CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Jumat, 30 November 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi November 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi November 2018

Senin, 26 November 2018

Mengapa Kita Dihidupkan??


Oleh: Ahmad Mushawwir*


Dahulu waktu berumur 8 tahun, saya pernah bertanya kepada ayah (kakek), “Ayah, untuk apa yah kita hidup??” Kakek langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan itu, kemudian dia berkata, “Anakku, pertanyaanmu itu sungguh bagus sekali, tapi kamu ndak usah terlalu memikirkannya. Yang penting kamu itu harus rajin sholat dan membaca Qur’an saja yah?” sambil mengusap kepala saya.
Waktu itu saya berpikir kalau ayah tidak menjawab pertanyaan itu. Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya baru menyadari ternyata ayah sudah menyinggung tujuan hidup di dunia ini.
Ketahuilah..
            Hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, minum, dan kawin saja. Sekali lagi, tidak. Kalau memang demikian, apa bedanya dengan binatang?
Allah Swt telah lama memberikan arahan-Nya dalam firman-Nya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Mengetahui tujuan hidup saja tidaklah cukup. Sebagai orang yang beriman kita telah diberikan tugas mulia dan dituntut untuk memenuhi tugas tersebut.
Tugas apakah itu? Allah langsung menjawab dengan Firman-Nya:
  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Suatu tujuan tidak akan tercapai kecuali dengan mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-sebaiknya. Dan kita tahu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara bukan selamanya. Jadi,  jangan pernah lupa dengan tugas hidup yang telah diberikan. Seriuslah!! seperti kita fokus dalam mengerjakan suatu tugas penting. Kenapa? Karena tak satu pun di antara kita yang dapat hidup abadi. Kehidupan pasti akan menemukan titik akhir. Allah Swt berfirman :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
.
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia”.( QS. Al-Mu’minun [23]: 115-116)
            Selanjutnya, jangan pernah kita mengira apapun yang pernah kita lakukan selama berada di dunia ini dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan setimpal. Ingat! Bahkan sekecil atom pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Allah Swt berfirman :
 أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”. ( QS. Al-Qiyamah [75] : 36 ).
            Kembali ke permasalahan awal. Persoalannya sekarang adalah pada tugas kita. Kerjakan tugas utama tersebut dengan sebaik-baiknya, lalu sempurnakan. Itu saja. Oleh sebab itu, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya muslim hendaklah dia berusaha dengan maksimal untuk merealisasikan pengabdiannya kepada Sang Khalik di mana pun dan dalam kondisi apapun itu. Pada setiap gerak dan diam, ucapan dan tingkah laku, bahkan sampai kepada getaran hati kita yang teramat dalam sekalipun, hendaklah selalu berarti di sisi-Nya. Jangan biarkan satu nafas pun yang keluar  dengan sia-sia. Dengan begitu kita senantiasa mendapat pahala dan rida-Nya.
            IBADAH = PAHALA, itulah janji Allah Swt.
            Abdullah bin Abdul Aziz al-Li mengatakan, “Kita diciptakan sebagai manusia dengan tabiat dan karakter yang khusus. Artinya gabungan dua makhluk Allah; malaikat dan iblis. Malaikat orientasinya selalu pada aspek spiritual, tunduk, dan ingin selalu dekat di sisi-Nya. Sementara iblis identik dengan kesombongan, kerusakan, serta kedurhakaan. Maka, setiap manusia berbeda tingkah laku lahir dan batinnya. Dilihat siapa di antara dua sifat makhluk tersebut yang mendominasi dalam jiwanya, hina atau mulia sejalan dengan karakter dan tabiat setiap kita.
            Abdullah bin Wahhab r.a berkata, “Semua kenikmatan dunia hanya satu kenikmatan, kecuali kenikmatan ibadah. Ibadah mempunyai tiga kenikmatan: (1) Ketika sedang beribadah, (2) Ketika sedang diingatkan untuk beribadah, dan (3) ketika mendapatkan pahala di akhirat kelak.” (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalah wa at-Tahajjud)
            Saatnya kita semua berusaha sedini mungkin mengembalikan tujuan hidup dengan tujuan yang sesungguhnya. Beribadah semata kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam.
*Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Prodi Ilmu Hadis Semester V.

Jumat, 23 November 2018

Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Ikuti Olimpiade Pecinta Qur’an



     Abdy Nur Muhammad, anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menjadi delegasi kota asalnya, Jayapura dalam event OPQ (Olimpiade Pecinta Qur’an) tingkat Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh komunitas ODOJ (One Day One Juz). Jenis cabang yang diperlombakan diantaranya: MHQ 3 juz, MHQ 10 juz, tilawah dewasa, dan kaligrafi. Adapun cabang yang ia ikuti adalah MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an) 10 juz. Sebelum mengikuti event tingkat nasional ini, Abdy telah meraih juara di tingkat provinsi Jayapura pada bulan Ramadhan lalu.
     Event ini berlangsung selama 4 hari yaitu pada tanggal 15-18 November 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perlombaan yang diikuti oleh 43 peserta putra dan putri se-Indonesia ini juga menjadi ajang silaturahmi serta mempererat tali persaudaraan dengan sesama muslim pecinta al-Qur’an, tutur Abdy. Ia juga berpesan “bagi siapa saja yang suka ikut lomba, berlatih tidak hanya saat mau lomba saja, berlatihlah setiap hari. Kalau kebetulan ada lomba baru ikut, untuk menguji sampai di mana kemampuan kita”.
      Abdy juga memberikan motivasi apabila ingin mengikuti event perlombaan seperti ini, “kepada para penghafal al-Qur’an agar senantiasa menjaga hafalannya dengan cara sering me-muraja’ah, karena mengulang hafalan merupakan kewajiban. Adapun lomba dan juara adalah bonus” tuturnya.(Arf)

Selasa, 20 November 2018

Mahasiswi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Peroleh Predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga




      Zidna Zuhdana Mushthoza, telah berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga. Dengan berbekal keyakinan bahwa semua orang punya kehebatan dan kelebihan di bidangnya masing-masing, putri dari Bapak Drs.H.Tajuddin Thalabi, M.Ag dan ibu Dra. Hj. Amilah, M.Pd.I ini dapat memperoleh IPK yang nyaris sempurna, yaitu 3,92. Tidak lupa, dengan dukungan orang tua dan keluarga, mahasiswi asal Gresik ini dapat melanjutkan perolehan prestasinya dari juara 3 lomba pidato bahasa Indonesia (MTs), juara 2 Lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 3 lomba Pelajar Teladan Putri tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 2 lomba Cipta Puisi Kandungan Ayat Al-Quran tingkat Jawa Timur Tahun 2013, juara 1 lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik tahun 2013, dan juara 1 lomba  Musabaqah Qiroatul Qutub (MQK) tingkat Ula Kabupaten Gresik tahun 2011.
         Dalam proses belajarnya, santri yang memiliki hobi travelling ini tidak memiliki trik atau gaya khusus. “Karena belajar itu proses bukan hasil. Dan sampai sekarang pun, mbak harus banyak belajar. Gelar mahasiswa terbaik ini sebenarnya tidak  ada pengaruh apapun. Tapi, tentu ada motivasi terbesar dan utama yang membuat mbak sampai pada tahap ini, yaitu orang tua dan keluarga, jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa sangat setuju dengan statement  Kuliah itu bukan balapan lulus atau tinggi-tinggian IPK. Jalani saja dengan tanggung jawab dan versi terbaik menurutmu”. Untuk kendala yang dialami, mahasiswi angkatan 2014 ini memaparkan bahwa hambatan terbesar adalah diri sendiri; bagaimana melawan rasa malas dan mengatur waktu untuk melakukan tanggung jawab ketika kuliah, misalnya organisasi, hafalan, tugas-tugas kuliah, dan lain-lain. Tak lupa ia juga memberi solusi bahwa kendala tersebut tidak akan dapat dihilangkan. Yang dapat dilakukan yaitu meminimalisir kendala tersebut. Itulah yang harus dilakukan.
      Santri yang suka makan cokelat ini juga memberikan sedikit pesan kepada teman-teman mahasiswa serta lulusan UIN Sunan Kalijaga. “Bahwasanya lulusan UIN Sunan Kalijaga harus membangun narasi positif dalam mimbar apapun, baik mimbar akademik maupun mimbar sosial. Lulusan UIN harus dan perlu mengisi pos-pos strategis dalam membangun narasi yang baik dan berlandaskan ilmu, agar orang-orang yang berbicara tanpa landasan ilmu dan tidak pada ranah keilmuannya tergerus arus sebab dikalahkan oleh orang-orang yang belajar serius,” jelasnya. “Di era milenial ini kan banyak sekali orang-orang yang berbicara tidak pada ranah keilmuannya, tapi malah fasih sekali membicarakanya. Mereka kebanyakan berbicara sesuai kehendak sendiri. Bukan ahli politik, bukan ahli agama, membiacarakan keduanya. Meskipun sebenarnya tidak menutup kemungkinan mereka yang bukan ahlinya memiliki kemampuan, namun ada baiknya tabayun pada orang-orang yang sudah ahli. Nah, di sinilah peran lulusan UIN yang sudah banyak belajar dan menimba ilmu, mereka harus membangun narasi positif di manapun, baik akademik maupun sosial,” tambahnya. (dek)

Jumat, 16 November 2018

Alih Genre yang Kebablasan



Bagi Anda yang belum menonton film Laskar Pelangi, segeralah untuk menontonnya. Film tersebut merupakan film yang diangkat dari sebuah novel karangan sastrawan khas Melayu, Andrea Hirata. Saya berani katakan kalau film tersebut merupakan film terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Buktikan kalau tak percaya!
Baru-baru ini, saya menemukan film yang serupa -bahkan hampir sama persis- dengan film Laskar Pelangi ini. Laskar Pelongo judulnya. Terdapat beberapa keunikan dan ‘kejanggalan’ di beberapa segi yang menarik untuk disimak. Sebelum lebih jauh, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap film kedua, penulis perlu sampaikan betapa penulis sangat mengagumi film yang pertama, yaitu Laskar Pelangi tesebut. Sehingga, tulisan ini tidak lain hanya ditulis dengan dua pandangan, yaitu: pertama, subjektik; kedua, sangat-sangat subjektif.
Untuk memudahkan dalam membedakan kedua film ini, penulis menggunakan istilah ‘film pertama’ untuk merujuk ke film Laskar Pelangi dan sebutan ‘film kedua’ untuk merujuk ke film Laskar Pelongo. Hal ini untuk menghindari penyebutan yang bisa menyinggung salah satu penikmat dari kedua film tersebut.
Pertama, soal pemeran dan unsur-unsur instrinsik lainnya. Tidak jauh berbeda dengan film aslinya, film kedua ini hanya mengganti sedikit saja segala nama yang ada. Contohnya, pemeran utama yang di film pertama bernama Ikal, di film kedua bernama Ipal (karena ia sering mengupil, 00.21). Temannya, si murid tercerdas sejagad Belitong, di film pertama bernama Lintang, sedang di film ini bernama Bintang. Ibu guru yang di film pertama bernama Bu Muslimah, di film ini bernama Bu Muzdalifah. Nama desanya pun berubah. Di film pertama, desa nan indah itu bernama Desa Belitong, sedang di film ini desa tersebut bernama Desa Beritung (karena dulu, di tempat ini banyak jenius yang pandai berhitung, namun karena kesombongannya, akhirnya dikutuk sehingga tidak bisa berhitung selamanya, 00.43).
Kedua, karakter tokoh dalam film. Pengkarakteran dalam film ini pun tidak jauh berbeda dengan film yang pertama. Tokoh Bintang, misalnya, di kedua film ini sama-sama digambarkan sebagai anak yang cerdas. Ibu Mus tetap digambarkan sebagai guru yang sabar dan ikhlas dalam memberikan pengajaran kepada murid-muridnya. Adapun yang berbeda dari film kedua ini seperti tokoh Flo yang memiliki hobi bermain karate, atau Pak Nasar yang mencintai Bu Mus, yang di film pertama adegan itu tidak pernah terjadi.
Ketiga, Melayu dan keunikannya. Kenapa unik ? Melayu, terutama zaman dahulu, seperti yang tergambar dalam film pertama, sangat identik dengan ‘kesengsaraan’. Ditambah lagi tempatnya di daerah pelosok nun jauh di sana, di Desa Gantong Pulau Belitong. Sehingga memisahkan Melayu dari ‘kesengsaraan’ bagaikan memisahkan ombak dari lautnya. Dalam film pertama, penggambaran Belitong dan orang-orangnya sangat terasa sekali. Tokoh Ikal, misalnya, dari fisiknya benar-benar mengenaskan. Badan kurus, rambut sulit diatur, kulit gelap, hingga baju yang hampir itu-itu saja. Namun dari situlah dapat diambil pelajarannya. Tokoh Ikal, meskipun begitu, memiliki semangat yang besar untuk menggapai cita-cita. Dalam film kedua, pesan itu tidak lagi tervisualkan. Tokoh Ikal di film kedua tampilannya sudah berbeda: badan berisi seperti anak yang selalu minum susu di pagi hari. ‘Kesengsaraan’ tokoh ini akhirnya dialihkan ke sifatnya yang hobi mengupil. Terkesan sangat memaksakan.
Keempat, penamaan Laskar. Dalam film kedua, penamaan diambil dari suatu kejadian tak terduga saat Bu Mus dan murid-muridnya sedang belajar bersama di luar ruangan. Kala itu, Bu Mus mengajarkan pelajaran Matematika dan bertanya seperti ini:
            “Ada yang tau gak, 2 ditambah 2 itu berapa ?”
Bukannya menjawab, para murid justru melongo dan mematung keheranan. Seakan-akan mereka baru mendengar suatu kalimat yang baru mereka dengar seumur hidup mereka. Hey, mereka seperti baru mendengar sepotong kalimat seorang Feuerbach yang mengatakan: Bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut rupa dan gambarnya, melainkan manusialah yang mencipta bayangan tentang Tuhan menurut rupa atau bentuk manusia. Tidak. Mereka hanya mendengar kalimat tanya yang isinya cuma berapakah 2 + 2 ? Dan karena murid-murid itu hanya melongo ketika mendengar kalimat tanya itu, akhirnya Bu Mus berinisiatif untuk memberi mereka julukan “Laskar Pelongo” (08.15). Dan lagi-lagi terkesan memaksakan.
Kelima, Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus. Dalam film kedua ini, adegan Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus tidak ada dalam film pertama. Apalagi, ketika Pak Nasar menggunakan sihir ketika lamarannya ditolak oleh Bu Mus. Hmmm.. Tak semudah itu, Boy!
Keenam, Aling yang mengejutkan. Di film kedua, sosok Aling tak seperti pada film pertama yang memiliki paras yang menawan. Tak heran jika Ikal bisa jatuh cinta dengannya hanya karena melihat kuku paling cantik sedunia. Namun tidak demikian di film kedua. Mungkin ini pertanda, kalau tak akan ada film Laskar Pelongo 2. Hmmmm.
Poin-poin di atas hanya beberapa catatan yang membuat penulis gelisah. Setidaknya semoga tidak terjadi lagi. Meskipun disadari, bahwa film kedua ini memiliki genre yang berbeda dengan film pertama. Film kedua lebih bergenre komedi. Tak heran jika segalanya lantas dibuat lucu -meskipun terkesan memaksakan. Dan inilah yang membuat film kedua akhirnya kehilangan spiritnya. Di satu sisi, film ini ingin mengkomedikan suatu film yang sejatinya mengandung sejuta pesan. Namun karena beralih genre, alih-alih menyampaikan pesan, pesan itu justru terdistorsi. Bagi yang pernah menonton film pertama lalu menonton film kedua ini, akan merasa aneh menontonya, setidaknya itu terjadi pada diri pribadi. Dibilang lucu, enggak banget, dibilang memotivasi, ya kok kurang yah. Bukankah lebih enak jika ingin membuat film bergenre komedi, sekalian terjun bebas ke dasar komedi, begitu juga sebaliknya ? Hmmm.

-Ahnaf.

Kamis, 15 November 2018

Jalin Keakraban, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Turnamen Futsal Angkatan


Yogyakarta (11/11) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali selenggarakan Turnamen Futsal Angkatan. Event yang bertajuk Nge-Date (Nge-Day of Togetherness) tersebut merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari proker departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia). Digelar di Gedung Olahraga (GOR) UIN Sunan Kalijaga, turnamen ini diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dari angkatan 2015 sampai 2018 serta sebagian alumni yang masih berdomisili di Yogyakarta.
Tak jauh berbeda dari turnamen futsal tahun-tahun sebelumnya, turnamen kali ini diikuti oleh semua angkatan baik putra maupun putri. Secara keseluruhan, tim putra berjumlah lima tim (terdiri dari alumni, angkatan 2015, 2016, 2017, dan 2018) sedangkan tim putri berjumlah empat tim. Empat tim itu terdiri dari angkatan  2015, 2016, 2017, dan 2018. Total permainan dalam turnamen ini sebanyak 16 pertandingan dengan durasi selama kurang lebih delapan jam.
“Tujuan utamanya adalah sebagai ajang untuk saling mengenal antar angkatan serta menjalin kekompakan antar anggota CSSMoRA. Walaupun ada yang sudah menjadi alumni, diharapkan tetap care dengan CSSMoRA. Harapannya, semoga CSSMoRA lebih kompak dengan terselenggaranya turnamen futsal ini,” ungkap Hayatun Thaibah selaku ketua panitia.
Ahmad Hadi, salah satu peserta dari angkatan 2018 mengaku senang dengan terselenggaranya turnamen futsal ini. Menurutnya, acara-acara seperti ini dirasa penting untuk diagendakan. “Saya sangat senang dengan adanya acara ini, sebab kita bisa saling mengenal antar angkatan yang sebelumnya belum pernah kita kenal. Selain itu, kita juga bisa mengembangkan bakat dibidang non-akademik melalui turnamen futsal ini," ujar mahasiswa PBSB asal Lamongan itu.                                                                               
Sebagai penutup acara, panitia mengumumkan para juara turnamen futsal. Terdapat enam kategori juara dalam turnamen tahun ini. Juara 1 putra diraih oleh angkatan 2015, begitu pula juara 1 putri. Juara 2 putra diraih oleh angkatan 2018, sedangkan juara 2 putri diraih oleh angkatan 2016. Untuk kategori top scorrer putra diraih oleh Ahmad Mu’in Raginda (angakatan 2018), dan top scorrer putri diraih oleh Surianti (angkatan 2015). Nyanyian mars CSSMoRA kembali menggema di lapangan sebagai tanda usainya acara.(Akr)

Minggu, 11 November 2018

Persepsi Laki-Laki, Dandanan Perempuan, dan Body Shaming



   Sering sekali saya mendengar bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang tidak berdandan. Ekspresinya beragam, seperti “ngapain sih pake dandan tebel-tebel segala”, “cowok tu lebih suka yang natural tau”, “kamu tu lebih cantik kalo ngga pake apa-apa loh”, dan lain sebagainya yang menurut saya sangat membuat para perempuan berpikir “apa banget sih”. Ekspresi-ekspresi yang diutarakan laki-laki bahkan tidak sebatas mengomentari dandanan saja. Terkadang, mereka menyentil apa yang dipakai perempuan, bentuk wajah, bentuk bagian tubuh, atau bahkan bau badan.
   Suatu ketika di sebuah forum, teman saya kebetulan sedang menderita sakit mata dan mengenakan kacamata untuk menyembunyikannya. Saat ia datang, teman laki-laki saya mengatakan, “eh kamu kok pake kacamata gitu? Gedean kacamatanya daripada mukamu”. Saya tahu ia barangkali tidak bermaksud menyakiti teman saya itu. Namun, dalam hati kok saya merasa perkataannya terlalu jleb. Sontak saya merasa perlu protes, yang kemudian keluar dari mulut dengan “eh kamu tu jangan body shaming gitu dong”. Ia lantas mengatakan bahwa ia hanya berusaha berterus terang atas apa yang dipikirkannya—walaupun saya tetap saja tidak sepenuhnya setuju.
   Semacam itu pulalah yang biasanya saya hadapi: dikomentari ini itu mengenai alasan pakai make up, ditanyai mengenai mengapa sekarang sering pakai gincu, atau bahkan dikomentari perihal eyeliner yang sudah mbleber ke mana-mana. Inilah barangkali yang menyebabkan saya akhirnya menyembur teman saya itu. Disadari atau tidak, jika ada sesuatu yang dianggap berbeda atau berubah dari seorang laki-laki atau perempuan—terutama yang berkaitan dengan penampilan, pasti akan ada banyak komentar yang menyertai. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika perubahan tersebut kemudian menimbulkan stigma-stigma tertentu.
   Terkait komentar laki-laki tentang perempuan yang saya utarakan di awal, dapat saya katakan bahwa perempuan tidak selamanya ingin dipuji atau diperhatikan ketika ia mencoba menghias dirinya. Ungkapan “hello laki-laki, jangan kegeeran deh kalian” mungkin mewakili suara perempuan yang merasa tidak terima ketika mendengar para lawan jenis yang nyinyir itu. Bagi saya sendiri secara subjektif, berdandan adalah ekspresi kesenangan saya akan keindahan, selain juga yang baru-baru ini menjadi hobi buat saya. Masa bodoh sekali ketika mendengar beberapa orang berkomentar negatif tentang dandanan saya, toh saya juga bukan berdandan buat mereka.
   Sama halnya dengan persepsi negatif berdandan, ketika laki-laki mengomentari bentuk tubuh atau penampilan perempuan pun pada hakikatnya dalam pikiran mereka sudah tertanam sebuah konstruksi kecantikan atau idealitas penampilan perempuan itu sendiri. Padahal, seperti yang pasti dirasakan oleh laki-laki juga, perempuan tidak ingin ditentukan standar kecantikannya—meskipun kini kuasa media sudah memonopoli standar itu dan banyak pula perempuan yang berusaha mengikutinya. Laki-laki tentu tidak mau dibilang tidak keren hanya karena perawakannya tidak macam Jojo yang tubuhnya bak roti sobek. Mereka juga pasti ogah dibilang tidak tampan hanya karena wajahnya tidak menyerupai Salman Khan.
  Pada akhirnya, meskipun di sini saya kurang lebih banyak menyenggol laki-laki yang punya persepsi macam-macam mengenai perempuan, saya juga tidak dapat mengklaim bahwa perempuan tidak pernah punya persepsi dan standar tertentu mengenai laki-laki. Hal-hal yang demikian tak dapat dipungkiri akan tetap ada. Namun, persoalannya kembali pada bagaimana kita mengutarakannya kepada si objek, entah itu perempuan atau laki-laki. Ya, minimal kalo punya standar tertentu mbok yo jangan diutarakan secara terus terang banget lah, wong setiap orang juga punya hak masing-masing buat mengekspresikan dirinya. (shy2cat)

Ikuti USICON, Anggota CSSMoRA Unjuk Kemampuan dalam Konferensi Internasional



Yogyakarta, Senin (5/11) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adakan USICON (Ushuluddin International Conference). Acara ini berlangsung selama dua hari (5-6/11). Acara ini dilaksanakan dalam berbagai tahap, yaitu; call for paper, desain konferensi, proceding, dan publikasi paper.
Acara yang dibawahi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama ini, membuka peluang bagi seluruh akademisi dari kalangan mahasiswa dan dosen untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Acara ini juga menghadirkan berbagai pembicara tingkat nasional dan internasional yang ahli dibidangnya, serta bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain (Perguruan Tinggi, Jurnal terakreditasi, NGO, dan komunitas-komunitas terentu).
Di antara mahasiswa CSSMoRA yang turut serta dalam acara ini adalah Muhammad Alan Juhri, Alif Jabal Kurdi, Mohamad Abdul hanif, Muhammad Rafi, Nur Azka Inayatussahara, Andy Rosyidin, Muhammad wahyudi, dan Hamdi Putra Ahmad. Kedelapan mahasiswa CSSMoRA ini berhasil mempresentasikan papernya setelah melalui beberapa tahap pemilihan.
 “Motivasi mengikuti acara ini adalah ingin mengasah kemampuan menulis, berbicara, dan ingin belajar dari para akademisi nasional dan internasioanl. Jarang-jarang juga kan konferensi internasional gratis” tutur Alan salah satu pembicara USICON. Baginya mengikuti konferensi bukan untuk berbangga diri atau terlihat lebih dari yang lain, melainkan akan merasakan sebaliknya jika telah mengikuti acara-acara seperti itu. Salah satu hal yang menarik dari acara ini adalah pembicara-pembicaranya yang keren dan tema yang aktual.(Nad)

Kamis, 08 November 2018

Kepekaan Sejarah, Perdamaian, dan Optimalisasi Bonus Demografi

Holocaust Monument. source: Google


Oleh: Alif Jabal Kurdi*
            Pagi ini saya baru saja membaca buku yang membahas tentang rekonsiliasi konflik di Ambon. Dari pengantar buku itu saya mendapatkan fakta yang sangat menarik. Fakta tentang model pembelajaran sejarah di Jerman yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi pembangunan paradigma damai dalam diri peserta didik. Tentu kita tahu sejarah kelam Bangsa Jerman dengan praktik genosidanya terhadap kaum Yahudi atau yang diistilahkan dengan Holocaust. Tragedi kelam itu diperingati dengan dibangunnya monumen Holocaust di Berlin.
            Monumen itu ternyata tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap harinya selalu ada anak sekolah yang datang ke sana untuk tujuan studi sejarah. Di Jerman, setiap sekolah wajib mengenalkan kepada murid-muridnya tentang sejarah kelam Holocaust serta mengajak mereka melihat monumen yang memperingati tragedi tersebut. Pelajaran itu bukanlah tanpa tujuan. Di sana, murid-murid dituntut mampu mengembangkan nalar abstraktifnya dengan membayangkan jika mereka berada dalam situasi tersebut. Selanjutnya mereka akan dimintai respon dan diajak berdiskusi tentang sikap terhadap diri sendiri serta lingkungan di sekitarnya agar tragedi itu tidak berulang.
            Pendidikan yang digalakkan di Jerman ini, saya rasa sudah sangat memikirkan tentang bagaimana kehidupan generasi selanjutnya. Mereka tidak ingin generasi-generasi penerus justru terbelenggu dalam stigma-stigma yang akan membawa mereka pada kecurigaan antara satu etnis dengan etnis lainnya yang dulu pernah saling berseteru. Mereka ingin membuka pikiran generasi penerus dengan memperlihatkan kronologi yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu generasi penerus tidak lagi memikirkan tentang kebanggaan antar etnis. Tetapi lebih substansial dari itu, yakni bagaimana antar etnis bisa saling bersinergi dan membangun peradaban dengan asas perdamaian agar tragedi kelam itu tidak terulang kembali.
            Dari sini saya merasa adanya perbedaan yang signifikan dengan pola pengajaran di Indonesia. Semisal dalam membahas sejarah-sejarah kelam yang berkaitan dengan konflik yang terjadi antar etnis di Indonesia. Kita jarang sekali diberitahu tentang kronologi yang terjadi. Kita hanya diberitahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan garis besarnya saja, seperti tempat, tanggal, dan etnis yang bersitegang.
            Sebenarnya ada beberapa asumsi yang mendasari keterbatasan informasi yang kita dapatkan. Pertama, mungkin ketakutan untuk mengkronologikan ulang tragedi yang terjadi. Kedua, mungkin juga ada ketakutan untuk menyampaikan fakta sebenarnya yang justru akan memberatkan salah satu pihak sebagai pemicu konflik. Namun, justru ketakutan ini akan terus berdampak bagi kehidupan generasi selanjutnya. Mereka yang tumbuh dan berkembang dalam stigma-stigma yang tidak diketahui kepastiannya, akan cenderung membawa mereka pada kecurigaan antar sesama anak bangsa. Kecurigaan inilah yang sangat berpotensi menimbulkan gesekan karena hanya di muka saja terlihat tenang tapi di belakang ternyata saling menghujat dan merendahkan serta membanggakan etnis asal.
            Bisa dipastikan jika paradigma sosial ini masih terus berlanjut pada generasi muda, maka akan sangat sia-sia bonus demografi yang sebentar lagi akan menghampiri Indonesia. Sudah semestinya generasi muda mengenal kronologi konflik yang terjadi di tanah airnya. Membayangkan betapa rusaknya moral kemanusiaan setelah terjadinya konflik. Membayangkan betapa malangnya anak-anak yang kehilangan orang tuanya, tangisan istri-istri saat melihat jasad suaminya, atau bahkan tangisan adik-adik yang kehilangan kakak panutannya. Dari situ mereka akan menyadari arti pentingnya membangun perdamaian dengan menjaga tali persaudaraan. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, akan tetapi persatuan dan kesatuan dalam upaya menciptakan harmonisasi sosial adalah sebuah tuntutan. Mari sebagai generasi muda kita tingkatkan kepekaan kita akan sejarah, terutama sejarah tanah air kita sendiri. Dengan perdamaian yang sudah digenggam, bukanlah hal yang mustahil bonus demografi dapat kita optimalkan.
*) Mahasiswa PBSB Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Semester V


Minggu, 04 November 2018

Srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara 3 di Ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an



Srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara 3 di Ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an

Yogyakarta, cssmorauinsuka.net-  Salah satu srikandi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali berhasil menunjukkan kapasitasnya dalam perhelatan Musabaqah Hifdzil Qur’an tingkat pesantren ke-13 yang berlangsung di Islamic Centre Semarang, Jawa Tengah. Adalah Rachma Vina Tsurayya, yang berhasil menyabet juara 3 pada acara yang diikuti oleh sekitar 300-an peserta tersebut. Ia menuturkan, bahwa acara yang diselenggarakan antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan LPTQ Jateng tersebut merupakan event tahunan yang mempertemukan para hafidz/hafidzoh se-Jawa Tengah. “Acara ini berlangsung tiga hari, mulai dari tanggal 29-31 Oktober 2018,” ungkapnya. Event tersebut terbagi dalam tiga cabang, yaitu tahfidz 20 juz, tahfidz 30 juz, dan tafsir Bahasa Arab & tahfidz 30 juz. “Kebetulan saya ikut di cabang tafsir Bahasa Arab dan tahfidznya,” tambahnya.
Dalam mengikuti event tersebut, santri asal Banjarnegara ini menuturkan bahwa ia termotivasi untuk menambah pengalaman, teman baru, serta belajar hal-hal yang baru. “Lomba-lomba seperti ini juga bisa menjadi acuan supaya tetap istiqamah mempelajari apa-apa yang sudah pernah dipelajari. Intinya, biar tidak malas nderes dan muthala’ah-nya,” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan persiapan yang ia lakukan sebelum berlomba, diantaranya muraja’ah (mengulang hafalan), belajar beberapa kitab tafsir serta meminta doa restu dan nasihat dari orang tua & para guru.
Tak lupa, mahasiswi semester 5 ini juga membagikan sedikit tips bagi pembaca yang ingin mengikuti event serupa. “Semangat belajar, jangan takut untuk mencoba, selalu mendoakan orang tua dan guru, serta meminta nasihat sekaligus doa restu dari mereka,” tuturnya. (Ahn)



Jumat, 02 November 2018

Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Sabet Juara III di Event Kepenulisan


Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menorehkan prestasinya di bidang kepenulisan tingkat Nasional. Mereka yakni Ahmad Faruq Khaqiqi dan Ahmad Fahrur Rozi (Mahasiswa prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir angkatan 2017). Keduanya berhasil membawa pulang kemenangan sebagai Juara III dalam event Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Bandung, tepatnya di UIN Sunan Gunung Djati (25/10).
Event LKTIN ini sendiri merupakan salah satu event yang diselenggarakan oleh CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.”Karena ini kegiatan yang diadakan oleh CSSMoRA juga, sehingga kami mengikutinya”, ungkap Faruq ketika diwawancarai via whatsApp. LKTIN yang diusung oleh CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati ini bertemakan “Merawat Keberagaman Nusantara melalui Jalan Spiritualitas”. Dalam event ini terdapat beberapa tahapan yang harus lalui, yakni pengumpulan abstrak, pengumpulan full paper dan yang terakhir ialah presentasi. Walaupun dalam proses pembuatan karya terdapat kesulitan seperti  tema yang bukan bidangnya, namun mereka tetap mencoba sampai pada akhirnya dapat membawa pulang piala kemenangan. “Awalnya kami ragu dan tidak berharap lolos apalagi mendapatkan juara.”, ungkap Faruq.
            Keikutsertaan mereka dalam event ini pun alih-alih untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran. “Dari sini saya mendapatkan tambahan ilmu yang begitu luas”, ungkap Rozi. “Kami juga mendapat pengalaman dari UIN Bandung sendiri serta teman-teman di sana.”, tambahnya. Mereka berharap dengan mengikuti event semacam ini dapat meningkatkan kualitasnya dalam bidang kepenulisan atau dunia akademis. (Ana)