CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Saturday, October 22, 2016

Buletin Sarung Edisi 22 Oktober 2016


Edisi kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Meski demikian, bukan berarti buletin ini tidak harus terbit tepat waktu. karena sesibuk apapun kru Sarung dengan perayaan-perayaan di sana-sini eksistensi buletin tetaplah harga mati.

Buletin edisi 22 Oktober 2016 ini dapat diunduh dengan klik di sini atau dapat langsung membacanya di bawah ini.


Untuk membaca edisi sebelumnya dapat diakses melalui website CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga atau dengan mengklik tautan di bawah ini:

Friday, October 21, 2016

ANTARA MODERNIS DAN HEDONIS (Kontemplasi Hari Santri Nasional)

ANTARA MODERNIS DAN HEDONIS
(Kontemplasi Hari Santri Nasional)
Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh*

      Hari ini merupakan yang kedua bagi masyarakat Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Menilik proses penetapannya sempat terdapat sedikit perselisihan. Namun setelah melewati beberapa perbincangan, akhirnya disepakati bahwa 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
Seiring dengan keputusan itu muncul beberapa pandangan tentang santri. Beberapa tokoh, seperti K.H. A. Mustofa Bisri, mengatakan bahwa santri tak hanya mereka yang telah menimba ilmu di pondok pesantren, tetapi juga yang berakhlak seperti santri adalah santri. Hanya memang belum ada ukuran yang kongkrit mengenai akhlak santri tersebut.
Terlepas dari pengertian baru itu, pelajar pondok pesantren merupakan objek utama dari istilah santri. Ketaatan pada ajaran agama harus selalu tercermin dalam tingkah laku mereka. Termasuk kejujuran, kesederhaan, dan kesopanan yang ditanamkan sejak dini di lingkungan pesantren.
Peradaban dunia berkembang dengan begitu pesat. Ruang dan waktu semakin terasa sempit dengan adanya teknologi yang mempermudah seluruh rakyat dalam menjalani aktivitas mereka. Perkembangan ini memberikan persoalan tersendiri bagi para santri. Sebagai sekumpulan warga yang memiliki pengetahuan lebih daripada yang lain (meski tidak semuanya), mereka dituntut untuk dapat menjawab persoalan-persoalan terbaru yang berkenaan dengan agama.
Sayangnya, kini eksistensi pesantren telah tergoyahkan oleh modernitas itu sendiri. Tak sedikit pesantren yang gulung tikar dikarenakan para orang tua telah kehilangan minat untuk memondokkan putra-putri mereka. Maka dari itu sebagian pesantren kemudian mendirikan lembaga pendidikan formal. Kecuali itu masih banyak pesantren yang berpegang teguh pada identitas salaf mereka dan masih dapat berdiri teguh hingga saat ini, seperti Lirboyo dan Sidogiri.
Di samping itu, lulusan pesantren kini semakin rajin membuat rakyat geleng-geleng kepala. Telah banyak tercatat kasus-kasus yang melibatkan para santri, utamanya yang telah keluar dari pesantren. Terutama korupsi yang telah melibatkan sejumlah besar kaum sarungan. Parah sekali sebenarnya, mengingat korupsi merupakan derita nusantara yang telah membuat jutaan rakyat sengsara. Dan menjadi semakin parah apabila mereka tidak mengaku santri hanya karena mereka telah keluar dari pondok pesantren. Padahal santri adalah identitas abadi.
Keterlibatan santri dengan korupsi tentu hanya akan membuat nangis ibu pertiwi. Karena selama di pesantren tentunya nilai-nilai kejujuran telah ditanamkan dalam-dalam di lubuk hati mereka. Tentunya dengan karakter jujur itu diharapkan para santri dapat menjadi generasi penerus bangsa yang dapat diandalkan.
Modernis vs Hedonis
Tidak bisa dipungkiri bahwa santri pun kini harus berpikir modern. Jika tetap pada pendirian terdahulu mereka akan terlindas oleh zaman. Tak hanya peralatan yang digunakan, pemikiran mereka pun dituntut untuk semakin modern.
Nah, di sinilah kemudian banyak santri yang salah mengambil pemahaman. Kejujuran, kesederhanaan, dan kesopanan mereka tanggalkan dari diri mereka dengan dalih mengikuti perkembangan zaman. Padahal, menjadi modern sama sekali tidak harus setelanjang itu.
Media sosial kini telah berkembang biak begitu banyak. Sebanyak itu pula kaula muda, termasuk santri, menidurkan diri mereka di kehidupan nyata dan bermimpi sepuasnya di dunia maya. Tak peduli apa yang mereka publikasikan, mereka memposisikan diri sebagai orang yang patut mendapat perhatian. Dusta ataupun nista mereka abaikan demi meraih popularitas yang tak ada redupnya.
Menjadi kaya, memang, bukanlah sebuah dosa bagi para santri. Makan di tempat mewah, tentu, adalah hak mereka. Memiliki perabotan lengkap dan berkualitas tinggi, pasti, dapat menunjang kehidupan mereka. Namun kemudian, di manakah letak kesederhanaan itu? Apakah sesederhana melihat rakyat miskin kelaparan? Atau sesederhana menyeruput kopi di kafe dekat angkringan?
Melanjutkan studi di luar pesantren merupakan hal yang lumrah bagi para santri. Tentunya dengan pengalaman mondok di pesantren diharapkan mereka dapat memberi contoh terhadap pelajar-pelajar lain, bagaimana seharusnya sikap seorang murid terhadap gurunya. Faktanya, justru banyak dari para santri kini tak lagi dicontoh melainkan mencontoh. Maka tidaklah mengejutkan apabila dalam waktu yang tidak lama tata krama terhadap guru akan bertemu dengan kepunahannya.
Perlu digarisbawahi, Hari Santri Nasional tidaklah seperti piala dunia. Tak ada tuntutan untuk mengadakan seremoni besar-besaran. Tidak juga perlu dipublikasikan gencar-gencaran. Setiap santri pasti tahu arti hari tersebut dan bagaimana merayakannya. Wallahu a’lamu bish-showab...
*Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Wednesday, October 12, 2016

Demonstrasi, Makhluk apakah itu ?



Demonstrasi, Makhluk apakah itu ?
Oleh : Muhammad Wahyudi
yudiana026@gmail.com

Tulisan ini berawal dari kebimbangan pikiran yang penulis rasakan di semester awal ketika melihat aksi demonstrasi yang sering terjadi di kampus yang ia tempati. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bahwa demonstrasi adalah hal yang sia-sia, bersifat anarkis dan “sangat tidak berpendidikan”. Seorang mahasiswa tidak seharusnya terlalu ikut campur dengan dunia perpolitikan dan kenegaraan, apalagi sampai mengikuti aski demonstrasi, karena tugas seorang mahasiswa adalah belajar, belajar dan belajar. Kurang lebih begitu yang penulis pikirkan tatkala baru masuk ke dalam dunia kampus. Namun mengapa masih ada segelintir mahasiswa yang mengikuti aksi demonstrasi ? apakah mereka tidak merasa bahwa aksi demonstrasi tidak mencerminkan kesan “intelek” yang melekat pada diri seorang Mahasiswa? Mari kita renungkan siapakah yang disebut sebagai seorang Mahasiswa ?
            Indonesia memiliki banyak istilah untuk penyebutan orang yang sedang menempuh studi, ada pelajar, murid , siswa dan mahasiswa. Tentunya perbedaan nama, bukanlah hanya untuk membedakan penyebutan tanpa ada makna dibaliknya. Mari kita uraikan satu persatu dari keempat istilah  tadi. Kata pelajar seringkali dilekatkan pada seorang anak yang sedang menempuh pendidikan formal baik di tingkat SLTP maupun SLTA. Pelajar memiliki arti orang yang menerima pengajaran. Kemudian murid, kata ini  berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata arada yuridu iradan muridun yang bermakna orang yang memiliki kehendak, keinginan dan tujuan. Oleh karena itu, seorang murid haruslah memiliki keinginan untuk selalu mengembangkan dirinya.
            Selanjutnya adalah kata siswa,  ada pendapat yang menyatakan bahwa siswa berasal dari bahasa jawa, yaitu wasis yang berarti pintar dan pandai. Kata wasis dibalik menjadi siswa yang pada saat ini memiliki arti hampir sama dengan murid, yaitu siswa sebagai orang yang pandai dan murid sebagai orang yang memiliki kehendak yang besar untuk mengupgrade kapasitas dirinya. Bagaimana dengan mahasiswa ? Mahasiswa berasal dari dua kata, yaitu maha dan siswa. Maha memiliki arti besar, agung dan kuat. Sehingga apabila kata maha digabungkan dengan kata siswa maka akan menjadi Mahasiswa yang memiliki makna  sebagai siswa yang tinggi. Oleh karenanya seorang mahasiswa dalam menempuh studinya berada di perguruan tinggi. Namun ada satu hal yang menjadi catatan, bahwa semakin tinggi seseorang, maka akan berbeda pula tanggung jawabnya. Hal demikian juga berlaku bagi seorang siswa yang memiliki gelar maha.
            Perguruan Tinggi tentu berbeda dengan dunia sekolah. Mahasiswa juga berbeda dengan siswa. Di Perguruan Tinggi, terdapat visi, misi dan tanggung jawab yang dipikul oleh seluruh elemen yang berada di bawah naungannya, baik itu dosen ataupun mahasiswa. Tanggung jawab tersebut adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Istilah tersebut, pertama kali penulis dengar ketika menjadi mahasiswa baru yang masih unyu-unyu dan hilang dari pikiran entah kemana tatkala telah disibukkan dengan banyaknya tugas di perkuliahan. Penulis baru ingat dengan istilah tersebut ketika merenungkan identitas diri sebagai agent of change. Berikut uraian sekilas apa saja Tri Dharma Perguruan Tinggi.
1.      Pendidikan dan Pengajaran
Pilar utama dari Tri Dharma Perguruan tinggi adalah pendidikan dan pengajaran. Karena seorang mahasiswa dituntut untuk menjadi agen perubahan yang tentunya memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Dharma ini tidak hanya berhenti dalam menerima ilmu, namun mahasiswa juga harus meneruskan ilmu yang didapatkannya kepada orang lain (transfer of knowledge).
2.      Penelitian dan Pengembangan
Ilmu yang diperoleh mahasiswa haruslah dikembangkan, karena berbagai teori yang ia dapatkan di perkuliahan tidak final sampai titik tersebut. hal inilah yang mendasari perbedaan antara siswa yang hanya memperoleh ilmu dengan mahasiswa yang memperoleh berbagai teori, lalu dilanjutkan dengan pengembagan dan penelitian terhadap berbagai teori yang ia dapatkan. 
3.      Pengabdian Masyarakat
Poin terakhir dari tiga dharma inilah yang seringkali mahasiswa abaikan, yaitu pengabdian masyarakat. Seorang mahasiswa yang notabene sebagai agent of change tentunya harus memliki kontribusi yang jelas untuk masyarakat. Apapun fakultasnya, prodinya, seorang mahasiswa harus ikut andil dalam upaya pengabdian masyarakat, bukan besikap acuh tidak acuh (apatis) terhadap gejala sosial yang ada di sekitarnya.
            Dari uraian sekilas perihal Tri Dharma Perguruan Tinggi, kita dapat melihat bahwa aksi demonstrasi bukanlah sebuah hal “haram” bagi seorang mahasiswa. Hemat saya, demonstrasi merupakan hal yang wajar dalam dunia demokrasi dan pendidikan modern. Dalam beberapa kasus tertentu, aksi demonstrasi meruapakan “keharusan” bagi seorang mahasiswa dalam upaya pengabdian terhadap masyarakat. Seorang mahasiwa harus “peka” terhadap fenomena sosial, politik, ekonomi dan berbagai bidang lainnya, karena mereka terikat dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang membedakan kehidupan di sekolah dengan kehidupan di Perguruan Tinggi.
            Lebih lanjut, haruskah mahasiswa berdemo ? apakah aksi demonstrasi yang bersifat anarkis dapat dibenarkan ? jawaban dari pertanyaan diatas tidak sesederhana mengucapkan ya atau tidak. Karena kita harus melihat apa yang ada di balik suatu kejadian. Mahasiswa seringkali menafsirkan aksi demostrasi sebagai bentuk pengabdian masyarakat dalam menanggapi fenomena ketimpangan sosial yang mereka lihat. Lalu perihal demonstrasi yang anarkis, hal ini seringkali disebabkan sifat mahasiswa yang tidak stabil dan sering meledak-ledak amarahnya. Alasan lain, karena kebebalan pemerintah yang bersikap apatis terhadap nasib masyarakat.
            Dalam sejarah Indonesia, tercatat bahwa Soekarno pernah diculik oleh para “mahasiswa” untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu pada masa selanjutnya, Mahasiswa lah yang menurunkan Soekarno dari kursi orang nomor satu di negri ini, hal ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang terjadi pada saat itu. Hingga pada tahun 1998, sejarah menyebutkan bahwa ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru negeri memadati ibu kota jakarta dan menduduki gedung DPR untuk menurunkan rezim orde baru. Dengan melihat sejarah, kita dapat mengetahui bahwa mahasiswa “dulu” sangatlah peka terhadap realitas sosial yang ada di sekitar mereka, sehingga Mahasiswa memiliki andil yang besar dalam dinamika perpolitikan di Indonesia. Apapun kontroversinya, seyogyanya bagi seorang Mahasiswa memiliki kepekaan yang kuat dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Akhirnya, tulisan ini hanya memberikan ulasan semata, tanpa menjustifikasi suatu tindakan itu benar atau salah. Karena dalam menanggapi suatu tindakan, harus dilakukan usaha pemahaman yang mendalam, agar tidak mudah menilai salah terhadap suatu tindakan tersebut. Terutama dalam aksi demonstrasi yang terkadang anarkis, kita harus menanggapinya dengan arif dan bijak. Tidak seharurnya Mahasiswa yang tidak ikut berdemo menjudge tindakan tersebut sebagai “keharaman” yang tidak patut dilakukan oleh seorang mahasiswa, karena beranggapan bahwa satu-satu tugas mahasiwa ialah belajar. Mari kita renungkan bersama bahwa menjadi seorang Mahasiswa ialah layaknya “anak laki-laki” menjadi “Pria” dan “anak perempuan” menjadi “Wanita”. Salam Mahasiswa !!! Salam Pergerakan !!!

Saturday, October 8, 2016

Pelatihan Jurnalistik; Goresan Pena Santri, Gerakan Membangun Negeri



Kemarin (08/10) Departeman Jurnalistik bersama Kru Sarung CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan acara Pelatihan Jurnalistik. Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh anggota aktif angkatan 2016 dan segenap panitia ini bertempat di pendopo Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), Sorowajan. Berlangsung sejak pukul 08.00 dan berakhir pada pukul 15.30, kegiatan ini berjalan lancar.
Dengan tema “Goresan pena santri, Gerakan membangun negeri”, acara dipimpin oleh Melati Ismaila Rafi’i sebagai pembawa acara. Acara dibuka dengan pembacaan kalamullah oleh Andi Rasyidin, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, sambutan – sambutan dan masuk pada acara inti; materi kepenulisan.
Muhammad Ali Fakih, editor penerbit DIVA Press menjadi narasumber pada sesi pertama, karangan non-fiksi. Dengan berbagi pnegetahuan dan pengalamannya seputar kepenulisan, ia menjelaskan berbagai macam karangan non-fiksi; essay, opini, resensi dan tajuk rencana. “Saya masih hidup di Jogja sampai sekarang karena tulisan”, ungkapnya ketika bercerita perjalanan panjangnya menjadi anak rantau di tanah Jogja. Mulai dari rajin berdiskusi di kampus, mengirim tulisan di koran daerah maupun nasional, sampai pada jabatannya sekarang menjadi editor penerbit DIVA Press.
Dengan narasumber Ahmad Faqih Mahfudz, sesi kedua terlihat semakin panas. Para peserta  antusias ditambah pemateri yang sangat menarik, yaitu penulis sastra yang istiqomah dalam kekreativitasannya. “Kalau tulisan mandeg, tinggalkan dulu. Kerjakan yang lain. Karena tulisan nggak akan lahir tanpa ide”, jawabnya saat ditanya Najiha. Di akhir sesinya, ia berpesan “Baca apa yang kalian suka, dan sukailah apa yang kamu baca. Karena setiap diri punya potensi”, disambut senyum hangat para peserta.
Sampai akhir, acara ini berlangsung lancar dan para peserta sangat antusias. “Kami menjadi termotivasi untuk mulai banyak membaca, karena kedua narasumber mengatakan bahwa seseorang tidak akan mampu menulis jika tak memiliki wawasan dalam kepalanya. Berbagai kegelisahan kami juga terjawab oleh para narasumber dalam acara ini”, ujar Alif ketika ditanya kesan mengikuti acara pelatihan ini.
Dalam kesempatan lain Luqman Hakim, ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2016 mengharapkan kelanjutan dari pelatihan ini. “Acara ini sudah baik, ditambah dengan pemateri yang mumpuni dalam bidangnya masing – masing. Tinggal kelanjutannya, respon peserta dengan karyanya  dan program lanjutan dari Departemen Jurnalistik  untuk ke depannya”, ujarnya.
Sejalan dengan Luqman Hakim, Imaniar Djabar selaku ketua panitia dalam sambutannya mengatakan, “Ini merupakan langkah awal, langkah selanjutnya ada di tangan masing – masing, maka MENULISLAH…” (Saya)

Ahmad Faqih Mahfudz: "Membaca, Membaca, Membaca, Menulis

Pemateri kedua dilanjutkan pada jam 12:30 s/d 14:15. Dengan Ahmad Faqih Mahfudz, selaku mahasiswa Pasca UIN SUKA, Sekaligus penulis sastra. Pemateri bergelut di bidang sastra dikarenakan semenjak kecil ditambah lagi lingkungan pesantrenya yang banyak mengajarkan hal-hal yang berbau sastra. Pemateri menulis dimulai dari SMA Sampai sekarang, alasan utama mengapa beliau begitu tertarik dengan sastra dikarenakan tulisan dalam bentuk sastra tidak mesti harus fakta, namun tulisan sastra memiliki kekhasan yang unik, memiliki gaya ungkapan yang unik namun memiliki pesan yang sangat menarik, al-qur'an juga mengajarkan kita tentang sastra. Dalam diskusi ke dua ini, para audiens tidak kalah semangatnya dengan diskusi pertama, bahkan lebih antusias dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan audiens kepada pemateri sekitar kurang lebih  ada 15 pertanyaan. Dalam diskusi kali ini pemateri menekankan bahwa hndaknya sblum mnulis sesuatu trlbih dahlu mnguasai apa yg ingin dtulis dngan mmbca buku yg brkaitan dngan apa yg akan dtulis, sesuai dngan motto beliau "Membaca, membaca, mmbaca, menulis".

Friday, October 7, 2016

Ali Fakih: Jadikan ini Pelatihan Terakhir


Peserta “Pelatihan Jurnalistik” CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (8/10/2016) begitu antusias mendengarkan materi pertama. Muhammad Ali Fakih hadir sebagai narasumber mengenai kepenulisan non-fiksi. Kegiatan yang merupakan program kerja Departemen jurnalistik ini diikuti oleh anggota baru PBSB UIN sunan Kalijaga dan kru ‘Sarung’. Dalam pembukaannya Muhammad Ali Fakih mengutip perkataan Imam Ghazali, “Jika kau bukan anak raja atau orang kaya, maka menuliislah. Kemudian ia memulai dengan terlebih dahulu bercerita tentang pengalamannya di dunia kepenulisan. “Setelah lulus sekolah, saya memutuskan untuk ke Jogja,” katanya. Lulusan Fisika UIN Sunan Kalijaga ini mengaku tujuan utamanya ke Jogja adalah untuk belajar menulis, bukan kuliah. Lalu ia bercerita tentang permulaan tulisannya dimuat di media masa. Ia juga menyebutkan honor di beberapa media untuk menambah ketertarikan peserta. Selanjutnya editor penerbit DIVAPRESS ini memaparkan mengenai definisi opini, kolom, essay, dan resensi. Opini adalah tulisan yang sifatnya hangat, sedangkan essay lebih santai. Sehingga essay akan tetap hangat meskipun dibaca sepuluh tahun lagi. Sementara resensi ialah mengenalkan buku, membandingkan dengan buku lain yang sejenis, dan memberikan kritik terhadap buku itu dengan gagasan lain. “Kolom biasanya ditulis oleh orang yang ahli, ya seperti kita ini belum lah,” lanjutnya. Sesi diskusi berlangsung sangat menarik dengan beberapa pertanyaan dari peserta. Diantaranya ialah Riri Widya Ningsih, peserta yang merupakan mahasiswa PBSB Prodi Ilmu Hadis menanyakan tentang hambatan-hambatan dalam menulis beserta solusinya. Pemateri menyebutkan diantara hambatannya adalah menemukan ide, menuliskan idenya, serta cara menganalisa. “Memunculkan ide berawal dari gelisah. Jadi sebelum menulis harus gelisah, kalo tenang aja ya ngga punya ide,” paparnya. Ia juga menambahkan ide iitu dapat ditemukan dengan membaca koran, mendatangi orang yang banyak idenya serta membaca buku. Kemudian cara menuliskan ide dimulai dengan membuat coret-coretan di kertas dan menyusun argumentasi. Maka pemateri menyarankan kepada peserta untuk memiliki buku catatan untuk menuliskan ide-ide yang muncul. Sementara untuk menganalisa, pemateri mengarahkan peserta untuk membaca buku-buku berkualitas. “Jadikan ini sebagai diklat pertama dan terakhir, karena yang penting itu praktek”, pesan Muhammad Ali Fakih dalam kata penutupnya. Pemateri juga menyarankan kepada kru Sarung untuk membuat kelompok studi dalam kepenulisan. “Yang terakhir, jangan minta duit ke orang tua, menulislah!”, tutup pemateri yang kemudian disambut sorak tawa dan tepuk tangan peserta. (Heran)

Buletin Sarung Edisi 08 Oktober 2016


Setelah selesai menerbitkan Buletin Sarung Edisi sebelumnya, maka pada kesempatan ini, kami dari kru sarung sudah melakukan revisi dan membuat versi digital untuk bisa dibaca, diunduh, dan dicetak bagi yang ingin membacanya. Kritik dan saran diperlukan untuk perkembangan buletin digital ini pada Edisi selanjutnya. Untuk download bisa masuk ke halaman berikut : Buletin Sarung Edisi 08 Oktober 2016 atau bisa membacanya di sini:

Wednesday, October 5, 2016

Tersenyumlah



Tersenyumlah
Oleh: 
Muhammad Farid Abdillah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga)
Semua orang di dunia ini pasti akan merasakan hadirnya masalah dalam hidupnya. Entah yang dirasakan adalah hadirnya masalah yang berupa  nikmat dalam hidup, atau hadirnya cobaan dalam hidup. Nikmat disebut sebagai masalah karena seringkali ketika nikmat datang, efek yang muncul adalah lupa dengan segalanya dan hanya mementingkan diri sendiri.
Di sisi lain, cobaan atau ujian dalam hidup dikategorikan sebagai masalah karena perasaan yang satu ini seringkali membuat diri bersedih. Bahkan tak sadar berlarut dalam kesedihan, sehingga melupakan bahwa masih ada Tuhan yang senantiasa ada untuk kita.
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika masalah yang hadir berupa cobaan atau ujian kepada diri kita. Yaitu tersenyum. Mengapa harus tersenyum ? Sedangkan hati sedang merasa sedih dan sakit ? Apa belum cukup jika penggambaran perasaan yang berlarut itu dengan air mata yang membasahi pipi ? Nampaknya pertanyaan-pertanyaan itu terlalu naif jika ditanyakan. Maka penulis merasa harus menyelesaikan tulisan ini guna menjawab pertanyaan itu.
Baiklah kita mulai dengan kehadiran nikmat. Tersenyum di sini tentu saja berhubungan dengan rasa syukur akan hadirnya nikmat tersebut. Syukur pastinya tidak cukup hanya dengan mengucap alhamdulillah, tetapi implikasi lebih jauh, seharusnya, berefek pada meningkatnya ibadah kepada Sang Pemberi nikmat. Tapi tentu saja sebagaimana yang diungkapkan di atas, jangan sampai lupa diri dan melupakan bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan.
Poin kedua adalah yang cukup sulit dilakukan. Yakni tersenyum ketika sedang ada masalah yang berupa cobaan dan ujian. Beberapa orang pasti akan beranggapan hal ini sangat sulit dilakukan. Karena bagaimana mungkin tersenyum, yang biasanya berhubungan dengan hati yang sedang senang, dilakukan saat hati tertimpa beban ?
Jika melihat secara sekilas, memang akan sangat sulit mencoba sesuatu yang terlihat bertentangan, dalam hal ini tersenyum dengan keadaan hati yang sedang bersedih, namun jika hal ini mampu dilakukan maka tidak terasa berbagai cobaan akan terlewati. Memang sulit jika hanya angan-angan yang ada dalam diri kita. Tapi bukankah hal ini patut untuk dicoba ?
Simpelnya seperti ini, ketika hati kita merasa sangat sedih bahkan mata seakan meminta untuk diizinkan mengeluarkan air mata. Coba ganti dengan sebuah senyuman. Secara tidak langsung maka kita sedang mensugesti pada diri sendiri untuk melupakan sejenak masalah itu. Dengan menarik otot-otot bibir kita maka sistem saraf di otak akan terstimulasi untuk meregang. Maka seketika itu kita akan merasa lebih tenang.
Di saat diri mulai tenang, di situlah nantinya akan muncul ide - ide aneh yang tak sadar akan menyelesaikan masalah kita. Karena jika kita berlarut dalam kesedihan bukan ide cemerlang yang muncul, tetapi hanya perasaan gelisah saja yang ada di permukaan. Jika hal ini mampu diganti dengan senyuman, dan hati serta diri merasa senang. Maka ide - ide pemecahan masalah itu akan selalu muncul beriringan.
Dari sini saja, agaknya pertanyaan-pertanyaan di atas sudah mulai terjawab. Saat hati sedih bahkan sedang dalam keadaan terburuk sekalipun, bisa diganti dengan sebuah senyuman. Selain menyenangkan orang yang di depan kita, secara tidak langsung kita telah mensugesti diri agar melupakan sejenak masalah berupa cobaan, dan mencari ide - ide aneh yang bisa menyelesaikan masalah itu.
Jadi jangan takut untuk tersenyum di kala hati sedang bersedih. Bersedih saja tak akan pernah menyelesaikan masalah, bukan ? Sekian. Dan jangan lupa tersenyum. 😊