Minggu, 23 April 2017

Kartini-kartini CSSMoRA

Kartini-kartini CSSMoRA
Oleh: Muhammad Farid Abdillah
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Mungkin sudah terlalu larut jika membicarakan kartini di tanggal yang sudah lewat dari tepatnya hari itu terjadi. Namun tidak akan pernah basi jika yang dibicarakan mengenai sebuah keluarga dengan kehangatan sepanjang masa macam kasih ibu, CSSMoRA.
Membicarakan tentang hari kartini tentu saja membicarakan seorang makhluk yang bernama perempuan. Di sisi lain, membicarakan CSSMoRA tentu saja membicarakan tentang sebuah keluarga berisikan calon orang-orang sukses harapan bangsa Indonesia. Jadi tulisan ini akan membahas tentang wanita-wanita (bukan tentang siapa itu) calon orang sukses harapan bangsa Indonesia di masa depan.
Sebagaimana ditulis di atas, CSSMoRA adalah sebuah keluarga berisikan calon-calon orang sukses. Namun, ada sisi lain yang juga perlu dilihat lebih lanjut mengenai CSSMoRA dan para perempuan di dalamnya. CSSMoRA adalah salah satu simbol persamaan derajat bagi para wanita, sebagaimana yang telah didengungkan beberapa waktu terakhir ini.
Lalu, sisi apa yang menjadi simbol kesetaraan di dalam CSSMoRA?
Semestinya kita merunut dari proses pemilihan anggota CSSMoRA atau bisa dikatakan dengan proses seleksi calon Mahasiswa Penerima Beasiswa dari Kementrian Agama Republik Indonesia ini. Nampak jelas bahwa seleksi yang diadakan tidak memandang dari jenis kelamin (mengunggulkan laki-laki). Tetapi, seleksi diadakan dengan benar-benar melihat kualitas dari sang mahasiswa itu sendiri.
Biasanya dalam tradisi CSSMoRA, sebelum aktif di perkuliahan terdapat semacam pelatihan yang diadakan guna memperkenalkan para mahasiswa dengan dunia yang akan mereka hadapi. Tradisi ini dikenal dengan istilah matrikulasi (atau dengan istilah di masing-masing universitas). Pelaksanaan matrikulasi juga tidak pernah mengesampingkan para wanita sebagai salah satu elemen kesuksesan kegiatan tersebut (khususnya bagi panitia dan peserta laki-laki, hehehe) sehingga para wanita ini dengan bebas mengutarakan pendapat dan pengetahuan yang mereka miliki.
Lebih lanjut, tugas utama mahasiswa tentu saja untuk kuliah. Sedangkan ngopi, futsal, belanja wa akhawatuha adalah media hiburan bagi mereka. Di bangku kuliah, pembagian tugas tidak memandang kasihan bagi para wanita. Mereka akan diberikan porsi yang sama mengenai tugas yang harus dikerjakan.
Tidak terkecuali bagi anggota CSSMoRA. Wanita-wanita CSSMoRA juga tidak mendapatkan perlakuan khusus di bangku kuliah (walau ini masih relatif tergantung dosennya sih). Makalah, review buku, penelitian dan segala tetek bengeknya harus mereka selesaikan. Bahkan seringkali tugas-tugas yang mereka kerjakan dianggap lebih baik daripada mahasiswa laki-laki yang selama ini menganggap lebih kuat dan pintar daripada wanita, nah loh.
Go on. Diskusi adalah ajang yang sangat tepat bagi para mahasiswa yang haus akan keilmuan dan merasa kurang dengan materi-materi yang didapat di bangku kuliah. Dalam sebuah sesi diskusi pun, wanita-wanita mendapat tempat yang sama dengan laki-laki dalam hal penyampaian pendapat. Bahkan dalam beberapa diskusi dengan ranah yang lebih besar, para wanita lah yang menjadi pembicara utamanya.
Selain sebuah keluarga dengan kehangatan yang menandingi kehangatan matahari, CSSMoRA adalah sebuah organisasi. Di sinilah letak persamaan derajat di antara dua makhluk Tuhan (mohon maaf kalau merasa tersingkirkan karena bukan dari kaum laki-laki maupun perempuan) ini. CSSMoRA sangat terbuka dengan usulan-usulan dari wanitanya CSSMoRA. Bahkan dalam beberapa kesempatan mereka dijadikan sebagai prioritas dan bukan berdasarkan kelemahannya, tetapi kecerdasannya.
Sebagai suatu organisasi, tentu saja terdapat pemilihan ketua dan pemimpin organisasi tersebut. Bukti CSSMoRA simbol persamaan terdapat pada angkatan 2011. Masa itu, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (tempat penulis bernaung) dipimpin oleh seorang wanita.
Hal ini pasti menjadi pertanyaan besar, apakah anggota CSSMoRA tidak mengenal hadis Rasulullah tentang kepemimpinan perempuan? Tentu saja kami mengetahuinya. Mohon maaf, pembahasan kami bukan apakah seorang wanita boleh dijadikan pemimpin atau tidak. Tetapi kami melihat siapa yang “Pantas dan Berkompeten” untuk dijadikan pemimpin.
Dari sekian bukti-bukti di atas mungkin bagian ini yang menjadi bagian paling indah. Selain dari bangku kuliah, ruang diskusi, dan ranah organisasi, para wanita nampaknya sudah beberapa kali melampaui kaum laki-laki. Sehingga dengung gema persamaan derajat sudah harus sedikit dilupakan. Berkali-kali anggota keluarga CSSMoRA menjadi pemenang di berbagai event perlombaan. Tak tanggung-tanggung, event nasional bahkan internasional pun dilahap habis.
Perlombaan yang diikuti pun dari berbagai ranah. Debat, pidato, karya tulis, hingga lomba baca kitab kuning pun sudah berada digenggaman. Dan yang menjadi tambahan kebahagiaan adalah mereka para wanita juaranya. Nah, bagaimana dengan yang laki-laki? mereka si cucu Nabi Adam pun tak mau kalah. Mereka juga menjadi yang terdepan dalam hal lomba-lomba.
Sampai di sini, agaknya sudah tercapai maksud dari penulis. Masihkah menuntut persamaan derajat antara laki-laki dan wanita? Sudahlah, kalian diciptakan sebagai makhluk spesial oleh Tuhan. Ya, spesial. Seperti, ah sudahlah.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar