saja dan ada yang hanya sekedar membaca tanpa memahami apa yang ia baca.
Membaca bisa dilakukan di mana saja, bahkan di jalanpun kita bisa membaca. Bukankah kita sering membaca iklan-iklan yang ditempel di pinggiri-pinggir jalan? Bukankah kita sering membaca pengumuman (anouncement) di papan pengumuman (mading)?. Namun bukan ini yang penulis maksud dengan tradisi membaca. Tradisi Membaca yang dimaksud di sini adalah membaca buku-buku yang bisa menunjang karir akademik  (academic career) secara khusus. Bukan membaca secara sembarangan, namun itu tidak apa-apa karena itu semua kembali kepada pribadi masing-masing. Tetapi alangkah lebih bijaksana jika seseorang membaca apa yang bisa mengantarkan dia kepada tujuan pendidikan itu sendiri.
  1. Menulis (Writing/kitābah)
Setelah tradisi membaca dilakukan, maka hal yang dituntut dari mahasiswa adalah bagaimana ia bisa mengekspresikan hasil bacaannya ke dalam bentuk tulisan. Sudah menjadi kebisaan akademik bahwa dalam perkuliahan pasti seorang mahasiswa akan disuruh membuat makalah untuk dipresentasikan di kelas atau lainnya. Tentu tidak ada sesuatu yang akan ditulis kalau sebelumnya tidak pernah membaca.
Menulis karya ilmiah tidaklah sama dengan menulis SMS kepada teman. Tetapi paling tidak SMS juga merupakan bagian dari tradisi menulis karena ia merupakan wujud dari apa yang ada dalam pikiran seseorang. Kita sudah lama melakukan tradisi menulis ini, bukan sewaktu di TK, MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA kita sudah terbiasa menulis dengan tangan? Bahkan ada sebagian orang yang suka menulis kisah hidupnya dalam buku catatan harian. Itu hanya merupakan tulisan biasa yang tidak bersifat akademik. Dalam dunia akademik, seseorang terikat dengan aturan-aturan kepenulisan yang sudah ditetapkan oleh Perguruan Tinggi itu sendiri.
Sekalipun kita sudah terbiasa menulis sejak kecil tetapi kenyataannya banyak di antara kita yang kesulitan dalam menulis tugas mata kuliah. Tentu hal ini berbeda dengan hal di atas karena ia membutuh banyak bahan bacaan yang dijadikan sebagai rujukan (referensi). Tentu dengan banyak membaca maka paling tidak akan tergambar dalam pikiran kita apa yang akan ditulis.
Menulis tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi ia membutuhkan banyak latihan. Agar penulisan karya ilmiah berhasil secara maksimal, maka ada beberapa hal penting yang perlu diperhatika. Pertama disebut dengan “Sebelas Langkah untuk Memetakan Tulisan Anda [SALAM TUAN] (Eleven Steps for Outlining Your Writing)”, yaitu:
  1. Memilih topik yang akan ditulis.
  2. Usahakan agar topik bersifat fokus dan tidak melebar, dan kemudian konsentrasi pada topik yang dimaksud.
  3. Memasukkan ide-ide baru terkait topik yang telah dipilih.
  4. Menyusun daftar ide di bawah judul-judul besar dan konsentrasi pada ide-ide tersebut.
  5. Menyusun ide-ide ke dalam pola dan susunan yang logis.
  6. Mengumpulkan data.
  7. Melihat kembali logika dari susunan yang telah dibuat.
  8. Bertanya kepada diri sendiri: apa pavorit saya, dan apa yang harus saya lakukan?
  9. Mengemukakan bukti berdasarkan data selama proses penelitian.
  10. Memindahkan susunan ide-ide tersebut ke dalam bentuk tulisan berupa narasi lengkap.
  11. Meminta bantuan kolega atau teman untuk membaca dan kemudian memberi masukan terhadap draft yang telah ditulis.
Sekalipun kita sudah melakukan langkah-langkah di atas namun untuk mendukung karir dalam dunia tulis menulis, ada tujuh sikap yang perlu diperhatikan (Seven States of being that support a writing career) yaitu (1). Yakin (2). Pasti dan tidak mudah goyah (3). Sabar (4). Terbuka (5) selalu ingin tahu (6). Sungguh-sungguh dan (7). Jadilah diri sendiri.
Mengetahui hal-hal di atas belumlah cukup, namun harus diperhatikan pula bagaimana cara-cara menulis yang sukses (Everithing you need to know about writing successfully). Hal-hal perlu diperhatikan ini adalah:
  1. Berbakat atau membiasakan diri.
  2. Rapi dan bersih dari kesalahan.
  3. Bersifat kritis walaupun terhadap diri sendiri.
  4. Hindari kata-kata yang tidak perlu.
  5. Tidak perlu melihat sumber rujukan pada saat menulis draf awal.
  6. Memahami pasar.
  7. Menulis untuk menghibur dan kepuasan batin.
  8. Bertanya sesering mungkin.
  9. Mengetahui segala aturan terkait dengan penyerahan karya tulis.

  1. Meneliti (researching/al-baḥts)
Membuat makalah sebenarnya sama dengan meneliti, paling tidak ia merupakan suatu penelitian kecil-kecilan (little research). Penelitian tidak hanya terbatas pada kepustakaan (library research) saja, tetapi ia juga bisa berbentuk penelitian lapangan (field research). Dalam dunia akademik, tradisi meneliti merupakan suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang ilmuan (Mahasiswa/Dosen).
Tradisi meneliti sangat ditekankan di Perguruan Tinggi (PT), baik yang Negeri maupun yang Swasta. Tanpa penelitian niscaya ilmu tidak akan berkembang dan umat manusia akan hidup dalam kegelapan (darknees). Ulama’Ulama’ terdahulu telah menemukan dan mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan melalui penelitian yang mendalam. Tentu penelitian ini didahului dengan tradisi membaca (dalam berbagai macam pengertian dan bentuknya) yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi menulis.
Meneliti dan menulis hampir dilakukan secara bersamaan karena ketika seorang itu meneliti, mau-mau tidak mau orang itu harus menulis kembali hasil penelitiaannya supaya bisa dibaca oleh orang lain. Misalnya ketika menulis makalah, setelah kita membaca, kita menulis, dan menulis itulah merupakan bagian dari penelitian. Makalah yang sudah jadi adalah reprenstasi dari tiga tradisi di atas, yaitu membaca, menulis dan meneliti.
INGAT YA...........
Nothing Should be Spoken Before it has been Heard.
Nothing Should be Read Before it has been Spoken.
Nothing Should be Written Before it has been Read.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar