CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Kamis, 27 April 2017

Belajar Move On Pilkada dari Rivalitas Sepakbola



Belajar Move On Pilkada dari Rivalitas Sepak Bola
Mutawakkil Hibatullah
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga


          Rasanya sudah sangat cukup lelah dan menguras banyak energi kontestasi pilkada yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pilkada DKI tersebut dianggap yang paling menyita perhatian dari berbagai aspek, berbagai dimensi serta berbagai lapisan masyarakat. Banyak para peneliti dari berbagai media bahkan mengatakan bahwa pilkada ini rasa Pil-Pres bahkan bisa jadi lebih. Hal ini bisa terbukti dari banyaknya sorotan media dari awal masa kampanye hingga tanggal 19 April kemarin ketika secara konstitusional warga Jakarta menggunakan hak pilihnya. Bahkan bisa jadi dimulai semenjak salah satu “kasus” yang menimpa Ahok terjadi hingga saat ini masih kita semua rasakan.
            Secara pribadi, saya tidak akan membahas apakah Ahok telah menista atau tidak terhadap al-Qur’an. Saya juga tidak akan membahas apakah terjadi politisasi dari pihak Anies terhadap kasus yang sedang dijalani oleh Ahok. Karena “mungkin” jika saya membahasnya akan menimbulkan sentimen dari kedua pihak tersebut, selain memang bukanlah menjadi kapasitas saya untuk masuk kedalam ranah-ranah yang begitu dinamis dan fleksibel terebut. Dan bisa jadi juga akan menambah ke-sakit hati-an dari para supporter yang belum move on dari Pilkada tersebut.
            Ketika kontestasi serta kompetisi ada dimanapun dan kapanpun, maka sudah menjadi hal yang lumrah bahwa ada pihak pemenang dan juga pihak yang kalah. Anggaplah bahwa Pilkada ini merupakan pertandingan sepak bola yang rivalitasnya sudah tak bisa di sanksikan seperti pertandingan antara Barcelona vs Real Madrid (Spanyol), Manchester United vs Liverpool (Inggris), Ac Milan vs Inter Milan (Italia), serta Bayern Munchen vs Borussia Dortmund (Jerman). Atau dalam kompetisi sepak bola kita pertandingan antara Persib vs Persija atau Arema vs Persebaya yang tidak kalah seru serta menegangkannya.
            Saya ambil contoh satu yaitu pertandingan antara Barcelona vs Real Madrid. Harus diakui bahwa rivalitas Barcelona dan Real Madrid merupakan yang terbesar atau salah satunya yang ada dalam dunia sepak bola. Perhatian para pecinta sepak bola juga saya yakin banyak yang tidak mau meninggalkan pertandingan tersebut walau dari pendukung tim lain, misal Manchester United, seperti saya. Selain karena kesejarahannya yang sangat melekat, juga karena prestasi dan prestise yang ditonjolkan kedua tim dalam dunia sepakbola. Pemain-pemain hebat lahir, juara di berbagai kompetisi eropa dan dunia, serta basis suporter dan penghasilan tim yang begitu luar biasa. Rivalitas dua tim tersebut tersaji dalam laga yang bertajuk el-Classico setiap tahunnya.
            Lalu yang jadi pertanyaan, apa hubungannya dengan pilkada DKI tersebut ? Jawabannya mari kita urai bersama. Sudah sedikit disinggung di atas bahwa Pilkada yang terjadi tak ubahnya seperti laga el-Classico dimana perhatian masyarakat khususnya para penikmat sepak bola terfokuskan. Tak peduli dari kalangan elite atau bawah, kanan atau kiri, atas atau bawah semuanya menikmati dengan seksama hingga pertandingan usai. Adalah hal yang sudah menjadi kewajaran jika selama pertandingan para pemain dilapangan memiliki tensi tinggi bahkan tak terkecuali kepada para penonton yang mungkin banyak “ngenyek” pemain padahal belum tentu dia bisa. Hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat lumrah dalam pertandingan sepak bola apalagi jika mengingat rivalitas kedua tim ini begitu extra ordinary.
            Namun yang menarik dari el-Classico ini adalah ketika kompetisi La Liga atau Liga Champion usai. Atau lebih jelasnya ketika ada kompetisi EURO atau Piala Dunia. Pemain-pemain yang berasal dari Barca atau Madrid tersebut bisa bersama-bersama membela negaranya tanpa memandang apakah dia dari Barca atau Madrid. Bahkan bisa dibuktikan bahwa Negara Spanyol pernah meraih kejayaan di tahun 2008, 2010, dan 2012. Inilah yang sekiranya penting untuk kita ambil hikmahnya. Bagaimanapun atau seketat apapun Pilkada yang terjadi, mari kita move on jika kita sudah kembali dalam membangun daerah serta membela negeri kita tercinta.
            Begitu juga rasanya rivalitas dalam banyak tim-tim yang telah disebutkan diatas, tak terkecuali tim-tim sepakbola yang ada di negara kita. Ketika para pemain yang diambil membela tanah airnya, maka yang akan muncul adalah nasionalisme bukan justru egoisismenya. Karena ketika sudah menjadi bagian dari sebuah negara, wilayah, daerah, siapapun pemimpinnya harus didukung dan jika ada kesalahan harus diingatkan bukan malah dibesar-besarkan. Karena lagi-lagi ini karena bagi kemajuan bersama dan daerahnya bukan sebagian golongan. Tak perlu lagi kiranya ada patah hati atau eufooria berlebih hanya gara-gara pilkada. Karena yang terpenting persaudaraan dan rasa kebersamaan masih tetap terjaga sebagaimana sebelumnya. Lebih apalah-apalah jika kita bukan warga Jakarta tapi ikut baper. Bisakah kita seperti itu? atau kita kalah dari hanya “sekedar” pertandingan sepakbola? Salam Glory Glory Manchester United…

Rabu, 26 April 2017

Mengenali Diri dalam Organisasi Lewat Agenda Bernama Follow-Up Kaderisasi



Mengenali Diri dalam Organisasi
Lewat Agenda Bernama Follow-Up Kaderisasi
Oleh: Mohamad Abdul Hanif*

Follow-up ini merupakan sebuah tindak lanjut dari kaderisasi anggota baru CSSMoRA atau lebih tepatnya mahasiswa penerima PBSB di UIN Sunan Kalijaga angkatan 2016 yang telah diselenggarakan beberapa bulan yang lalu di sebuah pantai yang disebut Pantai Baru. Dalam kaderisasi ini dijelaskan berbagai hal mengenai ke-CSSMoRA-an UIN Sunan Kalijaga termasuk di dalamnya pengenalan terhadap beberapa divisi yang ada di dalam kepengurusan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (baca:UIN SUKA) seperti divisi kominfo, PSDM dan lain-lain serta perihal mengenai aktivitas yang lazimnya ada pada suatu organisasi seperti sidang dan perancangan AD ART serta lainnya.
Kaderisasi CSSMoRA ini sebenarnya merupakan kaderisasi perdana yang diadakan oleh CSSMoRA UIN SUKA. Sebelumnya, yakni pada tahun angkatan 2015 serta tahun-tahun sebelumnya tidak diadakan acara ini. Namun dengan mempertimbangkan berbagai hal yang salah satunya adalah karena sebagian PTN dan PTIN lain mitra PBSB sudah terlebih dahulu mengadakannya, maka akhirnya diadakanlah kaderisasi ini beserta follow-upnya yang diadakan berkala setiap tiga atau empat bulan sekali sebanyak tiga kali.
Sebelumnya telah dilaksanakan follow-up yang pertama di Alun-alun Kidul (Alkid) dengan materi analisis sosial, lalu beberapa bulan setelahnya diadakan follow-up yang kedua bertempat di Hutan Pinus Mangunan dengan materi persidangan dan AD ART. Dan beberapa hari yang lalu diadakan yang terakhir di tempat yang menurut sebagian anggota CSSMoRA UIN SUKA angkatan 2016 adalah tempat yang istimewa dan spesial yakni joglo Ponpes LSQ Ar-Rahmah, tempat di mana para mahasiswa santri PBSB putra mengkaji kitab-kitab kuning baik yang klasik maupun yang kontemporer, tempat di mana ketenangan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran diperoleh.
            Follow-up ketiga ini telah diselenggarakan dengan baik dan lancar pada hari senin tanggal 24 April 2017 tepatnya pada pukul 10:00 WIB di joglo LSQ Ar-Rahmah. Materi kali ini diisi dengan topik mengenai analisis diri dalam organisasi dilanjutkan setelahnya dengan sosialisasi mengenai divisi-divisi yang ada dalam kepengurusan CSSMoRA yang disampaikan oleh perwakilan dari masing-masing divisi. Materi mengenai analisis diri dalam organisasi disampaikan dengan baik oleh saudara Lukman Hakim (2014) selaku ketua CSSMoRA UIN SUKA dan dimoderatori oleh saudara Farid Abdillah. Dalam pemaparannya Lukman Hakim menjelaskan urgensi analisis diri ini, menurutnya dalam suatu organisasi seorang anggota harus mengetahui arah minat dan passion dirinya sendiri sehingga dapat menentukan pilihan akan masuk memperdalam pada divisi yang mana. Beliau menambahkan pula bahwasanya  minat dan passion seseorang tidak dapat dipaksakan, artinya jika minatnya ada pada divisi A namun dimasukkan secara paksa dalam divis B maka hasilnya tidak akan maksimal.
Setelah materi mengenai analisis diri dalam organisasi disampaikan, beranjaklah saatnya ke sesi pertanyaan. Terdapat beberapa pertanyaan yang menyeruak diajukan oleh peserta follow-up ini. Salah satu pertanyaan yang patut diinformasikan adalah mengenai otoritas dalam suatu organisasi. Problem yang diilustrasikan adalah saat seorang anggota suatu organisasi yang tidak menjabat pangkat apapun dalam struktur kepengurusan organisasi hanya sebagai anggota, namun dia menemukan adanya sebuah kejanggalan dan ketidakberesan pada diri ketua atau kebijakannya misalkan lalu dalam hati dia sebenarnya ingin memperingatkan atau merubah ketidakberesan tersebut akan tetapi di sisi lain dia tidak punya otoritas untuk melakukannya. Solusi yang ditawarkan oleh pemateri adalah dengan menyampaikan keluhan dan unek-unek tersebut kepada ketua tanpa harus ada kekhawatiran mengenai otoritas yang tidak dimiliki atau jika memang terasa kurang etis bisa disampaikan kepada orang-orang yang dekat dengan ketua tersebut.
Setelah sesi pertanyaan ini selesai, dilanjutkan lagi dengan sosialisasi divisi-divisi dalam CSSMoRA beserta program kerjanya. Sosialisasi ini dilakukan oleh perwakilan masing-masing divisi. Sejauh yang penulis ingat terdapat empat divisi yang telah mensosialisasikan dirinya dan program kerjanya, yaitu: divisi litbang, kominfo, PSDM dan P3M. Masing-masing divisi telah memaparkan dan mensosialisasikan program-program kerjanya dengan baik sehingga memunculkan beberapa pertanyaan dari peserta. Maka dibukalah sesi pertanyaan mengenai program-program kerja dari setiap divisi. Terdapat satu pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas, yakni mengenai pelatihan aplikasi-aplikasi penunjang perkuliahan seperti Maktabah Syamilah dan Mausu’ah Hadis bagi angkatan baru yang dihapuskan secara permanen dengan alasan adanya mahasiswa yang belum mempunyai laptop atau notebook. Penanya sangat menyayangkan dihapusnya program kerja produk divisi litbang ini. Pasalnya program kerja ini sangatlah bermanfaat bagi mahasiswa dan alasan penghapusannya pun -yaitu adanya beberapa yang belum punya laptop- dapat dihindari dengan melaksanakannya pada semester II sehingga seluruh mahasiswa anggota CSSMoRA UIN SUKA angkatan baru sudah mempunyai laptop semua. Pertanyaan sekaligus masukan ini pun dijawab oleh perwakilan divisi litbang dengan cukup baik. Alasan dihapusnya program kerja ini adalah problem yang telah dijelaskan sebelumnya dan alasan kenapa tidak dilaksanakan pada semester II saja adalah sistematika program kerja yang memang harus terancang dari awal mandat bukan di tengah.
Sesi pertanyaan mengenai program kerja divisi selesai pada pukul 12:10 WIB dan sesi pertanyaan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara follow-up kaderisasi CSSMoRA UIN SUKA. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan menu yang telah disediakan oleh panitia.
Terdapat satu hal yang masih sangat mengganggu di pikiran penulis. Hal itu adalah mengenai keterlambatan dimulainya acara ini. Informasi yang dipublikasikan sebelumnya adalah pukul 8:00 merupakan waktu dimulainya acara ini, namun realitasnya acara ini delay dan molor dimulai hingga jam menunjukkan pukul 10:00 WIB. Fenomena ini (baca:jam karet) mungkin sudah melekat namun tak seharusnya dilestarikan. Maka dibutuhkan tekad bersama untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini sehingga nantinya tidak berakibat fatal bagi setiap individu dan organisasi secara umum.
*Mahasiswa aktif prodi Ilmu Hadis Semester II fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

Selasa, 25 April 2017

Bercermin di Balik Cermin



Bercermin di Balik Cermin
Oleh: Hamdi Putra Ahmad
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga
 
Tiada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Antara satu individu dan individu lainnya memiliki perbedaan dan ciri khas tersendiri. Ya, begitulah fitrah setiap manusia yang ditetapkan oleh Tuhan. Fitrah yang tak satu makhluk pun dapat mengingkari apalagi memusnahkannya. Suka tak suka, sudi tak sudi, manusia akan tetap hidup dalam lingkar perbedaan yang berkepanjangan dan tak pernah usai.
Setiap individu memiliki respon yang berbeda dalam menyikapi ketetapan ini. Diantara mereka ada yang menerima dengan senang hati, dan ada pula yang sulit untuk menerimanya. Disadari atau tidak, kebanyakan manusia berada di posisi yang kedua. Menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik daripada diri sendiri adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Hal ini wajar terjadi mengingat kecenderungan manusia adalah ingin menjadi lebih unggul dari orang lain. Sehingga perbedaan karakter dan kemampuan seringkali menjadi penyebab dari munculnya rasa pesimis dan ketidakyakinan terhadap  kemampuan diri sendiri.
Menjadi sosok yang ideal dengan sejuta talenta dan bakat tentunya adalah hal yang sangat menggiurkan. Kecenderungan agar terlihat eksis di hadapan orang lain juga menjadi sebuah hal yang amat didambakan oleh setiap individu. Namun sikap seperti ini sejatinya merupakan hal yang berbahaya dan seringkali menjadi jurang penghancur bagi kehidupan. Menjadi sosok yang sempurna hanyalah suatu fatamorgana yang tidak akan memberikan hasil apa-apa selain angan-angan belaka. Alasannya hanya satu, yaitu karena kita adalah manusia yang ditakdirkan tercipta dalam keadaan yang berbeda-beda!
Kita begitu sering bercermin di balik cermin. Kita terlalu memaksakan untuk menemukan bayangan diri sendiri dengan cara berkaca kepada orang lain. Hasilnya jelas, kita tidak mungkin dapat menemukan apa yang kita cari. Seolah-olah semua kelebihan yang dimiliki orang lain juga harus menjadi milik kita. Hal itu merupakan sesuatu yang mustahil diraih dan hanya membuat diri kita sulit untuk menghargai apa yang kita miliki.
 Hal yang seharusnya dilakukan ialah dengan bercermin kepada diri sendiri, yaitu kepada hati dan akal. Bercermin kepada hati akan menumbuhkan rasa bahagia terhadap apa yang telah ditetapkan Tuhan terhadap diri kita. Sedangkan bercermin kepada akal akan membuat kita sadar akan kehebatan potensi yang kita miliki. Semua itu kemudian akan memunculkan suatu ketenangan jiwa yang dapat membangkitkan kembali semangat untuk memaksimalkan kehidupan. Suatu kelebihan yang terdapat pada diri orang lain namun tidak terdapat pada diri kita, tidak lantas menjadikan kita sebagai seseorang yang berkekurangan. Sebab, setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan orang lain tidak akan melemahkan kita, dan kelemahan orang lain juga tidak akan mampu membuat kita menjadi istimewa. Semuanya merupakan ketetapan Tuhan yang harus disyukuri.
Karenanya, berhentilah mengeluh atau berputus asa hanya karena orang lain mempunyai suatu kelebihan yang kita tidak memilikinya. Sebab, perbuatan seperti itu sama sekali tidak dapat memantulkan bayangan diri kita sendiri. Bercermin di balik cermin hanyalah suatu tindakan yang akan membuat waktu terbuang dengan sia-sia. Jika kau ingin menemukan bayangan dirimu yang sesungguhnya, maka bercerminlah kepada hati dan pikiranmu. Dengan begitu kau akan menemukan diri mu sebagai sosok yang paling istimewa yang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ketahuilah bahwa membandingkan kelemahan dirimu dengan kelebihan orang lain hanya akan membuatmu pesimis dan tidak bersyukur. Sedangkan membandingkan kelebihanmu dengan kekurangan orang lain hanya akan memunculkan kesombongan di dalam diri. So, be yourself and believe that you’re special mandkind that exists in this world!

Minggu, 23 April 2017

Kartini-kartini CSSMoRA

Kartini-kartini CSSMoRA
Oleh: Muhammad Farid Abdillah
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Mungkin sudah terlalu larut jika membicarakan kartini di tanggal yang sudah lewat dari tepatnya hari itu terjadi. Namun tidak akan pernah basi jika yang dibicarakan mengenai sebuah keluarga dengan kehangatan sepanjang masa macam kasih ibu, CSSMoRA.
Membicarakan tentang hari kartini tentu saja membicarakan seorang makhluk yang bernama perempuan. Di sisi lain, membicarakan CSSMoRA tentu saja membicarakan tentang sebuah keluarga berisikan calon orang-orang sukses harapan bangsa Indonesia. Jadi tulisan ini akan membahas tentang wanita-wanita (bukan tentang siapa itu) calon orang sukses harapan bangsa Indonesia di masa depan.
Sebagaimana ditulis di atas, CSSMoRA adalah sebuah keluarga berisikan calon-calon orang sukses. Namun, ada sisi lain yang juga perlu dilihat lebih lanjut mengenai CSSMoRA dan para perempuan di dalamnya. CSSMoRA adalah salah satu simbol persamaan derajat bagi para wanita, sebagaimana yang telah didengungkan beberapa waktu terakhir ini.
Lalu, sisi apa yang menjadi simbol kesetaraan di dalam CSSMoRA?
Semestinya kita merunut dari proses pemilihan anggota CSSMoRA atau bisa dikatakan dengan proses seleksi calon Mahasiswa Penerima Beasiswa dari Kementrian Agama Republik Indonesia ini. Nampak jelas bahwa seleksi yang diadakan tidak memandang dari jenis kelamin (mengunggulkan laki-laki). Tetapi, seleksi diadakan dengan benar-benar melihat kualitas dari sang mahasiswa itu sendiri.
Biasanya dalam tradisi CSSMoRA, sebelum aktif di perkuliahan terdapat semacam pelatihan yang diadakan guna memperkenalkan para mahasiswa dengan dunia yang akan mereka hadapi. Tradisi ini dikenal dengan istilah matrikulasi (atau dengan istilah di masing-masing universitas). Pelaksanaan matrikulasi juga tidak pernah mengesampingkan para wanita sebagai salah satu elemen kesuksesan kegiatan tersebut (khususnya bagi panitia dan peserta laki-laki, hehehe) sehingga para wanita ini dengan bebas mengutarakan pendapat dan pengetahuan yang mereka miliki.
Lebih lanjut, tugas utama mahasiswa tentu saja untuk kuliah. Sedangkan ngopi, futsal, belanja wa akhawatuha adalah media hiburan bagi mereka. Di bangku kuliah, pembagian tugas tidak memandang kasihan bagi para wanita. Mereka akan diberikan porsi yang sama mengenai tugas yang harus dikerjakan.
Tidak terkecuali bagi anggota CSSMoRA. Wanita-wanita CSSMoRA juga tidak mendapatkan perlakuan khusus di bangku kuliah (walau ini masih relatif tergantung dosennya sih). Makalah, review buku, penelitian dan segala tetek bengeknya harus mereka selesaikan. Bahkan seringkali tugas-tugas yang mereka kerjakan dianggap lebih baik daripada mahasiswa laki-laki yang selama ini menganggap lebih kuat dan pintar daripada wanita, nah loh.
Go on. Diskusi adalah ajang yang sangat tepat bagi para mahasiswa yang haus akan keilmuan dan merasa kurang dengan materi-materi yang didapat di bangku kuliah. Dalam sebuah sesi diskusi pun, wanita-wanita mendapat tempat yang sama dengan laki-laki dalam hal penyampaian pendapat. Bahkan dalam beberapa diskusi dengan ranah yang lebih besar, para wanita lah yang menjadi pembicara utamanya.
Selain sebuah keluarga dengan kehangatan yang menandingi kehangatan matahari, CSSMoRA adalah sebuah organisasi. Di sinilah letak persamaan derajat di antara dua makhluk Tuhan (mohon maaf kalau merasa tersingkirkan karena bukan dari kaum laki-laki maupun perempuan) ini. CSSMoRA sangat terbuka dengan usulan-usulan dari wanitanya CSSMoRA. Bahkan dalam beberapa kesempatan mereka dijadikan sebagai prioritas dan bukan berdasarkan kelemahannya, tetapi kecerdasannya.
Sebagai suatu organisasi, tentu saja terdapat pemilihan ketua dan pemimpin organisasi tersebut. Bukti CSSMoRA simbol persamaan terdapat pada angkatan 2011. Masa itu, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (tempat penulis bernaung) dipimpin oleh seorang wanita.
Hal ini pasti menjadi pertanyaan besar, apakah anggota CSSMoRA tidak mengenal hadis Rasulullah tentang kepemimpinan perempuan? Tentu saja kami mengetahuinya. Mohon maaf, pembahasan kami bukan apakah seorang wanita boleh dijadikan pemimpin atau tidak. Tetapi kami melihat siapa yang “Pantas dan Berkompeten” untuk dijadikan pemimpin.
Dari sekian bukti-bukti di atas mungkin bagian ini yang menjadi bagian paling indah. Selain dari bangku kuliah, ruang diskusi, dan ranah organisasi, para wanita nampaknya sudah beberapa kali melampaui kaum laki-laki. Sehingga dengung gema persamaan derajat sudah harus sedikit dilupakan. Berkali-kali anggota keluarga CSSMoRA menjadi pemenang di berbagai event perlombaan. Tak tanggung-tanggung, event nasional bahkan internasional pun dilahap habis.
Perlombaan yang diikuti pun dari berbagai ranah. Debat, pidato, karya tulis, hingga lomba baca kitab kuning pun sudah berada digenggaman. Dan yang menjadi tambahan kebahagiaan adalah mereka para wanita juaranya. Nah, bagaimana dengan yang laki-laki? mereka si cucu Nabi Adam pun tak mau kalah. Mereka juga menjadi yang terdepan dalam hal lomba-lomba.
Sampai di sini, agaknya sudah tercapai maksud dari penulis. Masihkah menuntut persamaan derajat antara laki-laki dan wanita? Sudahlah, kalian diciptakan sebagai makhluk spesial oleh Tuhan. Ya, spesial. Seperti, ah sudahlah.