Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Kamis, 25 Februari 2021

Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar MoRA-DA Periode I dan II

 


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (24/02)-Badan Pengurus Harian (BPH) melaksanakan salah satu program kerjanya, yaitu MoRA-DA (CSSMoRA Wisuda). Kegiatan ini dilakukan dalam upaya untuk menyemarakkan acara wisuda para wisudawan dan widawati anggota CSSMoRA UIN Sunan Klaijaga Yogyakarta serta penyerahan sertifikat penghargaan. Acara tersebut dimulai pada pukul 13.30 WIB melalui zoom meeting. Sebelumnya,  wisuda dilaksanakan kembali secara online yang berlangsung pada Rabu (24/02) pagi oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Turut diundang pengelola PBSB, wali wisudawan/I, para wisudawan dan wisudawati serta anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogakarta. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan tilawatil Qur’an. Kemudian, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama adalah dari pengelola PBSB. Dalam hal ini, pengelola PBSB yaitu, Prof. KH. Abdul Mustaqim M. Ag dan Ahmad Mujtaba, pada kesempatan kali ini pengelola PBSB belum bisa hadir karena satu dan lain hal.

“Pengelola PBSB mengucapkan salam kepada para wisudawan dan wisudawati, tetap semangat, semoga sikses kedepannya.” Ungkap MC menyampaikan pesan dari pengelola PBSB.

Sambutan selanjutnya dari perwakilan wisudawan/I oleh Muhammad Mundzir. Beliau menuturkan  ucapan selamat kepada wisudawan dan wisudawati, ucapan terima kasih kepada Kemenag RI yang telah memfasilitasi, pengurus CSSMoRA, pengelola PBSB dan para dosen, ucapan maaf selama studi dan interaksi bila ada khilaf dan salah, dan terakhir yaitu permohonan doa restu untuk langkah studi selanjutnya, baik itu dalam hal akademik, karir atau jenjang pelaminan.

“Untuk semuanya kami sangat bersyukur bisa sampai di detik ini”. Ungkap pria lulusan predikat tercepat terbaik itu.

Beliau juga berharap semoga CSSMoRA tetap jaya, tetap konsisten untuk melaksanakan kegiatan seperti ini, cepat menyusul dan cepat untuk memikirkan masa depan.

“Semoga perjalanan dan perjuangannya dicatat sebagai amal shalih dan diridhai oleh Allah swt., semoga ilmunya senantiasa bermanfaat bagi diri pribadi, masyarakat, nusa dan bangsa”. Ujar H. Rosaidi S. Ag yang merupakan perwakilan wali wisudawati dari saudari Nur Azka Inayatussahara.

Kemudian, rangkaian selanjutnya penyerahan sertifikat pengahargaan secara simbolis. Acara ini ditutup dengan doa dan foto bersama. (Melala)

 

Selasa, 16 Februari 2021

Tahun 2020 Bukan Sekedar Angka

 


2020 menjadi tahun penuh makna

2020 menjadi angka yang tak terlupa

Menjadi ingatan yang tertanam dalam

Sejauh jangkau panjang

 

Akhirnya kita sampai di penghujung tahun

Sejenak, mari kita rangkum segala cerita

Lihatlah…!!

daratan kelabu

Ragaku rapuh tersayat sang waktu

Mari kuperkenalkan, inilah tahun sejarah dengan wajah baru

 

2020 Tahun perjuangan

Kehilangan…

Kehancuran…

Keputusasaan…

Derita dan sengsara datang silih berganti

Luka belum jua mereda

 

Semakin menganga seperti tiada pengobatnya

Tak lelahkah kau mengembara ?

 

Kami semua telah mengenalmu

Kami lalui hari yang kian menyekik dengan keberadaanmu

Semua terbatas, raga kami menjadi bingas

Isak tangis seorang anak menjerit kelaparan

Pegawai dan buruh kehilangan pekerjaan dan terpaksa dirumahkan

Duka manusia yang terpapar virus mematikan

 

Lantas kami

Memenjarakan diri dibalik jeruji, terbalut kekhawatiran dan penderitaan

Adakah ini sebuah teguran atau hukuman?

Sudahkah jiwa ini sadar atas segala dzolim yang semena-mena

 

Entahlah…

Semoga pandemi ini benar-benar berakhir

Kuucapkan terima kasih teruntuk manusia-manusia kuat yang hingga detik ini masih mampu tersenyum

Berdiri kokoh melalui hari, menatap takdir Tuhan


Semoga tahun esok berpihak pada kita

Gantungkan kembali harapan

Didepan sana, masa depan sedang menantimu dengan sebuah senyuman.

Selamat tinggal 2020, tahun yang bukan hanya sekedar angka.

Karya : Dinda Duha Chairunnisa’


Kisah Negeri

Di ufuk cahaya merekah sadar

Melepas perlahan kemilau sang fajar

Beriring syahdu nyanyian alam

Menebar asa di simpang harapan.

Menjadikan negeri semaian penuh angan

 

Negeri ini terlalu pelik untuk dilagukan

Padahal banyak jiwa menggantung harapan, demi secercah kebahagiaan.

Kisah negeri ini yang penuh juang

Hanyalah sebatas dinginnya kenangan

 

Kini manusia egois mengikis sejarah

Membuat yang lain hilang arah

Beribu-ribu do’a kupanjatkan

Meluapkan emosi yang menyeruai

Menebar rindu menuai damai

Semoga luka negeri segera pulih

Untukmu negeri yang kucintai.

Penulis: Nida'ul Azimah, Anggota CSSMoRA Al-Azhar, Mesir

Kamis, 11 Februari 2021

Salam Rindu (Part 2)

 


Setelah tes dan alhamdulillah dinyatakan lulus seperti kedua teman yang lainnya, saya mulai berpikir soal teknisi. “Berangkat?” Lama saya berpikir. Setelah itu saya bertanya pada salah seorang senior pondok.

“Pergilah, Dek! Kesempatan tidak datang 2 kali,” katanya. Kata-kata itu betul-betul menyulut api semangat saya.

Kemudian saya lanjut dengan salat istikharah. Tidak ada mimpi di dalam tidur saya selepas salat istikharah itu. Barulah di malam kedua setelahnya, saya bermimpi turun dari pesawat dan yang saya lihat adalah hamparan pasir. Kutapaki hamparan pasir itu dengan senyum merekah. Di ufuk barat terlihat tenggelam sang surya dengan semburatnya yang jingga. Saya terbangun, dan saya artikan saja bahwa pasir itu adalah gurun pasir di Mesir.

Terus saya tanya orang tua soal biaya, “Bagaimana ini, Bapak, Emak? Siap jiki?”

Bapak lagsung menimpali, “Pergilah, Nak! Kalau kau betul-betul berniat untuk itu, soal biaya jangan kau hiraukan! Bapak sekarang tidak punya uang. Tapi yakinlah rezeki Allah! Percayalah!”

Untuk keberangkatan yang menegangkan, saya terlebih dahulu mengurus visa. Tiga bulan lamanya visa baru selesai, baru bisa berangkat dari kota kecil kelahiran menuju kota Makassar, transit ke Jakarta, dan kemudian ke Kairo. Berbunga-bungalah sang hati. Saya sudah seperti jatuh cinta pada seorang kekasih. Nyatanya saya hanya tak sabar menginjakkan kaki di Mesir.

Dua orang teman yang juga lulus untuk kuliah ke Mesir, ternyata punya kendala dari restu keluaga. Yang satunya tidak disetujui oleh kakek atau mungkin neneknya kalau tidak salah, untuk kuliah terlalu jauh, sehingga dia kuliah di IAIN kota kelahiran. Sedangkan yang satunya tidak direstui oleh hati kecil sebagian anggota keluarga ditambah persoalan beasiswa yang dia lulusi dari sebuah kampus yang didaftari, dan jika tidak diambilnya maka akan berdampak buruk kedepannya bagi angkatan madrasah Aliyah di bawah kami. Jadilah saya hanya berangkat seorang diri mewakili alumni pondok tahun itu.

Di momen itu saya menemukan sebuah makna dari dua forum gaib dari dalam rindu. Satu; keluarga, dua; teman-teman. Saya sebut satu persatu nama-nama orang yang saya sebut teman-teman itu sepanjang perjalanan. Kudoakan agar sukses dan kita akan bertemu kembali dengan setumpuk kisah masing-masing untuk diobrolkan menghabiskan waktu. Sepertinya akan sudah lebih berbobot dengan perkembangan masing-masing yang sudah ada.

Di kota para Karaeng, kota Makassar yang saat malam kerlap-kerlip jalan rayanya membuat jatuh cinta, saya menemukan haru yang tidak akan terlupakan sampai pulang kembali ke kota tercinta itu. Moment keberangkatan, diwarnai oleh dua pihak yang awalnya jelas memberi dampak bangga pada pribadi, yakni keluarga dan teman-teman. Keduanya rela datang dari jauh-jauh, membuat saya haru, bangga, dan cinta dengan mereka. Agak dramatis air mata setengah mati saya larang jatuh, dekap para sahabat sepondok seperjuangan sependeritaan selama tiga sampai enam tahun selama di pondok, membuat saya haru dan agak tidak enak hati untuk tidak total mengincar sukses. Kedua orang tua saya melepas kepergian dengan tegar. Tidak saya lihat adanya lubang dalam pekatnya cinta dan kasih mereka saat itu.

Transit di bandara kota Jakarta, tiga orang teman yang kuliah di Bandung menyempatkan datang ke bandara ibu kota itu hanya untuk melepas kepergian saya. Dikisahkannya perjalanan mereka dari kota Bandung menuju bandara ibu kota melalui kantung mata yang menghitam di bawah mata mereka. Mata-mata yang selalu saya kenali mampu memberi sorot untuk menunjukkan beratnya ilmu dan abdi penggunanya dalam kehidupan ini.

“Mana buku yang kau janjikan, Mas Bro?” saya bertanya pada teman yang rambutnya sudah berponi. Padahal semenjak di pondok, rambutnya itu tidak pernah sepanjang itu sebab akan selalu dipotong oleh guru piket jika menjelang ulangan tengah atau akhir semester. Katanya itu balas dendam. Orang Bone harus gondrong jika merantau, katanya saat itu.

Dia terlihat mengeluarkan buku hitam dari dalam tas selempangnya. Kubaca judul dan sinopsisnya, buku itu bercerita tentang sejarah spesifik tentang seorang ahli kalam yang dianggap menyalahi akidah yang benar. Tak saya pedulikan untuk sementara apa isi buku itu lebih lanjut, lebih kupilih untuk menghabiskan waktu bersama mereka bertiga sebelum waktu keberangkatan tiba.

Selama beberapa jenak saya terhibur dengan hadirnya mereka melepas kepergian saya, pada akhirnya juga masih saja dengan kesedihan. Saya peluk mereka dengan agak malu. Mereka bertiga malah lebih tegar karena sepertinya lelahnya sudah lebih dominan daripada sedihnya. Hanya saja senyuman bangga di bibir-bibir tebal mereka tidak tersembunyi. Saya ucap sampai jumpa. Dan ribut cecakap di bandara itu menjelma menjadi nyanyian kepergian Layla yang dipinang lelaki lain kala Qais pun menjadi gila.

Cairo, Mesir. Kota para nabi. Dan kota para ulama kontemporer zaman sekarang. Kedatangan di Mesir dengan semangat serta tekad yang membara, begitu pula amanah yang harus ditunaikan, pastinya. Di kala sampai saya disambut oleh seorang senior yang juga alumni dari pondok. Bersama beberapa dari temannya, saya disambut hangat.

Luar negeri, Mesir. Melewati musim dingin yang fantastis. Salju yang tidak saya tahu bagaimana tentang benda-benda kecil beku putih dan turun pelan layaknya hujan kapas bermassa agak berat itu membuat saya menyadari bahwa saya benar-benar telah berda di negeri orang dengan segala bekal yang ada. Mesir, Bung. Kota yang dua kali takluk ini ternyata sangat dingin di malam hari. Atau mungkin karena ini musim dingin? Entah. Saya belum tahu banyak.

Di sela-sela ranting cuaca dingin di malam hari saat itu, saya mulai menerka batin yang sudah agak tenang. Kubaca beberapa pesan di layar ponsel, ternyata teman-teman di Indonesia masih saja banyak tanya soal apa saja. Banyak hal yang rasanya tidak terjelaskan kala menerima bacot-bacot di ponsel saya itu. Kutahu beberapa di antara mereka cemburu. Kutahu pula mereka terlampau bangga. Yang cemburu itu biasanya akan semakin termotivasi, dan seterusnya.

Tiba pada pembahasan cerita-cerita ini, saat itu, saya meniup udara di depan muka dengan napas yang hangat. Saya bukan perokok, tapi mulut dan hidung saya berasap. Sudah seperti pemain bola liga Eropa. Dan seperti itu seterusnya saya dapati semua hal baru dalam perantauan mencari cahaya ini.

Harusnya saya menerima kenyataan sebagai seorang perantau di negeri orang, tidak akan lepas dari yang namanya status minorotas. Saya tekadkan dalam hati untuk bersaing seberat-beratnya demi mengharumkan nama bangsa dan seterusnya. Sebuah fenomena yang sangat baru saya temui yaitu bom yang hampir ada di setiap bulannya, razia polisi yang kadang menangkap mahasiswa asing cuman karena tidak bawa paspor, kebiasaan naik bus setiap hari, dan seterusnya.

Warna negara maju ini begitu khas dengan sesuai yang diceritakan senior yang menjemput saya di bandara waktu itu. Perlahan mulai terbiasa untuk mengguanakan sapa-sapa tukar basa-basi berbahasa setempat.

Sekarang saya pertegas dalam proses saya ini. Kertas kehidupan saya tidak akan kubiarkan mengusam. Apa yang pernah saya niat, tidak akan saya biarkan termakan tipu-tipu dunia yang menggiurkan. Daya seorang santri harusnya selalu bisa lebih bisa dari apa yang dibisa oleh yang mengajari.

Santri yang tengah menempuh suatu asa di negeri taklukan Amr bin Ash ini, agar bisa merasakan yang namanya pulang ke tanah kelahirannya, cita-cita saya harus berusaha sejalan searah dengan kecintaan saya pada setiap yang dicintai, tekun baca dan berpikir wajib searah sejalan dengan takdir poros inti dari Tuhan yang diberikan.

Jika Qais gila, semoga Layla menggantinya untuk mencinta tanpa batas. Jika teman-teman di Indonesia hanya bisa cemburu dan masih lanjut bermimpi, semoga saya bisa mewakili mereka terlebih awal. Mereka pasti belum tahu kalau rindu sangat jauh berbeda aromanya di negeri orang dan di sana. Rindu di Mesir aromanya salju, Bung. Kalau di sana mungkin sebatas aroma hujan yang tak sampai menghapus kenangan bersamanya?

 

Sel, 24 November 2020. _Abdil (dedikasi untuk seorang teman lama.)

Sabtu, 06 Februari 2021

Bahagia

  

 

Kata orang, untuk menjadi bahagia kita harus mengikuti segala ritme kehidupan

Karena hanya dengan mengikuti ritme kehidupan

Kita dapat diterima di tengah milyaran insan

 

Kata orang lagi, untuk menjadi bahagia. Segala asa mesti dipenuhi

Pun segala ingin mesti dimiliki

 

Dan masih kata orang, bahwa jika ingin bahagia

Hidup harus dipenuhi dengan segala hal positif

Dan sama sekali tidak ada celah untuk gagal, sakit, dan segala hal buruk lainnya.

Haha, untuk bahagia saja terlalu banyak aturan

Aneh sekali pikirku, tapi lebih aneh aku yang terpengaruh dengan kata orang

 

Setiap orang berlomba mencari bahagia

Setiap insan bersaing menuai bahagia

Kenapa bahagia sulit sekali dicari sih

 

Hingga, lambat laun aku tersadar

Bahwa bahagia, hanya punya satu aturan dasar

Sadar.

Sadar, bahwa kita hanya manusia biasa yang terbentuk dari elemen baik dan buruk

Sadar, bahwa segala sesuatu memiliki alasan

Dan sadar, bahwa bahagia sejatinya ada dalam hati, dalam hati setiap insan

Di sana, di ruang gelap yang selalu kau elak

Jauh di dasar, menunggu untuk disadari

Penulis: Nanda Dwi Sabriana

Jumat, 29 Januari 2021

Memahami Hadis Khoirul Qurun dalam Perspektif Sosiologis


Rasulullah saw. pernah bersabda, yang artinya: 

“Telah diberitahu kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Syuja bin Makhlad dan lafaz milik Abu Bakr, dia berkata; Telah diberitahu kepada kami Husain yaitu Ibnu Ali Al-Ju'fi dari Za'idah dari As-Suddi dari Abdullah bin Al-Bahi dari Aisyah berkata: Seseorang bertanya kepada Nabi saw.; Siapakah sebaik-baik manusia? Kemudian  beliau menjawab pertanyaan tersebut: "Sebaik-baik manusia ialah  generasi saat aku di masanya, kemudian generasi kedua, dan generasi ketiga." (https://carihadis.com/Shahih_Muslim/4604).

Bermula dari definisi, sosiologi menurut Profesor Dr. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, SH., “Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tatanan sosial dan proses sosial, termasuk pembahasan tentang perubahan sosial yaitu norma atau norma sosial, sistem sosial, kelompok, golongan. Semua aspek kehidupan politik, kehidupan hukum Hubungan sosial dan timbal balik dengan kehidupan beragama, kehidupan beragama dan kehidupan ekonomi, dll.(Bab 1, n.d.). Secara fundamental, So.siologi menurut Amir B. Marvasti, “ilmu sosial yang menggali kompleksitas kehidupan manusia berdasarkan pengalaman(Nurdin, 2004).

Kehidupan sosial umat Islam tentu saja berlandaskan dari perbuatan, perkataan serta ketetapan dari Rasulullah saw. sebagai tauladan. Tokoh sekaligus panutan tersebut ialah manusia biasa yang diutus oleh Allah swt. menjadi kekasih-Nya, sama saja seperti kita manusia yang terikat oleh ruang dan waktu. Di masa lalu tentu saja ada hal-hal yang terbentuk dari kontruksi sosial yang melatarbelakangi adanya sebuah hadis atau yang biasa dikenal dengan sebutan asbabul wurud. Para sahabat pun menyaksikan atau mendengarkan langsusng peristiwa itu. Berdasarkan sejarah, Rasulullah saw. dan para sahabat berhasil menguasai daerah-daerah di jazirah Arab dalam penyebaran agama Islam. Perkembangan tersebut terjadi sangat pesat sehingga membawa pengaruh terhadap perubahan sosial masyarakat. Sebagaimana firman Allah swt. pada QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya : “Sungguh, Allah swt. tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.

Dalam 23 tahun, Rasulullah saw. menyebarkan dakwah Islam; menerima, menyampaikan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran; menjadi petunjuk jalan bagi sahabat; ia juga berperan sebagai hakim dan bertanggung jawab mengadili berbagai permasalahan umat. Ia juga menjabat sebagai kepala negara dan pemimpin masyarakat yang heterogen. Rasul saw.  mengatur dan menetapkan sistem hukum untuk mempersatukan umat Islam, Kristen dan Yahudi, mengatur ekonomi, dan masalah lain yang berkaitan dengan masalah sosial(Sunardi, 2019). “Sahabat Rasulullah adalah orang yang paling dekat dan sungguh mulia berada di sisi Rasulullah saw. Bahkan mereka termasuk orang yang paling semangat beribadah sepanjang hari dan sepanjang malam” (Taufik Alkhotob, 2018).

Jika dikaitkan dengan hukum, maka “hadis tentang khair al-qurun tersebut menjelaskan bahwa perubahan sosial berhubungan dengan amaliah, di mana ada pada masa sahabat, tapi belum ada pada masa Rasulullah saw. hidup. Begitu juga akibat perubahan sosial terdapat permasalahan, lalu ditetapkan hukumnya di masa tabi’in, tapi dijumpai pada masa Rasulullah saw. dan sahabat hidup. Hadis khair al-qurun menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak dapat dielakkan, sebab perubahan struktur sosial dan perubahan itu dari sistem kelompok masyarakat tertentu. Kemaslahatn umum bersifat dinamis dan fleksibel yang berkaitan dengan perubahan sosial, yang merupakan diantara ciri-ciri dinamis seperti ketetapan Rasulullah saw. atas sebaik-baik tiga masa atau generasi. Perubahan sosial akan mempengaruhi ide dan nilai yang ada di masyarakat. Hukum dan perubahan sangat berkaitan dengan bagaimana pemahaman dan interpretasi atas nash-nash dan kemudian memperhatikan realitas sosial” (Nasution & Hasbi, 2018).

Penulis: Septiana Melala Gayo

REFERENCE

 

Bab 1. (n.d.). BAB. 1 SOSIOLOGI INDUSTRI A. Pengertian Sosiologi. 1–241.

Nasution, I., & Hasbi, R. (2018). Hadis “Khair Al-Qurun” Dan Perubahan Sosial Dalam Dinamika Hukum. Jurnal Ushuluddin, 26(1), 69. https://doi.org/10.24014/jush.v26i1.4042

Nurdin, D. A. (2004). Sosiologi Organisasi: Pengertian, Sejarah Lahirnya, Ruang Lingkup, Manfaat dan Metode Penelitian. Sosiologi Organisasi, 1–36.

Sunardi, D. (2019). Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta. Industri.Ums.Ac.Id, 82–94. https://www.industri.ums.ac.id/

Taufik Alkhotob, I. (2018). Kaderisasi Pada Masa Rasulullah. Jurnal Da’wah: Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan, 1(01), 35–63. https://doi.org/10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v1i01.4

 

Mindfulness: Sebuah Teori Psikologi tentang Khusyuk dan Syukur

Apa itu mindfulness?

Sebagai seorang umat beragama, tentunya kita mengenal istilah khusyuk dan syukur. Sebuah istilah yang banyak dikaitkan dengan keadaan batin seseorang. Katanya, untuk menjadi seorang hamba yang dekat dengan tuhannya, kita harus pandai bersyukur, pun khusyuk saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Siapa sangka, dalam ilmu psikologi ternyata terdapat sebuah istilah yang dapat mendefinisikan istilah syukur dan khusyuk dengan sangat baik.

Mindfulness adalah sebuah istilah yang merujuk pada praktik untuk menyadari kenyataan dan realitas yang benar-benar terjadi pada masa kini, sekaligus hadir dan menerima segala lika-liku yang melingkupinya apa adanya (present moment). Jika diperhatikan secara seksama maka akan terlihat pola hubungan antara praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk yang ditekankan dalam istilah keagamaan,  yaitu kesadaran penuh untuk menikmati segala peristiwa yang hadir dengan hati lapang untuk menerimanya. Dalam ilmu psikologi, praktik mindfulness ini penting untuk dilakukan bagi setiap individu karena memiliki beragam manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup praktisinya.

Harvard University pernah melakukan riset tentang praktik mindfulness ini. Riset tersebut kemudian berkesimpulan bahwa seseorang yang sering berlatih mindfulness dalam realitas kehidupannya, cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Di mana kemungkinan mereka terserang dan terjerembab pada pikiran negatif, stres, hingga gangguan kecemasan lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak. Saya dibuat kagum saat menyadari pola hubungan dari praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk dalam agama.

Dalam perintah agama dijelaskan bahwa ketika seseorang mampu untuk bersyukur atas segala nikmat yang dimilikinya, maka Tuhan menjamin akan menambah kenikmatan tersebut. begitupun sebaliknya, ketika kita tidak mampu menyemai rasa syukur, kita akan ditimpa dengan kemalangan.

Pada awalnya, saya memaknai term tersebut dengan sangat sederhana, pemahaman yang cenderung materialistis. Saya memahami, bahwa ketika Tuhan memberikan saya nikmat sebuah mobil, kemudian saya mensyukuri nikmat tersebut maka tuhan akan menambah nikmat saya menjadi sebuah mobil dan dua buah sepeda motor misalnya. Begitu seterusnya. Maka tak heran, jika dalam realitas sosial, kebanyakan dari manusia berhenti dan merasa lelah untuk mensyukuri segala realitas yang tidak sesuai dengan keinginannya karena merasa semuanya terlalu sia-sia dan tak kunjung menemukan titik akhir.

Anggapan tersebut tak sepenuhnya keliru. Karena dalam beberapa kondisi, penambahan nikmat yang dimaksud dapat berupa nikmat material yang secara fisik dapat dilihat dan dirasakan. Kendati demikian, jika kita perhatikan pola dari praktik mindfulness sendiri, dapat kita sadari bahwa dengan melakukan praktik mindfulness, Kita dapat merasakan sebuah kenikmatan yang datang dari dalam diri, terlepas dari segala nikmat materi yang datang dari luar. Seperti ketenangan batin, terhindar dari distraksi (pikiran yang terbagi) dalam berpikir, peningkatan produktivitas, dan kemungkinan untuk mengalami stress dan depresi yang lebih kecil.

Selain itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard Bussiness school menyatakan bahwa untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Seorang individu setidaknya perlu melakukan praktik mindfulness atau refleksi seperti  meditasi dan lain-lain sekurang-kurangnya 15 menit setiap harinya. Dari studi tersebut juga kemudian disimpulkan bahwa seseorang yang terbiasa melakukan refleksi atas kehidupan dan segala aktifitas dirinya, mengalami kenaikan produktivitas hingga 23%. Kendati demikian, di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, umat manusia digadang-gadang justru semakin sulit untuk dapat melakukan praktik mindfulness ini.

Salah satu faktor yang menjadikan seorang individu sulit untuk melakukan praktik mindfulness atau fokus pada situasi kini adalah karena pola pikir manusia yang mudah terdistraksi dengan keadaan lampau maupun mendatang. Pada kasus lain. hadirnya media sosial di tengah kemajuan dan derasnya arus informasi memberi dampak lain terhadap kualitas hidup seseorang, yaitu masifnya praktik membandingan kehidupan yang kita miliki dengan kehidupan individu lain, dan berujung pada tidak mindful-nya (fokus) kehidupan kita sendiri.

Amanda Margaret dari Universitas Diponegoro menjelaskan, bahwa praktik mindfulness setidaknya memiliki 4 komponen utama yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang di antaranya; Memaafkan (forgiveness), Berpikir rasional (rationality), Penerimaan (acceptance), dan Bersyukur (gratitude).

Forgiveness atau memaafkan, berkonotasi pada proses memaafkan segala hal buruk yang tidak sesuai dengan keinginan diri di masa lampau. Pada konotasi ini dinyatakan, bahwa seorang praktisi mindfulness memiliki kecenderungan untuk lebih mampu memaafkan sekaligus bersikap toleran atas segala hambatan serta hal buruk yang terjadi. Di lain sisi, pelaku praktik mindfulness juga dapat melatih kesadaran diri agar dapat bersikap lebih rasional, dan terhindar dari segala perilaku impulsive (tindakan tidak rasional).

Hal tersebut disebabkan oleh latihan mindfulness pada segala aktivitas yang terjadi. Sehingga secara tidak langsung otak dan pikiran kita dilatih untuk menyadari segala tindak-tanduk dan keputusan yang dibuat dalam hidup. Kemudian, praktik ini juga dapat mengantarkan praktisinya pada proses penerimaan dan rasa syukur terhadap segala kejadian yang terjadi. Sehingga praktisinya dapat memaknai dan menerima segala lika liku kehidupan dengan hati lapang.

Dari pengalaman saya bertemu berbagai macam individu. Manusia era modern cenderung mudah untuk mengotak-ngotakkan segala problematika kehidupan. Misalnya musibah yang menimpa dirinya akan dikatakan sebagai sebuah nasib buruk. Begitupun sebaliknya, ketika mendapatkan sebuah keberuntungan, maka dengan mudah menganggapnya sebagai sebuah nasib baik.

Saya pernah membaca sebuah Cerita Rakyat Cina yang menjelaskan tentang nasib buruk dan nasib baik manusia. Cerita rakyat tersebut menjelaskan tentang kemungkinan hadirnya keberuntungan setelah kemalangan. Begitupun sebaliknya . Sehingga apa yang perlu dilakukan oleh seorang manusia hanyalah menjalani segala aktivitas yang ada dengan sebaik-baiknya, dengan cara hadir, utuh, dan fokus pada masa kini.

Praktik mindfulness yang dimaksudkan dengan hidup pada masa kini, sekarang dan saat ini bukan berarti melalaikan masa depan. Dalam praktik mindfulness, manusia dapat mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya, dengan hidup secara maksimal pada masa kini. Sehingga hal tersebut tentunya tidak selaras dengan sikap menyerah dan cenderung pasrah, menyerahkan semua kejadian hanya pada takdir semata, tanpa adanya usaha yang menyertai.

Dari beberapa uraian di atas, dapat kita lihat bagaimana manfaat dan korelasi dari praktik mindfulness dengan sikap khusyuk dan syukur yang ada dalam agama. Bahwa anjuran untuk bersyukur dan khusyuk dalam melakukan suatu kegiatan tidak hanya bermanfaat dan dianjurkan dalam aspek spiritual saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ahli jiwa terkemuka dunia juga menganjurkan agar setiap warga dunia tetap menjaga kewarasan dalam menjalani hiruk pikuk yang ada dengan latihan mindfulness. Praktik tersebut juga memperlihatkan tentang bagaimana kualitas hidup seseorang dapat terjaga di tengah kemajuan zaman seperti saat ini dengan terus menyadari, mensyukuri, dan fokus untuk mengembangkan kualitas hidup kita pada masa kini.

 

Wallahu ‘alam

  Penulis: Nanda Dwi Sabriana

Rabu, 27 Januari 2021

Gugurnya Nasionalisme karena Membela Palestina

Perdebatan yang kerap muncul ketika membahas perjuangan untuk Palestina adalah,  “Mengapa kita membela yang jauh, sementara negeri sendiri saja masih banyak masalahnya. Pernyataan tersebut seharusnya tidak jika kita mengerti esensi perjuangan. Bukankah membantu yang jauh tetap tidak serta merta melupakan yang dekat? Bukankah membantu negara lain juga bukan berarti tidak membantu negeri sendiri? Tidak jarang pula muncul kalimat semacam “Orang-orang yang sibuk membela Palestina, nasionalismenya sudah terkikis.” Namun memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kalimat-kalimat pemicu perdebatan di atas masih sering terdengar hingga hari ini.

Ada satu fase sejarah yang dapat menunjukkan kepada kita bahwa seseorang tidak harus menunggu selesainya urusan (negeri) sendiri untuk membantu yang lain. Fase sejarah tersebut akan mempertunjukkan kepada kita bagaimana Palestina mau memberikan dukungan dan pembelaan kepada Indonesia. Pembelaan tersebut terjadi ketika Indonesia masih dalam masa merintis kemerdekaan, walaupun pada saat itu urusan negaranya sendiri pun sedang porak-poranda.

Pada tahun 1944, sejarah mencatat bahwa Palestina mendukung kemerdekaan Indonesia, hal itu disiarkan melalui muftinya yang bernama Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Tidak berhenti di situ, beliau juga mendesak negara-negara di Timur Tengah untuk memberikan dukungan kepada Indonesia. Hasilnya, pada tanggal 18 November 1946 Dewan Liga Arab menganjurkan negara-negara anggotanya untuk mengakui kedaulatan Indonesia (Hasan, 1990). Padahal pada kisaran tahun 1944-1946 Palestina juga sedang babak-belur memperjuangkan tanah airnya dari tekanan penjajah Zionis yang terus menerus mencuri wilayahnya.

Sejak tahun 1917 ia mengalami penjajahan Inggris lalu berlanjut dengan penjajahan oleh Zionis hingga hari ini. Namun, hal yang dapat dilihat di sana adalah para pendahulu Palestina tidak menunggu urusan negaranya rampung terlebih dahulu untuk mau bergerak peduli terhadap negara lain yang membutuhkan bantuan. Ada perasaan-perasaan kemanusiaan yang dapat digunakan untuk memahaminya.

Lalu apakah Indonesia melakukan hal yang sama? Menarik sejarah lebih jauh ke era sebelum merdeka, pada tahun 1930 melalui pemuda-pemuda visioner dari Jong Islamieten Bond (JIB) yang salah satu anggotanya adalah KH. Agus Salim, mereka menyatakan penolakan akan penjajahan Zionis di tanah Palestina dan bersuara keras untuk membela Palestina. ketika itu masih 15 tahun sebelum Indonesia merdeka, para pendahulu Indonesia juga tetap bergerak memberi bantuan kepada negara lain walaupun negaranya sendiri tengah kalang-kabut memperjuangkan kemerdekaan.

Pada tiga tahun selanjutnya, tahun 1938 Kongres Al-Islam digelar di Surabaya yang diikuti oleh berbagai pergerakan Islam kala itu seperti Muhamadiyyah, Nahdlatul Ulama, Jong Islalmieten Bond, Al-Irsyad, dsb). Kongres ini mengangkat isu Palestina dan selanjutnya membuahkan keputusan untuk mengirimkan do’a dan menggalang dana untuk Palestina, untuk kemudian menyatakan aspirasi bahwa mereka menolak rencana Inggris untuk membagi-bagi wilayah Palestina.

Beberapa hal tersebut adalah bukti bahwa Indonesia sudah sejak lama memiliki kepedulian kepada Palestina. Bagi sebagian orang ada yang berpendapat bahwa berdoa dan menggalang dana sudah hal yang lazim dilakukan, namun melihat sejarah tentu harus menempatkan diri di mana kejadian itu terjadi. Tahun-tahun tersebut, Indonesia masih belum terbentuk, masih dijajah oleh Belanda lalu Jepang, namun alih-alih menutup mata dari kejadian di luar bangsanya, para pendahulu mencontohkan bagaimana memberikan kepedulian saat kondisi bangsa sendiri sedang tidak ideal.

Sekecil apapun pergerakan yang dilakukan, bahkan meskipun hanya dengan pernyataan sikap penolakan atas penjajahan hal tersebut merupakan perwujudan dari sebuah keberpihakan. Keberpihakan sebagaimana dahulu semut-semut yang begitu kecilnya membawakan air untuk meredam api yang membakar Nabi Ibrahim, bukan sesuatu yang besar memang, tapi tentu ada perhitungan dan menentukan di sisi mana mereka berpihak.

Melihat catatan sejarah tersebut, maka pencibiran kepada seseorang yang membantu Palestina dianggap tidak nasionalis rasanya justru merupakan ahistoris. Buktinya pendahulu Indonesia di samping berjuang untuk negaranya juga tetap bergerak membantu negara lain (Palestina). Bukankah mereka para pejuang kemerdekaan adalah orang yang nasionalis? Dan lihatlah, menjadi nasionalis bukan berarti tidak peduli sesama manusia di negara lainnya. Memang justru di sanalah poin pentingnya. Indonesia memiliki kehebatan karena mau peduli. Dengan hal ini tentu saja mengartikan jika kepedulian itu hilang, kehebatan itu terkikis pula.

Hal-hal lain yang tak jarang ditanyakan orang adalah, “Mengapa mau bergerak untuk Palestina?”.  Tentu ada banyak alasan untuk membuat kita bergerak, di antaranya:

a.       Alasan aqidah. Sebagai muslim, Palestina merupakan hal yang menancap erat dalam aqidah. Jantung Palestina berada di Al-quds dan di sana terdapat kiblat pertama bagi umat muslim, Masjid Al-aqsha. Maka sebagai seorang muslim, membela Palestina sama halnya dengan memperjuangkan aqidahnya sendiri. Selain itu dalam firman Allah pada QS: Al-Isra ayat 1, menyatakan bahwa Allah memperjalankan Rasullah pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-aqsha, lalu selanjutnya menuju Sidratul Muntaha. Jika melihat tafsir yang dikemukakan oleh Sayid Quthb, hal ini memiliki makna Allah ingin menegaskan bahwa Rasulullah adalah pewaris dari tempat suci para nabi sebelumnya, di mana  Allah hendak menunjukkan bahwa seharusnya umat muslim memiliki kepedulian di sana. Lihat saja, bukankah mudah sekali bagi Allah memperjalankan Rasulullah dari Masjd Al-haram langsung menuju Sidratul Muntaha? Namun untuk mengikatnya dalam aqidah, Allah sertakan Masjid Al-Aqsha dalam perjalanan Rasulullah Muhammad SAW.

b.      Alasan kemanusiaan. Hal ini barang tentu sudah jelas. Masalah Palestina berkaitan dengan hak asasi manusia yang telah dilanggar. Banyak rumah yang digusur, anak-anak tidak bersalah yang ditembak, para jurnalis dan tenaga medis yang direnggut nyawanya di tengah bertugas.

c.       Alasan keterkaitan sejarah. Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa Indonesia dan Palestina sudah memiliki keterkaitan saling membantu di masa lalu. Hal ini tentu bermakna positif, maka perlu untuk terus dipertahankan.

Melihat alasan-alasan tersebut, maka tentu Palestina adalah tanggungjawab bersama. Mungkin rasanya hari ini terdengar aneh untuk mengatakan jika persoalan Palestina juga merupakan tanggungjawab kita. Sebabnya memang dari hari ke hari persoalan Palestina dipersempit maknanya. Sehingga tidak heran, banyak yang merasa Palestina begitu jauh, padahal ia adalah detak yang beriringan dan menyatu dengan Indonesia bersama islam.

Nasionalisme tidak akan hilang karena membela Palestina, bahkan para pendahulu sudah banyak menyontohkan bagaimana pembelaan yang selayaknya. Saat kita mengulurkan tangan untuk membela Palestina, kita berarti tengah menuntaskan salah satu tanggungjawab kita. Karena jika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka Palestina adalah bagian dari aqidah yang harus diperjuangkan. Ya, sesungguhnya Palestina sedekat itu.

 

Penulis: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta

  e-mail : hanifahrf31@gmail.com

 

 

 

Referensi:

Hasan, M. (1990). Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Jakarta: Bulan Bintang.

Quthb, S. (2004). Tafsir Fii Zhilalil Qur'an: Jilid 14. Jakarta: Gema Insani.