Jumat, 30 Desember 2016

Aku dan Siluman Kodok



Aku dan Siluman Kodok
Oleh: Hamdi Putra Ahmad
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga
 
Entah apa yang menimpa diriku, tepat satu bulan yang lalu sebuah kejadian aneh terjadi. Kala itu tempat tinggalku, Pondok Pesantren LSQ Ar-Rahmah, dilanda musibah banjir. Letak asrama kami yang sejajar dengan permukaan sawah menyebabkan genangan air hasil hujan deras berhari-hari memasuki pekarangan pondok bagian belakang. Semakin hari genangan air itu semakin tinggi. Hingga akhirnya semua kamar yang berada di bagian belakang pondok tergenang air, tepatnya air sawah.
Keadaan tersebut memaksaku dan sebagian teman yang lain untuk berhijrah ke tempat yang lebih kondusif. Pilihan ku jatuh ke kamar yang sering dijuluki dengan LSQ loro (baca: Dua). Meskipun sama-sama bergelar LSQ, tampaknya nasib LSQ loro lebih beruntung daripada nasib LSQ siji (baca: Satu) yang jika ditimpa hujan deras sehari saja bisa menciptakan danau buatan berukuran mini. Namun demikian, keadaan itu tak mengurangi rasa cintaku terhadap LSQ siji. Di satu sisi memang LSQ siji kurang beruntung dari LSQ loro. Namun ke-kurangberuntung-an tersebut sifatnya hanya kondisional, yaitu jika terjadi hujan lebat saja. Dan ku pikir ke-kurangberuntung-an LSQ loro dibanding LSQ siji lebih banyak dan bersifat statis (kekal abadi selamanya).
LSQ loro itu letaknya sangat jauh dari masjid, sehingga untuk bisa melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan kesana perlu perjuangan dan tekad yang sangat kuat. Selain modal fisik yang kuat, juga dibutuhkan kesungguhan hati. Itu yang pertama. Sedangkan ke-kurangberuntung-an yang kedua adalah, letaknya yang juga jauh dari pendopo. Kalau bahasa minang nya itu artinya balai. Sebuah ruangan terbuka yang biasanya digunakan untuk tempat mengaji. Di sana lah semua kegiatan akademik santri dilaksanakan. Mulai dari ngaji kitab hingga setoran hafalan. Berbeda dengan kami yang di LSQ siji yang berjarak hanya beberapa meter saja dari pendopo. Sehingga lagi-lagi, kekuatan ekstra sangat dibutuhkan oleh mereka yang berada di LSQ loro. Itu hanya penialain ku. Semoga saja sesuai dengan apa yang mereka rasakan.
Kembali ke pembicaraan inti, tepatnya siluman kodok. Kala itu, genangan air yang masuk ke kamarku sudah melebihi mata kaki. Genangan itu ternyata juga masuk ke lemari ku. Meskipun sebelumnya sudah tertutup rapat, ternyata adanya sela-sela antara pintu dan pinggiran lemari ku memungkinkan masuknya air. Namun tentu saja sela-sela yang sekecil itu tak memungkinkan seekor induk kodok masuk ke dalamnya. Tapi anehnya, setelah membuka pintu lemari yang sebelumnya sudah tertutup rapat, aku dikejutkan dengan penemuan sesosok induk kodok yang dengan gagahnya tengah berdiri di atas sebuah kardus sepatu yang terdapat di lemari bagian bawah. Aku benar-benar tak habis pikir dengan kehebatan si kodok menembus kerapatan lemariku. Apa mungkin itu adalah siluman kodok yang dikirim untuk menakut-nakuti ku? Ah, rasanya tidak mungkin. Atau mungkinkah itu adalah hasil pertumbuhan sebutir telur kodok yang pernah masuk ke lemariku? Ya bisa saja sih. Tapi lemariku kan tak sekotor itu.
Jujur saja aku termasuk orang yang kurang bersahabat dengan kodok. Selain bentuknya yang mirip katak, dari kecil aku memang tak terbiasa menangkap kodok. Kalau ketemu kodok, ya aku diam dan membiarkannya melakukan aktifitasnya. Asalkan ia tidak mengencingiku. Karena banyak orang yang bilang jika terkena kencing kodok akan menyebabkan buta. Ya, aku tak tahu benar atau salahnya. Wallaahu a’lam lah. Namun intinya, saat menemukan kodok di lemariku saat itu, aku tak mau berpikir panjang. Dengan bermodalkan bismillah, aku membiarkan kodok itu berada di dalam dan mengunci kembali pintu lemari. Saat itu aku tak memikirkan dosa lagi. Toh kalau si kodok mengalami sesak nafas atau kejang-kejang, pasti akan keluar sendiri. Salah sendiri mengapa masuk ke lemariku lewat jalan yang tak disangka-sangka. Begitu batinku. Namun demikian, aku tetap yakin kalau kodok itu pasti akan mati di dalam. 
Tiga hari pun berlalu. Hujan yang lebat itu berangsur reda. Kamar kami sudah tidak tergenang air lagi. Aku pun kembali ke kamar dan membereskan barang-barang yang berserakan. Setiba di kamar, ingatanku langsung tertuju ke kodok terkurung di lemari tiga hari yang lalu. Segera ku membuka lemari yang masih dalam kondisi tertutup rapat. Dan setelah membuka pintu lemari, aku sama sekali tidak melihat kodok itu di atas kardus sepatu tempat ia bertengger tiga hari yang lalu. Segera saja ku mencari mayat si kodok ke seluruh bagian lemari sembari membongkar satu persatu barang yang ada di dalam. Dan ternyata, aku tak menemukan si kodok. Jangankan mayat, kodok nya saja tidak ada. Aku juga tidak mencium bau bangkai sama sekali. Ah, aku masih belum percaya dengan keanehan ini. Segera ku periksa seluruh sisi lemari, apakah ada lubang yang memungkinkan si kodok untuk keluar-masuk. Dan ternyata tak ada lubang sama sekali. Yang ada hanyalah sela-sela kecil antara pintu lemari dan pinggiran lemari yang mustahil untuk diterobos Benar-benar tak masuk akal!
Kala itu aku benar-benar tak habis pikir. Mungkinkah si kodok hanyalah jelmaan?  Aku tak tahu. Dan peristiwa itu membuatku mulai percaya dengan hal-hal berbau mistis. Mungkin ini bisa dikaitkan juga dengan kekuasaan Tuhan, yang dalam bahasa Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsirnya Marah Labid disebutkan bahwa peristiwa munculnya kodok secara tiba-tiba merupakan salah satu bentuk peringatan dari Tuhan kepada salah satu kaum yang ingkar dari kalangan Bani Israil. Lha, benarkah? Apa aku seingkar kaum bani Israil? Na’udzubillaahi min dzalik. Semoga saja tidak. Tapi tetap saja peristiwa itu mengingatkanku dan kita semua bahwa semua hal bisa saja terjadi dengan izin Tuhan, dan semua ini juga membuktikan kebenaran sebuah firman  Allah yang berbunyi, “kun fa yakun!”. Wallaahu a’lam bi al-shawab.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar