Selasa, 13 Desember 2016

Turut Prihatinku pada Pak Ahok

Turut Prihatinku pada Pak Ahok
Oleh: Deni Setiawan

Hari ini (13/12) sidang perdana anda digelar secara terbuka. Saya melihat berita anda disiarkan secara live oleh salah satu stasiun televisi ketika saya menyantap nasi sayur tempe di warung si mbok Krapyak. awalnya saya acuh. Nasib... nasib anda, tidak ada hubungannya dengan saya. Saya hanya mencoba menjadi pendengar yang baik.
Saya tidak tau harus berpihak pada yang mana. Kata senior, jadilah orang yang tasamuh, netral, tidak berpihak kemana-mana. Namun bagiku itu adalah sikap bodoh. Mematikan sikap kritis. Tapi bagaimana lagi, saya ingin berpihak pada yang benar, hanya saja saya tidak tau yang benar itu ada dipihak mana.
Setelah nasi di piring habis, saya hampir saja beranjak dari tempat duduk hingga saya menyaksikan keberatan yang anda sampaikan, yang menahan tubuh saya untuk berpindah dari kursi itu.
Dalam kesempatan itu, ada beberapa hal menarik yang anda sampaikan yang saya tangkap. Diantaranya:
Bahwa anda tidak bermaksud menafsirkan/mengkritik ayat suci agama lain
Bahwa anda tidak bermaksud menista agama islam
Bahwa anda tidak bermaksud menghina para ulama
Apa yang anda katakan di pulau seribu adalah dengan tujuan untuk membantah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang tidak mampu bersaing dengan anda, dan menggunakan ayat al-Maidah 51 untuk melawan anda, bahwa ayat tersebut dijadikan alat untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih anda. Anda pula menambahkan bahwa anda sudah mengklarifikasikan ayat itu kepada teman anda yang muslim bahwasanya ayat itu sebenarnya berlaku di waktu perang di masa nabi.
dan masih ada banyak lagi yang menjadi point keberatan anda, namun khusus untuk bagian ini, saya merasa perlu untuk berdialog dengan anda.
Pak Ahok, saya percaya anda tidak mungkin akan menista agama, apalagi Islam, entah itu karena alasan politik, yakni tidak mungkin seorang calon gubernur akan menghina agama orang-orang yang bakal memilihnya, maupun karena alasan sosial- saya yakin anda adalah orang yang sangat ramah dan baik kepada sesama manusia, tanpa membeda-bedakan agama.
Namun ada hal yang perlu anda konstruksikan kembali dalam fikiran anda, pak Ahok. Andaikata saya dapat berjumpa dengan anda, ingin rasanya saya menyampaikan langsung hal ini kepada anda.
Setiap agama adalah candu, ranahnya adalah hal-hal yang bersifat spiritual dan moral. Selebihnya agama tidak mengatur apapun selain itu, terlebih masalah politik.
Dalam pandangan anda –dan juga pandangan para liberal, demikianlah seharusnya agama diletakkan. Karena memang pada kenyataannya semua agama seperti itu. Tidak seharusnya agama masuk ke dalam pemerintahan.
Sayangnya pak ahok. Hal itu adalah pengecualian bagi umat islam. Islam adalah agama yang paripurna, jauh lebih sempurna dari konsep sosial yang dicetus oleh marx. Orang seperti anda boleh tidak mengakui itu, namun pada kenyataannya, agama islam memang mengatur semua hal, tidak hanya sebatas peribadatan. Namun semua lini kehidupan disitu selalu ada nilai-nilai keislaman.
Tafsiran ayat al Maidah: 51, bagi anda bukanlah ayat yang mengatur pemerintahan. Bohong jika ayat itu melarang kaum muslimin untuk memimpin pemimpir non muslim. Ayat itu hanya semata-mata sebuah cerita yang diwariskan secara turun temurun di dalam kitab suci, bukan untuk diamalkan saat ini, karena bukan pada konteksnya. Mengapa anda berfikiran seperti itu? Karena memang dalam agama anda (bisa saja) tidak ada hal semacam itu, yang secara otomatis mengkonstruksi fikiran anda bahwa di dalam islam pun seperti itu. Anda pun mengutip ayat dari kitab agama anda lalu disejajarkan dengan al-Maidah:51 dan menganggapnya sama.
Maaf pak ahok, bukan saya sok benar. Terserah di dalam kitab anda itu terdapat larangan seperti yang ada dalam Al-Quran atau tidak, atau perintah untuk hanya mengikuti yesus itu berarti larangan memilih pemimpin yang tidak seiman, saya tidak tahu. Tapi yang saya ketahui bahwa ayat yang ada di dalam al-Quran memang benar-benar melarang kami untuk memilih pemimpin orang-orang yang enggan bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya.
Saat anda bertanya kepada teman anda tentang penafsiran auliya, tentu mereka akan menafsirkan itu sebagai “teman setia”, bukan pemimpin. Lalu dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa kaum muslimin boleh memilih anda.
Pak ahok, tahukah anda teman setia justru lebih mempengaruhi anda ketimbang pemimpin anda?
Kebanyakan kitab tafsir klasik mengatakan bahwa arti auliya adalah teman setia, dan hanya beberapa yang mengartikannya sebagai pemimpin, termasuk di antaranya MUI. Tahukah anda mengapa MUI mengartikan demkian?
Di zaman nabi, zaman para sahabat, tabiin dan zaman para ulama, hingga menjelang keruntuhan umat islam, umat islam hampir mustahil memilih pemimpin non muslim. Saat itu semangat dakwah sangat tinggi. Islam dimusuhi bukan karena keras, bukan karena intoleran, bukan karena berwatak teroris. Namun karena islam mengajak orang-orang di luar islam untuk masuk islam, serta mendeklarasikan sebagai satu-satunya agama yang benar di muka bumi. (saya kira jika anda orang yang taat, anda pun meyakini hal yang sama. saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang ini, cukup menjadi iman saya sendiri. Anda boleh berpendapat berbeda, dan saya menghargai itu sebagai bentuk toleransi saya kepada anda, namun bukan berarti saya mengakui adanya kebenaran relatif, kebenaran itu tetap mutlak).
Pada masa itu, semua pemimpin umat muslim adalah juga muslim, maka kata auliya memang sudah seharusnya diartikan teman setia. Kami dilarang menjadikan dari golongan anda teman setia kenapa? Karena ba’duhum auliya ba’d. Sebagian mereka adalah teman setia sebagian yang lain. Namun demikian, ayat ini bukan berarti menghalangi kami untuk berbuat baik kepada non muslim. Justru sebaliknya. namun tetap saja kami tidak diperbolehkan mengangkatnya sebagai teman setia.
Di masa yang penuh keterbukaan ini, interaksi antar manusia meski berbeda agama tidak dapat terelakkan.di Indonesia, kami tidak bisa memaksakan umat agama lain untuk masuk islam, bahkan justru itu adalah larangan dalam agama kami, sebab tidak ada paksaan dalam agama (namun tetap ada seruan dan ajakan tentunya). Maka untuk konteks indonesia, dimana interaksi itu tak mungkin dapat dihindari, sudah sepatutnya auliya tidak diartikan sebagai teman setia dan hanya diartikan sebagai pemimpin.
Diartikan sebagai pemimpin karena pemimpinlah yang dapat mempengaruhi kehidupan orang-orang yang dia pimpin. Saya tidak meragukan keadilan anda pak ahok. Tidak mungkin anda akan mensejahterakan non muslim dan menyengsarakan yang muslim. Mustahil saya rasa. Terlebih ketika melihat anda mau membangunkan masjid untuk kaum muslimin, membantu umat muslim yang ingin naik haji, dan lain sebagainya. Namun pak ahok, sayangnya banyak hal yang tidak mungkin anda akan lakukan selama anda masih enggan untuk mengucap dua kalimat syahadat. Itulah sebab kami mengapa tidak memilih anda sebagai pemimpin.
Jangan salahkan MUI, atau orang-orang yang ikut aksi membela agama mereka. Mereka datang jauh-jauh dari rumah masing-masing. Ada yang berjalan kaki, ada yang sambil membawa makanan atau barang-barang untuk disedekahkan, bahkan yang dari luar pulau jawa pun datang. Anda boleh mengatakan mereka fanatik jika menurut anda seperti itu, atau mungkin radikal, atau intoleran, atau anti kebinekaan, pikiran sempit dan lain sebagainya. Tapi yang harus anda ketahui, mereka datang karena adanya panggilan, panggilan hati untuk membela agamanya tersebab karena kritikan anda. Tegakah anda mengatakan bahwa itu adalah aksi politik?
Saya tahu anda tidak hendak menista agama. Saya yakin anda tidak mungkin punya niat untuk menjelek-jelekkan al-Quran. Namun keberanian anda untuk berargumen bahwa penafsiran yang benar adalah penafsiran yang mengatakan bahwa ayat itu tidak berbicara tentang larangan memilih pemimpin non muslim, lebih lebih keberanian anda untuk menyalahkan pendapat ulama yang mengatakan bahwa ayat itu memang melarang untuk memilih non muslim sebagai pemimpin, dan dengan sengaja anda mempersepsikan bahwa orang yang menafsirkan ayat itu sebagai larangan memilih pemimpin non muslim adalah orang-orang yang berpolitik dan tidak senang dengan kepemimpinan anda. Kalau boleh saya katakan dengan kasar di depan anda; tahu apa anda tentang agama kami?
Anda mengetahui penafsiran bahwa ayat itu bukanlah larangan memilih pemimpin non muslim pun adalah dari orang yang sama dengan yang mengatakan bahwa islam bukanlah agama yang paripurna. Saya tidak tahu orang yang anda tanyai itu adalah muslim asli atau hanya mengaku-ngaku sebagai muslim saja, supaya punya wadah untuk berpendapat dan pendapatnya bisa dianggap mewakili suara islam.
Saya teringat perkataan anda -yang sungguh sangat menyakitkan dan sangat menyinggung meskipun tidak ada satu kata pun yang dihilangkan- bahwa kami -yang mempercayai penafsiran para ulama bahwa ayat itu melarang kami memilih non muslim sebagai pemimpin- adalah orang yang dibodoh-bodohi....
Maaf pak ahok, sesungguhnya anda lah yang dibodoh-bodohi -oleh oknum yang jauh lebih tidak bertanggung jawab dengan mengadu domba anda dengan mayoritas umat muslim- dengan penafsiran abal-abal yang membolehkan anda dipilih jadi pemimpin selama masih non muslim.
Anda masih mengatakan bahwa itu penafsiran MUI itu karena unsur politik? Silahkan masuk islam (meski saya yakin, iman anda tidak semurah itu untuk ditukarkan dengan jabatan), dan buktikan, jika memang MUI tidak mengeluarkan fatwa haram memilih pemimpin non muslim itu karena unsur politik, dan bukan karena larangan Tuhan memang seperti itu, tentulah anda akan dapati MUI akan mengeluarkan lagi fatwa bahwa muallaf haram jadi pemimpin.
Pak ahok... jika seandainya anda mengakui kesalahan anda, lalu meminta maaf, secara pribadi, tentu saya memaafkan. Namun permintaan maaf anda beberapa waktu lalu, justru lebih terdengar sebagai pembelaan diri anda terhadap tuduhan publik kepada anda. bukan maaf karena mengakui kesalahan. Anda justru mengira bahwa umat muslim lah yang salah faham terhadap anda. Apakah umat muslim yang salah?
Anda lah yang salah pak ahok... anda salah faham terhadap sikap umat muslim yang mengikuti fatwa MUI, yang anda kira berpolitik itu, anda lah yang fahamnya salah dalam memahami umat muslim dan kitab sucinya, andalah yang -maaf- sok tahu padahal tidak tahu....
Semoga hidayah Allah tercurah bagi saya, bagi anda, seluruh umat muslim, dan seluruh umat manusia di dunia... amiiinnn....
Salam dari santri yang peduli tidak hanya kepada Indonesia, tetapi juga kepada Islam.
Assalamu alaikum wr wb

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar