Senin, 10 September 2018

Tahun Baru Hijriyah sebagai Bentuk Toleransi Beragama

Oleh: Nadyya Rahma Azhari
   Tahun baru Hijriyah merupakan tahun baru Islam. Agama Islam tentunya mempunyai pola penanggalan tersendiri yang berbeda dengan sistem penanggalan lain. Tahun Hijiriyah dalam Islam tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, hingga tahun itu dijadikan sebagai tahun pertama dalam penanggalan Hijriyah. Berdasarkan pola pergerakan bulan, umat Islam menggunakan penanggalan Hijriyah untuk menandai kejadian-kejadian penting Islam.
   Kaitan penanggalan Hijriyah dengan hijrahnya Nabi tentu saja menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika dipandang secara kasat mata, proses hijrah mungkin hanya dianggap sebagai suatu perjalanan dakwah atau perpindahan  Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya dari kota Mekkah ke Madinah. Kita lebih cenderung memperingati itu sebagai suatu strategi dakwah yang dilakukan Nabi atas perintah Allah. Bahkan mungkin ada yang menganggap bahwa hijrah tersebut dilakukan karena dakwah yang dilakukan di kota Mekkah tidak berjalan dengan lancar.
   Memang tidak salah jika menyebut hijrah sebagai strategi dakwah. Terang saja, dakwah yang dilakukan di Madinah  menghasilkan pemeluk ajaran Islam  lebih banyak daripada dakwah di kota Mekkah. Dakwah di Mekkah yang kurang lebih selama tiga belas tahun tidak menghasilkan pengikut yang lebih banyak dari Madinah. Semenjak di Madinah pun, Islam berhasil membentuk struktur pemerintahan yang sesuai dengan syari’at Islam. Perkembangan Islam begitu pesat saat berada di Madinah. Namun jika ditinjau lebih jauh, hijrah  memiliki makna yang lebih dalam dari hanya strategi dakwah.
  Kurang lebih selama tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah telah menggunakan berbagai metode dakwah, mulai dari sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Mulai berdakwah dari kerabat dekat sampai secara terang-terangan menyeru seluruh masyarakat Mekkah. Namun dakwah Rasul selalu saja mendapat tentangan dari masyarakat kota Mekkah. Berbagai hal pun mereka lakukan untuk menentang dakwah Rasul. Hingga tidak banyak yang mengikuti ajaran Islam.
  Meskipun ditentang dengan berbagai cara, Rasulullah dan para sahabat beliau tetap sabar dan menyebarkan Islam dengan lemah lembut tanpa ada paksaan. Setelah beberapa tahun melihat perkembangan dakwah yang semakin sulit, Allah pun menurunkan perintah untuk berhijrah ke Madinah. Salah satu alasan hijrah ini tentu saja melihat pada kondisi Madinah yang lebih terbuka terhadap Islam. Banyak dari masyarakat Madinah yang telah datang ke Mekkah menemui Rasul untuk diislamkan. Namun dalam peristiwa hijrah ini sebenarnya Allah juga mengajarkan toleransi kepada umat islam.
  Pada saat mengajak seseorang atau menasihati, kita harus senantiasa mengajaknya denga lemah lembut dan sabar.Seperti yang dilakukan Rasul, tetap sabar selama tiga belas tahun berdakwah tanpa bersikap kasar. Setelah lama kita mengajak seseorang untuk beriman kepada Allah namun dia masih tetap tidak beriman, maka kita tidak berhak memaksanya. Itulah yang Rasul ajarkan dari peristiwa hijrah. Setelah lama berdakwah pada masyarakat Mekkah, penduduk Mekkah tetap bertahan dengan ajaran yang mereka anut. Maka Rasul memulai dakwah di tempat lain tanpa memaksa penduduk Mekkah untuk mengikuti ajaran Allah. Bahkan setelah memimpin Madinah pun, Rasullah tidak memaksa penduduk Madinah yang tidak mau memeluk Islam. Namun Rasul tetap membuat perjanjian dengan masyarakat yang tidak mau memeluk Islam tersebut. Hal ini membuktikan bahwa rasulullah tidak mengesampingkan orang lain hanya karena berbeda keyakinan.
  Dalam era modern ini, hendaknya kita mencerminkan apa yang telah Rasullah ajarkan kepada kita, terutama dalam hal toleransi beragama. Ketika kita mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, kita harus sabar, bersikap lemah lembut, dan tidak memaksa. Sehingga jika kita benar-benar mengaplikasikan apa yang dicontohkan Rasulullah maka tidak akan ada lagi pertengkaran antara umat beragama. Karena dalam berdakwah, bukan hanya keyakinan yang harus benar, tetapi cara meyakinkan orang lain juga harus benar.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar