Minggu, 21 Januari 2018

Ada Apa dibalik Tembok Pesantren?

     Ada Apa dibalik Tembok Pesantren?

Oleh : Ahmad Ahnaf Rafif

     Tembok atau pagar, sudah menjadi hal yang lumrah ada di dunia kepesantrenan. Pembangunan pesantren yang produktif serta bergaya arsitek luar negeri sering kali diidentikkan dengan kemodernan. Pembangunan semacam ini tanpa disadari juga berimplikasi pada peningkatan jumlah teror di Indonesia.
 Bagaimana tidak? Pesantren yang dahulunya merupakan lembaga sosial yang sengaja didirikan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat secara umum, kini justru membatasi diri antara dunia pesantren dengan dunia masyarakat. Membatasi dalam hal ini maksudnya ialah membatasi ruang gerak santrinya dengan membangun bangunan pembatas sehingga masyarakat luar kurang mendapat pengaruh ajaran Islam yang diajarkan di dalam pesantren.
     Jika melihat keadaan teror yang belum musnah dari negara Indonesia ini, tembok pesantren yang tinggi menjulang tersebut bisa menjadi faktornya. Aksi teror di Indonesia hampir selalu dimulai dengan aksi propaganda yang terus dilakukan. Di antara beberapa tipe masyarakat yang dijadikan sasaran doktrinisasi pelaku propaganda tersebut ialah mereka yang termarjinalkan dari lingkungan sekitar dan memiliki status sosial rendah. Senjata utama mereka dalam aksi tersebut ialah dengan menggunakan ‘iming-iming’ kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya saat ini. Sehingga mau tidak mau, orang itu akan melakukan cara apa pun untuk meraihnya.
    Disinilah peran utama santri dibutuhkan. Di saat kesenjangan sosial terjadi di masyarakat, ketanggapan santri sangat diperlukan dalam hal ini untuk merangkul mereka yang termarjinalkan sebelum mereka didoktrinisasi oleh pelaku propaganda. Namun hal itu tidak akan terealisasi jikalau antara santri dan masyarakat masih terdapat sekat pemisah yang menyebabkan masyarakat kurang mendapat pengaruh dari dunia pesantren. Jika sudah terlepas dari perhatian pesantren, orang-orang yang termarjinalkan tersebut akan langsung direkrut oleh para pelaku propaganda.
Everything has two sides. Idiom inilah yang sering penulis gunakan dalam melihat berbagai dinamika kehidupan. Termasuk dalam melihat kemajuan pesantren yang kemudian memunculkan dikotomisasi antara pesantren tradisional dan pesantren modern. Pesantren tradisional, umumnya memainkan peran sentral di tengah masyarakat. Pesantren Tebu Ireng misalnya, yang di awal pendiriannya berperan penting dalam menyebarkan ajaran Islam sekaligus membersihkan kebiasaan buruk di masyarakat. Kiai Hasyim Asy’ari, sosok sentral di dunia ke-ulama-an Indonesia kala itu, mampu menghilangkan kebiasaan buruk masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren hanya dengan sikapnya yang santun, ramah, dan sabar. Sehingga dengan kearifannya itulah masyarakat menjadi lunak hatinya dan mudah menerima kebenaran.
     Keberhasilan Kiai Hasyim tentunya tidak lepas dari kedekatannya dengan masyarakat. Adanya lembaga pesantren kala itu dibentuk guna memperbaiki masyarakat. Semakin dewasa, peran pesantren bukan hanya memperbaiki, namun juga harus menjaga dan memberi perlindungan bagi masyarakat. Sebab pengaruh ideologi di luar dunia pesantren begitu pesat perkembangannya sehingga masyarakat di luar pesantren perlu diproteksi. 
     Di masa ini, jumlah pondok pesantren yang ada di Indonesia berjumlah kurang lebih 25.000 di 33 provinsi di Indonesia. Sehingga, jika dirata-rata setiap provinsi memiliki 758 pesantren yang tersebar di berbagai kabupaten dan desa-desa di dalamnya. Pertanyaannya sekarang, apakah jumlah yang begitu besarnya masih dirasa kurang untuk membuat masyarakat yang madani ? Jawabannya tentu saja tidak, kecuali jika pesantren-pesantren tersebut masih menjaga jarak dengan masyarakat. Jika satu provinsi memiliki kurang lebih 758 pesantren atau kurang dari itu -yang jelas lebih banyak dari jumlah bangunan-bangunan industri- ekspektasinya jumlah kekerasan di Indonesia akan menurun bahkan habis.
     Haruskah para santri dibatasi ruang geraknya sehingga tidak bisa bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar ? Kebanyakan pesantren lebih memilih untuk membatasi ruang gerak santrinya dengan tujuan untuk memberi pendidikan disiplin kepada santrinya. Selama 24 jam para santri diberikan pengawasan supaya tetap dalam peraturan pesantren, yang, di zaman ini, gambaran semacam itu sudah hampir menjadi frame masyarakat luas mengenai definisi pesantren. 
     Setidaknya memberi batasan ruang dan waktu bagi para santri perlu dilakukan untuk mendidiknya menjadi orang yang disiplin. Namun bukankah para santri juga perlu diajarkan tentang bagaimana cara melihat kondisi sosial di sekitarnya ? Jika tidak segera diajarkan, bagaimana bisa para santri dapat ‘merangkul’ masyarakat ? Sebenarnya ada dua pilihan dalam hal ini, yakni diajarkan ketika menjadi santri sehingga selain menjadi orang yang disiplin, namun juga menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar, atau, membiarkannya untuk mempelajarinya sendiri ketika telah lulus dari pesantren, yang, kemungkinannya masih di awang-awang. Jika sudah begitu, berapa ribu santri yang disia-siakan potensinya untuk mengawal keadaan sosial masyarakat. Mungkin, perbedaan zaman juga berimbas pada perbedaan cara yang dilakukan. Pesantren di masa dulu sengaja tidak membatasi ruang gerak santrinya agar dapat membaur dengan masyarakat. Berbeda dengan masa sekarang yang sudah zamannya teknologi, sehingga nampaknya para santri lebih cocok jika berbaur dengan masyarakat di dunia maya. Namun, bukankah itu justru dilarang ? Wallahua’lam bi ash-shawab.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar