CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Saturday, May 23, 2020

Buletin Sarung Edisi Januari 2020

Untuk Buletin Sarung Edisi Januari 2020 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi Januari 2020


Majalah Sarung ke-VIII

Untuk  Majalah Sarung ke-VIII dapat dilihat dalam link di bawah ini

Majalah Sarung ke-VIII


Friday, May 22, 2020

Mimpi



*adek

“Dimana aku?” Aku jelas bertanya, walaupun tau jawaban itu tidak mudah tersedia untuku. Harusnya aku sudah tidur nyenyak di atas kasur bergambar kartun. Terlelap hangat dengan selimut bergambar sama dengan kasurku. Tapi ini, sejauh mataku memandang hanya ada sebuah hamparan. Sudah lah, aku tidak akan melempar-lempar pertanyaan, dimana aku? Kenapa aku disini? Jelas tak ada yang menangkapnya, lebih baik aku mencari jawaban itu sendiri. Sebentar, aku melupakan satu pertanyaan yang harus kuajukan pada diriku, apa ini mimpi? Pertanyaan ini lebih mudah aku temukan jawabanya, tinggal mencubit pipiku dan aku akan terbangun dari lelapku. Ternyata ini bukan mimpi, terasa sakit saat ku paksa jemariku mencubit pipi. Dengan begitu, harus kujawab pertanyaan yang pasti akan menyulitkan, tidak terus bangun kemudian meminum air putih di meja yang sudah tersiapkan, untuk melegakan tenggorokan.
Aku melayangkan pandang, harusnya hijau bila hamparan ini bukit atau hutan. Tidak pula berpasir atau berwarna kuning jika hamparan  ini gurun atau semacamnya. Tebakan pantai juga pasti salah, tidak terdengar deburan ombak ditelingaku. 
Kenapa aku tidak mencoba melangkah, sejak tadi mematungkan diri malah, akan kucoba. Satu, dua, tiga sampai enam langkah pelan nan hati-hati terbukti aman, langkah ketujuh seketika lenyap, cahaya, cahaya lenyap tak tersisa. Pastilah tidak sempat untuk mempertanyakan, dimana bulan yang biasanya berpijar dimalam hari, atau sinar mentari yang tidak pernah ingkar janji. Kugerakkan saja kedua tanganku ke segala arah, berharap meraih apapun. Dinding, pagar, tali atau semacamnya lah, agar aku dapat beranjak melanjutkan langkah. Tidak ada, tidak ada yang dapat kucapai. Kuputuskan kembali mengaksikan kakiku ke depan sedikit, satu, dua tiga hingga satu jangkah penuh berhasil kakiku beraksi, dengan tangan melambai kemana-mana. Langkahku kedepan belaka, entah pilihan itu bagus atau tidak, pokoknya terus kedepan.
Sebenarnya aku bingung, bila ini bukan mimpi kenapa suasana jadi seperti ini? Seharusnya aku baring dibawah atap terang, tersiram putih cahaya lampu kamar benderang. Ini malah sebaliknya, yang ada hanya aksi tangan kemana-mana, langkahan kaki tak tau kemana, hingga tersisa gelap yang menjadi satu warna. 
           Sudahlah, aku harus kembali mencoba melangkahkan kaki, hitunganku bila tak salah sudah enam langkah hati-hati sejak tadi. Namun siapa yang dapat mengira, tepat langkah ketujuh seperti tadi, gelap itu lenyap.
           Tercenganglah aku, ternyata masih berdiri dihamparan serupa. Aku tidak berfikir untuk menyesali langkahku, aku harus lari, beranjak pergi.
         Huft huft – sudah terengah-engah masih saja hamparan yang sama. Sebentar, tidak lama kusadari, sepertinya suasana beralih, tidak gelap di mata namun panas nan kering terasa. Dengan mudah aku kembali bingung, kenapa seperti ini? Bila ini bukan mimpi lantas apa? Bukankah semulanya dingin yang kurasa, baring terkatup selimut serta Headset tertelan telinga, sebab aku tidak suka suara langit yang sedang bekerja menuangi bumi dengan air diluar sana.
 “Ada apa denganmu?” Di ujung putus asa suara muncul, membawa harapan dalam benakku. 
 “Siapa kamu? Dimana aku? Tolong aku! Bantu aku pergi dari tempat ini !” alam keadaan kalut seperti ini kulempari saja ia dengan pertanyaan. 
“Aku harus menangkap pertanyaan yang mana? Kamu melempar banyak pertanyaan, dan aku tidak bisa menangkap banyak pertanyaan” meskipun tak menampakan wujudnya, seram pastilah orang ini. Aku meninjau banyak hal, kisah apa yang sedang kulakoni. Meskipun tak terbukti ini hanya mimpi, aku tetap memaksa mempercayainya. Apakah dia Nabi Khidir? Berarti dia sedang mengujiku ? Ah, sepertinya aku sudah gagal bila ujianya harus selamat dari hamparan antah ini. 
“Sepertinya kamu harus segera memilih!” Suaranya jelas sekali mendesaku 
“Tempat apa ini ?” Aku tidak berfikir dua kali untuk melempar pertanyaan ini, tapi jelas dengan harapan dapat membantuku banyak. 
“Oh, cepat sekali kamu melempar pilihan, sepertinya tepat. Karena tidak penting kamu tau siapa aku, aku juga tak dapat menyelamatkanmu, tapi apakah penting kamu tau tempat apa ini?”
Benar sekali, apa pentingnya aku tau tempat apa ini? Apa ini menyangkut urusan hidupku?, Atau dia hanya membabi buta membuatku ragu? Kurang ajar, dia berhasil jika itu yang dilakukan.
“Memangnya tempat apa saja yang kamu temui?” aku lega ia tidak menungguku untuk menjawabnya. 
“Aku tidak tahu tempat apa, tapi berupa hamparan, gelap, lantas menjadi panas nan kering”  
“Oh, sepertinya aku tau hamparan apa itu” Untuk saat ini dan selanjutnya aku memutuskan untuk diam menunggu jawaban. 
“Hamparan yang hanya berisi gelap dan kering itu adalah hatimu”

Thursday, May 14, 2020

Kisahnya


*adek

Ini benaran kisahnya, perkenalkan namanya tertulis Gopek, dibaca Nggopek, harus begitu ya. Karena ia memang hal yang rumit, malahan ia berandai  kalau saja lahir bisa pesan nama sekaligus mengumumkan, ia tidak harus selalu memberitahu seperti itu. Aku sebenarnya belum kenal lama dengannya, namun tidaklah dapat mengurungkan niatku untuk bercerita ke kalian semua. Ini kisah remaja, bermula jatuh cinta, berliku jalanya, namun berakhir tak semestinya.
Siang hari, ia mantap untuk mengutarakan perasaan yang sudah lama dipendamnya. Masih sama dengan remaja kebanyakan, datang menghampiri sang wanita, bilang “Alam semestaku tertarik denganmu, sedang hati selalu mengharapkanmu, itupun sudah sejak lama, sebelum mata ini tau ternyata begitu elok makhluk yang dipujanya.” Aku sebenarnya masih belum mengerti bagaimana itu bisa terjadi, tapi ia berusaha dengan baik menjelaskanya padaku. Panjang lebar ia menjelaskan, jadi kusimpulkan saja, bahwa ternyata hatinya terpikat lantaran chat pertama, dan itulah mengapa ia jatuh hati sebelum berjumpa. Sungguh sesuatu yang rumit. Aku kira ia dengan mudah diterima sang wanita, namun ujarnya “Wanita itu sungguh kokoh pertahananya, aku yakin sudah ada aku dimata dan hatinya, tapi ia memilih diam tak menyuarakannya.” Begitulah wanita, batinku.
Selanjutnya ia memutuskan untuk membiarkan perasaan itu berenang-renang dalam hati. “Namanya juga berenang, kadang tenggelam oleh karam, atau kadang menepi karena sudah kedinginan, nantinya juga kembali berenang.” Begitulah cara ia menjelaskan, rumit bukan. Aku mencoba mencerna, maksud membiarkan berenang-renang pastinya memendam lagi perasaannya. Tapi apa maksud kadang tenggelam oleh karam? Mungkin jengkel karena kadang rindu tak berkesudahan, atau mungkin kesal punya mata dan senyum tak terbalaskan, semua bisa benar bisa salah, itu kan hanya tebakan. Lalu apa maksudnya kadang menepi karena sudah kedinginan? Mungkin pernah merasa tidak betah dengan perasaanya, sikapnya kemudian ingin menghancurkan segala yang dirasa, tapi tidak bisa malah kembali terasa, nah itulah pasti maksud nantinya juga kembali berenang.
Tebakanku ternyata tidak terlalu buruk, terbukti dalam kelanjutan ceritanya. Pernah dalam suatu waktu ia bersandar di kursi warung kopi, pastilah wanita pujaan itu berada disana tapi entah diskusi atau rapat ia lupa mengatakan. “Aku yakin hatiku tertambat dengan hatinya, namun tak tahu kenapa ia menyikapiku dengan jemawa.  Jangankan duduk bersebelahan, tatapan mata saja tak dipersilahkan” Nah kan, tebakanku tak jauh-jauh meleset, ucapku dalam hati bangga. Aku menyimak dengan seksama cerita pada bagian ini, hanya saja panjang. Jadi begini, ia jarang sekali duduk bersebelahan, pernah dua tiga kali datang tiba-tiba duduk disebelah wanita,dengan memaksa. Nah kalian pasti sudah tau, pekerjaan apa yang ia lakukan saat berada dititik tempat yang sama? Menatap wanita dengan penuh pesona. “Janganlah bertanya soal rasa, cemburu tak karuan membabi buta” Begitu jawabnya ketika aku bertanya soal rasa. Ternyata tidak sedikit hal yang membuat hatinya menangis dipukul rasa cemburu. Dari gurat senyum wanita yang jarang tertuju padanya, sikap manis wanita yang tak pernah ia rasa, hingga oleh gelak tawa bermain seru dengan teman-temanya.
Selanjutnya aku bertanya mengapa ia begitu yakin bahwa sang wanita memiliki rasa yang sama, padahal tidak terbuktikan.“Dalam hubungan intim aku dapat rasa yakin itu” Jawabnya mantap, eh untuk kalian jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Karena setelah menjawab seperti itu ia menggelar tawa, kemudian dengan baik menjelaskanya padaku. Bahwa tidak sedikit juga yang membuat ia yakin dengan hal-hal intim itu. Pertama chat dengan sang wanita, ia memberitahuku bahwa dalam dunia chat ia aktif berperan. Sebentar jadi tukang pengucap selamat, dari selamat siang, selamat sore, selamat malam serta selamat hari senin sampai minggu, hingga selamat hari kartini sampai hari ibu. Sebentar jadi teman yang minta bantuan ini itu, jadi sahabat tempat curhat ini itu. Juga pernah sebentar berperan mirip dua orang kekasih yang ngobrol enggak jelas hingga malam tuntas. “Mulanya chat-ku tak berbekas dan tak terbalas, tapi pasti akan terbayar lunas” Jawabannya atas pertanyaan bukankah dunia chat itu maya ? tak tahu itu ilusi atau nyata? Aku tidak terima dengan jawaban itu mulanya, tapi ia berbaik hati lagi menjelaskan. Ternyata ia punya filosofi tentang chat, bahwa chat itu punya nyawa dan ia tau sang wanita juga bernyawa saat chat denganya. Tak sampai disitu, ia juga memberitahuku bahwa chat itu bukanlah hal sepele baginya, disitulah bagian hati yang lain. Itulah mengapa ia menjadikan chat sesuatu yang intim.
Kedua, mimpi dengan sang wanita. “Bunga tidurku pernah mekar seminggu berisi lakon indah bersamanya, hingga selalu membuat bangun tidurku pertama menyebut nama dan menggambar wajahnya” Begitu ucapan pembuka darinya. Sungguh rumit bagiku, karena pada bagian ini ia tak mau menjelaskan, jadi terpaksa aku menerka-nerka. Bisa saja maksudnya mimpi itu juga punya nyawa dan menjadi sisi lain hati. Tapi bukankah semakin sering tersiram oleh bayang sang wanita, bunga tidur pun mekar semerbak wangi sang wanita pula? Entahlah itu terkaan belaka, baiknya itu membuktikan bahwa isi kepalanya penuh terisi sang wanita. Aku akhirnya mengangguk setuju bahwa mimpi termasuk bagian intim tentang rasanya.
“Percayalah, ada aku dihati dan matanya” Itu yang ia ucap untuk menjelaskan hal intim berikutnya. Ia sudah sering berujar begitu, namun pada bagian ini ia menambahkan bahwa pernah sang wanita tertangkap basah sedang mencuri pandang terhadapnya. Bahkan ia merasa bahwa sang wanita juga pernah terbakar api cemburu merah membara. Jelas aku mengingkari, tapi ia memaklumi, bahwa memang hal intim bagian ini hanya ia yang dapat mengerti dan merasa.
Begitulah cerita rumitnya, namun itu belum akhir yang kubilang tidak semestinya. Karena ia datang menghampiriku sudah dalam keadaan tak bernyawa, alias arwah tanpa raga. Ia tahu kalau aku bisa melihat, mendengar cerita, dan membantunya. Ia tidak memintaku untuk mengutarakan perasaanya lagi, tapi ingin memberitahu bahwa kesimpulan yang dibuat sang wanita itu salah. Sebelumnya ia meninggal jatuh dari motor, kejadian itu terjadi setelah sang wanita menolak untuk diantar pulangnya. Jadilah kesimpulan dibuat sang wanita bahwa ia pasti meninggal dalam keadaan benci menyala-nyala. Karena itulah aku di ajaknya menuju nisan yang disana sudah ada wanita sesenggukan banjir air mata. Ku kira sang wanita menangis karena hanya merasa bersalah saja, tapi  “aku mencintaimu, sungguh aku juga mencintaimu. Maafkan aku yang tak membiarkanmu mendengarnya”. Ternyata wanita itu menyesal telah mempertahankan dan berperan tak mencintainya. Dan yang lebih membuatku ikut tersentuh menganga, ialah kisah yang Gopek ceritakan nyatanya benar. Ada ia di dalam mata dan hati sang wanita.

Wednesday, April 29, 2020

Surat untuk Manusia Julid


Surat untuk Manusia Julid
Oleh : Kecombrang Laut*


Teruntuk kamu yang sering Gosip
Atau ngomongin orang di belakang (apalagi di depan)
Kalau kata agama sih disebut ghibah
Juga yang suka bercanda dengan cara ngatain
Ini bukan surat untuk menghakimi kalian
Bukan, jangan berprasangka buruk dulu
Surat ini hanya sebuah cerita
Tentang jeritan dalam diam
Suara bisu yang tak pernah kalian lihat
Kalian punya hak untuk tidak membacanya

Sering kali manusia tak sadar
Iya manusia, bisa aku, kamu, dia, mereka, siapa saja
Dalam larut obrolan nyeletuk “eh tau ga”
Selanjutnya, ah kalian lebih tahu
Entah menceritakan keburukan seseorang
Entah  Iri dengan segala kepunyaan manusia lain
Saat itu manusia menjelma sang mahatahu
Bersabda sesukanya tanpa mengetahui fakta
Mungkin menurut kalian itu wajar
Kemudian kala bersua dengan sang korban
Dengan ringannya  kalian meluapkannya dengan “bercanda”
Hahaha ringan sekali bukan?
Atau bahkan sang korban tahu lewat orang ketiga?
Sakitnya lebih perih dari digigit semut merah!

Kalian tahu,
terkadang dibalik senyum manis
Terdapat hati yang terisis
Ah, sudah basi kata-kataku
Ternyata kata memang memiliki kadaluarsa
Tapi tidak untuk manusia tertindas
Manusia yang sering “dibercandain” hatinya
Tampak baik-baik saja diluar
Dalamnya becek, penuh linang
Hanya karena kata-kata candaanmu
Bukannya ditolak “pas lagi sayang-sayange”

Jadi aku tuliskan sebuah surat
Untuk manusia julid (iri) sepertimu
Sekali lagi bukan untuk menghakimi
Aku tak akan bedoa untuk menyelakaimu
Aku tak akan mengadu pada malaikat, apalagi polisi
Tidak, aku hanya ingin bercerita
Tentang tangis dalam kisah manis
Tentang duka yang dibalut rasa suka
Manusia bisa rapuh hanya dengan kata
Bahkan dapat menimbulkan trauma

Ah, aku terlalu banyak bicara
Bahkan tak satupun kalian dengar bukan?

*penghuni sanggar seni rebung

Sunday, April 26, 2020

Buletin Sarung Edisi November 2019

Buletin Sarung Edisi November 2019

Untuk Buletin Sarung Edisi November 2019 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Edisi November 2019


Saturday, April 25, 2020

Negeri Indah Sang Babu


Oleh : Nanang iskandar*
Ku kisahkan tentang negeri para babu
Ambil tindakan tak pikir-pikir dulu
Lalu ketika semua telah jadi abu
Barulah ia seolah-olah mengadu

Ada saja yang unik dari negeri rebahan
Ambil kritik, tapi tak banyak menelaah lembaran
Lalu ketika kritiknya terbalas teori lembaran
Melengganglah ia pergi tanpa malu yang tertahan

Wahai negeri para perayu
Mendayu-dayu ambisimu itu
Bak perahu kayu di laut luasmu
Melambai manja bak pohon kelapamu

Namun ambisimu saja tak cukup
Hanya berharap tuk mencakup
Bunga tak mekar sebelum jadi kuncup
Lalu kenapa kalian masih merayu harap

Negeri lain sudah memanjat
Kalian masih saja menjilat
Negeri orang sudah mengkilat
Kalian masih saja berkarat

Wahai kalian yang terdiam
Tak malukah kalian dicap kelam
Dituduh tanpa beban mendalam
                       
Bahwa hanya menjadi beban sang bumi tuhan
Tak puaskah kalian dengan tiga abad yang miris?
Ketika ketololan kalian diwayangkan pak kumis yang sadis
Tak malukah kalian dikatai babu bekas
Yang melayani dengan ikhlas
                       
Miris rasanya tuk dikenang
Lebih memilih langkah tuk merenung
Agar tak menjadi babu di masa mendatang
Agar negeriku pun ini bisa dikenang

Oh, negeriku bukan kata tak cinta
Bukan kata tak bangga
Semua itu pasti sesak di dada
Mata ini bisa meraba

Pulau-pulau tersusun eksotis
Birunya laut sebagai tabir halus
Pohon dan tunas kelapa saling menari diterpa sunrise
Hutan menghijau yang luas

Manusia bahu-membahu tuk berkarya
Beribadah dengan damai di dalam raga
Anak-anak berlari memainkan layang-layang
Kaum sarungan berbaris mendekap kitab

Sungguh indah jika dinikmati
Damai tentram negeri ini
Jika sekiranya alurnya diikuti
Membuat rasa, membesar di hati

Teruslah melangkah negeriku
Menjadi tempat terjaga yang memukau                       
Meski dengan banyak kekurangan
Ku pasti merindukamu

Santri Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Biru Bone.*

Thursday, April 23, 2020

Puisi adek

Cahaya Desa
*Adek

Cahaya pagi mentari desa, merona
Tak malu menyibak embun yang masih kumpul bersama
Menguasai setiap kebun dengan kuning kilaunya
Hingga membanjiri setiap rumah melalui lubang-lubang jendela 
Duduk, secangkir teh, mata, terpana


Cahaya sore mentari desa, mempesona
Anggun permisi meninggalkan tahtanya
Indah merobek langit menyisakan senja
Berdiri, bergegas, menuju Yang Maha Esa























Pada Sepertiga Malam
*Adek

Pada bulan sepertiga malam
Ku puja gelora rindu yang berkecamuk dalam diriku 
Kepersembahkan setetes darah segar yang setiap hari tabu padamu
Kutambahkan air mata dalam kendi yang tercebur lantaran dirimu
Kutebari bunga bertujuh rupa belantara semerbak parasmu
Kulafalkan mantra bertajuk cinta agar terbuka pintu hatimu
Puaaaaaah !


































Oh...
*Adek


Oh...
Kembali kurasakan
Betapa hebatnya kehangatan
Pendar matahari menyetubuhi dedaunan yang masih terbungkus embun-embunan
Oh tak jauh beda dengan senyum sapaanmu kekasih ...