Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 02 Mei 2021

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Rangkaian Acara Dalam Rangka Memeriahkan Sersantara (Semarak Santri Nusantara)


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (02/05)-Badan Pengurus Harian (BPH) kembali mengadakan program kerja dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini dinamakan Semarak Santri Nusantara atau biasa disingkat dengan Sersantara. Sersantara merupakan kegiatan rutin tahunan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang sampai saat ini telah mengnjak usia 13 tahun. Selama itu, rangkaian acara pun banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan

Sersantara tahun ini memiliki serangkain kegiatan. Dimulai dari perlombaan MTQ, MQK, dan Pidato bahasa Indonesia tingkat nasional yang dimulai dari tanggal 24 Maret-22 April. Perlombaan-perlombaan tersebut dilaksanakan secara online dikarenakan kondisi dan situasi sekarang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara offline. Pada cabang lomba MTQ dan Pidato diambil kejuaraan 1, 2 dan 3 serta favorit. Sedangkan, lomba MQK dilakukan dalam dua tahap. Pertama, babak penyisihan. Kedua, babak final yang diadakan pada Kamis (29/04). Selain itu, Bakti Sosial santunan anak yatim di panti asuhan Bintan Sa'adillah Al-Rasyid Krapyak Yogyakartya turut memeriahkan rangkaian acara Sersantara 2021

Acara puncak sekaligus penutup dari Sersantara ke-13 yaitu tabligh akbar dengan tema "Ramadan Berkah Bersama Milenial Berkualitas". Yarsa Arnanda, selaku ketua panitia mengaku mengambil tema tersebut dilatar belakangi oleh kegelisahan  sebagai generasi millennial yang hidup di era dengan perubahan cepat.

“Generasi milenial adalah generasi yang canggih, jika dididik dengan benar maka akan menjadi generasi emas, tetapi kalau tidak  dididik dengan baik maka akan menjadi masalah”. Ungkapnya

Tabligh akbar tersebut diisi oleh K.H Ulil Abshar Abdalla. Beliau merupakan tokoh intelektual muslim yang banyak digemari generasi millennial.

“Alhamdulillah Kegiatan Sersantara tahun ini telah selesai dan berjalan dengan baik. Hal tersebut tidak lepas dari campur tangan rekan-rekan panitia yang sudah memberikan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk menyukseskan acara ini. Selain itu, kesuksesan acara ini juga tidak terlepas dari peran peserta lomba, lembaga panti asuhan, serta para jamaah tabligh akbar yang sangat antusias terhadap kegiatan Sersantara tahun ini. Kurang lebih ada sekitar 300-400 partisipan yang telah berpartisipasi baik dari peserta lomba, lembaga panti asuhan, dan para jamaah tabligh akbar untuk mensukseskan Sersantara tahun ini. Saya mewakili rekan-rekan panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada para partisipan yang sudah menyukseskan acara ini”. Imbuhnya ketika diwawancarai

Hal-hal yang Tidak Bisa Mahasiswa Hindari Selama Pandemi

 

2020 nampaknya akan menjadi salah satu tahun yang akan selalu diingat oleh semua orang. Banyak hal baru terjadi di 2020, salah satunya yaitu virus COVID-19 yang masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 dan mulai mengubah tatanan kehidupan sebelumnya. COVID-19 atau Corona sendiri sebenarnya pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan yang kemudian menjadi wabah dan menyebar ke lebih dari 100 negara. Salah satunya Indonesia, yang pada saat awal kemunculannya mematahkan mitos bahwa Indonesia “kebal” dari Corona. Kehadirannya pun memaksa manusia untuk mengubah sistem kehidupan yang semula ada. Banyak sektor yang kemudian terpengaruh oleh adanya virus ini, salah satunya pendidikan.

Persebaran virus Corona yang cenderung cepat mendorong pemerintah harus segera membuat kebijakan baru untuk meminimalisir persebaran tersebut. Merespon hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim pun merumahkan seluruh siswa untuk belajar di rumah. Sebenarnya tidak hanya pelajar yang “dirumahkan”, guru, karyawan, dan pekerja lain pun harus tetap di rumah sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus. Corona bukan hanya tantangan untuk Wuhan, tapi untuk semua manusia di dunia ini.

Bagi mahasiswa sendiri, belajar di rumah pun merupakan suatu tantangan baru. Setelah terbiasa dengan kesibukan di kampus baik itu tugas kuliah yang tidak ada habisnya maupun kegiatan organisasi yang tidak ada hentinya, kami para mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan hal-hal yang serba “di rumah”. Banyak hal baru yang harus disesuaikan untuk menyelaraskan kehidupan kembali, meskipun sebenarnya kehidupan sebelumnya juga tidak laras-laras amat. Beberapa hal yang sangat sulit dihindari mahasiswa selama pandemi yaitu:

Kolaborasi Jadwal Kuliah dan Jadwal Rumah

Hal yang pertama yaitu harus bisa menyeimbangkan antara jadwal rumah dan jadwal kuliah. Mahasiswa yang identik dengan kebiasaan merantau, harus beradaptasi kembali dengan sistem belajar yang sebelumnya mereka lakukan di tanah rantau. Baik itu antar kota, antar provinsi, antar pulau, atau bahkan antar negara.

Kuliah di rumah dengan jadwal yang pastinya tidak bisa diganggu gugat membuat mahasiswa harus pintar-pintar membagi waktu untuk bisa fokus belajar. Padahal di rumah juga ada kerjaan yang wajib dikerjakan. Siapa pun kita, anak laki-laki atau perempuan kalau di rumah pastinya ada kewajiban untuk membantu pekerjaan orang tua, mau itu bersih-bersih, memasak, mencuci, atau pekerjaan yang lain. Kecuali untuk mereka anak sultan sih. Intinya, tugas kuliah yang terus berjalan tanpa henti dan pekerjaan rumah yang terkadang tidak bisa diajak kompromi harus kita kolaborasikan agar target kuliah tetap bisa tercapai.

Kualitas Pembelajaran

Tantangan selanjutnya yaitu kualitas dari pembelajaran itu sendiri. Kuliah online sejatinya memberi jarak ruang dan waktu, sehingga proses pembelajaran tidak akan leluasa sebagaimana di kelas. Materi yang minim penjelasan dan tingkat fokus yang kadang naik turun membuat suasana pembelajaran terasa menjemukan. Alhasil diskusi yang tercipta sebatas “iya pak, baik bu, terimakasih”.  Walaupun sebenarnya ruang keaktifan terbuka sama lebarnya antara kuliah di kelas maupun di rumah, tapi yo tetap saja perbedaan ruang dan waktu itu membuat kita benar-benar berjarak fisik dan pikiran.

Belum lagi derita menjadi anggun alias anak gunung yang sinyalnya kadang-kadang tidak bisa dinegosiasi, padahal kalau tidak ada sinyal kan susah juga mau lancar ikut perkuliahan. Apalagi kalau kalian punya adik kecil, pasti tau dong rasanya dirusuhi anak kecil. Kuliah di rumah membuat kita mempertanyakan kembali kualitas sebagai mahasiswa yang katanya agent of change.

Susahnya cari referensi

Selain dua hal di atas, permasalahan yang sama pentingnya yaitu minimnya referensi yang kita dapatkan. Kalau di kampus sudah disediakan perpusatakaan lengkap dengan fasilitas nyaman untuk mengerjakan tugas. Maka di rumah, kita dituntut untuk pandai mencari buku-buku online sebagai rujukan untuk mengerjakan tugas. Meskipun buku pdf sudah sama bertebarannya dengan bintang kecil, namun tetap saja buku fisik lebih banyak dibutuhkan ketika mengerjakan tugas, pun karena tidak semua buku ada versi pdf-nya.

Terlebih, buku fisik memberi kenyamanan tersendiri bagi beberapa orang. Bisa menghirup aroma bukunya, tidak membuat mata sakit untuk dibaca lama-lama, dan tentunya bisa diberi tanda di bagian yang kita inginkan. Belum lagi mereka yang mengambil jurusan dengan beberapa mata kuliah praktikum. Sangat menyenangkan bukan menyiapkan praktikum, mengerjakan praktikum, dan membuat laporan praktikum sendiri di rumah.

Yang Patut Disyukuri

Beberapa hal di atas memang terasa berat untuk saat ini, namun yang harus kita sadari adalah bahwa kita menjadi punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kita juga bisa bebas ke kamar mandi tanpa antre seperti di kampus, sistem pencernaan pun sangat terjaga ketika di rumah, tidak seperti di kos biasanya. Selain itu, pasti ada hikmah yang dapat kita petik dari adanya virus ini untuk kita jadikan evaluasi di kemudian hari.

Hal-hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari takdir untuk kita jalani. Selain melatih kesabaran, tentunya juga melatih diri kita untuk selalu siap mengahadapi situasi dan kondisi apapun. Melatih kita untuk bisa sigap menghadapi apa yang terjadi di depan kita. Setiap zaman kan memang mempunyai tantangan yang berbeda-beda. Sebagai agent of change, siap berubah menjadi lebih baik itu utamanya. Masalah pikiran pusing, tekanan batin yowes jalani saja. 

Oleh: Alfa Puspita Nahara

Sabtu, 06 Maret 2021

Pendidikan sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

 

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa pendidikan tinggi-tinggi itu tidak perlu, apalagi bagi seorang perempuan. Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh nantinya juga di dapur kerjanya, ngurus anak dan suami. Perkataan seperti itu biasanya dikatakan oleh orang-orang terdahulu, bahkan mungkin orang-orang di sekelililng kita juga pernah mengatakannya. Pemikiran-pemikiran close minded seperti itu hanya akan menurunkan kualitas negara kita.

Negara Indonesia banyak memiliki perempuan cerdas dengan pendidikan tinggi bahkan sampai menjadi Doktor. Salah satunya yaitu Dr. Hj. Oki Setiana Dewi, S.Hum, M.Pd., yang mana pada tanggal 23 Oktober 2020 menyelesaikan Ujian Promosi Doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu ia juga sebagai pendakwah, dan merupakan pimpinan Yayasan Maskanul Huffadz.

Hal tersebut membuktikan bahwa seorang perempuan pun dapat memiliki gelar tinggi, bahkan dapat memberi banyak manfaat pada banyak orang karena ilmu yang dimilikinya. Dan tidak hanya sebatas melayani suami, anak-anaknya lalu di dapur untuk sehari-harinya. Zaman sekarang, banyak perempuan dengan pendidikan tinggi yang sukses di bidangnya. Dengan begitu kita tidak perlu bingung untuk menjadi sukses juga seperti mereka, dengan meniru prosesnya untuk menjemput pintu sukses di kemudian hari.

Pandangan orang-orang terkait perempuan sekarang sepertinya mulai berubah, akan tetapi memang sedikit orang yang menyetujui perempuan menjadi “wanita  karir” karena gila bekerja. Masih banyak pula anggapan seorang lelaki yang berpikiran bahwa hanya laki-laki yang pantas mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja. Padahal sejatinya, seorang perempuan juga manusia yang sadar akan pentingnya pendidikan. Tidak sedikit perempuan yang memiliki cita-cita tinggi dengan menyelesaikan pendidikannya dan sadar bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban.

Wajar apabila banyak orang beranggapan pendidikan tinggi bagi perempuan tidaklah penting, karena mungkin faktor satu dan lain hal yang menjadikan close minded seperti itu tertanam pada benak seseorang. Tersadar juga bahwa setiap zaman memiliki perbedaan dalam segala aspek kehidupannya. Kita sebagai generasi milenial, terutama bagi seorang perempuan harusnya dapat berfikir lebih baik dari pemikiran-pemikiran orang terdahulu.

 Sekarang sangat terlihat dengan jelas makna pentingnya pendidikan, karena apabila pendidikan kita rendah sudah dapat dipastikan akan mengalami kesusahan dalam banyak hal salah satunya dalam hal pekerjaan. Pasti akan ada perbedaan antar yang hanya lulusan sekolah dasar dan perguruan tinggi, walaupun ijazah bukan sebagai jaminan akan kesuksesan. Perlu disadari bahwa pendidikan sangat dibutuhkan bagi setiap perempuan karena akan memberikan banyak manfaat yang jauh lebih berharga dari sekadar formalitas, berikut beberapa alasan terkait pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan yaitu :

Pertama, membentuk pola pikir yang kritis. Merupakan salah satu alasan utama pendidikan sangatlah penting, karena pola pikir seseorang akan terbentuk melalui pendidikan. Pola pikir yang baik akan membuat seorang perempuan dapat berfikir kritis terhadap sesuatu dari berbagai sudut pandang, sehingga mampu memutuskan segala sesuatu dengan pemikiran yang matang tanpa mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

Kedua, wujud bakti kepada orang tua. Dikatakan seperti ini karena pendidikan juga dapat menjadi wujud bakti seseorang terhadap orang tuanya, salah satunya dengan membanggakan mereka. dapat membanggakan orang tua dengan berpendidikan tentu memberi kesempatan pada setiap perempuan untuk mengangkat derajat orang tua maupun keluarganya sehingga bisa menjadi penopang kehidupan orang tuanya dimasa depan.

Ketiga, sebagai bekal untuk mendidik anak-anaknya kelak. Menjadi seorang ibu di kemudian hari menuntut seorang perempuan untuk dapat mendidik anaknya dengan baik, apalagi seorang anak tentu akan mencontoh ibunya (yang menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya daripada ayahnya). Disinilah pendidikan yang diperoleh wanita akan  menjadi sarana positif untuk dapat mendidik dan berkontribusi bagi tumbuh kembang anak-anaknya kelak.

Keempat, menjadi bukti bahwa perempuan adalah sosok yang hebat. Pendidikan yang dimiliki wanita akan mencerminkan bahwa wanita merupakan figur yang hebat, karena mampu berkontribusi bagi masa depan dunia dengan mendidik calon-calon generasi yang akan memimpin dunia kelak. Satu hal yang juga  harus diingat, pendidikan mampu memutus rantai kemiskinan banyak orang dan menjadi sarana untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukanlah hal yang tidak penting bagi seorang perempuan, karena dengan pendidikan yang baik akan membawa dampak baik pula untuk masa depannya. Tentu tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk banyak orang. Apalagi seorang perempuan akan menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya kelak, yang mana tanpa limpahan ilmu darinya kemungkinan besar pertumbuhan anaknya kurang baik. Karena anak cerdas terlahir dari rahim seorang ibu yang cerdas juga. Tidak hanya dalam hal menjadi seorang ibu, pendidikan juga memiliki banyak manfaat dalam segala hal.

Penulis: Rifqoh Yuliantika, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selasa, 02 Maret 2021

Musik dalam Sudut Pandang Agama

 


Hiburan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia untuk menyegarkan pikiran. Pada hakikatnya manusia tidak selalu mengalami atau menghadapi suka, adakalanya manusia mengalami keadaan duka. Maka dari itu manusia membutuhkan sebuah hiburan untuk menyegarkan atau me-refresh otak dari banyaknya beban pikiran yang dialaminya.

Musik merupakan salah satu media untuk meredakan stres. Sebuah penelitian yang berjudul The Effect of Music and the Human Stress Response yang dimunculkan oleh Thoma dan kawan-kawan menyebutkan bahwa musik memiliki pengaruh positif terhadap sistem saraf pusat sehingga ampuh dalam meredakan stres. Efek itu lebih cepat dibandingkan suara hutan atau percikan air yang dianggap menenangkan. Musik itu suara yang berirama. Suara yang berirama bisa dihasilkan tanpa alat  juga bisa disertai alat musik.

Sementara itu ada beberapa ketentuan dalam mengkategorikan bahwa musik itu dibolehkan atau dilarang. Meskipun banyak yang meyakini bahwa musik bisa membangun kesadaran masyarakat atas kondisi sosial yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian jangan sampai musik itu mengantarkan manusia kepada sesuatu yang buruk. Secara umum, ketika musik membawa kepada kemaksiatan dan kesia-siaan, saat itulah mulai diharamkan.

Tuhan menciptakan manusia untuk membangun bumi dalam artian membangun peradaban dengan unsur kebenaran, kebaikan, keindahan. Kebenaran menghasilkan ilmu, kebaikan menghasilkan moral, dan keindahan menghasilkan seni. Islam itu adalah agama fitrah sesuai dengan fitrah manusia (bawaan manusia). Dalam pandangan Islam, musik tidak semata-mata digolongkan sebagai sesuatu yang haram. Dalam Al-Qur’an sendiri  tidak dijelaskan bahwa musik itu termasuk dalam kategori yang halal atau haram.

Secara fikih, hukum mendengarkan musik memang tidak mutlak atau hitam-putih.  Akan tetapi terdapat beberapa pendapat dari para sabahat mengenai boleh atau tidaknya mendengarkan maupun memainkan musik. Diantaranya Abdullah bin Umar mendefenisikan musik itu haram karena pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw. sedang menaiki unta, beliau mendengar suara seruling, lalu nabi  mempercepat laju untanya, ketika sudah jauh dan sudah tidak terdengar, Nabi saw. melepas jarinya dari kedua telinganya. Sedangkan menurut pendapat Abdullah bin Abbas tidak haram.

Ketika An-Nabilisy mengkaji semua tentang musik, banyak hadis yang riwayatnya lemah. Sehingga tidak bisa dijadikan rujukan pasti untuk menetapkan sebuah hukum. Dan ternyata dalam pandangan An-Nabilisy semua hadis tidak berlaku secara menyeluruh melainkan terbatas dalam cakupan objek tertentunya. Oleh karena itu, musik-musik yang haram adalah ketika disertai dengan kemaksiatan seperti mabuk dan zina.

Masyarakat sering kali mendefinisikan musik itu sebagai sesuatu  yang haram karena dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.  Contohnya, musik barat yang menjadi fenomenal atau musik korea yang telah menjajah kaum muda di Indonesia. Lirik yang diucapkan dalam musik tersebut terkadang memiliki makna yang dapat menyesatkan. Karena tak banyak yang mengetahui artinya, sekalipun ia mengetahui arti dari lirik tersebut ia tetap akan menyenangi musik itu. Maka pentingnya mendudukkan kembali musik pada dasarnya adalah media. Sebagai sebuah media, musik tidak bisa dihukumi apa-apa.

Sejatinya tidak ada larangan dalam hal bermusik, sama seperti seperti suara perempuan,  yang juga bukan merupakan aurat. Tetapi kalau sudah menyimpang dan menimbulkan hal-hal yang bisa mengantarkan seseorang menjauh dari fitrah kesuciannya maka musik diharamkan. Agama hanya melarang  jika dengan bermain dan mendengarkan musik dapat menyita waktu  dengan sia-sia sehingga apa yang penting terabaikan. Contohnya dalam penggunaan pisau. Pisau  menjadi bermanfaat ketika digunakan untuk memotong makanan dan sejenisnya. Dan ia akan menjadi haram ketika digunakan untuk membunuh orang. Semua musik yang mengajak kepada nilai-nilai luhur seperti kemanusiaan, perdamaian, ketulusan, cinta, kesetiaan, dan lain-lain, itu termasuk musik yang baik.

Penulis: Za’im Mahmudy Mujahid-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kamis, 25 Februari 2021

Pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar MoRA-DA Periode I dan II

 


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (24/02)-Badan Pengurus Harian (BPH) melaksanakan salah satu program kerjanya, yaitu MoRA-DA (CSSMoRA Wisuda). Kegiatan ini dilakukan dalam upaya untuk menyemarakkan acara wisuda para wisudawan dan widawati anggota CSSMoRA UIN Sunan Klaijaga Yogyakarta serta penyerahan sertifikat penghargaan. Acara tersebut dimulai pada pukul 13.30 WIB melalui zoom meeting. Sebelumnya,  wisuda dilaksanakan kembali secara online yang berlangsung pada Rabu (24/02) pagi oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Turut diundang pengelola PBSB, wali wisudawan/I, para wisudawan dan wisudawati serta anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogakarta. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan tilawatil Qur’an. Kemudian, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama adalah dari pengelola PBSB. Dalam hal ini, pengelola PBSB yaitu, Prof. KH. Abdul Mustaqim M. Ag dan Ahmad Mujtaba, pada kesempatan kali ini pengelola PBSB belum bisa hadir karena satu dan lain hal.

“Pengelola PBSB mengucapkan salam kepada para wisudawan dan wisudawati, tetap semangat, semoga sikses kedepannya.” Ungkap MC menyampaikan pesan dari pengelola PBSB.

Sambutan selanjutnya dari perwakilan wisudawan/I oleh Muhammad Mundzir. Beliau menuturkan  ucapan selamat kepada wisudawan dan wisudawati, ucapan terima kasih kepada Kemenag RI yang telah memfasilitasi, pengurus CSSMoRA, pengelola PBSB dan para dosen, ucapan maaf selama studi dan interaksi bila ada khilaf dan salah, dan terakhir yaitu permohonan doa restu untuk langkah studi selanjutnya, baik itu dalam hal akademik, karir atau jenjang pelaminan.

“Untuk semuanya kami sangat bersyukur bisa sampai di detik ini”. Ungkap pria lulusan predikat tercepat terbaik itu.

Beliau juga berharap semoga CSSMoRA tetap jaya, tetap konsisten untuk melaksanakan kegiatan seperti ini, cepat menyusul dan cepat untuk memikirkan masa depan.

“Semoga perjalanan dan perjuangannya dicatat sebagai amal shalih dan diridhai oleh Allah swt., semoga ilmunya senantiasa bermanfaat bagi diri pribadi, masyarakat, nusa dan bangsa”. Ujar H. Rosaidi S. Ag yang merupakan perwakilan wali wisudawati dari saudari Nur Azka Inayatussahara.

Kemudian, rangkaian selanjutnya penyerahan sertifikat pengahargaan secara simbolis. Acara ini ditutup dengan doa dan foto bersama. (Melala)

 

Selasa, 16 Februari 2021

Tahun 2020 Bukan Sekedar Angka

 


2020 menjadi tahun penuh makna

2020 menjadi angka yang tak terlupa

Menjadi ingatan yang tertanam dalam

Sejauh jangkau panjang

 

Akhirnya kita sampai di penghujung tahun

Sejenak, mari kita rangkum segala cerita

Lihatlah…!!

daratan kelabu

Ragaku rapuh tersayat sang waktu

Mari kuperkenalkan, inilah tahun sejarah dengan wajah baru

 

2020 Tahun perjuangan

Kehilangan…

Kehancuran…

Keputusasaan…

Derita dan sengsara datang silih berganti

Luka belum jua mereda

 

Semakin menganga seperti tiada pengobatnya

Tak lelahkah kau mengembara ?

 

Kami semua telah mengenalmu

Kami lalui hari yang kian menyekik dengan keberadaanmu

Semua terbatas, raga kami menjadi bingas

Isak tangis seorang anak menjerit kelaparan

Pegawai dan buruh kehilangan pekerjaan dan terpaksa dirumahkan

Duka manusia yang terpapar virus mematikan

 

Lantas kami

Memenjarakan diri dibalik jeruji, terbalut kekhawatiran dan penderitaan

Adakah ini sebuah teguran atau hukuman?

Sudahkah jiwa ini sadar atas segala dzolim yang semena-mena

 

Entahlah…

Semoga pandemi ini benar-benar berakhir

Kuucapkan terima kasih teruntuk manusia-manusia kuat yang hingga detik ini masih mampu tersenyum

Berdiri kokoh melalui hari, menatap takdir Tuhan


Semoga tahun esok berpihak pada kita

Gantungkan kembali harapan

Didepan sana, masa depan sedang menantimu dengan sebuah senyuman.

Selamat tinggal 2020, tahun yang bukan hanya sekedar angka.

Karya : Dinda Duha Chairunnisa’


Kisah Negeri

Di ufuk cahaya merekah sadar

Melepas perlahan kemilau sang fajar

Beriring syahdu nyanyian alam

Menebar asa di simpang harapan.

Menjadikan negeri semaian penuh angan

 

Negeri ini terlalu pelik untuk dilagukan

Padahal banyak jiwa menggantung harapan, demi secercah kebahagiaan.

Kisah negeri ini yang penuh juang

Hanyalah sebatas dinginnya kenangan

 

Kini manusia egois mengikis sejarah

Membuat yang lain hilang arah

Beribu-ribu do’a kupanjatkan

Meluapkan emosi yang menyeruai

Menebar rindu menuai damai

Semoga luka negeri segera pulih

Untukmu negeri yang kucintai.

Penulis: Nida'ul Azimah, Anggota CSSMoRA Al-Azhar, Mesir

Kamis, 11 Februari 2021

Salam Rindu (Part 2)

 


Setelah tes dan alhamdulillah dinyatakan lulus seperti kedua teman yang lainnya, saya mulai berpikir soal teknisi. “Berangkat?” Lama saya berpikir. Setelah itu saya bertanya pada salah seorang senior pondok.

“Pergilah, Dek! Kesempatan tidak datang 2 kali,” katanya. Kata-kata itu betul-betul menyulut api semangat saya.

Kemudian saya lanjut dengan salat istikharah. Tidak ada mimpi di dalam tidur saya selepas salat istikharah itu. Barulah di malam kedua setelahnya, saya bermimpi turun dari pesawat dan yang saya lihat adalah hamparan pasir. Kutapaki hamparan pasir itu dengan senyum merekah. Di ufuk barat terlihat tenggelam sang surya dengan semburatnya yang jingga. Saya terbangun, dan saya artikan saja bahwa pasir itu adalah gurun pasir di Mesir.

Terus saya tanya orang tua soal biaya, “Bagaimana ini, Bapak, Emak? Siap jiki?”

Bapak lagsung menimpali, “Pergilah, Nak! Kalau kau betul-betul berniat untuk itu, soal biaya jangan kau hiraukan! Bapak sekarang tidak punya uang. Tapi yakinlah rezeki Allah! Percayalah!”

Untuk keberangkatan yang menegangkan, saya terlebih dahulu mengurus visa. Tiga bulan lamanya visa baru selesai, baru bisa berangkat dari kota kecil kelahiran menuju kota Makassar, transit ke Jakarta, dan kemudian ke Kairo. Berbunga-bungalah sang hati. Saya sudah seperti jatuh cinta pada seorang kekasih. Nyatanya saya hanya tak sabar menginjakkan kaki di Mesir.

Dua orang teman yang juga lulus untuk kuliah ke Mesir, ternyata punya kendala dari restu keluaga. Yang satunya tidak disetujui oleh kakek atau mungkin neneknya kalau tidak salah, untuk kuliah terlalu jauh, sehingga dia kuliah di IAIN kota kelahiran. Sedangkan yang satunya tidak direstui oleh hati kecil sebagian anggota keluarga ditambah persoalan beasiswa yang dia lulusi dari sebuah kampus yang didaftari, dan jika tidak diambilnya maka akan berdampak buruk kedepannya bagi angkatan madrasah Aliyah di bawah kami. Jadilah saya hanya berangkat seorang diri mewakili alumni pondok tahun itu.

Di momen itu saya menemukan sebuah makna dari dua forum gaib dari dalam rindu. Satu; keluarga, dua; teman-teman. Saya sebut satu persatu nama-nama orang yang saya sebut teman-teman itu sepanjang perjalanan. Kudoakan agar sukses dan kita akan bertemu kembali dengan setumpuk kisah masing-masing untuk diobrolkan menghabiskan waktu. Sepertinya akan sudah lebih berbobot dengan perkembangan masing-masing yang sudah ada.

Di kota para Karaeng, kota Makassar yang saat malam kerlap-kerlip jalan rayanya membuat jatuh cinta, saya menemukan haru yang tidak akan terlupakan sampai pulang kembali ke kota tercinta itu. Moment keberangkatan, diwarnai oleh dua pihak yang awalnya jelas memberi dampak bangga pada pribadi, yakni keluarga dan teman-teman. Keduanya rela datang dari jauh-jauh, membuat saya haru, bangga, dan cinta dengan mereka. Agak dramatis air mata setengah mati saya larang jatuh, dekap para sahabat sepondok seperjuangan sependeritaan selama tiga sampai enam tahun selama di pondok, membuat saya haru dan agak tidak enak hati untuk tidak total mengincar sukses. Kedua orang tua saya melepas kepergian dengan tegar. Tidak saya lihat adanya lubang dalam pekatnya cinta dan kasih mereka saat itu.

Transit di bandara kota Jakarta, tiga orang teman yang kuliah di Bandung menyempatkan datang ke bandara ibu kota itu hanya untuk melepas kepergian saya. Dikisahkannya perjalanan mereka dari kota Bandung menuju bandara ibu kota melalui kantung mata yang menghitam di bawah mata mereka. Mata-mata yang selalu saya kenali mampu memberi sorot untuk menunjukkan beratnya ilmu dan abdi penggunanya dalam kehidupan ini.

“Mana buku yang kau janjikan, Mas Bro?” saya bertanya pada teman yang rambutnya sudah berponi. Padahal semenjak di pondok, rambutnya itu tidak pernah sepanjang itu sebab akan selalu dipotong oleh guru piket jika menjelang ulangan tengah atau akhir semester. Katanya itu balas dendam. Orang Bone harus gondrong jika merantau, katanya saat itu.

Dia terlihat mengeluarkan buku hitam dari dalam tas selempangnya. Kubaca judul dan sinopsisnya, buku itu bercerita tentang sejarah spesifik tentang seorang ahli kalam yang dianggap menyalahi akidah yang benar. Tak saya pedulikan untuk sementara apa isi buku itu lebih lanjut, lebih kupilih untuk menghabiskan waktu bersama mereka bertiga sebelum waktu keberangkatan tiba.

Selama beberapa jenak saya terhibur dengan hadirnya mereka melepas kepergian saya, pada akhirnya juga masih saja dengan kesedihan. Saya peluk mereka dengan agak malu. Mereka bertiga malah lebih tegar karena sepertinya lelahnya sudah lebih dominan daripada sedihnya. Hanya saja senyuman bangga di bibir-bibir tebal mereka tidak tersembunyi. Saya ucap sampai jumpa. Dan ribut cecakap di bandara itu menjelma menjadi nyanyian kepergian Layla yang dipinang lelaki lain kala Qais pun menjadi gila.

Cairo, Mesir. Kota para nabi. Dan kota para ulama kontemporer zaman sekarang. Kedatangan di Mesir dengan semangat serta tekad yang membara, begitu pula amanah yang harus ditunaikan, pastinya. Di kala sampai saya disambut oleh seorang senior yang juga alumni dari pondok. Bersama beberapa dari temannya, saya disambut hangat.

Luar negeri, Mesir. Melewati musim dingin yang fantastis. Salju yang tidak saya tahu bagaimana tentang benda-benda kecil beku putih dan turun pelan layaknya hujan kapas bermassa agak berat itu membuat saya menyadari bahwa saya benar-benar telah berda di negeri orang dengan segala bekal yang ada. Mesir, Bung. Kota yang dua kali takluk ini ternyata sangat dingin di malam hari. Atau mungkin karena ini musim dingin? Entah. Saya belum tahu banyak.

Di sela-sela ranting cuaca dingin di malam hari saat itu, saya mulai menerka batin yang sudah agak tenang. Kubaca beberapa pesan di layar ponsel, ternyata teman-teman di Indonesia masih saja banyak tanya soal apa saja. Banyak hal yang rasanya tidak terjelaskan kala menerima bacot-bacot di ponsel saya itu. Kutahu beberapa di antara mereka cemburu. Kutahu pula mereka terlampau bangga. Yang cemburu itu biasanya akan semakin termotivasi, dan seterusnya.

Tiba pada pembahasan cerita-cerita ini, saat itu, saya meniup udara di depan muka dengan napas yang hangat. Saya bukan perokok, tapi mulut dan hidung saya berasap. Sudah seperti pemain bola liga Eropa. Dan seperti itu seterusnya saya dapati semua hal baru dalam perantauan mencari cahaya ini.

Harusnya saya menerima kenyataan sebagai seorang perantau di negeri orang, tidak akan lepas dari yang namanya status minorotas. Saya tekadkan dalam hati untuk bersaing seberat-beratnya demi mengharumkan nama bangsa dan seterusnya. Sebuah fenomena yang sangat baru saya temui yaitu bom yang hampir ada di setiap bulannya, razia polisi yang kadang menangkap mahasiswa asing cuman karena tidak bawa paspor, kebiasaan naik bus setiap hari, dan seterusnya.

Warna negara maju ini begitu khas dengan sesuai yang diceritakan senior yang menjemput saya di bandara waktu itu. Perlahan mulai terbiasa untuk mengguanakan sapa-sapa tukar basa-basi berbahasa setempat.

Sekarang saya pertegas dalam proses saya ini. Kertas kehidupan saya tidak akan kubiarkan mengusam. Apa yang pernah saya niat, tidak akan saya biarkan termakan tipu-tipu dunia yang menggiurkan. Daya seorang santri harusnya selalu bisa lebih bisa dari apa yang dibisa oleh yang mengajari.

Santri yang tengah menempuh suatu asa di negeri taklukan Amr bin Ash ini, agar bisa merasakan yang namanya pulang ke tanah kelahirannya, cita-cita saya harus berusaha sejalan searah dengan kecintaan saya pada setiap yang dicintai, tekun baca dan berpikir wajib searah sejalan dengan takdir poros inti dari Tuhan yang diberikan.

Jika Qais gila, semoga Layla menggantinya untuk mencinta tanpa batas. Jika teman-teman di Indonesia hanya bisa cemburu dan masih lanjut bermimpi, semoga saya bisa mewakili mereka terlebih awal. Mereka pasti belum tahu kalau rindu sangat jauh berbeda aromanya di negeri orang dan di sana. Rindu di Mesir aromanya salju, Bung. Kalau di sana mungkin sebatas aroma hujan yang tak sampai menghapus kenangan bersamanya?

 

Sel, 24 November 2020. _Abdil (dedikasi untuk seorang teman lama.)