CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Harapan Terakhir Kakek


Di bawah bendera yang berkibar utuh
Seorang renta berwajah teduh
Termenung, menerawang jauh
Berbagai ingatan berkelabat cepat
Tubuh tegap, luka yang sekedar berkelabat
Tangis serta suara mengaduh
Tak pernah melunturkan semangat
Deru napas dan desing senapan
Bersama mayat yang bergelimpangan.

“Fiqri, ayah pergi dulu, bangun dan makanlah! ” Teriak suara lantang ayah dari luar kamarku.
“Iya ayah.” Jawabku seraya berhenti membaca tulisan di kertas lusuh yang ku pegang.
Aku tersenyum mendengar derap langkah kaki ayah yang semakin tidak terdengar suaranya. Jujur saja, aku tidak begitu akrab dengan sapaan ayah yang baru kutemui 4 bulan yang lalu, karena memang aku bukanlah anak kandungnya, aku adalah anak angkat dari desa yang kemudian diangkat anak olehnya.
“Ah, sudahlah, lebih baik aku melanjutkan bacaanku yang terhenti” Ucapku sambil tersenyum.
Kini...
Tubuh yang dulunya tegap
Mulai renta, bahkan sekedar berjalanpun seolah berjingkat
Bekas lukanya masih terpampang jelas
Bersama tekad semangatnya yang terus membekas
Sebulir air mata menggantung di pipinya
Yang telah penuh kerut digerus usia
Senyumnya mengembang indah
Di bawah langit Indonesia yang terbentang megah
Perjuangannya, bersama pahlawan yangtelah berkabung tanah
Yang nisannya tak sempat ditandai nama
Atau bahkan hanya sekedar ditimbun tanah.
Kini...
Ia hanya menikmati senjanya
Melihat langit cerah tanpa bercak darah
           Tanpa ancaman penjajah dan penjarah.
            Tanpa terasa air mataku jatuh mengalir dengan sendirinya. Entah kenapa aku sangat merindukan kakek. Kakek yang selalu menjaga dan merawatku sedari aku kecil, bahkan berjuang mati-matian agar aku tetap sekolah. Karena yang aku tau, kakek ingin aku menjadi orang hebat, agar aku bisa menjaga Indonesianya. Iya, Indonesianya. Negara yang pernah kakek perjuangkan kemerdekaannya.
            Aku meringis mengingat cerita kakek sebelum kakek meninggalkanku untuk selama-lamanya di pinggir rel kereta kala itu.
“Fiqri, kamu yang semangat ya ikut lombanya. Kamu harus terus berusaha berlatih dan berdoa, supaya mendapatkan yang terbaik. Kakek hanya bisa bantu berdoa, kakek ingin kamu membacanya dengan khidmat, agar semua orang, terutama pemuda penerus bangsa mendengar bahwa meraih kemerdekaan tidak semudah membolak-balikkan tangan,” Ucap kakek mengusap rambutku lembut.
“Iya kek, aku akan berusaha.” Jawabku dengan penuh semangat.
“Sejujurnya kakek sedih melihat apa yang terjadi pada Indonesia kakek saat ini. Indonesia yang indah disetiap mata yang memandangnya.  Indonesia yang dihuni oleh pemuda-pemuda tangguh penuh semangat. Indonesia yang dipimpin oleh orang-orang yang tegas namun peduli. Namun sekarang Indonesia kakek tidak seperti dulu lagi. Tumpukan sampah berserakan dimana-mana. Pemuda-pemuda yang hanya peduli dengan kesenangan. Para pemimpin yang hanya mementingkan hidupnya sendiri. Kakek harap, kelak ketika kamu dewasa nanti, kamu bisa kembali memperjuangkan Indonesia kakek, agar kembali indah di mata orang-orang yang tinggal didalamnya.” Ucap kakek seraya melihat pada kereta yang akan melintas.
Untuk kedua kalinya aku kembali terisak mengingat sosok kakek. Hari itu adalah hari dimana aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Kakek meninggal tertabrak kereta pada saat itu karena menyelamatkan seorang wanita remaja yang entah mengapa malah berlari mendekat pada kereta. Dan yang membuat hatiku tercabik-cabik, wanita yang diselamatkan kakek adalah seseorang yang memang ingin mengakhiri hidupnya karena malu sedang mengandung. Pada saat itu, aku ingin marah pada dunia. Kenapa mengambil kakekku secepat itu? Padahal keesokannya adalah hari kemerdekaan, hari dimana aku akan membacakan puisi karya kakek dan untuk kakek.
            Aku mengusap air mataku, mengenang kisah 2 tahun lalu. Besok, adalah 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Hari dimana dulu aku mengundurkan diri dari perlombaan karena aku merasa tidak ada gunanya. Dan saat ini, aku bertekad, apapun yang terjadi besok, aku akan tetap mengikuti lomba membaca puisi. Aku ingin semuanya mendengar apa yang sebenarnya para pendahulu harapkan untuk Indonesianya kelak. Agar kakek di atas sana bisa kembali tersenyum melihat Indonesianya yang kembali indah di mata semua orang. (Padi)

Minggu, 11 Agustus 2019

Sudah Tiba Waktunya



           Harum tercium suasana Hari Raya Idul Adha. Gema takbir pada malam hari  saut-sautan bergemuruh tak ada henti-hentinya. Masjid sini keras menantang, masjid sana bak tertantang tidak terima dan memutuskan untuk lebih semangat dan lebih keras, begitulah seterusnya. Alam pun tak mengecewakan, bulan  tersenyum penuh, bintang-bintang  saling berkedip patuh , untuk mengisyaratkan bahwa mereka juga bersemangat merayakan tanpa angkuh. Tak cukup disitu, banyak pasukan dari berbagai desa berkeliling membawa senjata masing-masing, untuk membuat suasana gaduh, riuh, meriah ampuh,  seraya berteriak “ Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha Ilaallahu Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil hamd”.
Di kehidupan lain, di sebuah kamar Pondok Pesantren Kampung Tua, tidak begitu menyengat terasa  bau suasana Hari Raya Idul Adha, karena  tidak menembus  benteng tembok berwarna hijau muda. Hanya dengan lubang  dua jendela yang terbuka,  masuklah udara dingin sampai ke kulit dan suara gaduh dari luar walau lirih tapi terasa. Kemudian  sebuah pintu yang tertuliskan “ Slamet, Sulaiman, Andi, Agung, Hartono, Hasan, Rizki, Ahmad” membuktikan bahwa merekalah penguasa kamar pojok lontai dua.
Guys, besok kalian pada  mau sholat Id dimana ?” Pertanyaan Slamet yang menghangatkan dingin heningnya kamar.
Ya kalo aku sholat dilapangan lah, nabi kan sholatnya juga dilapangan to ?” Sahut Rizki kepada Slamet.
Kalo aku sih ,ngikut kalian-kalian aja.Celetus Hartono sambil meringis.
“Emang dimana yang bagus? masjid atau lapangan?” Tanya Sulaiman dengan wajah lugu.
“Ya nggak tau sih, tapi setauku  di Al-Quran ada tuh, yang ngejelasin , kalo di masjid itu tempat yang layak untuk beribadah, bunyinya gimana ya? surat apa ya? lupa aku.” Jelas Slamet dengan logat jawanya.
 “Lupa apa ora ngerti  haha.” Ejek Hartono yang juga dengan logat jawanya.
“Surat At-Taubah ayat 108, naah kelingan aku ndes.” Tambah Slamet yang tidak terima diejek Hartono.
Rizki yang merasa  dibantah pun menoleh seraya berkata
Yaelah, itu ibadah apa dulu pak bos? kan ini sholat Id, nabi dulu pas sholat  Id di lapangan kok.”
“Pasti ada sebabnya tuh, nabi sholat di lapangan” Celetus Hartono yang sok tau.
“Iya mungkin, aku juga ingat pas ngaji bab Hari Raya dulu di kitab Fathul Wahab , kalo sholat Id di masjid lebih utama, karena masjid tempat yang mulia, kecuali ada halangan, masjid sempit contohnya” Jelas Slamet yang memang ingatannya bertahan lama.
lha itu, mungkin dulu masjidnya sempit, kan kita nggak tauSaut Sulaiman yang pasti ingin ikut berdiskusi.
Mosok sih?Bela si Rizki.
 Nah iyakan? Nabi sholat Id di lapangan itu memang ada alasanya, ya masjid sempit itu tadi.
 Kok kamu tahu?” Belum selesai ngomong Slamet sudah dipotong oleh Rizki.
Nih aku inget kalo dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, dijelaske, kalau nabi sholat dilapangan itu karena bangunan masjid kecil, kalo masjide cilik, berarti yo sempit haha.” Tambah si Slamet sambil menunjukan sebuah kitab dan dengan bumbu candaan.
Iya po? mana sih?Jawab Rizki sambil mendekati Slamet.                                                                                         
Halah luah, kalian ki ribut ngopo, mending besok ayo maen ke kota Jogja, ikut Grebeg Gunungan, eh Met Slamet, kamu kan anak jogja, berarti ngerti to panggonane ?Pecah Hartono.
Hmm, mosok aku nggak tau, aku kan yang punya Jogja, mbok kalian tanya mana aja, pasti sampai ditempat, asalkan tanyanya sama  goggle maps, haha.” jawab Slamet dengan terbahak-bahak.
 “Eh, Grebeg Gunungan itu apa?” Tanya Hasan yang dari tadi diam.
 Grebeg Gunungan itu tradisi Jogja bro, yang biasa diadakan pas Idul Fitri dan Idul Adha.” Jelas Hartono.
 “Iya bro, buat kayak tumpeng raksasa gitu  lho yang nanti isinya hasil bumi.” Tambah Slamet.
 “Tumpeng raksasa? terus diapain itu?“ Tanya Hasan  kepo.
 “Ya diarak, dibawa keliling dari keraton sampai masjid, baru deh dibuat rebutan, banyak kok, biasanya tiga buah tumpeng raksasa”.
 “Wah, seru ya ,tempatku juga ada lho tradisi kalo pas Idul Adha, lucu malah, namanya Kaul Negri dan Abdau” Ucap Hasan tidak mau kalah.
 “Acara apaan itu bro ? kok lucu?” saut slamet dengan cepat.
 “Nanti tuh pas habis sholat id selesai, pemuka adat menggendong tiga kambing dengan kain, terus diarak ,dibawa keliling begitu” jelas anak yang memiliki nama lengkap Hasan Tuhaera itu.
”Terus, diapain itu bro kambingnya? kok digendong segala?” Tanya slamet lagi.
Ya itu kan tradisi turun temurun, terus pas keliling gendong kambing tuh nggak sepi, dibarengi takbir dan sholawat gitu.Jelas si Hasan
Itu Kaul Negri, kalo yang tradisi Abdau apa San Hasan ?” Tanya si Hartono ingin tau.
 “Oh iya, kalo Abdau itu ritual rebutan bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid, biasanya anak-anak muda sih.Tambah Hasan.
Hartono takok wae, punyamu disana punya apa? Di Maluku Tengah kan udah dijelasin sama anak Maluku tuh Hasan, terus punyamu apa?” Tanya Slamet dengan tertawa pelan.
 “Wah ngejek kamu Met, aku itu lahir di Grobogan Semarang, aku pasti tahu apa tradisi pas Idul Adha, dan Grobogan juga punya ,haha.” Jawab Hartono dengan balasan tawa yang lebih keras.
 “ Wah punyamu juga ada, apa namanya, terus gimana ?”Tanya Hasan yang bener-bener kepo.
 Hehe, nggak jauh beda sama Jogja sih, arak-arakan tumpeng begitu, isinya juga hasil bumi, namanya aja yang beda, Apitan, ada juga yang manggil Merti Bumi atau sedekah bumi” jelas si Hartono.
Waah semarang niru Jogja ya haha. “ Ejek Slamet yang bikin tertawa mereka berempat.
Haha, punya kalian tradisinya masih normal-normal aja, punyaku lebih unik dan menarik” ucap Agung yang dari tadi maen HP dengan sisa tawa akibat ulah si Slamet.
Halah, Pasuruan duwe opo?” Celetus si Hartono.
 sssttt, dengerin tuh si Agung, apa Gung punyamu tradisinya?” Potong si Hasan.
“Manten Sapiii!” jawab Agung dengan keras
 Hahahaha” si Slamet dan Hartono langsung tertawa
Mosok sapi mantenan, terus jodone sopo? awakmu Gung Agung ,haha.” Ejek si Hartono.
Eh , emang mantenan itu apa Gung?” Tanya Sulaiman yang dari tadi menyimak mereka bertiga  bahas tradisi Idul Adha.
“Mantenan itu artinya pernikahan, tapi bukan pernikahan yang seperti kalian bayangkan lho ya, maksudnya tuh sapi-sapi didandani sampai cantik, kayak orang yang menikah, kan cantik-cantik.”
Waah, untung Slamet nggak disana ,kalo disana pasti sapinya dinikahi, haha.” Ejek si Hartono yang membuat lainya ikut tertawa.
 Aseeem kowe Har,  eh Gung, terus didandani nganggo opo, bedak, gincu, opo opo?“ Potong si Slamet yang mencoba  mengalihkan perhatian.
 “Ya enggaklah, gila kalo pake begituan” celetus Hartono sok tau lagi.
 Halah sok tau kamu Har , tak jitak malah.” Sahut Slamet yang masih tidak terima diejek Hartono dengan tawa.
 “Dandannya itu dimandiin, terus pake kalung bunga tujuh rupa, balutan kain kafan, sorban, sajadah kek gitu, terus sapi nya diarak keliling kampung, sampai nantinya di masjid untuk disembelih.” Jelas si Agung.
“Wah mantap tuh punya kalian, walaupun aneh sih, kalo di Madura simple, tradisinya pas Idul Adha itu mudik.” Sambung si Sulaiman yang dari tadi juga hanya menyimak.
“Mudik?” Saut Slamet.
 “Iya mudik, cuman di Madura namanya Toron, mudik bawa oleh-oleh, ya untuk menjaga ikatan sosial gitu, antara perantauan sama yang menetap.” Jelas Sulaiman dengan singkat.
Eh kalian bertiga , sini lho, apa nggak bosen ,mabar terus? turun dari ranjang terus cerita tradisi Idul Adha, apa daerah kalian nggak ada jangan-jangan? Ucap Hartono kepada Andi, Rizki dan Ahmad yang sama-sama suka game online dengan petentang-petenteng bercanda.
“Di Gowa tempatku tuh nggak aneh-aneh tradisinya, Cuma mandin benda-benda pusaka , namanya Accera Kalampuang, udah kan? tempatku adakan? Haha.” jawab Andi sambil tertawa yang tidak mau diganggu maen gamenya.
“Oke, nama lengkapku Agam na Rizki, jadi pasti aku orang  Aceh, dan Aceh tentu punya tradisi yang bagus,  yaitu masak bareng daging kurban, terus makan bareng keluarga dan anak-anak yatim piatu, nah agamis kan, oh iya biasanya dikenal dengan nama tradisi Meugang.” Sambung Rizki yang memang anak tertib agamis.
Tak lanjutin, di daerahku ,lucu banget, kalo masuk bulan dzulhijjah begini ada tradisi Mepe Kasur, jemur kasur bahasa indonesianya, jadi pagi-pagi banyak tuh kasur –kasur didepan rumah, nah ,kasur dijemur itu karena konon dapat menolak bala, terhindar dari bencana, menghilangkan keburukan dirumah , begitu teman-temanku, cukup sekian, dilarang banyak Tanya, sedang seru maen game ,haha.” Sambung lagi oleh si Ahmad anak Banyuwangi yang rese dan juga lucu.
        Tawa mereka memaksa waktu untuk terlupa, bahwa detak jam dinding sudah mencapai angka sebelas lebih empat puluh lima. Tanpa ada komandan yang bertugas, mereka bergegas ke ranjang masing-masing dengan begitu tangkas. Tanpa bantal, berselimutkan sarung menjadi ciri khas santri yang kental. Delapan anak dengan fikiran dan bayangan yang sama menemani tidur malamnya, yakni besok ternyata sudah tiba waktunya Hari Raya Idul Adha dengan segala keunikannya.(Adek)
 


                  
     
S

Jumat, 19 Juli 2019

Apakah saya mampu?


Terbersit di dalam hati yang terdalam, ketika semuanya harus dijalani. Mengerjakan tugas akhir, memenuhi kebutuhan hidup, mencari tambahan keuangan yang tak pernah stabil, dan segala hal yang berhubungan dengan seorang mahasiswa tingkat akhir seperti saya. Berkaitan dengan asmara, tolong jangan ditanya. Suram!
Lalu apa yang akan terbersit tadi? Ya, sesuai judul di atas: Apakah saya mampu?
Ketidakmampuan atau bahkan kemampuan seseorang sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri. Kalau memotivasi diri sendiri saja tidak mampu, jangan sok memberi motivasi orang lain, deh. Betapa banyak kita menemukan orang-orang yang mampu memotivasi orang lain dengan kata-kata manis, namun ketika berhadapan dengan masalah pribadinya ia malah selalu mengeluh.
Stop menonton acara-acara motivasi di televisi, motivasi diri sendiri. Kekuatan terbesar ada dalam dirimu sendiri!
Salah seorang dosen saya pernah berkata seperti ini, “Gantilah kalimat saya tidak bisa menjadi saya pasti bisa.” Guru saya yang lain berkata, “Dalam kehidupan, motivasi orang lain berperan 10%, 90% adalah motivasi diri sendiri”. Inilah pentingnya motivasi diri, bahwa diri kita adalah sebaik-baiknya motivator. Bukan kata pacarmu, gebetanmu, adik-kakakmu, apalagi dia yang meninggalkan ketika sedang sayang-sayangnya. Halah pret!
Saya memiliki metode sendiri ketika memotivasi diri sendiri. Saya sebut dengan, “Berbicara dengan diri sendiri”. Bukan indikasi menjadi orang gila. Tetapi ini adalah cara terjitu, setidaknya menurut saya sendiri, untuk menanyakan diri saya perihal kapasitas, kemampuan, dan batas diri saya. Tanya dirimu, sebatas apa dirimu mampu, sekuat apa kau berjuang, kapan kau butuh liburan, kapan kau butuh untuk sedikit istirahat dan tertawa lepas dengan kawan-kawanmu. Lalu kembali berjuang.
Ingat! Kembali berjuang! Bukan foya-foya terus, dan berharap tua masuk surga. Surgane mbahmu!
Di atas saya sebut bahwa kita harus tahu kapan berjuang dan kapan beristirahat. Hal ini disebabkan badan dan pikiran kita berhak untuk beristirahat. Jangan keterlaluan memforsir diri sendiri. Perlulah kadang beristirahat dengan bertemu kawan, mencicipi kopi, atau punya cara refreshing sendiri yang setidaknya menenangkan dan kemudian membuat semangat kembali naik.
Menyadari kapasitas dan kemampuan diri untuk menyadarkan diri bahwa kita memiliki batas. Batas untuk memilih bahwa saya akan meraihnya atau tidak. Ketika sudah menyadari kapasitas dan kemampuan diri, dengan sendirinya langkah kita akan terarah. Singkatnya, kalau sadar bahwa kau tak pantas bagi dirinya, menyerah sajalah! Cari yang lain. Eh, maaf maaf.
Selanjutnya, merupakan metode yang opsional. Bisa digunakan atau tidak. Tapi saya menggunakannya. Atau setidaknya banyak dari kita yang menerapkannya dan tidak sadar sedang menerapkannya. Yaitu, “Berpikir negatif pada diri sendiri dan berpikir positif pada orang lain.” Mengapa bisa seperti itu?
Begini, jangan suka berpikir negatif pada orang lain. Sebenci apapun kita pada orang tersebut. Yakin, itu malah membebani pikiran dan hati kita sendiri. Seringkali kita berpikir atau setidaknya menginginkan kehidupan orang lain. Asmara lah, kekayaan lah, nikmatnya hidup orang lain lah, tugas akhir teman yang sudah selesai lah, dan sebagainya. Eh, yang terakhir ada batas toleransi deh, hehe.
Namun sebaliknya, berpikirlah negatif pada diri sendiri. Saya kurang rajin, saya kurang sering membaca, saya kurang produktif, dan kurang-kurang yang lain. Tidak lain ini untuk menstimulasi isi kepala kita dan membuatnya berpikir hanya ada satu jalan untuk mengubahnya. TINGKATKAN!
Kepada orang lain, usahakan hanya ada pikiran positif. Kalau orang lain pintar, bacaannya banyak. Kalau orang lain lebih kaya, dia giat bekerja. Kalau orang lain lebih ahli, tulisannya banyak. Kalau dia nggak bales chatmu, kamu bukan prioritasnya. Hehe.
Saya tidak sedang memotivasi pembaca, sungguh! Saya sedang curhat loh ini. Kalau kalian yang membaca merasa saya sedang memotivasi kalian, mohon maaf. Kan saya sudah bilang, motivasi terbesar adalah diri kita sendiri.
Nah, berkaitan dengan curhat, saya tutup tulisan ini dengan cara terakhir menghadapi pertanyaan di atas. Biasakan menjadi pendengar yang baik dan ceritakan ceritamu pada telinga yang mendengarkanmu. Menjadi pendengar yang baik itu butuh keahlian. Karena fokus untuk mendengar cerita kawan yang sedang kebingungan seringkali membosankan. Dalam sebuah tweet, Daruz Armedian berkata: “Jika kamu punya temen yang punya masalah, coba dengarkan keluh kesahnya. Siapa tahu dengan itu, kamu bisa menyelamatkannya. Kadang orang yang punya masalah gaperlu motivasi, gaperlu dinasihati, cukup ceritanya didengarkan.” See? The power of listening someone.
Tetapi, sejalan dengan ini, Daruz melanjutkan: “Tapi saat kamu sering melakukan itu (mendengarkan curhat temenmu), kamu juga perlu menengok diri sendiri, kamu juga perlu penyembuhan diri, ceritamu juga perlu didengar. Salut untuk kamu yang kuat sampai hari ini.” Katanya yang dipost tanggal 15 Juli kemarin.
Seseorang yang sedang dilanda masalah tidak butuh motivasi, tidak butuh nasihat. Hanya butuh didengarkan. Dan ini senyatanya benar. Cukup didengarkan saja sudah membuat setengah dari masalah seakan teratasi. Setidaknya dengan kepala dingin, menghadapi masalah akan terasa lebih ringan.
Tapi jangan lupakan diri sendiri. Kalau sedang dilanda masalah, kita punya hak untuk didengarkan. Ceritakan masalahmu pada seseorang yang benar-benar kalian percaya. Tidak hanya dia yang kalian sayangi, cintai, kasihi, atau apapun itu sebutannya. Tetapi orang yang kalian percaya mampu menjaga rahasia kalian, dan mampu menjadi pendengar yang baik. Intinya, jangan semua orang diberi tahu masalahmu. Tidak semua orang adalah pendengar yang baik.
Dan terakhir, jangan lupa berbicara pada dirimu sendiri. Kau bahkan lebih ahli dari Pak Mario Teguh dalam hal memotivasi diri sendiri. Percayalah percayalah! Nggak percaya juga nggak papa. Emang kandanane angel!
Oleh: Muhammad Farid Abdillah

Rabu, 05 Juni 2019

Makna Dibalik Hari Kemenangan


           Sidang isbat pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1440 H jatuh pada hari Rabu, 5 Juni 2019. Ini berarti tak lama lagi umat Islam akan segera merayakan sebuah hari yang istimewa, yaitu hari raya Idul Fitri. Idul Fitri atau yang biasa disebut dengan lebaran disambut meriah di berbagai daerah. Seperti tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta, Dugderan di Semarang, dll. Sebagian masyarakat kita juga menggelar takbir keliling pada malam hari raya Idul Fitri.  Anak-anak hingga orang dewasa berbondong-bondong memenuhi jalanan dengan membawa obor dan tak henti-hentinya mengumandangkan kalimat takbir. Ada juga mobil-mobil yang dihias dengan lampu warna-warni yang semakin menambah meriah malam hari Idul Fitri.
            Kata Idul Fitri berasal dari bahasa Arab. Id  berarti kembali, sedangkan kata Fitri memiliki beragam makna. Ia bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Fitri yang berarti buka puasa didasarkan pada akar kata ifthar (sigat masdar dari afthara-yufthiru). Hal ini berarti makna Idul Fitri disini adalah hari raya yang umat Islam dibolehkan kembali untuk berbuka atau makan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu salah satu sunah sebelum melaksanakan salat Id adalah makan atau minum walaupun sedikit.
            Sedangkan kata fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan berasal dari akar kata fathoro-yafthiru. Dari akar kata ini diperoleh kesimpulan bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, terbebas dari noda dan dosa sehingga berada dalam fitrah (kesucian). Dalam konteks ini yang dimaksud dengan Idul Fitri adalah kembali kepada asal kejadian yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar.
            Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya dimaknai dengan positif. Bisa dengan berziarah ke makam keluarga yang sudah meninggal dan bersilaturahmi dengan sanak  saudara. Menjalin silaturahmi dengan saling berkunjung merupakan sarana minta maaf dan membebaskan diri dari dosa yang bertautan antarsesama makhluk. Hal ini penting sebab tidak ada manusia yang benar sepenuhnya. Manusia tentu pernah melakukan kesalahan, sehingga melalui momentum ini kita bisa saling mengikhlaskan dan bermaaf-maafan.
            Makna sesungguhnya dari perayaan Idul Fitri sebenarnya sama dengan tujuan berpuasa, yaitu meraih takwa. Puasa hendaknya tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi harus mampu menahan hawa nafsu. Idul Fitri yang kita rayakan ini tentu akan lebih berarti jika ketakwaan tetap mewarnai hidup kita walaupun bulan puasa telah berlalu. Energi spiritual yang ada dalam bulan Ramadhan harusnya tidak terputus begitu saja, melainkan harus terus-menerus ada hingga datangnya Ramadhan lagi di tahun yang akan datang.
Semoga prestasi ibadah yang kita lakukan di bulan puasa ini tetap berkelanjutan, sehingga dengan Idul Fitri ini kita mampu meraih takwa, sebab inilah makna kemenangan yang sebenarnya. (Reem)

Minggu, 19 Mei 2019

Musyawarah Kerja CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2019/2020: Internalisai sebagai Orientasi Kerja






Yogyakarta - CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga masa bakti 2019/2020 menyelenggarakan Musyawarah Kerja(Musyker) pada Sabtu, 18 Mei 2019. Acara ini bertempat di Aula Yayasan Piri, Yogyakarta. Seluruh pengurus CSSMoRA 2019/2020, demisioner, serta perwakilan anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga angkatan 2015 menjadi peserta Musyker ini. Musyker dimulai pada pukul 08:00 WIB oleh Karina Rahmi Siti Farhani selaku MC. Pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan ayat Aquran oleh Abdy Nur Muhammad serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA oleh para peserta.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Ahmad Faruq Khaqiqi. Dalam sambutannya, Faruq mengapresiasi para peserta atas antusiasmenya hadir tepat waktu. “Kami mengapresiasi kepada teman-teman pengurus atas kehadirannya dalam acara ini tepat waktu. Selanjutnya kami harap antusiasme seperti ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan. Kesolidan dan kekompakan kami harap bisa terus terjalin.”
Memasuki acara inti, presidium sidang tetap dipilih dan disahkan untuk mengatur jalannya persidangan. Acara dilanjutkan dengan presentasi program kerja dari setiap divisi, kemudian dibahas bersama oleh peserta Musyker. Peserta peninjau dari setiap angkatan turut diundang, namun yang menghadiri acara hanya perwakilan dari angkatan 2015.
Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga ketika diwawancarai menjelaskan bahwa fokus kepengurusan kali ini adalah internalisasi. “Pada kepengurusan tahun ini orientasi program kerja CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga adalah internalisasi. Internalisasi ini memuat lima poin utama sebagai acuan dasar. Pertama, pemerataan program, kedua, penguatan relasi antara anggota aktif dan alumni, ketiga, pengembangan dan penguatan Sumber Daya Manusia(SDM), keempat, pemberdayaan anggota dan organisasi, kelima, terjalinnya kerja sama internal dan eksternal. Jadi program kerja yang kami tawarkan sebisa mungkin memuat minimal salah satu dari lima poin di atas.” Jelasnya.
Dalam Musyker ini turut hadir Ketua demisioner CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Nuzul Fitriansyah. Nuzul mengapresiasi terkait program kerja yang ditawarkan pengurus. “Bagus, banyak proker-proker baru yang ditawarkan, terutama soal kaderisasi.” Nuzul juga berharap agar pengurus tetap semangat dalam merealisasikan program kerjanya. “Harapannya semoga ke depannya terus semangat saat menjalani proker-proker sebagaimana saat merumuskannya.”(Fikru)

Kamis, 02 Mei 2019

Hari Pendidikan, bukan Pengajaran

Source: Google


Oleh: Febrian Candra Wijaya
            Tanggal 02 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Penetapan ini karena tokoh yang memiliki jasa besar dalam pendidikan Indonesia dilahirkan pada tanggal tersebut. Ini merupakan bentuk apresiasi dan wujud terima kasih atas dedikasinya sebagai tokoh yang memiliki andil besar bagi Bangsa Indonesia. Maka, pada 16 Desember 1959 pemerintah menetapkan 02 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional.
            Sekilas dari segi penamaan, tidak sedikit orang yang tidak sadar. Mengapa menggunakan kata pendidikan? Bukan pengajaran? Adakah perbedaan makna terhadap pemilihan dua diksi tersebut? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan berasal dari kata didik yang memiliki arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Adapun kata pendidikan dijelaskan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Sedangkan kata pengajaran berasal dari kata ajar yang memiliki arti petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui (diturut). Adapun kata pengajaran diartikan sebagai proses, cara, perbuatan mengajar.
            Dalam Bahasa Arab pun terdapat perbedaan mengenai dua diksi tersebut. Kata pendidikan pada umumnya menggunakan kata رَبَّ- يُرَبِ (rabba-yurabbi) yang memiliki arti mendidik. Sedangkan kata pendidikan dalam Bahasa Arab yaitu  تَرْبِيَةٌ (tarbiyyah). Adapun mengajar dalam Bahasa Arab adalah عَلَّمَ-يُعَلِّمُ  (‘allama-yu’allimu) yang berarti mengajar. Sedangkan pengajaran biasanya menggunakan  تَعْلِيْمٌ (ta’lim).
            Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat dilihat bahwa terdapat titik tekan yang berbeda mengenai pendidikan dan pengajaran. Secara sederhana, pendidikan lebih memiliki kompleksitas yang utuh dari pada pengajaran. Karena proses mendidik adalah tidak sekadar menyampaikan pelajaran. Lebih dari itu, penekanan dalam kata pendidikan adalah bagaimana cara mengubah sikap menuju kecerdasan yang berbasis karakter dan kecerdasan pikiran.
            Tetapi, jika melihat proses pendidikan di Indonesia sekarang rasanya jauh dari kata mendidik, atau mungkin kehilangan makna pendidikan itu sendiri. Kita dapat melihat maraknya peredaran berita perihal kasus yang berhubungan dengan dunia pendidikan, termasuk lingkungan sekolah. Entah guru ataupun murid yang melakukannya, pada dasarnya kedua oknum tersebut adalah dua komponen utama dalam proses pendidikan.
            Banyak berita beredar mengenai pencabulan atau pelecehan seksual yang dilakukan guru kepada murid. Pun sebaliknya, tidak sedikit juga beredar berita ataupun video yang menunjukkan perbuatan yang tidak pantas --bahkan terkesan kurang ajar-- yang dilakukan murid terhadap gurunya. Jika melihat definisi kata-kata di atas, rasanya pada saat ini sekolah adalah salah satu lembaga pengajaran, bukan pendidikan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, sekolah tidak memiliki keduanya.
              Salah satu penyebab utama kasus-kasus tersebut terjadi adalah kurangnya kesadaran dari dua komponen utama pendidikan --guru dan murid-- mengenai esensi pendidikan. Mereka seakan lupa bahwa mereka adalah cerminan paling utama dalam pendidikan  Indonesia. Sehingga muncul perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai tatanan moral masyarakat.
            Pergeseran dari tenaga pendidik kepada pengajar pun juga banyak tidak disadari oleh seorang guru. Mereka seakan hanya memiliki kewajiban menyampaikan materi kepada anak didiknya tanpa memerdulikan pendidikan karakter yang harusnya juga diajarkan. Sehingga murid menjadi seorang yang cerdas pikiran, tapi tidak dengan karakter. Juga hilangnya keteladanan dari seorang guru sebagai seorang figur pendidik, sehingga guru hanya dianggap dewan pengajar, bukan pendidik.
            Pun sebaliknya bagi seorang murid. Mereka lupa bahwa bagaimanapun mereka adalah seorang yang belajar kepada guru. Artinya mereka mendapat kewajiban untuk menghormati seseorang yang ‘mengajar’ mereka. Terlebih di era medsos sekarang, hilangnya rasa hormat kepada seorang pengajar atau pendidik sangat sering terjadi.
            Sehingga jika dikaitkan dengan Hari Pendidikan Nasional bahwa benar momen itu pernah terjadi di Indonesia sebagai sejarah. Dengan hilangnya kesadaran dari kedua komponen utama cerminan pendidikan di Indonesia maka bukankah sebenarnya yang diperingati hari ini adalah Hari Pengajaran Nasional? Ataukah Hari Nasional hanya sebagai sebuah peringatan terhadap Ki Hadjar Dewatara? Bagaimana dengan maraknya kasus yang beredar? Lantas siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas maraknnya kasus-kasus tersebut?
            Karena seharusnya esensi dari kata pendidikan disadari betul dari kedua belah pihak, terlebih dari dewan pendidik. Sehingga setidaknya figur seorang guru tidak hanya sebagai seorang pengajar yang hanya memberikan meteri kepada muridnya. Lebih dari itu, sebagai seorang guru sudah seharusnya menjadi seorang yang patut untuk diteladani dan diikuti oleh murid-muridnya. Hingga pada akhirnya semangat pendidikan bisa terwujudkan.
            Pun juga untuk seorang murid, sudah menjadi kewajiban untuk menghormati dan mengikuti apa yang telah diajarkan oleh guru. Terlebih di era perkembangan teknologi yang menjadikan degradasi moral semakin kentara. Kesadaran sebagai seorang peserta didik yang mengedepankan rasa hormat terhadap guru harus dihadirkan kembali.        

Kepengurusan Baru CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Resmi Dilantik




            Yogyakarta - Kepengurusan baru CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2019/2010  resmi dilantik pada Rabu, 01 Mei 2019 di aula SMK PIRI. Rangkaian acara ini berlangsung dari pukul 08:00 sampai 12:00 WIB. Pelantikan pengurus ini dilaksanakan setelah melalui berbagai tahapan. Mulai dari pemilihan calon kandidat ketua, penetapan kandidat, masa kampanye, masa tenang, dan pemilihan yang telah terselenggara pada 27 April 2019.
            Acara dimulai dengan rangkaian pembukaan, sambutan dari Muhammad Hubbab Nauval selaku Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan kalijaga terpilih, Zidan Zailani selaku Wakil Ketua Umum I CSSMoRA Nasional,  Dr.H.M. Alfatih Suryadilaga,M.Ag selaku ketua pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, dan Nuzul Fitriansyah Ketua Umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga masa jabatan 2018/2019.
            “Temen-temen selaku pengurus baru yang nantinya diketuai Mas Nauval, juga terus mendukung apapun keputusan yang diberikan oleh ketua terpilih. Karena sebenarnya ketua itu sendiri ya, nggak sanggup mengerjakan semuanya. Gunanya ada pengurus itu temen-temennya itu mendukung bukan hanya mengerjakan....” begitu pesan Ketua Demisioner, Nuzul Fitriansyah dalam sambutannya. Beliau juga turut mengucapkan selamat dan ucapan terima kasih kepada panitia Musyawarah Besar dan panitia pemilihan sekaligus pelantikan pengurus yang telah membantu menyukseskan acara.
             Setelah itu dilanjutkan dengan pelantikan 45 orang pengurus baru oleh wakil Ketum I CSSMoRA Nasional, Zidan Zailani dan pelantikan 12 orang kru Sarung oleh Ketum CSSMoRA periode 2019/2020, Muhammad Hubbab Nauval. Kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan dan foto bersama seluruh pengurus, kru Sarung, Ketua Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, dan Wakil Ketum I CSSMoRA Nasional.
Setelah acara pelantikan selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengenalan program kerja CSSMoRA Nasional dan BSO Santri. Pada kesempatan ini diwakili oleh  Zidan Zailani, Rike Luluk Khoiriah, Mas’udah, Azka Inayatussahara, dan Ahmad Mushawwir selaku perwakilan pengurus Nasional, serta Febrian Candra Wijaya selaku perwakilan dari BSO Santri. Kegiatan ini dimulai dengan penjelasan ADART dan GBHO hasil Musyawarah Nasional, progam kerja masing-masing divisi, dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Acara ini kemudian ditutup dengan pengambilan foto masing-masing divisi dari kepengurusn periode 2019/2020.(Abay)

Minggu, 21 April 2019

Format Surat Permohonan

Format Surat Permohonan


Untuk format surat permohonan (SO) dapat didownload di Format Surat Pemohonan

Format Surat Undangan

Format Surat Undangan


Untuk format surat undangan (SU) dapat didownload di Format Surat Undangan

Database Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2018-2019

Database Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2018-2019


Adapun database anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2018-2019 dapat dilihat di Database Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Minggu, 07 April 2019

Struktur Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Periode 2018-2019

Struktur Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Periode 2018-2019




BADAN PENGURUS HARIAN (BPH)

Ketua Umum : Nuzul Fitriansyah
Wakil Ketua : Mohammad Abdul Hanif
Sekretaris Umum : Nur Azka Inayatussahara
Wakil Sekretaris : Karina Rahmi Siti Farhani
Bendahara Umum : Mayola Andika
Wakil Bendahara : Fitri Wardani

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (PSDM)

Koord. PSDM : Putri Adelia
Staf PSDM : Hayatun Thaibah
  Wiwin Fauziah
    Ahmad Faruq Khaqiqi
    Ahmad Ziya'ul Haq
    Abdi Nur Muhammad

DEPARTEMEN PENGABDIAN PONDOK PESANTREN DAN MASYARAKAT (P3M)

Koord. P3M : Rachma Vina Tsuraya
Staf P3M      : Saipul Hamzah
  Rike Luluk Khoiriah
    Athraf Husein El-Hakim
    Novia Sari
    Riza Madinah

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI (KOMINFO)

Koor. KOMINF : Ahmad Mushawwir
Staf KOMINFO : Hani Fazlin
    Mukhammad Hubbab Nauval
    Najiha Sabrina
    Riri Widya Ningsih
    Rania Nurul Rizqia

DEPARTEMEN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (LITBANG)

Koord. LITBANG : Alif Jabal Kurdi
Staf LITBANG : Anisah Dwi Lestari P
  Muhammad Rafi
  Taufik Kurahman
  Muhammad Mundzir
  Ahmad Fahrur Rozi

DEPARTEMEN JURNALISTIK

Koord. Jurnalistik : Mas'udah
Staf Jurnalistik : Yeni Angelia
  Akrima Husnul Maulida
  Fikru Jayyid Husein
    Muhammad Bachruddin Syafi'i

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA EKONOMI (PSDE)

Koord. PSDE : Isna Fitrianingsih
Staf PSDE : M. Agus Salim Nur
    Restu Amelia
  Muh. Asrul Kumai
    Zamhuri
  Muh. Khoirul Hakim
  Robby Hidayatul Ilmi

Kamis, 04 April 2019

Kasubdit PD Pontren, Basnang Said Kunjungi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta - Selasa (02/04), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mendapatkan kunjungan dari Kasubdit PD Pontren, Dr. Basnang Said, S. Ag., M. Ag. Acara ini berlangsung di ruang Smart Room, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. kegiatan ini turut dihadiri oleh ketua pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, Dr. H. M. Alfatih Suryadilaga, S. Ag., M.Ag. beserta pengelola lainnya, Dr. H. Abdul Mustaqim M. Ag., Dr. Saifudin Zuhri, S.Th. I., MA. dan Dr. Afdawaiza. Adapun tujuan dari kegiatan kunjungan ini adalah untuk bersilaturrahim dan ramah tamah serta motivasi.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 80 mahasiswa penerima PBSB UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini dimulai pada pukul 14.15 WIB yang dipimpin oleh Master of Ceremony (MC) Andi Fatihul Faiz Aripai, Mahasiswa PBSB angkatan 2018, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars CSSMoRA. Setelah itu, sambutan-sambutan. Sambutan pertama, disampaikan oleh ketua pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, Dr. H. M. Alfatih Suryadilaga, S. Ag., M.Ag. Dalam sambutannya beliau merasa bersyukur dan terima kasih atas kunjungan bapak Kasubdit PD Pontren ke UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, di sela-sela akhir sambutannya beliau berpesan kepada  para mahasantri PBSB agar membarengi usaha yang maksimal dengan tirakat yang kuat.

Sambutan kedua disampaikan oleh perwakilan Program Studi (Prodi) Ilmu Alquran dan tafsir serta Ilmu Hadis, Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag.  Beliau menuturkan bahwa prestasi dari para mahasantri penerima PBSB terus mengalami peningkatan. Beliau juga menuturkan bahwa tidak sedikit anggota maupun alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga yang diterima dalam sejumlah beasiswa jenjang berikutnya. Pun juga terdapat mahasiswa yang lolos dalam beberapa program unggulan seperti SAVIOR. “Tentu ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi kita semua” tutur beliau pada akhir sambutannya. Beliau mengatakan bahwa program ini merupakan tabungan Sumber Daya Manusia (SDM) di masa mendatang.

Agenda selanjutnya yaitu ramah tamah dan motivasi oleh bapak Kasubdit PD Pontren yang dimoderatori oleh Muhammad Abdul Hanif, Mahasiswa PBSB angkatan 2016. Di sela-sela motivasi yang disampaikan, beliau menuturkan sejumlah pesan utama bagi seluruh mahasantri PBSB. Pertama, beliau berpesan agar para mahasantri PBSB menguatkan bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris.

Selajutnya, beliau juga berpesan agar para mahasantri PBSB belajar mengenai kepemimpinan, “Belajar kepemimpinan, Karena itu nanti akan bermafaat di masa depan kalian” begitu tuturnya. Pesan ketiga, beliau mewanti-wanti agar para mahasantri PBSB memaksimalkan program-program beasiswa yang telah ada, terlebih LPDP. Menurutnya, LPDP adalah lahan bagi para mahasantri untuk terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “Pada dasarnya program itu disediakan untuk para santri” pesannya. Pada akhir motivasi dan pesan yang beliau berikan, beliau mengingatkan agar para mahasantri PBSB terus memegangi nilai-nilai kepesantrenan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Agenda berikutnya adalah tanya jawab antara mahasantri PBSB dengan Kasubdit PD Pontren. Terdapat sejumlah mahasantri yang menanyakan seputar program kerja, kebijakan dan menyampaikan harapan PBSB ke depan. Acara ini ditutup dengan foto bersama serta mushafahah antara Kasubdit PD Pontren beserta para pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga.(Can/Rem)