CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Senin, 25 Desember 2017

Murid Syaikh Kamba Sambangi Rumah Maiyah

Bantul- Sabtu Sore lalu (23/12), sebanyak 98 murid Muhammad Nursamad Kamba atau yang lebih dikenal dengan Syaikh Kamba singgah di Rumah Maiyah Cak Nun Jogja. Pukul 16.15 WIB rombongan mahasiswa Prodi Tasawuf Psikoterapi yang merupakan santri PBSB UIN Bandung tiba di rumah Maiyah setelah bertolak dari Asrama Haji yang terletak di Jalan Ring Road Utara, Sleman.
Dengan didampingi oleh ketua rombongan dan juga Annas Rolli Muchlisin ( Ketua CSSMoRA Nasional ), mereka memasuki perpustakaan milik Eyang (Cak Nun), setelah mendapat penyambutan dan instruksi dari tuan rumah. Setelah itu bepindah ke aula untuk mendengarkan pemaparan mengenai Maiyah Jogja.
Usai menyambangi perpus milik Cak Nun, rombongan merapat ke sebuah ruangan yang dikenal dengan aula, tempat yang biasa digunakan untuk kajian Eyang bersama jamaah Maiyah. Dalam rungan tersebut seorang perempuan dan redaktur media Maiyah menyambut rombongan dengan memberikan beberapa pandangan dan ulasan mengenai Rumah Maiyah dan Cak Nun. Dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari peserta rombongan.
Perwakilan PBSB UIN Bandung, Nidal Rabbani memperkenalkan rombongan sekaligus menyampaikan beberapa pertanyaan. Ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa Prodi Tasawuf Psikoterapi menggunakan karya Cak Nun sebagai referensi primer dalam pembelajaran tasawuf.
"Kunjungan PBSB UIN Bandung ke Rumah Maiyah Cak Nun ini dalam rangka timbal balik sowan kami, setelah beliau mengisi acara kami di Bandung pada bulan November lalu. Sekaligus serangkaian dalam acara Rihlah yang merupakan Pogram Kerja CSSMoRA UIN Bandung," terang Ats Tsania Az Zahra, Pimred media ORASI.
Diskusi terus berlanjut dipimpin oleh Helmi dan Jamal selaku Redaktur Media Online Cak Nun, memaparkan bahwa di ruangan tersebut digunakan untuk diskusi dan bedah karya Cak Nun setiap tanggal 11 bersama jamaah Maiyah.  Selain itu, dua karya lain yang menjadi kajian di tempat tersebut adalah milik Syaikh Kamba dan Gus Fuad.  “Perpustakaan Eyang juga terbuka untuk masyarakat umum yang dibuka mulai jam 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Diskusi berakhir pada pukul 18.30 WIB dan rombongan murid Syaikh Kamba tersebut pamit untuk undur diri karena masih melanjutkan serangkaian acara yang telah direncanakan. Sebelum beranjak dari rumah Maiyah, mereka memberikan kenang-kenangan berupa plakat yang diberikan kepada Cak Nun yang diwakili oleh Helmi dan Jamal./Mas

Jumat, 22 Desember 2017

Santri PBSB Gelar Seminar Entrepreneurship

Santri PBSB Gelar Seminar Entrepreneurship


Yogyakarta- Kamis lalu (21/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Seminar Entrepreneurship. Kegiatan yang merupakan salah satu program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) tersebut dipusatkan di Gedung Convention Hall  Lantai 1 UIN Sunan Kalijaga. Acara tersebut berlangsung selama empat jam dari pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB.
Dian Aulia Ningrum selaku pembawa acara membuka acara tersebut. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Nadhif  (Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kemenag DIY), Annas Rolli Muchlisin (Ketua CSSMoRA Nasional) dan Mansyur Hidayat (Koordinator PSDE Nasional) yang merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian Harlah (Hari lahir) CSSMoRA ke-10 yang untuk kali kedua ini UIN Sunan Kalijaga mendapat kesempatan menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan acara tesebut. Dalam sambutannya, Abdul Mustaqim selaku pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) menyampaikan, “Kunci bagi seorang Entrepreneur adalah membaca peluang. Harapan ke depannya, santri PBSB dapat menjadi pribadi yang maju,  kreatif, berkembang dan berkarakter”.
Acara yang bertajuk tema “Menuju Pemuda yang Mandiri, Akademis dan Berjiwa Entrepreneurship” tersebut menghadirkan tiga narasumber yakni H. Bukhori AZ, Evoy Pahlevi dan Anifatul Jannah. Acara Seminar dimulai usai pembukaan dengan dimoderatori oleh Farid Abdillah.
Ketiga narasumber yang merupakan seorang entrepreneur tersebut menyampaikan beberapa pengalaman dan motivasi kepada peserta perjalanan bisnis seorang entrepreneur. Evoy Pahlevi salah seorang narasumber menyampaikan, “Salah satu yang perlu dilakukan oleh seorang Entrepreneur adalah memulai”, tandasnya.

Acara tersebut berakhir pada pukul 13.00 WIB dengan pembagian beberapa doorprize kepada peserta. Acara seminar ini juga mendapat sponsor dari beberapa instansi diantaranya, Social Agensi Baru, Al Mujtaba Tour and Travel, English Café, Prodi Ilmu al Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga./Mas

Selasa, 19 Desember 2017

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*


Betapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk sekedar menyampaikan perpisahan kepada pelajaran matematika. Bukanlah sebuah rahasia bahwa banyak yang tidak menyukainya, meski di sisi lain tak sedikit jumlah manusia yang menggemarinya. Dari tingkat sekolah rakyat sampai sekolah lanjutan tingkat atas, seluruh siswa selalu dihadapkan dengan mata pelajaran ini dengan aneka bentuk pembahasannya.
Pada permulaan perjalanan, entah itu Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), peserta didik mulai bergelut dengan pengolahan angka. Penjumlahan, pengurangan, pengalian, pembagian, pemangkatan, dan pengakaran, semua diajarkan oleh para pahlawan dengan penuh kesabaran. Sebagai bentuk aplikasinya, mereka dihadapkan dengan penghitungan bangun datar, bangun ruang, sampai perihal lain yang terjadi secara nyata dalam berbagai segi kehidupan.
Kemudian di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), mereka mulai berhadapan dengan huruf dan sejenisnya. Persamaan demi persamaan ditelusuri melalui pelbagai rupa simbol hingga menghasilkan sesuatu yang orang istilahkan sebagai jawaban. Kongruensi, peluang, juga himpunan menghadirkan dunia baru bagi peserta didik untuk terus menempa diri dalam mencari hasil matang dari bahan-bahan yang telah disediakan.
Akhirnya mereka sampailah di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Teori mulai diperkenalkan. Tidak sedikit barang tak terlihat diperhitungkan. Jangan anggap igauan, karena seperti angka “0”, ketidaktampakan bukan berarti ketiadaan.
Demikianlah perjalanan singkat matematika yang selurus penggaris. Ibarat dari Banyuwangi menuju Jakarta, mereka tinggal mengambil jalan tunggal melalui pantura. Belokan memang ada, tapi tidak terlalu bermakna mengingat ada satu jalur yang dapat dijadikan titik fokus mata.
Kecuali itu, ada dunia balik layar matematika yang biasa dikenal sebagai olimpiade. Kebanyakan orang mengira, ajang itu hanyalah adu kecerdasan antar siswa atau mahasiswa. Padahal, di dalamnya terdapat penderitaan yang begitu kelam.
Olimpiade SD sederajat menghadirkan rasa sakit tingkat pemula. Ketidaksesuaian dengan pengalaman mulai dibenturkan, seperti sebuah bangun persegi yang kehilangan setengah lingkaran bagiannya. Dengannya, mereka mengerti bahwa hidup tidak sesederhana ucapan motivator ternama.
Di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), olimpiade menyuguhkan kekecewaan. Mereka dipaksa bergerak pada situasi yang tidak memungkinkan, semacam pertidaksamaan, hanya demi mendapatkan kesenangan yang tak pernah terbayangkan. Ujung-ujungnya, mereka mulai memahami betapa hasil takkan pernah berbanding lurus dengan perjuangan yang dicurahkan.
Lalu tibalah di SMA dan sejenisnya. Mereka diharuskan menciptakan rumus sendiri, mencoba menghadapi persoalan yang tak terduga. Pengalaman selama SD seakan lebih berharga dari semua setelahnya. Akhirnya, mereka bisa merasa bahwa hidup bukanlah tentang kesenangan bersama semata, tanpa memperdulikan orang-orang menderita yang tidak dikenalnya.
Nilai-nilai Kehidupan
Pembahasan tentang nilai-nilai kehidupan kini telah menjadi begitu menjemukan. Bagaimana tidak, kata-kata “bijak” sudah bisa keluar dari mereka yang nyatanya belum pernah merasakan. Apalagi, kini yang menjadi timbangan utama adalah tujuan, bukan kewajiban yang harus ditunaikan.
Sejatinya telah begitu banyak tokoh sampai komunitas yang mendalami arti nafas demi nafas dihembuskan. Dari pakar sosiologi, antropologi, filsafat, sampai pemuka agama, semua mencoba menyajikan saran-saran menuju ketentraman. Harapannya, manusia dapat hidup bersama dengan damai, sejahtera, juga sentosa dengan sikap tanggung jawab, saling bahu-membahu, serta tidak malu untuk meminta maupun memberi uluran tangan.
Sayangnya, harapan hanyalah harapan. Faktanya, manusia malah terjebak dalam pemikiran tentang nilai-nilai itu sendiri. Mereka terlalu terobsesi dengan pemahaman secara keseluruhan termasuk perbandingan lebih-lebih pembenaran dan penyalahan. Lebih-lebih sudah ada media sosial sebagai alat penyebaran demi menjadikan diri sendiri sebagai tokoh percontohan. Mereka lupa atau malah melupakan bahwa pengetahuan tanpa perwujudan adalah kebohongan.
Kesempatan untuk mengulang dari awal selalu terbuka, termasuk dalam hal ini. Ketika carut marut semakin kalang kabut, sudah saatnya membongkarnya. Terkadang untuk membangun sesuatu memang harus menghancurkan terlebih dahulu, dan matematika termasuk salah satu pondasi awal yang cocok bagi para non-pemula.
Dalam penjumlahan sederhana, insyaallah semua mengerti bahwa 3-2=1, 4-3=1, 6-5=1, dan 100-99=1. Artinya, selama perhitungannya pas, segala proses atau bentuk bisa menjadi sesuatu. Oleh karena itu, orang sombong tidak hanya mencakup mereka yang merasa lebih baik dari lainnya. Mereka yang tidak menjawab dengan benar ketika disapa adalah orang sombong, mereka yang enggan memberikan bantuan adalah orang sombong, dan mereka yang melupakan masa lalu adalah orang sombong.
Dalam materi himpunan, tak jarang dalam dua kolom berbeda terdapat angka yang sama. Ini menunjukkan akan sebuah pembatasan. Jika anda tidak suka dengan orang yang merokok, silahkan benci mereka ketika menghembuskan asapnya. Tapi jika tidak sedang melakukannya, kenapa harus dijauhkan dari pandangan mata? Pertengkaran dalam pertandingan olahraga atau perdebatan kata-kata adalah hal biasa. Maka setelah forum itu selesai, harusnya perselisihan juga usai. Bukankah begitu sebenarnya?
Integral dan diferensial merupakan invers yang istimewa. Lengkungan suatu garis bisa menjadi begitu indah akibat ulah keduanya. Andai saja tata krama berjalan seperti keduanya, betapa cerahnya masyarakat sejahtera. Ketua bersikap adil, tegas, dan bertanggung jawab, sementara anggota dapat taat sebisa semampu mereka. Yang tua mengayomi dan menyayangi para penerusnya, sementara yang muda menghormati serta tidak bersikap lancang kepada pendahulunya.
Demikianlah beberapa landasan awal yang mungkin sudah terkubur. Masih banyak poin-poin lain yang mungkin juga telah dimakamkan, namun mungkin terlalu lama jika harus berziarah kepada seluruh mereka. Karena sekarang adalah zaman modern yang notabene semuanya serba cepat, sementara orang-orangnya begitu cerdas sehingga membaca atau mendengar sedikit saja mereka sudah merasa mengerti segalanya.
Termasuk buah dari kehidupan modern ialah bahwa manusia masa kini terlalu terobsesi dengan tujuan atau yang biasa mereka agungkan sebagai cita-cita. Tidak peduli bagaimana caranya, asal tujuan terlaksana semua halal-halal saja. Kewajiban maupun larangan bukanlah batu sandungan bahkan jika harus memperoleh dosa. Ibarat orang membakar sate, mereka mengipas sampai keluar apinya. Masih menjadi sate memang, tetapi dagingnya justru menjadi hitam. Lebih parah lagi, bisa jadi sate hanya tinggal angan-angan.
Terima kasih kepada guru-guru matematika yang telah mengajari putra-putri Indonesia dengan begitu sabarnya. Terima kasih juga untuk para penemunya, yang orang barat bilang dari kalangan mereka sementara orang muslim katanya tidak terima. Maklum saja, memang matematika adalah ketidakpastian yang notebe selalu menjadi rebutan. Maka setelah ke barat ke timur ke selatan ke utara dari tadi, bersediakah berziarah kembali?
Wallahu a’lamu bish-showab...


*Alumni MA Nurul Jadid.

Kamis, 14 Desember 2017

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News

PBSB UIN Sunan Kalijaga Dalami Indepth News


Rabu lalu (13/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menyelenggarakan Bincang Jurnalistik. Kegiatan yang termasuk Program Kerja Departemen Jurnalistik tersebut dilaksanakan di lembah kampus. Acara berlangsung selama satu setengah jam lebih, dari pukul 08.15 WIB sampai sekitar pukul 10.00 WIB.
Bincang kemarin merupakan yang kedua dari empat pelaksanaan sesuai perencanaan. Adapun materi yang dibahas ialah Indepth News. Pematerinya adalah Wulan Agustina, salah seorang redaktur Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena.
Sebanyak duapuluh peserta hadir pada kegiatan tersebut. Uniknya, Annas Rolli Muchlisin (Ketua CSSMoRA Nasional) dan Melati Ismaila Rafi’i (Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga) turut berpartisipasi di dalamnya. Hendriyan Rayhan selaku moderator memimpin berjalannya acara dari awal hingga akhir.
Kendati membahas tentang Indepth News, Wulan tidak monoton mengulas tentang tata cara penulisannya. Dia juga memberi selingan pembahasan tentang kode etik jurnalistik yang sangat penting untuk diketahui oleh para jurnalis. “Jadi yang kita sampaikan bukanlah kebenaran filosofis, melainkan kebenaran fungsional,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah tersebut menambahkan, jurnalis harus berusaha seobjektif mungkin dalam menyajikan berita. Jangan sampai ada opini penulis tercantum di dalamnya. “Hindari penggunakan kata semisal banyak dan cantik. Karena memang tidak ada takaran yang pas dalam hal tersebut,” tegasnya.

Acara berjalan dengan tidak formal atau santai. Kegiatan tersebut mendapat respon baik dari para peserta, salah satunya Annas. “Selain diajarkan untuk bersikap kritis, kita juga diajarkan agar mampu melihat suatu persoalan secara holistik dengan melihat fakta-fakta yang ada,” ungkapnya.(bsr)

Sabtu, 02 Desember 2017

HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat

   
HIV/AIDS, Edukasi dan Stigma Masyarakat
Oleh : Triyanti Nurkhikmah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) 

   Kemarin (01/12), penduduk dunia telah memperingati Hari AIDS Sedunia (selanjutnya disebut HAS). HAS pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Selanjutnya, konsep tersebut disetujui oleh Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS) dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama HAS akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988. Konsep yang mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia sejak 1988 ini diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

   Membincang HIV/AIDS, setidaknya ada dua PR utama bagi masyarakat dunia umumnya, dan Indonesia khususnya. PR tersebut adalah kurangnya edukasi (pengetahuan) mengenai HIV/AIDS dan stigma negatif yang ditujukan kepada penderita HIV/AIDS. Dua hal tersebut menjadi layak diperbincangkan, setidaknya untuk memperluas wawasan tentang HIV/AIDS dan menghilangkan “noda hitam” bagi para penderita HIV/AIDS.

HIV atau AIDS?

   HIV dan AIDS; dua kata yang terlihat seperti pasangan tak terpisahkan ini menjadi bias maknanya di sebagian besar masyarakat. Apakah dua kata tersebut berbeda, saling berkaitan, sebab akibat, atau bahkan sama maknanya. 

   HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. 

   Adapun AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali. Sederhananya, AIDS merupakan level lanjutan atau dampak jangka panjang yang muncul karena virus HIV. Menurut medis, penderita HIV akan sampai pada AIDS setelah sepuluh tahun terinfeksi. Dengan catatan, tidak sering melakukan hal-hal yang beresiko.

Sarana penularan HIV 

   HIV memiliki “sarana khusus” dalam penularannya, bukan semata-mata dengan bersentuhan saja bisa tertular. Ada tiga perantara penularan HIV, yaitu pertama, melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya. Kedua, dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui. Ketiga, melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).

   Tiga sarana tersebut mempunyai prinsip penularan yang biasa disebut ESSE (Exit, Survive, Sufficient sarana penularan dan Enter). Exit; keluar. Virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, maupun jarum suntik yang terkontaminasi. Survive; hidup. Untuk dapat menularkan HIV, virus harus bisa bertahan hidup di luar tubuh. Akan tetapi, virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Sufficient; cukup. Artinya, jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi. Apabila virus hanya dalam jumlah sedikit (belum cukup), maka penularan tidak akan terjadi. Enter; masuk. Berarti, virus tersebut harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini menandakan, apabila salah satu prinsip tersebut tidak terpenuhi, maka virus tidak akan menular. 

Stigmatisasi penderita HIV/AIDS

   Selama ini banyak anggapan bahwa HIV hanya dapat menular pada orang-orang tertentu saja; yakni orang-orang yang berbuat dosa. Lebih dari itu, klaim bahwa HIV dikirim Tuhan sebagai hukuman, bahkan kutukan sudah menjadi jamur yang cepat mmenyebar dan tumbuh subur di masyarakat. Maraknya informasi dan data yang seharusnya difilter sebelum dikonsumsi dan disebarkan, membuat adanya “noda hitam” bagi penderita HIV/AIDS. Padahal, edukasi mengenai HIV/AIDS masih di bawah standar maksimal. Hal ini menciptakan kesenjangan sosial dalam tatanan masyarakat,

   Orang Dengan HIV/AIDS (biasanya disebut ODHA), merupakan salah satu komponen masyarakat yang mempunyai hak yang sama dengan masyarakat umumnya. Mempunyai hak untuk hidup, bersosialisasi dan berinteraksi layaknya masyarakat umum. Akan tetapi, fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat adalah berkembangnya sigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA. Sebagai contoh, seorang ODHA dijauhi bahkan sampai pada pengucilan yang dilakukan masyarakat sekitar. 

   Bukan hanya di Indonesia saja, stigmatisasi terhadap ODHA juga terjadi di negara pada umumnya. Sejarah mencatat, awal ditemukannya virus HIV muncul di Kasensero, sebuah desa di tepi danau Victoria, Uganda Barat. Wilayah ini menjadi sorotan dunia pada tahun 1982 dikarenakan hanya dalam beberapa hari, warganya meninggal dunia setelah mengidap penyakit misterius (yang kemudian dikenal dengan HIV). Setelah berita itu mencuat ke telinga masyarakat dunia, desa tersebut mempunyai “noda hitam” di mata dunia. Selain itu, hal ini juga terjadi  di sebagian wilayah AS, Tanzania dan Kongo. Stigmatisasi terhadap ODHA semakin kuat melekat di telinga masyarakat dunia. 

   Anggapan yang sama juga datang dari negara Kamboja. Seorang pendeta Buddha yang selibat ternyata mengidap HIV. Para pengikutnya pun marah mengira dia melakukan hubungan seks secara diam-diam. Ternyata setelah ditelusuri, beliau tertular akibat kelalaian dokter yang merawatnya. Si dokter, untuk meminimalkan biaya pembelian alat suntik, telah melakukan injeksi obat-obatan ke ratusan orang tanpa mengganti alat suntik. Seharusnya alat suntik adalah sekali pakai.

Menghapus stigma dan diskriminasi ODHA 

   Beberapa tahun terakhir, beredar short message service (SMS) menyebar ke masyarakat. Isi dari SMS tersebut memaparkan bahwa ada penderita HIV yang menyebarkan virus lewat tusuk gigi yang tersedia di restoran. Caranya, tusuk gigi itu dipakai hingga terkena darah lalu diusap hingga orang tidak curiga tusuk gigi tersebut pernah dipakai. Kemudian tusuk gigi diletakkan kembali ke tempatnya. Yang menjadi pertanyaan, bisakah virus HIV menular lewat cara tersebut? Apakah melakukan kontak sosial dengan ODHA berbahaya?

   Di awal telah dijelaskan, bahwa virus HIV mempunyai prinsip dan sarana tertentu dalam penularannya. Maka, hal-hal yang tidak termasuk dalam prinsip dan sarana tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa HIV tidak menular di kolam renang umum, tidak menular melalui batuk atau bersin, tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga lainnya, tidak menular dengan berbagi alat makan bersama dan tidak menular karena berjabat tangan. Kontak sosial dengan ODHA tersebut sah-sah saja, tidak perlu dikhawatirkan. Lha wong kita sama-sama manusia kok, bagaimana kalau saya atau anda di posisi mereka? Oke, jauhi penyakitnya, bukan orangnya.