Senin, 12 September 2016

Pendidikan Karakter; Solusi Mengatasi Krisis Moralitas Generasi Bangsa

Pendidikan Karakter; Solusi Mengatasi Krisis Moralitas Generasi Bangsa
Oleh : Azhari Andi
Azhariandi59@gmail.com
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Pendidikan merupakan hal yang sangat urgen bagi manusia dan bahkan ia merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Begitu pentingnya pendidkan hingga ia selalu ramai diperbincangkan. Pada hakikatnya, tujuan dari pendidikan adalah membentuk manusia menjadi pribadi yang berbudi pekerti mulia sebagaimana yang dikatakan oleh Socrates bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good dan smart. Senada dengan Socrates, tujuan diutusnya nabi Muhammad saw. adalah menyempurnakan budi pekerti mulia.
Tokoh fenomenal pendidikan Barat, Klipatrick juga mengatakan hal yang sama bahwa karakter atau budi pekerti adalah tujuan dari pendidikan. Jika sedemikian luhurnya tujuan pendidikan, mengapa realitas yang terjadi sangatlah berbeda dengan idealitas? di berbagai penjuru dunia, tak terkcuali Indonesia,  psikotropika dan narkoba beredar di kalangan anak sekolah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang masih berstatus siswa menjadi penjual narkotika. Pesta miras, kasus pelecahan seksual, berbagai tawuran antar anak sekolah, tindakan kriminal dan tindakan amoral lainnya solah-olah sudah menjadi pemandangan yang sudah biasa dijumpai. Sementara, sekolah-sekolah yang tak terhitung jumlahnya dengan mudah kita jumpai di berbagai pelosok Indonesia. Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? Apa yang salah dengan pendidikan ?
Menjawab permasalahan di atas, pendidikan karakter nampaknya dipandang sebagai solusi yang tepat oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi problematika krisis moral yang tengah melanda bangsa. Hal ini dapat dilihat  dari dicanangkannya visi penerapan pendidikan karakter pada tahun 2010-2014 oleh Kemendiknas.

Pendidikan Karakter
Karakter berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “”kharassein”, dan “kharak” yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Karakter mempunyai definisi beragam, namun esensinya sama, yaitu menekankan etika. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, Karakter diartikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti.
Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yakni mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan memikian pendikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah upaya membimbing prilaku manusia menuju satndar-stadar baku. (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2011).
Upaya ini menegaskan untuk mengahargai persepsi dan nilai-nilai pribadi yang dimiliki siswa. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, namun pada praktiknya meliputi kecakapan-kecakapan sosial siswa. Singkatnya, pendidikan karakter bertujuan untuk memanusiakan manusia.
Pendidikan Karakter Konteks Indonesia : Tinjaun Sejarah
Sejak beribu abad yang lalu, pendidikan karakter telah diperbincangkan. Socrates misalnya, ia mengatakan bahwa good and smart  adalah tujuan luhur pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan karakter mengalami kemunduran hingga pada tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter kembali ramai diperbincangkan. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya yang sangat fenomenal The Return of Character Education.
Dalam konteks Indonesia, pendidkan karakter dapat ditelusuri dari keterkaitannya dengan pendidikan kewarganegaraan. Pada era pra-kemerdekaan, pendidikan karakter lebih dikenal dengan  pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti ini berupaya menanamkan etika dan moral yang melandasi sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, era Demokrasi Terpimpin, pendidikan karkater dikenal dengan national and character building. Namun pada perkembangannya hancur oleh doktrin-doktrin yang melemahkan. (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2011)
Memasuki pemerintahan orde baru, pendidikan karakter berganti menjadi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Upaya penanaman pembentukan karakter bangsa melalui mata pelajaran Pancasila terus dilakukan sampai awal tahun 90-an. Bergulirnya era reformasi, pendidikan karakter dikukuhkan dengan lahirnya Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Pada tahun 2010, Pendidikan karakter dijadikan oleh pemerintah sebagai program utama yang harus diimplematsikan di sekolah dengan dicanangkannya visi penerapan pendidikan karakter pada tahun 2010-2014.
Berdasarkan paparan singkat di atas, seyogyanya peserta didik di Indonesia mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dari tujuan pendidikan. Namun realita yang terjadi sagatlah kontras dengan idealitas dari tujuan pendidikan.
Peserta Didik Indonesia : Potret Moralitas
Memang tak dipungkiri bahwa banyak dari peserta didik Indonesia yang telah meraih prestasi gemilang baik di kancah nasional maupun kancah internasional, dan bahkan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri pada universitas terkemuka. Namun di satu sisi, siswa dan pelajar juga tak luput dari sorotan tentang tinta hitam yang ditorehkan dan mencoreng tujuan luhur pendidikan, terutama aspek moralitas. Bagaimana tidak, sejatinya pendidikan bertujuan membentuk pribadi yang berkarakter, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Pengaruh teknologi juga menambah parah hancurnya moralitas siswa. Tifatul Sembiring mantan Menkominfo menuturkan bahwa Indonesia merupakan pengakses internet nomor tiga terbesar di dunia. Selain itu, Tifatul menyebutkan Indonesia merupakan pengakses nomor dua terbesar situs pornografi di dunia.
Hal ini mendukung data bahwa berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar di Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. Data selanjutnya juga menambahkan bahwa 91 persen dari mereka sudah pernah melakukan kissing, petting atau oral sexs. Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan abortus. (www.republika.co.id)
Selain itu, kasus narkoba juga menjerat para siswa. Bahkan lebih tragis lagi, menurut data BNN dalam kurun waktu 2008-2012 tercatat bahwa proporsi terbesar tersangka narkoba berlatar belakang pendidikan SLTA, SLTP, SD dan diikuti perguruan tinggi. Lebih lanjut, pengguna narkoba berumur 16-19 mencapai 2.238 dalam kurun waktu 2008-2012. (www.kompasiana.com 27/4/15)
Tidak hanya kasus di atas, tawuran antar sekolah, perampokan, tindakan amoral dan lain sebagainya juka ikut memperparah moralitas siswa. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil atau bisa dikatakan gagal. Lalu apakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia?

Pendidikan Karakter Solusi Mengatasi Krisis Moralitas
Memang Indonesia telah menerapkan pendidikan karakter sejak era pra kemerdekaan. Nampaknya pendidikan karakter belum sepenuhnya diaplikasikan dengan baik. Selama ini pendidikan anak atau siswa seringkali dipahami sebagai tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan saja. Sehingga menimbulkan paham bahwa orang tua dan sosial lepas dari tanggung jawab untuk memberikan pendidikan terhadap anak. Apalagi di era modern ini, banyak orang tua yang sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga mengabaikan pendidikan anak dalam lingkungan keluarga.
Persepsi seperti ini tentunya tidak bisa dibenarkan. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Dalam buku Educating for Character, Thomas Lickona menyatakan bahwa sekolah membutuhkan bantuan dari rumah untuk memberikan pendidikan karakter kepada anak. Meski sekolah dapat memperbaiki tingkah laku siswa ketika mereka berada di sekolah –dan bukti menunjukkan bahwa sekolah memang bisa- namun sangat mungkin dampak yang mampu bertahan lama pada karakter anak akan lenyap apabila nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak didukung dari rumah. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sekolah dan keluarga harus bekerja sama demi mencapai tujuan yang sama. Dengan bekerja sama, kedua lembaga sosial ini akan memiliki kekuatan untuk membesarkan manusia yang bermoral dan meninggikan kehidupan moral bangsa ini.
Selain sekolah dan keluarga, sosial atau lingkungan adalah salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, lingkungan yang baik sangat diharapkan untuk mendudukung pendidikan nilai yang telah dipelajari di sekolah dan di rumah. Artinya, guru, orang tua, keluarga dan sosial harus memberikan teladan nilai yang baik bagi anak agar terwujud tujuan luhur pendidikan karakter.
Jika kerja sama di antara ketiga lembaga sosial tersebut berjalan dengan baik, maka tujuan luhur pendidikan –membentuk manusia yang bermoral dan berbudi pekerti- dapat terwujud. Karena, hal ini akan mendorong terwujudnya komunitas moral baik itu di sekolah, keluarga dan sosial. Pada akhirnya akan memberikan efek postif pada diri siswa sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab, menghormati nilai dan nilai-nilai positif lainnya. ini menunjukkan bahwa pendidikan siswa tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab keluarga dan sosial.
Pendidikan karakter yang diperoleh di sekolah, rumah dan sosial akan menumbuhkan tiga unsur dari karakter itu sendiri pada diri siswa , yakni mengetahui kebaikan (knowing the good); mencintai kebaikan (loving the good); dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan demikian, pendidikan karakter diharapkan mampu menjawab permasalahan krisis moral yang tengah melanda generasi bangsa.

Reaksi:

3 komentar:

  1. Sebagai seorang mahasiswa yang (kebanyakan kita) tak lagi hidup serumah dengan orang tua, maka kontrol diri sendiri merupakan hal yang wajib. salah satu bentuk kontrod diri yg baik adalah berkumpul dengan orang shaleh* ingat lagu tombo ati.
    surround yourself with the good people. seperti hikayat sufi bahwa jika kita biasa bersama dg penjual minyak wangi maka sedikit banyak pasti akan tertular wewangianya. berbeda jika kita bergaul dengan para penjagal hewan maka akan terkena pula bau apek atau bahkan terciprat darah hewan yang disembelih.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. dalah musibah, jika kaum terdidik yang diharapkan membawa secercah harapan untuk kemajuan, namun semua runtuh karena ketiadaannya karakter mulia. Fenomena yang terjadi ialah kita yang begitu sibuk di ranah intelektual, hingga seperti lupa untuk mengamalkan nilai-nilai positifnya.
    Tulisan ini sangat relevan untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Utamanya kaum santri yang mesti tetap menjaga integrasi antara ilmu dan amalnya.

    BalasHapus