Kamis, 03 November 2016

Antara Slank dan Pengibar Bendera Khilafah

Antara Slank dan Pengibar Bendera Khilafah
Oleh : Muhammad Imdad Ilhami Khalil
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

         Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis ketika, untuk pertama kalinya, melihat konser “Slank” dengan mata telanjang. Konser ini merupakan salah satu rentetan acara dari semarak “Hari Santri” yang diadakan di kota budaya, Yogyakarta. Seperti biasa, para Slankers Mania—sebutan bagi penggemar Slank—memadati halaman Stadion Maguwoharjo tempat Bimbim dkk. beraksi.

Pada tanggal 22 Oktober tahun lalu, dengan segala pertimbangan, akhirnya orang nomor satu di Indonesia saat ini, Joko Widodo, menetapkan tanggal tersebut sebagai “Hari Santri”, bertepatan dengan dikumandangkannya Resolusi Jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Terlepas dari pro dan kontra yang kemudian timbul sebab adanya Hari Santri tersebut, event ini dapat dijadikan wadah flashback dan cerminan perjuangan para pahlawan Indonesia dalam menjaga bumi pertiwi mereka.

Tahun lalu, sepertinya tidak ada acara khusus nan meriah yang dilaksankan oleh ORMAS Islam, terlebih dari kalangan santri, maupun pemerintah layaknya Semarak hari santri tahun ini. Seingat penulis, hanya aktifitas bersifat ubudiyah seperti pengajian, dzikir bersama, dan lain sebagainya di beberapa pesantren serta Kirab Resolusi Jihad NU yang sering terdengar.

Pada edisi kedua hari santri kali ini, peringatan hari santri semakin terasa. Mulai dari pembacaan shalawat nariyah sebanyak satu miliar—yang kemudian menjadi rekor muri—hingga “Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara” yang diselengarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islami (RMI) NU. Pada acara yang diadakan oleh salah satu ORMAS Islam terbesar di nusantara inilah, konser Slank diangsungkan dengan mengangkat tema Nyantri Bareng Slank.

Sekilas terbesit dalam pikiran, mengapa pada acara yang berbaukan santri seperti ini diselingi dengan konser Slank, yang bagi penulis seringkali memicu kericuhan di antara para slankers, penggemarnya? Apakah memang ada hubungan antara santri dengan Slank? Pertanyaan ini seketika muncul di kala pertama kali penulis mendengar informasi adanya konser Slank pada acara Pekan Kreatifitas Santri Nasional Tersebut.

Dengan dipenuhi rasa penasaran, akhirnya penulis berpartisipasi dalam malam para slankers itu. Di sepanjang jalan, bendera khas slank berkibaran dengan warna hitam pekat melekat pada kaos para fans fanatiknya. Aneh memang, dan benar-benar aneh. Mereka duduk santai memenuhi trotoar. Tak ada nilai kesantrian pun di sana.

Namun kemudian, semua pertanyaan dan praduga negatif itu bungkam ketika konser dimulai. Bimbim dkk. menyanyikan lagu dan para slankers mengikutinya. Tepat ketika penulis menemukan posisi wenak (PW, dalam bahasa kerennya) untuk menyaksikan konser mereka. Kaka sebagai vokalis menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Penonton pun bergemuruh mengikutinya. Setelah menyanyikan lagu tersebut, Kaka menuntun para penontonnya untuk bersumpah—yang pada malam itu memang bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober. Sumpah untuk menjaga bumi pertiwi, sumpah untuk menjauhi narkoba dan diikuti dengan sumpah-sumpah berikutnya.

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu. Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu, seketika hati penulis bergetar dan seketika pula pikiran penulis menggelayut pada kibaran bendera La Ilaha Illa Allah, bendera bertuliskan kalimat tahlil yang dijadikan alat pengobar semangat oleh mereka yang bersikukuh mengibarkan bender khilafah di bumi pertiwi ini. Tak luput pula, mereka yang ber - takbir atas nama-Nya bersiteguh menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Sungguh miris melihat realita yang terjadi. Bagaimana tidak? Para pejuang yang dulunya menjadikan kalimat la Ilaha Illa Allah dan takbir sebagai penyulut semangat dalam menjaga bumi nusantara ini, sekarang mereka menjadikannya sebagai penyulut api keporak porandakan negeri. Bagaimana mereka tidak berfikir? para pejuang kemerdekaan bangsa ini juga lah yang merumuskan asas pancasila, lalu mereka yang sekarang menjilat getah manisnya ingin melenyapkan asas yang lima tersebut.

Hujjah bahwa dengan sistem negara Islam di negeri ini dapat membuat lebih baik keadaan bukanlah jaminan. Beberapa nagara di timur tengah sebagai buktinya, walaupun menyandang sebagai negara Islam, genderang perang dan permusuhan masih saja tetap terdengung. Parahnya, gejolak permusuhan ini terjadi pada kalangan sesama Muslim yang dipicu oleh suatu perbedaan pendapat.

       Santri sebagai garda terdepan dalam menjaga bumi pertiwi juga harus mengajak para pemuda, sebagai penerus bangsa, untuk berikutserta di dalamnya. Para pemuda harus bersatu dalam bingkai kebhinekaan dalam melawan para pengibar bendera khilafah di negeri ini, tentunya dengan cara yang diplomatis dan tanpa tindak anarkis. Ini lah kiranya alasan, menurut penulis, RMI-NU mendatangkan Bimbim dkk. dalam salah satu rentetan acaranya, mengingat Slank adalah salah satu magnet besar untuk mempersatukan para fans mereka, yang mayoritas pemuda dan remaja. Sehingga harapannya adalah, Bimbim dkk. dapat menyelipkan jiwa patriotisme ke dalam masing-masing slankers dan penontonnya.

        Sebagai penutup, satu pertanyaan yang penulis ingin lontarkan adalah lebih berbahaya manakah antara Slank, yang secara dzahir menjadikan fans-nya “ugal” namun sedikit demi sedikit menanamkan jiwa rasa cinta tanah air kepada mereka, atau pengibar bendera khilafah, yang secara dzahir berjubah kebaikan di jalan-Nya namun sedikit demi sedikit menggerogoti kebhinekaan bangsa juga melupakan guratan sejarah kemerdekaan Indonesia? Jawaban ada di tangan para pembaca sendiri-sendiri.

        Yang jelas—sebagai tambahan terakhir dari penulis—tatkala suatu hal itu dianggap rusak bukan lantas harus diganti dengan hal yang baru, melainkan usaha untuk memperbaiki yang rusak itu sendiri jauh lebih tinggi derajatnya daripada mengganti yang baru. Karena dengan mengganti yang baru, maka ia harus memulai dari awal dan tak pernah tau bagaiamana cara memperbaiki yang rusak. Sedangkan dengan memperbaiki ia akan tahu seluk-beluk suatu hal tersebut dan tanpa harus memulainya dari awal kembali. Seperti montir, yang paham betul kerusakan kendaraan karena sering memperbaikinya. Wallahu 'alam bi al-shawwab.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar