CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Selasa, 29 Agustus 2017

Sweet and Sour: Pembantu yang Sejahtera

Sweet and Sour: Pembantu yang Sejahtera
Oleh: M. Basyir F.M.S.*


Penikmat lagu Shape of You dari Ed Sheeran pasti tak asing lagi dengan kata-kata yang terpisah oleh and di atas. Karena keduanya tercantum dalam salah satu bait tembang itu. Lebih lengkapnya, penggalan lirik tersebut adalah: we talk four hours and hours about the sweet and the sour and how your family is doing ok.
Pada dasarnya, sweet adalah rasa di lidah ketika menyentuh gula, sedangkan sour muncul tatkala mangga muda dimasukkan ke dalam ruang sebelum tenggorokan. Namun bukan dua pengertian di atas yang hendak digunakan dalam uraian ini. Yang dimaksud dengan manis dan asam di sini jauh lebih dalam dan membekas.
Sweet merupakan perasaan dalam diri seseorang ketika sedang bahagia bahkan jika ia tidak menyadarinya. Biasanya hasrat itu muncul ketika harapan menjadi kenyataan. Kesenangan dapat menjernihkan hati, menyunggingkan senyum, serta menggelakkan tawa dalam saat yang bersamaan.
Setiap insan memiliki harapan yang berbeda. Akibatnya jalan yang diambil menjadi tidak sama. Maka dari itu, ketika dua orang meraih hal yang sama, belum tentu keduanya bahagia. Gambaran sederhananya terdapat dalam salah satu iklan rokok yang menayangkan beberapa pemuda dengan pandangan mereka tentang kesuksesan.
Adapun sour ialah kebalikan dari sweet. Orang-orang yang tinggal di Indonesia biasa menyebutnya dengan kesedihan. Sebagian dari mereka tidak menampakkannya. Sedangkan yang lain mengutarakannya dengan aneka ragam cara. Berkata kasar,  membanting isi kamar, dan membuat mata memar adalah beberapa di antaranya.
Ketidaksanggupan diri untuk menerima yang terjadi merupakan alasan utama munculnya asam hati. Ketakutan sebelumnya seringkali menemani. Akhirnya, seseorang harus menelan serbuk kopi atau bahkan menghantam Lamborghini yang sangat ingin dihindari.
Perlu dilingkari, tiada satu kejadian pun yang tak mendatangkan salah satu antara sweet dan sour. Bahkan jika seseorang mengatakan tidak apa-apa, sama saja, dan ungkapan-ungkapan semacamnya, dari lubuk hati yang paling dalam pasti dia memeluk rasa yang sesungguhnya. Hanya saja seringkali itu tidak disadari dikarenakan terlalu banyak antipati yang harus diurus setengah mati.
Pembantu yang Sejahtera
Berita yang diunggah pada situs CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 7 Agustus lalu merupakan salah satu fenomena keterkaitan sweet dan sour dalam kehidupan manusia. Azhari Andi yang notabene meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terpuruk bertubi-tubi sebelumnya. Begitu pula dengan Sri Hayati Lestari yang harus menelan pil pahit di kesempatan pertamanya.
Setiap setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan, kebahagiaan akan menanti setelahnya. Semakin besar luka yang diterima lebih indah pula bunga yang diterima. Begitupun sebaliknya, berhati-hatilah ketika kesenangan menghampiri. Karena kesialan sedang mengintip, bersiap-siap untuk menampakkan diri.
Banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Akibatnya mereka terus-menerus menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang. Jalan-jalan, bermain game, menonton film, dan menjungkirbalikkan media sosial seringkali menjadi pilihan utama.
Bandingkan dengan orang-orang yang mengerti. Mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang menyusahkan, seperti berpuasa meski dapat makan di restoran mewah, menjadi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) meski gajinya tidak sebesar hasil bisnisnya, dan lain sebagainya. Karena mereka mengerti bahwa ke-sour-an yang mereka terima dapat mendatangkan ke-sweet-an yang luar biasa.
Kendati demikian, terlalu banyak menelan asam bukanlah hal yang baik. Karena jika seseorang mengalaminya, dia akan terlalu terkejut tatkala manis melewati tenggorokannya. Sebagai contoh, ada seseorang yang tidak pernah menang bermain basket selama bertahun-tahun. Kemudian tiba-tiba dia berhasil menang beberapa kali atas satu lawan. Hampir bisa dipastikan, dia akan terus mengumumkan kemenangannya ke mana-mana melalui segalanya.
Efek lain yang bisa muncul adalah kebencian atas pihak yang “bahagia”. Poin ini kebanyakan dialami oleh para remaja. Siswa yang seringkali tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) lumrahnya jengkel pada para penerima ranking di sekolah. Sedangkan yang lemah suka memfitnah sang otot gajah.
Memang segala yang terlalu itu tidak baik termasuk kebaikan itu sendiri, apalagi kebahagiaan. Alkisah seorang wanita lahir dengan penuh keberuntungan. Orang lain silih berganti mengulurkan tangan padanya. Akibatnya dia tidak pernah peduli pada orang di sekitarnya. Karena perempuan itu yakin, meski dirinya dibenci oleh sosok yang telah menyelamatkannya, masih ada orang lain yang akan memenuhi kebutuhannya.
Di samping itu, ketidaksiapan menjadi hantu yang akan menghantam bak batu. Orang yang biasa hidup kaya akan tertusuk isi kepalanya tatkala bangkrut mendatanginya atau maling merampas seluruh hartanya. Orang yang selalu loyal akan menjadi acuh tak acuh seketika setelah dikecewakan. Orang yang tidak pernah berhenti menjilati ayam goreng dan brokoli akan muntah ketika tak ada lagi yang bisa dimakan selain tempe dan daun telo.
Maka dari itu, keseimbangan antara sweet dan sour sangatlah penting meski takarannya tidak benar-benar sama. Terlalu banyak asam membuat orang terlalu rendah hati, sedangkan terlalu banyak manis menjadikan manusia terlalu percaya diri. Mereka yang terlalu sering bersedih memiliki hati yang terlalu sensitif. Kebalikannya, yang terlalu sering berbahagia menjadi tidak peduli atas segala selain dirinya.
Secara garis besar, Tuhan telah menetapkan takdir manusia dengan sweet dan sour yang seimbang meski keturunan ikut campur di dalamnya. Maka seharusnya untung dan ruginya bisa diperhitungkan, seperti menetapkan hafalan sebagai bakat awal serta memastikan rabu sebagai hari sial. Jadi, mengapa harus melupakan lumba-lumba sebagai mamalia ketika melihatnya?
            Wallahu a’lamu bish-showab...


*Alumni MA Nurul Jadid.

Jumat, 18 Agustus 2017

Untukmu Negeriku, Indonesia

Untukmu Negeriku, Indonesia
Yeni Angelia
Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga 2016

Bendera merah putih terlihat begitu indah di setiap sudut-sudut ruas jalan, tersusun rapi dari satu rumah ke rumah yang lain, bahkan masyarakat  meletakkan sang bendera merah putih di kendaraan, salah satu bukti cinta akan sang saka. Bertepatan pagi 17 Agustus 2017, bendera merah putih dikibarkan di setiap penjuru Indonesia, dengan pasukan paskibra terlatih juga diiringi lagu Indonesia Raya. Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 72  dari 17 agustus 1945.
Berbalik mengenang kisah masa lampau, bagaimana para pahlawan berjuang melawan penjajah, mereka berjasa dalam memerdekakan Indonesia, sederet nama pahwalan yang telah berjuang, mereka di penjara, disuruh untuk bekerja, bahkan nyawa menjadi taruhannya, demi tegaknya sang merah putih, demi pemuda masa depan, pemuda Indonesia, dalam mempertahankan indonesia untuk mengubah menjadi lebih baik.
untukmu wahai pemuda Indonesia, mari terus berkerja sama, tetaplah berkarya, tunjukkan pada dunia bahwa indonesia adalah bangsa besar, tetap jaga darah juang nasionalisme, tunjukkan tanggung jawab sebagai pemuda hari ini. sejarah adalah saksi tentang perjuangan yang para pahlawan lewati, hingga negeri ini kokoh sampai menginjak usia 72 tahun.
DIGRAHAYU INDONESIAKU KE 72
Semoga engkau makin bijaksana,
tetaplah menjadi sandaran bagi kami, rumah selepas kami dari perantauan.
Indonesiaku,
Aku bangga padamu.
Tanah airku, Indonesia




Rabu, 16 Agustus 2017

Selamat datang Mahasantri CSSMoRA


Selamat datang Mahasantri CSSMoRA


Yogyakarta-CSSMoRA kembali mengadakan agenda tahunan yang biasa disebut dengan  matrikulasi di Hotel Satya Nugraha mulai 13-15 Agustus. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi ajang para santri yang telah lolos seleksi Penerimaan Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), program beasiswa di bawah naungan Kemenag Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) 2017 untuk berta’aruf sehingga terjalin solidaritas yang sejak dini ditanamkan dalam keluarga  CSSMoRA. 
Acara pembukaan yang dilaksanakan di auditorium hotel tersebut dihadiri oleh sejumlah pengelola  PBSB serta Wakil Rektor Tiga Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, Bapak Waryono. Dalam sambutannya beliau mengucapkan selamat datang kepada segenap mahasantri PBSB, dengan harapan mahasantri PBSB dapat turut berkontribusi menjadi duta dalam persaingan Nasional maupun Internasional mewakili kampus kawah candra dimuka intelektual Yogyakarta.
Waktu yang sangat singkat membuat panitia harus kreatif dalam mengatur  waktu,  menata kegiatan dalam matrikulasi. Setiap hari mereka ditempa dengan pengisian materi oleh beberapa dosen UIN Sunan  Kalijaga. Para Mahasantri  antusias dalam mengikuti setiap sesi dengan berperan aktif dalam diskusi tersebut. Mereka juga tidak dibuat jenuh dengan kegiatan ini karena panitia juga memberikan sejumlah game, memotivasi dan memberikan gambaran kepada mahasiswa baru PBSB akan solidaritas yang terjalin dalam keluarga CSSMoRA. Selain  itu setiap pagi juga diadakan senam pagi dan jogging untuk merefresh pikiran peserta matrikulasi setelah seharian  berkutat dengan berbagai kegiatan.

Malam teakhir kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua nasional CSSMoRA, Anas Rolli Muchlisin, ketua PTN CSSMoRA Melati Ismaila Rafii dan sejumlah pengurus untuk memberikan  sosialisasi terkait beberapa program dalam  organisasi CSSMoRA. Kegiatan diakhiri dengan outbond mahasiswa baru PBSB dengan didampingi oleh pengelola  di Agromina Wisata Karangasri atau biasa dikenal dengan Karangasri Outbond. Penutupan  kegiatan matrikulasi ditahun ini akan dilaksanakan pada Minggu mendatang dengan dihadiri oleh pihak PD Pontren Kemenag Wilayah Yogyakarta.

Minggu, 06 Agustus 2017

Keberhasilan Dua Alumni Meraih Beasiswa LPD



SELALU ADA KEBAIKAN DI BALIK KESIALAN
Alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga melanjutkan tradisi menerima beasiswa LPDP setiap tahunnya. Adalah Azhari Andi dan Sri Hayati Lestari yang meraihnya tahun ini. Beberapa hal menyedihkan sempat menghampiri sebelum pengumuman kelulusan diumumkan. Seperti apakah kisah mereka?
M. BASYIR F.M.S., Yogyakarta
 Azhari Andi (2013), penerima beasiswa LPDP tahun ini.

Dinobatkan sebagai Duta Santri II 2016, disahkan selaku hafiz 30 juz, dan ditambatkan atas nama wisudawan tercepat terbaik. Itulah segelintir dari segudang prestasi yang diperoleh Azhari Andi selama menempuh studi S1 di UIN Sunan Kalijaga. Tidak heran jika dia menjadi panutan bagi teman-teman dan adik-adik kelasnya.
            Bersama dua mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Sunan Kalijaga lainnya, pria asal sumatera ini mengikuti wisuda pada februari 2017. Sebagaimana harapannya, dia berhasil husnul khotimah di jenjang pendidikan strata 1 dengan predikat cumlaude dan wisudawan tercepat terbaik.
            Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Karena beberapa hal menyakitkan datang silih berganti setelahnya. Optimisme yang begitu tinggi menjelma menjadi pesimisme karenanya.
            Nasib nahas diawali dengan pengguguran pada ajang MTQ Provinsi Banten. Alumnus Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al-Muhsin ini dinyatakan didiskualifikasi ketika hendak melakukan daftar ulang. Alih-alih meraih juara pada cabang tafsir Bahasa Arab, ia malah harus angkat koper tepat sesaat setelah tiba di lokasi acara.
            Beberapa waktu kemudian, kesialan masih mengikutinya ketika hendak bergabung dalam kafilah MTQ Padang Panjang. Harapannya pada cabang Musabaqah Makalah Isi Al-Quran harus pupus. Penyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag.) ini tidak terpilih. Di sisi lain, Kartu Tanda Penduduk (KTP) juga menjadi masalah.
            “Meski saya tinggal di Sumbar (Sumatera Barat.red), tetapi KTP saya bukan Sumbar. Jadi saya tidak bisa ikut. Mungkin ini bukan kesempatan saya,” terangnya menerima kenyataan.
            Eks mahasiswa program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir ini menambahkan, kegagalan itu semakin mengeraskan pesimisme di hatinya. Dia sangat khawatir jikalau nanti ternyata takkan ada prestasi lagi yang dapat diraih pada tahun 2017 ini. Dugaan ini diperkuat dengan hasil seleksi administrasi beasiswa Turki.
            “Selang beberapa waktu setelah keputusan penetapan kafilah Padang Panjang, saya mendapatkan email dari Turky Burslari (email beasiswa Turki) yang menyatakan: we are unable to include your name to the list of aplications invited to interview,” kisahnya.
            Membaca email tersebut membuat hatinya luluh lantak beterbangan. Kekacauan dalam hatinya semakin tidak karuan. “Betapa tidak. Preparation yang saya lakukan begitu menguras energi dan materi. Namun malang, keinginan saya belum tercapai,” jelasnya.
            Meski telah terpuruk berkali-kali dalam waktu sesingkat memanen kopi, dia enggan menyerah. Lelaki kelahiran 18 September 1995 ini sangat yakin bahwa Allah swt. tahu yang terbaik untuknya. Dia melanjutkan perjuangannya pada seleksi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
            Tibalah waktunya untuk memetik kembang. Harap-harap cemas dalam hatinya akhirnya berujung dengan singgahnya rasa bahagia. 19 Juni 2017, nama pejuang ini tercantum dalam pengumuman penerima beasiswa tersebut. “Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur bisa kuliah dengan beasiswa lagi dalam artian tidak merepotkan kedua orang tua,” syukur lelaki berkulit putih tersebut.
            “Semua orang punya harapan dan berusaha mewujudkannya. Tapi banyak di antara mereka menyerah di tengah jalan. Akibatnya mereka gagal menikmati kemenangan. Jika ingin daftar beasiswa, maka persiapkan dengan matang. Karena ada banyak orang yang ingin meraih mimpi yang sama. Allah memberi sesuai usaha hamba-Nya,” titahnya.
            Selain Azhari, masih ada seorang lagi alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga yang terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP tahun ini. Dia adalah Sri Hayati Lestari. Keduanya memilih  Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga sebagai tempat menimba ilmu selanjutnya.
            Berbeda dari sebelumnya, tahun ini seleksi tersebut dilaksanakan dengan tiga tahap. Yang pertama adalah administrasi dokumen sekaligus pendaftaran. Bagian ini dibuka sejak tanggal 3 April 2017. Adapun pengumuman kelulusannya diunggah pada 17 April 2017.
            Adapun seleksi berikutnya adalah online assesment. Tahap inilah yang membedakan tahun ini dari sebelumnya. Bagian ini dan yang pertama dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia.
            Mereka yang dinyatakan lulus dari bagian kedua dapat maju pada babak terakhir. Tahap ini dilaksanakan secara bergantian. Tari menghadapi pada 22 Mei 2017 di Yogyakarta, sedangkan Azhari tujuh hari kemudian di Padang. Penentuan tempat ini sesuai dengan pilihan peserta ketika melakukan pendaftaran, bukan tergantung pilihan kampusnya.
            Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian. Dimulai dengan verifikasi berkas yang disetorkan pada awal pendaftaran, dilanjutkan dengan menulis essay di lokasi seleksi. “Masing-masing peserta dipersilahkan untuk memilih salah satu dari dua tema yang telah diberikan. Waktu mengerjakannya tiga puluh menit,” jelas Tari.
            Bagian yang ketiga dari tahap ini adalah diskusi. Peserta pada masing-masing lokasi seleksi dibagi menjadi beberapa kelompok yang berisikan sepuluh orang. “Panitia memberi suatu wacana, kemudian kami mengambil peran ketika menjawab atau menanggapi tanpa moderator,” terangnya.
            Wawancara menjadi bagian terakhir dari keseluruhan seleksi ini. Setiap peserta ditanyai tentang beberapa hal oleh tiga orang viewer yang terdiri dari seorang psikolog dan dua pakar independen. “Pertanyaannya cenderung aneh. Kami dipancing untuk curhat. Mungkin mereka mencari orang-orang yang kuat secara mental,” ujar Mahasiswi asal Aceh terssebut.
            Bagi Tari, ini merupakan kedua kalinya dia mengikuti seleksi tersebut. Pada tahun sebelumnya dia juga melakukan hal serupa. Sayangnya, kala itu dia harus gigit jari lantaran masih belum terpilih.
            Menurut Tari, ada yang terasa berbeda dari kedua kali dirinya mengikuti seleksi tersebut. “Allah menakdirkan lolos ketika saya lebih ikhlas. Pada yang pertama saya terkesan maksakan diri, harus lolos. Niatnya untuk diri sendiri, kepuasan pribadi. Sedangkan yang kedua saya lebih legowo,” kesannya.
            “Jangan pernah merasa tidak pantas untuk mendapatkan apa-apa. Karena semua orang punya hak dan kesempatan yang sama namun waktunya berbeda. Dan yang paling penting, melakukan sesuatu itu harus karena Allah, bukan diri sendiri. Jangan merasa sudah berada di ambang kesuksesan. Mungkin itu merupakan hasil dari doa orang-orang di sekitar kalian,” tegasnya.[]