Selasa, 13 Juni 2017

Bahaya “Sakralitas” yang Berlebihan

       Oleh : Maulana Ikhsanun Karim 
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

       Sukarno dahulu pernah berkata “Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”, mungkin kata-kata itu tidak asing lagi bagi kita. Sudah banyak anak bangsa yang mengharunkan nama bangsa di kancah internasional, mulai dari perlombaan akademik maupun non-akademik dan juga penemuan-penemuan yang menakjubkan. Walaupun tidak terlampau banyak, namun kita dapat simpulkan bahwa saat ini Indonesia tidak kekurangan orang-orang yang hebat dan mampu merubah bangsa ini agar lebih baik.
       Namun apa yang terjadi akhir-akhir ini sungguh sangat memprihatinkan. Berawal dari sebuah pesta demokrasi yang diselenggarakan di pusat ibu kota, seharusnya dapat menjadi bahan percontohan bagi pesta demokrasi di daerah lain di Indonesia. Namun, sungguh sangat tidak mungkin, karena apa yang terjadi di sana justru sangat jauh daripada tujuan yang dijunjung dalam demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang seharusnya menjadi kekuatan rakyat untuk membangun sebuah pemeritahan yang kuat, bersih, dan adil, justru dikotori penggunaanya dengan cara saling fitnah dan menghujat demi nafsu kekuasaan mereka yang sangat berambisi dengan itu. Yang pada akhirnya nilai-nilai yang ingin disebarkan dalam demokrasi, menjadi hilang dan bahkan menjadi kambing hitam bagi mereka yang berusaha merong-rong kedaulatan negeri ini. Demokrasi yang sejatinya menjadi bahan edukasi diri agar bebas atau inependen dalam menentukan arah dan pilihan, malah menjadi bahan unjuk dominasi dan intervensi golongan dan juga mematikan kebebasan dalam menentukan pilihan.
       Mungkin semua itu adalah cerita lalu yang sudah mulai dibuang dan terabaikan, mengingat dari pesta itu sudah melahirkan sosok pemimpin baru untuk kedepannya. Sebuah pesta yang bisa disimpulkan merpakan kesuksesan mereka yang merasa mayoritas golongannya, atau bisa jadi hanya sebagian golongan saja yang berfikir demikian. Dan yang selebihnya adalah hasil dari mereka yang sebagian tersebut yang sukses menggalang suara dari mereka yang masih awam dengan dunia pendoktrinan. Namun imbas dari pesta tersebut seperti tidak hilang-hilang dari media kini, entah karena itu sangat efektif dan menjanjikan dalam suksesi sebuah tujuan, atau karena memang cara tersebut memang sudah menjadi ciri khas mereka dalam meyukseskan kehendak.
       “Generalisasi” dalam segala hal, mencatut nama golongan dan juga mengatasanamakan golongan mayoritas, seakan-akan sudah menjadi cara mereka yang ampuh dalam memenangkan jajak opini dan pertarungan politik. Seolah-olah merekalah duta dari golongan yang memiliki kepentingan atau suara. Apa yang mereka serukan seolah-olah sudah mewakili dan juga kebutuhan dari golongan yang mereka catut namanya. Itu semua sebenarnya menjadi sebuah kritikan yang mendalam bagi masing-masing golongan untuk menghentikan ketegangan yang terjadi dalam waktu dekat ini. Berusaha menahan dan menekan nafsu, hasrat dan ego dalam diri masing-masing.
       Seperti yang pernah kita ketahui sebelumnya bahwa nalar beragama umat Islam di Indonesia terbilang unik. Mungkin ada yang pernah membaca tulisan yang isinya tentang cocokologi dalam berfikir umat Islam, yang pernah di tulis oleh Fadli Lukman di halam Geotimes pada tanggal 6 Januari 2017 dengan judul utama yaitu “Nalar beragama Muslim Indonesia”. Bagi yang pernah membacannya pasti akan paham bahwa yang terjadi di dalam tubuh Islam itu sendiri terjadi dualisme yang berbeda, atau dalam bahasa saya yang simpel adalah standar ganda. Mengapa bisa dikatakan menjadi sebuahh standar ganda, karena tidak dapat dipungkiri kebanyakan apa yang mereka tolak adalah apa yang mereka pakai selama ini, sedangkan apa yang mereka pakai adalah apa yang mereka tolak saat ini.
       Mungkin agak sedikit membingungkan memang jika dilihat sepintas, namun realita yang terjadi menggambarkan demikian. Dan yang sangat di sayangkan adalah kejadian itu terus-menerus terulang dan kembali terulang seolah-olah permasalahan tersebut adalah sebuah bola yang sedang dimainkan, berputar dan menggelinding, saling oper dan juga saling berebut ingin mencetak gol. Sebuah permasalahan pelik memang, bagaimana umat Islam akan maju jikalau apa yang mereka persoalkan masih saja seputar permasalahan lama yang itu di ulang-ulang terus setiap tiba masanya. Masalah apa saja itu, mungkin dapat dilihat kembali di tulisan tadi yang saya sebutkan yang ditulis oleh Fadli Lukman.
       Jika apa yang dikatakan oleh Fadli Lukman yaitu munculnya cocokologi dalam cara berfikir Muslim di Indonesia, maka disisi lain saya menemukan hal berbeda namun kejadiannya hampir sama, yaitu ditinjau dari sisi sakralitas simbol. Ada apa dalam simbol? Dan apa yang menjadi sakral, dan mengapa dikatakan demikian, itu yang akan saya bahas.
       “Sakralitas” dalam dunia Islam bukanlah suatu hal yang tabu untuk diperbincangkan. Dalam setiap agama apapun itu pasti memiliki sisi sakralitas yang itu adalah sesuatu hal yang sangat dijaga dan dimuliakan keberadaannya. Sedangkan lawan dari sakral itu sendiri adalah profan, atau simpelnya adalah hal yang umum, tidak sakral dan tidak disucikan dengan proses yang ditentukan dan disepakati. Dalam Islam sendiri tentu ada hal yang disakralkan entah itu suatu yang berbentuk maupun tak berbentuk (tampak maupun tak tampak). Yang berbentuk bisa jadi adalah benda suci yang dimuliakan ataupun sebuah simbol yang dianggap sakral dan harus dijaga kesuciannya.
       Al Qur’an dalam agama Islam adalah sesuatu yang paling sering disakralkan, atau kita sering menyebutnya paling dimuliakan. Hal tersebut sudah menjadi suatu hal yang diamini oleh kebanyakan umat Islam. Namun dalam penggunaannya tak lepas dari banyak interpretasi dan penafsiran. Mengsakralkan al Qur’an dalam artian adalah menjaga kemuliaanya adalah sebuah hal yang wajar, namun apabila berlebihan dengan menyangkutpautkan dengan al Qur’an agar suatu itu dianggap sakral adalah sebuah kekeliruan.
       Mengsakralkan sesuatu yang tidak seharusnya sakral akan menjadikan sebuah ketidakteraturan dalam sebuah tatanan, khususnya dalam kehidupan beragama. Dalam contoh sederhana ialah ketika umat Islam mengaitka kasus persidangan Ahok dengan angka-angka yang kemudian merujuk pada ayat al Qur’an dan mengatakan bahwa itu adalah kejadian yang sudah ditakdirkan dan kita hanya perlu menyimak dan meneriakan takbir seraya meyakini bahwa kejadian itu adalah bukti dari laknat Tuhan yang diturunkan untuk mengadzab Ahok lewat kasus penistaan agama.
       Kemudian ketika umat Islam yang diminta berbondong datang untuk melakukan aksi demo 411, 212, 313 dan seterusnya itu dengan ajakan yang sangat teologis seolah-olah hal itu adalah sebuah panggilan jihad, karena sesuai atau cocok dengan ayat dalam al Qur’an. Ditambah lagi semisal ada kejadian aneh berupa awan berbentuk menyerupai lafadz Allah, kemudian mengklaim bahwa demo tersebut sudah pasti mendapat restu dari Tuhan, dan juga bukti akan kemenangan umat Islam.
       Itu semua menjadi sesuatu yang sangat menggelikan jika terus menerus berlanjut, umat Islam tidak mampu membedakan mana yang sakral dan mana yang profan. Seperti halnya dalam ibadah ada ibadah yang sudah diatur (Mahdoh) ada ibadah yang belum atau sama sekali tidak ditentukan caranya (Ghoiru Mahdoh). Begitu juga dalam sebuah agama, ada hal yang memang itu adalah wajib untuk dijaga kemuliaannya karena berkaitan dengan teologi (ilahiah), ada hal yang sifatnya umum karena berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia (manusiawi). Namun kebanyakan manusia selalu ingin hidup dalam lingkup yang sakral, hal ini pernah disinggung oleh Mercia Eliade dalam teorinya “namun kebanyakan manusia ingin terus hidup dalam zona yang sakral, sehingga menganggap hal yang profan menjadi sakral dan mereka tak ingin keluar dari itu”.
       Jika hal itu terus berlanjut tentu akan sangat membahayakan, dan lebih lagi jika hal tersebut menjadi sebuah budaya dikemudian hari tentu aka membuktikan bahwa teori dari Emile Durkheim tentang teorinya dalam meneliti agama di suku Aborigin menjadi terbukti juga dalam Islam. Ketika Islam hanya menjadi sebuah simbol untuk mengumpulkan masa agar dianggap mendominasi keberadaanya hingga menjadi sebuah kekuatan yang tak terkalahan dengan golongan lain maka benarlah apa kata Durkheim. Bahwa agama hanyalah sebagai alat untuk dijadikan sebagai pemersatu masa dan menggalang kekuatan untuk mengklaim dominasi atas golongan yang lain. Padahal dalam Islam tidaklah seperti itu, dan jauh lebih baik dari pada itu. Agama Islam sangat kompleks manifestasinya dan tidak cukup dinilai hanya seperti sebuah simbol.
Wallahu a’lam bi al Showab.
By: Maulana Ikhsanun Karim
Aiimikhsan2@gmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar