CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Saturday, December 31, 2016

Selamat(kan) Tahun Baru



Selamat(kan) Tahun Baru
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Hari ini (1/1), orang-orang di seantero nusantara merayakan tahun baru 2017 masehi. Kebetulan tahun baru kali ini bertepatan dengan hari ahad. Jadi, andaipun bukan masa liburan sekolah ataupun tanggal merah, hari ini tetap saja merupakan hari libur.
            Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang telah banyak membaca karya saya dan terlanjur menikmatinya. Karena dalam tulisan ini saya menggunakan bahasa yang jauh berbeda dari biasanya. Ada beberapa alasan yang membuat saya harus meninggalkan gaya penulisan itu dalam menyusun beberapa paparan ini.
            Mungkin ada beberapa orang yang mengira saya sombong setelah membaca paragraf di atas. Namun sungguh, saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Dan pastinya, usai mencerna habis tulisan ini, banyak yang menilai bahwa saya hanya ber-curhat. Maaf, saya hanya merasa terlalu hina untuk memberikan contoh berupa kisah orang-orang lain seolah-olah saya benar-benar mengerti apa yang mereka rasakan.
***
31 Desember 2015, saya merayakan tahun baru di depan Ambarukmo Plaza. Malam itu, bersama teman-teman saya membenamkan diri dalam ramainya makhluk-makhluk berakal yang sedang menanti datangnya tanggal setelahnya. Ada yang bergerombol, ada yang berdua, dan ada juga yang hanya sendiri saja.
            Saya duduk di trotoar. Beberapa teman saya duduk di samping saya, sedangkan sebagian yang lain sibuk dengan hp mereka, mengambil potret kejadian yang, menurut mereka, sakral tersebut. Terlihat kembang api beterbangan di mana-mana. Para polisi berdiri di beberapa titik. Saya tidak tahu apakah mereka sedang berjaga atau malah mengikuti perayaan, dan saya tidak peduli. Saya hanya menantikan hitungan mundur menuju tanggal 1 bulan 1 tahun 2016.
            Sayangnya, hitungan mundur tersebut hanya muncul di pikiran saya, tidak pada kerumunan di depan mata. Yang saya lihat waktu itu hanyalah orang-orang yang sibuk dengan kembang api dan kamera hp. Saya bahkan tak dapat menangkap perpindahan antara detik terakhir 2015 dan titik pertama 2016.
            Begitu sadar bahwa garis itu telah terlewati, saya pulang bersama sebagian teman saya.
***
31 desember 2014, rabu malam kamis, saya berada di kantor OSIM bersama Daniyal, teman sekelas saya, dan Ishom, adik kelas saya. Kami menyusun koran satu halaman dengan header “Spesial Awal Tahun” berisikan prestasi-prestasi yang diraih oleh MA Nurul Jadid sepanjang tahun 2014.
            Malam itu begitu ramai, karena para santri sedang merayakan pergantian tahun meski dengan segala keterbatasan. Sedangkan kami tidak peduli lantaran disibukkan oleh berbagai ketidaklengkapan. Data dan cerita yang kami miliki benar-benar berantakan. Tapi dengan penuh tanggung jawab kami susun serpihan-serpihan itu agar bisa menjadi selembar kertas yang pantas untuk dipublikasikan.
            Adzan subuh berkumandang, kami baru selesai memampang koran. Semalaman begadang kami tak bisa langsung terlelap tenang. Karena kami harus mengikuti pembacaan Al-Ikhlas 1000 kali yang notabene merupakan rutinitas tahunan di pesantren kami dibesarkan.
            Setelah kegiatan itu selesai, mata saya menutup kedua katupnya.
***
Demikian dua kisah perayaan tahun baru yang dijalani oleh orang yang sama, yakni saya. Hahah. Selisih satu tahun saja perayaannya sudah jauh berbeda. Semua pasti berubah. Dalam bahasa Aristoteles, semua pasti bergerak. Pertanyaannya kemudian, kalian lebih suka yang mana?
            Selain waktu, tempat juga sangat berpengaruh. Lokasi yang berbeda menghadirkan kesempatan yang tak sama. Ini pun masih dalam satu orang. Bagaimana jika orangnya berbeda? Bukankah akan semakin berbeda?
            Intinya, setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam merayakan tahun baru. Tentu ini sudah dimengerti oleh seluruh pembaca tulisan ini, meski memang mungkin hanya sedikit yang menyadarinya. Pertanyaan pentingnya adalah, mengapa kalian masih merendahkan cara orang lain menjalankan perayaannya?
***
            Ada banyak pandangan manusia tentang datangnya tahun baru. Tokoh agama biasa menganggapnya sebagai waktu untuk muhasabah. Sedangkan media seringkali memanfaatkannya dengan mengajak para pemirsa untuk mengungkapkan harapan di tahun yang akan datang.
            Apapun pandangan mereka, tahun baru tetaplah tahun baru. Datangnya menandakan bahwa bumi telah genap satu kali mengelilingi matahari. Sementara dalam perputaran itu banyak hal telah manusia lakukan di muka bumi.
            Orang-orang sering menghitung, apa saja yang telah dan belum mereka capai. Lalu mereka menargetkan hal-hal yang belum dicapai agar dapat diraih di tahun selanjutnya. Namun, yang hingga kini saya pertanyakan, pernahkah orang-orang tersebut memikirkan, apakah cara yang telah mereka lakukan itu benar atau salah?
***
Dalam acara Sarah Sechan di awal tahun 2014, Sujiwo Tejo mengatakan bahwa harapan hanya dimiliki oleh orang-orang rendahan. Karena mereka yang telah banyak memakan asam dan garamnya hidup takkan terlalu berani berharap. “Gol itu urusannya Manchester United,” imbuhnya kala itu.
            Ternyata, saya masih termasuk orang rendahan. Karena ada satu harapan yang masih saya simpan. Harapan biasa saja yang anak SMP pun memilikinya. Harapan yang kalau didengar oleh orang-orang pintar, kebanyakan dari mereka akan berkata “lebay”. Yaitu: membahagiakan orang tua untuk terakhir kalinya.
            Sebagai insan yang sangat lebih percaya pada insting daripada logika, saya sering berfirasat buruk bahwa hidup saya tak lama lagi berakhir. Sedangkan seumur hidup saya sangat sering mengecewakan kedua orang yang telah menjadi perantara kelahiran saya. Maka meski hanya sekali, saya ingin membuat mereka bangga, sehingga saya siap mati kapan saja.
            Bagi saya, membahagiakan mereka itu sangat sulit. Menjadi seorang hafiz, memahami seluruh ilmu yang diajarkan, dan menguasai dua bahasa dengan sempurna, ketiganya secara bersamaan, bagi orang lemah seperti saya, hal itu sangatlah gila. Mengejar salah satunya saja saya sudah berdarah-darah, mungkin kalau dua saya harus bertulang-tulang, dan jika tiga saya harus bernyawa-nyawa.
            Tapi, itu tak bisa dijadikan alasan. Selama saya memiliki kesempatan untuk berusaha, mungkin hal itu bisa dicapai. Apalagi saya memiliki guru-guru yang ikhlas mengajar saya, teman-teman yang ikhlas membantu saya, dan diri sendiri yang ikhlas menyiksa saya.
            Berhubung tulisan ini diunggah di media, apa harapan kalian tahun ini? Kepada siapa kalian mempersembahkannya? Bagaimana kalian mencapainya? Dan yang paling penting, tahukah kalian apa yang sebenarnya kalian kejar? Ketenangan, ketenaran, atau sensasi semata? Hahah.
***
Satu hal yang hampir selalu terlupakan dalam muhasabah ialah bahwa manusia terus berkembang, dan seiring dengan perkembangan itu masalah yang dihadapi berkembang pula. Manusia akan selalu menghadapi permasalahan yang belum pernah mereka alami. Dengan itulah manusia selalu berkembang.
            Jadi, datangnya tahun baru menandakan akan datangnya masalah-masalah baru. Saya baru menyadari ini pada awal tahun 2016. Tepatnya, ketika saya secara tidak sadar merasa sombong bahwa segalanya bisa dicapai asalkan saya berusaha, lalu kemudian pada waktu itu saya tidak boleh berusaha.
            Wahai pembaca yang budiman, kalian semua pasti tahu bahwa manusia akan selalu melakukan kesalahan. Ketika orang lain melakukan kesalahan, seringkali kalian dirugikan. Tetapi ketika orang lain melakukan kebenaran, tak jarang kalian juga akan dirugikan. Lalu bagaimana kalian membedakan antara keduanya?
            Maka pada tahun baru ini, percayalah bahwa kalian akan bertemu banyak masalah dan kerugian. Namun kalian adalah orang-orang kuat yang dapat menghadapi semuanya, bukan menghindarinya. Selamatkan tahun 2017 dengan melakukan apapun yang menurut kalian benar. Jujur saja, hingga saat ini, kebenaran masihlah merupakan hal yang relatif.
***
Terima kasih banyak kepada para pembaca yang telah membaca uraian ke barat ke timur di atas. Meski tak seindah Happy Wednesday-nya Azrul Ananda ataupun sedramatis Catatan Henrikh Mkhitaryan, namun dengan perasaan yang saya letakkan (bukan bawa) pesan ini mungkin akan sampai pada hati kalian. Saya sadar, kebanyakan dari kalian pasti hanya menganggap ini sebagai omong kosong dengan berbagai penyebab yang saya sendiri tidak tahu.
            Apa itu tahun baru? Apa hikmah di baliknya? Bagaimana harus menjalaninya? Bagaimana cara menikmatinya? Sungguh Allah SWT maha mengetahui atas segala kebenaran.

*Alumni MA Nurul Jadid lulusan tahun 2015.

Persetan dengan Tahun Baru

                  

  Persetan dengan Tahun Baru
Oleh : Muhammad Farid Abdillah
CSSMoRA UIN Sunan KalijagaYogyakarta 

Dinginnya pagi menemani langkah para siswa menuju ke sekolah hari ini. Maklum lah, jarak sekolah di banding rumah mereka memang agak jauh. Mereka harus berjalan minimal setengah jam dari rumah mereka menuju ke sekolah dengan jalan terjal serta bukit-bukit berhiaskan pohon-pohon hijau. Meski begitu, mereka para siswa nampak santai saja menghadapi medan yang tentu saja tidak mudah bagi mereka.

Pagi itu suasana kelas agak berbeda. Para siswa sibuk membicarakan agenda apa yang akan dilakukan malam nanti. Ya, hari itu tanggal 31 Desember. Nanti malam di lapangan desa akan diadakan perayaan tahun baru lengkap dengan terompet dan kembang api. Sebuah perayaan yang dirasa sangat meriah bagi anak-anak desa yang selama ini hidup di desa dengan penuh kekurangan.

“eh dewi, kamu mau kemana nanti malam ?”

“Aku mau ikut berkumpul bersama warga di lapangan desa saja,” percakapan antara para siswi yang membicarakan agenda malam nanti.

“jo, mau kemana kamu nanti malam ?” teriak edi dari sudut kelas nan reot itu.

“Aku mau bakar ayam di rumah bersama Ayah.” Jawab tejo.

Tak semua siswa menikmati euforia tahun baru kali ini. Nampak salah satu siswa hanya diam di bangkunya sambil membaca buku. Sikap acuhnya dengan keributan teman yang lain menarik perhatian salah satu kawannya.

“Hey, kenapa kamu diam saja ?”

“Tidak ada.” Ia tak menoleh sedikitpun.

“Rio, kamu kemana malam tahun baru nanti?”

“Di rumah.” Jawabnya singkat.

“Kamu kenapa, Rio ?” raut muka eko yang memandang Rio hampir saja menyatukan kedua alisnya, bingung dengan kawannya yang satu ini.

“Tidak apa-apa.” Jawaban yang masih singkat.

Derap langkah Pak Guru terdengar. Pelajaran akan dimulai. Pak Ilham yang masuk kelas secara tiba-tiba berhasil mengagetkan seluruh siswa yang sedang berbincang asik pagi itu.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Tiba-tiba kelas bergemuruh, alunan kaki-kaki para siswa yang kembali ke tempat duduknya masing-masing sudah selayaknya barisan para tentara yang mendengar komando dari kaptennya.

“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh.” Jawab serempak para siswa setelah mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kegiatan berlanjut seperti biasa. Semua siswa hadir ke kelas pagi ini.

“Baik anak-anak, seperti yang kalian tahu bahwa besok adalah hari libur tahun baru ..” belum sempat melanjutkan perkataannya, seluruh kelas bergemuruh riang mendengar jika esok adalah hari libur. Suara mereka kompak selayaknya paduan suara ketika upacara bendera di hari senin. Seluruh kelas, ya seluruh kelas. Tapi tidak untuk salah satu siswa di antara mereka yang tetap tenang dengan buku yang—entah apa judulnya—sedang ia baca. Setelah kelas kembali tenang, Pak Ilham melanjutkan perkataannya.

“Tapi sebelum itu, bapak mau memberikan pertanyaan kepada kalian semua.” Seluruh kelas tiba-tiba hening, memperhatikan apa yang akan ditanyakan guru mereka. “Siapa yang tau sejarah tahun baru ?” kelas bertambah hening, pertanda tidak ada yang mengetahui jawaban pertanyaan sang guru. Di tengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba salah seorang anak mengangkat tangan.

“Iya Rio, bapak melihat kamu mengangkat tangan. Kamu tau sejarah tahun baru?”

“Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.” Rio diam sebentar untuk menghela nafas, kemudian melanjutkan penjelasannya.

   “Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari untuk menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Dalam islam, penanggalan semacam ini disebut dengan kalender Syamsiyah.” Jawab Rio dengan lancar, namun tetap dengan raut wajah yang menunjukkan ketidak senangannya. Ia memang dikenal kutu buku di kelasnya. Buku apa saja habis dibaca olehnya. Seluruh kelas nampak terbengong melihat rio menjawab pertanyaan Pak Ilham.

“Ya, Rio. Jawaban kamu benar.” Kata Pak Ilham.

“Kita Umat Islam memiliki sistem penanggalan tersendiri yang disebut dengan kalender Hijriyyah. Kalender yang dibuat oleh Khalifah Umar bin Khattab berdasarkan perhitungan bulan atau dikenal dengan kalender Qamariyah.” Lanjut Pak Ilham. Di tengah menjelaskan, tiba-tiba Rio kembali mengangkat tangannya.

“Iya Rio ?”

“Suatu ironi pak, ketika banyak Umat Islam yang merayakan tahun baru Masehi. Ikut larut dalam kesenangan-kesengan itu, tetapi mereka tidak tau tanggal Hijriyyah mereka dilahirkan, yang seharusnya menjadi tanda pengenal seorang Muslm.” Kali ini raut wajah Rio sungguh meyakinkan. Pak Ilham hanya tersenyum kecil melihat Rio mengatakan hal itu.

“Memang kamu tau tanggal lahir Hijriyyah kamu Rio ?” kata edi setengah teriak yang agak kesal dengan pernyataan Rio yang kedua.
“Aku lahir tanggal 13 Safar.” Jawaban singkat yang mampu membuat mulut eko terdiam. “Kamu tau tanggal lahirmu ?” pertanyaan Rio tidak dijawab eko. Eko terdiam.

“Sudah, sudah .. jangan bertengkar anak-anak.” Pak Ilham mencoba menenangkan kelas yang mulai panas.

“Pak, kalau begitu apakah kita umat muslim salah merayakan tahun baru masehi ?” tiba-tiba Dewi ikut bicara di dalam kelas.

“Rayakan dengan mendekat kepada Allah. Jangan menirukan gaya orang Yahudi yang merayakan Tahun baru dengan berpesta, bersuka ria berlebihan. Isi pergantian tahun dengan muhasabah kepada Allah.” Kelas hening.  Tak lama kemudian bel berbunyi pertanda kelas Pak Ilham sudah usai dan akan dilanjutkan ke kelas dengan mata pelajaran yang lain.

Hari itu, kelas yang mula-mula sibuk dengan euforia tahun baru terhening. Semua tidak berani membicarakan tahun baru, atau lebih tepatnya pembahasan itu tiba-tiba saja tidak menarik bagi mereka. Bagi Rio hal itu adalah sesuatu yang lain. Tahun baru adalah hari yang sangat ia benci. Sebab, tepat di tanggal itu sang Ibu pergi untuk tidak kembali. 31 Desember dua tahun lalu. Sang ibu meninggal karena sakit yang telah ia derita sekian lama.

Tak pelak, setiap malam pergantian tahun, Rio selalu berucap.

“Persetan dengan Tahun baru !!” ekspresi kekesalan bersama dengan jatuhnya air mata Rio mengingat mendiang sang Ibu. Ekspresi yang tidak akan satupun temannya percaya keluar dari mulut Rio.

Friday, December 30, 2016

Aku dan Siluman Kodok



Aku dan Siluman Kodok
Oleh: Hamdi Putra Ahmad
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga
 
Entah apa yang menimpa diriku, tepat satu bulan yang lalu sebuah kejadian aneh terjadi. Kala itu tempat tinggalku, Pondok Pesantren LSQ Ar-Rahmah, dilanda musibah banjir. Letak asrama kami yang sejajar dengan permukaan sawah menyebabkan genangan air hasil hujan deras berhari-hari memasuki pekarangan pondok bagian belakang. Semakin hari genangan air itu semakin tinggi. Hingga akhirnya semua kamar yang berada di bagian belakang pondok tergenang air, tepatnya air sawah.
Keadaan tersebut memaksaku dan sebagian teman yang lain untuk berhijrah ke tempat yang lebih kondusif. Pilihan ku jatuh ke kamar yang sering dijuluki dengan LSQ loro (baca: Dua). Meskipun sama-sama bergelar LSQ, tampaknya nasib LSQ loro lebih beruntung daripada nasib LSQ siji (baca: Satu) yang jika ditimpa hujan deras sehari saja bisa menciptakan danau buatan berukuran mini. Namun demikian, keadaan itu tak mengurangi rasa cintaku terhadap LSQ siji. Di satu sisi memang LSQ siji kurang beruntung dari LSQ loro. Namun ke-kurangberuntung-an tersebut sifatnya hanya kondisional, yaitu jika terjadi hujan lebat saja. Dan ku pikir ke-kurangberuntung-an LSQ loro dibanding LSQ siji lebih banyak dan bersifat statis (kekal abadi selamanya).
LSQ loro itu letaknya sangat jauh dari masjid, sehingga untuk bisa melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan kesana perlu perjuangan dan tekad yang sangat kuat. Selain modal fisik yang kuat, juga dibutuhkan kesungguhan hati. Itu yang pertama. Sedangkan ke-kurangberuntung-an yang kedua adalah, letaknya yang juga jauh dari pendopo. Kalau bahasa minang nya itu artinya balai. Sebuah ruangan terbuka yang biasanya digunakan untuk tempat mengaji. Di sana lah semua kegiatan akademik santri dilaksanakan. Mulai dari ngaji kitab hingga setoran hafalan. Berbeda dengan kami yang di LSQ siji yang berjarak hanya beberapa meter saja dari pendopo. Sehingga lagi-lagi, kekuatan ekstra sangat dibutuhkan oleh mereka yang berada di LSQ loro. Itu hanya penialain ku. Semoga saja sesuai dengan apa yang mereka rasakan.
Kembali ke pembicaraan inti, tepatnya siluman kodok. Kala itu, genangan air yang masuk ke kamarku sudah melebihi mata kaki. Genangan itu ternyata juga masuk ke lemari ku. Meskipun sebelumnya sudah tertutup rapat, ternyata adanya sela-sela antara pintu dan pinggiran lemari ku memungkinkan masuknya air. Namun tentu saja sela-sela yang sekecil itu tak memungkinkan seekor induk kodok masuk ke dalamnya. Tapi anehnya, setelah membuka pintu lemari yang sebelumnya sudah tertutup rapat, aku dikejutkan dengan penemuan sesosok induk kodok yang dengan gagahnya tengah berdiri di atas sebuah kardus sepatu yang terdapat di lemari bagian bawah. Aku benar-benar tak habis pikir dengan kehebatan si kodok menembus kerapatan lemariku. Apa mungkin itu adalah siluman kodok yang dikirim untuk menakut-nakuti ku? Ah, rasanya tidak mungkin. Atau mungkinkah itu adalah hasil pertumbuhan sebutir telur kodok yang pernah masuk ke lemariku? Ya bisa saja sih. Tapi lemariku kan tak sekotor itu.
Jujur saja aku termasuk orang yang kurang bersahabat dengan kodok. Selain bentuknya yang mirip katak, dari kecil aku memang tak terbiasa menangkap kodok. Kalau ketemu kodok, ya aku diam dan membiarkannya melakukan aktifitasnya. Asalkan ia tidak mengencingiku. Karena banyak orang yang bilang jika terkena kencing kodok akan menyebabkan buta. Ya, aku tak tahu benar atau salahnya. Wallaahu a’lam lah. Namun intinya, saat menemukan kodok di lemariku saat itu, aku tak mau berpikir panjang. Dengan bermodalkan bismillah, aku membiarkan kodok itu berada di dalam dan mengunci kembali pintu lemari. Saat itu aku tak memikirkan dosa lagi. Toh kalau si kodok mengalami sesak nafas atau kejang-kejang, pasti akan keluar sendiri. Salah sendiri mengapa masuk ke lemariku lewat jalan yang tak disangka-sangka. Begitu batinku. Namun demikian, aku tetap yakin kalau kodok itu pasti akan mati di dalam. 
Tiga hari pun berlalu. Hujan yang lebat itu berangsur reda. Kamar kami sudah tidak tergenang air lagi. Aku pun kembali ke kamar dan membereskan barang-barang yang berserakan. Setiba di kamar, ingatanku langsung tertuju ke kodok terkurung di lemari tiga hari yang lalu. Segera ku membuka lemari yang masih dalam kondisi tertutup rapat. Dan setelah membuka pintu lemari, aku sama sekali tidak melihat kodok itu di atas kardus sepatu tempat ia bertengger tiga hari yang lalu. Segera saja ku mencari mayat si kodok ke seluruh bagian lemari sembari membongkar satu persatu barang yang ada di dalam. Dan ternyata, aku tak menemukan si kodok. Jangankan mayat, kodok nya saja tidak ada. Aku juga tidak mencium bau bangkai sama sekali. Ah, aku masih belum percaya dengan keanehan ini. Segera ku periksa seluruh sisi lemari, apakah ada lubang yang memungkinkan si kodok untuk keluar-masuk. Dan ternyata tak ada lubang sama sekali. Yang ada hanyalah sela-sela kecil antara pintu lemari dan pinggiran lemari yang mustahil untuk diterobos Benar-benar tak masuk akal!
Kala itu aku benar-benar tak habis pikir. Mungkinkah si kodok hanyalah jelmaan?  Aku tak tahu. Dan peristiwa itu membuatku mulai percaya dengan hal-hal berbau mistis. Mungkin ini bisa dikaitkan juga dengan kekuasaan Tuhan, yang dalam bahasa Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsirnya Marah Labid disebutkan bahwa peristiwa munculnya kodok secara tiba-tiba merupakan salah satu bentuk peringatan dari Tuhan kepada salah satu kaum yang ingkar dari kalangan Bani Israil. Lha, benarkah? Apa aku seingkar kaum bani Israil? Na’udzubillaahi min dzalik. Semoga saja tidak. Tapi tetap saja peristiwa itu mengingatkanku dan kita semua bahwa semua hal bisa saja terjadi dengan izin Tuhan, dan semua ini juga membuktikan kebenaran sebuah firman  Allah yang berbunyi, “kun fa yakun!”. Wallaahu a’lam bi al-shawab.

Tuesday, December 20, 2016

Media Oh Media

         
                            Media Oh Media
                         Oleh : Alif Jabal Kurdi
     (CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  
  Semakin hari semakin gencar aliran-aliran informasi yang membawa kabar menyedihkan tentang nasib saudara-saudara seiman kita yang sedang mengalami tragedi kelam di Suriah. Konflik-konflik yang terjadi begitu cepatnya sampai ke telinga kita, hingga menimbulkan rasa sedih yang mendalam sekaligus geram dengan tindakan-tindakan brutal yang terus terulang setiap harinya. Mendengar banyaknya korban anak-anak maupun wanita yang seharusnya tak menjadi sasaran membuat hati dan jiwa serasa panas dan ingin membalas semua tindakan-tindakan mereka para penjahat dan penghancur masa depan umat.
  Namun, tragedi kelam tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan mendasar di dalamnya. Dimana kita melihat banyaknya masyarakat yang masih bertanya-tanya tentang siapa dalang di balik semua permasalahan yang membuat banyaknya korban yaang berjatuhan itu. Kebingungan masyarakat ini terjadi akibat banyaknya persepsi-persepsi yang mereka dapati dari media-media informasi terkait tentang siapa yang bertanggung jawab dan menajadi dalang dari semua konflik yang terjadi.
   Mereka menilai antara satu media dengan media lainnya kerap kali menyampaikan informasi yang berbeda-beda, yang satu mengatakan bahwa yang patut disalahkan dan menjadi dalang atas semua tragedi ini adalah kelompok zionis Amerika beserta antek-antek Yahudi yang dikabarkan pula sedang gencar melakukan invasi di Timur Tengah dan juga mempunyai misi terselubung untuk menguasai seluruh daulah Islamiyah yang ada disana. 
    Di sisi lain ada pula media yang mengatakan bahwa tragedi itu adalah sebab dari konflik internal di negara tersebut, dimana dua kelompok yang bertikai itu adalah dua firqoh agama yang memiliki paham yang bersebrangan yakni antara kelompok Sunni dan Syiah.
   Dan akhir-akhir ini muncul informasi lain yang menyatakan bahwa apa saja yang  terjadi di Suriah dan disebarkan oleh media yang menginformasikan bahwa Sunni-Syiahlah yang bertikai adalah sebuah kebohongan dan merupakan tindakan provokasi untuk menyembunyikan kebenaran yang haqiqi serta ingin memecah belah umat Islam. Informasi terakhir ini juga menafikan tentang informasi-informasi sebelumnya yang telah beredar di masyarakat. Informasi terakhir ini mengklaim bahwasanya seluruh informasi yang beredar tersebut telah disimpangsiurkan oleh media-media militan takfiri yang sebenarnya merekalah dalang dari pemberontakan yang terjadi di Suriah. (baca : http://www.nu.or.id/post/read/68187/al-syami-ungkap-10-fakta-suriah-yang-ditutup-tutupi-media-takfiri)
  Bisa kita lihat dengan jelas bahwa media informasi ternyata juga dijadikan alat untuk memprovokasi atau bahkan sebagai alat memecah belah. Media informasi yang seharusnya menjadi rujukan untuk mengetahui berita-berita faktual yang valid dengan sumber terjamin  malah berisikan bermacam-macam informasi rancu yang menyajikan fakta-fakta palsu dan dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu demi menyokong terjalannya kepentingan-kepentingan mereka pribadi.
  Maka, sudah semestinya kita harus bisa meningkatkan kewaspadaan kita dengan lebih selektif lagi dalam mengambil informasi-informasi yang beredar di masyarakat terutama untuk informasi-informasi yang mengandung SARA, serta tidak mudah menyebarkan informasi-informasi yang kita dapatkan sebelum kita mengecek kevalidan dan sumber dari informasi yang kita dapatkan. Karena dalam realitanya, kita banyak melihat dan tak bisa dipungkiri kita pun melakukannya di grup-grup social media kita sendiri. Bisa saja sebuah informasi yang kita dapat, itu juga berasal dari media-media takfiri nasional yang begitu gencarnya melaksanakan gerakan pemurnian Islam serta ingin mengubah ideologi negara (hanya contoh).
 Sebagai akademisi hendaknya pula kita menyelesaikan rasa kritis kita terhadap sebuah permasalahan dengan mencari literatur-literatur yang berkaitan dan sudah terakreditasi ataupun mengadakan diskusi-diskusi dengan para ahli atau pakar yang sudah bisa dipastikan kejelasan informasinya, bukan hanya dengan mengandalkan informasi-informasi yang mengalir setiap harinya di media sosial kita yang tidak jelas sumber dan kevalidan datanya. 
 Sungguh semakin hari, kehidupan kita semakin dekat dengan akhirnya. Semakin hari pula kita merasakan bahwa kejujuran mulai luntur dan terangkat dari kehidupan kita. Krisis moral bertebaran dimana-mana. Taklid buta pun seakan hal biasa. Selalu merasa benar dan tak mau dibenarkan hingga sensitif jika ada pernyataan yang sesuai dengan pemahaman merupakan beberapa hal nge-trend yang sedang terjadi di negara kita, Indonesia. Jadi, sekarang kita juga hanya tinggal menunggu saja saat dimana lembaran-lembaran pedoman hidup kita menjadi sekedar lembaran putih dan tak bermakna. (AJK) 

HORMATI MEREKA YANG FAQIH

Hormati Mereka yang Faqih
Oleh: Asbandi
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Ketika politik dibumbui dengan agama, permusuhan dan cacianpun seperti sebuah anjuran. Akankan seorang ulama dijelekkan karena kepentingan tertentu. Padahal ada suatu yang perlu kita sadari adalah sikap apatis dan skeptis terhadap ulama yg berbeda paham dan kemudian dianggap musuh yang dapat memecah belahkan umat. Terlebih masyarakat awam yang sangat berketergantungan dengan ulama. Maka dari itu perlu kita sadari adalah perbedaan atau pluralitas merupakan sunnatullah yang perlu kita junjung tinggi dalam  keragaman tersebut.

Islam mengajarkan dakwah dengan penuh bijaksana dan dengan tutur kata yang mengandung mauidzotul hasanah bukan dengan kata-kata yang keras dan lantang namun menjelek-jelekkan orang lain apalagi menjelekan ulama. Sungguh hal demikian itu tidak menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil`alamin. Malah yang terjadi adalah menyempitkan Islam itu sendiri sehingga membangun asumsi bahwa Islam itu radikal dan sebagainya.

Dampak yang paling besar dari sikap skeptis yang brutal itu adalah dapat memecah belahkan umat, menebar fitnah sampai kepada permusuhan yang berakhir dengan peperangan.

Sebagai refleksi, apakah negara yang menjunjung tinggi peradaban bernasib sama dengan negara yang gagal di Timur Tengah. Tentu kita sama-sama menjawab dengan lantang "tidak mau". Namun realita berkata lain. Nampak dari beberapa moment yang ada di negeri ini dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan para ulama. Salah satunya adalah, ulama yang berargumen untuk kepentingan umat dijadikan kambing hitam. Seakan-akan ulama menebar kesesatan yang menyesatkan masyarakat. Apa yg dilakukan para ulama bukan berdasarkan hawa nafsu melainkan untuk kemaslahatan bersama umumnya bangsa.

Agama memang rentan dijadikan alat untuk sebuah kepentingan. Namun akankah negara akan hancur dikarenakan satu kepentingan dan merugikan kepentingan yang lain yang lebih besar. Satu kata takbir dapat menarik perhatian masyarakat. Namun apakah salah jika orang yang tidak mengikutinya lantaran mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudian dijelek-jelekkan dan dituduh yang bukan-bukan? Tidak, satu hal yang perlu kita sadari bersama adalah orang yang tidak melakukan demikian bukan karena tidak mengerti masalah agama, akan tetapi mereka faqih dalam agama.

Media sosial juga menjadi senjata bahkan diibaratkan bom untuk merusak reputasi ulama. Berbagai macam berita yang tidak mendasar disebarkan di berbagai media sosial. Hal ini sungguh ironis dan terkadang cukup menyesakkan dada. Perlu kita sadari juga bahwa media itu dikendalikan, dan postingannya pun sesuai dengan siapa kusir yang mengendalikan berita tersebut. Maka media selayaknya dikunyah dan tidak harus dijadikan pedoman dalam bertindak. Maka media sosial cukup memprihatinkan dengan berbagai macam konten yang dapat membahayakan masyarakat. Tanpa disadari hal itu juga memicu terjadinya fitnah bahkan menyebabkan permusuhan. Karena yang perlu kita sadari pula adalah jangan sampai orang yang melakukan dakwah agama yang hanya bermodal satu hadis sudah berani mengkafirkan apalagi mengkafirkan para ulama yang jauh lebih paham tentang agama.

Islam itu damai, Islam melarang kebencian dan cacian. Label kebencian bukan Islam. Jadi jika kita paham demikian itu maka kita bisa mawas diri dari segala fitnah yang ingin menjelekkan para ulama. Bandingkan ukuran kita dengan mereka yang hafal al-Qur'an dan paham ribuan hadis dengan kita yg hanya membaca satu artikel yang kemudian menyalahkan mereka. Inilah menjadi renungan kita bersama. Kita tidak ada otoritas melakukan hal tersebut. Andaikan ada yang menjelekkan ulama yang sudah dikenal dan diakui kridibelitasnya oleh umat, Maka pertanyakan keulamaan tersebut. Karena Islam itu mengayomi bukan membenci, Islam itu mengajarkan bimbingan bukan mengkafirkan. Wallahua'lam.

Tulisan pas santai dakde gawi. Miker urang yang pinter dikit ngfer dan nyest ulama.


Monday, December 19, 2016

Rindu Kamu yang Dulu



Rindu Kamu yang Dulu
Oleh: Hendriyan Rayhan
CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

Mentari mulai meninggi dari ufuk timur. Terdengar suara kicau burung yang hendak mencari makan. Juga kokok ayam yang baru keluar dari kandangnya. Tampak di depan rumahku serombongan petani berjalan beriringan membawa perkakasnya. Juga pengembala kambing yang sibuk menarik tali pengikatnya, juga kakek tua yang sedang menggiring bebeknya yang sekira berjumlah seratus ekor. Kesejukan embun masih begitu terasa, saat kami berjalan kaki menelusuri rumput ilalang menuju ke sekolah. Ya, itu kejadian sepuluh tahun lalu, sebelum semuanya berubah drastis.
“Kemane bro”.
“Otewe McD depan komplek sana”.
“Waah.... kaga jajan di warung Abah Somad aje, goreng pisangnya enak lho”.
“Hahaha, bisa aje lu bro. Kan kita juga ngikutin perkembangan zaman bro”.
“Hemm...wokeh lah, lanjut bro”.
Begitulah. Kini di sekeliling kami berdiri kompleks-kompleks perumahan, pabrik-pabrik dan mall. Persawahan tempat kami biasa bermain layang-layang kini sesak dengan bangunan-bangunan itu. Bahkan ladang petani pun tak luput dijadikan pertokoan. Kicau burung? Justru bising kendaraan yang selalu menyumpal telinga. Bukan lagi pemandangan petani berduyun-duyun, tapi mereka kini menjadi buruh, budak di negerinya sendiri. Entah siapa yang mula-mula merayu warga untuk menjual tanah ladang mereka kepada para pengembang ini.
“Ya, mau gimana lagi, orang kita juga kan yang dulunye mau ngejual sawah-sawah sama tanahnye ke mereka”, Abah Somad menuturkan.
“Tapi kan....” Madun menyela.
“Abah juga sekarang nyesel. Kalo aje dulu sawah abah yang lima hektar itu kaga di jual, muungkin sekarang ngga bakal kayak gini. Sekarang semuanye udah di bangun. Dulu abah jualnye murah banget, eh sekarang mereka jual lagi harganye selangit. Tau gitu mending jualnye sekarang aja”, lanjut Abah Somad.
“Lah, motivasi kapitalis kalo begitu. Nyesel cuma karena untung-rugi soal finansial?”, Madun menyela lagi.
“Wah, Abah kok cinta dunia begini. Harusnya kan itu nyesel karena pencemaran lingkungannye, bukan soal harga lahan”, sambung Gugun.
“Satuju pisan, Gun. Abah teh kenapa seolah pake otak para pemodal itu, yang ingin untung sendiri saja”, Asep tak mau kalah.
“Abah kan belum kelar ngomong ini”, kata Abah Somad dengan nada agak meninggi.
“Hehehe...”, ketiga santri itu cengengesan.
“Ya, bener kata ente ente pade. Itu juga termasuk. Abah juga miris liat anak-anak sekarang. Masih pada ingusan udah maenin hp lah, tablet lah, gede dikit udah pake motor. Padahal dulu Abah segede gitu maenannya gundu, boro boro motor, sepeda aje udah girang bener dah”, Abah Somad melanjutkan kegelisahannya.
“Wah, iye, Bah. Ane juga turut prihatin tuh”, tukas Madun.
“Emang pembangunan itu ngga boleh, Bah? Kan kemajuan itu penting juga buat persaingan globalisasi gini”, tanya Gugun membuka topik.
“Ah, ane juga mau ngomong begitu tadi, ente mah malah ngeduluin”, Asep membalas.
“Iyeh, ane paham itu. Hidup kita emang kudu maju, kudu berkembang. Tapi kemajuan juga merhatiin lingkungan. Ya silahkan lah dibangun kompleks perumahan, tapi saluran aer juga diperhatiin. Terserah kalo mau bangun mall, tapi ya jangan nindas warung-warung kecil. Nah, ini catetan buat ente ente pade nih. Kudunya ente tuh bangga belanja di warung tetangge, bukan malah gaya gayaan belanja di warung gede yang ente kaga kenal sapa yang punya”, Abah Somad menjelaskan.
“Oh..seperti itu”, Asep merespon sok paham.
“Ya, sepuluh tahun yang lalu juga kan emang belom terlalu kaya sekarang. Bangunan-bangunan pabrik dan perumahan ngga terlalu padet kaya sekarang nih”, Madun menambahkan.
“Begitulah keserakahan manusia, ngga pernah ngerasa cukup. Kalo aje pembangunan itu diniatin buat kemajuan, pasti ngga akan banyak ngerusak alam yang asri. Nah, coba aje ente rasain sekarang, bawaannye gerah mula kan. Soalnye pohon-pohon juga tinggal sedikit. Tuh pohon gede depan kelurahan aje kemaren ditebang, katanye mau ngegedein kantornye”, kata Abah Somad.
“Terus kalo udah terlanjur begini kumaha, Bah?”, tanya Asep.
“Sabar aje, Sep. Heheh...”, Gugun yang menjawab.
“Hahaha....”, Madun ikut tertawa.
“Hemh...”, Abah Somad menghela napas. “Ini tugas ente sebagai generasi penerus. Ente kudu belajar yang bener biar nanti bisa ngebagusin nih kampung lagi”, jawab Abah Somad.
“Ah, itu kelamaan, Bah. Yang konkrit aja lah buat sekarang”, Madun menimpali.
“Heheheh, cerdas ente, Dun”, tambah Asep.
“Ya ente jaga lingkungan sekitar. Polusi dari pabrik jangan ente tambahin dari ente juga, termasuk jangan buang sampah sembarangan, apalagi di kali”, kata Abah Somad menjawab.
“Kalo menurut ane sih ngga apa-apa kita buang sampah di kali”, kata Madun yang kemudian membuat sekeliling heran.
“Maksudnye pegimana tuh, kayanye ente butuh kopi, Dun”, Abah Somad ikut bingung mendengar ucapan Madun.
“Yah, kan kalo kita buang sampah di kali, nanti aernya bakal mampet”, kata Madun.
“Nah terus..”, Asep memotong.
“Kalo aernya mampet, nanti bakal meluap ke daratan”, lanjut Madun.
“Banjir dong”, Gugun ikut bicara.
“Nah, tepat”, tukas Madun sambil menunjuk ke arah Gugun. “Yang bakal kebanjiran kan kompleks perumahan ntuh, sebab dulunya itu sawah, emang tempat aer. Kalo kampung kita aman lah, lebih tinggi datarannye. Kalo mereka kebanjiran terus, lama-lama juga bosen diem di situ”, Madun menjelaskan. Asep dan Gugun hanya terdiam antara setuju dan tidak.
“Astaghfirullah....”, hanya Abah Somad yang kemudian merespon sambil mengelus dada.
“Ente kagak boleh mikir gitu, Madun... Biar pegimana mereka yang diem disono sedara kite juga. Mereka kan Cuma konsumen, asalkan ngga bikin pencemaran ya kita sama-sama. Kudunya kite ini kerjasama bareng mereka, gimana caranya buat jaga lingkungan. Bukan malah berharap mereka dapet musibah”, Abah Somad menasehati.
Sebenernya ungkapan Madun pun bukan sekedar harapan atau angan-angan. Madun hanya melihat fakta yang terjadi di daerah kampung temannya. Hanya saja itu belum terjadi di sekitar kampung mereka.
“Jadi harusnya kita teh menjalin simbiosis mutualisme kitu ya”, Asep kembali mengemukakan pendapat.
“Cakep”, Abah somad menimpali.
“Iya, iya.... tapi faktanya di daerah Bungur kan kejadian begitu juga”, Madun berusaha membela diri.
“Nah pegimana tuh, Bah”, kata Gugun.
“Ya tapi ngga usah disengajain di sini biar ada kejadian begitu juga. Buktinya mereka masih betah aje sampe sekarang kan yang di daerah Bungur itu”, Abah Somad menjawab.
“Iya, sih. Kalo gitu gimane caranye biar nih kampung jadi kayak dulu lagi, Bah”, Madun menanggapi.
 “Yah, ane juga kangen suasana yang dulu. Tapi kalo ngebalikin kayak dulu lagi sih kayanye ngga mungkin. Cuma yang bisa kita lakuin ya ngejaga alam kita yang sekarang nih biar ngga makin parah. Caranye kita tanem pohon biar jadi sejuk, terus aliran aer kita bersihin. Nah, sawah-sawah ame ladang engkong ente yang masih nyisa jangan di jualin lagi tuh, Dun”, kata Abah Somad.
“Sawah yang mane, Bah. Udeh abis semua dijualin. Noh, yang sekarang dibangun restoran kan dulunye tanah engkong ane juga. Sekarang punya kite ya tinggal yang ditempatin aje.. hehe”, kata Madun sambil mengenang engkongnya (kakek) yang baru sebulan lalu meninggal dunia karena tertabrak mobil saat hendak ke pasar.
“Yaahh... intinye di jaga lah nih tanah kite. Udeh, Abah mau ke pasar dulu nih, keburu ninggi mentari ntar makin panas”, kata Abah Somad sambil berdiri dan menatap ketiga santri itu satu per satu.
“Oh oke dah. Kite juga mau balik ke pondok nih, Bah. Mau beres-beres kamar juga, hehe”, kata Gugun.
“Makasih nih buat pencerahannye, Abah emang top”, lanjut Madun sambil mengacungkan ibu jari.
“Yasudah kita pamit, Bah. Assalamualaikum”, Asep yang paling pendiam kemudian berpamitan. Lalu mereka mencium tangan Abah Somad satu per satu.
Mentari mulai meninggi. Hiruk pikuk semi perkotaan pun mulai terasa. Masing-masing orang mulai menyibukkan diri untuk menyambung hidup. Banyak kendaraan-kendaraan yang terburu-buru menuju tempat kerja. Begitulah keseharian yang terjadi kini. Aku pun rindu kamu yang dulu, kampungku.