Selasa, 20 Desember 2016

Media Oh Media

         
                            Media Oh Media
                         Oleh : Alif Jabal Kurdi
     (CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  
  Semakin hari semakin gencar aliran-aliran informasi yang membawa kabar menyedihkan tentang nasib saudara-saudara seiman kita yang sedang mengalami tragedi kelam di Suriah. Konflik-konflik yang terjadi begitu cepatnya sampai ke telinga kita, hingga menimbulkan rasa sedih yang mendalam sekaligus geram dengan tindakan-tindakan brutal yang terus terulang setiap harinya. Mendengar banyaknya korban anak-anak maupun wanita yang seharusnya tak menjadi sasaran membuat hati dan jiwa serasa panas dan ingin membalas semua tindakan-tindakan mereka para penjahat dan penghancur masa depan umat.
  Namun, tragedi kelam tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan mendasar di dalamnya. Dimana kita melihat banyaknya masyarakat yang masih bertanya-tanya tentang siapa dalang di balik semua permasalahan yang membuat banyaknya korban yaang berjatuhan itu. Kebingungan masyarakat ini terjadi akibat banyaknya persepsi-persepsi yang mereka dapati dari media-media informasi terkait tentang siapa yang bertanggung jawab dan menajadi dalang dari semua konflik yang terjadi.
   Mereka menilai antara satu media dengan media lainnya kerap kali menyampaikan informasi yang berbeda-beda, yang satu mengatakan bahwa yang patut disalahkan dan menjadi dalang atas semua tragedi ini adalah kelompok zionis Amerika beserta antek-antek Yahudi yang dikabarkan pula sedang gencar melakukan invasi di Timur Tengah dan juga mempunyai misi terselubung untuk menguasai seluruh daulah Islamiyah yang ada disana. 
    Di sisi lain ada pula media yang mengatakan bahwa tragedi itu adalah sebab dari konflik internal di negara tersebut, dimana dua kelompok yang bertikai itu adalah dua firqoh agama yang memiliki paham yang bersebrangan yakni antara kelompok Sunni dan Syiah.
   Dan akhir-akhir ini muncul informasi lain yang menyatakan bahwa apa saja yang  terjadi di Suriah dan disebarkan oleh media yang menginformasikan bahwa Sunni-Syiahlah yang bertikai adalah sebuah kebohongan dan merupakan tindakan provokasi untuk menyembunyikan kebenaran yang haqiqi serta ingin memecah belah umat Islam. Informasi terakhir ini juga menafikan tentang informasi-informasi sebelumnya yang telah beredar di masyarakat. Informasi terakhir ini mengklaim bahwasanya seluruh informasi yang beredar tersebut telah disimpangsiurkan oleh media-media militan takfiri yang sebenarnya merekalah dalang dari pemberontakan yang terjadi di Suriah. (baca : http://www.nu.or.id/post/read/68187/al-syami-ungkap-10-fakta-suriah-yang-ditutup-tutupi-media-takfiri)
  Bisa kita lihat dengan jelas bahwa media informasi ternyata juga dijadikan alat untuk memprovokasi atau bahkan sebagai alat memecah belah. Media informasi yang seharusnya menjadi rujukan untuk mengetahui berita-berita faktual yang valid dengan sumber terjamin  malah berisikan bermacam-macam informasi rancu yang menyajikan fakta-fakta palsu dan dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu demi menyokong terjalannya kepentingan-kepentingan mereka pribadi.
  Maka, sudah semestinya kita harus bisa meningkatkan kewaspadaan kita dengan lebih selektif lagi dalam mengambil informasi-informasi yang beredar di masyarakat terutama untuk informasi-informasi yang mengandung SARA, serta tidak mudah menyebarkan informasi-informasi yang kita dapatkan sebelum kita mengecek kevalidan dan sumber dari informasi yang kita dapatkan. Karena dalam realitanya, kita banyak melihat dan tak bisa dipungkiri kita pun melakukannya di grup-grup social media kita sendiri. Bisa saja sebuah informasi yang kita dapat, itu juga berasal dari media-media takfiri nasional yang begitu gencarnya melaksanakan gerakan pemurnian Islam serta ingin mengubah ideologi negara (hanya contoh).
 Sebagai akademisi hendaknya pula kita menyelesaikan rasa kritis kita terhadap sebuah permasalahan dengan mencari literatur-literatur yang berkaitan dan sudah terakreditasi ataupun mengadakan diskusi-diskusi dengan para ahli atau pakar yang sudah bisa dipastikan kejelasan informasinya, bukan hanya dengan mengandalkan informasi-informasi yang mengalir setiap harinya di media sosial kita yang tidak jelas sumber dan kevalidan datanya. 
 Sungguh semakin hari, kehidupan kita semakin dekat dengan akhirnya. Semakin hari pula kita merasakan bahwa kejujuran mulai luntur dan terangkat dari kehidupan kita. Krisis moral bertebaran dimana-mana. Taklid buta pun seakan hal biasa. Selalu merasa benar dan tak mau dibenarkan hingga sensitif jika ada pernyataan yang sesuai dengan pemahaman merupakan beberapa hal nge-trend yang sedang terjadi di negara kita, Indonesia. Jadi, sekarang kita juga hanya tinggal menunggu saja saat dimana lembaran-lembaran pedoman hidup kita menjadi sekedar lembaran putih dan tak bermakna. (AJK) 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar