Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Jumat, 11 Juni 2021

Sisi Positif Perkembangan Teknologi Sebagai Sarana Mempermudah Beragama Pada Era Society 5.0 dan Pandemi Covid-19

 

    Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa tidak lepas dari peran penting teknologi. Hadirnya teknologi di tengah-tengah manusia sungguh membawa perubahan yang begitu signifikan. Kecanggihan teknologi membawa manusia semakin berinovasi dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Tampaknya, sangat sulit untuk lepas dari teknologi, sebab teknologi sudah menjalar ke semua lini kehidupan. Salah satu buah dari lahirnya teknologi adalah internet. Hadirnya internet menjadi bentuk semangat manusia dalam menghadapi era society 5.0.

Semuanya memang memiliki sisi positif dan negatif, tidak terkecuali internet. Semua sisi positif dari internet sangat membantu manusia dalam menjalani hidup. Terlebih di saat seluruh manusia bersiap dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi Covid-19, teknologi sangat berperan penting bagi manusia. Namun, harus diingat bahwa dengan kehadirannya teknologi jangan sampai membuat manusia terbuai. Sebab, teknologi bukanlah segalanya, meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa semua manusia membutuhkan teknologi. Masih ada norma dan batasan yang harus diperhatikan saat menggunakan teknologi, terlebih internet. Itulah yang menjadi tantangan tersendiri saat berhadapan dengan internet, karena tidak sedikit sisi negatifnya muncul di tengah keberlangsungan hidup.

Pembahasan

            Tekonolgi hadir untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupan. Apapun itu, teknologi berperan sangat penting bagi manusia. Contoh sederhana dalam penerapan teknologi bagi manusia adalah menjadikan teknologi, khususnya internet sebagai sarana mempermudah beragama. Contoh sederhananya, ketika ingin mengikuti pengajian langsung di masjid, tetapi ada kesibukan, salah satu solusinya yaitu mengikuti kajian melalui live streaming. Adanya live streaming hadir di tengah-tengah kita membantu mempermudah saat tidak bisa mengikuti kajian langsung di masjid. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa hadir langsung di masjid. Antara kemaslahatan diri untuk menuntut ilmu secara langsung di majelis ilmu harus dikalahkan oleh adanya kemudaratan pandemi Covid-19. Apabila kita tetap memaksakan diri untuk hadir secara langsung di masjid, sedangkan di sisi lain akan ada kemudaratan yang kita terima, sebagai konsekuensinya kita harus mengurungkan niat untuk hadir secara langsung. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fikih turunan tentang kemudaratan,

دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada menghilangkan kemaslahatan.”

Kaidah ini diterapkan apabila maslahat dan mudaratnya sama, tidak ada dari keduanya yang lebih besar. Oleh karena itu, yang harus didahulukan di antara keduanya adalah menghindari diri dari mudarat yang akan muncul, meskipun harus merelakan maslahat yang ada. Artinya, kita lebih baik untuk tidak menghadiri kajian secara langsung, terlebih apabila kondisi kesehatan kita kurang fit, maka sangat mudah untuk terpapar Covid-19. Meskipun kita tahu bahwa menghadiri kajian secara langsung akan dipermudah jalannya menuju surga dan dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikatNya.

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (H.R. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (H.R. Muslim).

            Semangat menuntut ilmu akan tetap ada dengan hadirnya internet di tengah-tengah kita. Salah satu wujud nyatanya yaitu dengan adanya live streaming yang bisa kita akses di mana dan kapan saja, termasuk mengakses kajian. Tentu saja ini merupakan salah satu spirit dalam berbuat kebaikan. Namun, jangan sampai dengan hadirnya internet membuat manusia melampaui batas. Maksudnya jangan sampai kita menuhankan internet dan bergantung segalanya dengan internet.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’.” (Q.S. az-Zumar: 53)

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah mahasiswa S1 Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

 

Referensi

Andirja, Firanda. 2019. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Kemudharatan Dihilangkan Sebisa Mungkin (Kaidah 4). https://firanda.com/2464-al-qawaid-al-fiqhiyyah-al-kubra-kemudharatan-dihilangkan-sebisa-mungkin-kaidah-4.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2021)

Purnama, Yulian. 2019. Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid. https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html

https://tafsirweb.com/8715-quran-surat-az-zumar-ayat-53.html

 

Minggu, 09 Mei 2021

Sistem Ekologi dalam Menghadapi Revolusi Industri : Ancaman Kepada Alam dan Ekosistemnya?

 


Seiring berkembangnya zaman, teknologi merupakan komponen terbesar yang memiliki andil dalam kemajuan dunia. Semakin hari, masyarakat dunia secara natural mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju dan canggih sehingga teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini dikenal dengan revolusi. Revolusi yang dimaksud disini yakni revolusi industri dimana terjadi perubahan ekonomi dalam skala global dari ekonomi agraris ke ekonomi industri dengan konsep  penggunaan mesin untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Dan dalam 1 abad terakhir, revolusi ini bergerak dengan lebih pesat membentuk tatanan masyarakat yang modern.

Revolusi Industri yang bergerak saat ini sudah mencapai tahap Industri 4.0 yaitu era digital dimana penggunaan teknologi dalam kehidupan manusia menjadi fokus utama untuk memudahkan aktivitas manusia dengan cara yang lebih efisien. Melangkah dari Industri 4.0, kini negara Jepang mencetuskan konsep gerakan Society 5.0 dimana konsep gerakan ini memusatkan perhatiannya pada masyarakat itu sendiri yang digerakkan oleh teknologi modern. Singkatnya perbededaan dasar dari industri 4.0 dan society 5.0 adalah industri 4.0 berfokus kepada efektivitas penggunaan teknologi dan sistem komunikasi yang dapat terkomputerisasi dengan berbagai macam cara. Sedangkan society 5.0 adalah bentuk pengoptimalan pengetahuan serta pekerjaan masyarakat dengan bantuan mesin cerdas hingga dapat menciptakan konsep masyarakat superpintar. Namun terlepas dari perbedaan kedua tahap revolusi ini, keduanya sama-sama bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia, hanya saja society 5.0 sebagai bentuk penyempurnaan pemanfaatan teknologi oleh manusia dan untuk manusia.

Tentunya konsep pergerakan industri 4.0 dan society 5.0 memberi dampak yang sangat signifinikan terhadap komponen maupun sistem yang ada di seluruh dunia. Dalam hal ini salah satunya yaitu sistem ekologi yang menerima dampak dari pergerakan besar ini. Konsep pergerakan industri 4.0 dari sisi kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup berpihak pada pemeberdayaan lingkungan. Artinya menjaga kelestarian lingkungan juga ekosistemnya dengan pemberdayaan energi yang ramah lingkungan seperti penggunaan energi yang tidak bergantung pada penggunaan bahan bakar fosil. Salah satu contoh yang sudah diterapkan yaitu pencampuran bahan bakar fosil dengan energi terbarukan, misalnya B20. Dengan penerapan bentuk ini salah satu manfaatnya yaitu mengurasi emisi gas sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Namun konsep industri 4.0 juga merupakan tantangan bagi sistem ekologi karena pemberdayaan energi ramah lingkungan tak diterapkan oleh semua pelaku industri. Melalui pergerakan industri yang besar, tentunya harus didukung oleh sumber daya yang seimbang pula. Sayangnya tak semua pelaku industri berupaya mendukung hal ini sehingga memberi dampak negatif kepada sistem ekologi. Tuntunan industri yang semakin meningkat tentunya diiringi oleh pembangunan yang sangat meningkat, namun pembangunan ini akan lebih banyak mengorbankan lingkungan daripada memberi keuntungan kepada lingkungan dan ekosistemnya. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan yang begitu pesat dalam masyarakat dan keacuhan dari sebagian oknum yang memiliki posisi penting dan banyak menerima “manfaat” dari bentuk pergerakan ini. Ketimpangan ini merupakan bentuk ancaman yang sangat besar bagi ekologi yang akan terus meningkat jika tidak ada usaha dan perhatian lebih untuk melestarikan sistem ekologi. Hal ini nantinya akan membawa pada kemerosotan keberagaman hayati dan sumber daya alam.

Berdasarkan catatan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) suhu bumi sepanjang lima abad terakhir naik secara signifikan hingga mencapai 1,5 derajat Celsius pada tahun 2018. Kenaikan itu diantaranya dipicu oleh pembangunan yang masif namun negatif dengan cara ekstraktif dan ekspliotatif. Sedangkan jumlah studi yang meneliti tentang penggunaan lahan bagi industri selama 10 tahun terkahir meningkat dengan sangat signifikan, membuktikan bahwa penggunaan lahan yang besar-besaran mengakibatkan isu-isu perubahan iklim. Sedangkan Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan luas hutan terluas di dunia seluas 95 juta hektar atau sekitar 50,6 persen luas Indonesia menghadapi tantangan berat atas pergerakan industri ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS Indonesia) total deforestasi di Indonesia pada tahun 2014-2015 mencapai 1,09 juta hektar. Sedangkan pada tahun 2014, total emisi gas rumah kaca di Indonesia mencapai 1.808 juta ton CO2e. Angka ini mengindikasikan bahwa adanya kenaikan emisi gas dari tahun 2000 sampai tahun 2013 secara konsisten meningkat sebesar 3,5 persen per tahunnya.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa seberapa besar dampak kerugian yang disebabkan oleh revolusi industri 4.0 terhadap ekologi secara global. Sehingga manusia, hamba yang diberikan kesempatan untuk berjalan di muka bumi yang telah diberkati lewat langit dan tanahnya, sudah seharusnya kita sebagai muslim menerapkan ajaran Islam dengan baik dengan tidak merusak atau menambah kerusakan pada bumi kita langit maupun tanahnya. Sebagaimana ayat dari QS. Al-Baqarah: 205 yang artinya;

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”

Dan agar kita selalu menjaga dan memberdayakan kelestarian lingkungan sekitar beserta jajaran ekosistemnya sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kita di muka bumi lewat langit maupun tanahnya. Sebagaimana QS. An-Nahl: 10 yang artinya;

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu.”

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa sebagai manusia, tugas kitalah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana mungkin kita terus menerima hak sebagai penduduk bumi dengan memanfaatkan sumber daya alam tanpa menjalankan kewajiban kita untuk memberdayakan sumber daya alam itu sendiri?

Konsep society 5.0 dalam aspek ekologi sendiri tetap sama dengan konsep industry 4.0 yakni mempertimbangkan dan memastikan pelestarian alam dan sistem ekologi dalam keadaan baik dan terlindungi di tengah-tengah penegmbangan teknologi yang progresif. Salah satu konsep tatanan sosial dalam society 5.0 yakni masyarakat memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan aspek ekonomi dengan ekologi sehingga dapat memelihara kelestarian alam dan ekosistem di sekitarnya dalam waktu jangka Panjang.

Melihat dari pergerakan industri 4.0 yang justru banyak mengorbankan dan merugikan daripada memberi manfaat kepada sistem ekologi, maka untuk pergerakan konsep society 5.0 hal ini harus diantisipasi. Oleh karena itu pemerintah harus dapat mempersiapkan masyarakatnya menghadapi era disrupsi ini. Saran penulis kepada pemerintah adalah;

1. Mempersiapkan kurikulum pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan sesuai dengan industry era ini

2. Memberi kebijakan pada pelaku industri yang menjalankan industri dengan tidak memerhatikan konsep pemberdayaan sumber daya alam atau dalam kata lain yang merugikan kelestarian alam

3. Membuat program di masyarakat yang bertujuan untuk mengajarkan pentingnya menjaga sistem ekologi dan ganjaran bagi para pelaku perusak sistem tersebut serta menanamkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat

Harapan penulis dalam Langkah pergerakan society 5.0, sistem ekologi dapat terjaga kelestariannya, sumber daya alam dapat dimanfaatkan dengan baik dan menghasilkan keuntungan bagi manusia serta dapat menerima manfaat dari pergerakan ini.

Penulis: Nahla Thalia Hasanah. A. M

Minggu, 02 Mei 2021

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Rangkaian Acara Dalam Rangka Memeriahkan Sersantara (Semarak Santri Nusantara)


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (02/05)-Badan Pengurus Harian (BPH) kembali mengadakan program kerja dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini dinamakan Semarak Santri Nusantara atau biasa disingkat dengan Sersantara. Sersantara merupakan kegiatan rutin tahunan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang sampai saat ini telah mengnjak usia 13 tahun. Selama itu, rangkaian acara pun banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan

Sersantara tahun ini memiliki serangkain kegiatan. Dimulai dari perlombaan MTQ, MQK, dan Pidato bahasa Indonesia tingkat nasional yang dimulai dari tanggal 24 Maret-22 April. Perlombaan-perlombaan tersebut dilaksanakan secara online dikarenakan kondisi dan situasi sekarang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara offline. Pada cabang lomba MTQ dan Pidato diambil kejuaraan 1, 2 dan 3 serta favorit. Sedangkan, lomba MQK dilakukan dalam dua tahap. Pertama, babak penyisihan. Kedua, babak final yang diadakan pada Kamis (29/04). Selain itu, Bakti Sosial santunan anak yatim di panti asuhan Bintan Sa'adillah Al-Rasyid Krapyak Yogyakartya turut memeriahkan rangkaian acara Sersantara 2021

Acara puncak sekaligus penutup dari Sersantara ke-13 yaitu tabligh akbar dengan tema "Ramadan Berkah Bersama Milenial Berkualitas". Yarsa Arnanda, selaku ketua panitia mengaku mengambil tema tersebut dilatar belakangi oleh kegelisahan  sebagai generasi millennial yang hidup di era dengan perubahan cepat.

“Generasi milenial adalah generasi yang canggih, jika dididik dengan benar maka akan menjadi generasi emas, tetapi kalau tidak  dididik dengan baik maka akan menjadi masalah”. Ungkapnya

Tabligh akbar tersebut diisi oleh K.H Ulil Abshar Abdalla. Beliau merupakan tokoh intelektual muslim yang banyak digemari generasi millennial.

“Alhamdulillah Kegiatan Sersantara tahun ini telah selesai dan berjalan dengan baik. Hal tersebut tidak lepas dari campur tangan rekan-rekan panitia yang sudah memberikan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk menyukseskan acara ini. Selain itu, kesuksesan acara ini juga tidak terlepas dari peran peserta lomba, lembaga panti asuhan, serta para jamaah tabligh akbar yang sangat antusias terhadap kegiatan Sersantara tahun ini. Kurang lebih ada sekitar 300-400 partisipan yang telah berpartisipasi baik dari peserta lomba, lembaga panti asuhan, dan para jamaah tabligh akbar untuk mensukseskan Sersantara tahun ini. Saya mewakili rekan-rekan panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada para partisipan yang sudah menyukseskan acara ini”. Imbuhnya ketika diwawancarai

Hal-hal yang Tidak Bisa Mahasiswa Hindari Selama Pandemi

 

2020 nampaknya akan menjadi salah satu tahun yang akan selalu diingat oleh semua orang. Banyak hal baru terjadi di 2020, salah satunya yaitu virus COVID-19 yang masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 dan mulai mengubah tatanan kehidupan sebelumnya. COVID-19 atau Corona sendiri sebenarnya pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan yang kemudian menjadi wabah dan menyebar ke lebih dari 100 negara. Salah satunya Indonesia, yang pada saat awal kemunculannya mematahkan mitos bahwa Indonesia “kebal” dari Corona. Kehadirannya pun memaksa manusia untuk mengubah sistem kehidupan yang semula ada. Banyak sektor yang kemudian terpengaruh oleh adanya virus ini, salah satunya pendidikan.

Persebaran virus Corona yang cenderung cepat mendorong pemerintah harus segera membuat kebijakan baru untuk meminimalisir persebaran tersebut. Merespon hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim pun merumahkan seluruh siswa untuk belajar di rumah. Sebenarnya tidak hanya pelajar yang “dirumahkan”, guru, karyawan, dan pekerja lain pun harus tetap di rumah sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus. Corona bukan hanya tantangan untuk Wuhan, tapi untuk semua manusia di dunia ini.

Bagi mahasiswa sendiri, belajar di rumah pun merupakan suatu tantangan baru. Setelah terbiasa dengan kesibukan di kampus baik itu tugas kuliah yang tidak ada habisnya maupun kegiatan organisasi yang tidak ada hentinya, kami para mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan hal-hal yang serba “di rumah”. Banyak hal baru yang harus disesuaikan untuk menyelaraskan kehidupan kembali, meskipun sebenarnya kehidupan sebelumnya juga tidak laras-laras amat. Beberapa hal yang sangat sulit dihindari mahasiswa selama pandemi yaitu:

Kolaborasi Jadwal Kuliah dan Jadwal Rumah

Hal yang pertama yaitu harus bisa menyeimbangkan antara jadwal rumah dan jadwal kuliah. Mahasiswa yang identik dengan kebiasaan merantau, harus beradaptasi kembali dengan sistem belajar yang sebelumnya mereka lakukan di tanah rantau. Baik itu antar kota, antar provinsi, antar pulau, atau bahkan antar negara.

Kuliah di rumah dengan jadwal yang pastinya tidak bisa diganggu gugat membuat mahasiswa harus pintar-pintar membagi waktu untuk bisa fokus belajar. Padahal di rumah juga ada kerjaan yang wajib dikerjakan. Siapa pun kita, anak laki-laki atau perempuan kalau di rumah pastinya ada kewajiban untuk membantu pekerjaan orang tua, mau itu bersih-bersih, memasak, mencuci, atau pekerjaan yang lain. Kecuali untuk mereka anak sultan sih. Intinya, tugas kuliah yang terus berjalan tanpa henti dan pekerjaan rumah yang terkadang tidak bisa diajak kompromi harus kita kolaborasikan agar target kuliah tetap bisa tercapai.

Kualitas Pembelajaran

Tantangan selanjutnya yaitu kualitas dari pembelajaran itu sendiri. Kuliah online sejatinya memberi jarak ruang dan waktu, sehingga proses pembelajaran tidak akan leluasa sebagaimana di kelas. Materi yang minim penjelasan dan tingkat fokus yang kadang naik turun membuat suasana pembelajaran terasa menjemukan. Alhasil diskusi yang tercipta sebatas “iya pak, baik bu, terimakasih”.  Walaupun sebenarnya ruang keaktifan terbuka sama lebarnya antara kuliah di kelas maupun di rumah, tapi yo tetap saja perbedaan ruang dan waktu itu membuat kita benar-benar berjarak fisik dan pikiran.

Belum lagi derita menjadi anggun alias anak gunung yang sinyalnya kadang-kadang tidak bisa dinegosiasi, padahal kalau tidak ada sinyal kan susah juga mau lancar ikut perkuliahan. Apalagi kalau kalian punya adik kecil, pasti tau dong rasanya dirusuhi anak kecil. Kuliah di rumah membuat kita mempertanyakan kembali kualitas sebagai mahasiswa yang katanya agent of change.

Susahnya cari referensi

Selain dua hal di atas, permasalahan yang sama pentingnya yaitu minimnya referensi yang kita dapatkan. Kalau di kampus sudah disediakan perpusatakaan lengkap dengan fasilitas nyaman untuk mengerjakan tugas. Maka di rumah, kita dituntut untuk pandai mencari buku-buku online sebagai rujukan untuk mengerjakan tugas. Meskipun buku pdf sudah sama bertebarannya dengan bintang kecil, namun tetap saja buku fisik lebih banyak dibutuhkan ketika mengerjakan tugas, pun karena tidak semua buku ada versi pdf-nya.

Terlebih, buku fisik memberi kenyamanan tersendiri bagi beberapa orang. Bisa menghirup aroma bukunya, tidak membuat mata sakit untuk dibaca lama-lama, dan tentunya bisa diberi tanda di bagian yang kita inginkan. Belum lagi mereka yang mengambil jurusan dengan beberapa mata kuliah praktikum. Sangat menyenangkan bukan menyiapkan praktikum, mengerjakan praktikum, dan membuat laporan praktikum sendiri di rumah.

Yang Patut Disyukuri

Beberapa hal di atas memang terasa berat untuk saat ini, namun yang harus kita sadari adalah bahwa kita menjadi punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kita juga bisa bebas ke kamar mandi tanpa antre seperti di kampus, sistem pencernaan pun sangat terjaga ketika di rumah, tidak seperti di kos biasanya. Selain itu, pasti ada hikmah yang dapat kita petik dari adanya virus ini untuk kita jadikan evaluasi di kemudian hari.

Hal-hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari takdir untuk kita jalani. Selain melatih kesabaran, tentunya juga melatih diri kita untuk selalu siap mengahadapi situasi dan kondisi apapun. Melatih kita untuk bisa sigap menghadapi apa yang terjadi di depan kita. Setiap zaman kan memang mempunyai tantangan yang berbeda-beda. Sebagai agent of change, siap berubah menjadi lebih baik itu utamanya. Masalah pikiran pusing, tekanan batin yowes jalani saja. 

Oleh: Alfa Puspita Nahara

Sabtu, 06 Maret 2021

Pendidikan sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

 

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa pendidikan tinggi-tinggi itu tidak perlu, apalagi bagi seorang perempuan. Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh nantinya juga di dapur kerjanya, ngurus anak dan suami. Perkataan seperti itu biasanya dikatakan oleh orang-orang terdahulu, bahkan mungkin orang-orang di sekelililng kita juga pernah mengatakannya. Pemikiran-pemikiran close minded seperti itu hanya akan menurunkan kualitas negara kita.

Negara Indonesia banyak memiliki perempuan cerdas dengan pendidikan tinggi bahkan sampai menjadi Doktor. Salah satunya yaitu Dr. Hj. Oki Setiana Dewi, S.Hum, M.Pd., yang mana pada tanggal 23 Oktober 2020 menyelesaikan Ujian Promosi Doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu ia juga sebagai pendakwah, dan merupakan pimpinan Yayasan Maskanul Huffadz.

Hal tersebut membuktikan bahwa seorang perempuan pun dapat memiliki gelar tinggi, bahkan dapat memberi banyak manfaat pada banyak orang karena ilmu yang dimilikinya. Dan tidak hanya sebatas melayani suami, anak-anaknya lalu di dapur untuk sehari-harinya. Zaman sekarang, banyak perempuan dengan pendidikan tinggi yang sukses di bidangnya. Dengan begitu kita tidak perlu bingung untuk menjadi sukses juga seperti mereka, dengan meniru prosesnya untuk menjemput pintu sukses di kemudian hari.

Pandangan orang-orang terkait perempuan sekarang sepertinya mulai berubah, akan tetapi memang sedikit orang yang menyetujui perempuan menjadi “wanita  karir” karena gila bekerja. Masih banyak pula anggapan seorang lelaki yang berpikiran bahwa hanya laki-laki yang pantas mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja. Padahal sejatinya, seorang perempuan juga manusia yang sadar akan pentingnya pendidikan. Tidak sedikit perempuan yang memiliki cita-cita tinggi dengan menyelesaikan pendidikannya dan sadar bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban.

Wajar apabila banyak orang beranggapan pendidikan tinggi bagi perempuan tidaklah penting, karena mungkin faktor satu dan lain hal yang menjadikan close minded seperti itu tertanam pada benak seseorang. Tersadar juga bahwa setiap zaman memiliki perbedaan dalam segala aspek kehidupannya. Kita sebagai generasi milenial, terutama bagi seorang perempuan harusnya dapat berfikir lebih baik dari pemikiran-pemikiran orang terdahulu.

 Sekarang sangat terlihat dengan jelas makna pentingnya pendidikan, karena apabila pendidikan kita rendah sudah dapat dipastikan akan mengalami kesusahan dalam banyak hal salah satunya dalam hal pekerjaan. Pasti akan ada perbedaan antar yang hanya lulusan sekolah dasar dan perguruan tinggi, walaupun ijazah bukan sebagai jaminan akan kesuksesan. Perlu disadari bahwa pendidikan sangat dibutuhkan bagi setiap perempuan karena akan memberikan banyak manfaat yang jauh lebih berharga dari sekadar formalitas, berikut beberapa alasan terkait pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan yaitu :

Pertama, membentuk pola pikir yang kritis. Merupakan salah satu alasan utama pendidikan sangatlah penting, karena pola pikir seseorang akan terbentuk melalui pendidikan. Pola pikir yang baik akan membuat seorang perempuan dapat berfikir kritis terhadap sesuatu dari berbagai sudut pandang, sehingga mampu memutuskan segala sesuatu dengan pemikiran yang matang tanpa mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

Kedua, wujud bakti kepada orang tua. Dikatakan seperti ini karena pendidikan juga dapat menjadi wujud bakti seseorang terhadap orang tuanya, salah satunya dengan membanggakan mereka. dapat membanggakan orang tua dengan berpendidikan tentu memberi kesempatan pada setiap perempuan untuk mengangkat derajat orang tua maupun keluarganya sehingga bisa menjadi penopang kehidupan orang tuanya dimasa depan.

Ketiga, sebagai bekal untuk mendidik anak-anaknya kelak. Menjadi seorang ibu di kemudian hari menuntut seorang perempuan untuk dapat mendidik anaknya dengan baik, apalagi seorang anak tentu akan mencontoh ibunya (yang menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya daripada ayahnya). Disinilah pendidikan yang diperoleh wanita akan  menjadi sarana positif untuk dapat mendidik dan berkontribusi bagi tumbuh kembang anak-anaknya kelak.

Keempat, menjadi bukti bahwa perempuan adalah sosok yang hebat. Pendidikan yang dimiliki wanita akan mencerminkan bahwa wanita merupakan figur yang hebat, karena mampu berkontribusi bagi masa depan dunia dengan mendidik calon-calon generasi yang akan memimpin dunia kelak. Satu hal yang juga  harus diingat, pendidikan mampu memutus rantai kemiskinan banyak orang dan menjadi sarana untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukanlah hal yang tidak penting bagi seorang perempuan, karena dengan pendidikan yang baik akan membawa dampak baik pula untuk masa depannya. Tentu tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk banyak orang. Apalagi seorang perempuan akan menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya kelak, yang mana tanpa limpahan ilmu darinya kemungkinan besar pertumbuhan anaknya kurang baik. Karena anak cerdas terlahir dari rahim seorang ibu yang cerdas juga. Tidak hanya dalam hal menjadi seorang ibu, pendidikan juga memiliki banyak manfaat dalam segala hal.

Penulis: Rifqoh Yuliantika, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selasa, 02 Maret 2021

Musik dalam Sudut Pandang Agama

 


Hiburan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia untuk menyegarkan pikiran. Pada hakikatnya manusia tidak selalu mengalami atau menghadapi suka, adakalanya manusia mengalami keadaan duka. Maka dari itu manusia membutuhkan sebuah hiburan untuk menyegarkan atau me-refresh otak dari banyaknya beban pikiran yang dialaminya.

Musik merupakan salah satu media untuk meredakan stres. Sebuah penelitian yang berjudul The Effect of Music and the Human Stress Response yang dimunculkan oleh Thoma dan kawan-kawan menyebutkan bahwa musik memiliki pengaruh positif terhadap sistem saraf pusat sehingga ampuh dalam meredakan stres. Efek itu lebih cepat dibandingkan suara hutan atau percikan air yang dianggap menenangkan. Musik itu suara yang berirama. Suara yang berirama bisa dihasilkan tanpa alat  juga bisa disertai alat musik.

Sementara itu ada beberapa ketentuan dalam mengkategorikan bahwa musik itu dibolehkan atau dilarang. Meskipun banyak yang meyakini bahwa musik bisa membangun kesadaran masyarakat atas kondisi sosial yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian jangan sampai musik itu mengantarkan manusia kepada sesuatu yang buruk. Secara umum, ketika musik membawa kepada kemaksiatan dan kesia-siaan, saat itulah mulai diharamkan.

Tuhan menciptakan manusia untuk membangun bumi dalam artian membangun peradaban dengan unsur kebenaran, kebaikan, keindahan. Kebenaran menghasilkan ilmu, kebaikan menghasilkan moral, dan keindahan menghasilkan seni. Islam itu adalah agama fitrah sesuai dengan fitrah manusia (bawaan manusia). Dalam pandangan Islam, musik tidak semata-mata digolongkan sebagai sesuatu yang haram. Dalam Al-Qur’an sendiri  tidak dijelaskan bahwa musik itu termasuk dalam kategori yang halal atau haram.

Secara fikih, hukum mendengarkan musik memang tidak mutlak atau hitam-putih.  Akan tetapi terdapat beberapa pendapat dari para sabahat mengenai boleh atau tidaknya mendengarkan maupun memainkan musik. Diantaranya Abdullah bin Umar mendefenisikan musik itu haram karena pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw. sedang menaiki unta, beliau mendengar suara seruling, lalu nabi  mempercepat laju untanya, ketika sudah jauh dan sudah tidak terdengar, Nabi saw. melepas jarinya dari kedua telinganya. Sedangkan menurut pendapat Abdullah bin Abbas tidak haram.

Ketika An-Nabilisy mengkaji semua tentang musik, banyak hadis yang riwayatnya lemah. Sehingga tidak bisa dijadikan rujukan pasti untuk menetapkan sebuah hukum. Dan ternyata dalam pandangan An-Nabilisy semua hadis tidak berlaku secara menyeluruh melainkan terbatas dalam cakupan objek tertentunya. Oleh karena itu, musik-musik yang haram adalah ketika disertai dengan kemaksiatan seperti mabuk dan zina.

Masyarakat sering kali mendefinisikan musik itu sebagai sesuatu  yang haram karena dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.  Contohnya, musik barat yang menjadi fenomenal atau musik korea yang telah menjajah kaum muda di Indonesia. Lirik yang diucapkan dalam musik tersebut terkadang memiliki makna yang dapat menyesatkan. Karena tak banyak yang mengetahui artinya, sekalipun ia mengetahui arti dari lirik tersebut ia tetap akan menyenangi musik itu. Maka pentingnya mendudukkan kembali musik pada dasarnya adalah media. Sebagai sebuah media, musik tidak bisa dihukumi apa-apa.

Sejatinya tidak ada larangan dalam hal bermusik, sama seperti seperti suara perempuan,  yang juga bukan merupakan aurat. Tetapi kalau sudah menyimpang dan menimbulkan hal-hal yang bisa mengantarkan seseorang menjauh dari fitrah kesuciannya maka musik diharamkan. Agama hanya melarang  jika dengan bermain dan mendengarkan musik dapat menyita waktu  dengan sia-sia sehingga apa yang penting terabaikan. Contohnya dalam penggunaan pisau. Pisau  menjadi bermanfaat ketika digunakan untuk memotong makanan dan sejenisnya. Dan ia akan menjadi haram ketika digunakan untuk membunuh orang. Semua musik yang mengajak kepada nilai-nilai luhur seperti kemanusiaan, perdamaian, ketulusan, cinta, kesetiaan, dan lain-lain, itu termasuk musik yang baik.

Penulis: Za’im Mahmudy Mujahid-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kamis, 25 Februari 2021

Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar MoRA-DA Periode I dan II

 


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (24/02)-Badan Pengurus Harian (BPH) melaksanakan salah satu program kerjanya, yaitu MoRA-DA (CSSMoRA Wisuda). Kegiatan ini dilakukan dalam upaya untuk menyemarakkan acara wisuda para wisudawan dan widawati anggota CSSMoRA UIN Sunan Klaijaga Yogyakarta serta penyerahan sertifikat penghargaan. Acara tersebut dimulai pada pukul 13.30 WIB melalui zoom meeting. Sebelumnya,  wisuda dilaksanakan kembali secara online yang berlangsung pada Rabu (24/02) pagi oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Turut diundang pengelola PBSB, wali wisudawan/I, para wisudawan dan wisudawati serta anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogakarta. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan tilawatil Qur’an. Kemudian, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama adalah dari pengelola PBSB. Dalam hal ini, pengelola PBSB yaitu, Prof. KH. Abdul Mustaqim M. Ag dan Ahmad Mujtaba, pada kesempatan kali ini pengelola PBSB belum bisa hadir karena satu dan lain hal.

“Pengelola PBSB mengucapkan salam kepada para wisudawan dan wisudawati, tetap semangat, semoga sikses kedepannya.” Ungkap MC menyampaikan pesan dari pengelola PBSB.

Sambutan selanjutnya dari perwakilan wisudawan/I oleh Muhammad Mundzir. Beliau menuturkan  ucapan selamat kepada wisudawan dan wisudawati, ucapan terima kasih kepada Kemenag RI yang telah memfasilitasi, pengurus CSSMoRA, pengelola PBSB dan para dosen, ucapan maaf selama studi dan interaksi bila ada khilaf dan salah, dan terakhir yaitu permohonan doa restu untuk langkah studi selanjutnya, baik itu dalam hal akademik, karir atau jenjang pelaminan.

“Untuk semuanya kami sangat bersyukur bisa sampai di detik ini”. Ungkap pria lulusan predikat tercepat terbaik itu.

Beliau juga berharap semoga CSSMoRA tetap jaya, tetap konsisten untuk melaksanakan kegiatan seperti ini, cepat menyusul dan cepat untuk memikirkan masa depan.

“Semoga perjalanan dan perjuangannya dicatat sebagai amal shalih dan diridhai oleh Allah swt., semoga ilmunya senantiasa bermanfaat bagi diri pribadi, masyarakat, nusa dan bangsa”. Ujar H. Rosaidi S. Ag yang merupakan perwakilan wali wisudawati dari saudari Nur Azka Inayatussahara.

Kemudian, rangkaian selanjutnya penyerahan sertifikat pengahargaan secara simbolis. Acara ini ditutup dengan doa dan foto bersama. (Melala)

 

Selasa, 16 Februari 2021

Tahun 2020 Bukan Sekedar Angka

 


2020 menjadi tahun penuh makna

2020 menjadi angka yang tak terlupa

Menjadi ingatan yang tertanam dalam

Sejauh jangkau panjang

 

Akhirnya kita sampai di penghujung tahun

Sejenak, mari kita rangkum segala cerita

Lihatlah…!!

daratan kelabu

Ragaku rapuh tersayat sang waktu

Mari kuperkenalkan, inilah tahun sejarah dengan wajah baru

 

2020 Tahun perjuangan

Kehilangan…

Kehancuran…

Keputusasaan…

Derita dan sengsara datang silih berganti

Luka belum jua mereda

 

Semakin menganga seperti tiada pengobatnya

Tak lelahkah kau mengembara ?

 

Kami semua telah mengenalmu

Kami lalui hari yang kian menyekik dengan keberadaanmu

Semua terbatas, raga kami menjadi bingas

Isak tangis seorang anak menjerit kelaparan

Pegawai dan buruh kehilangan pekerjaan dan terpaksa dirumahkan

Duka manusia yang terpapar virus mematikan

 

Lantas kami

Memenjarakan diri dibalik jeruji, terbalut kekhawatiran dan penderitaan

Adakah ini sebuah teguran atau hukuman?

Sudahkah jiwa ini sadar atas segala dzolim yang semena-mena

 

Entahlah…

Semoga pandemi ini benar-benar berakhir

Kuucapkan terima kasih teruntuk manusia-manusia kuat yang hingga detik ini masih mampu tersenyum

Berdiri kokoh melalui hari, menatap takdir Tuhan


Semoga tahun esok berpihak pada kita

Gantungkan kembali harapan

Didepan sana, masa depan sedang menantimu dengan sebuah senyuman.

Selamat tinggal 2020, tahun yang bukan hanya sekedar angka.

Karya : Dinda Duha Chairunnisa’