Kamis, 22 September 2016

Resensi Buku SALEH RITUAL SALEH SOSIAL




Resensi Gus Mus
Oleh : Luqman Hakim

Judul buku      : SALEH RITUAL SALEH SOSIAL (Kualitas Iman, Kualitas Ibadah, dan    Kualitas Akhlak Sosial)
Penulis            : KH. A. Muatofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit           : Diva Press tahun 2016
Tebal               : 204 halaman

Gerak-laku kita (ibadah) didalamnya sering kita hanya gerak laku rutin yang kosong makna. Dzikir dan bacaan-bacaan kita didalamnya seringkali sekedar terluncur oleh bibir-bibir yang terbiasa, bukan dikendarai dan dikendalikan oleh makna yang terkandung didalamnya. Maka tak mengherankan jika shalat, misalnya, yang seharusnya tanha ‘anil fakhsya-i wal munkar (dapat membentengi orang yang melakukanya dari perbuatan keji dan munkar), justru tak tampak pengaruh positifnya dalam kehidupan musholli yang bersangkutan. (hlm 36)
Gus Mus mengungkapkan adanya dikotomi yang sungguh tidak menguntungkan bagi kehidupan beragama di kalangan kaum Muslim, yaitu ungkapan tentang adanya kesalehan ritual di satu pihak dan kesalehan sosial di pihak lain. Padahal kesalehan dalam Islam hanya satu, yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertaqwa) yang mencakup sekaligus ritual dan sosial. Berangkat dari kegelisahan ini KH. A. Mustofa Bisri atau yang akrab disebut Gus Mus memaparkan banyak sekali hal-hal yang sepertinya sepele namun memiliki pengaruh signifikan. Dengan sudut pandang yang berbeda, hal-hal yang terlewatkan oleh kebanyakan orang dibahas dengan bahasa yang menjadikannya menarik dan layak untuk direnungi, seperti tamsil dari sahabat Umar tentang amar ma’ruf nahi munkar. Atau bagaimana dicintainya kiai Basyuni oleh berbagai lapisan masyarakat di daerah Rembang sebab terkenal kebaikan dan kesantunanya. Dengan bahasa yang ringan pula Gus Mus mamaparkan beberapa pembahasan yang berat menjadi mudah dicerna, seperti permasalahan sosial-politik kehidupan bernegara atau persoalan keimanan.
Salah satu judul yang sangat menarik “Nabi yang Manusia” berisi teladan dari Nabi Muhammad yang selain sebagai seorang nabi, beliau juga sebagai anggota masyarakat terkadang pula sebagai kepala rumah tangga yang sangat memanusiakan manusia. Diceritakan Nabi menambal sendiri terompahnya yang putus dan menjahit pakaianya yang robek. Sebagai seorang yang berkeluarga Nabi memanjakan, bertengkar dan bercanda dengan istri-istrinya, Nabi berlomba lari dan menonton ”kesenian daerah” bersama sayyidatina ‘Aisyah. Nabi pernah ”mentakziahi” sahabatnya yang burungnya mati dan mendoakan semoga segera mendapat pengganti, menggoda lelaki yang meminta disediakan kendaraan unta untuk ikut berjihad dengan mengatakan “yang ada Cuma anak untu” Nabi bercanda dengan ucapan yang benar. Cerita lain tentang Nabi yang sangat memanusiakan manusia yaitu ketika Nabi melihat tali melintang di masjid dan ketika ditanyakan kepad seseorang, ia memperoleh jawaban bahwa itu tali Zainab sebagai “piranti” bersembayang, untuk beregangan jika tanganya mulai lelah. Lalu beliaupun memerintahkan untuk melepaskan tali iti dan bersabda “ hendaklah kamu sembahyang  seukur kondisi tenagamu, bila lelah tidurlah”. Dengan contoh yang sedemikian lengkap Gus Mus menyimpulkan bahwa sangatlah mudah mengenali ajaran Nabi Muhammad Saw. dari ajaran yang lain, yaitu apabila manusia wajar merasa wajar melakukanya,tidak sulit dilakukan umumnya manusia, itulah ajaran Nabi Saw.
Lewat buku ini pula Gus Mus memberikan sentilan-sentilan kehidupan beragama dewasa ini. seperti semangat (ghirah) beragama mendorong kita untuk mensyiarkanya, salah satunya dengan memanfaatkan pengeras suara untuk panggilan sembahyang, dan nyatanya berlebihan. Segala macam bacaan selain adzan pun kita kumandangkan setiap saat. Kita melupakan etika berdzikir, adab membaca al-Qur’an dan tentang idza, menyakiti hati orang yang terbisingi lengkingan suara kita. atau bahkan mencari-cari dalil untuk membenarkan suatu perbuatan atau dalam bahasanya Gus Mus “ndalili kepentingan”.
Beberapa hal diatas seringkali luput dari perhatian kita sebagai umat beragama maupun sebagai anggota masyarakat, atau terkadang kita masih bingung apa alamat seseorang itu dicintai oleh Allah. Gus Mus menjelaskan dengan mengutip hadis Nabi Saw. yang kesimpulanya bahwa siapa yang dicintai dibumi maka dicintai pula dilangit. Selain itu ada hadis yang lain yang berbunya “Khairun naas anfauhum lin naas” sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat untuk yang lain.
Dengan kepiawaianya menyederhanakan pembahasan Gus Mus menggambarkan bahwa beragama yang benar bukanlah perkara yang sukar dan jangan dijdikan sukar. Emha Ainun Nadjib berkata Gus Mus adalah pendekar kehidupan yang bukan sekedar sanggup mnemukan ketentraman dalan kecamasan, menggali kebahagiaan dari jurang derita, atau menikmati kekayaan di dalam kemiskinan. Lebih dari itu Gus Mus bahkan mampu membuat kegelapan menjadi tidak ada, karea yang ada pada beliau, dan bahkan beliaunya sendiri adalah cahaya.

Reaksi:

3 komentar:

  1. Howdy, i read your blog from time to time and i own a similar one and i was just wondering if you get a lot of spam comments? If so how do you stop it, any plugin or anything you can advise? I get so much lately it's driving me mad so any help is very much appreciated. capitalone.com login

    BalasHapus