Kamis, 25 Januari 2018

HAPEKU TERTINGGAL

Oleh : M. Farid Abdillah

Hujan deras menjadi musik yang mengalun malam ini. Di tengah dingin yang merasuk tubuh lalu perlahan masuk ke tulang. Selain itu, menunggu kedatangan teman juga menjadi teman. Selain orang-orang itu tentunya. Dan sekitar tiga puluh menit berlalu, ia belum datang juga. Makanya menunggu adalah temanku malam ini.

Bercakap dengan secangkir kopi ini tentu saja akan menambah kebodohanku. Apalagi dengan sebotol air mineral ini, ia hanya memandang sinis. Ada juga buku Milana karya Bernard Batubara yang menyuguhkan kisah romantis juga hanya bilang, “Kisahku bukan untuk orang kesepian sepertimu!”

Tiba-tiba segerombolan orang datang. Entah mereka siapa. Mungkin orang yang sedang punya urusan. Dan mulanya aku tak peduli dengan mereka. Sampai salah satu orang dari mereka—ia menggunakan kaos putih bergaris merah khas kaos dari Madura—masuk dan yang lain menunduk dan menyalami serta mencium tangannya. Setelah itu orang-orang yang  masuk membawa beberapa peralatan musik. Keyboard, gitar gambus dengan suaranya yang khas. Siapa mereka? Lalu siapakah beliau? 

Yang menarik dari pertunjukan malam ini adalah ketika salah satu orang menggunakan baju berwarna biru khas orang yang akan menari sufi, dengan rok lebar dan sebuah peci tinggi. Mungkin ia bersiap akan menari. Aku penasaran dengan tarian yang hanya berputar-putar ini.

Benar saja, ketika sang pimpinan—aku sebut saja begitu, biar kau paham—menjelaskan kisah tentang shalawat thalama asyku ia berdiri dan memulai ritualnya. Menunduk sampai rendah, lalu berdiri. Tangannya yang semula membentuk silang di depan dadanya mulai bergerak-gerak, menetapkannya di depan perut dan membentuk lambang cinta, kemudian naik ke atas kepalanya, lalu pelan-pelan tangan itu lurus satu dan ditekuk satunya. Begitu dan seterusnya, tangannya mengikuti irama tarian. Semua itu ia lakukan dengan berputar. Aku tak boleh mempraktikannya, atau aku akan pingsan di putaran kelima. Ketika ia berhenti, ia tak menunjukkan tanda-tanda pusing sama sekali. Hebat! Bahkan setelah itu ia menghisap rokok.

***

“Hei, kau acuhkan aku begitu saja!” Tetiba saja Milana membentak. Kemudian mengeluarkan mantra ampuh seorang wanita, “Semua lelaki sama saja!”

“Kau kenapa Milana?”

“Tadi kau begitu semangat mengambilku di rak kotor itu, kita bercumbu dalam Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari¹. Lalu kau bilang bahwa aku layaknya Malaikat² dengan lembar cerita indah.”

“Sadarlah, Milana! Ini sudah malam. Sejak kapan aku begitu gila mengatakan pagi di malam hari.” Sejenak kemudian aku sadar bahwa aku memang sedang gila berbicara dengan Milana. Dia sebuah buku.

Acuhkan saja Milana, dia memang seperti itu. Aku alihkan saja percakapanku kepada sang pimpinan—yang kemudian samar-samar aku dengar namanya Cak Kus—yang menjelaskan tentang cinta dan derita. Aku harap aku ingat kata-kata ini.

Jatuh cinta kepada makhluk itu akan membuat hati hancur lebur

Seakan aku tak peduli dengan makna yang Cak Kus sampaikan tadi. Hatiku bersepakat tanpa terucap dari mulut. “Iya, Cak. Benar. Aku cinta kepada seseorang, dan hatiku hancur lebur dibuatnya.” Dan sejauh ini aku masih mengakui ia makhluk. Makhluk Tuhan pastinya. Walau kadang dalam beberapa alur kehidupan ia menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Atau menjadi senja yang katamu indah itu. Ia menjelma menjadi senja dan mengiringi gelapnya malam hingga mengikutiku tidur.

***

“Hei, untuk apa kau bawa aku kemari?”

“Kenapa memangnya?”

“Kau diam saja sedari tadi. Berbincang dengan Milana lalu diam. Aku pun kau diamkan.” Curhat sebotol mineral yang aku bawa tadi.

Sudahlah, biarkan saja dia. Dia pencemburu memang. Aku salah membeli kemarin. Biasanya yang aku beli selalu botol air yang kuat. Tapi yang satu ini ku dapat ia yang selalu mengeluh lalu ia sendiri menitikkan air mata. Entahlah mungkin karena ia aku beli dari warung yang penjualnya selalu sedih. Pemilik warung tak bernama di utara warung rumah makan padang sendowo itu memang penyedih. Bahkan ia tak segan marah jika pembelinya tak sesuai pikirannya. Belum pernah aku lihat senyumnya sejak pertama aku beli di sana beberapa tahun lalu. Dan sekarang? Botol ini sudah seperti penjualnya. Menyebalkan.

Satu-satunya yang membuat aku tersenyum adalah dua puntung rokok ini. Sedari tadi mereka tidak mengindahkan acara pengikut Maulana Rumi itu. Mengacuhkan Milana yang masih bergumam tak jelas. Membiarkan botol mineral dengan kemarahannya. Dan secangkir kopi dingin yang sudah sesenggukan tak aku minum. Mereka asyik bercakap. Samar-samar yang aku dengar ternyata mereka sedang berbisnis. Satu puntung itu menawarkan hadiah menarik kalau temannya adalah rokok yang pertama aku nyalakan di antara mereka berdua. Bodohnya, ia setuju. Ia menatapku lalu berpaling ketika aku juga menatapnya. Bagaimana dapat hadiah jika aku nyalakan ia pertama? Tentu saja ia akan mati. Dasar rokok bodoh!

Kegilaanku mulai berhenti ketika ku sadari temanku belum juga datang. Dan semua ini bermula ketika sampai di kafe dan aku menyadari hapeku tak ada di tas. Aku berpesan kepada kalian, jangan sampai hapemu ketinggalan. Atau kau akan diajak bicara botol mineral. Kalau kau tidak membawa botol, maka kopimu akan mulai mencuri pandang denganmu. Hati-hati!

—————————

¹Salah satu judul cerpen dalam buku Milana karya Bernard Batubara.
²Salah satu judul lain cerpen dalam buku Milana.


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar