Selasa, 25 April 2017

Bercermin di Balik Cermin



Bercermin di Balik Cermin
Oleh: Hamdi Putra Ahmad
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga
 
Tiada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Antara satu individu dan individu lainnya memiliki perbedaan dan ciri khas tersendiri. Ya, begitulah fitrah setiap manusia yang ditetapkan oleh Tuhan. Fitrah yang tak satu makhluk pun dapat mengingkari apalagi memusnahkannya. Suka tak suka, sudi tak sudi, manusia akan tetap hidup dalam lingkar perbedaan yang berkepanjangan dan tak pernah usai.
Setiap individu memiliki respon yang berbeda dalam menyikapi ketetapan ini. Diantara mereka ada yang menerima dengan senang hati, dan ada pula yang sulit untuk menerimanya. Disadari atau tidak, kebanyakan manusia berada di posisi yang kedua. Menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik daripada diri sendiri adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Hal ini wajar terjadi mengingat kecenderungan manusia adalah ingin menjadi lebih unggul dari orang lain. Sehingga perbedaan karakter dan kemampuan seringkali menjadi penyebab dari munculnya rasa pesimis dan ketidakyakinan terhadap  kemampuan diri sendiri.
Menjadi sosok yang ideal dengan sejuta talenta dan bakat tentunya adalah hal yang sangat menggiurkan. Kecenderungan agar terlihat eksis di hadapan orang lain juga menjadi sebuah hal yang amat didambakan oleh setiap individu. Namun sikap seperti ini sejatinya merupakan hal yang berbahaya dan seringkali menjadi jurang penghancur bagi kehidupan. Menjadi sosok yang sempurna hanyalah suatu fatamorgana yang tidak akan memberikan hasil apa-apa selain angan-angan belaka. Alasannya hanya satu, yaitu karena kita adalah manusia yang ditakdirkan tercipta dalam keadaan yang berbeda-beda!
Kita begitu sering bercermin di balik cermin. Kita terlalu memaksakan untuk menemukan bayangan diri sendiri dengan cara berkaca kepada orang lain. Hasilnya jelas, kita tidak mungkin dapat menemukan apa yang kita cari. Seolah-olah semua kelebihan yang dimiliki orang lain juga harus menjadi milik kita. Hal itu merupakan sesuatu yang mustahil diraih dan hanya membuat diri kita sulit untuk menghargai apa yang kita miliki.
 Hal yang seharusnya dilakukan ialah dengan bercermin kepada diri sendiri, yaitu kepada hati dan akal. Bercermin kepada hati akan menumbuhkan rasa bahagia terhadap apa yang telah ditetapkan Tuhan terhadap diri kita. Sedangkan bercermin kepada akal akan membuat kita sadar akan kehebatan potensi yang kita miliki. Semua itu kemudian akan memunculkan suatu ketenangan jiwa yang dapat membangkitkan kembali semangat untuk memaksimalkan kehidupan. Suatu kelebihan yang terdapat pada diri orang lain namun tidak terdapat pada diri kita, tidak lantas menjadikan kita sebagai seseorang yang berkekurangan. Sebab, setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan orang lain tidak akan melemahkan kita, dan kelemahan orang lain juga tidak akan mampu membuat kita menjadi istimewa. Semuanya merupakan ketetapan Tuhan yang harus disyukuri.
Karenanya, berhentilah mengeluh atau berputus asa hanya karena orang lain mempunyai suatu kelebihan yang kita tidak memilikinya. Sebab, perbuatan seperti itu sama sekali tidak dapat memantulkan bayangan diri kita sendiri. Bercermin di balik cermin hanyalah suatu tindakan yang akan membuat waktu terbuang dengan sia-sia. Jika kau ingin menemukan bayangan dirimu yang sesungguhnya, maka bercerminlah kepada hati dan pikiranmu. Dengan begitu kau akan menemukan diri mu sebagai sosok yang paling istimewa yang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ketahuilah bahwa membandingkan kelemahan dirimu dengan kelebihan orang lain hanya akan membuatmu pesimis dan tidak bersyukur. Sedangkan membandingkan kelebihanmu dengan kekurangan orang lain hanya akan memunculkan kesombongan di dalam diri. So, be yourself and believe that you’re special mandkind that exists in this world!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar