Kamis, 08 November 2018

Kepekaan Sejarah, Perdamaian, dan Optimalisasi Bonus Demografi

Holocaust Monument. source: Google


Oleh: Alif Jabal Kurdi*
            Pagi ini saya baru saja membaca buku yang membahas tentang rekonsiliasi konflik di Ambon. Dari pengantar buku itu saya mendapatkan fakta yang sangat menarik. Fakta tentang model pembelajaran sejarah di Jerman yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi pembangunan paradigma damai dalam diri peserta didik. Tentu kita tahu sejarah kelam Bangsa Jerman dengan praktik genosidanya terhadap kaum Yahudi atau yang diistilahkan dengan Holocaust. Tragedi kelam itu diperingati dengan dibangunnya monumen Holocaust di Berlin.
            Monumen itu ternyata tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap harinya selalu ada anak sekolah yang datang ke sana untuk tujuan studi sejarah. Di Jerman, setiap sekolah wajib mengenalkan kepada murid-muridnya tentang sejarah kelam Holocaust serta mengajak mereka melihat monumen yang memperingati tragedi tersebut. Pelajaran itu bukanlah tanpa tujuan. Di sana, murid-murid dituntut mampu mengembangkan nalar abstraktifnya dengan membayangkan jika mereka berada dalam situasi tersebut. Selanjutnya mereka akan dimintai respon dan diajak berdiskusi tentang sikap terhadap diri sendiri serta lingkungan di sekitarnya agar tragedi itu tidak berulang.
            Pendidikan yang digalakkan di Jerman ini, saya rasa sudah sangat memikirkan tentang bagaimana kehidupan generasi selanjutnya. Mereka tidak ingin generasi-generasi penerus justru terbelenggu dalam stigma-stigma yang akan membawa mereka pada kecurigaan antara satu etnis dengan etnis lainnya yang dulu pernah saling berseteru. Mereka ingin membuka pikiran generasi penerus dengan memperlihatkan kronologi yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu generasi penerus tidak lagi memikirkan tentang kebanggaan antar etnis. Tetapi lebih substansial dari itu, yakni bagaimana antar etnis bisa saling bersinergi dan membangun peradaban dengan asas perdamaian agar tragedi kelam itu tidak terulang kembali.
            Dari sini saya merasa adanya perbedaan yang signifikan dengan pola pengajaran di Indonesia. Semisal dalam membahas sejarah-sejarah kelam yang berkaitan dengan konflik yang terjadi antar etnis di Indonesia. Kita jarang sekali diberitahu tentang kronologi yang terjadi. Kita hanya diberitahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan garis besarnya saja, seperti tempat, tanggal, dan etnis yang bersitegang.
            Sebenarnya ada beberapa asumsi yang mendasari keterbatasan informasi yang kita dapatkan. Pertama, mungkin ketakutan untuk mengkronologikan ulang tragedi yang terjadi. Kedua, mungkin juga ada ketakutan untuk menyampaikan fakta sebenarnya yang justru akan memberatkan salah satu pihak sebagai pemicu konflik. Namun, justru ketakutan ini akan terus berdampak bagi kehidupan generasi selanjutnya. Mereka yang tumbuh dan berkembang dalam stigma-stigma yang tidak diketahui kepastiannya, akan cenderung membawa mereka pada kecurigaan antar sesama anak bangsa. Kecurigaan inilah yang sangat berpotensi menimbulkan gesekan karena hanya di muka saja terlihat tenang tapi di belakang ternyata saling menghujat dan merendahkan serta membanggakan etnis asal.
            Bisa dipastikan jika paradigma sosial ini masih terus berlanjut pada generasi muda, maka akan sangat sia-sia bonus demografi yang sebentar lagi akan menghampiri Indonesia. Sudah semestinya generasi muda mengenal kronologi konflik yang terjadi di tanah airnya. Membayangkan betapa rusaknya moral kemanusiaan setelah terjadinya konflik. Membayangkan betapa malangnya anak-anak yang kehilangan orang tuanya, tangisan istri-istri saat melihat jasad suaminya, atau bahkan tangisan adik-adik yang kehilangan kakak panutannya. Dari situ mereka akan menyadari arti pentingnya membangun perdamaian dengan menjaga tali persaudaraan. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, akan tetapi persatuan dan kesatuan dalam upaya menciptakan harmonisasi sosial adalah sebuah tuntutan. Mari sebagai generasi muda kita tingkatkan kepekaan kita akan sejarah, terutama sejarah tanah air kita sendiri. Dengan perdamaian yang sudah digenggam, bukanlah hal yang mustahil bonus demografi dapat kita optimalkan.
*) Mahasiswa PBSB Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Semester V


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar