Kamis, 01 Desember 2016

Sholawat al-Banjari: Balutan Keharmonisan Seni & Cinta


Sholawat al-Banjari: Balutan Keharmonisan Seni & Cinta
Oleh : Agil Muhammad

  Pernah mendengar nama Sholawat al-Banjari? Mungkin bagi orang yang berasal dari Jawa Timur sudah tidak asing lagi mendengarnya atau bahkan pernah mengikutinya. Sholawat al-Banjari ini bisa dikatakan adalah salah satu genre dari seni hadrah. Seni ini sangat identik dengan santri dalam pondok pesantren. Ada banyak macam seni semacam ini, ada yang bernama Qashidah, Tsamroh, Gambus, dan hadrah seperti yang ditampilkan pada acara sholawat yang dipimpin oleh Habib Syekh As-Segaff.
     Mungkin bagi orang-orang yang masih awal mengenalnya akan menyamakan itu semua, padahal bagi yang biasa berkecimpung di dunia ini hal itu merupakan hal yang sangat berbeda dan tidak semua menyukainya. Untuk Sholawat al-Banjari ini bisa dikatakan adalah yang paling ketat aturannya. Dan hal yang paling membedakan adalah alat-alat dan teknik memainkannya. Untuk alat musiknya hanya terdiri dari rebana (terbang) dengan satu bass yang dimainkan dengan tangan, tanpa menggunakan pemukul. 
   Al-Banjari ini sebenarnya bukanlah seni yang mudah. Seni di dalamnya ada dua pembagian, yakni seni suara dan musik. Untuk menjadi vokal, tidak hanya sebatas memiliki suara yang indah, tetapi juga harus mempunyai power dan bisa menyesuaikan dengan musik. Tidak semua para ahli tilawah bisa menjadi vokal al-Banjari dan begitu pula sebaliknya, walau banyak dari vokal banjari ini yang bisa tilawah. 
   Dan untuk vokal ini ada beberapa perbedaan. Untuk istilah “vokal” merupakan pimpinan lagu yang dibawakan, dan untuk yang lain dinamakan Backing Vocal. Backing ini tidak hanya satu suara atau sama semuanya. Untuk masing-masing memiliki posisi masing-masing. Ada yang suara satu atau dasar, ada yang suara dua, suara tiga dan suara bass. Semua memiliki porsi dan posisi masing-masing yang apabila tersusun dengan baik, akan menghasilkan paduan suara yang indah. Ini seperti lagu-lagu pada umumnya yang disertai paduan suara. Jadi bisa dibilang al-Banjari ini mengadopsi paduan suara lagu-lagu dari grup musik yang telah ada.
 Untuk musik inilah yang sangat membedakannya. Saya yakin bahwa musisi terkenal sekelas Ahmad Dhani, Anang Hermansyah atau Iwan Fals tidak akan bisa dengan mudah dalam memainkan rebana dengan baik. Rebana ini alat musik yang unik, hanya dengan dua bunyi, yakni “tek” dan “duk” bisa membuat musik yang indah bagi pecintanya. Dan selain al-Banjari, suara “dung” dan “tek” tersebut tidak bisa berbunyi dengan baik. Ada dua faktor yang menyebabkannya, pertama karena mungkin rebananya yang kurang enak dan yang kedua karena belum bisa memainkannya dengan baik.
    Bagi yang belum terbiasa, suara “tek” yang sebenarnya akan bersuara “teng” dan suara “dung” akan bersuara “buk”. Itu masih pukulan dasarnya, belum lagi variasi, tempo dan dinamika dalam memainkannya. Bagi yang masih awal biasanya masih memainkannya dengan memukul, tapi bila sudah ahli memainkannya hanya seperti menjawil saja. Dan semua teknik itu ada aturan khusus dan tentunya perlu perasaan sebagaimana memainkan alat-alat musik yang lain
    Hal yang indah dalam al-Banjari ini adalah lirik-liriknya yang semuanya merupakan pujian pada Allah, sholawat pada Nabi, kisah-kisah atau nasehat-nasehat dalam menjalani kehidupan. Seseorang tidak akan menikmati seni ini tanpa ada rasa cinta pada Rasulullah baik rasa cinta itu disadari atau tidak. Bagi seseorang yang benar-benar mencintai dan menikmati, akan bergetar hatinya dan menetes air matanya ketika mendengarkannya. Baik ketika suluk, membaca rawi atau ketika melantukan pujian dan sholawat yang diiringi rebana.
  Sholawat al-Banjari ini dapat ditemukan dalam acara maulid Nabi, diba’an, habsyian dan acara festival. Bagi orang yang melihat penggemar seni ini, mungkin melihatnya sebagai anak yang alim karena yang didengar adalah pujian dan sholawat. Padahal bagi mereka yang telah mencintai seni ini, seni ini bisa dikatakan sebagai salah satu dari genre lagu yang digemari mereka, sebagaimana orang-orang yang menyukai genre pop, rock, metal, blues dan lain-lain.
  Dan hari ini adalah hari pertama bulan Rabiul Awwal atau bulan Maulid. Bulan yang selalu ditunggu-tunggu penulis ketika masih berada di Pondok pada masa sekolah. Karena bulan ini merupakan bulan penuh sholawat, berkat, jajan dan undangan yang menjadi kebahagiaan yang tak terhingga bagi para santri yang mendapatkannya berkat kemulian dari bulan yang penuh kemuliaan ini.
    Dan berikut ini adalah rumus pukulan dasar al-Banjari:

Wedok’an: 
1. D/TT. DD. DT. TD
2. DT. TT. TT. TD. DD. DD. DD. DD
3. TT. TT. DT. TT. TT. TT. DT. TD
4. T. TT. TT .TT. |TT. TT. DT. TD. |TT. TT. DT.           TD. |TT. TT. DT.TD
5. DD. TT. DT. TD

Lanangan: 
1. D/T. DDD. T. TD
2. DT. TT. TT. TD. DD. DD. DD. DD
3. TTT. D. TT. TT. TTT. D. TT. TD
4. TT. TT. TT. |TTT. D. TT. TD. |TTT. D. TT. TD.         |TTT. D. TT. TD
5. D. DD. TT. DT. TD

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar