CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Rabu, 31 Oktober 2018

Buletin Sarung Edisi Oktober 2018

Buletin Sarung Edisi Oktober 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi Oktober 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Edisi Oktober 2018


Dua Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Unjuk Gigi dalam Seminar Nasional Hadis dan Media di IAIN Kudus



Dua anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali tampil sebagai speaker dalam forum Seminar Nasional. Keduanya yakni Melati Ismaila Rafi’i – mahasiswa PBSB angkatan 2015—dan Alan Juhri – mahasiswa PBSB angkatan 2016. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus. Adapun tajuk dari kegiatan ini adalah “Seminar Nasional Hadis dan Media serta Call For Paper Jurnal Hermeneutika-Riwayah”. Kegiatan tersebut sukses digelar pada Rabu (24/10) di IAIN Kudus.
Suatu kebanggaan bisa mengikuti kegiatan seperti ini”, kesan Alan. Selain mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen dari beberapa universitas lainnya. Diantara yang hadir adalah Ahmad Rafiq, Ph.D—Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta—, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M. Ag— Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta—, dan beberapa tokoh lainnya. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor IAIN Kudus, Dr. Mundakir, M. Ag yang sekaligus membuka acara tersebut.
Sebagai salah satu pembicara, Mela (panggilan Melati) merasa senang. Ini semacam warming up bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang nyekripsi seperti saya”, katanya. Memang, bukan kali pertama dua mahasiswa ini mengikuti forum-forum semacam ini. Maka, keduanya sudah tidak asing lagi dengan kegiatan seperti ini. "Harapannya bisa memicu semangat kita semua”, ungkap mela. “Terlebih temanya menarik, berkaitan dengan al-Qur’an Hadis dan media”, tambahnya. (Can)

Minggu, 28 Oktober 2018

Dulu, kini

source: google


Oleh : Failal Azmi Azkia
Dulu...
Kau berjuang untuk bumi pertiwi
Jiwa serta raga pun kau taruhkan
Demi jayanya akan masa depan
Dulu…
Kata Indonesia kau perjuangkan
Tak kau relakan diambil penyerang
Dulu…
Waktu kau bentangkan
Kau bentang panjang tuk berbincang
Berbincang kemerdekaan
Kini…
Kau menghilang terbawa derasnya arus
Bersembunyi
Berselimut
Tak kah kau lihat dirimu dahulu
Kembalilah ! bangkitlah ! berjuanglah !
Demi ibu pertiwi

Sumpah Pemuda di Mata Pemuda Millenials


source: google

Oleh:
Andi Fatihul Faiz Aripai

“Kita jangan mewarisi abunya sumpah pemuda, tapi kita harus mewarisi apinya sumpah pemuda” (Ir. Soekarno)
Pada tanggal 28 Oktober 1928 seluruh pemuda Indonesia bersatu dan bersepakat untuk turut andil dalam memerdekakan Indonesia. Waktu itu seluruh dari perwakilan kepemudaan Indonesia yang terdiri dari Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan Jong Ambon sangat peduli terhadap nasib bangsanya yang sejak dulu terbelenggu oleh kejamnya penjajahan kolonial Belanda. Mereka bersatu, menghilangkan rasa keegoisan, kesukuan, kedaerahan, dan kekhasan mereka masing-masing demi memerdekakan bangsa ini. Dalam perkumpulan tersebut lahirlah sebuah ikrar yang dapat mempersatukan seluruh pemuda kala ituSatu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan”. Inilah ikrar yang sekarang kita kenal sebagai sumpah pemuda yang menjadi tonggak kebangkitan para pemuda bangsa ini.
Kita bisa menangkap pesan dari sejarah singkat diatas bahwa dengan digaungkannya sumpah yang agung tersebut, pemuda berhasil mengubah perjuangan yang mulanya bersifat kedaerahan menjadi nasional. Pemuda kala itu dihadapkan dengan tantangan yang nyata, yakni melawan kolonial. Pemuda kala itu tahu bahwa tanggung jawab mereka adalah memerdekakan bangsa Indonesia.
90 tahun ikrar yang agung tersebut telah dikumandangkan. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah kita pemuda zaman sekarang yang dikenal sebagai pemuda millenials  mewarisi api dari sumpah pemuda? Ataukah hanya mewarisi abu dari sumpah pemuda tersebut? Apakah pemuda saat ini telah menjadi penggerak perubahan bagi bangsa? Perubahan seperti apakah yang dibutuhkan Indonesia saat ini? Inilah pertanyaan yang harus dijawab oleh kalangan pemuda saat ini.
Jikalau pemuda masa itu memiliki tantangan melawan penjajah, tantangan pemuda masa ini tak kalah beratnya. Tantangan yang disuguhkan pun terbilang kompleks. Pemuda millineals dihadapkan dengan krisis multidimensi, mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik. Terlihat jelas, dahulu Indonesia di mata dunia sangat berwibawa dan mandiri, terbukti banyak tokoh-tokoh hebat terlahir di Indonesia seperti bapak Ir soekarno. Namun kini, Indonesia menjelma menjadi negeri yang bergelimang produk impor bukan hanya di sektor barang melainkan juga pada ide dan budaya anak bangsa yang membuat spirit kreatifitas anak bangsa menurun.
Dibidang ekonomi misalnya, Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor, padahal Indonesia dikenal sebagai Negara dengan SDA yang sangat kaya. Begitu pula dibidang budaya, para pemuda kita lebih cenderung kepada budaya luar ketimbang kearifan lokal kita sendiri. Padahal kebudayaan yang dimiliki Indonesia sangatlah beragam. Batik misalnya, pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia menjadi bukti nyata bahwa kebudayaan yang kita miliki sangatlah indah. Namun para pemuda kita lebih senang dan berbangga jika ia memiliki barang impor.
Tak luput dari itu, sebagian dari pemuda kita juga ada yang berprestasi di kancah Internasional. Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon misalnya, siapa yang tidak kenal dua sosok pemuda millenials ini, yang selalu membanggakan nama Indonesia dimata dunia. Keberhasilan pelajar dari asuhan Professor Yohanes Surya yang menjadi juara Olimpiade Fisika dan Matematika ditingkat dunia memberikan pertanda bahwa pemuda-pemudi Indonesia tak kalah hebatnya.
Coba bayangkan bilamana seluruh pemuda-pemudi Indonesia memiliki tekad dan juga etos kerja seperti baja diseluruh sektor yang ada, maka bisa dipastikan 10 atau 20 tahun kedepan Indonesia akan tampil di mata dunia laksana garuda wisnu kencana. Saya yakin, diseluruh Indonesia tersebar tunas-tunas bangsa yang hebat, namun sebagaimana tunas yang asli ia memerlukan pemeliharaan. Begitupun dengan pemuda-pemudi Indonesia, sesungguhnya dalam momentum sumpah pemuda kali ini tak hanya sebagai ajang selebrasi setahun sekali atau sebagai penghias kalender saja, melainkan inilah momentum yang sangat tepat bagi para pemuda untuk menanamkan nilai nasionalisme dan patriotisme serta memaknai sumpah yang agung tersebut.
Lembaga pendidikan, masyarakat, pemerintah dan yang tak kalah pentingnya adalah keluarga yang sangat dibutuhkkan perannya dalam memberikan dorongan atau spirit kepada pemuda untuk terus maju dan berkarya. Karena  pemuda-pemudi Indonesia adalah aset yang sangat berharga. Yang patut dipelihara secara positif, bukan disuguhkan tontonan orang-orang yang sibuk meperebutkan kursi jabatan atau sinetron yang bertuhankan rating berserta penonton bayarannya. Hal ini yang dapat melahirkan generasi komsumtif yang tak produktif, generasi yang apatis terhadap masalah sosial.   
Bila pemuda bangsa yang ada di tahun 1928 menjawab tantangan dengan persatuan melawan penjajah, maka pemuda Indonesia saat ini yang dikenal sebagai pemuda millenials harus menjawab tantangan krisis multidimensi dengan cara tampil sebagai pionir-pionir perubahan dengan segudang prestasi yang dimilikinya sesuai kecakapannya masing-masing. Pemuda-pemudi  Indonesia  yang memiliki  potensi dalam dunia atlet harus menjadi pionir terbaik di dunia ke-atlite-an sehingga mampu mengahrumkan nama Indonesia di mata dunia. Begitupun dengan pemuda pemudi Indonesia yang memiliki kecakapan dibidang kesenian dan kebudayaan, jadilah seniman dan budayawan yang diakui dunia. Jalani secara ikhlas dan tulus demi kemajuan bangsa Indonesia.
Saya teringat penggalan lirik lagu yang dibawakan oleh CJR yang berjudul mata air, yang sarat akan makna dan mampu membakar semangat para pemuda-pemudi Indonesia.
“Menjadi mata air yang terus mengalir, selalu memberi karya terbaik bagi bangsa”
“Menjadi mata air, ciptakan kedamaian, menjawab tantangan arah tujuan masa depan Indonesia”
Semoga kelak aku, kamu, dan kita semua bisa menjadi “MATA AIR”
                                                                                     

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Adakan Kegiatan Ngaji Design



            Bantul (27/10) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan kegiatan Ngaji Design. Kegiatan ini merupakan program dari Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang bertujuan untuk mengkader anggota CSSMoRA agar mahir dalam bidang kreatif dan produktif dalam bermedia sosial dan bidang desain grafis, terutama desain pamflet, banner, dan desain grafis lainnya. Faktanya masih banyak anggota aktif CSSMoRA yang belum mahir dalam dunia desain, sehingga dengan semakin banyaknya program kerja dan minimnya kemampuan dalam bidang desain ini akan menyulitkan jalannya kepanitiaan dalam suatu acara.
Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.30 WIB hingga 12.30 WIB. Kegiatan ini berjalan dengan lancar meskipun mengalami keterlambatan dalam memulai acara. Kegiatan yang diselenggarakan di Pusat Kajian Islam Dan Transformasi  Sosial (Yayasan LKiS) ini menghadirkan Anifatul Jannah S.I.Kom. dan Deni Setiawan sebagai pemateri. Dalam kegiatan ini Anifa membawakan tema  “Kreatif dan Produktif dalam Bermedia Sosial”. Sedangkan Deni membawakan tema “Photoshop”. Anifa dan Deni menyampaikan materinya dengan jelas, sehingga para peserta pun mengikuti acara hingga usai meskipun sebagian peserta tidak antusias mengikuti acara ini.
“Dalam bermedia sosial, sebagai mahasiswa yang akademisi seharusnya tidak  serta merta menelan berita mentah-mentah dari media sosial atau pun bukan, dan Memakai opini yang dapat di terima dan dapat di setujui banyak orang dalam mengomentari hal yang ganjal di masyarakat.” Tutur Anifa saat menyampaikan materi. “Adapun prinsip dasar yang harus dikuasai dalam desain grafis ada tiga: memahami warna, menyusun tata letak, dan pemilihan font yang akan di pakai dalam desain tersebut.” Ucap Deni saat menyampaikan materinya.
“Materinya sangat menarik, penyampaiannya juga sangat jelas. Dari acara ini banyak ilmu yang saya dapatkan mengenai kekreatifan dan keproduktifan dalam bermedia sosial. Juga dapat mengetahui cara menggunakan photoshop.” Tutur Musyfiqotur Rahmati, salah satu peserta dalam Ngaji Design kali ini. (Nurul)

Kamis, 25 Oktober 2018

Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Ikuti 3ͬ ͩ BUAF di Palangka Raya


Dua mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, In’amul Hasan dan Muhammad Mundzir berhasil ikut serta dalam kegiatan 3ͬ ͩ BUAF (Borneo Undergraduate Academic Forum) yang diadakan di IAIN Palangka Raya. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh PTKIN yang ada di Kalimantan (IAIN Palangka Raya, IAIN Pontianak, UIN Antasari Banjarmasin, dan IAIN Samarinda) secara bergantian.
Kegiatan yang berupa Konferensi Internasional dan presentasi paper ini berlangsung selama 3 hari, Rabu – Jum’at  (17-19/10). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor IAIN Palangka Raya, Dr. Ibnu Elmi AS Pelu, SH, MH yang sekaligus menjadi nara sumber dalam kegiatan ini. Selain beliau juga dihadirkan tiga nara sumber lainnya, yaitu Tuan Jamiran Bin Salam (Pengarah IPG Kampus Batu Lintang, Serawak-Malaysia), Prof. H. Mujiburrahman, Ph.D (Rektor UIN Antasari, Banjarmasin), dan Dr. Zaenuddin Hadi Prasojo, S. Ag, MA (Rektor IAIN Pontianak).
Adapun peserta dalam kegiatan ini ialah seluruh mahasiswa se-Kalimantan dan se-Nasional yang abstraknya telah diterima melalui tahap seleksi sebelumnya. “Peserta dalam kegiatan ini mencapai 100 peserta, kegiatan ini lebih mengutamakan peserta yang berada di Kalimantan sehingga kebanyakan dari pesertanya ialah mahasiswa dari Kalimantan” tutur Hasan.
Mengenai persiapan dalam paper,  bahwa deadline abstrak sudah ditentukan tiga bulan yang lalu, dan peserta disuruh untuk mengirimkan full papernya dengan tenggang waktu satu bulan. “Alhamdulillah paperku sudah lama jadi, sehingga tidak bingung untuk nyelesainnya” ujar Mundzir, begitu juga dengan Hasan yang telah menyelesaikan papernya jauh hari.
Hasan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan suatu ajang untuk memperluas ilmu, menambah wawasan, serta dapat berkenalan dengan para akademisi dari PTKIN lainnya. Begitupun halnya dengan Mundzir, “Sangat senang dapat berkumpul dengan para peneliti dari PTKIN se-Indonesia, meskipun mereka lebih banyak belajar kepada UIN Sunan Kalijaga yang bisa dibilang mastrenya kepenulisan, hehe..” ungkapnya. Terakhir Mundzir menambahkan harapan kedepannya agar para peneliti mengangkat isu yang lebih aktual dan membahas secara mendalam. “Insya Allah tahun depan kegiatan ini akan digelar di Malaysia, semoga UIN Sunan Kalijaga dapat menjadi kontingen lagi” ujarnya.