Jumat, 13 April 2018

Fiktif-kah al-Qur'an ?


Oleh: Mutawakkil Hibatullah

Dalam acara ILC edisi terakhir tentang “Jokowi-Prabowo Berbalas Pantun”, ada pembahasan yang cukup menarik yang mengusik hati dan pikiran saya mungkin juga teman-teman semua. Bukan tentang pidato Pak Prabowo yang dibalas oleh Pak Jokowi, bukan tentang kontestasi Presiden 2019 nanti, bukan juga tentang pro-kontra dari pihak pendukung ataupun oposisi, tapi tentang statement  Pak Rocky Gerung yang mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi. Sontak dari penyampaian beliau tersebut, menimbulkan reaksi yang cukup ramai khususnya di dunia maya. Walaupun secara kalimat tidak merujuk kepada kitab suci mana, namun secara garis besar beliau mengeneralisir bahwa kitab suci itu fiksi.
 Awalnya saya takut salah mendengar atau justru Pak Rocky sendiri yang tersilap dalam ucapan. Namun setelah mencermati kembali ternyata hal tersebut diungkapkan dengan penuh kesadaran, bahkan dengan lugas ia sampaikan tanpa penuh keraguan.  Kurang lebih beliau menjelaskan bahwa ada kesalahan pemaknaan dan peyorasi makna yang terkandung dalam istilah fiksi saat ini. Fiksi itu sangat bagus sebagai energi untuk mengaktifkan imajinasi. Itu fungsi dari fiksi, dan kita hiduo di dunia fiksi yang lebih banyak daripada realitas, fiksi lawannya realitas bukan fakta. Kitab suci itu fiksi bukan ? siapa yang berani jawab. Kalau saya berbicara bahwa fiksi itu imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba, babad tanah jawi itu fiksi.” Ketika ada salah seorang yang bertanya mengenai fiksi sebagai tumpuan prediksi, beliau menjawab dengan lebih lengkap; “ Lebih dari itu,bahkan bukan prediksi tetapi  untuk destinasi, anda percaya pada fiksi dan anda dituntun oleh kepercayaan itu, bisa tiba, bisa juga tidak, itu fungsi kitab suci, anda percaya kitab suci, mengapa anda abaikan sifat fiksional dalam kitab suci, kan itu belum faktual dan belum terjadi, dan anda dituntun oleh dalil-dalil kitab suci bukan secara prediksi, saya akan terangkan itu supaya kita punya stok argumentasi sebelum disesatkan oleh pembullyan politik, maka saya pastikan fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif, bisa bedain nggak, itu diada-adain, kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, besok saya dipenjara itu, kala saya bilang itu fiksi, karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci".
Apa yang saya pahami dari paparan Pak Rocky mengenai kitab suci itu fiksi ialah kitab suci merupakan suatu hal yang memuat berbagai aspek-aspek yang melampaui masanya dan menjadi sebuah pedoman dalam mencari destinasi (tujuan akhir) melalui dalil-dalil. Namun saya juga sedikit rancu bila kata fiksi dibedakan dengan kata fiktif yang dalam ilmu bahasanya merupakan kata sifat dari fiksi itu sendiri. Jadi antara term fiksi dan fiktif hanya berbeda dari bentuk katanya yakni nomina serta adjektif. Jadi tidak etis jika kita memisahkan makna ketika kita mengatakan bahwa ketika kitab suci dikatakan fiksi ia berbeda dengan kitab suci dikatakan fiktif. Lagi-lagi kita memang dihadapkan pada problem bahasa yakni mencari sebuah definisi yang definitif. Sebagaimana yang sempat disinggung oleh beliau, kata fiksi akhir-akhir ini mendapat stigma negatif. Tapi saya juga mengkritisi bahwa jika semua kitab suci dianggap fiksi sebagaimana babad tanah jawi.
Fiksi merupakan rekaan, khayalan, atau fantasi. Term ini lazim digunakan dalam berbagai bentuk karya narasi sastra. Fiksi tentu baik dalam menggali kemampuan seseorang untuk berimajinasi. Manusia dibekali akal pikiran untuk mampu mengimajinasikan apapun. Tapi kemampuan imajinasi juga terbatas pada apa yang ditangkap oleh indrawi. Bahkan sesuatu yang fiktif terkadang mampu melampaui dan berbanding terbalik dengan yang terjadi dalam kehidupan. Hanya yang kemudian menjadi keresahan adalah apakah kitab suci al-Qur'an juga dikategorikan sebuah fiksi ? Hal ini memang perlu pendalaman lebih serta ketelitian mendalam untuk menjawabnya.
Setiap kitab suci pasti hakikatnya harus diimani dan diyakini oleh pengikutnya. Ia menjadi pondasi serta pedoman dalam aktivitas jasmani-rohani hingga duniawi-ukhrawi. Namun keimanan dan keyakinan itu ada kalanya perlu kekuatan pikiran untuk menguatkan. Tetapi ada juga yang hanya perlu di imani karena keterbatasan manusia dalam indrawi. Jika istilah fiksi digunakan bagi kitab suci untuk menunjukkan informasi-informasi ataupun gambaran-gambaran di luar masanya saat ini maka hal tersebut sah-sah saja. Karena al-Qur’an pun merekam informasi demikian dalam ayat-ayatnya. Seperti ayat-ayat tentang kejadian kiamat hingga kehidupan di akhirat atau yang biasa disebut eskatologis. Namun demikian, definisi yang berkembang dan dipahami selama ini terkait fiksi ialah ia bersifat ilutif atau khayalan. Hal ini lah yang kemudian menjadi tidak cocok disandingkan kepada kitab suci al-Qur’an yang merupakan kalam Ilahi.
Sifat fiksi juga dapat kita gugat. Mengingat fiksi adalah sebuah gambaran atau bayangan suatu hal yang bisa saja terjadi atau tidak sama sekali. Kebenarannya hanya prediktif bahkan spekulatif.  Berbeda halnya dengan kitab suci al-Qur’an yang kebenarannya (absolut) tidak dapat dibantahkan. Prof. Mahfud MD menyatakan dengan lebih tegas bahwa “ kitab suci itu bukan fiksi, jauh bedanya. Fiksi itu angan-angan dan khayalan manusia sedang kitab suci adalah wahyu dan pesan Tuhan”.
Jujur saya belum menemukan istilah yang cocok untuk membahasakan informasi masa depan yang dikandung dalam al-Qur’an. Istilah fiksi, prediksi atau yang lainnya tidak bisa merangkum hal tersebut. Jika memang dipaksakan masuk dalam kitab suci, mungkin bisa digunakan term fiksi pasti atau prediksi pasti untuk menggambarkan informasi-informasi dalam al-Qur'an tersebut.  Itupun dengan catatan bahwa definsi fiksi dalam hal ini adalah gambaran atau imajinasi ayat-ayat mengenai suatu hal yang belum dialami manusia. Bukan pada kebenaran fiksi yang tidak pasti. Dalam al-Qur'an, ada informasi-informasi yang memang belum terjadi dan belum dirasakan sendiri oleh manusia khususnya tentang eskatologi. Kita tentu hanya bisa mengimajinasikan apa yang telah ada dalam al-Qur’an dengan kemampuan imajinasi kita seperti kacau balaunya ketika dunia kiamat, banyaknya kesenangan didalam surga hingga siksa-siksa untuk para penghuni neraka. Namun pada hakikatnya kita belum bisa menggambarkan secara utuh bagaimana hal-hal tersebut terjadi. Bagaimanapun manusia terbatas pada hal-hal seperti ini. Namun dari hal ini jugat tidak bisa menafikan bahwa yang tidak dapat dijangkau manusia itu lantas menjadi sebuah ketidak adaan. Justru disinilah kekuatan transenden Tuhan berperan didalamnya. Ia berperan meyakinkan manusia pada apa yang sama sekali belum ia rasakan dan dapatkan dalam pengalamannya.
Ada juga informasi-informasi yang telah terbukti secara historis maupun empiris yang dulu ketika al-Qur'an turun hanya dianggap bersifat fiksi, ramalan atau prediksi. Yang paling populer ialah tentang penaklukkan bangsa Perisa oleh Romawi (QS. Ar-Ruum ayat 2-4). Ayat ini dimasa turunnya mendapatkan negative thinking bahkan cemooh dari kafir Quraisy. Ada juga tentang pembuktian ilmiah (QS. At-Thur ayat 6: api dalam laut, QS. Ya Siin ayat 38-40: garis edar tata surya, QS. Az-Zumar ayat 6: tahapan penciptaan manusia, dll) yang dimasa awal turunnya islam ini mungkin dianggap tabu.  Inilah yang kemudian menjadi bantahan jika al-Qur’an bisa dikategorikan fiksi dalam hal kepastian kebenarannya.
Pada akhirnya, istilah fiksi, prediksi, maupun sinonimnya tidaklah etis dan cocok disandingkan pada al-Qur’an sebagai kitab suci. Kitab suci ini bukanlah gubahan manusia seperti babad tanah jawi sebagaimana yang diungkapkan Pak Rocky. Informasi-informasinya mungkin belum terbukti hari ini, tapi pasti akan terbukti suatu saat nanti seperti tentang runtuhnya kerajaaan Persi oleh Romawi.Ia adalah wahyu Ilahi yang menjadi pedoman kehidupan diniawi hingga ukhrawi. Ia adalah pondasi keteguhan jasmani terlebih rohani. Ia membumi sejak masa Nabi, kini hingga nanti. Ia menjadi mukjizat Nabi bukan sekedar narasi sastrawi. Ia mengandung kebenaran yang pasti tanpa perlu disanksi. Wallahu a’lamu bi ash-shawab…

Reaksi:

2 komentar: