Kamis, 21 September 2017

Muhasabah dalam Menyambut Hijriyah

Oleh: Ainil Atiqoh*

“Siapa yang hari ini lebih baik dari  hari kemarin, maka ialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ialah orang yang merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ialah orang yang terlaknat.

Tahun baru, momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Kembang api, suara mercon, pertunjukan musik, dan nongkrong di pusat keramaian seringkali menjadi hal yang lumrah -atau bahkan bisa dikatakan wajib- adanya. Tahun baru yang dimaksud di sini adalah tahun baru masehi. Sedangkan, untuk tahun baru Islam sendiri kurang mendapat perhatian jika dibandingkan dengan tahun baru masehi. Meskipun demikian, dalam rangka menyambut dan menyemarakkan tahun baru Islam, mulai banyak dicanangkan kegiatan-kegiatan positif yang tak kalah menariknya dengan kegiatan yang digencatkan saat tahun baru masehi tiba. Kegiatan-kegiatan tersebut biasanya berupa pawai obor, perlombaan-perlombaan bernuansa islami, pengajian , dzikir bersama, dan lain sebagainya. Dengan diadakannya kegiatan-kegiatan tersebut, selain sebagai sarana untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mempererat tali silaturrahim dan memperkokoh persatuan antar sesama muslim.

Saat ini, telah sampailah kita pada tahun baru Islam yang ke-1439. Bulan Muharram, pada bulan tersebut terdapat berbagai keutamaan di dalamnya, seperti digugurkannya dosa setahun yang lalu bagi orang yang melaksanakan puasa asyura. Kemudian, jika dilihat secara historis, pada bulan itu juga telah terjadi berbagai peristiwa penting yang menimpa para nabi terdahulu, seperti hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, mendaratnya kapal Nabi Nuh setelah sekian lama mengarungi banjir bandang, selamatnya Nabi Musa dari kejaran raja Fir’aun,  dan lain sebagainya.

Selain untuk mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut, tahun baru Islam juga dapat dijadikan sebagai sarana muhasabah atau introspeksi diri, sebab manusia pada hakikatnya tidak bisa lepas dari lupa dan dosa. Bertahun-tahun sudah kita melewati hidup, namun sudahkah kita gunakan dengan tepat dan seefesien mungkin masa-masa itu? Atau justru sebaliknya, semuanya hanya terlewati begitu saja seperti angin lalu. Oleh karena itu, ditahun yang baru ini, di kesempatan yang tak ternilai ini, hendaknya kita gunakan sisa umur kita sebaik mungkin. Sebab, untuk tahun depan atau bahkan hari esok, belum tentu  kita bisa berjumpa kembali.

Dunia adalah ladang akhirat. Ketika hidup di dunia, seringkali kita sibuk untuk memperkaya diri, mengesampingkan kebutuhan ruhani. Jika saatnya telah tiba, tiada lagi kesempatan memperbaiki , yang tersisa hanya penyesalan abadi. Sebagaimana nama dari tahun yang sedang kita rayakan ini, yaitu tahun hijriyah, maka sudah selayaknya kita mulai behijrah ke arah yang lebih baik lagi, meninggalkan hal-hal buruk dimasa lalu dan menggantinya dengan hal-hal yang lebih baik.

“Dan hendaklah orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. al-Hasyr: 18).

*Kru Sarung

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar