Rabu, 09 November 2016

Aplikasi Semangat Juang Para Pahlawan 10 November 1945 di Era Kini

Aplikasi Semangat Juang Para Pahlawan 10 November 1945 di Era Kini
Oleh : Anshori

Manusia tidak bisa lepas dari sejarah, karena pada dasarnya sejarah merupakan sarana atau alat yang menghubungkan kehidupan manusia antara masa lalu dan masa kini. Ada banyak pendapat mengenai apa itu sejarah, salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Moh. Hatta. Menurutnya, sejarah bukan hanya sekedar melahirkan cerita dari kejadian masa lalu sebagai masalah. Sejarah tidak sekedar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya. 
Muhammad Quthb berpendapat bahwa sejarah bukan hanya kisah yang diceritakan, bukan pula rekaman peristiwa dan kejadian masa lalu. Lebih dari itu, sejarah di pelajari untuk di ambil hikmahnya dan untuk pendidikan generasi selanjutnya. 
Dr. ‘Abdul ‘Azhim Mahmud al-Dayb mengatakan bahwa sejarah adalah ingatan satu bangsa dan karena itu juga ingatan perorangan. Dengan sejarah, mereka mengetahui masa lalu, menafsirkan masa kini, dan merancang masa depan mereka.
Dari beberapa pendapat di atas jelas bahwa ada korelasi yang terjadi antara kehidupan masa lalu dan sekarang yaitu pelajaran yang bisa di ambil dari masa lalu yang kemudian bisa diaplikasikan oleh generasi muda saat ini. Pelajaran tersebut bisa berupa keberhasilan suatu bangsa atau pun keruntuhannya.
Sebagai Bangsa Indonesia, sudah seharusnya untuk melestarikan dan mengingat kembali momen-momen bersejarah bangsa ini, salah satu peristiwa bersejarah yang Indonesia miliki adalah peristiwa 10 November 1945 yang ditetapkan sebagai hari Pahlawan Nasional. Barlan Setiyadijaya, penulis buku “10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia,” mengatakan bahwa penetapan tersebut bukan hanya untuk mengkultuskan para pelaku yang berada di kota pahlawan pada saat terjadi peristiwa 10 November 1945 itu, sebab kepahlawanan Indonesia tidak semata-mata terbatas di kota tersebut. Lagi pula di Surabaya terdapat semua suku bangsa dari seluruh pelosok tanah air, sehingga semua daerah terwakili.
Lebih lanjut Barlan menjelaskan dalam bukunya itu bahwa pada hakekatnya peristiwa Surabaya merupakan cetusan hati dan luapan jiwa rakyat Indonesia untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan nusa dan bangsanya yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tekad bulat untuk menyumbangkan segalanya dengan motto: “lebih baik hancur daripada dijajah kembali” seperti diucapkan Gubernur Surio berdasarkan: “Merdeka atau mati” dan “Sekali merdeka, tetap merdeka” pada penolakan ultimatum Mansergh, yang dilaksanakan dengan segala resiko. 
Bagi rakyat Indonesia tiada pilihan lain dengan segala kekuatan persenjataan yang minim tanpa pengalaman perang untuk lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Padahal yang dihadapi adalah satu negara yang baru saja keluar sebagai pemenang dalam Perang Asia Timur Raya. Namun suasana pasca perang adalah keinginan untuk perdamaian di mana-mana dan jemu kekerasan. Keharusan sekutu untuk menundukkan kaum “extremisten (kaum Indonesia yang menolak penjajahan) yang bandel” memaksa melakukan kekerasan dengan akibat bahkan gugurnya dua Brigadir dalam tempo dua minggu. Berita adanya pertempuran yang paling hebat setelah perang usai mengejutkan seluruh dunia yang justru di negeri dengan bangsa yang paling santai dan suka damai. Mereka terheran-heran perubahan yang tajam hanya dalam beberapa tahun pendudukan Jepang saja, sehingga Inggris merasa kehilangan muka dengan kerugian personil dan materi terbesar di bagian timur Pulau Jawa itu.
Surabaya merupakan neraka seperti banyak ditulis dalam pelbagai buku luar negeri, di antaranya adalah David Wehl dalam bukunya “The Birth of Indonesia”, menyatakan bahwa fanatisme dan kemarahan rakyat Surabaya tidak pernah dihadapi lagi dalam pertempuran-pertempuran berikutnya. Tiada lagi pertempuran yang dapat disejajarkan dengan peristiwa di Surabaya, baik dalam keberanian maupun dalam keteguhan dan ketabahannya. Betapa besar trauma yang diderita Inggris dengan kehilangan dua brigadirnya (Mallaby dan Loder-Symonds) dalam tempo kurang dari dua minggu, telah membuka mata betapa besar fighting value satu bangsa yang semula dikira sebagai bangasa yang paling lemah di dunia.
Pernyataan Barlan Setiadijaya di atas menunjukkan betapa besar perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan rakyat. Meskipun dengan senjata seadanya dan belum memiliki pengalaman perang seperti halnya Inggris, Belanda dan sekutunya yang jelas-jelas lebih berpengalaman dan mempunyai perbendaharaan senjata yang lebih lengkap pula. Namun, apa yang menjadikan tentara sekutu kewalahan dan kesusahan mendudukkan Surabaya, tidak lain karena semangat juang rakyat Indonesia yang diwakili oleh para pemuda-pemuda bangsa. Mereka tidak takut mati, semboyan “lebih baik hancur daripada dijajah kembali” dipegang dan dijunjung tinggi sehingga semboyan itu juga yang membawa rakyat Indonesia tetap berdiri teguh hingga saat ini.
Semangat dan keteguhan rakyat Indonesia, khususnya para pemuda, dalam mempertahankan kedaulatan negara itu yang patut dicontoh untuk generasi saat ini, kalau dahulu semangat itu diwakili dengan mengangkat senjata, maka saat ini, semangat itu adalah kontribusi pemuda dalam memajukan negara. Kemajuan suatu negara tergantung pada sejauh mana kontribusi yang diberikan oleh pemuda terhadap negaranya, masyarakat Indonesia dapat bertahan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah karena semangat dan kontribusi dari pemudanya. Karenanya, untuk mengenang dan menghormati serta menjunjung tinggi usaha para pahlawan itu, mari merenung kembali dan memupuk semangat yang mungkin kini kian hari kian menyusut demi kemajuan bangsa Indonesia yang di dambakan oleh para pahlawan terdahulu.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar