Jumat, 07 Oktober 2016

Ali Fakih: Jadikan ini Pelatihan Terakhir


Peserta “Pelatihan Jurnalistik” CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (8/10/2016) begitu antusias mendengarkan materi pertama. Muhammad Ali Fakih hadir sebagai narasumber mengenai kepenulisan non-fiksi. Kegiatan yang merupakan program kerja Departemen jurnalistik ini diikuti oleh anggota baru PBSB UIN sunan Kalijaga dan kru ‘Sarung’. Dalam pembukaannya Muhammad Ali Fakih mengutip perkataan Imam Ghazali, “Jika kau bukan anak raja atau orang kaya, maka menuliislah. Kemudian ia memulai dengan terlebih dahulu bercerita tentang pengalamannya di dunia kepenulisan. “Setelah lulus sekolah, saya memutuskan untuk ke Jogja,” katanya. Lulusan Fisika UIN Sunan Kalijaga ini mengaku tujuan utamanya ke Jogja adalah untuk belajar menulis, bukan kuliah. Lalu ia bercerita tentang permulaan tulisannya dimuat di media masa. Ia juga menyebutkan honor di beberapa media untuk menambah ketertarikan peserta. Selanjutnya editor penerbit DIVAPRESS ini memaparkan mengenai definisi opini, kolom, essay, dan resensi. Opini adalah tulisan yang sifatnya hangat, sedangkan essay lebih santai. Sehingga essay akan tetap hangat meskipun dibaca sepuluh tahun lagi. Sementara resensi ialah mengenalkan buku, membandingkan dengan buku lain yang sejenis, dan memberikan kritik terhadap buku itu dengan gagasan lain. “Kolom biasanya ditulis oleh orang yang ahli, ya seperti kita ini belum lah,” lanjutnya. Sesi diskusi berlangsung sangat menarik dengan beberapa pertanyaan dari peserta. Diantaranya ialah Riri Widya Ningsih, peserta yang merupakan mahasiswa PBSB Prodi Ilmu Hadis menanyakan tentang hambatan-hambatan dalam menulis beserta solusinya. Pemateri menyebutkan diantara hambatannya adalah menemukan ide, menuliskan idenya, serta cara menganalisa. “Memunculkan ide berawal dari gelisah. Jadi sebelum menulis harus gelisah, kalo tenang aja ya ngga punya ide,” paparnya. Ia juga menambahkan ide iitu dapat ditemukan dengan membaca koran, mendatangi orang yang banyak idenya serta membaca buku. Kemudian cara menuliskan ide dimulai dengan membuat coret-coretan di kertas dan menyusun argumentasi. Maka pemateri menyarankan kepada peserta untuk memiliki buku catatan untuk menuliskan ide-ide yang muncul. Sementara untuk menganalisa, pemateri mengarahkan peserta untuk membaca buku-buku berkualitas. “Jadikan ini sebagai diklat pertama dan terakhir, karena yang penting itu praktek”, pesan Muhammad Ali Fakih dalam kata penutupnya. Pemateri juga menyarankan kepada kru Sarung untuk membuat kelompok studi dalam kepenulisan. “Yang terakhir, jangan minta duit ke orang tua, menulislah!”, tutup pemateri yang kemudian disambut sorak tawa dan tepuk tangan peserta. (Heran)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar