CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Senin, 18 Februari 2019

Dian Aulia Nengrum, Wisudawati Terbaik Tercepat se-Prodi Ilmu Hadis



Yogyakarta - Rabu (13/02) Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga mengadakan perhelatan akbar. Sebanyak 696 sarjana baru telah diwisuda, dengan rincian 4 orang lulus D-3, 560 orang lulus S-1, 117 orang lulus S-2, dan 15 orang lulus S-3. Pada perhelatan akbar tersebut ada beberapa mahasiswa pilihan yang mendapatkan prestasi terbaik tercepat. Salah satunya adalah mahasiswi PBSB bernama Dian Aulia Nengrum. Mahasiswi asal Lamongan, Jawa Timur tesebut menyabet predikat Wisudawati Terbaik Tercepat se-Prodi Ilmu Hadis dengan IPK 3.87. Wanita berpenampilan enerjik tersebut mengatakan bahwa predikat itu dapat ia raih berkat  do’a, motivasi, dukungan dari keluarga, dan para dosen yang selalu menginspirasi. “Predikat ini justru menjadi tantangan tersendiri buat saya untuk terus belajar dan rendah hati” tutur wanita dengan segudang prestasi tersebut.
Hari itu menjadi hari paling bahagia baginya, sekaligus menjadi hari paripurna dalam pendidikan Strata 1 nya. Ia menjadi salah satu dari beberapa sarjana jebolan Ilmu Hadis pertama di Indonesia, mengingat prodi tersebut baru berdiri pada tahun 2015 yang lalu. Tak hanya prestasi dalam bidang akademik saja yang ia ukir. Tercatat ia masih menjadi bendahara I aktif dalam kepengurusan CSSMoRA Nasional.
 Wanita yang biasa disapa Mbak Dian itu memberikan beberapa kiat-kiat untuk mendapatkan hasil yang terbaik, yakni selalu menggunakan waktu sebaik mungkin dan tak melulu harus belajar, adakalanya untuk bersantai sembari menikmati prosesnya. 
Selain faktor internal ia juga menekankan kembali beberapa faktor eksternal, yakni do’a dan motivasi, serta ridho orang tua. Ia mengutip perkataan Saiful Aziz yang berbunyi “Tak ada hasil tanpa melalui proses. Seringkali kita hanya terlalu fokus pada hasilnya, sampai kita lupa bahwa disana ada anak tangga yang harus dijajaki, itulah proses”. Rencananya setelah lulus ini ia akan mengabdi di pesantrennya selama setahun dan kemudian melanjutkan S-2 dengan mendaftar beasiswa LPDP.(Ni'am)

Sabtu, 16 Februari 2019

Air Mata Buya Hamka: Mengenang 111 Tahun Buya Hamka


oleh: In’amul Hasan

Tepat pada hari ini (17/02), 111 tahun yang lalu Buya Hamka dilahirkan di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Banyak hal yang telah dilaluinya, mulai belajar mengaji dengan ayahnya -Haji Abdul Karim Amrullah- hingga membuat kenakalan, seperti: menyabung ayam, berkelahi, dan mengambil ikan di kolam orang lain. Dengan melihat kenakalan ini, memberikan anggapan kepada orang lain bahwasanya tidak mungkin seorang Hamka akan menjadi seorang ulama. Namun, Allah swt. dapat membolak-balikkan hati seseorang. Ketika beranjak dewasa, Hamka sadar dan ia mulai belajar agama dengan serius. Pada akhirnya, perjalanannya membuahkan hasil yang sangat besar hingga ia dapat mengikuti jejak ayahnya, mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Univ. al-Azhar, Cairo.
Terlepas dari semua itu, tulisan ini lebih menyoroti tentang ‘kesedihan’ atau lebih tepatnya ‘kerisauan’ seorang Buya Hamka. Mulai dari perdebatan Islam dan adat Minangkabau yang ‘mengikat’ ayahnya, mempertahankan Kemerdekaan RI, menjadi Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia), hingga adiknya –Abdul Wadud Karim Amrullah (Willy Amrull) - yang menjadi seorang pendeta.
Pertama, beliau amat menyesalkan ayahnya yang terlalu banyak menghabiskan waktu di Tanah Adat demi mengkritisi Adat Minangkabau sehingga ia tidak terlalu mempedulikan Tanah Air. Buya Hamka dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau (1984) mengatakan, “Terang-terangan Dr. Abdul Karim Amrullah (Ayah Hamka) menyatakan di tanah pembuangannya, seketika dekat saat wafat: Adatlah yang mengorbankan saya!”
Sepertinya Buya Hamka berusaha memperbaiki ‘kesalahan’ ayahnya. Sejak kecil ia ingin sekali meninggalkan Tanah Minang. Ia mulai pergi ke Tanah Jawa, berkenalan dengan Muhammadiyah, bertemu dengan Bung Hatta di Yogyakarta, belajar dengan Ki Bagus Hadikusumo, mengenal Serikat Islam, belajar berpidato, bahkan pada saat itu ia telah berniat untuk tidak menikahi gadis Minang. Namun, ia dipanggil pulang oleh ayahnya untuk dinikahkan dengan dengan orang kampungnya sendiri yang masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga ayahnya.
Menurutnya, memang benar bahwa orang Minangkabau menjadi besar namanya jika ia telah meninggalkan (merantau) Tanah Adat. Misal, Syekh Ahmad Khatib yang mengkritisi adat Minang dan kemudian menetap di Mekah dan menjadi Khādim al-Ḥaramain di sana. Begitu juga dengan Bung Hatta, Agus Salim, Nazir Sutan Pamuntjak, Sutan Sjahrir, termasuk Tan Malaka. Mereka telah meninggalkan Tanah Adat dan menjadi orang besar dan berguna bagi Tanah Air. Sepertinya, di sini Buya Hamka mengkritik orang-orang Minang yang hanya membangga-banggakan Bung Hatta, dkk tanpa mengikuti jejak-jejak mereka yang meninggalkan Tanah Adat untuk Tanah Air.
Tetapi sedikit-banyaknya, Ayah Buya Hamka telah memberikan kontribusi yang banyak terhadap Tanah Air, mulai kiprahnya mendirikan Thawalib School sebagai sekolah Islam Modern pertama di Indonesia, mengisi Majalah al-Munir yang senantiasa dibaca oleh K.H. Ahmad Dahlan, hingga kiprahnya di bidang politik. Kedekatannya dengan KH. A. Wahid Hasyim menjadikan Hamka sangat dekat Nahdlatul Ulama (NU) di Depag. Ia pernah juga diasingkan di Sukabumi karena dianggap berbahaya oleh Belanda. Mungkin, sudah seharusnya alumni Thawalib School mengusulkan agar beliau dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.
Kedua, kontroversi fatwa ‘Natal Bersama’, di mana beliau memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Ketua Umum MUI daripada mencabut fatwa tersebut. Saya rasa tidak perlu lagi menjelaskan hal ini, karena sudah banyak yang memperdebatkan dan sudah diklarifikasi oleh anak-anak beliau. Namun, hal yang sangat disayangkan adalah tatkala isu agama muncul, orang-orang yang berada di ‘Islam Kanan’ selalu mengutip quotes, “Jika kamu diam saat agamamu dihina, maka gantilah bajumu dengan kain kafan”.  Dan sepertinya kita perlu membaca keseluruhan karya Buya Hamka agar tidak selalu mengutip quotes tersebut yang dapat memunculkan stigma bahwa Buya Hamka adalah orang yang ‘intoleran’.
Di sisi lain, Buya Hamka juga pernah mengkritik orang-orang yang anti-Barat. Seperti halnya orang yang mengkritik Barat di atas oto (mobil), orang yang menghina Barat melalui pesawat telepon, dan masih banyak contoh yang lain. Artinya, menjadi aneh ketika seseorang mengkritik Barat sedangkan ia menggunakan produk Barat itu sendiri. Mungkin untuk konteks zaman sekarang, orang yang menghina Barat menggunakan Facebook, WhatsApp, Instagram dan sebagainya. Dengan membaca buku 4 Bulan di Amerika karangan Buya hamka memberikan rasa takjub yang luar biasa terhadap kehidupan manusia modern, Tanah Air tercinta, dan hakikat diri seorang manusia.
Ketiga, amat disayangkan tatkala Minangkabau sempat dihebohkan dengan seorang Pendeta Willy Amrul (Abdul Wadud Karim Amrullah) yang merupakan adik tiri se-ayah Buya Hamka sendiri. Selengkapnya, kisah tentang adik Buya Hamka ini dapat di baca di dalam buku “Dari Subuh Hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2012 oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta. Tetapi, setelah membandingkan dengan catatan Irfan Hamka, Willy Amrul ini memiliki hubungan baik, ditandai dengan kehadirannya pada saat Buya Hamka wafat.
Saya adalah orang yang penasaran dengan sikap Buya Hamka jika beliau masih hidup ketika mengetahui bahwa adiknya telah berpindah haluan. Namun sayang, berdasarkan catatan Willy Amrul, ia dibaptis pada tahun 1983 sedangkan Buya Hamka wafat pada tahun 1981. Dan ketika Buya Hamka ke Amerika pada tahun 1952-an, Willy Amrul juga sempat menemani Buya Hamka berkeliling di Amerika dan ketika itu Buya Hamka masih memanggil adiknya dengan nama Abdul Wadud Karim Amrullah.
Adapun Buya Hamka sangat diwanti-wanti oleh ayahnya ketika merantau, “Jangan sampai engkau menjadi komunis”. Mungkinkah ayah Buya Hamka hanya mewaspadai komunis karena tidak memiliki agama? Atau termasuk juga mewaspadai bahaya kristenisasi? Hal ini dikarenakan jika ada orang Minang yang keluar dari Islam, berarti ia telah meninggalkan Minang-nya berdasarkan ‘Sumpah Satie (Piagam) Bukik Marapalam’ – Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Oh, iya. Bukankah Buya Hamka telah menulis bahwa adat Minangkabau akan menghadapi revolusi dan evolusi juga pada akhirnya? Termasuk pada bagian agama-kah? Wallahu A’lam


Rabu, 06 Februari 2019

Buletin Sarung Edisi Januari 2019

Buletin Sarung Edisi Januari 2019

Untuk Buletin Sarung Edisi Januari 2019 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Selasa, 22 Januari 2019

Saat Tuhan Terbunuh oleh Umatnya



Tuhan merupakan eksistensi tertinggi dalam sebuah agama. Dia tak akan mungkin dan tak akan pernah digantikan oleh kekuatan apapun. Namun tidak semua yang mengaku beragama memiliki Tuhan. Atau tepatnya, banyak yang mengaku beragama namun tanpa sadar membunuh Tuhannya sendiri.

Perbuatan ini memang tidak tercatat sebagai kejahatan kriminal dan tidak pula dianggap sebagai perbuatan keji baik dalam hukum negara maupun agama. Sebab dalam perbuatannya, pembunuh tidak menggunakan alat-alat yang dianggap berbahaya dalam peraturan perundang-undangan.

Ada berbagai macam bentuk orang yang membunuh Tuhan. Yang paling keras datang dari Fredrich Nietzsche. Dengan lantang dan tanpa ragu ia berteriak, “Tuhan sudah mati!” Ungkapan ini, secara literal, merupakan ungkapan yang mengganjal keimanan umat beragama, terutama pada masanya. Bagaimana mungkin Tuhan telah mati?

Bahwa apa yang sebenarnya diinginkan dan diyakini oleh Nietzsche melalui perkataan tersebut bukanlah persoalan yang akan dibahas di sini. Sebab akan terlalu panjang untuk mendiskusikan penggalan ungkapan tersebut.

Yang terpenting dari ungkapan itu bahwa cletukan “Tuhan telah mati!” merupakan proses dari perjalanan nihilisme. Nihilisme adalah suatu proses runtuhnya nilai-nilai yang dulunya dianggap biasa dan wajar. Namun ia roboh seiring berkembangnya zaman, sebagaimana juga diramalkan Auguste Comte tentang tiga perkembangan zaman yang berujung pada zaman positivistik.
Selain merujuk pada makna eksistensi Tuhan itu sendiri, kata “Tuhan” yang dimaksud oleh Nietzsche juga bermakna luas. Hal ini diungkapkan oleh St. Sunardi, penulis biografi dan pemikiran-pemikiran Nietzsche. Gambarannya akan Tuhan ialah segala hal yang menyangkut jaminan absolut. Di dalam bukunya ia berkata:

“Sejak zaman Yunani sampai renaissance manusia dibayang-bayangi oleh jaminan absolut, Tuhan, untuk memberikan makna dan nilai bagi dunia dan hidupnya. Orang mengira bahwa jaminan absolut itu memang benar-benar ada. Pudarnya Tuhan selalu diikuti reformasi supaya Tuhan tetap hidup. Para tokoh reformasi ini, menurut Nietzsche, antara lain meliputi Pythagoras, Plato, Empidokles dan Luther. Namun semua reformasi yang mereka lakukan akhirnya gagal. Proses kematian Tuhan tak dapat dielakkan. Karena jaminan absolut sudah kehabisan darah, maka nilai-nilai yang diturunkan dari padanya pun runtuh. Terjadilah proses nihilisme.” (St. Sunardi, 2011: 41).

Namun nampaknya, meskipun masa itu telah berlalu, banyak penganut agama yang masih mencari model Tuhan lain yang diharapkan mampu memberikan jaminan absolut yang lebih besar. Jaminan absolut yang bisa saja berasal dari diri sendiri maupun dari luar dirinya sehingga menggeser posisi Tuhan.

Dalam suatu kesempatan, Emha Ainun Nadjib pernah menyampaikan gagasannya mengenai orang-orang yang telah mengambil hak preogatifnya Allah. Orang-orang itulah yang terlalu sering melabeli orang lain dengan sebutan “kafir”. Seolah telah mengetahui isi hati, takdir, maupun tingkah laku keseharian, ia mengambil hak preogatif yang seharusnya merupakan tugas Tuhan untuk melabeli “ya” atau “tidak” terhadap seseorang.

Cak Nun memang tidak menyebutkan secara tegas akan kematian Tuhan, namun dalam kasus seperti ini, posisi Tuhan tergantikan oleh umatnya sendiri. Alih-alih menyebarkan nilai ajaran agama, ia justru mengambil alih posisi Zat Yang Memberi Nilai tersebut dan berkemungkinan membangun nilai yang ‘baru’. Inilah yang dikatakan Nietzsche di atas akan runtuhnya nilai-nilai yang dibawa agama. Bentuk pembunuhan ini merupakan bentuk pembunuhan terhadap Tuhan yang paling keji, sebab ia membunuh dengan tangannya sendiri.

Jaminan absolut yang dapat menggeser posisi Tuhan juga bisa berasal dari luar manusia. Bentuk ini merupakan bentuk pembunuhan yang lebih halus dari yang pertama, sebab menggunakan media lain dalam prosesnya.

Pembunuh jenis ini ialah mereka yang meyakini otoritas lain yang dapat menjamin hidup manusia secara umum dan dirinya sendiri secara khusus, seperti ilmu pengetahuan. Matinya Tuhan yang tergantikan oleh ilmu pengetahuan akan menjadi tragedi yang besar dalam sejarah umat manusia.

Pertanyaannya kemudian, apakah mustahil jika memadukan keduanya? Bukankah keduanya mengusung nilai yang sama? Jawabannya mungkin ya dan mungkin tidak. Jauh-jauh hari pun Albert Einstein sudah memberikan sinyal akan keterpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan. Namun pernyataannya tersebut bertentangan dengan teori Auguste Comte yang meyakini bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang berbeda. Dunia akan menyaksikan pertarungan keduanya dan bisa jadi hanya akan ada satu pemenang.

Kita bisa melihat tokoh Edmond Kirsch dalam novel Origin. Buku yang dikarang oleh Dan Brown ini menggambarkan pertarungan antara agama dan sains. Melalui tokoh Kirsch, ia menjelaskan teori-teori sains yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena metafisis sekaligus membunuh keyakinan umat beragama. Tak jauh berbeda dengan dunia fiksi, di dunia nyata pun kita bisa menyaksikan tokoh-tokoh dengan ide serupa, salah satunya ialah Stephen Hawking.

Perjalanan sejarah manusia masih terus berjalan, namun kematian Tuhan terlalu cepat terjadi. Sayangnya, Dia tidak mati sebab faktor lain, melainkan dibunuh tanpa sadar oleh umat-Nya sendiri. Bersamaan dengan itu, tentu masih ada harapan untuk menjauhkan Tuhan dari ambang kematian.


Oleh: Ahmad Ahnaf Rafif

Minggu, 06 Januari 2019

Buletin Sarung Edisi Desember 2018

Buletin Sarung Edisi Desember 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi Desember 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini