CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Senin, 25 Desember 2017

Murid Syaikh Kamba Sambangi Rumah Maiyah

Bantul- Sabtu Sore lalu (23/12), sebanyak 98 murid Muhammad Nursamad Kamba atau yang lebih dikenal dengan Syaikh Kamba singgah di Rumah Maiyah Cak Nun Jogja. Pukul 16.15 WIB rombongan mahasiswa Prodi Tasawuf Psikoterapi yang merupakan santri PBSB UIN Bandung tiba di rumah Maiyah setelah bertolak dari Asrama Haji yang terletak di Jalan Ring Road Utara, Sleman.
Dengan didampingi oleh ketua rombongan dan juga Annas Rolli Muchlisin ( Ketua CSSMoRA Nasional ), mereka memasuki perpustakaan milik Eyang (Cak Nun), setelah mendapat penyambutan dan instruksi dari tuan rumah. Setelah itu bepindah ke aula untuk mendengarkan pemaparan mengenai Maiyah Jogja.
Usai menyambangi perpus milik Cak Nun, rombongan merapat ke sebuah ruangan yang dikenal dengan aula, tempat yang biasa digunakan untuk kajian Eyang bersama jamaah Maiyah. Dalam rungan tersebut seorang perempuan dan redaktur media Maiyah menyambut rombongan dengan memberikan beberapa pandangan dan ulasan mengenai Rumah Maiyah dan Cak Nun. Dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari peserta rombongan.
Perwakilan PBSB UIN Bandung, Nidal Rabbani memperkenalkan rombongan sekaligus menyampaikan beberapa pertanyaan. Ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa Prodi Tasawuf Psikoterapi menggunakan karya Cak Nun sebagai referensi primer dalam pembelajaran tasawuf.
"Kunjungan PBSB UIN Bandung ke Rumah Maiyah Cak Nun ini dalam rangka timbal balik sowan kami, setelah beliau mengisi acara kami di Bandung pada bulan November lalu. Sekaligus serangkaian dalam acara Rihlah yang merupakan Pogram Kerja CSSMoRA UIN Bandung," terang Ats Tsania Az Zahra, Pimred media ORASI.
Diskusi terus berlanjut dipimpin oleh Helmi dan Jamal selaku Redaktur Media Online Cak Nun, memaparkan bahwa di ruangan tersebut digunakan untuk diskusi dan bedah karya Cak Nun setiap tanggal 11 bersama jamaah Maiyah.  Selain itu, dua karya lain yang menjadi kajian di tempat tersebut adalah milik Syaikh Kamba dan Gus Fuad.  “Perpustakaan Eyang juga terbuka untuk masyarakat umum yang dibuka mulai jam 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Diskusi berakhir pada pukul 18.30 WIB dan rombongan murid Syaikh Kamba tersebut pamit untuk undur diri karena masih melanjutkan serangkaian acara yang telah direncanakan. Sebelum beranjak dari rumah Maiyah, mereka memberikan kenang-kenangan berupa plakat yang diberikan kepada Cak Nun yang diwakili oleh Helmi dan Jamal./Mas

Jumat, 22 Desember 2017

Santri PBSB Gelar Seminar Entrepreneurship

Santri PBSB Gelar Seminar Entrepreneurship


Yogyakarta- Kamis lalu (21/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Seminar Entrepreneurship. Kegiatan yang merupakan salah satu program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) tersebut dipusatkan di Gedung Convention Hall  Lantai 1 UIN Sunan Kalijaga. Acara tersebut berlangsung selama empat jam dari pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB.
Dian Aulia Ningrum selaku pembawa acara membuka acara tersebut. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Nadhif  (Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kemenag DIY), Annas Rolli Muchlisin (Ketua CSSMoRA Nasional) dan Mansyur Hidayat (Koordinator PSDE Nasional) yang merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian Harlah (Hari lahir) CSSMoRA ke-10 yang untuk kali kedua ini UIN Sunan Kalijaga mendapat kesempatan menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan acara tesebut. Dalam sambutannya, Abdul Mustaqim selaku pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) menyampaikan, “Kunci bagi seorang Entrepreneur adalah membaca peluang. Harapan ke depannya, santri PBSB dapat menjadi pribadi yang maju,  kreatif, berkembang dan berkarakter”.
Acara yang bertajuk tema “Menuju Pemuda yang Mandiri, Akademis dan Berjiwa Entrepreneurship” tersebut menghadirkan tiga narasumber yakni H. Bukhori AZ, Evoy Pahlevi dan Anifatul Jannah. Acara Seminar dimulai usai pembukaan dengan dimoderatori oleh Farid Abdillah.
Ketiga narasumber yang merupakan seorang entrepreneur tersebut menyampaikan beberapa pengalaman dan motivasi kepada peserta perjalanan bisnis seorang entrepreneur. Evoy Pahlevi salah seorang narasumber menyampaikan, “Salah satu yang perlu dilakukan oleh seorang Entrepreneur adalah memulai”, tandasnya.

Acara tersebut berakhir pada pukul 13.00 WIB dengan pembagian beberapa doorprize kepada peserta. Acara seminar ini juga mendapat sponsor dari beberapa instansi diantaranya, Social Agensi Baru, Al Mujtaba Tour and Travel, English Café, Prodi Ilmu al Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga./Mas

Selasa, 19 Desember 2017

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*


Betapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk sekedar menyampaikan perpisahan kepada pelajaran matematika. Bukanlah sebuah rahasia bahwa banyak yang tidak menyukainya, meski di sisi lain tak sedikit jumlah manusia yang menggemarinya. Dari tingkat sekolah rakyat sampai sekolah lanjutan tingkat atas, seluruh siswa selalu dihadapkan dengan mata pelajaran ini dengan aneka bentuk pembahasannya.
Pada permulaan perjalanan, entah itu Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), peserta didik mulai bergelut dengan pengolahan angka. Penjumlahan, pengurangan, pengalian, pembagian, pemangkatan, dan pengakaran, semua diajarkan oleh para pahlawan dengan penuh kesabaran. Sebagai bentuk aplikasinya, mereka dihadapkan dengan penghitungan bangun datar, bangun ruang, sampai perihal lain yang terjadi secara nyata dalam berbagai segi kehidupan.
Kemudian di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), mereka mulai berhadapan dengan huruf dan sejenisnya. Persamaan demi persamaan ditelusuri melalui pelbagai rupa simbol hingga menghasilkan sesuatu yang orang istilahkan sebagai jawaban. Kongruensi, peluang, juga himpunan menghadirkan dunia baru bagi peserta didik untuk terus menempa diri dalam mencari hasil matang dari bahan-bahan yang telah disediakan.
Akhirnya mereka sampailah di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Teori mulai diperkenalkan. Tidak sedikit barang tak terlihat diperhitungkan. Jangan anggap igauan, karena seperti angka “0”, ketidaktampakan bukan berarti ketiadaan.
Demikianlah perjalanan singkat matematika yang selurus penggaris. Ibarat dari Banyuwangi menuju Jakarta, mereka tinggal mengambil jalan tunggal melalui pantura. Belokan memang ada, tapi tidak terlalu bermakna mengingat ada satu jalur yang dapat dijadikan titik fokus mata.
Kecuali itu, ada dunia balik layar matematika yang biasa dikenal sebagai olimpiade. Kebanyakan orang mengira, ajang itu hanyalah adu kecerdasan antar siswa atau mahasiswa. Padahal, di dalamnya terdapat penderitaan yang begitu kelam.
Olimpiade SD sederajat menghadirkan rasa sakit tingkat pemula. Ketidaksesuaian dengan pengalaman mulai dibenturkan, seperti sebuah bangun persegi yang kehilangan setengah lingkaran bagiannya. Dengannya, mereka mengerti bahwa hidup tidak sesederhana ucapan motivator ternama.
Di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), olimpiade menyuguhkan kekecewaan. Mereka dipaksa bergerak pada situasi yang tidak memungkinkan, semacam pertidaksamaan, hanya demi mendapatkan kesenangan yang tak pernah terbayangkan. Ujung-ujungnya, mereka mulai memahami betapa hasil takkan pernah berbanding lurus dengan perjuangan yang dicurahkan.
Lalu tibalah di SMA dan sejenisnya. Mereka diharuskan menciptakan rumus sendiri, mencoba menghadapi persoalan yang tak terduga. Pengalaman selama SD seakan lebih berharga dari semua setelahnya. Akhirnya, mereka bisa merasa bahwa hidup bukanlah tentang kesenangan bersama semata, tanpa memperdulikan orang-orang menderita yang tidak dikenalnya.
Nilai-nilai Kehidupan
Pembahasan tentang nilai-nilai kehidupan kini telah menjadi begitu menjemukan. Bagaimana tidak, kata-kata “bijak” sudah bisa keluar dari mereka yang nyatanya belum pernah merasakan. Apalagi, kini yang menjadi timbangan utama adalah tujuan, bukan kewajiban yang harus ditunaikan.
Sejatinya telah begitu banyak tokoh sampai komunitas yang mendalami arti nafas demi nafas dihembuskan. Dari pakar sosiologi, antropologi, filsafat, sampai pemuka agama, semua mencoba menyajikan saran-saran menuju ketentraman. Harapannya, manusia dapat hidup bersama dengan damai, sejahtera, juga sentosa dengan sikap tanggung jawab, saling bahu-membahu, serta tidak malu untuk meminta maupun memberi uluran tangan.
Sayangnya, harapan hanyalah harapan. Faktanya, manusia malah terjebak dalam pemikiran tentang nilai-nilai itu sendiri. Mereka terlalu terobsesi dengan pemahaman secara keseluruhan termasuk perbandingan lebih-lebih pembenaran dan penyalahan. Lebih-lebih sudah ada media sosial sebagai alat penyebaran demi menjadikan diri sendiri sebagai tokoh percontohan. Mereka lupa atau malah melupakan bahwa pengetahuan tanpa perwujudan adalah kebohongan.
Kesempatan untuk mengulang dari awal selalu terbuka, termasuk dalam hal ini. Ketika carut marut semakin kalang kabut, sudah saatnya membongkarnya. Terkadang untuk membangun sesuatu memang harus menghancurkan terlebih dahulu, dan matematika termasuk salah satu pondasi awal yang cocok bagi para non-pemula.
Dalam penjumlahan sederhana, insyaallah semua mengerti bahwa 3-2=1, 4-3=1, 6-5=1, dan 100-99=1. Artinya, selama perhitungannya pas, segala proses atau bentuk bisa menjadi sesuatu. Oleh karena itu, orang sombong tidak hanya mencakup mereka yang merasa lebih baik dari lainnya. Mereka yang tidak menjawab dengan benar ketika disapa adalah orang sombong, mereka yang enggan memberikan bantuan adalah orang sombong, dan mereka yang melupakan masa lalu adalah orang sombong.
Dalam materi himpunan, tak jarang dalam dua kolom berbeda terdapat angka yang sama. Ini menunjukkan akan sebuah pembatasan. Jika anda tidak suka dengan orang yang merokok, silahkan benci mereka ketika menghembuskan asapnya. Tapi jika tidak sedang melakukannya, kenapa harus dijauhkan dari pandangan mata? Pertengkaran dalam pertandingan olahraga atau perdebatan kata-kata adalah hal biasa. Maka setelah forum itu selesai, harusnya perselisihan juga usai. Bukankah begitu sebenarnya?
Integral dan diferensial merupakan invers yang istimewa. Lengkungan suatu garis bisa menjadi begitu indah akibat ulah keduanya. Andai saja tata krama berjalan seperti keduanya, betapa cerahnya masyarakat sejahtera. Ketua bersikap adil, tegas, dan bertanggung jawab, sementara anggota dapat taat sebisa semampu mereka. Yang tua mengayomi dan menyayangi para penerusnya, sementara yang muda menghormati serta tidak bersikap lancang kepada pendahulunya.
Demikianlah beberapa landasan awal yang mungkin sudah terkubur. Masih banyak poin-poin lain yang mungkin juga telah dimakamkan, namun mungkin terlalu lama jika harus berziarah kepada seluruh mereka. Karena sekarang adalah zaman modern yang notabene semuanya serba cepat, sementara orang-orangnya begitu cerdas sehingga membaca atau mendengar sedikit saja mereka sudah merasa mengerti segalanya.
Termasuk buah dari kehidupan modern ialah bahwa manusia masa kini terlalu terobsesi dengan tujuan atau yang biasa mereka agungkan sebagai cita-cita. Tidak peduli bagaimana caranya, asal tujuan terlaksana semua halal-halal saja. Kewajiban maupun larangan bukanlah batu sandungan bahkan jika harus memperoleh dosa. Ibarat orang membakar sate, mereka mengipas sampai keluar apinya. Masih menjadi sate memang, tetapi dagingnya justru menjadi hitam. Lebih parah lagi, bisa jadi sate hanya tinggal angan-angan.
Terima kasih kepada guru-guru matematika yang telah mengajari putra-putri Indonesia dengan begitu sabarnya. Terima kasih juga untuk para penemunya, yang orang barat bilang dari kalangan mereka sementara orang muslim katanya tidak terima. Maklum saja, memang matematika adalah ketidakpastian yang notebe selalu menjadi rebutan. Maka setelah ke barat ke timur ke selatan ke utara dari tadi, bersediakah berziarah kembali?
Wallahu a’lamu bish-showab...


*Alumni MA Nurul Jadid.

Kamis, 14 Desember 2017

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News


Rabu lalu (13/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menyelenggarakan Bincang Jurnalistik. Kegiatan yang termasuk Program Kerja Departemen Jurnalistik tersebut dilaksanakan di lembah kampus. Acara berlangsung selama satu setengah jam lebih, dari pukul 08.15 WIB sampai sekitar pukul 10.00 WIB.
Bincang kemarin merupakan yang kedua dari empat pelaksanaan sesuai perencanaan. Adapun materi yang dibahas ialah Indepth News. Pematerinya adalah Wulan Agustina, salah seorang redaktur Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena.
Sebanyak duapuluh peserta hadir pada kegiatan tersebut. Uniknya, Annas Rolli Muchlisin (Ketua CSSMoRA Nasional) dan Melati Ismaila Rafi’i (Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga) turut berpartisipasi di dalamnya. Hendriyan Rayhan selaku moderator memimpin berjalannya acara dari awal hingga akhir.
Kendati membahas tentang Indepth News, Wulan tidak monoton mengulas tentang tata cara penulisannya. Dia juga memberi selingan pembahasan tentang kode etik jurnalistik yang sangat penting untuk diketahui oleh para jurnalis. “Jadi yang kita sampaikan bukanlah kebenaran filosofis, melainkan kebenaran fungsional,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah tersebut menambahkan, jurnalis harus berusaha seobjektif mungkin dalam menyajikan berita. Jangan sampai ada opini penulis tercantum di dalamnya. “Hindari penggunakan kata semisal banyak dan cantik. Karena memang tidak ada takaran yang pas dalam hal tersebut,” tegasnya.

Acara berjalan dengan tidak formal atau santai. Kegiatan tersebut mendapat respon baik dari para peserta, salah satunya Annas. “Selain diajarkan untuk bersikap kritis, kita juga diajarkan agar mampu melihat suatu persoalan secara holistik dengan melihat fakta-fakta yang ada,” ungkapnya.(bsr)

Sabtu, 02 Desember 2017

HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat

   
HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat
Oleh : Triyanti Nurkhikmah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) 

   Kemarin (01/12), penduduk dunia telah memperingati Hari AIDS Sedunia (selanjutnya disebut HAS). HAS pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Selanjutnya, konsep tersebut disetujui oleh Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS) dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama HAS akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988. Konsep yang mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia sejak 1988 ini diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

   Membincang HIV/AIDS, setidaknya ada dua PR utama bagi masyarakat dunia umumnya, dan Indonesia khususnya. PR tersebut adalah kurangnya edukasi (pengetahuan) mengenai HIV/AIDS dan stigma negatif yang ditujukan kepada penderita HIV/AIDS. Dua hal tersebut menjadi layak diperbincangkan, setidaknya untuk memperluas wawasan tentang HIV/AIDS dan menghilangkan “noda hitam” bagi para penderita HIV/AIDS.

HIV atau AIDS?

   HIV dan AIDS; dua kata yang terlihat seperti pasangan tak terpisahkan ini menjadi bias maknanya di sebagian besar masyarakat. Apakah dua kata tersebut berbeda, saling berkaitan, sebab akibat, atau bahkan sama maknanya. 

   HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. 

   Adapun AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali. Sederhananya, AIDS merupakan level lanjutan atau dampak jangka panjang yang muncul karena virus HIV. Menurut medis, penderita HIV akan sampai pada AIDS setelah sepuluh tahun terinfeksi. Dengan catatan, tidak sering melakukan hal-hal yang beresiko.

Sarana penularan HIV 

   HIV memiliki “sarana khusus” dalam penularannya, bukan semata-mata dengan bersentuhan saja bisa tertular. Ada tiga perantara penularan HIV, yaitu pertama, melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya. Kedua, dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui. Ketiga, melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).

   Tiga sarana tersebut mempunyai prinsip penularan yang biasa disebut ESSE (Exit, Survive, Sufficient sarana penularan dan Enter). Exit; keluar. Virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, maupun jarum suntik yang terkontaminasi. Survive; hidup. Untuk dapat menularkan HIV, virus harus bisa bertahan hidup di luar tubuh. Akan tetapi, virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Sufficient; cukup. Artinya, jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi. Apabila virus hanya dalam jumlah sedikit (belum cukup), maka penularan tidak akan terjadi. Enter; masuk. Berarti, virus tersebut harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini menandakan, apabila salah satu prinsip tersebut tidak terpenuhi, maka virus tidak akan menular. 

Stigmatisasi penderita HIV/AIDS

   Selama ini banyak anggapan bahwa HIV hanya dapat menular pada orang-orang tertentu saja; yakni orang-orang yang berbuat dosa. Lebih dari itu, klaim bahwa HIV dikirim Tuhan sebagai hukuman, bahkan kutukan sudah menjadi jamur yang cepat mmenyebar dan tumbuh subur di masyarakat. Maraknya informasi dan data yang seharusnya difilter sebelum dikonsumsi dan disebarkan, membuat adanya “noda hitam” bagi penderita HIV/AIDS. Padahal, edukasi mengenai HIV/AIDS masih di bawah standar maksimal. Hal ini menciptakan kesenjangan sosial dalam tatanan masyarakat,

   Orang Dengan HIV/AIDS (biasanya disebut ODHA), merupakan salah satu komponen masyarakat yang mempunyai hak yang sama dengan masyarakat umumnya. Mempunyai hak untuk hidup, bersosialisasi dan berinteraksi layaknya masyarakat umum. Akan tetapi, fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat adalah berkembangnya sigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA. Sebagai contoh, seorang ODHA dijauhi bahkan sampai pada pengucilan yang dilakukan masyarakat sekitar. 

   Bukan hanya di Indonesia saja, stigmatisasi terhadap ODHA juga terjadi di negara pada umumnya. Sejarah mencatat, awal ditemukannya virus HIV muncul di Kasensero, sebuah desa di tepi danau Victoria, Uganda Barat. Wilayah ini menjadi sorotan dunia pada tahun 1982 dikarenakan hanya dalam beberapa hari, warganya meninggal dunia setelah mengidap penyakit misterius (yang kemudian dikenal dengan HIV). Setelah berita itu mencuat ke telinga masyarakat dunia, desa tersebut mempunyai “noda hitam” di mata dunia. Selain itu, hal ini juga terjadi  di sebagian wilayah AS, Tanzania dan Kongo. Stigmatisasi terhadap ODHA semakin kuat melekat di telinga masyarakat dunia. 

   Anggapan yang sama juga datang dari negara Kamboja. Seorang pendeta Buddha yang selibat ternyata mengidap HIV. Para pengikutnya pun marah mengira dia melakukan hubungan seks secara diam-diam. Ternyata setelah ditelusuri, beliau tertular akibat kelalaian dokter yang merawatnya. Si dokter, untuk meminimalkan biaya pembelian alat suntik, telah melakukan injeksi obat-obatan ke ratusan orang tanpa mengganti alat suntik. Seharusnya alat suntik adalah sekali pakai.

Menghapus stigma dan diskriminasi ODHA 

   Beberapa tahun terakhir, beredar short message service (SMS) menyebar ke masyarakat. Isi dari SMS tersebut memaparkan bahwa ada penderita HIV yang menyebarkan virus lewat tusuk gigi yang tersedia di restoran. Caranya, tusuk gigi itu dipakai hingga terkena darah lalu diusap hingga orang tidak curiga tusuk gigi tersebut pernah dipakai. Kemudian tusuk gigi diletakkan kembali ke tempatnya. Yang menjadi pertanyaan, bisakah virus HIV menular lewat cara tersebut? Apakah melakukan kontak sosial dengan ODHA berbahaya?

   Di awal telah dijelaskan, bahwa virus HIV mempunyai prinsip dan sarana tertentu dalam penularannya. Maka, hal-hal yang tidak termasuk dalam prinsip dan sarana tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa HIV tidak menular di kolam renang umum, tidak menular melalui batuk atau bersin, tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga lainnya, tidak menular dengan berbagi alat makan bersama dan tidak menular karena berjabat tangan. Kontak sosial dengan ODHA tersebut sah-sah saja, tidak perlu dikhawatirkan. Lha wong kita sama-sama manusia kok, bagaimana kalau saya atau anda di posisi mereka? Oke, jauhi penyakitnya, bukan orangnya. 

Minggu, 26 November 2017

Menjalin Keakraban dan Sportifitas Antar Angkatan, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Turnamen Futsal

Kemarin (25/11), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali gelar Turnamen Futsal Angkatan. Event yang dimotori oleh Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) tersebut merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari proker departemen. Digelar di Gedung Olahraga (GOR) UIN Sunan Kalijaga, turnamen ini diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan sebagian alumni yang masih berdomisili di Yogyakarta atau sengaja menyempatkan diri ke Yogyakarta di tengah-tengah kesibukannya. “Mumpung gak ada kegiatan di rumah, pas ada futsal juga si”, ujar Kaysie, alumni angkatan 2012 yang sekarang berdomisili di Malang.
Sebelum turnamen dimulai, acara dibuka sambutan dan tendangan finalti oleh Azam, wakil ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Nyanyian mars CSSMoRA dan lagu Indonesia Raya juga turut menambah semangat diawal pertandingan. Dipimpin oleh Suriyanti dan Karin, seremonil/pembukaan yang dimulai pukul 09.00 tersebut ditutup dan dilanjutkan dengan pertandingan.
Tidak ada yang berbeda dari turnamen futsal tahun ini. Semua angkatan baik putra maupun putri bertemu dalam pertandingan. Keseluruhan, team putra berjumlah lima team (terdiri dari alumni, angkatan 2014, 2015, 2016 dan 2017), sedangkan team putri berjumlah empat team (angkatan 2014, 2015, 2016, dan 2017. Total permainan sebanyak 16 pertandingan selama kurang lebih sepuluh jam.
Turnamen berjalan lancar, walaupun sempat terjadi gesekan antar pemain di salah satu sesi pertandingan. Selama pertandingan, sorak sorai supporter juga terdengar riuh memenuhi langit-langit GOR UIN Sunan Kalijaga. Berbagai atribut dikenakan oleh para supporter, seperti botol, panci, tali rafia dan berbagai properti lainnya yang menambah semarak lapangan.  Tidak jarang juga dari masing-masing angkatan menyanyikan yel-yelnya sebagai dukungan team mereka. “Aku sorak-sorak itu ya demi kelas, demi mereka yang ku anggap keluarga. Setidaknya kita memberikan semangat yang positif ke teman-teman yang sedang “berjuang” demi angkatan”, tutur Khairun Nisa, salah satu supporter dari angkatan 2014.
Sebagai penutup acara, panitia mengumumkan para juara turnamen kali ini. Ada enam kategori juara dalam turnamen ini. Juara 1 putra diraih oleh angkatan 2014, begitupula juara 1 putri. Juara top scorrer diraih oleh Alif Jabal Kurdi (angakatan 2016), sedangkan juara kategori pemain terfavorit diraih oleh Nur Azka Inayatussahara (angkatan 2016). Selain itu, terdapat kategori juara bagi angkatan, koreografi terbaik dan team tersportif. Kategori pertama diraih oleh angkatan 2015 sedangkan yang terakhir diraih oleh angkatan 2017. Sampai berita ini dipublikasikan, masih ada dua kategori juara yang on going, yaitu kategori foto terbaik dan caption termenarik yang diupload di akun instagram. Nyanyian mars CSSMoRA kembali menggema di lapangan sebagai penutup acara. Selain sebagai penutup, nyanyian tersebut menyatukan kembali persaudaraan yang sempat terpecah selama pertandingan berlangsung.

Acara ini bukan tanpa tujuan. “Tujuan utamanya sih, mempererat tali silaturami antar angkatan dan alumni yang dibalut dengan turnamen. Selain itu, juga memperkuat hubungan silaturahmi di masing-masing angkatan”, kata Ramzy, ketua panitia sekaligus koordinator Departemen KOMINFO. Dia berharap, turnamen selanjutnya dapat lebih baik dan meriah. Selain itu, on time kedatangan dari seluruh anggota juga menjadi satu hal penting yang perlu disadari.  “Pertandingan hanya sepuluh jam, selebihnya kita saudara. Jangan sampai turnamen ini malah bias sampai perpecahan di luar lapangan”, ujarnya di akhir acara. “Ini kan pertandingan persahabatan, yo di bawa heppy aja. Jangan sampai terbawa emosi, toh kita juga satu keluarga”, kata Akrima, angkatan 2017 ketika ditanya kunci sportifitas team. [red]

Minggu, 19 November 2017

Departemen KOMINFO CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan Ngaji Design Jilid 1

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net –Kemarin (19/11) Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga telah melaksanakan kegiatan Ngaji Design yang merupakan proker terbaru dan perdana di CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh angkatan 2017 dan sunnah bagi angkatan lainnya. Namun, pada kegiatan perdana hari ini belum ada dari angkatan lain yang mengikuti Ngaji Design karena kepentingan yang lain juga cuaca yang tidak mendukung. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa pihak dari BPH, yaitu Wakil Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Dilaksanakan di LSQ, Ngaji Design perdana ini dibimbing oleh Sdr. Nanda Ahmad Basuki (angkatan 2015) yang dulunya pernah menjabat sebagai sekertaris KOMINFO periode 2016/2017.

Walau mengalami beberapa kendala di awal, kegiatan berjalan lancar hingga akhir. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat peserta dalam mengaplikasikan corel secara langsung dibawah bimbingan Sdr. Nanda. Acara ini berlangsung mulai pukul 10:15 wib –bergeser dari perkiraan awal, yaitu pukul 08:00 wib karena sempat terjadi kesalah teknis- dan berakhir pukul 12:30 wib. Diharapkan setelah adanya Ngaji Design ini, para peserta mampu memiliki output dalam bidang design grafis, baik itu mendesign pamphlet dan lain sebagainya. Ramzy, selaku koordinator Departemen KOMINFO menjelaskan bahwa alasan diadakan Ngaji Design ini karena ia melihat kurangnya anggota CSSMoRA UIN Suka yang mahir dalam bidang design grafis. Ia juga menambahkan, bahwa fenomena ini dapat dilihat secara nyata dalam penunjukan sebuah kepanitian sebuah event yang diadakan CSSMoRA UIN Suka khususnya panitia divisi Pubdekdok yang mana selalu diisi oleh orang yang sama.

Kenapa Ngaji Design ini diwajibkan (read: memfokuskan) bagi angkatan 2017? Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. “Angkatan 2017 adalah angkatan paling muda. Mereka merupakan penerus CSS, supaya anggota tua (read: 2016 ke atas) yang telah mahir dapat memiliki pengganti dengan cepat. Berganti dengan tunas baru (angkatan 2017)” Terang Ramzy.

Selain itu, jika peminat dari Ngaji Design ini banyak, Departemen KOMINFO juga berencana untuk membuat Club Design sebagai wadah bagi mereka yang menyukai design grafis.


Setelah Ngaji design jilid 1 ini, Ngaji Design jilid 2 dan 3 juga akan segera dilaksanakan di bulan-bulan berikutnya dengan perkiraaan waktu kondisional.

Sabtu, 18 November 2017

Simaan Rutinan Bulan Ke-3 Kembali Dihelat

Pagi tadi, Sabtu (18/11) telah dilaksanakan kegiatan rutin oleh CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Yakni simaan dan sowan dosen. Simaan adalah salah satu program kerja Departemen PSDM CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman dosen-dosen yang mengajar anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Bulan November ini simaan dilaksanakan di kediaman bapak Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag. Kegiatan ini dihadiri oleh 27 anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Simaan dimulai pukul 10.30 wib dari perkiraan jam 08.00. Sebelum dimulai pembacaan al-Quran, simaan tersebut diawali dengan pembacaan wasilah yang dipimpin langsung oleh Bapak Fatih, sapaan akrab beliau. Kemudian dibagi berdasarkan kelompok yang telah ditentukan beberapa hari sebelumnya. Simaan tersebut juga dibagi dalam dua kelompok besar, bi al-Ghaib dan bi an-Nazhar. Antusiasme anggota CSSMoRA cukup mengalami penurunan pada pelaksanaan simaan bulan ini. Dari target 40 peserta, hanya 27 orang yang hadir disebabkan beberapa hal dan kepentingan yang tidak dapat ditinggalkan. Tentu saja, hal ini menjadi PR bersama seluruh anggota dan pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga agar pelaksanaan selanjutnya semakin meriah dan dihadiri lebih banyak peserta lagi. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para mahasiswa yang hadir. Hal ini ditunjukkan dengan semangat yang terlihat ketika para mahasiswa membaca bagian bi al-Ghaib yang kemudian dilanjutkan dengan membaca bagian bi an-Nazhar. Dalam sambutannya, kepala prodi Ilmu Hadis UIN SUKA tersebut menyampaikan bahwa seluruh anggota CSSMoRA yang notabene merupakan mahasiswa yang mendapat anugerah beasiswa harus mampu menyelesaikan studinya tepat waktu. Biarlah segala sesuatu yang telah terjadi menjadi pelajaran, bukan tradisi yang seharusnya dilestarikan. Beliau juga menyampaikan bahwa agenda ini adalah agenda yang sangat bagus dan perlu dikembangkan. Baik dari segi konsep dan segala sisi. Agar ke depan acara tersebut meriah, terang Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia tersebut. Setelah semua proses pembacaan al-Quran selesai, agenda simaan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil. Tahlil dipimpin oleh saudara Taufikurrahman, mahasiswa angkatan 2014. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Doa juga dipimpin oleh beliau Bapak Fatih sebagai penutup rangkaian susunan acara simaan pagi tadi. Kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan foto bersama.

Selasa, 14 November 2017

Buletin Sarung Edisi 13 November 2017

Buletin Sarung Edisi 13 November 2017

Untuk Buletin Sarung Edisi 13 November 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017

Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017

Untuk Buletin Sarung Edisi 28 Oktober 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017

Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017

Untuk Buletin Sarung Edisi 14 Oktober 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 30 September 2017

Buletin Sarung Edisi 30 September 2017

Untuk buletin sarung edisi 30 September 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini


Untuk buletin sarung edisi 30 September 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Sabtu, 11 November 2017

Gerakan Internalisasi CSSMoRA, UNAIR Kunjungi UIN Suka

           
 Yogyakarta-Hari ini (11/11), Kegiatan Studi Banding kembali diadakan oleh anak CSSMoRA Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR). Pada kesempatan kali ini mereka berkunjung ke rumah CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara yang bertempat di Ruang Rapat lantai 3 gedung PKSI dimulai pukul 08.00 wib dengan pembacaan ayat suci al-Quran oleh saudara Abdi Nur Muhammad, salah seorang anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA tak lupa juga jargon “loyalitas tanpa batas” di akhir lagu. Setelah itu sambutan-sambutan yang diawali oleh saudara Aufar Fadhlul Hadi sebagai ketua panitia.
            Dalam sambutannya, saudara Aufar menjelaskan tujuan diadakannya acara tersebut, yaitu menambah wawasan keilmuan dari anggota CSSMoRA PTN lain. Selain itu pastinya juga untuk menjalin silaturahmi antar sesama anggota. Di akhir sambutannya beliau juga menjelaskan tentang pentingnya moment. “ Mudah-mudahan nanti di masa yang akan datang ada teman kita yang menjadi Gubernur dan kita turut berbangga karena kita pernah satu acara dengan orang itu," tuturnya dengan tersenyum. Sambutan dilanjutkan oleh ketua CSSMoRA UNAIR saudara Sahlan Yahya.
             Sahlan menuturkan tentang pentingnya tafaqqahu fi ad-Din. Hal tersebut juga termasuk dalam tujuan diadakannya studi banding ini. Tidak lupa juga mas Sahlan mewakili para anggota mengucapkan terimakasih karena telah disambut dengan meriah. Selanjutnya sambutan dari ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga saudari Melati Ismaila Rafii.
            Saudari Mela menuturkan pentingnya memuliakan tamu dengan mangutip sebuah hadis. Untuk itu acara ini diusahakan oleh anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga agar berjalan dengan meriah. Terakhir sambutan dari saudara Annas Rolli muchlisin selaku ketua CSSMoRA Nasional yang  turut hadir dalam kegiatan tersebut.
            Apresiasi yang sangat tinggi diberikan oleh saudara Annas atas terselenggaranya acara ini. “ Acara ini sangat bagus dan juga sejalan dengan proker nasional yaitu memahami internalisasi antar anggota CSSMoRA” tuturnya dengan semangat. Acara ini diharapkan dapat berjalan dengan istiqomah, mungkin tidak hanya anggota CSSMoRA UNAIR yang bertandang tetapi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga juga diharapkan berkunjung ke tempat CSSMoRA PTN lain agar terjalin kebersamaan.

            Kemudian acara dilanjutkan dengan perkenalan anggota dari masing-masing PTN. Pada sesi ini dipimpin oleh saudara Farid Abdullah. Acara berjalan dengan dilingkupi canda tawa dan juga meriah. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengenalan proker dari masing-masing PTN dan tanya-jawab setelahnya. Setelah itu acara di akhiri dengan penyerahan plakat sebagai simbol kenang-kenangan dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama di halaman kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. /Mbs

Senin, 06 November 2017

KENCAN Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta- Kemarin (5/11), Kegiatan Evaluasi dan Perencanaan (KENCAN) kembali diadakan oleh CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Acara tersebut bertempat di Kafe Mato Sleman. Agenda rutinan yang diselenggarakan setiap satu bulan sekali oleh Badan Pengurus Harian (BPH), Koordinator dan Sekeretaris  Departemen, di bulan ketiga ini dihadiri oleh seluruh pengurus masa bakti 2017-2018.
Dalam kegiatan itu, masing-masing Departemen menyampaikan Program Kerja (PROKER) yang telah terealisasi. Selain itu, mereka juga menyebutkan proker yang masih dalam tahap perencanaan. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi benturan antar proker, sehingga masing-masing proker dapat berjalan maksimal.
Acara dimulai pada pukul 10.00 wib. dengan dibuka oleh Imdad, Sekretaris CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Pemaparan pertama oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) yang diwakili oleh Ikhsan selaku Koordinator. “Adanya kegiatan Bincang Enterpreneur salah satu proker PSDE yakni sebagai wadah bagi anggota CSSMoRA untuk berkarya bukan untuk mengeksploitasi anggota,” tandasnya. Dilanjutkan dengan pemaparan dari proker Pengembangan Pondok Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).  
Acara  dijeda  sejenak ketika menunjukkan pukul 12.10 wib. untuk menunaikan  salat zuhur. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian beberapa proker dari Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO), Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan Jurnalistik. Para pengurus antusias mengikuti agenda ini dengan menyampaikan aneka ragam tanggapan berupa kritik dan saran antar Departemen.
Pada akhir acara, Badan Pengurus Harian (BPH) juga ikut mengevaluasi beberapa proker yang terealisasi dan masih dalam tahap perencanaan di beberapa bulan mendatang. Di sisi lain, muncul beberapa kritik dan saran mengenai sistem dan juga beberapa kendala terkait kepengurusan periode ini. Di sisi lain, Mela selaku Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga juga mengingatkan kembali kepada seluruh pengurus agar tetap menjaga loyalitas bersama.
“Perlu membangun sense of belonging  utamanya dimulai dari  para pengurus agar lebih optimal dalam perealisasian proker,” tegas mahasiswi asal Kediri tersebut, sebelum akhirnya kegiatan ditutup tepat pada 16.20 wib.(mas)

Selasa, 31 Oktober 2017

Ikuti Event Santri Writer Summit 2017, Delegasi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Berhasil Raih Prestasi

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net – CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menorehkan sejarah di dunia literasi. Pada kesempatan kali ini, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali berbangga dengan terpilihnya Annas Rolli Muclisin sebagai juara 1 dan Muhammad Rafi sebagai juara 3 essai terbaik pada Konferensi Literasi Santri Nasional: Santri Writer Summit 2017 yang dilaksanakan pada 27-29 Oktober 2017 lalu di Universitas Indonesia, Depok. Event ini diselenggarakan oleh @santrinulis bekerja sama dengan Direktorat PD Pontren Kemenag RI. Selain Annas dan Rafi, ada tiga anggota lainnya yang juga ikut serta dalam konferensi tersebut. Mereka adalah: Alif Jabal Kurdi, Muhammad Alan Juhri, dan Yeni Angelia.

Ketika ditanya mengenai kendala dalam penulisan essainya, Alif menjawab bahwa ia tidak mempunyai kendala yang berarti. Ia juga mengaku terkesan tidak begitu serius dalam penulisannya karena essai yang ditulisnya adalah hasil kompilasi makalah semester satu dulu. Jawaban serupa namun tak sama juga datang dari Rafi. Ia mengaku tidak tahu-menahu mengenai event ini. “Pada awalnya saya sama sekali tidak mengetahui ada event ini, tetapi ketika malam terakhir pengumpulan naskah, teman-teman di kamar semuanya sedang mengerjakan. Akhirnya saya tertarik dan mulai menulis malam itu juga”.

Kelima anggota CSSMoRA UIN Suka ini memiliki kendala masing-masing yang tampak surprise bagi mereka sendiri. Yeni bahkan tidak pernah menyangka kalau essainya akan diterima dalam event yang baru pertama kali diadakan di Indonesia ini. Niat awalnya menulis essai tersebut semata-mata ingin bertemu dengan Habiburrahman El Shirazy saja, seorang novelis yang turut hadir sebagai pembicara bersama Asma Nadia, Ibrahim Malik, Prie GS, Saiful Falah (founder @santrinulis), dan Abdul Wahab. “Awal nulis essai itu karena lihat pembicaranya ada Kang Abik. Saya pribadi sangat mengagumi karya-karya beliau. Jadi waktu pengumumannya keluar saya merasa sedikit kecewa juga, saya pikir ini karena niat awal yang keliru. Tapi qadarullah, malam itu saya mendapat telepon dari panitia dan mengatakan bahwa essai saya lolos. Rasanya… tidak bisa digambarkan.” Tutur gadis berdarah minang tersebut.

Annas, selaku peraih juara pertama essai terbaik pun merasa sangat senang. Pasalnya ia tidak menyangka mampu mencapai sebuah pencapaian yang luar biasa tersebut. “Senang banget pastinya, karena semenjak menjadi ketua CSSMoRA Nasional saya sudah sangat jarang menulis. Terus sekali nulis lagi, Alhamdulillah diterima dan menjadi juara itu pastinya senang banget kan. Saya tidak memikirkan hadiahnya berupa tiket ke Singapura, bisa lolos event ini pun saya sudah bersyukur. Karena dari 357 essai yang masuk hanya 50 essai terbaik yang diterima.” Jelasnya.

Ketika ditanya mengenai motivasi yang mendorong mereka ikut serta dalam konferensi tersebut jawabannya berbeda-beda. Namun ada satu yang menarik, kelimanya sepakat bahwa selain menjadikannya sebagai pengalaman, mengikuti event ini juga untuk terus mengembangkan diri melalui literasi. Karena dengan setitik tinta mampu membangun dan mengubah peradaban.

Terakhir, kelima anggota CSSMoRA UIN Suka ini menyampaikan pesan kepada seluruh anggota CSSMoRA UIN Suka lainnya untuk terus menulis. “Menulis! Menulis! Dan menulis! Saatnya kita take action bukan hanya teori semata”. Alif dan Alan menambahkan dengan sebuah kutipan dari salah satu pembicara, “Apapun passionmu jika kamu ingin sukses maka kamu harus menjadi singa ketika siang hari –tangguh dalam menerjang proses- dan jadilah rahib saat malam hari –bersimpuh dan bertaqarrub pada Sang Ilahi-.” Ibrahim Malik.

“Semangat nulis aja, biar bisa jalan-jalan gratis.” Imbuh Alan dengan nada jenaka.


Jadi, bagaimana? Sudahkah kita menulis hari ini?

Sabtu, 28 Oktober 2017

Simaan Rutinan dan Peresmian Kantor Sekretariat CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

YOGYAKARTA - Pagi ini (28/10), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menyelenggarakan simaan rutinan. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga ini merupakan kegiatan yang diadakan secara rutin setiap bulan. Simaan bulan ini diadakan di Pendopo LSQ ar-Rohmah. Simaan kali ini juga bertepatan dengan peresmian Kantor Sekretariat CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang bertempat di LSQ ar-Rohmah .
Acara simaan dimulai pada pukul 09.50 WIB. Partisipannya terbagi menjadi lima kelompok yang masing-masing mendapat bagian membaca al-Qur’an sebanyak dua juz. Kemudian dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah, pembacaan sholawat Nabi, tahlilan,dan doa takhtim al-Quran  .
Mela (panggilan akrab Melati Ismaila Rafi’i), Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga  memberikan sambutan sebelum meresmikan Kantor Sekretariat CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Dalam sambutannya, ia mempersilahkan para anggota CSSMoRA untuk berkunjung ke kantor sekretariat CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. “Semoga dengan adanya kantor sekretariat baru ini bisa menambah semangat teman-teman dalam berCSSMoRA, sehingga kedepannya CSSMoRA menjadi lebih baik”, ujarnya dengan senyum hangat.
Sebelum prosesi pemotongan tumpeng, terlebih dahulu doa dibacakan oleh Muhammad Farid Abdillah.  “Semoga CSSMoRA menjadi organisasi yang bermanfaat, organisasi yang besar, dan juga berguna bagi nusa dan bangsa”, harapan Farid dalam doanya. Setelah itu Mela melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol diresmikannya kantor sekretariat CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga bersama dengan wakilnya, Sholahuddin Zamzabela.

Rangkaian acara ini berjalan dengan begitu lancar. Terakhir, seluruh partisipan menikmati tumpeng dan konsumsi yang telah disediakan bersama-sama. (Nil)

Menyuntik Kembali Semangat Muda-Mudi Bangsa

Oleh: Rania Nurul Rizqia*

Api semangat yang terasa pada 28 Oktober 1928 silam, nasionalisme yang begitu kuat, satu tetes keringat yang menggambarkan berjuta perjuangan, masih adakah pada diri pemuda pemudi bangsa? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sejatinya memanglah harus selalu kita pertanyakan. Bukan hanya saat ini, atau hanya saat Indonesia memperingati sumpah pemuda saja, melainkan setiap bulan, hari, bahkan jam sekalipun demi menguatkan semangat persatuan dan perjuangan untuk bumi pertiwii.
            Jika kita melihat realitas yang ada, rasanya semangat para pemuda beberapa tahun silam itu telah lama memudar dari generasi muda bangsa. Memang masih ada banyak para pemuda yang tetap memiliki semangat itu di dalam dirinya. Mengukir berbagai prestasi hingga ke taraf Internasional sekalipun. Tapi sayangnya yang viral dan selalu muncul ke permukaan adalah para pemuda pemudi yang seakan lupa siapa dirinya, lupa bahwa kemerdekaan ini harus ia hiasi dengan prestasi dan karya, bukan dengan anarki, pergaulan bebas, ataupun radikalisme yang nantinya akan menjadi bibit-bibit memecah belah bangsa. 
Sikap Individualisme masyarakat saat ini sangatlah mengakar hingga sampai kepada generasi muda mudinya. Maka tak heran bullying hingga tawuran antar pelajar menjadi hal yang tak asing lagi di telinga masyarakat. Lalu sebetulnya apa penyebab semua ini? Apakah salah negara? Atau memang salah pribadi masing-masing pemuda pemudi di Indonesia? Tentu bukan. Menurut hemat penulis semua ini disebabkan oleh problem, dimana zaman semakin berkembang, keberagaman semakin menajam sedangkan jiwa nasionalis yang dibutuhkan sebagai benteng persatuan pemuda pemudi bangsa belumlah matang secara sempurna. Pemuda Indonesia disibukkan pada dunia pergaulan yang mementingkan gengsi dan arogansi.  Memang sebagian ada yang mampu melepas diri hingga akhirnya kembali menemukan arahnya kembali menjadi wujud semangat Indonesia, tetapi masih banyak sekali pemuda-pemudi yang tetap terkurung pada ruang lingkup arogansi tersebut, dimana pada akhirnya paham-paham yang sangat bertolak belakang dengan Pancasila mampu merasuk dan tumbuh subur disana.
Beruntunglah ada perhatian para akademisi sebagai wujud keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini. Aksi kebangsaan melawan radikalisme telah diselenggarakan kemarin pada tanggal 25-26 Oktober yang bertempat di Nusa Dua Bali. Aksi tersebut dihadiri oleh 3.000 pimpinan perguruan tinggi dari berbagai penjuru Indonesia. Salah satu agenda dari kegiatan tersebut adalah rapat pleno yang menghasilkan materi kebangsaan yang utuh yang nantinya akan disosialisasikan ke setiap wilayah. Sebagai lanjutan dari kegiatan tersebut telah terselenggara kuliah akbar yang dihadiri oleh kurang lebih 4,5 juta mahasiswa se-Indonesia yang tersebar di 34 Provinsi, 350 kabupaten dan kota.

Salah satunya yakni kuliah akbar yang diselenggarakan di Stadion Mandala Krida Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober. Seluruh perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-DI Yogyakarta berkumpul untuk mendeklarasikan bahwa mereka menolak intoleransi dan radikalisme. Kuliah tersebut juga dihadiri oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, anggota Forkopimda DIY dan para pimpinan perguruan tinggi se DIY. Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan orasi di hadapan ribuan mahasiswa DI Yogyakarta.
Dalam orasinya ia berkata, “Sumpah Pemuda adalah ikrar para pemuda menyatakan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Tetapi semangat yang dibangun dengan spirit proklamasi dan gagasan indah tentang masyarakat yang damai, adil dan makmur, kini terancam menuju titik api perseteruan yang merintihkan suara kepedihan.” Sederet kalimat ini sangatlah sarat akan makna juga menunjukkan betapa hausnya beliau melihat spirit proklamasi pada pemuda bangsa. Semoga kalimat demi kalimat yang ia sampaikan mampu menyuntik semangat pemuda agar berkobar kembali, berkarya mengabdi pada bangsa.
Aksi serupa juga dilaksanakan di Provinsi Lampung tepatnya di Lapangan Bola Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Bandarlampung Sabtu (28/10/2017).  Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 20 ribu mahasiswa dari berbagai daerah Provinsi Lampung dan beberapa petinggi diantaranya hadir Kepala Inspektorat Provinsi Lampung M. Syaiful Dermawan,  Ketua DPRD, Danrem 043 Garuda Hitam, Danlanud Pangeran M Bun Yamin, para Rektor dan pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan swasta se-Lampung, unsur Forkopimda seluruh Provinsi Lampung, dan para tokoh perwakilan seluruh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Deklarasi menolak radikalisme dibacakan Ketua Yayasan Pendidikan Teknokrat Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM ini, tidak ditujukan kepada aliran atau kelompok tertentu. Ia menyatakan semua ini murni sebagai bentuk penolakan terhadap kelompok-kelompok  intoleran yang mengganggu kestabilan juga merusak kesatuan NKRI dan Pancasila.
Serangkain kegiatan yang dilaksanakan serentak di berbagai perguruan tinggi tersebut diharapkan dapat menggerus paham-paham radikalisme yang hadir di tengah masyarakat. Pemuda dijadikan tumpuan dan tonggak peradaban bangsa. Maka selayaknya pemuda harus menjaga nilai-nilai dan semangat nasionalisme persatuan yang telah dibangun 89 tahun silam. Berkarya bukan hanya untuk kelangsungan hidup tapi juga demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia. Pemuda harus mampu membawa angin segar peradaban baru, mengabdi dan melayani bangsa. Bukankah manusia terbaik adalah manusia yang mampu bermanfaat bagi orang lain? Bagi bangsa dan negara misalnya.


Sumber :


*Kader SARUNG, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2017