Jumat, 16 November 2018

Alih Genre yang Kebablasan



Bagi Anda yang belum menonton film Laskar Pelangi, segeralah untuk menontonnya. Film tersebut merupakan film yang diangkat dari sebuah novel karangan sastrawan khas Melayu, Andrea Hirata. Saya berani katakan kalau film tersebut merupakan film terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Buktikan kalau tak percaya!
Baru-baru ini, saya menemukan film yang serupa -bahkan hampir sama persis- dengan film Laskar Pelangi ini. Laskar Pelongo judulnya. Terdapat beberapa keunikan dan ‘kejanggalan’ di beberapa segi yang menarik untuk disimak. Sebelum lebih jauh, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap film kedua, penulis perlu sampaikan betapa penulis sangat mengagumi film yang pertama, yaitu Laskar Pelangi tesebut. Sehingga, tulisan ini tidak lain hanya ditulis dengan dua pandangan, yaitu: pertama, subjektik; kedua, sangat-sangat subjektif.
Untuk memudahkan dalam membedakan kedua film ini, penulis menggunakan istilah ‘film pertama’ untuk merujuk ke film Laskar Pelangi dan sebutan ‘film kedua’ untuk merujuk ke film Laskar Pelongo. Hal ini untuk menghindari penyebutan yang bisa menyinggung salah satu penikmat dari kedua film tersebut.
Pertama, soal pemeran dan unsur-unsur instrinsik lainnya. Tidak jauh berbeda dengan film aslinya, film kedua ini hanya mengganti sedikit saja segala nama yang ada. Contohnya, pemeran utama yang di film pertama bernama Ikal, di film kedua bernama Ipal (karena ia sering mengupil, 00.21). Temannya, si murid tercerdas sejagad Belitong, di film pertama bernama Lintang, sedang di film ini bernama Bintang. Ibu guru yang di film pertama bernama Bu Muslimah, di film ini bernama Bu Muzdalifah. Nama desanya pun berubah. Di film pertama, desa nan indah itu bernama Desa Belitong, sedang di film ini desa tersebut bernama Desa Beritung (karena dulu, di tempat ini banyak jenius yang pandai berhitung, namun karena kesombongannya, akhirnya dikutuk sehingga tidak bisa berhitung selamanya, 00.43).
Kedua, karakter tokoh dalam film. Pengkarakteran dalam film ini pun tidak jauh berbeda dengan film yang pertama. Tokoh Bintang, misalnya, di kedua film ini sama-sama digambarkan sebagai anak yang cerdas. Ibu Mus tetap digambarkan sebagai guru yang sabar dan ikhlas dalam memberikan pengajaran kepada murid-muridnya. Adapun yang berbeda dari film kedua ini seperti tokoh Flo yang memiliki hobi bermain karate, atau Pak Nasar yang mencintai Bu Mus, yang di film pertama adegan itu tidak pernah terjadi.
Ketiga, Melayu dan keunikannya. Kenapa unik ? Melayu, terutama zaman dahulu, seperti yang tergambar dalam film pertama, sangat identik dengan ‘kesengsaraan’. Ditambah lagi tempatnya di daerah pelosok nun jauh di sana, di Desa Gantong Pulau Belitong. Sehingga memisahkan Melayu dari ‘kesengsaraan’ bagaikan memisahkan ombak dari lautnya. Dalam film pertama, penggambaran Belitong dan orang-orangnya sangat terasa sekali. Tokoh Ikal, misalnya, dari fisiknya benar-benar mengenaskan. Badan kurus, rambut sulit diatur, kulit gelap, hingga baju yang hampir itu-itu saja. Namun dari situlah dapat diambil pelajarannya. Tokoh Ikal, meskipun begitu, memiliki semangat yang besar untuk menggapai cita-cita. Dalam film kedua, pesan itu tidak lagi tervisualkan. Tokoh Ikal di film kedua tampilannya sudah berbeda: badan berisi seperti anak yang selalu minum susu di pagi hari. ‘Kesengsaraan’ tokoh ini akhirnya dialihkan ke sifatnya yang hobi mengupil. Terkesan sangat memaksakan.
Keempat, penamaan Laskar. Dalam film kedua, penamaan diambil dari suatu kejadian tak terduga saat Bu Mus dan murid-muridnya sedang belajar bersama di luar ruangan. Kala itu, Bu Mus mengajarkan pelajaran Matematika dan bertanya seperti ini:
            “Ada yang tau gak, 2 ditambah 2 itu berapa ?”
Bukannya menjawab, para murid justru melongo dan mematung keheranan. Seakan-akan mereka baru mendengar suatu kalimat yang baru mereka dengar seumur hidup mereka. Hey, mereka seperti baru mendengar sepotong kalimat seorang Feuerbach yang mengatakan: Bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut rupa dan gambarnya, melainkan manusialah yang mencipta bayangan tentang Tuhan menurut rupa atau bentuk manusia. Tidak. Mereka hanya mendengar kalimat tanya yang isinya cuma berapakah 2 + 2 ? Dan karena murid-murid itu hanya melongo ketika mendengar kalimat tanya itu, akhirnya Bu Mus berinisiatif untuk memberi mereka julukan “Laskar Pelongo” (08.15). Dan lagi-lagi terkesan memaksakan.
Kelima, Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus. Dalam film kedua ini, adegan Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus tidak ada dalam film pertama. Apalagi, ketika Pak Nasar menggunakan sihir ketika lamarannya ditolak oleh Bu Mus. Hmmm.. Tak semudah itu, Boy!
Keenam, Aling yang mengejutkan. Di film kedua, sosok Aling tak seperti pada film pertama yang memiliki paras yang menawan. Tak heran jika Ikal bisa jatuh cinta dengannya hanya karena melihat kuku paling cantik sedunia. Namun tidak demikian di film kedua. Mungkin ini pertanda, kalau tak akan ada film Laskar Pelongo 2. Hmmmm.
Poin-poin di atas hanya beberapa catatan yang membuat penulis gelisah. Setidaknya semoga tidak terjadi lagi. Meskipun disadari, bahwa film kedua ini memiliki genre yang berbeda dengan film pertama. Film kedua lebih bergenre komedi. Tak heran jika segalanya lantas dibuat lucu -meskipun terkesan memaksakan. Dan inilah yang membuat film kedua akhirnya kehilangan spiritnya. Di satu sisi, film ini ingin mengkomedikan suatu film yang sejatinya mengandung sejuta pesan. Namun karena beralih genre, alih-alih menyampaikan pesan, pesan itu justru terdistorsi. Bagi yang pernah menonton film pertama lalu menonton film kedua ini, akan merasa aneh menontonya, setidaknya itu terjadi pada diri pribadi. Dibilang lucu, enggak banget, dibilang memotivasi, ya kok kurang yah. Bukankah lebih enak jika ingin membuat film bergenre komedi, sekalian terjun bebas ke dasar komedi, begitu juga sebaliknya ? Hmmm.

-Ahnaf.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar