Selasa, 29 Agustus 2017

Sweet and Sour: Pembantu yang Sejahtera

Sweet and Sour: Pembantu yang Sejahtera
Oleh: M. Basyir F.M.S.*


Penikmat lagu Shape of You dari Ed Sheeran pasti tak asing lagi dengan kata-kata yang terpisah oleh and di atas. Karena keduanya tercantum dalam salah satu bait tembang itu. Lebih lengkapnya, penggalan lirik tersebut adalah: we talk four hours and hours about the sweet and the sour and how your family is doing ok.
Pada dasarnya, sweet adalah rasa di lidah ketika menyentuh gula, sedangkan sour muncul tatkala mangga muda dimasukkan ke dalam ruang sebelum tenggorokan. Namun bukan dua pengertian di atas yang hendak digunakan dalam uraian ini. Yang dimaksud dengan manis dan asam di sini jauh lebih dalam dan membekas.
Sweet merupakan perasaan dalam diri seseorang ketika sedang bahagia bahkan jika ia tidak menyadarinya. Biasanya hasrat itu muncul ketika harapan menjadi kenyataan. Kesenangan dapat menjernihkan hati, menyunggingkan senyum, serta menggelakkan tawa dalam saat yang bersamaan.
Setiap insan memiliki harapan yang berbeda. Akibatnya jalan yang diambil menjadi tidak sama. Maka dari itu, ketika dua orang meraih hal yang sama, belum tentu keduanya bahagia. Gambaran sederhananya terdapat dalam salah satu iklan rokok yang menayangkan beberapa pemuda dengan pandangan mereka tentang kesuksesan.
Adapun sour ialah kebalikan dari sweet. Orang-orang yang tinggal di Indonesia biasa menyebutnya dengan kesedihan. Sebagian dari mereka tidak menampakkannya. Sedangkan yang lain mengutarakannya dengan aneka ragam cara. Berkata kasar,  membanting isi kamar, dan membuat mata memar adalah beberapa di antaranya.
Ketidaksanggupan diri untuk menerima yang terjadi merupakan alasan utama munculnya asam hati. Ketakutan sebelumnya seringkali menemani. Akhirnya, seseorang harus menelan serbuk kopi atau bahkan menghantam Lamborghini yang sangat ingin dihindari.
Perlu dilingkari, tiada satu kejadian pun yang tak mendatangkan salah satu antara sweet dan sour. Bahkan jika seseorang mengatakan tidak apa-apa, sama saja, dan ungkapan-ungkapan semacamnya, dari lubuk hati yang paling dalam pasti dia memeluk rasa yang sesungguhnya. Hanya saja seringkali itu tidak disadari dikarenakan terlalu banyak antipati yang harus diurus setengah mati.
Pembantu yang Sejahtera
Berita yang diunggah pada situs CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 7 Agustus lalu merupakan salah satu fenomena keterkaitan sweet dan sour dalam kehidupan manusia. Azhari Andi yang notabene meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terpuruk bertubi-tubi sebelumnya. Begitu pula dengan Sri Hayati Lestari yang harus menelan pil pahit di kesempatan pertamanya.
Setiap setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan, kebahagiaan akan menanti setelahnya. Semakin besar luka yang diterima lebih indah pula bunga yang diterima. Begitupun sebaliknya, berhati-hatilah ketika kesenangan menghampiri. Karena kesialan sedang mengintip, bersiap-siap untuk menampakkan diri.
Banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Akibatnya mereka terus-menerus menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang. Jalan-jalan, bermain game, menonton film, dan menjungkirbalikkan media sosial seringkali menjadi pilihan utama.
Bandingkan dengan orang-orang yang mengerti. Mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang menyusahkan, seperti berpuasa meski dapat makan di restoran mewah, menjadi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) meski gajinya tidak sebesar hasil bisnisnya, dan lain sebagainya. Karena mereka mengerti bahwa ke-sour-an yang mereka terima dapat mendatangkan ke-sweet-an yang luar biasa.
Kendati demikian, terlalu banyak menelan asam bukanlah hal yang baik. Karena jika seseorang mengalaminya, dia akan terlalu terkejut tatkala manis melewati tenggorokannya. Sebagai contoh, ada seseorang yang tidak pernah menang bermain basket selama bertahun-tahun. Kemudian tiba-tiba dia berhasil menang beberapa kali atas satu lawan. Hampir bisa dipastikan, dia akan terus mengumumkan kemenangannya ke mana-mana melalui segalanya.
Efek lain yang bisa muncul adalah kebencian atas pihak yang “bahagia”. Poin ini kebanyakan dialami oleh para remaja. Siswa yang seringkali tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) lumrahnya jengkel pada para penerima ranking di sekolah. Sedangkan yang lemah suka memfitnah sang otot gajah.
Memang segala yang terlalu itu tidak baik termasuk kebaikan itu sendiri, apalagi kebahagiaan. Alkisah seorang wanita lahir dengan penuh keberuntungan. Orang lain silih berganti mengulurkan tangan padanya. Akibatnya dia tidak pernah peduli pada orang di sekitarnya. Karena perempuan itu yakin, meski dirinya dibenci oleh sosok yang telah menyelamatkannya, masih ada orang lain yang akan memenuhi kebutuhannya.
Di samping itu, ketidaksiapan menjadi hantu yang akan menghantam bak batu. Orang yang biasa hidup kaya akan tertusuk isi kepalanya tatkala bangkrut mendatanginya atau maling merampas seluruh hartanya. Orang yang selalu loyal akan menjadi acuh tak acuh seketika setelah dikecewakan. Orang yang tidak pernah berhenti menjilati ayam goreng dan brokoli akan muntah ketika tak ada lagi yang bisa dimakan selain tempe dan daun telo.
Maka dari itu, keseimbangan antara sweet dan sour sangatlah penting meski takarannya tidak benar-benar sama. Terlalu banyak asam membuat orang terlalu rendah hati, sedangkan terlalu banyak manis menjadikan manusia terlalu percaya diri. Mereka yang terlalu sering bersedih memiliki hati yang terlalu sensitif. Kebalikannya, yang terlalu sering berbahagia menjadi tidak peduli atas segala selain dirinya.
Secara garis besar, Tuhan telah menetapkan takdir manusia dengan sweet dan sour yang seimbang meski keturunan ikut campur di dalamnya. Maka seharusnya untung dan ruginya bisa diperhitungkan, seperti menetapkan hafalan sebagai bakat awal serta memastikan rabu sebagai hari sial. Jadi, mengapa harus melupakan lumba-lumba sebagai mamalia ketika melihatnya?
            Wallahu a’lamu bish-showab...


*Alumni MA Nurul Jadid.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar