Jumat, 21 Oktober 2016

ANTARA MODERNIS DAN HEDONIS (Kontemplasi Hari Santri Nasional)

ANTARA MODERNIS DAN HEDONIS
(Kontemplasi Hari Santri Nasional)
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*

      Hari ini merupakan yang kedua bagi masyarakat Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Menilik proses penetapannya sempat terdapat sedikit perselisihan. Namun setelah melewati beberapa perbincangan, akhirnya disepakati bahwa 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
Seiring dengan keputusan itu muncul beberapa pandangan tentang santri. Beberapa tokoh, seperti K.H. A. Mustofa Bisri, mengatakan bahwa santri tak hanya mereka yang telah menimba ilmu di pondok pesantren, tetapi juga yang berakhlak seperti santri adalah santri. Hanya memang belum ada ukuran yang kongkrit mengenai akhlak santri tersebut.
Terlepas dari pengertian baru itu, pelajar pondok pesantren merupakan objek utama dari istilah santri. Ketaatan pada ajaran agama harus selalu tercermin dalam tingkah laku mereka. Termasuk kejujuran, kesederhaan, dan kesopanan yang ditanamkan sejak dini di lingkungan pesantren.
Peradaban dunia berkembang dengan begitu pesat. Ruang dan waktu semakin terasa sempit dengan adanya teknologi yang mempermudah seluruh rakyat dalam menjalani aktivitas mereka. Perkembangan ini memberikan persoalan tersendiri bagi para santri. Sebagai sekumpulan warga yang memiliki pengetahuan lebih daripada yang lain (meski tidak semuanya), mereka dituntut untuk dapat menjawab persoalan-persoalan terbaru yang berkenaan dengan agama.
Sayangnya, kini eksistensi pesantren telah tergoyahkan oleh modernitas itu sendiri. Tak sedikit pesantren yang gulung tikar dikarenakan para orang tua telah kehilangan minat untuk memondokkan putra-putri mereka. Maka dari itu sebagian pesantren kemudian mendirikan lembaga pendidikan formal. Kecuali itu masih banyak pesantren yang berpegang teguh pada identitas salaf mereka dan masih dapat berdiri teguh hingga saat ini, seperti Lirboyo dan Sidogiri.
Di samping itu, lulusan pesantren kini semakin rajin membuat rakyat geleng-geleng kepala. Telah banyak tercatat kasus-kasus yang melibatkan para santri, utamanya yang telah keluar dari pesantren. Terutama korupsi yang telah melibatkan sejumlah besar kaum sarungan. Parah sekali sebenarnya, mengingat korupsi merupakan derita nusantara yang telah membuat jutaan rakyat sengsara. Dan menjadi semakin parah apabila mereka tidak mengaku santri hanya karena mereka telah keluar dari pondok pesantren. Padahal santri adalah identitas abadi.
Keterlibatan santri dengan korupsi tentu hanya akan membuat nangis ibu pertiwi. Karena selama di pesantren tentunya nilai-nilai kejujuran telah ditanamkan dalam-dalam di lubuk hati mereka. Tentunya dengan karakter jujur itu diharapkan para santri dapat menjadi generasi penerus bangsa yang dapat diandalkan.
Modernis vs Hedonis
Tidak bisa dipungkiri bahwa santri pun kini harus berpikir modern. Jika tetap pada pendirian terdahulu mereka akan terlindas oleh zaman. Tak hanya peralatan yang digunakan, pemikiran mereka pun dituntut untuk semakin modern.
Nah, di sinilah kemudian banyak santri yang salah mengambil pemahaman. Kejujuran, kesederhanaan, dan kesopanan mereka tanggalkan dari diri mereka dengan dalih mengikuti perkembangan zaman. Padahal, menjadi modern sama sekali tidak harus setelanjang itu.
Media sosial kini telah berkembang biak begitu banyak. Sebanyak itu pula kaula muda, termasuk santri, menidurkan diri mereka di kehidupan nyata dan bermimpi sepuasnya di dunia maya. Tak peduli apa yang mereka publikasikan, mereka memposisikan diri sebagai orang yang patut mendapat perhatian. Dusta ataupun nista mereka abaikan demi meraih popularitas yang tak ada redupnya.
Menjadi kaya, memang, bukanlah sebuah dosa bagi para santri. Makan di tempat mewah, tentu, adalah hak mereka. Memiliki perabotan lengkap dan berkualitas tinggi, pasti, dapat menunjang kehidupan mereka. Namun kemudian, di manakah letak kesederhanaan itu? Apakah sesederhana melihat rakyat miskin kelaparan? Atau sesederhana menyeruput kopi di kafe dekat angkringan?
Melanjutkan studi di luar pesantren merupakan hal yang lumrah bagi para santri. Tentunya dengan pengalaman mondok di pesantren diharapkan mereka dapat memberi contoh terhadap pelajar-pelajar lain, bagaimana seharusnya sikap seorang murid terhadap gurunya. Faktanya, justru banyak dari para santri kini tak lagi dicontoh melainkan mencontoh. Maka tidaklah mengejutkan apabila dalam waktu yang tidak lama tata krama terhadap guru akan bertemu dengan kepunahannya.
Perlu digarisbawahi, Hari Santri Nasional tidaklah seperti piala dunia. Tak ada tuntutan untuk mengadakan seremoni besar-besaran. Tidak juga perlu dipublikasikan gencar-gencaran. Setiap santri pasti tahu arti hari tersebut dan bagaimana merayakannya. Wallahu a’lamu bish-showab...
*Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar