Selasa, 19 Desember 2017

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan

Matematika: Nilai-nilai Kehidupan
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*


Betapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk sekedar menyampaikan perpisahan kepada pelajaran matematika. Bukanlah sebuah rahasia bahwa banyak yang tidak menyukainya, meski di sisi lain tak sedikit jumlah manusia yang menggemarinya. Dari tingkat sekolah rakyat sampai sekolah lanjutan tingkat atas, seluruh siswa selalu dihadapkan dengan mata pelajaran ini dengan aneka bentuk pembahasannya.
Pada permulaan perjalanan, entah itu Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), peserta didik mulai bergelut dengan pengolahan angka. Penjumlahan, pengurangan, pengalian, pembagian, pemangkatan, dan pengakaran, semua diajarkan oleh para pahlawan dengan penuh kesabaran. Sebagai bentuk aplikasinya, mereka dihadapkan dengan penghitungan bangun datar, bangun ruang, sampai perihal lain yang terjadi secara nyata dalam berbagai segi kehidupan.
Kemudian di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), mereka mulai berhadapan dengan huruf dan sejenisnya. Persamaan demi persamaan ditelusuri melalui pelbagai rupa simbol hingga menghasilkan sesuatu yang orang istilahkan sebagai jawaban. Kongruensi, peluang, juga himpunan menghadirkan dunia baru bagi peserta didik untuk terus menempa diri dalam mencari hasil matang dari bahan-bahan yang telah disediakan.
Akhirnya mereka sampailah di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Teori mulai diperkenalkan. Tidak sedikit barang tak terlihat diperhitungkan. Jangan anggap igauan, karena seperti angka “0”, ketidaktampakan bukan berarti ketiadaan.
Demikianlah perjalanan singkat matematika yang selurus penggaris. Ibarat dari Banyuwangi menuju Jakarta, mereka tinggal mengambil jalan tunggal melalui pantura. Belokan memang ada, tapi tidak terlalu bermakna mengingat ada satu jalur yang dapat dijadikan titik fokus mata.
Kecuali itu, ada dunia balik layar matematika yang biasa dikenal sebagai olimpiade. Kebanyakan orang mengira, ajang itu hanyalah adu kecerdasan antar siswa atau mahasiswa. Padahal, di dalamnya terdapat penderitaan yang begitu kelam.
Olimpiade SD sederajat menghadirkan rasa sakit tingkat pemula. Ketidaksesuaian dengan pengalaman mulai dibenturkan, seperti sebuah bangun persegi yang kehilangan setengah lingkaran bagiannya. Dengannya, mereka mengerti bahwa hidup tidak sesederhana ucapan motivator ternama.
Di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), olimpiade menyuguhkan kekecewaan. Mereka dipaksa bergerak pada situasi yang tidak memungkinkan, semacam pertidaksamaan, hanya demi mendapatkan kesenangan yang tak pernah terbayangkan. Ujung-ujungnya, mereka mulai memahami betapa hasil takkan pernah berbanding lurus dengan perjuangan yang dicurahkan.
Lalu tibalah di SMA dan sejenisnya. Mereka diharuskan menciptakan rumus sendiri, mencoba menghadapi persoalan yang tak terduga. Pengalaman selama SD seakan lebih berharga dari semua setelahnya. Akhirnya, mereka bisa merasa bahwa hidup bukanlah tentang kesenangan bersama semata, tanpa memperdulikan orang-orang menderita yang tidak dikenalnya.
Nilai-nilai Kehidupan
Pembahasan tentang nilai-nilai kehidupan kini telah menjadi begitu menjemukan. Bagaimana tidak, kata-kata “bijak” sudah bisa keluar dari mereka yang nyatanya belum pernah merasakan. Apalagi, kini yang menjadi timbangan utama adalah tujuan, bukan kewajiban yang harus ditunaikan.
Sejatinya telah begitu banyak tokoh sampai komunitas yang mendalami arti nafas demi nafas dihembuskan. Dari pakar sosiologi, antropologi, filsafat, sampai pemuka agama, semua mencoba menyajikan saran-saran menuju ketentraman. Harapannya, manusia dapat hidup bersama dengan damai, sejahtera, juga sentosa dengan sikap tanggung jawab, saling bahu-membahu, serta tidak malu untuk meminta maupun memberi uluran tangan.
Sayangnya, harapan hanyalah harapan. Faktanya, manusia malah terjebak dalam pemikiran tentang nilai-nilai itu sendiri. Mereka terlalu terobsesi dengan pemahaman secara keseluruhan termasuk perbandingan lebih-lebih pembenaran dan penyalahan. Lebih-lebih sudah ada media sosial sebagai alat penyebaran demi menjadikan diri sendiri sebagai tokoh percontohan. Mereka lupa atau malah melupakan bahwa pengetahuan tanpa perwujudan adalah kebohongan.
Kesempatan untuk mengulang dari awal selalu terbuka, termasuk dalam hal ini. Ketika carut marut semakin kalang kabut, sudah saatnya membongkarnya. Terkadang untuk membangun sesuatu memang harus menghancurkan terlebih dahulu, dan matematika termasuk salah satu pondasi awal yang cocok bagi para non-pemula.
Dalam penjumlahan sederhana, insyaallah semua mengerti bahwa 3-2=1, 4-3=1, 6-5=1, dan 100-99=1. Artinya, selama perhitungannya pas, segala proses atau bentuk bisa menjadi sesuatu. Oleh karena itu, orang sombong tidak hanya mencakup mereka yang merasa lebih baik dari lainnya. Mereka yang tidak menjawab dengan benar ketika disapa adalah orang sombong, mereka yang enggan memberikan bantuan adalah orang sombong, dan mereka yang melupakan masa lalu adalah orang sombong.
Dalam materi himpunan, tak jarang dalam dua kolom berbeda terdapat angka yang sama. Ini menunjukkan akan sebuah pembatasan. Jika anda tidak suka dengan orang yang merokok, silahkan benci mereka ketika menghembuskan asapnya. Tapi jika tidak sedang melakukannya, kenapa harus dijauhkan dari pandangan mata? Pertengkaran dalam pertandingan olahraga atau perdebatan kata-kata adalah hal biasa. Maka setelah forum itu selesai, harusnya perselisihan juga usai. Bukankah begitu sebenarnya?
Integral dan diferensial merupakan invers yang istimewa. Lengkungan suatu garis bisa menjadi begitu indah akibat ulah keduanya. Andai saja tata krama berjalan seperti keduanya, betapa cerahnya masyarakat sejahtera. Ketua bersikap adil, tegas, dan bertanggung jawab, sementara anggota dapat taat sebisa semampu mereka. Yang tua mengayomi dan menyayangi para penerusnya, sementara yang muda menghormati serta tidak bersikap lancang kepada pendahulunya.
Demikianlah beberapa landasan awal yang mungkin sudah terkubur. Masih banyak poin-poin lain yang mungkin juga telah dimakamkan, namun mungkin terlalu lama jika harus berziarah kepada seluruh mereka. Karena sekarang adalah zaman modern yang notabene semuanya serba cepat, sementara orang-orangnya begitu cerdas sehingga membaca atau mendengar sedikit saja mereka sudah merasa mengerti segalanya.
Termasuk buah dari kehidupan modern ialah bahwa manusia masa kini terlalu terobsesi dengan tujuan atau yang biasa mereka agungkan sebagai cita-cita. Tidak peduli bagaimana caranya, asal tujuan terlaksana semua halal-halal saja. Kewajiban maupun larangan bukanlah batu sandungan bahkan jika harus memperoleh dosa. Ibarat orang membakar sate, mereka mengipas sampai keluar apinya. Masih menjadi sate memang, tetapi dagingnya justru menjadi hitam. Lebih parah lagi, bisa jadi sate hanya tinggal angan-angan.
Terima kasih kepada guru-guru matematika yang telah mengajari putra-putri Indonesia dengan begitu sabarnya. Terima kasih juga untuk para penemunya, yang orang barat bilang dari kalangan mereka sementara orang muslim katanya tidak terima. Maklum saja, memang matematika adalah ketidakpastian yang notebe selalu menjadi rebutan. Maka setelah ke barat ke timur ke selatan ke utara dari tadi, bersediakah berziarah kembali?
Wallahu a’lamu bish-showab...


*Alumni MA Nurul Jadid.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar