Senin, 06 Juni 2016

Kendalikan Marah di Bulan Berkah

Kendalikan  Marah di Bulan Berkah

Oleh: Hendriyan Rayhan (CSSMoRA UIN SUKA 2015)


Puasa itu adalah perisai, maka apabila seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertingkah laku jahil (seperti mengejek, atau bertengkar sambil berteriak). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan “Aku orang yang sedang puasa, Aku orang yang sedang puasa.
(H.R Imam Malik dalam al-Muwaththa nomor 1099)


Tibalakita di bulan  penuh  berkah. Bulan tempatnya pahala berlimpah. Ladang   ama bagi   yang   gemar  beribadah.  Saatnya  mengurangi  kuantitas khilaf dan  salah. Agar kelamenjadi orang  bertakwa yang  dijanjikan  jannah. Salah  satunya dengan mengendalikan marah. Karena  marah dapat membuat pikiran tak terarah. Karena  marah dapat berujung fitnah.  Karena  marah dapat membuat persaudaraan menjadi pecah.
Marah  ialah  bergejolaknya hati  untuk  menolak gangguan yang dikhawatirkaterjadi  ata karena ingin  balas  dendam kepada orang   yang menimpakan gangguan tersebut. Marah  merupakan sifat dari fitramanusia, dan  anugerah dari  Allah  SWT. Namun   tetap saja  amarah ini harus dapat dikendalika agar    tidak    diserta denga hawa    nafsu  yang    membawa keburukan. Allah SWT berfiman dalam surat Yusuf ayat  53, Nafsu itu berkecenderunga untuk  menyuruh  kepada  kejahatan,  kecuali  nafsu  yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Marah  merupakan bentuk  emosi yang  paling  populer  dalam kehidupan sehari-hari.  Bahkan  kepopulerannya hingga  mewakilikata  emosi itu sendiri, seolah seperti sinonim; Emosi ya marah, marah ya emosi. Padahal emosi itu bermacam-macam, diantaranya: Senang, marah, sedih, sedih, takut, benci, kaget, heran  dan  bahkan cinta.  Banyak perilaku  yang menyertai emosi marah. Ada  orang   yang  maralalu  mengucapkan kata-kata  kasar ata mendata nama-nama hewan. Ada yang  marah kemudian melakukan tindakan-tindakaagresif yang membahayakan.  Ada pula orang  yang marah kemudian berdiam diri, marah dalam diam.
Ada banyak  faktor  yang menjadi penyebab munculnya kemarahan, mulai dari  hal-hal  yang  remeh    hingga   yang  memberatkan.  Bebarapa  kat pun terkadang dapat menimbulkan kemarahan, apalagi di era yang serba canggih sepertsekarang. Lihat  status orang,  marah. Lihat  orang   balas  komentar, marah. Lihat orang  unggah foto,  marah. Lihat orang  marah,  marah (nah,  ini yang  bahaya). Ada  juga  marah yang  disebabkan oleh  faktor  internal, yaitu datang dari dalam diri sendiri. Kemarahan orang  yang tempramental, misalnya, tidakla seladipicu  oleh  setting  sosial ata faktor  alam,  melainkan  oleh karakternya yang  memang tempramental. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa marah juga perlu dikendalikan.
Bulan   Ramadhan  adalah  bula tarbiyyah.   Bulan   ini  menjadi  sarana spiritual bagi  seorang Muslim  untuk  melakukan perubahan dari  kebiasaan yang buruk menjadi lebih baik. Maka dari itu, bulaini dapat menjadi moment untuk  pembiasaan diri mengendalikan marah. Sebagaimana pesan indah  dari Rasulullah  yang  mulia  diatas,  jika  ad orang   yang  mecacata mengajak berkelahi, katakanlah: Aku sedang berpuasa.
Pertama, membaca taawudz ketika marah. Rasulullah Saw. pernah mengajarkanny kepad dua    orang    sahabat  yang    saling   mencac dengan mengatakan,  Sesungguhnya  aku  aka ajarkan  kalia suatkalima yang   kalau diucapkan akan  hilanglah  kemarahan kalian, yaitu bacaan A’uudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim. (H.R. Bukhari)
Kedua,  mengubah posisi  ketika  marah. Jika  posisi  kita  saat kemarahan itu datang adalah berdiri, dianjurkan untuk  duduk.  Begitu juga  ketika  posisi kita sedang duduk, maka  dianjurkan untuk  berbaring. Rasulullah Saw.  bersabda, Apabila salah seorang dantara kalian  marah, sedangkan ia  dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk.  Kalau telah  reda  atau  hilang marahnya (maka  cukup  dengan duduk  saja), dan jika belum  reda, hendaklah ia berbaring” (H.R. Abu Daud).
Ketiga, diam atau  tidak berbicara.  Rasulullah Saw. bersabda, Apabila di antara kalian marah, maka  diamlah” (H.R. Ahmad).
Keempat,  berwudhulah.  Rasulullah  Saw.  bersabda,  Sesungguhnya  marah itu dari  setan dan  setan itdiciptakan dari  api, dan  api  itu  bisa padam jika diredam dengan air, maka  apabila di antara kalian marah, berwudhulah” (H.R. Ahmad).

Kelima, lakukanlah shalat. Jika empat langkah tadi  belum  mampu meredakan amarah, ambillah  langkah pamungkas, yaitu dengan melaksanakan shalat dua rakaat. Insya Allah dengan shalat kita akan  mampu meredakan amarah, sebagaimana disabdakan  oleh  Rasulullah  Saw.,  Ketahuilah,  sesungguhnymarah itu  bara   api dalam hati manusia. Tidaklah  engkau melihat  merah kedua  matanya dategangnya urat   darah  di  lehernya?  Maka  barangsiapa  yang  mendapatkan  hal  itu  (amarah), hendaklah ia bersujud (shalat) (H.R. Tirmidzi).
Ada  banya kebaikan  bagi   orang-orang  yang   dapat  mengendalikan marah. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 134, Dan orang-orang yang menahan  amarahnya  dan  memaafkan   (kesalahan)  orang.  Allah  menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Denga mengendalikan  marah,  mak aka tercapai  hubungasosial yang  harmonis.  Sebuainteraksi  sosial  yang  didalamnya  mudatersulut emosi marah, maka  hubungan itu akan  mudah terjadkonflik. Karena  sesama musm adalah bersaudara, maka  jangan sampai terjadi  hal-hal yang demikian. Kendalikan    marah  d bulan    berkah,   agar    menjad kebiasaan   d bulan berikutnya.

Bila ada  kata  yang  membuat hatterluka.  Bila ada  tulis yang  membuat hati teriris. Diharapkan saling memaafkan. Jalan-jalan ke Bekasi, sekian terimakasih. Wallahu alam.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar