CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Sabtu, 24 Juni 2017

Hari Raya, antara Sukacita serta Dukacita



 Oleh : Mutawakkil Hibatullah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

               Tanggal 25 Juni 2017 telah resmi ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai hari raya Idul Fitri 1438 H melalui sidang itsbat. Lantunan takbir dari berbagai penjuru mulai berkumandang sebagai tanda esok hari adalah Idul Fitri. Semarak kembang api pun tak kalah memanjakan mata, di atas langit Jogja ini. Ada rasa bahagia namun juga ada nestapa. Bukan hanya karena tidak pulang dari tanah perantauan, tapi karena bulan ramadhan serasa begitu cepat pergi. Bahkan dalam sebuah ungkapan hadis atau maqolah, dikatakan bahwa; Jika manusia mengetahui apa (rahasia) yang ada di bulan ramadhan, niscaya ia menginginkan ramadhan selama setahun penuh.
            Banyak sekali keistimewaan yang terjadi dalam bulan ramadhan. Dari mulai perintah ibadah puasa, peristiwa turunnya al-Qur’an, adanya malam lailatul qadar serta pahala-pahala yang begitu berlimpah yang Allah janjikan selama bulan ramadhan. Peristiwa-peristiwa ini tentu tidak terjadi di dalam bulan-bulan lainnya. Indikasi ini menegaskan bahwa bulan ramadhan tidak hanya istimewa, namun juga sarat akan makna.
            Kita semua sadari bahwa bulan ramadhan merupakan bulan penuh dengan berbagai kebaikan.  Bahkan kalau kita amati bersama, ramadhan adalah salah satu stimulus bagi manusia khususnya umat Islam dalam meningkatkan keimanan serta ketakwaannya kepada Allah SWT. Dari ibadah puasa yang asalnya adalah ibadah individual dapat menjadi ibadah yang penuh dengan kegiatan sosial. Hal ini dapat kita lihat dari antusiasnya masjid-masjid, instansi-instansi maupun relawan-relawan yang membagikan makanan untuk berbuka maupun sahur secara cuma-cuma. Belum lagi masjid-masjid, ataupun majlis-majlis yang mengadakan kegiatan pengajian selama bulan ramadhan. Bahkan, menjelang ‘asyr al-awakhir (sepuluh hari terakhir) di bulan ramadhan, banyak masjid yang penuh dengan masyarakat yang melakukan I’tikaf. Tentunya hal ini merupakan pemandangan yang sangat jarang kita temukan di hari-hari selain ramadhan.
            Kalau kita coba renungkan, setidaknya ada sedikit perubahan dalam diri manusia secara umum selama ramadhan berlangsung. Dari yang tadinya sangat jarang membaca al-Qur’an menjadi agak sering, dari yang tadinya agak sering menjadi rutin, dari yang tadinya rutin bisa jadi berlipat-lipat. Ada juga shalat tarawih setiap malam bahkan tidak sedikit yang melanjutkan qiyamul lail. Bahkan identitas terpenting adalah puasa; dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, ditambah dengan cuaca yang cukup panas ataupun waktu puasa yang panjang seperti di sebagian wilayah Eropa bisa dilalui dengan penuh kekhidmatan. Inilah beberapa wujud keistimewaan dari bulan ramadhan. Secara zahiriyah maupun batiniyah kita dapat menjalankan ibadah-ibadah yang mungkin di bulan-bulan lain sulit untuk dilakukan.
            Sisi lain dari ramadhan berakhir adalah datangnya hari kemenangan yaitu hari raya Idul Fitri. Tentunya ini juga perlu disyukuri atas pencapaian dari ibadah yang selama satu bulan dilakukan. Bahkan dalam tradisi kita, menghormati hari raya ini sangat bervariatif. Dari mulai kumpul keluarga dikampung halaman (mudik), membeli pakaian baru, hingga membeli aneka makanan untuk dinikmati bersama. Ada rasa syukur yang termanifestasi dalam setiap hal tersebut. Rasa syukur dapat bertemu, bercengkerama, saling memaafkan sesama keluarga, sanak saudara maupun tetangga. Ada juga rasa penghormatan dalam setiap langkah serta waktu hari raya, yaitu dengan  memakai pakaian yang indah nan elok dipandang serta menjamu siapapun yang datang ke kediaman dengan penuh kehangatan.
            Berakhirnya ramadhan sekaligus datangnya hari kemenangan ini sebaiknya kita jadikan pelajaran bagi kehidupan di masa yang akan datang. Antusiasme dalam beribadah, dalam belajar, dalam mengikuti pengajian serta kegiatan positif apapun semoga bisa dilanjutkan di hari-hari selain ramadhan. Dalam sebuah ungkapam ceramah dari KH. Muhadi Zainuddin, beliau mengatakan bahwa; salah satu ciri orang yang sukses dalam bulan ramadhan itu: semangat ibadahnya tidak hanya ketika ramadhan tetapi juga di bulan-bulan lainnya. Dari ungkapan ini, kemenangan hakiki adalah kemenangan yang tercermin dari keperibadian yang mampu menjaga hawa nafsu sebagaimana orang yang melaksanakan puasa di bulan ramadhan, mampu menjaga ibadahnya kapanpun dan dimanapun serta mampu menjadi pionir bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itulah, semoga kita semua menjadi orang-orang yang termasuk di dalamnya serta dapat bertemu kembali dengan ramadhan tahun depan, Allahumma amiin. Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Jumat, 23 Juni 2017

Posko Mudik Lebaran CSSMoRA kembali hadir di Semarang



 Pembagian takjil oleh para relawan kepada pemudik dan warga sekitar

Semarang, CSSMoRA- Posko Mudik Lebaran kembali hadir di sejumlah titik jalan pantura, salah satunya di jalan Raya Kaligawe KM 6 Kecamatan Genuk Semarang. Agenda tahunan yang menjadi salah satu program kerja CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) tepatnya Departemen P3M kali ini datang dengan tema Santri, Lebaran dan Pengabdian untuk masyarakat. Posko mudik yang didirikan di depan  Masjid Raya al-Ishlah, Genuk Semarang ini bekerjasama dengan Banser dan GP. Ansor Kecamatan Genuk.
        Kegiatan ini dimulai tanggal 20-23 Juni yang diawali dengan upacara apel pembukaan bersama pemuda Ansor pada tanggal 21 malam di halaman masjid Raya al-Ishlah. Turut hadir dalam upacara pembukaan tersebut Camat Kota Semarang, Kasat Kasat Korcab Kota Semarang Danramil,  Takmir Masjid Raya al-Ishlah dan sejumlah anak pramuka. Dalam kegiatan ini Santri Penerima Beasiswa dari Kemenag  sendiri  yang  menjadi  relawan  panitia di  Posko Mudik Lebaran yang datang dari masing-masing Perguruan Tinggi. Terdapat beberapa fasilitas yang ditawarkan antara lain, rest area, tempat ngecash, free wifi, cek kesehatan gratis, informasi  perguruan  tinggi, informasi pendidikan pesantren dan informasi mudik.
         Menurut pendapat Muhammad Falih, salah satu santri PBSB yang menjadi penanggung jawab Posko Mudik Lebaran wilayah Semarang,  “Kegiatan ini sangat  memberi manfaat bagi para pemudik yang singgah di posko kita dan juga bagi mereka yang memerlukan info seputar mudik lebaran. Pembagian takjil di sore hari merupakan kegiatan yang sangat membantu bagi pengendara yang sedang mudik. Tidak lupa kerjasama dari seluruh pihak panitia yang sangat antusias demi terselenggaranya acara ini walaupun terdapat sedikit kendala di lokasi posko karena adanya genangan air hujan yang menerjang sekitar lokasi posko mudik. ” Selain itu masyarakat setempat juga mengapresiasi dengan adanya kegiatan ini karena adanya pelayanan kesehatan gratis yang melayani cek gula darah, asam urat, cek kolestrol dan tensi yang juga dibuka untuk masyarakat setempat.
        Koordinator Departemen P3M (Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat) Nasional, Alfan Maghfuri menyampaikan, "Kedepannya, semoga CSSMoRA mampu memperlebar sayapnya dalam kegiatan ini, mampu membuka stand lebih banyak lagi di titik2 strategis bagi para pemudik, serta mudah2an semakin banyak anggota cssmora yang mau turun untuk program posko mudik ini." ../red(masudah)


Selasa, 13 Juni 2017

Bahaya “Sakralitas” yang Berlebihan

       Oleh : Maulana Ikhsanun Karim 
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

       Sukarno dahulu pernah berkata “Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”, mungkin kata-kata itu tidak asing lagi bagi kita. Sudah banyak anak bangsa yang mengharunkan nama bangsa di kancah internasional, mulai dari perlombaan akademik maupun non-akademik dan juga penemuan-penemuan yang menakjubkan. Walaupun tidak terlampau banyak, namun kita dapat simpulkan bahwa saat ini Indonesia tidak kekurangan orang-orang yang hebat dan mampu merubah bangsa ini agar lebih baik.
       Namun apa yang terjadi akhir-akhir ini sungguh sangat memprihatinkan. Berawal dari sebuah pesta demokrasi yang diselenggarakan di pusat ibu kota, seharusnya dapat menjadi bahan percontohan bagi pesta demokrasi di daerah lain di Indonesia. Namun, sungguh sangat tidak mungkin, karena apa yang terjadi di sana justru sangat jauh daripada tujuan yang dijunjung dalam demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang seharusnya menjadi kekuatan rakyat untuk membangun sebuah pemeritahan yang kuat, bersih, dan adil, justru dikotori penggunaanya dengan cara saling fitnah dan menghujat demi nafsu kekuasaan mereka yang sangat berambisi dengan itu. Yang pada akhirnya nilai-nilai yang ingin disebarkan dalam demokrasi, menjadi hilang dan bahkan menjadi kambing hitam bagi mereka yang berusaha merong-rong kedaulatan negeri ini. Demokrasi yang sejatinya menjadi bahan edukasi diri agar bebas atau inependen dalam menentukan arah dan pilihan, malah menjadi bahan unjuk dominasi dan intervensi golongan dan juga mematikan kebebasan dalam menentukan pilihan.
       Mungkin semua itu adalah cerita lalu yang sudah mulai dibuang dan terabaikan, mengingat dari pesta itu sudah melahirkan sosok pemimpin baru untuk kedepannya. Sebuah pesta yang bisa disimpulkan merpakan kesuksesan mereka yang merasa mayoritas golongannya, atau bisa jadi hanya sebagian golongan saja yang berfikir demikian. Dan yang selebihnya adalah hasil dari mereka yang sebagian tersebut yang sukses menggalang suara dari mereka yang masih awam dengan dunia pendoktrinan. Namun imbas dari pesta tersebut seperti tidak hilang-hilang dari media kini, entah karena itu sangat efektif dan menjanjikan dalam suksesi sebuah tujuan, atau karena memang cara tersebut memang sudah menjadi ciri khas mereka dalam meyukseskan kehendak.
       “Generalisasi” dalam segala hal, mencatut nama golongan dan juga mengatasanamakan golongan mayoritas, seakan-akan sudah menjadi cara mereka yang ampuh dalam memenangkan jajak opini dan pertarungan politik. Seolah-olah merekalah duta dari golongan yang memiliki kepentingan atau suara. Apa yang mereka serukan seolah-olah sudah mewakili dan juga kebutuhan dari golongan yang mereka catut namanya. Itu semua sebenarnya menjadi sebuah kritikan yang mendalam bagi masing-masing golongan untuk menghentikan ketegangan yang terjadi dalam waktu dekat ini. Berusaha menahan dan menekan nafsu, hasrat dan ego dalam diri masing-masing.
       Seperti yang pernah kita ketahui sebelumnya bahwa nalar beragama umat Islam di Indonesia terbilang unik. Mungkin ada yang pernah membaca tulisan yang isinya tentang cocokologi dalam berfikir umat Islam, yang pernah di tulis oleh Fadli Lukman di halam Geotimes pada tanggal 6 Januari 2017 dengan judul utama yaitu “Nalar beragama Muslim Indonesia”. Bagi yang pernah membacannya pasti akan paham bahwa yang terjadi di dalam tubuh Islam itu sendiri terjadi dualisme yang berbeda, atau dalam bahasa saya yang simpel adalah standar ganda. Mengapa bisa dikatakan menjadi sebuahh standar ganda, karena tidak dapat dipungkiri kebanyakan apa yang mereka tolak adalah apa yang mereka pakai selama ini, sedangkan apa yang mereka pakai adalah apa yang mereka tolak saat ini.
       Mungkin agak sedikit membingungkan memang jika dilihat sepintas, namun realita yang terjadi menggambarkan demikian. Dan yang sangat di sayangkan adalah kejadian itu terus-menerus terulang dan kembali terulang seolah-olah permasalahan tersebut adalah sebuah bola yang sedang dimainkan, berputar dan menggelinding, saling oper dan juga saling berebut ingin mencetak gol. Sebuah permasalahan pelik memang, bagaimana umat Islam akan maju jikalau apa yang mereka persoalkan masih saja seputar permasalahan lama yang itu di ulang-ulang terus setiap tiba masanya. Masalah apa saja itu, mungkin dapat dilihat kembali di tulisan tadi yang saya sebutkan yang ditulis oleh Fadli Lukman.
       Jika apa yang dikatakan oleh Fadli Lukman yaitu munculnya cocokologi dalam cara berfikir Muslim di Indonesia, maka disisi lain saya menemukan hal berbeda namun kejadiannya hampir sama, yaitu ditinjau dari sisi sakralitas simbol. Ada apa dalam simbol? Dan apa yang menjadi sakral, dan mengapa dikatakan demikian, itu yang akan saya bahas.
       “Sakralitas” dalam dunia Islam bukanlah suatu hal yang tabu untuk diperbincangkan. Dalam setiap agama apapun itu pasti memiliki sisi sakralitas yang itu adalah sesuatu hal yang sangat dijaga dan dimuliakan keberadaannya. Sedangkan lawan dari sakral itu sendiri adalah profan, atau simpelnya adalah hal yang umum, tidak sakral dan tidak disucikan dengan proses yang ditentukan dan disepakati. Dalam Islam sendiri tentu ada hal yang disakralkan entah itu suatu yang berbentuk maupun tak berbentuk (tampak maupun tak tampak). Yang berbentuk bisa jadi adalah benda suci yang dimuliakan ataupun sebuah simbol yang dianggap sakral dan harus dijaga kesuciannya.
       Al Qur’an dalam agama Islam adalah sesuatu yang paling sering disakralkan, atau kita sering menyebutnya paling dimuliakan. Hal tersebut sudah menjadi suatu hal yang diamini oleh kebanyakan umat Islam. Namun dalam penggunaannya tak lepas dari banyak interpretasi dan penafsiran. Mengsakralkan al Qur’an dalam artian adalah menjaga kemuliaanya adalah sebuah hal yang wajar, namun apabila berlebihan dengan menyangkutpautkan dengan al Qur’an agar suatu itu dianggap sakral adalah sebuah kekeliruan.
       Mengsakralkan sesuatu yang tidak seharusnya sakral akan menjadikan sebuah ketidakteraturan dalam sebuah tatanan, khususnya dalam kehidupan beragama. Dalam contoh sederhana ialah ketika umat Islam mengaitka kasus persidangan Ahok dengan angka-angka yang kemudian merujuk pada ayat al Qur’an dan mengatakan bahwa itu adalah kejadian yang sudah ditakdirkan dan kita hanya perlu menyimak dan meneriakan takbir seraya meyakini bahwa kejadian itu adalah bukti dari laknat Tuhan yang diturunkan untuk mengadzab Ahok lewat kasus penistaan agama.
       Kemudian ketika umat Islam yang diminta berbondong datang untuk melakukan aksi demo 411, 212, 313 dan seterusnya itu dengan ajakan yang sangat teologis seolah-olah hal itu adalah sebuah panggilan jihad, karena sesuai atau cocok dengan ayat dalam al Qur’an. Ditambah lagi semisal ada kejadian aneh berupa awan berbentuk menyerupai lafadz Allah, kemudian mengklaim bahwa demo tersebut sudah pasti mendapat restu dari Tuhan, dan juga bukti akan kemenangan umat Islam.
       Itu semua menjadi sesuatu yang sangat menggelikan jika terus menerus berlanjut, umat Islam tidak mampu membedakan mana yang sakral dan mana yang profan. Seperti halnya dalam ibadah ada ibadah yang sudah diatur (Mahdoh) ada ibadah yang belum atau sama sekali tidak ditentukan caranya (Ghoiru Mahdoh). Begitu juga dalam sebuah agama, ada hal yang memang itu adalah wajib untuk dijaga kemuliaannya karena berkaitan dengan teologi (ilahiah), ada hal yang sifatnya umum karena berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia (manusiawi). Namun kebanyakan manusia selalu ingin hidup dalam lingkup yang sakral, hal ini pernah disinggung oleh Mercia Eliade dalam teorinya “namun kebanyakan manusia ingin terus hidup dalam zona yang sakral, sehingga menganggap hal yang profan menjadi sakral dan mereka tak ingin keluar dari itu”.
       Jika hal itu terus berlanjut tentu akan sangat membahayakan, dan lebih lagi jika hal tersebut menjadi sebuah budaya dikemudian hari tentu aka membuktikan bahwa teori dari Emile Durkheim tentang teorinya dalam meneliti agama di suku Aborigin menjadi terbukti juga dalam Islam. Ketika Islam hanya menjadi sebuah simbol untuk mengumpulkan masa agar dianggap mendominasi keberadaanya hingga menjadi sebuah kekuatan yang tak terkalahan dengan golongan lain maka benarlah apa kata Durkheim. Bahwa agama hanyalah sebagai alat untuk dijadikan sebagai pemersatu masa dan menggalang kekuatan untuk mengklaim dominasi atas golongan yang lain. Padahal dalam Islam tidaklah seperti itu, dan jauh lebih baik dari pada itu. Agama Islam sangat kompleks manifestasinya dan tidak cukup dinilai hanya seperti sebuah simbol.
Wallahu a’lam bi al Showab.
By: Maulana Ikhsanun Karim
Aiimikhsan2@gmail.com

Menilik pengertian lain dari Nuzulul Qur’an dalam perspektif Orientalis

Oleh : Muhammad Abdul Hanif
(Kru Sarung)

       Setiap bulan Ramadhan di setiap tahun, masyarakat Indonesia khususnya umat muslim tak pernah ketinggalan untuk mengadakan perayaan pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan yang masyhur disebut dengan peringatan Nuzulul Qur’an. Pada umumya, masyarakat muslim awam Indonesia masih memahami bahwa Nuzulul Qur’an yang terjadi pada malam ke-17 dari bulan Ramadhan merupakan satu-satunya malam di mana al-Qur’an diturunkan. Namun, ada pula beberapa masyarakat dari kalangan terpelajar yang sudah memahami maksud dari nuzulul Qur’an pada malam ke 17 dari Bulan Ramadhan. Maka tak heran bila kebanyakan muballigh ataupun penceramah yang diundang untuk memberikan mauizhah hasanah pada acara perayaan malam nuzulul Qur’an senantiasa menyampaikan materi yang menjelaskan bahwasanya al-Qur’an diturunkan melalui dua periode. Pertama, al-Qur’an diturunkan dalam satu kesatuan pada malam ke-17 Ramadhan (tepatnya malam laylatul qadar) dari Lauh Mahfudz ke langit dunia (sama’i ad-dunya). Kedua, al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril dari langit dunia ke bumi dengan cara berangsur-angsur dan dalam kurun waktu 23 tahun.[I]
       Dalil yang menjelaskan dua periode penurunan al-Qur’an ini pun sudah sangat jelas dan telah banyak dijelaskan oleh ulama tafsir. Periode pertama di mana al-Qur’an diturunkan secara langsung dalam satu kesatuan dipahami dari QS. Al-Qadr:1 yang berbunyi:
إنا أنزلناه في ليلة القدر
Sesungguhnya kami menurunkannya (al-Qur’an) pada malam laylatul qadr
       Para ahli tafsir dalam berargumen bahwasanya ayat ini merupakan ayat yang menunjukkan penurunan al-Qur’an pada satu waktu dalam satu kesatuan menggunakan pendekatan linguistik. Yaitu memperhatikan shighat atau formula kata kerja yang dipakai dalam ayat ini untuk mewakili makna menurunkan. Dalam ayat ini Allah Swt menggunakan kata kerja untuk mengungkapkan maksud menurunkan dengan kata أنزلنا. Dalam ilmu sharaf penggunaan kata kerja ini mempunyai implikasi tersendiri dalam hal proses berlangsungnya kata kerja. Dengan dipakainya shighat kata kerja ini maka terkandung pengertian bahwasanya penurunan terjadi sekali saja berbeda halnya jika menggunakan shighat نزّل yang berarti menurunkan berkali-kali dan tidak dalam sekali waktu.[II]
Pada tulisan ini, penulis akan membahas nuzulul Qur’an dengan mengerucut pada periode yang    kedua, yaitu penurunan al-Qur’an yang terjadi secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 23 tahun atau selama Nabi Muhammad menyampaikan risalah kenabian kepada Jazirah Arab sejak kenabiannya pada usia 40 tahun. Dalam kitab at-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an karya Imam as-Shabuni dijelaskan bahwasanya salah satu hikmah dibalik turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah agar dapat menyesuaikan jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad setelah diutus menjadi rasul.
       Para peneliti al-Qur’an dari Barat khususnya yang bernama Angelika Neuwirth telah menemukan pendekatan lain dalam penafsiran al-Qur’an yang berangkat dari keadaan al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur sesuai persitiwa yang melatarbelakanginya (asbabunnuzul). Beliau menawarkan sebuah penafsiran yang berlandaskan urutan ayat turun (tartib nuzuli) dengan berpandangan bahwa ayat al-Qur’an menyimpan proses komunikasi dan dialog pada masa diturunkannya. Sebelumnya perlu diketahui bahwasanya al-Qur’an menurut penelitinya baik dari dunia muslim maupun Barat membaginya sesuai masanya menjadi dua kategori, pra-canonical dan post-canonical. Pra-canonical adalah al-Qur’an ketika Nabi Muhammad masih hidup dan dibacakan kepada para sahabat. Sedangkan post-canonical adalah al-Qur’an yang sudah dikodifikasi oleh para redaktur Qur’an hingga hingga dalam bentuknya yang seperti sekarang. Meskipun kanonisasi teks adalah sebuah keniscayaan, Neuwirth menekankan beberapa implikasi dari proses ini dalam al-Qur‘an. Pertama, tercerabutnya al-Qur‘an dari konteks sejarah lahirnya. Al-Qur‘an yang semula merupakan komunikasi horizontal menjadi vertikal dan linier (antara reader dan Tuhan) setelah kanonisasi. Kedua, unit surat yang semula menjadi satuan unit komunikasi menjadi kabur ketika dia disejajarkan dengan yang lain. Ketiga, kaburnya karakter bahwa al-Qur‘an lahir secara berangsur-angsur. Singkatnya, kanonisasi telah menjadikan al-Qur‘an terdehistorisasi. Ketika al-Qur‘an telah berbentuk seperti sekarang, yang menonjol bukan lagi karakter menyejarahnya sebagaimana dia dahulu hadir di tengah-tengah bangsa Arab, tetapi karakter timelessnya.
       Jadi secara tidak langsung nuzulul Qur’an yang berangsur-angsur dalam kurun waktu 23 tahun ini merupakan unsur pembentuk utama dalam penafsiran al-Qur’an ala Angelika Neuwirth yang disebut dengan pembacaan al-Qur’an pada mushaf utsmani (post canonical) dengan tetap menganggapnya sebagai pra-canonical. Kemudian untuk mendapatkan pondasi yang tepat dalam analisisnya, Angelika Neuwirth menggunakan kategorisasi surat. Ia meyakini bahwa surat adalah satuan unit yang menyimpan proses komunikasi pada masa kelahirannya sekaligus sebagai unit integral yang terjamin secara redaksionalnya sebagai teks sastra. Pada masa lahirnya, surat adalah unit teks yang dibaca dihadapan sahabat selaku audiens seperti surat al-Rahman yang dibacakan kepada sahabat pada masa-masa awal dakwah di Mekkah. Neuwirth menambahkan bahwa teks al-Qur’an adalah teks yang isi, gaya bahasa, struktur, dan retorikanya berkembang disesuaikan dengan situasi yang melatarbelakanginya. Latar belakang Neuwirth yang banyak berkecimpung di dunia sastra termasuk sastra arab telah mengantarkannya kepada penambahan penelitian unsur sastra pada ayat-ayat persurat.
       Singkatnya, Angelika Neuwirth mencoba membaca al-Qur’an sebagai mana semestinya, yaitu dengan tetap menganggap bahwa al-Qur’an adalah sebuah teks yang turun secara berangsur-angsur tergantung setting waktu, tempat, suasana dan peristiwa sehingga berimplikasi pada variasi karakteristik ayat-ayat al-Qur’an yang dalam hal ini dikategorisasikan menurut surat. Pada hal ini, jelaslah sudah bahwa periode kedua dari nuzulul Qur’an, yaitu yang secara beerangsur-angsur adalah sebagai kunci dalam memahami al-Qur’an yang semestinya dan tidak beku layaknya jika membaca al-Qur’an post-canonical yang telah termaktub dalam satu kesatuan sehingga lebur unsur komunikasinya dan historisitasnya.[III]


[I] At-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, Karachi: Maktabah Bushra, 2011, hlm. 18.
[II] Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, Kairo: Maktabah Wahbiyyah, hlm. 102.
[III]Membaca Metode Penafsiran al-Qur’an Kontemporer di Kalangan Sarjana Barat: Analisis Pemikiran Angelika Neuwirth, Yogyakarta: Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 18 Nomor 2 (Desember) 2014, hlm. 276-277.

Selamat! 30 Peserta PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dinyatakan lolos



Selasa (6/6) lalu Kementerian Agama resmi mengumumkan hasil seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tahun 2017. Mulanya pengumuman tersebut direncanakan akan keluar pada Jum’at (2/6) lalu, namun karena ada kendala administrasi pengumuman tersebut ditangguhkan. Adapun program ini ditujukan kepada seluruh santri di Indonesia. Dari 5000 santri yang mendaftar hanya sekitar 270 yang lolos seleksi di 13 PTN mitra, salah satunya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun ini, UIN Sunan Kalijaga kembali meloloskan 30 santri untuk dua prodi, Ilmu Al-qur’an dan Tafsir juga Ilmu Hadis sama seperti tahun lalu. Kelulusan adik-adik baru disambut dengan antusias oleh anggota CSSMoRA- komunitas santri penerima PBSB- UIN Sunan Kalijaga lainnya.
Berikut nama-nama santri yang lulus seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi tahun 2017 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta:
1     
1.      Mohammad Asrul Kumai
2.      Zamhuri
3.      Rania Nurul Rizqia
4.      Karina Rahmi ST Farhani
5.      Idlofi
6.      Anisah Dwi Lestari
7.      Mukhammad Hubbab Nauval
8.      Rizza Madinah
9.      Ahmad Fahrur Rozi
10.  Fitria Hairinnisa
11.  Muhammad Haiqal
12.  Restu Amelia
13.  Fikru Jayyid Husain
14.  Ahmad Faruq Khaqiqi
15.  Robby Hidayatul Ilmi
16.  Atraf Husein El Hakim
17.  Arini Nabila Azzahra
18.  Muhammad Mundzir
19.  Wiwin Fauziyah
20.  Febrian Candra Wijayao
21.  Fina Faizah
22.  Akrima Husnul Maulida
23.  Novia Sari
24.  Nurul Intan Azizah Dien
25.  Fitri Wardani
26.  Abdy Nur Muhammad
27.  Nadyya Rahma Azhari
28.  Hani Fazlin
29.  M. Agusalim Nur
30.  Raihana Mardhatillah



Kepada adik-adik calon mahasantri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2017 kami ucapkan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Salam loyalitas Tanpa Batas!