Minggu, 23 April 2017

Kartini : Antara Bakti dan Emansipasi



Kartini : Antara Bakti dan Emansipasi


Oleh: Melati Ismaila Rafi`i
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga



                “Kartini, apa yang dapat kau pelajari dari aksara Belanda?”
                “Kebebasan.”
                “Kau tahu apa yang tak dapat kau temukan disana namun ada pada bangsa kita?”
                “Tidak, Bu.”
                “Bakti.”
Seluruh bangsa Indonesia mengenal 21 April sebagai sebuah hari dimana emansipasi dielu-elukan di seluruh penjuru negeri. Sembari mengenang kembali perjuangan seorang Putri Bupati Jepara yang di masa itu berjuang demi sebuah kesetaraan hak pada zaman berlakunya adat feodal. Pada 21 April 1879, lahirlah Kartini yang di kemudian hari dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan RI.
Kartini yang hidup dalam tulisan-tulisannya berjuang melalui tangan Belanda, yang pada masa itu telah peduli pada pendidikan perempuan. Berangkat dari kegelisahannya dengan kondisi perempuan yang lahir di dunia ini dengan satu tujuan; menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya dan menjadi istri yang entah keberapa. Kemudian ia berfikir bahwa keadaan perempuan yang demikian ini disebabkan karena mereka bodoh dan memiliki ketergantungan pada kaum lelaki. Maka baginya satu-satunya pintu yang dapat menyelamatkan mereka dari kegelapan itu adalah pendidikan. Disana Kartini mencoba keluar dari adat yang telah berjalan turun-temurun khususnya di keluarganya yang merupakan kalangan bangsawan. Dengan upayanya sendiri serta bantuan orang-orang di sekitarnya, mimpi itu dapat diwujudkan.
Disinilah kita terkadang alpa dengan sosok laki-laki dibalik perjuangan Kartini. Sang Ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat lah yang mendukung segala cita-cita putrinya. Tanpa restu dan dukungan penuh dari ayahnya, Kartini tak akan bisa mengirimkan tulisannya untuk diterbitkan di Belanda, salah satunya di majalah De Hollandsche Lelie. Ia juga tidak akan bisa bertemu dengan Mr. J.H Abendanon yang di kemudian hari menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini. Begitu pula dengan sang kakak, R. M Pandji Sosrokartono yang menghadiahkan buku-buku kepada adiknya. Disanalah awal mula pemikiran-pemikiran Kartini lahir. Juga tak lupa, suami beliau K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang mendukung cita-cita Kartini dengan mengijinkan Kartini mendirikan sekolah perempuan di Pendopo Kabupaten Rembang. Peran merekalah yang sangat penting dalam perjuangan Kartini. Sangat egois rasanya kalau ada yang mengatakan bahwa Kartini hanya berjuang sendiri, tanpa peran laki-laki hebat di sekelilingnya.
Namun dibalik label sebagai ‘pendekar bagi kaumnya’ yaitu perempuan, ia juga telah memiliki jiwa untuk memperjuangkan nasib rakyat, baik laki-laki maupun perempuan. Sejak kecil, sang ayah telah mengenalkan rakyat secara lebih dekat pada putri-putrinya. Beliau mengajak Kartini dan adik-adiknya menjenguk keadaan kabupaten ketika dilanda suatu bencana. Dalam suatu surat yang ditulis oleh Kartini, ia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan seorang anak kecil yang memikul rumput untuk dijual. Disana ia tersadar bahwa selama ini terlalu mementingkan egoismenya sendiri, sedangkan pada saat yang sama di sekitarnya banyak rakyat yang sedang menderita.
“...Kami beri dia makan, tetapi tidak dimakan, melainkan dibawanya pulang. Saya ikuti dengan mata anak itu dengan pikulan dan aritnya, sampai saya tidak melihatnya lagi. Apa saja yang bergolak dalam kepala dan hati saya! Saya merasa malu sedalam-dalamnya mengenai egoisme saya. Saya memikirkan dan merenungkan keadaan saya sendiri, sedang pada ketika itu di sekitar saya begitu banyak orang yang menderita dan harus sangat dikasihani!...”
Sebagai seorang perempuan yang menginginkan ‘kebebasan’, Kartini juga sempat menolak untuk menikah. Ketika berada dalam pingitan ia juga sempat tak setuju bahkan marah pada sang ibu. Sebuah kondisi yang wajar ketika seseorang bertekad akan sesuatu yang amat diinginkannya. Namun lewat sosok ibunya jugalah ia belajar bagaimana perempuan seharusnya ‘berbuat’ dan memegang peran. Hal ini disadari setelah sang ibu melahirkan adiknya, Rawito yang sejak kecil sering sakit-sakitan. Dalam keadaan ini ia melihat sang ibu tak pernah tidur dan selalu merawat adiknya dengan penuh kesabaran. Kartini kemudian tersadar dan berfikir bahwa pasti ibunya melakukan hal yang sama kepadanya ketika masih kecil. Maka lewat kelahiran Rawito inilah Kartini belajar untuk tidak berfikir egosentris, melihat setiap masalah dari sudut pandang pihak-pihak lain, menjadi toleran terhadap pendirian lain, merasa berterimakasih terhadap pengorbanan orang lain, dan belajar seperti ibu, berkorban tanpa mengharapkan balas.
                Pada akhirnya Kartini pun membuktikan perannya. Bukan hanya sebagai pejuang emansipasi, namun juga sebagai perempuan yang melaksanakan baktinya, menikah dan dan menjadi seorang ibu, memiliki seorang anak. Ketika perempuan kini menyerukan kesetaraan hak, terkadang mereka melupakan kodratnya sendiri untuk berbakti, suatu nilai yang juga diajarkan oleh Kartini. Nilai-nilai luhur bangsa yang tidak diajarkan dalam aksara Belanda adalah bakti. Bakti anak pada orang tua mereka, bakti murid pada gurunya, bakti rakyat pada negerinya, bakti pemimpin pada tanggungjawabnya, dan segenap bakti yang akan beriringan indah dengan emansipasi. Dari sinilah baik kaum perempuan maupun laki-laki dapat mengenal lebih jauh bahwa bakti merupakan kekayaan batin yang lebih berharga dari sekedar ilmu.
                Tulisan sederhana ini, didedikasikan untuk perempuan, juga laki-laki. Untuk mereka yang hendak menguatkan pengetahuan dan emansipasi melalui bangku pendidikan. Bahwa jangan melupakan bakti, satu nilai penting yang juga diajarkan oleh Kartini.

Reaksi:

1 komentar: