Selasa, 31 Oktober 2017

Ikuti Event Santri Writer Summit 2017, Delegasi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Berhasil Raih Prestasi

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net – CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menorehkan sejarah di dunia literasi. Pada kesempatan kali ini, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali berbangga dengan terpilihnya Annas Rolli Muclisin sebagai juara 1 dan Muhammad Rafi sebagai juara 3 essai terbaik pada Konferensi Literasi Santri Nasional: Santri Writer Summit 2017 yang dilaksanakan pada 27-29 Oktober 2017 lalu di Universitas Indonesia, Depok. Event ini diselenggarakan oleh @santrinulis bekerja sama dengan Direktorat PD Pontren Kemenag RI. Selain Annas dan Rafi, ada tiga anggota lainnya yang juga ikut serta dalam konferensi tersebut. Mereka adalah: Alif Jabal Kurdi, Muhammad Alan Juhri, dan Yeni Angelia.

Ketika ditanya mengenai kendala dalam penulisan essainya, Alif menjawab bahwa ia tidak mempunyai kendala yang berarti. Ia juga mengaku terkesan tidak begitu serius dalam penulisannya karena essai yang ditulisnya adalah hasil kompilasi makalah semester satu dulu. Jawaban serupa namun tak sama juga datang dari Rafi. Ia mengaku tidak tahu-menahu mengenai event ini. “Pada awalnya saya sama sekali tidak mengetahui ada event ini, tetapi ketika malam terakhir pengumpulan naskah, teman-teman di kamar semuanya sedang mengerjakan. Akhirnya saya tertarik dan mulai menulis malam itu juga”.

Kelima anggota CSSMoRA UIN Suka ini memiliki kendala masing-masing yang tampak surprise bagi mereka sendiri. Yeni bahkan tidak pernah menyangka kalau essainya akan diterima dalam event yang baru pertama kali diadakan di Indonesia ini. Niat awalnya menulis essai tersebut semata-mata ingin bertemu dengan Habiburrahman El Shirazy saja, seorang novelis yang turut hadir sebagai pembicara bersama Asma Nadia, Ibrahim Malik, Prie GS, Saiful Falah (founder @santrinulis), dan Abdul Wahab. “Awal nulis essai itu karena lihat pembicaranya ada Kang Abik. Saya pribadi sangat mengagumi karya-karya beliau. Jadi waktu pengumumannya keluar saya merasa sedikit kecewa juga, saya pikir ini karena niat awal yang keliru. Tapi qadarullah, malam itu saya mendapat telepon dari panitia dan mengatakan bahwa essai saya lolos. Rasanya… tidak bisa digambarkan.” Tutur gadis berdarah minang tersebut.

Annas, selaku peraih juara pertama essai terbaik pun merasa sangat senang. Pasalnya ia tidak menyangka mampu mencapai sebuah pencapaian yang luar biasa tersebut. “Senang banget pastinya, karena semenjak menjadi ketua CSSMoRA Nasional saya sudah sangat jarang menulis. Terus sekali nulis lagi, Alhamdulillah diterima dan menjadi juara itu pastinya senang banget kan. Saya tidak memikirkan hadiahnya berupa tiket ke Singapura, bisa lolos event ini pun saya sudah bersyukur. Karena dari 357 essai yang masuk hanya 50 essai terbaik yang diterima.” Jelasnya.

Ketika ditanya mengenai motivasi yang mendorong mereka ikut serta dalam konferensi tersebut jawabannya berbeda-beda. Namun ada satu yang menarik, kelimanya sepakat bahwa selain menjadikannya sebagai pengalaman, mengikuti event ini juga untuk terus mengembangkan diri melalui literasi. Karena dengan setitik tinta mampu membangun dan mengubah peradaban.

Terakhir, kelima anggota CSSMoRA UIN Suka ini menyampaikan pesan kepada seluruh anggota CSSMoRA UIN Suka lainnya untuk terus menulis. “Menulis! Menulis! Dan menulis! Saatnya kita take action bukan hanya teori semata”. Alif dan Alan menambahkan dengan sebuah kutipan dari salah satu pembicara, “Apapun passionmu jika kamu ingin sukses maka kamu harus menjadi singa ketika siang hari –tangguh dalam menerjang proses- dan jadilah rahib saat malam hari –bersimpuh dan bertaqarrub pada Sang Ilahi-.” Ibrahim Malik.

“Semangat nulis aja, biar bisa jalan-jalan gratis.” Imbuh Alan dengan nada jenaka.


Jadi, bagaimana? Sudahkah kita menulis hari ini?

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar