Minggu, 11 November 2018

Persepsi Laki-Laki, Dandanan Perempuan, dan Body Shaming



   Sering sekali saya mendengar bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang tidak berdandan. Ekspresinya beragam, seperti “ngapain sih pake dandan tebel-tebel segala”, “cowok tu lebih suka yang natural tau”, “kamu tu lebih cantik kalo ngga pake apa-apa loh”, dan lain sebagainya yang menurut saya sangat membuat para perempuan berpikir “apa banget sih”. Ekspresi-ekspresi yang diutarakan laki-laki bahkan tidak sebatas mengomentari dandanan saja. Terkadang, mereka menyentil apa yang dipakai perempuan, bentuk wajah, bentuk bagian tubuh, atau bahkan bau badan.
   Suatu ketika di sebuah forum, teman saya kebetulan sedang menderita sakit mata dan mengenakan kacamata untuk menyembunyikannya. Saat ia datang, teman laki-laki saya mengatakan, “eh kamu kok pake kacamata gitu? Gedean kacamatanya daripada mukamu”. Saya tahu ia barangkali tidak bermaksud menyakiti teman saya itu. Namun, dalam hati kok saya merasa perkataannya terlalu jleb. Sontak saya merasa perlu protes, yang kemudian keluar dari mulut dengan “eh kamu tu jangan body shaming gitu dong”. Ia lantas mengatakan bahwa ia hanya berusaha berterus terang atas apa yang dipikirkannya—walaupun saya tetap saja tidak sepenuhnya setuju.
   Semacam itu pulalah yang biasanya saya hadapi: dikomentari ini itu mengenai alasan pakai make up, ditanyai mengenai mengapa sekarang sering pakai gincu, atau bahkan dikomentari perihal eyeliner yang sudah mbleber ke mana-mana. Inilah barangkali yang menyebabkan saya akhirnya menyembur teman saya itu. Disadari atau tidak, jika ada sesuatu yang dianggap berbeda atau berubah dari seorang laki-laki atau perempuan—terutama yang berkaitan dengan penampilan, pasti akan ada banyak komentar yang menyertai. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika perubahan tersebut kemudian menimbulkan stigma-stigma tertentu.
   Terkait komentar laki-laki tentang perempuan yang saya utarakan di awal, dapat saya katakan bahwa perempuan tidak selamanya ingin dipuji atau diperhatikan ketika ia mencoba menghias dirinya. Ungkapan “hello laki-laki, jangan kegeeran deh kalian” mungkin mewakili suara perempuan yang merasa tidak terima ketika mendengar para lawan jenis yang nyinyir itu. Bagi saya sendiri secara subjektif, berdandan adalah ekspresi kesenangan saya akan keindahan, selain juga yang baru-baru ini menjadi hobi buat saya. Masa bodoh sekali ketika mendengar beberapa orang berkomentar negatif tentang dandanan saya, toh saya juga bukan berdandan buat mereka.
   Sama halnya dengan persepsi negatif berdandan, ketika laki-laki mengomentari bentuk tubuh atau penampilan perempuan pun pada hakikatnya dalam pikiran mereka sudah tertanam sebuah konstruksi kecantikan atau idealitas penampilan perempuan itu sendiri. Padahal, seperti yang pasti dirasakan oleh laki-laki juga, perempuan tidak ingin ditentukan standar kecantikannya—meskipun kini kuasa media sudah memonopoli standar itu dan banyak pula perempuan yang berusaha mengikutinya. Laki-laki tentu tidak mau dibilang tidak keren hanya karena perawakannya tidak macam Jojo yang tubuhnya bak roti sobek. Mereka juga pasti ogah dibilang tidak tampan hanya karena wajahnya tidak menyerupai Salman Khan.
  Pada akhirnya, meskipun di sini saya kurang lebih banyak menyenggol laki-laki yang punya persepsi macam-macam mengenai perempuan, saya juga tidak dapat mengklaim bahwa perempuan tidak pernah punya persepsi dan standar tertentu mengenai laki-laki. Hal-hal yang demikian tak dapat dipungkiri akan tetap ada. Namun, persoalannya kembali pada bagaimana kita mengutarakannya kepada si objek, entah itu perempuan atau laki-laki. Ya, minimal kalo punya standar tertentu mbok yo jangan diutarakan secara terus terang banget lah, wong setiap orang juga punya hak masing-masing buat mengekspresikan dirinya. (shy2cat)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar