CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Wednesday, November 30, 2016

Antara Soekarno dan Fidel Castro


             Antara Soekarno dan Fidel Castro
                 Oleh : Muhammad Wahyudi

  Beberapa hari yang lalu, tepatnya 26 November 2016, seorang teman aktivis di pesantren memberikan kabar bahwa Bapak Revolusi kuba meninggal. Kabar yang mungkin bukan suatu masalah besar bagi kebanyakan Mahasiswa. Namun bagi para pejuang pergerakan, aktivis sosial dan sebagian Mahasiswa, kabar tersebut memberikan duka yang mendalam. Jikalau bagi orang Islam, kematian seorang ulama adalah sebuah musibah yang besar, maka kematian seorang Revolusioner adalah sebuah tamparan keras bagi orang-orang yang menyebut dirinya sebagai “Agent Of Change” dan tentunya sebuah kabar gembira bagi mereka yang telah nyaman dengan kapitasime hingga mereka tak sadar bahwa dirinya telah diperbudak oleh Neo-Kolonialisme. 
 Sang Revolusioner itu bernama Fidel Alejandro Castro Ruz atau lebih dikenal dengan panggilan Fidel Castro. Ia adalah seorang anak yang tumbuh mandiri, walau berasal dari keluarga yang kaya. Pada saat kecil, ia dikenal sebagai anak yang nakal serta cerdik, sehingga ia dijuluki sebagai seorang Robin Hood. Ketika ia berada di bangku kuliah, ia sangat tertarik dengan mata kuliah sosial dan ia masuk ke dalam organisasi gerakan Mahasiswa. Dari sinilah, Ideologi Sosialis seorang Fidel Castro dibangun di tengah-tengah hiruk-pikuk ketimpangan sosial yang terjadi saat itu. 
  Sebelum dirinya menjadi Presiden Kuba, Fidel Castro telah mengalami berbagai kekalahan dalam melawan Rezim Batista kala itu yang bertindak sewenang-wenang, melakukan kekebalan hukum, menampung para mafia dan berbagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara Hukum. Pada tahun 1953, Fidel castro memimpin serangan ke barak miiter Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Hingga akhirnya ia dihukum penjara selama 15 tahun. Namun tak berselang lama, Fidel Castro dibebaskan setelah adanya amnesti hukuman, yaitu pada 15 Mei 1955.
  Fidel castro pantang berhenti dalam berjuang, ibarat layar kapal sudah dikibarkan, pantang kembali tanpa hasil. Ia sadar bahwa ia memerlukakn bantuan dari pihak lain. Oleh sebab itu ia pergi ke meksiko, bertemu dengan Che Guevara. Selain itu Fidel Castro juga membangun relasi dengan para pengikut pemerintahan sebelumnya dalam upaya menggulingkan rezim diktator Batista. Hingga pada akhirnya perjuangan Fidel Castro bersama para pejuang lain membuahkan hasil, yaitu dengan menduduki Havana dan Santiago de Cuba pada 8 Januari 1959. Mungkin itu hanya sekilas pengenalan bagi para pembaca yang baru mendengar nama “Fidel Castro”. Mari kita beralih perbincangan.
   Berbicara tentang tokoh Revolusioner Kuba, Fidel Castro, maka tak bisa lepas dari tokoh Nasional Republik Indonesia, yaitu Ir. Soekarno. Kedua tokoh ini memiliki beberapa persamaan. Pertama, Soekarno adalah tokoh Revolusi Indonesia yang merebut kemerdekaan dari Kolonial Belanda dan Fidel Castro adalah seorang Revolusioner yang mengentas rakyat Kuba dari kekuasaan Rezim Diktator Batista. Kedua, mereka berdua pernah digembleng dalam naungan organisasi pergerakan, Soekarno digembleng dibawah bimbingan HOS Tjokroaminto, sedangkan Fidel castro belajar di bawah pergerakan Mahasiswa Unión Insurreccional Revolucionaria. Ketiga, Politik Berdikari, Soekarno memiliki ideologi politik yang mandiri, tidak bergantung pada Imperialisme Barat. Begitupun dengan Fidel Castro. 
   Pada tahun 1959, Fidel Castro mendatangi Jakarta untuk pertama kalinya. Ia mengunjungi Presiden Soekarno dan berdiskusi perihal ekonomi yang ada di Kuba. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia yang memiliki haluan ideologi politik Berdikari memaparkan konsep-konsep yang mungkin bisa diikuti oleh Kuba, yaitu kemandirian dalam segala sektor, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Diskusi tesebut berlanjut pada tahun 1960, setahun setelah Fidel Castro berkunjung ke Jakarta, Soekarno berganti mengunjungi Kuba yang pada saat itu baru dipimpin oleh Fidel Castro. Dalam kunjungan tersebut, Soekarno memberikan hadiah Songkok Nasional dan Keris—sebuah pusaka Jawa—sedangkan Fidel Castro memberikan topi militer yang menjadi ciri khas dirinya. Hal ini menunjukan kedekatan dua tokoh revolusioner yang saling menghormati satu sama lain. 
  Keempat, Ideologi Sosial, Soekarno yang berlatar belakang pendidikan dibawah binaan HOS Tjokroaminoto, memiliki paham ideologi sosialis—berbeda dengan sosial-komunisme G30SPKI—yaitu, ideologi yang bertujuan menyejahterakan rakyat, menghapus ketimpangan sosial yang ada, memberikan keadilan kepada seluruh lapisan masyarakat. Begitu juga dengan Fidel Castro, ia memiliki ideologi sosialis, namun seringkali orang berkata bahwa Fidel Castro adalah seorang komunis. Dalam salah satu pernyataannya, ia menyatakan bahwa dirinya bukanlah seorang komunis sekaligus bukan anti komunis : “I am not a communist amd neither is the revolutionary movement, but we do not have to say that we are anticommunists just to fawn on foreign powers.” (Aku bukanlah komunis, begitu juga dengan gerakan revolusi, tapi kami tidak akan jadi anti-komunis untuk sekedar meminta bantuan kekuasaan asing). Masih banyak lagi persamaan antara Soekarno dan Fidel Castro, namun hal itu tak mungkin dipaparkan dalam tulisan kecil ini. 
   Dari berbagai kesamaan antara dua tokoh tersebut, dan beberapa uraian perihal diaolog antara dua tokoh revolusioner tentang konsep-konsep ideologi politik. Kita dapat sedikit menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap revolusi Kuba, sebuah revolusi yang menyatakan dirinya lepas dari tali Neo-Kolonialisme dan Imperialisme. Namun kenyataannya, Indonesia harus kembali belajar kapada Kuba tentang ideologi politik “berdikari” yang telah diajarkan oleh Soekarno kepada Fidel Castro. Mengutip kata-kata aktivis muda Muhammad al-Fayyadl : “Indonesia, negara yang kaya raya namun jutaan rakyatnya miskin, layak malu kepada Kuba. Jargonnya “Ekonomi Berdikari”, namun menyusu kepada investasi asing. Apa-apa melimpah, namun boros dan tak pernah menyejahterakan.”
   Oleh karena itu , penulis sebagai seorang pemuda menyeru kepada diri sendiri serta kepada para pemuda lain yang membaca tulisan ini untuk meneruskan perjuangan bapak Revolusi indonesia, Ir. Soekarno, yaitu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa takut kekurangan makan seperti yang dialami oleh Kuba sebab Embargo yang dilakukan Amerika. Berani menjadi miskin namun mandiri lebih baik dari menjadi pengemis di negeri sendiri. Jikalau bukan para Pemuda yang memulai, siapa lagi? Pramoedya Ananta Toer berpesan : “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.” والله أعلم بالصواب 

Saturday, November 19, 2016

Buletin Sarung edisi 19 November 2016

Buletin Sarung edisi 19 November 2016 dapat diunduh di sini atau baca melalui frame di bawah ini...
  t
Untuk edisi lainnya silahkan kunjungi www.cssmorauinsuka.net

Wednesday, November 9, 2016

Aplikasi Semangat Juang Para Pahlawan 10 November 1945 di Era Kini

Aplikasi Semangat Juang Para Pahlawan 10 November 1945 di Era Kini
Oleh : Anshori

Manusia tidak bisa lepas dari sejarah, karena pada dasarnya sejarah merupakan sarana atau alat yang menghubungkan kehidupan manusia antara masa lalu dan masa kini. Ada banyak pendapat mengenai apa itu sejarah, salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Moh. Hatta. Menurutnya, sejarah bukan hanya sekedar melahirkan cerita dari kejadian masa lalu sebagai masalah. Sejarah tidak sekedar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya. 
Muhammad Quthb berpendapat bahwa sejarah bukan hanya kisah yang diceritakan, bukan pula rekaman peristiwa dan kejadian masa lalu. Lebih dari itu, sejarah di pelajari untuk di ambil hikmahnya dan untuk pendidikan generasi selanjutnya. 
Dr. ‘Abdul ‘Azhim Mahmud al-Dayb mengatakan bahwa sejarah adalah ingatan satu bangsa dan karena itu juga ingatan perorangan. Dengan sejarah, mereka mengetahui masa lalu, menafsirkan masa kini, dan merancang masa depan mereka.
Dari beberapa pendapat di atas jelas bahwa ada korelasi yang terjadi antara kehidupan masa lalu dan sekarang yaitu pelajaran yang bisa di ambil dari masa lalu yang kemudian bisa diaplikasikan oleh generasi muda saat ini. Pelajaran tersebut bisa berupa keberhasilan suatu bangsa atau pun keruntuhannya.
Sebagai Bangsa Indonesia, sudah seharusnya untuk melestarikan dan mengingat kembali momen-momen bersejarah bangsa ini, salah satu peristiwa bersejarah yang Indonesia miliki adalah peristiwa 10 November 1945 yang ditetapkan sebagai hari Pahlawan Nasional. Barlan Setiyadijaya, penulis buku “10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia,” mengatakan bahwa penetapan tersebut bukan hanya untuk mengkultuskan para pelaku yang berada di kota pahlawan pada saat terjadi peristiwa 10 November 1945 itu, sebab kepahlawanan Indonesia tidak semata-mata terbatas di kota tersebut. Lagi pula di Surabaya terdapat semua suku bangsa dari seluruh pelosok tanah air, sehingga semua daerah terwakili.
Lebih lanjut Barlan menjelaskan dalam bukunya itu bahwa pada hakekatnya peristiwa Surabaya merupakan cetusan hati dan luapan jiwa rakyat Indonesia untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan nusa dan bangsanya yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tekad bulat untuk menyumbangkan segalanya dengan motto: “lebih baik hancur daripada dijajah kembali” seperti diucapkan Gubernur Surio berdasarkan: “Merdeka atau mati” dan “Sekali merdeka, tetap merdeka” pada penolakan ultimatum Mansergh, yang dilaksanakan dengan segala resiko. 
Bagi rakyat Indonesia tiada pilihan lain dengan segala kekuatan persenjataan yang minim tanpa pengalaman perang untuk lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Padahal yang dihadapi adalah satu negara yang baru saja keluar sebagai pemenang dalam Perang Asia Timur Raya. Namun suasana pasca perang adalah keinginan untuk perdamaian di mana-mana dan jemu kekerasan. Keharusan sekutu untuk menundukkan kaum “extremisten (kaum Indonesia yang menolak penjajahan) yang bandel” memaksa melakukan kekerasan dengan akibat bahkan gugurnya dua Brigadir dalam tempo dua minggu. Berita adanya pertempuran yang paling hebat setelah perang usai mengejutkan seluruh dunia yang justru di negeri dengan bangsa yang paling santai dan suka damai. Mereka terheran-heran perubahan yang tajam hanya dalam beberapa tahun pendudukan Jepang saja, sehingga Inggris merasa kehilangan muka dengan kerugian personil dan materi terbesar di bagian timur Pulau Jawa itu.
Surabaya merupakan neraka seperti banyak ditulis dalam pelbagai buku luar negeri, di antaranya adalah David Wehl dalam bukunya “The Birth of Indonesia”, menyatakan bahwa fanatisme dan kemarahan rakyat Surabaya tidak pernah dihadapi lagi dalam pertempuran-pertempuran berikutnya. Tiada lagi pertempuran yang dapat disejajarkan dengan peristiwa di Surabaya, baik dalam keberanian maupun dalam keteguhan dan ketabahannya. Betapa besar trauma yang diderita Inggris dengan kehilangan dua brigadirnya (Mallaby dan Loder-Symonds) dalam tempo kurang dari dua minggu, telah membuka mata betapa besar fighting value satu bangsa yang semula dikira sebagai bangasa yang paling lemah di dunia.
Pernyataan Barlan Setiadijaya di atas menunjukkan betapa besar perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan rakyat. Meskipun dengan senjata seadanya dan belum memiliki pengalaman perang seperti halnya Inggris, Belanda dan sekutunya yang jelas-jelas lebih berpengalaman dan mempunyai perbendaharaan senjata yang lebih lengkap pula. Namun, apa yang menjadikan tentara sekutu kewalahan dan kesusahan mendudukkan Surabaya, tidak lain karena semangat juang rakyat Indonesia yang diwakili oleh para pemuda-pemuda bangsa. Mereka tidak takut mati, semboyan “lebih baik hancur daripada dijajah kembali” dipegang dan dijunjung tinggi sehingga semboyan itu juga yang membawa rakyat Indonesia tetap berdiri teguh hingga saat ini.
Semangat dan keteguhan rakyat Indonesia, khususnya para pemuda, dalam mempertahankan kedaulatan negara itu yang patut dicontoh untuk generasi saat ini, kalau dahulu semangat itu diwakili dengan mengangkat senjata, maka saat ini, semangat itu adalah kontribusi pemuda dalam memajukan negara. Kemajuan suatu negara tergantung pada sejauh mana kontribusi yang diberikan oleh pemuda terhadap negaranya, masyarakat Indonesia dapat bertahan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah karena semangat dan kontribusi dari pemudanya. Karenanya, untuk mengenang dan menghormati serta menjunjung tinggi usaha para pahlawan itu, mari merenung kembali dan memupuk semangat yang mungkin kini kian hari kian menyusut demi kemajuan bangsa Indonesia yang di dambakan oleh para pahlawan terdahulu.

Monday, November 7, 2016

Kelabu dalam Pewayangan

Kelabu dalam Pewayangan
Oleh : Aliyatur Rofiah
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

     Tepat hari ini, 07 November, 13 tahun yang lalu, UNESCO akhirnya mengakui keistimewaaan wayang sebagai salah satu warisan luhur bangsa. Sebagaimana hari batik nasional, maka  tanggal penetapan dari UNESCO tersebut juga dijadikan sebagai hari wayang sedunia. Jujur saja, tidak banyak yang mengetahui hal ini. Bahkan saya sendiri baru tahu kemarin. Rasanya malu sekali pada diri sendiri. Demi menutupi perasaan bersalah tersebut, saya ingin menunjukkan salah satu sisi yang saya tangkap selama mengenal warisan agung ini. Perlu saya tegaskan bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari pelajaran yang saya ambil selama mengamati dan menikmati wayang. Banyak hal yang saya dapatkan meski harus mengejar pagelaran ke berbagai tempat. Bagi anda yang belum pernah menikmati wayang, cobalah setidaknya sekali saja melihat tingkah para wayang ini di pakeliran. Setidaknya, anda telah mempunyai satu pengalaman yang berharga.
     Bagi saya, mengamati wayang baik dari pagelaran secara langsung maupun dari berbagai literatur memiliki efek adiksi, semakin lama semakin menarik. Terdapat banyak hal yang sangat tidak logis dan relevan, namun sarat akan filosofi dan makna yang dalam. Saya bukan orang yang pandai dalam filsafat, namun sebagai orang awam yang baru menikmati wayang, saya yakin bahwa dunia pewayangan penuh dengan ajaran filsafat. Salah satu hal yang menggugah saya adalah tentang baik dan buruk. Atau dalam ungkapan lain, hitam dan putih.
     Simpingan (barisan wayang di depan kelir –layar putih tempat wayang berlaga) dalam pakeliran wayang kulit selalu sama, yakni wayang yang berjajar dari yang berukuran kecil menuju yang paling besar, dengan ketentuan masing-masing sisi menghadap arah yang berlawanan. Hal ini menurut beberapa dalang yang saya tanyai berarti bahwa manusia harus mengikuti jalan kebaikan, yakni sesuai dengan simpingan sebelah kanan yang berisi tokoh-tokoh protagonis yang seluruhnya menghadap ke kanan. Kanan, seperti yang telah kita ketahui bersama, selalu menjadi simbol dari kebaikan dan jalan yang benar. Oleh karena itu, para ksatria yang menjadi tokoh protagonis dalam setiap lakon pewayangan haruslah menjadi tokoh yang mengajarkan kebaikan dan berjuang melawan kejahatan.
     Kejahatan sendiri dalam dunia pewayangan selalu diwakili oleh para raksasa dan orang-orang serakah yang haus akan kekuasaan. Oleh karena itu, tokoh-tokoh ‘jahat’ tersebut mengisi simpingan sebelah kiri yang juga menghadap ke kiri. Wajah-wajah mereka yang biasanya berwarna merah atau hitam melambangkan watak buruk yang melekat pada diri mereka. Maka tidak heran apabila dalam berbagai lakon, tokoh-tokoh antagonis tersebut berakhir dengan kematian. Hal tersebut secara sederhana dapat diartikan bahwa kajahatan pasti akan kalah oleh kebaikan sebagaimana para raksasa yang mati di tangan para ksatria.
     Hal yang demikian menjadikan para penikmat wayang baru, seperti saya, memiliki pemahaman bahwa antara baik dan buruk selalu terpisah dan berseberangan. Pandhawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) dan Kurawa (Duryudana dan saudara-saudaranya) tidak bisa berdamai kecuali lewat perang besar Bharatayudha yang menewaskan ribuan nyawa dari kedua kubu. Lakon-lakon yang ada juga banyak memberikan kesan bahwa kebaikan kelak akan mengalahkan kebathilan. Tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan seakan terbagi menjadi baik dan buruk. Pandhawa, Rama, Batara Guru, Semar, serta tokoh-tokoh ‘kanan’ lainnya adalah lambang dari kebaikan sedangkan Kurawa, Rahwana, Batara Kala, Togog, dan tokoh-tokoh ‘kiri’ lainnya mewakili kejahatan di muka bumi ini. begitulah kebanyakan orang melihat tokoh-tokoh wayang secara sekilas. Hitam dan Putih, tanpa adanya kelabu.
     Setelah mengamati secara lebih seksama, saya berpendapat bahwa dunia pewayangan sama sekali tidak pasti dan saklek pada aturan baik dan buruk. Pewayangan diwarnai oleh paradoks-paradoks yang penuh dengan kritik sarkatis. Tidak semua orang baik akan selamanya baik, pun tidak semua orang jahat selamanya adalah orang jahat. Prabu Rama Wijaya memang raja yang memerintahkan kerajaan Ayodya dengan adil, tetapi rupanya ia meragukan kesetiaan Sinta selama berada dalam genggaman Rahwana. Begitu pula dengan sisi yang lain. Rahwana adalah orang yang kejam dan sewenang-wenang, tetapi cintanya kepada Sinta sejak Ia berwujud Dewi Sri adalah murni. Tidak sekalipun Rahwana menyakiti Sinta secara fisik. Sudjiwo Tedjo dalam berbagai buku dan kesempatan selalu meyakini bahwa cinta Rahwana kepada Sinta adalah bentuk cinta yang sejati. Mendengar penjelasan tersebut, saya mulai berpikir ulang tentang kepastian baik dan buruk dalam pewayangan.
     Paradoks selanjutnya ada dalam lakon Batara Kala, yang menceritakan tentang kelahiran dari Batara Kala, atau Murwakala, atau Kala. Batara Kala dikenal sebagai sosok raksasa yang senang memakan manusia tanpa ada belas kasihan sama sekali. Mitos-mitos tentang Batara Kala banyak dihubungkan dengan tradisi Ruwatan. Oleh karena itu, telah umum diketahui bahwa Batara Kala ini adalah tokoh antagonis yang menyeramkan dan selalu berbuat jahat. Akan tetapi, kita akan menemukan sisi lain dari Batara Kala yang sangat ‘humanis’ dalam lakon kelahiran raksasa tersebut. Dalam pagelaran Ki Dalang Enthus Susmono, saya melihat bahwa Kala awalnya adalah sosok yang sangat tulus dan innocent. Tujuan awalnya hanya satu, yakni mendapat pengakuan dari orangtuanya, Sang Hyang Batara Guru, serta hidup sederhana menjadi seorang petani. Keinginan yang sangat mudah dan tidak muluk-muluk, tetapi nyatanya malah berujung pada tragedi. 
     Ki Enthus dalam pagelaran tersebut seolah-olah ingin mengatakan bahwa inilah hidup. Tidak ada yang kebaikan benar-benar menafikan keburukan, pun tidak ada keburukan yang tak menyentuh kebaikan. Saya sangat terenyuh dengan tingkah polos si bayi bersosok menyeramkan tersebut. Dia bahkan tidak sekalipun marah ketika mengetahui bahwa ayahnya sendiri tega ‘membuang’ dan berniat membinasakan dirinya. Dia hanya ingin mengucapkan salam baktinya pada ayahanda yang menjadikan dirinya lahir di dunia ini. tidak sekalipun dia menyalahkan Batara Guru tentang fisiknya yang buruk rupa. Hatinya begitu bening hingga suatu saat orang-orang ‘putih’ itulah yang menodai kemurnian hatinya. Saudaranya sendiri menolak memberikan apa yang seharusnya dia miliki. Wajar sekali jika seseorang menuntut haknya, bukan? Lantas, pada akhirnya, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah: apakah mungkin orang yang tidak memiliki noda mampu menodai?

                             Yogyakarta, 07 November 2016

Saturday, November 5, 2016

Buletin Sarung edisi 5 November 2016

Buletin Sarung edisi 05 November 2016 dapat diunduh di sini atau baca frame di bawah ini...
  t
Untuk edisi lainnya silahkan kunjungi www.cssmorauinsuka.net

Thursday, November 3, 2016

Antara Slank dan Pengibar Bendera Khilafah

Antara Slank dan Pengibar Bendera Khilafah
Oleh : Muhammad Imdad Ilhami Khalil
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

         Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis ketika, untuk pertama kalinya, melihat konser “Slank” dengan mata telanjang. Konser ini merupakan salah satu rentetan acara dari semarak “Hari Santri” yang diadakan di kota budaya, Yogyakarta. Seperti biasa, para Slankers Mania—sebutan bagi penggemar Slank—memadati halaman Stadion Maguwoharjo tempat Bimbim dkk. beraksi.

Pada tanggal 22 Oktober tahun lalu, dengan segala pertimbangan, akhirnya orang nomor satu di Indonesia saat ini, Joko Widodo, menetapkan tanggal tersebut sebagai “Hari Santri”, bertepatan dengan dikumandangkannya Resolusi Jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Terlepas dari pro dan kontra yang kemudian timbul sebab adanya Hari Santri tersebut, event ini dapat dijadikan wadah flashback dan cerminan perjuangan para pahlawan Indonesia dalam menjaga bumi pertiwi mereka.

Tahun lalu, sepertinya tidak ada acara khusus nan meriah yang dilaksankan oleh ORMAS Islam, terlebih dari kalangan santri, maupun pemerintah layaknya Semarak hari santri tahun ini. Seingat penulis, hanya aktifitas bersifat ubudiyah seperti pengajian, dzikir bersama, dan lain sebagainya di beberapa pesantren serta Kirab Resolusi Jihad NU yang sering terdengar.

Pada edisi kedua hari santri kali ini, peringatan hari santri semakin terasa. Mulai dari pembacaan shalawat nariyah sebanyak satu miliar—yang kemudian menjadi rekor muri—hingga “Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara” yang diselengarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islami (RMI) NU. Pada acara yang diadakan oleh salah satu ORMAS Islam terbesar di nusantara inilah, konser Slank diangsungkan dengan mengangkat tema Nyantri Bareng Slank.

Sekilas terbesit dalam pikiran, mengapa pada acara yang berbaukan santri seperti ini diselingi dengan konser Slank, yang bagi penulis seringkali memicu kericuhan di antara para slankers, penggemarnya? Apakah memang ada hubungan antara santri dengan Slank? Pertanyaan ini seketika muncul di kala pertama kali penulis mendengar informasi adanya konser Slank pada acara Pekan Kreatifitas Santri Nasional Tersebut.

Dengan dipenuhi rasa penasaran, akhirnya penulis berpartisipasi dalam malam para slankers itu. Di sepanjang jalan, bendera khas slank berkibaran dengan warna hitam pekat melekat pada kaos para fans fanatiknya. Aneh memang, dan benar-benar aneh. Mereka duduk santai memenuhi trotoar. Tak ada nilai kesantrian pun di sana.

Namun kemudian, semua pertanyaan dan praduga negatif itu bungkam ketika konser dimulai. Bimbim dkk. menyanyikan lagu dan para slankers mengikutinya. Tepat ketika penulis menemukan posisi wenak (PW, dalam bahasa kerennya) untuk menyaksikan konser mereka. Kaka sebagai vokalis menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Penonton pun bergemuruh mengikutinya. Setelah menyanyikan lagu tersebut, Kaka menuntun para penontonnya untuk bersumpah—yang pada malam itu memang bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober. Sumpah untuk menjaga bumi pertiwi, sumpah untuk menjauhi narkoba dan diikuti dengan sumpah-sumpah berikutnya.

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu. Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu, seketika hati penulis bergetar dan seketika pula pikiran penulis menggelayut pada kibaran bendera La Ilaha Illa Allah, bendera bertuliskan kalimat tahlil yang dijadikan alat pengobar semangat oleh mereka yang bersikukuh mengibarkan bender khilafah di bumi pertiwi ini. Tak luput pula, mereka yang ber - takbir atas nama-Nya bersiteguh menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Sungguh miris melihat realita yang terjadi. Bagaimana tidak? Para pejuang yang dulunya menjadikan kalimat la Ilaha Illa Allah dan takbir sebagai penyulut semangat dalam menjaga bumi nusantara ini, sekarang mereka menjadikannya sebagai penyulut api keporak porandakan negeri. Bagaimana mereka tidak berfikir? para pejuang kemerdekaan bangsa ini juga lah yang merumuskan asas pancasila, lalu mereka yang sekarang menjilat getah manisnya ingin melenyapkan asas yang lima tersebut.

Hujjah bahwa dengan sistem negara Islam di negeri ini dapat membuat lebih baik keadaan bukanlah jaminan. Beberapa nagara di timur tengah sebagai buktinya, walaupun menyandang sebagai negara Islam, genderang perang dan permusuhan masih saja tetap terdengung. Parahnya, gejolak permusuhan ini terjadi pada kalangan sesama Muslim yang dipicu oleh suatu perbedaan pendapat.

       Santri sebagai garda terdepan dalam menjaga bumi pertiwi juga harus mengajak para pemuda, sebagai penerus bangsa, untuk berikutserta di dalamnya. Para pemuda harus bersatu dalam bingkai kebhinekaan dalam melawan para pengibar bendera khilafah di negeri ini, tentunya dengan cara yang diplomatis dan tanpa tindak anarkis. Ini lah kiranya alasan, menurut penulis, RMI-NU mendatangkan Bimbim dkk. dalam salah satu rentetan acaranya, mengingat Slank adalah salah satu magnet besar untuk mempersatukan para fans mereka, yang mayoritas pemuda dan remaja. Sehingga harapannya adalah, Bimbim dkk. dapat menyelipkan jiwa patriotisme ke dalam masing-masing slankers dan penontonnya.

        Sebagai penutup, satu pertanyaan yang penulis ingin lontarkan adalah lebih berbahaya manakah antara Slank, yang secara dzahir menjadikan fans-nya “ugal” namun sedikit demi sedikit menanamkan jiwa rasa cinta tanah air kepada mereka, atau pengibar bendera khilafah, yang secara dzahir berjubah kebaikan di jalan-Nya namun sedikit demi sedikit menggerogoti kebhinekaan bangsa juga melupakan guratan sejarah kemerdekaan Indonesia? Jawaban ada di tangan para pembaca sendiri-sendiri.

        Yang jelas—sebagai tambahan terakhir dari penulis—tatkala suatu hal itu dianggap rusak bukan lantas harus diganti dengan hal yang baru, melainkan usaha untuk memperbaiki yang rusak itu sendiri jauh lebih tinggi derajatnya daripada mengganti yang baru. Karena dengan mengganti yang baru, maka ia harus memulai dari awal dan tak pernah tau bagaiamana cara memperbaiki yang rusak. Sedangkan dengan memperbaiki ia akan tahu seluk-beluk suatu hal tersebut dan tanpa harus memulainya dari awal kembali. Seperti montir, yang paham betul kerusakan kendaraan karena sering memperbaikinya. Wallahu 'alam bi al-shawwab.