Jumat, 05 Agustus 2016

Mahasiswa: Manusia Pembelajar


Mahasiswa: Manusia Pembelajar
Oleh: Luqman Hakim
(Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga)
Masa perkuliahan merupakan fase baru bagi seorang pembelajar. Jika difase sebelumnya mereka sangat tergantung pada nilai tinggi untuk menempuh fase selanjutnya, seperti dikala SMP nilai tinggi sangat berpengaruh bagi kelanjutan studi, begitu pula ketika SMA nilai tinggi diperlukan untuk bekal melajutkan studi di universitas atau perguruan tinggi favorit, namun setelah masa perkuliahan bukan sekedar nilai yang memuaskan dibutuhkan untuk mengarungi fase kehidupan selanjutnya tetapi lebih besar dari sekedar nilai yang memuaskan.
Status mahasiswa merupakan tugas berat, sebab mereka harus mengemban amanah untuk memperbaiki masa depan bangsa, utamanya yang telah termaktub dalam pembukaan undang-undang dasar (UUD 1945) yakni ikut mencerdaskan kahidupan bangsa. Perlu diketahui bahwa tidak semua anak bangsa bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, oleh karena itu mereka yang beruntung ini merupakan tumpuan harapan masa depan bangsa dan mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti menitipkan cita-citanya kepada mahsiswa.
Dari pengamatan dan pengalaman di perguruan tinggi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengarungi masa pendidikan tinggi. Sudah hampir semua orang menekankan pentingnya prestasi akademik, maka satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kemampuan leadership (kepemimpinan) yang mana dunia kampus merupakan lahan empuk untuk mengasah kemampuan itu yakni dengan berorganisasi. Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan menganalogikan kehidupan didunia perkampusan seperti halnya kolam renang yang mana mahasiswa belajar berenang (organisisasi dan leadership) didalamnya, sedangkan kehidupan setelah masa mahasiswa bagaikan laut lepas. Disini mahasiswa dituntut memilih apakah mau belajar “berenang” langsung dialaut lepas atau dikolam renang yang notabene kedalamanya terukur dan tentu resikonya juga lebih bisa diminimalisir. Maka masih kata Anies akan merugi jika seorang mahasiswa tidak ikut mengasah diri dengan berorganisasi karena hampir pasti dalam masa setelah pendidikan tinggi atau dikehidupan masyarakat, sangat jarang ada orang yang menanyakan berapa IP (Indeks Prestasi) yang didapat semasa kuliah tetapi yang akan ditanyakan lebih dari itu, namun juga nilai akademik tidak bisa dikesampingkan karena nilai akademik juga sangat penting adanya.
Jika diperhatikan lebih jeli lagi, pada masa pendidikan tinggi terdapat dua kutub yang berbeda, sama penting dan keduanya bersinggungan, yaitu prestasi akademik tak dipungkiri lagi urgensinya dan merupakan indikator kesuksesan riil seorang mahasiswa. Di lain sisi kamampuan leadership yang diperoleh dari pengalaman berorganisasi merupakan hal yang tak boleh dianggap sepele. Oleh karena itu, kembali mengutip kata-kata Anies Baswedan “seorang mahasiswa harus memiliki double track yakni trek akademik dan trek kepemimpinan”.
Perlu persiapan yang matang dan usaha ekstra dalam menyongsong masa depan yang tantangannya semakin beragam. Persiapan yang matang dilakukan pada saat menjadi mahasiswa. Selain pentingya double track dibutuhkan manusia-manusia pembelajar, manusia yang tidak sekedar berwawasan luas, tetapi manusia pembelajar ini mampu beradaptasi dengan hal-hal baru. Manusia pembelajar memiliki solidaritas dan empati yang tinggi terhadap sesamanya jauh dari sikap individualistis karena mereka memiliki kepekaan yang tinggi. Seorang sosialis tersohor Karl Marx lewat karya monumentalnya Das Kapital pernah meramalkan bahwa dimasa mendatang (abad 21) Sosialis dan Komunis akan “menguasai” dunia, namun ramalan seorang Marx melesat jauh dari kenyataan saat ini. Sangat mungkin dimasa depan apa yang diprediksikan di hari ini meleset jauh, dan tentunya masih banyak hal-hal yang terjadi tanpa bisa diprediksi.
Kembali kepada manusia pembelajar, dari pemaparan diatas sangat jelas bahwa mereka yang pandai bersosialisasi, memiliki link yang luas dan mampu beradaptasilah yang akan berjaya. Ibarat kata manusia yang hanya berwawasan saja tak ubahnya buku catatan tanpa pena dimana mereka hanya bisa membaca tanpa bisa menambahkan  catatan baru didalamnya. Sedangkan manusia pembelajar memiliki buku sekaigus pena yang mana mereka dapat dengan bebas menambahkan hal-hal baru yang ditemuinya.
 Dapat disimpulkan bahwa status mahasiswa merupakan beban berat, sehingga status ini seyogyanya dimaksimalkan dengan baik agar kedepanya bisa ikut andil dalam pembangunan bangsa. Anies Baswedan mengatakan menjadi mahasiswa seharusnya memiliki double track yaitu track akademik dan trek kepemimpinan, trek akademik dapat diperolah di kelas dalam perkuliahan sedangkan trek leadership diasah melalui organisasi, maka dua hal penting yang tak dapat dipisahkan ini harus diseimbangkan. Anies berpesan “jadilah aktivis” maksudnya mahasiswa harus menjadi aktivis, baik didalam maupun diluar kelas (sejalan dengan double track). Dengan zaman yang semakin sulit diprediksi maka menjadi pembelajar adalah syarat mutlak untuk bertahan dari gempuran hal-hal baru, pembelajar mampu mampu beradaptasi dalam kondisi apapun, seorang pembelajar memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena maupun isu mutakhir. Maka selagi masih baru fresh dan masih banyak pilihan, tentukan apa yang kamu harapkan pada dirimu 10 atau 20 tahun mendatang, apa peranmu ditahun itu lalu apa andilmu untuk bangsa ini di masa depan. 
Selamat datang mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi UIN SUKA Jogja 2016.
1. Alif Jabal Kurdi
2. M. Alan Juhri
3. Mayola Andika
4. Ahmad Ahnaf 
5. Andy Rosyidin
6. Putri Adelia
7. Saipul Hamzah
8. Nur Azka Inayatussahara
9. M. Khoirul Hakim
10.  M. Rafi 
11. Ainil Atiqoh
12. Nuzul Fitriansyah
13. Rachma Vina Tsurayya
14. Mas'udah
15. In'amul Hasan
16. Riri Widya Ningsih
17. Isbaria
18. A. Musawir
19. Nanang Suparlin
20. Hayatun Thaibah
21. Rike Luluk Khoiriyah
22. Taufik Kurahman
23. Najiha Sabrina
24. Yeni Angelia
25. Abdul Halim Ahmad
26. Ahmad Ziya'ul Haq
27. Isna Fitria Ningsih
28. M. Abdul Hanif
29. Fina Fatimah.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar