Selasa, 20 Desember 2016

HORMATI MEREKA YANG FAQIH

Hormati Mereka yang Faqih
Oleh: Asbandi
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Ketika politik dibumbui dengan agama, permusuhan dan cacianpun seperti sebuah anjuran. Akankan seorang ulama dijelekkan karena kepentingan tertentu. Padahal ada suatu yang perlu kita sadari adalah sikap apatis dan skeptis terhadap ulama yg berbeda paham dan kemudian dianggap musuh yang dapat memecah belahkan umat. Terlebih masyarakat awam yang sangat berketergantungan dengan ulama. Maka dari itu perlu kita sadari adalah perbedaan atau pluralitas merupakan sunnatullah yang perlu kita junjung tinggi dalam  keragaman tersebut.

Islam mengajarkan dakwah dengan penuh bijaksana dan dengan tutur kata yang mengandung mauidzotul hasanah bukan dengan kata-kata yang keras dan lantang namun menjelek-jelekkan orang lain apalagi menjelekan ulama. Sungguh hal demikian itu tidak menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil`alamin. Malah yang terjadi adalah menyempitkan Islam itu sendiri sehingga membangun asumsi bahwa Islam itu radikal dan sebagainya.

Dampak yang paling besar dari sikap skeptis yang brutal itu adalah dapat memecah belahkan umat, menebar fitnah sampai kepada permusuhan yang berakhir dengan peperangan.

Sebagai refleksi, apakah negara yang menjunjung tinggi peradaban bernasib sama dengan negara yang gagal di Timur Tengah. Tentu kita sama-sama menjawab dengan lantang "tidak mau". Namun realita berkata lain. Nampak dari beberapa moment yang ada di negeri ini dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan para ulama. Salah satunya adalah, ulama yang berargumen untuk kepentingan umat dijadikan kambing hitam. Seakan-akan ulama menebar kesesatan yang menyesatkan masyarakat. Apa yg dilakukan para ulama bukan berdasarkan hawa nafsu melainkan untuk kemaslahatan bersama umumnya bangsa.

Agama memang rentan dijadikan alat untuk sebuah kepentingan. Namun akankah negara akan hancur dikarenakan satu kepentingan dan merugikan kepentingan yang lain yang lebih besar. Satu kata takbir dapat menarik perhatian masyarakat. Namun apakah salah jika orang yang tidak mengikutinya lantaran mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudian dijelek-jelekkan dan dituduh yang bukan-bukan? Tidak, satu hal yang perlu kita sadari bersama adalah orang yang tidak melakukan demikian bukan karena tidak mengerti masalah agama, akan tetapi mereka faqih dalam agama.

Media sosial juga menjadi senjata bahkan diibaratkan bom untuk merusak reputasi ulama. Berbagai macam berita yang tidak mendasar disebarkan di berbagai media sosial. Hal ini sungguh ironis dan terkadang cukup menyesakkan dada. Perlu kita sadari juga bahwa media itu dikendalikan, dan postingannya pun sesuai dengan siapa kusir yang mengendalikan berita tersebut. Maka media selayaknya dikunyah dan tidak harus dijadikan pedoman dalam bertindak. Maka media sosial cukup memprihatinkan dengan berbagai macam konten yang dapat membahayakan masyarakat. Tanpa disadari hal itu juga memicu terjadinya fitnah bahkan menyebabkan permusuhan. Karena yang perlu kita sadari pula adalah jangan sampai orang yang melakukan dakwah agama yang hanya bermodal satu hadis sudah berani mengkafirkan apalagi mengkafirkan para ulama yang jauh lebih paham tentang agama.

Islam itu damai, Islam melarang kebencian dan cacian. Label kebencian bukan Islam. Jadi jika kita paham demikian itu maka kita bisa mawas diri dari segala fitnah yang ingin menjelekkan para ulama. Bandingkan ukuran kita dengan mereka yang hafal al-Qur'an dan paham ribuan hadis dengan kita yg hanya membaca satu artikel yang kemudian menyalahkan mereka. Inilah menjadi renungan kita bersama. Kita tidak ada otoritas melakukan hal tersebut. Andaikan ada yang menjelekkan ulama yang sudah dikenal dan diakui kridibelitasnya oleh umat, Maka pertanyakan keulamaan tersebut. Karena Islam itu mengayomi bukan membenci, Islam itu mengajarkan bimbingan bukan mengkafirkan. Wallahua'lam.

Tulisan pas santai dakde gawi. Miker urang yang pinter dikit ngfer dan nyest ulama.


Reaksi:

1 komentar: