CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Monday, December 24, 2018

Adakan Jelita, UIN Sunan Gunung Jati Jalin Silaturrahim dengan Keluarga CSSMoRA Jogja



Minggu (23/12) CSSMoRA UIN Sunan Gunung Jati jalin silaturrahim dengan keluarga CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga di Hotel Kinasih, Bantul. Kedatangan mereka merupakan  salah satu  implementasi dari kegiatan Rihlah yang menjadi program kerja tahunan CSSMoRA UIN Sunan Gunung Jati di bawah Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat. Rihlah yang bertemakan Jelajah Ilmu dan Tadabur Alam (Jelita) ini diikuti oleh 98 mahasantri CSSMoRA UIN Sunan Gunung Jati.
Rangkaian acara yang diselenggarakan di ruang aula pada paginya, usai bertolak dari Semarang, Jawa Tengah, dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci al-Qur’an dan dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars CSSMoRA. Pengelola PBSB UIN Sunan  Gunung Jati, Dr. Cucuk Setiawan, S.Psi.I. M.Ag.,  turut hadir memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan beberapa poin penting kepada mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. “Pertama, bersyukur dengan apapun yang terjadi dengan diri kita. Hadirkan diri pada segala hal yang tengah di jalani.  Kedua, ketika telah bersyukur maka bersungguh-sungguhlah dalam menjalani sesuatu. Jangan pernah merasa bahwa kita telah bisa. Apabila 2 hal ini dilakukan, maka dapat menjadi syifa  bagi kita.”
Sesi berlanjut dengan pengenalan CSSMoRA masing-masing PTN yang disampaikan oleh Nuzul Fitriyansah selaku Ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Atssania  az-Zahro, Ketua CSSMoRA UIN Sunan Bandung, dan Khairatunnisa, Ketua CSSMoRA UGM. ‘Setiap departemen di masing-masing PTN, pasti memiliki perbedaan karena adanya departemen khusus yang menjadi ikon suatu PTN, sebagaimana Departemen Litbang yang mengkaji dunia  penelitian dan pengembangan di UIN Sunan Kalijaga,” ungkap Nuzul. Tsania menambahkan,   “Dengan adanya Jelita yang diadakan UIN Bandung semoga semakin mempererat tali silaturrahim.”
Acara berlanjut dengan penampilan grup akustik dari CSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan persembahan dari CSSMoRA UIN Bandung. Penyerahan kenang-kenangan dari CSSMoRA UIN Bandung dan timbal balik dari UIN Sunan Kalijaga menyertai rangkaian acara. Acara ditutup dengan foto bersama oleh seluruh keluarga CSSMoRA dari kedua PTN. (Mas)

Saturday, December 22, 2018

Selamat Hari Ama

Source: Google


Ama. Begitu aku dan kedua adik memanggilnya. Sosok yang sangat berharga dalam hidupku. Ama yang mengajariku tentang dunia, ketangguhan, tanggung jawab, dan kesabaran. Ya walaupun sebenarnya aku lebih banyak mewarisi sifat pemarah ayah ketimbang ama. Tapi melihat semua perjuangan ama selama ini, aku banyak belajar tentang kesabaran, walaupun aku belum sesabar ama.
            Semua orang tentu punya cerita istimewa tentang ibu masing-masing. Sosok yang sangat berharga seperti ibu tentu punya tempat istimewa di hati anak-anaknya. Begitu juga seorang anak di hati ibunya. Mungkin jika semua kasih sayang yang ada di muka bumi ini berubah bahkan hilang, kasih sayang ibu akan tetap sama. Begitu juga sosok yang sering kupanggil ama. Kata-katanya yang selalu kuingat adalah “sayang amak ka anak sapanjang jalan, sayang anak ka amak sapanjang pinggalan” (kasih sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan, sementara sayang anak ke ibu sepanjang pinggalan). Ama selalu mengatakan  itu untuk menunjukkan rasa sayangnya padaku dan adik-adik.
            Aku masih ingat, saat dulu masih seusia SD. Ama selalu mengecup kami sebelum pergi sekolah, bahkan memeluk. Ama kadang meminta kami libur sekolah. Alasannya sederhana, ama rindu. Menurutku pernyataan ama saat itu sangat aneh. Bukankah kami selalu di rumah. Hanya saat sekolah dan mengaji kami meninggalkan ama. Tapi belakangan aku mulai memahami bahwa betapa ama sangat kesepian. Betapa kehadiran seorang anak sangat berharga bagi ama. Saat kami mulai dewasa dan tidak mau dikecup di depan umum, ama diam-diam melakukannya saat kami terlelap. Kerap kali ama menghampiri kami yang tertidur. Diam-diam memakaikan selimut, mengelus wajah, lalu mengecup. Bahkan saat sedang ada nyamuk, ama tak akan tidur sebelum semua nyamuk itu mati. Ama tak akan membiarkan seekor nyamuk pun menghisap darah kami. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun ini yang terjadi. Bagi ama, kami adalah segalanya.
            Terkadang saat semua orang menghinaku, mengolok-olok, bahkan mencaci, kehadiran ama akan selalu membuatku merasa menjadi orang paling berharga di muka bumi. Ama selalu bilang bahwa anaknya adalah anak-anak yang hebat, cantik dan tampan, dan sangat berharga. Walau kutahu semua pernyataan ama terkadang berlebihan dan tidak benar, tapi aku tahu rasa sayang ama telah membutakan matanya. Menurut ama, kami adalah kebahagiaannya.
            Mimpi ama untuk selalu bersama kami kuhancurkan untuk pertama kalinya saat memutuskan masuk pondok. Saat itu ama menyuruhku untuk sekolah di pondok dekat rumah saja, tapi aku malah memilih pondok yang beda provinsi. Keputusanku untuk masuk pondok bukan karena ingin menimba ilmu agama. Aku ingin pergi, kalau bisa sejauh mungkin dari rumah. Entah kenapa sikap egois yang satu ini tak dapat kuubah bahkan sampai keputusan untuk kuliah ke Jogja. Semuanya karena aku tak ingin dekat rumah. “Aku ingin bebas”. Itu yang selalu kukatakan pada ama. Awalnya tentu ama merasa berat. Bertanya apa aku sepenuhnya yakin dengan keputusan yang kuambil. Namun pada akhirnya ama harus mengalah pada sikap keras kepalaku. Pun saat melepasku ke Jogja, ama menangis. Namun aku pura-pura tak tahu. Menutup mata dan menyembunyikan tangisku dari dunia. Sejujurnya bersama ama lebih menyenangkan. Tapi ada banyak hal yang membuatku tak betah di rumah. Dan menurutku pergi jauh adalah solusinya walau sosok ama selalu hadir dalam kerinduan.
            Aku bukanlah anak yang terlahir dari keluarga kaya. Rumah kami sederhana, tak besar tidak juga kecil. Tapi yang melakukan semua pekerjaan rumah adalah ama. Aku sangat jarang menyentuh dapur, sapu, dan cucian. Bukan karena aku tak mau atau malas, tapi ama selalu melarangnya. Saat aku ingin mencuci pakaian ama hanya menyuruhku duduk dan mengatakan biar ama yang kerjakan. Saat ingin belajar memasak pun ama selalu melarang, takut jika tanganku luka terkena pisau atau minyak panas. Hanya sesekali ama meminta bantuan, saat lelah dan sakit. Ama pun tak pernah memberikan pekerjaan yang berat. Ya, ama sangat memanjakanku. Saat kukatakan bahwa kita bukan orang kaya dan tak perlu memanjakanku, ama bilang tak perlu jadi anak orang kaya untuk ama manjakan, cukup jadi anak ama. Alhasil aku baru belajar semuanya setelah beberapa tahun di pondok.
            Pun saat lebaran tiba, ama selalu punya uang lebih banyak untuk baju lebaranku. Saat kukatakan aku tak mau baju lebaran karena kutahu keuangan keluarga sedang tak baik, ama akan mengeluarkan tabungannya untukku dan adik-adik. Alasannya sederhana, ama tak ingin anaknya pakai baju lama di saat semua teman-teman kami punya baju baru. Ama selalu bilang “kita boleh miskin, tapi jangan sampai orang tahu kita miskin, memandang kita rendah. Sesulit apapun hidup kita, orang hanya boleh melihat kebahagiaan kita nak. Kita harus terlihat tangguh, agar orang tak meremehkan kita”. Perkataan ama memang tak pernah bisa kulupakan.
            Puncak dari semuanya adalah beberapa minggu lalu, saat otakku mencoba dewasa. Khawatir jika setelah kuliah nanti aku tak bisa dapat pekerjaan. Bagaimana jika nanti aku hanya akan jadi pengangguran dan tak bisa menghasilkan uang. Sementara selama ini orang tuaku telah banyak mengeluarkan uang. Bagaiman jika aku tak bisa membahagiakan ama di akhir usianya nanti. Bagaimana jika lagi-lagi aku hanya membebani ama. Hal-hal menakutkan itu muncul di kepalaku. Sampai aku mengadukan semuanya pada ama. Dan aku terkejut dengan jawaban ama.
            Astaghfirullah nak, ama sakolahan anak ama ndak untuak pitih do. Jan itu yang Iya pikiaan. Anak ama ndak pernah mambarekan ama do. Kalau iyo Iya ndak dapek karajo do, bia ama yang cari pitih. Salagi ama kuaik, ama ndak akan mambarekan anak ama do. Anggak kok sampai balaki Iya beko, ama masih talok manangguang anak amanyo. Jan mode tu Iya bapikia nak. Iya alah kuliah se lah sanang ama. Ama ndak ka mamintak banyak do.” (astaghfirullah nak, ama menyekolahkan anak ama bukan untuk mencari uang. Jangan pernah berpikir begitu. Anak-anak ama tak pernah jadi beban buat ama. Kalau memang nanti gak dapat pekerjaan, biar ama yang kerja. Selama ama mampu, ama gak akan jadi beban buat anak-anak ama. Walupun nanti sampai kamu punya suami, ama masih kuat membiayai kamu. Jangan lagi berpikir begitu nak. Kamu udah kuliah aja ama sudah bahagia. Ama gak akan minta banyak).
            Setelah semua keegoisanku, kedurhakaanku, sikapku yang keras, dan sering kali tak memberi ama kabar, ama masih bisa berkata seromantis itu. Seketika air mataku mengucur. Saat itu aku benar-benar merasa menjadi orang paling berharga di dunia. Terima kasih ama. Walaupun dengan semua kedurhakaanku ama masih sangat menyayangiku. Jika seandainya ku bereingkarnasi ma, aku tak akan minta terlahir di keluarga yang kaya, aku tak akan minta lahir dari perut seorang ratu. Aku hanya akan minta menjadi anak ama kembali. Terima kasih ma telah menjadi duniaku selama ini. Maaf, karena selama ini aku hanya bisa berkata “terima kasih”, tanpa balasan apa-apa. Selamat hari ama ma, teruslah menjadi duniaku. Karena aku sangat menyayangi ama.
*pinggalan: bambu yang digunakan untuk mengambil buah dari pohon. Biasanya panjang bambu itu 3-4 meter.
By : Nadyya Rahma Azhari

Wednesday, December 12, 2018

Khotmul Qur’an dan Sima’an Akbar dalam Rangka Harlah CSSMoRA yang ke-11



Bantul, (9/12) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan acara Khotmul Qur’an dan Sima’an Akbar dalam rangka menyambut harlah CSSMoRA yang ke-11. “Acara ini merupakan program kerja dari CSSMoRA Nasional. Namun untuk CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga sendiri juga sebenarnya mempunyai progam kerja Sima’an dan Muqoddaman bulanan. Makanya, dalam satu acara ini proker CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan CSSMoRa Nasional dapat terlaksana sekaligus”, tutur Ketua Panitia, Abdi Nur Muhammad.  
Sementara itu, acara ini juga mendapat respon positif dari para peserta. Andi Fatihul Faiz misalnya, salah satu mahasiswa PBSB angkatan 2018 mengatakan bahwa kegiatan Khotmul Qur’an ini sangat positif. Menurutnya, selain sebagai formalitas dalam menyambut harlah CSSMoRA yang ke-11, acara ini juga memberikan manfaat. “Dengan adanya acara Khotmul Qur’an dan Simaan ini, saya merasa waktu saya tidak terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya”, tutur Faiz.
 Acara ini secara langsung dibuka oleh Ketua Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, Dr. M Alfatih Suryadilaga, M.Ag. Meski begitu, dikarenakan ada sedikit miss communication, menyebabkan acara pembukaan dan acara inti tidak bisa dilaksanakan secara bersamaan. Untuk acara pembukaan dilaksanakan secara mendadak pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB di Joglo LSQ Ar-Rohmah, sedangkan acara inti dilaksanakan setelah Dzuhur di Masjid Jami’ Rahmatan Lil Alamin, Perumahan Tamanan. Namun, secara umum kegiatan tersebut tetap berjalan dengan lancar dan meriah.
Untuk peserta sendiri, Abdi mengatakan, “Kegiatan Khotmul Qur’an ini hanya diperuntukan bagi anggota aktif CSSMoRA. Sementara untuk alumni tidak diwajibkan". Setelah acara Khotmul Qur’an dan Sima’an selesai, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi yang dipimpin oleh grup hadrah dari LSQ Ar-Rohmah. Acara tersebut kemudian ditutup dengan sesi pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas harlah CSSMoRA yang ke-11 dan makan bersama. Pemotongan tumpeng dilakukan secara simbolik oleh ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, Nuzul Fitriansyah dan perwakilan CSSMoRA Nasional, Ahmad Ramzi Amiruddin.(Nsd)




Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Raih Prestasi pada MUMTASH 3 di UAD




Yogyakarta, Sabtu (08/12) Universitas Ahmad Dahlan kembali selenggarakan acara tahunan HMPS Ilmu Hadis 2018. Event yang bertajuk Musabaqah Mahasiswa Tafsir Hadis (MUMTASH) 3 tersebut ditujukan kepada seluruh Mahasiswa se-Yogyakarta disetiap tahunnya. Tema yang diusung adalah Aktualisasi Nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis di Era Digital untuk Indonesia Berkemajuan dan Berkeadaban.
Kegiatan ini diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan Kampus 4. Dalam pelaksanaannya, acara ini dibagi menjadi 3 event yaitu Pelatihan Software Hadis bersama Hatib Hermawan, S.Th.I., S.Pd., M.Pd. (08/12), Lomba Mahasiswa se-DIY dan Bazar (09/12).
Adapun lomba-lomba yang diselenggarakan antara lain yaitu Musabaqah Makalah Ilmu Hadis (M2IH), Musabaqah Hifdzul Hadis (MHH) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 5 Juz. Selain itu, ada pula lomba Battle, diantaranya Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dan Musabaqah Khattil Hadis (MKH).
Dalam ajang perlombaan ini, delegasi dari  CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga berhasil meraih juara dalam beberapa lomba yang diselenggarakan. Diantaranya yaitu Muhammad Alan Juhri (Juara I Fahmil Qur’an), Mayola Andika (Juara III Fahmil Qur’an) dan Arini Nabila Azzahra (Juara II Hifdzil Hadis).
 Arini, salah satu peserta lomba dan pemenang ajang MHH dari CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga tersebut mengaku senang dengan terselenggaranya MUMTASH 3 ini. Menurutnya, lomba yang ditawarkan sesuai dengan prodi yang diambil. “Saya sangat senang mengikuti lomba MHH ini karena dengan mengikuti lomba ini kita dapat menambah wawasan dan juga teman mahasiswa se-DIY yang lainnya. Selain itu, kita juga dapat mengembangkan potensi akademik melalui ajang lomba ini” tuturnya.(Yun)


Friday, December 7, 2018

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Adakan Bedah Buku Sebagai Rangkaian SERSANTARA



Yogyakarta (05/12) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Bedah Buku “Tafsir Jawa” oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. sebagai salah satu rangkaian Semarak Santri Nusantara (SERSANTARA) yang ke-11. Kegiatan ini diadakan di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Acara ini merupakan rangkaian kedua SERSANTARA setelah Sayembara Logo dan Kaos.
            Bedah buku ini dimulai pukul 08:30 - 11:30 WIB. Rangkaian acara dimulai dengan sambutan dari Muhammad Abdul Hanif selaku Ketua Umum SERSANTARA ke-11 dan Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag., M.Ag. selaku Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga. Acara ini dihadiri langsung oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. selaku penulis buku, dan Drs. Muhammad Mansur, M.Ag. sebagai pembedah buku.
            Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. atau yang kerap dipanggil Abi Mustaqim ini merupakan salah satu pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga. Beliau juga merupakan Ketua Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT). Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang giat menulis. Buku “Tafsir Jawa: Eksposisi Nalar Shufi-Isyari Kiai Soleh Darat Kajian atas Surat al-Fatihah dalam Kitab Faidl al-Rahman” merupakan salah satu karya beliau. Alasan beliau memfokuskan penelitian pada tokoh Kiai Soleh Darat karena beliau merupakan guru dari para kiai di Jawa yang memiliki banyak karya, dan satu-satunya kiai yang memperkenalkan tafsir sufi-isyari. “Dalam menghidupkan tokoh harus ada epistem, sama kayak milih istri gak bisa hanya karena pokoknya suka,” Papar beliau saat menjelaskan alasan memilih Kiai Soleh Darat.
Selanjutnya buku ini dibedah oleh Pak Mansur, salah satu dosen senior Prodi IAT. Berulang kali beliau menjelaskan tentang keistiqomahan Abi Mustaqim dalam corak riset penafsiran. Beliau mengaku bahwa baru mendapatkan buku tadi malam dan harus membedahnya pagi ini. Namun ini ia lakukan sebagai wujud sami’na wa atha’na kepada Abi Mustaqim yang juga seorang kiai. Acara ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama panitia.(Nad)

Markomat Jadi Nabi



(Ahmad Ahnaf Rafif)

“Aku adalah Dia yang aku cintai. Dan Dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami.” -al-Hallaj.

”Menyatunya manusia dengan Tuhan itu ibarat cermin dengan orang yang sedang bercermin. Bayangan dalam cermin itu adalah manusia.” -konsep manunggaling kawulo gusti.
Sambil menyemil kerupuk, Markomat membaca syair-syair yang sama sekali tidak dipahaminya. Alih-alih mendapat hal baru, ia justru semakin bingung. Bagaimana mungkin manusia menyatu dengan Tuhan? Atau bagaimana bisa Tuhan bersemayam dalam diri manusia? Dalam buku itu tertulis kalau konsep-konsep itu bisa menjadi alternatif bagi dekadensi moral. “Mananya yang solutif?” Pikir Markomat.
“Aku menyerah! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Beri aku solusi, Sub!”
“Cuma satu, Mat. Jadilah Nabi.”
Markomat tersedak, “hei! Yang benar kamu, Sub! Ah, aku gak percaya sama kamu. Sesat itu namanya, Sub.”
“Hahahaha.. memangnya apa yang kamu pahami, Mat? Kemana-mana pakai gamis, pergi naik unta, jenggot panjang, atau mendaku jadi nabi? Bukan itu maksudku, Mat,” tertawa.
“Ya jelas-jelas kamu tadi bilang kalau aku harus jadi nabi. Ingat kamu, terakhir kali ada yang mengaku nabi, langsung dilaporkan ke polisi. Warga gak terima, karena jelas itu sesat!”
“Bukan begitu, Markomat bin Syu’aib. Kamu tak perlu mendaku jadi nabi. Tak perlu memproklamirkan diri sebagai nabi. Tak perlu mengajak orang untuk mengikutimu. Yang perlu kamu lakukan cuma menyatu dengan pribadi nabi. Ikutilah segala perbuatannya yang luhur. Akhlaknya, pribadinya, budi pekertinya. Dan kalau itu yang kamu lakukan, kamu sudah menjadi nabi. Kamu berhasil manunggaling dengan nabi, baik kamu sadari atau tidak. Tanpa kamu mendaku secara lisan, orang dengan sendirinya akan memperhatikanmu.”
“Pernyataanmu masih belum aku terima, Sub.”
“Oke, sekarang begini. Kamu lihat sekarang, justru banyak orang yang manunggaling dengan iblis. Namun mereka tidak mendaku bahwa mereka itu iblis. Mereka juga tidak memakai atribut-atribut iblis semacam gigi taring atau tanduk di kepalanya. Kamu bayangkan bagaimana kalau mereka mengumumkan kalau mereka manunggaling dengan iblis.”
“Lebih bahaya mana, mendaku menjadi nabi atau mendaku menjadi iblis?”
“Ya tergantung, Mat. Kalau kamu mendaku nabi di hadapan iblis bisa bahaya, begitu juga sebaliknya. Yang terpenting tak usahlah mendaku-daku. Cukup liat dirimu sendiri, kira-kira kamu sudah manunggaling dengan siapa, nabi atau iblis?”
“Tapi aku penasaran. Aku ingin mendaku. Aku ingin tahu bagaimana responnya.”
“Terserah kamu, asal tanggung sendiri resikonya. Memangnya dimana kamu mau mendaku?”
“Di depan mukamu, Sub.”

Friday, November 30, 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Buletin Sarung Edisi November 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi November 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi November 2018

Monday, November 26, 2018

Mengapa Kita Dihidupkan??


Oleh: Ahmad Mushawwir*


Dahulu waktu berumur 8 tahun, saya pernah bertanya kepada ayah (kakek), “Ayah, untuk apa yah kita hidup??” Kakek langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan itu, kemudian dia berkata, “Anakku, pertanyaanmu itu sungguh bagus sekali, tapi kamu ndak usah terlalu memikirkannya. Yang penting kamu itu harus rajin sholat dan membaca Qur’an saja yah?” sambil mengusap kepala saya.
Waktu itu saya berpikir kalau ayah tidak menjawab pertanyaan itu. Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya baru menyadari ternyata ayah sudah menyinggung tujuan hidup di dunia ini.
Ketahuilah..
            Hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, minum, dan kawin saja. Sekali lagi, tidak. Kalau memang demikian, apa bedanya dengan binatang?
Allah Swt telah lama memberikan arahan-Nya dalam firman-Nya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Mengetahui tujuan hidup saja tidaklah cukup. Sebagai orang yang beriman kita telah diberikan tugas mulia dan dituntut untuk memenuhi tugas tersebut.
Tugas apakah itu? Allah langsung menjawab dengan Firman-Nya:
  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Suatu tujuan tidak akan tercapai kecuali dengan mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-sebaiknya. Dan kita tahu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara bukan selamanya. Jadi,  jangan pernah lupa dengan tugas hidup yang telah diberikan. Seriuslah!! seperti kita fokus dalam mengerjakan suatu tugas penting. Kenapa? Karena tak satu pun di antara kita yang dapat hidup abadi. Kehidupan pasti akan menemukan titik akhir. Allah Swt berfirman :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
.
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia”.( QS. Al-Mu’minun [23]: 115-116)
            Selanjutnya, jangan pernah kita mengira apapun yang pernah kita lakukan selama berada di dunia ini dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan setimpal. Ingat! Bahkan sekecil atom pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Allah Swt berfirman :
 أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”. ( QS. Al-Qiyamah [75] : 36 ).
            Kembali ke permasalahan awal. Persoalannya sekarang adalah pada tugas kita. Kerjakan tugas utama tersebut dengan sebaik-baiknya, lalu sempurnakan. Itu saja. Oleh sebab itu, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya muslim hendaklah dia berusaha dengan maksimal untuk merealisasikan pengabdiannya kepada Sang Khalik di mana pun dan dalam kondisi apapun itu. Pada setiap gerak dan diam, ucapan dan tingkah laku, bahkan sampai kepada getaran hati kita yang teramat dalam sekalipun, hendaklah selalu berarti di sisi-Nya. Jangan biarkan satu nafas pun yang keluar  dengan sia-sia. Dengan begitu kita senantiasa mendapat pahala dan rida-Nya.
            IBADAH = PAHALA, itulah janji Allah Swt.
            Abdullah bin Abdul Aziz al-Li mengatakan, “Kita diciptakan sebagai manusia dengan tabiat dan karakter yang khusus. Artinya gabungan dua makhluk Allah; malaikat dan iblis. Malaikat orientasinya selalu pada aspek spiritual, tunduk, dan ingin selalu dekat di sisi-Nya. Sementara iblis identik dengan kesombongan, kerusakan, serta kedurhakaan. Maka, setiap manusia berbeda tingkah laku lahir dan batinnya. Dilihat siapa di antara dua sifat makhluk tersebut yang mendominasi dalam jiwanya, hina atau mulia sejalan dengan karakter dan tabiat setiap kita.
            Abdullah bin Wahhab r.a berkata, “Semua kenikmatan dunia hanya satu kenikmatan, kecuali kenikmatan ibadah. Ibadah mempunyai tiga kenikmatan: (1) Ketika sedang beribadah, (2) Ketika sedang diingatkan untuk beribadah, dan (3) ketika mendapatkan pahala di akhirat kelak.” (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalah wa at-Tahajjud)
            Saatnya kita semua berusaha sedini mungkin mengembalikan tujuan hidup dengan tujuan yang sesungguhnya. Beribadah semata kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam.
*Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Prodi Ilmu Hadis Semester V.

Friday, November 23, 2018

Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Ikuti Olimpiade Pecinta Qur’an



     Abdy Nur Muhammad, anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menjadi delegasi kota asalnya, Jayapura dalam event OPQ (Olimpiade Pecinta Qur’an) tingkat Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh komunitas ODOJ (One Day One Juz). Jenis cabang yang diperlombakan diantaranya: MHQ 3 juz, MHQ 10 juz, tilawah dewasa, dan kaligrafi. Adapun cabang yang ia ikuti adalah MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an) 10 juz. Sebelum mengikuti event tingkat nasional ini, Abdy telah meraih juara di tingkat provinsi Jayapura pada bulan Ramadhan lalu.
     Event ini berlangsung selama 4 hari yaitu pada tanggal 15-18 November 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perlombaan yang diikuti oleh 43 peserta putra dan putri se-Indonesia ini juga menjadi ajang silaturahmi serta mempererat tali persaudaraan dengan sesama muslim pecinta al-Qur’an, tutur Abdy. Ia juga berpesan “bagi siapa saja yang suka ikut lomba, berlatih tidak hanya saat mau lomba saja, berlatihlah setiap hari. Kalau kebetulan ada lomba baru ikut, untuk menguji sampai di mana kemampuan kita”.
      Abdy juga memberikan motivasi apabila ingin mengikuti event perlombaan seperti ini, “kepada para penghafal al-Qur’an agar senantiasa menjaga hafalannya dengan cara sering me-muraja’ah, karena mengulang hafalan merupakan kewajiban. Adapun lomba dan juara adalah bonus” tuturnya.(Arf)

Tuesday, November 20, 2018

Mahasiswi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Peroleh Predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga




      Zidna Zuhdana Mushthoza, telah berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat Wisudawan Terbaik Tercepat se-UIN Sunan Kalijaga. Dengan berbekal keyakinan bahwa semua orang punya kehebatan dan kelebihan di bidangnya masing-masing, putri dari Bapak Drs.H.Tajuddin Thalabi, M.Ag dan ibu Dra. Hj. Amilah, M.Pd.I ini dapat memperoleh IPK yang nyaris sempurna, yaitu 3,92. Tidak lupa, dengan dukungan orang tua dan keluarga, mahasiswi asal Gresik ini dapat melanjutkan perolehan prestasinya dari juara 3 lomba pidato bahasa Indonesia (MTs), juara 2 Lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 3 lomba Pelajar Teladan Putri tingkat Kabupaten Gresik Tahun 2014, juara 2 lomba Cipta Puisi Kandungan Ayat Al-Quran tingkat Jawa Timur Tahun 2013, juara 1 lomba Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) sebagai Pensyarah tingkat Kabupaten Gresik tahun 2013, dan juara 1 lomba  Musabaqah Qiroatul Qutub (MQK) tingkat Ula Kabupaten Gresik tahun 2011.
         Dalam proses belajarnya, santri yang memiliki hobi travelling ini tidak memiliki trik atau gaya khusus. “Karena belajar itu proses bukan hasil. Dan sampai sekarang pun, mbak harus banyak belajar. Gelar mahasiswa terbaik ini sebenarnya tidak  ada pengaruh apapun. Tapi, tentu ada motivasi terbesar dan utama yang membuat mbak sampai pada tahap ini, yaitu orang tua dan keluarga, jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa sangat setuju dengan statement  Kuliah itu bukan balapan lulus atau tinggi-tinggian IPK. Jalani saja dengan tanggung jawab dan versi terbaik menurutmu”. Untuk kendala yang dialami, mahasiswi angkatan 2014 ini memaparkan bahwa hambatan terbesar adalah diri sendiri; bagaimana melawan rasa malas dan mengatur waktu untuk melakukan tanggung jawab ketika kuliah, misalnya organisasi, hafalan, tugas-tugas kuliah, dan lain-lain. Tak lupa ia juga memberi solusi bahwa kendala tersebut tidak akan dapat dihilangkan. Yang dapat dilakukan yaitu meminimalisir kendala tersebut. Itulah yang harus dilakukan.
      Santri yang suka makan cokelat ini juga memberikan sedikit pesan kepada teman-teman mahasiswa serta lulusan UIN Sunan Kalijaga. “Bahwasanya lulusan UIN Sunan Kalijaga harus membangun narasi positif dalam mimbar apapun, baik mimbar akademik maupun mimbar sosial. Lulusan UIN harus dan perlu mengisi pos-pos strategis dalam membangun narasi yang baik dan berlandaskan ilmu, agar orang-orang yang berbicara tanpa landasan ilmu dan tidak pada ranah keilmuannya tergerus arus sebab dikalahkan oleh orang-orang yang belajar serius,” jelasnya. “Di era milenial ini kan banyak sekali orang-orang yang berbicara tidak pada ranah keilmuannya, tapi malah fasih sekali membicarakanya. Mereka kebanyakan berbicara sesuai kehendak sendiri. Bukan ahli politik, bukan ahli agama, membiacarakan keduanya. Meskipun sebenarnya tidak menutup kemungkinan mereka yang bukan ahlinya memiliki kemampuan, namun ada baiknya tabayun pada orang-orang yang sudah ahli. Nah, di sinilah peran lulusan UIN yang sudah banyak belajar dan menimba ilmu, mereka harus membangun narasi positif di manapun, baik akademik maupun sosial,” tambahnya. (dek)

Friday, November 16, 2018

Alih Genre yang Kebablasan



Bagi Anda yang belum menonton film Laskar Pelangi, segeralah untuk menontonnya. Film tersebut merupakan film yang diangkat dari sebuah novel karangan sastrawan khas Melayu, Andrea Hirata. Saya berani katakan kalau film tersebut merupakan film terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Buktikan kalau tak percaya!
Baru-baru ini, saya menemukan film yang serupa -bahkan hampir sama persis- dengan film Laskar Pelangi ini. Laskar Pelongo judulnya. Terdapat beberapa keunikan dan ‘kejanggalan’ di beberapa segi yang menarik untuk disimak. Sebelum lebih jauh, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap film kedua, penulis perlu sampaikan betapa penulis sangat mengagumi film yang pertama, yaitu Laskar Pelangi tesebut. Sehingga, tulisan ini tidak lain hanya ditulis dengan dua pandangan, yaitu: pertama, subjektik; kedua, sangat-sangat subjektif.
Untuk memudahkan dalam membedakan kedua film ini, penulis menggunakan istilah ‘film pertama’ untuk merujuk ke film Laskar Pelangi dan sebutan ‘film kedua’ untuk merujuk ke film Laskar Pelongo. Hal ini untuk menghindari penyebutan yang bisa menyinggung salah satu penikmat dari kedua film tersebut.
Pertama, soal pemeran dan unsur-unsur instrinsik lainnya. Tidak jauh berbeda dengan film aslinya, film kedua ini hanya mengganti sedikit saja segala nama yang ada. Contohnya, pemeran utama yang di film pertama bernama Ikal, di film kedua bernama Ipal (karena ia sering mengupil, 00.21). Temannya, si murid tercerdas sejagad Belitong, di film pertama bernama Lintang, sedang di film ini bernama Bintang. Ibu guru yang di film pertama bernama Bu Muslimah, di film ini bernama Bu Muzdalifah. Nama desanya pun berubah. Di film pertama, desa nan indah itu bernama Desa Belitong, sedang di film ini desa tersebut bernama Desa Beritung (karena dulu, di tempat ini banyak jenius yang pandai berhitung, namun karena kesombongannya, akhirnya dikutuk sehingga tidak bisa berhitung selamanya, 00.43).
Kedua, karakter tokoh dalam film. Pengkarakteran dalam film ini pun tidak jauh berbeda dengan film yang pertama. Tokoh Bintang, misalnya, di kedua film ini sama-sama digambarkan sebagai anak yang cerdas. Ibu Mus tetap digambarkan sebagai guru yang sabar dan ikhlas dalam memberikan pengajaran kepada murid-muridnya. Adapun yang berbeda dari film kedua ini seperti tokoh Flo yang memiliki hobi bermain karate, atau Pak Nasar yang mencintai Bu Mus, yang di film pertama adegan itu tidak pernah terjadi.
Ketiga, Melayu dan keunikannya. Kenapa unik ? Melayu, terutama zaman dahulu, seperti yang tergambar dalam film pertama, sangat identik dengan ‘kesengsaraan’. Ditambah lagi tempatnya di daerah pelosok nun jauh di sana, di Desa Gantong Pulau Belitong. Sehingga memisahkan Melayu dari ‘kesengsaraan’ bagaikan memisahkan ombak dari lautnya. Dalam film pertama, penggambaran Belitong dan orang-orangnya sangat terasa sekali. Tokoh Ikal, misalnya, dari fisiknya benar-benar mengenaskan. Badan kurus, rambut sulit diatur, kulit gelap, hingga baju yang hampir itu-itu saja. Namun dari situlah dapat diambil pelajarannya. Tokoh Ikal, meskipun begitu, memiliki semangat yang besar untuk menggapai cita-cita. Dalam film kedua, pesan itu tidak lagi tervisualkan. Tokoh Ikal di film kedua tampilannya sudah berbeda: badan berisi seperti anak yang selalu minum susu di pagi hari. ‘Kesengsaraan’ tokoh ini akhirnya dialihkan ke sifatnya yang hobi mengupil. Terkesan sangat memaksakan.
Keempat, penamaan Laskar. Dalam film kedua, penamaan diambil dari suatu kejadian tak terduga saat Bu Mus dan murid-muridnya sedang belajar bersama di luar ruangan. Kala itu, Bu Mus mengajarkan pelajaran Matematika dan bertanya seperti ini:
            “Ada yang tau gak, 2 ditambah 2 itu berapa ?”
Bukannya menjawab, para murid justru melongo dan mematung keheranan. Seakan-akan mereka baru mendengar suatu kalimat yang baru mereka dengar seumur hidup mereka. Hey, mereka seperti baru mendengar sepotong kalimat seorang Feuerbach yang mengatakan: Bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut rupa dan gambarnya, melainkan manusialah yang mencipta bayangan tentang Tuhan menurut rupa atau bentuk manusia. Tidak. Mereka hanya mendengar kalimat tanya yang isinya cuma berapakah 2 + 2 ? Dan karena murid-murid itu hanya melongo ketika mendengar kalimat tanya itu, akhirnya Bu Mus berinisiatif untuk memberi mereka julukan “Laskar Pelongo” (08.15). Dan lagi-lagi terkesan memaksakan.
Kelima, Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus. Dalam film kedua ini, adegan Pak Nasar yang jatuh cinta dengan Bu Mus tidak ada dalam film pertama. Apalagi, ketika Pak Nasar menggunakan sihir ketika lamarannya ditolak oleh Bu Mus. Hmmm.. Tak semudah itu, Boy!
Keenam, Aling yang mengejutkan. Di film kedua, sosok Aling tak seperti pada film pertama yang memiliki paras yang menawan. Tak heran jika Ikal bisa jatuh cinta dengannya hanya karena melihat kuku paling cantik sedunia. Namun tidak demikian di film kedua. Mungkin ini pertanda, kalau tak akan ada film Laskar Pelongo 2. Hmmmm.
Poin-poin di atas hanya beberapa catatan yang membuat penulis gelisah. Setidaknya semoga tidak terjadi lagi. Meskipun disadari, bahwa film kedua ini memiliki genre yang berbeda dengan film pertama. Film kedua lebih bergenre komedi. Tak heran jika segalanya lantas dibuat lucu -meskipun terkesan memaksakan. Dan inilah yang membuat film kedua akhirnya kehilangan spiritnya. Di satu sisi, film ini ingin mengkomedikan suatu film yang sejatinya mengandung sejuta pesan. Namun karena beralih genre, alih-alih menyampaikan pesan, pesan itu justru terdistorsi. Bagi yang pernah menonton film pertama lalu menonton film kedua ini, akan merasa aneh menontonya, setidaknya itu terjadi pada diri pribadi. Dibilang lucu, enggak banget, dibilang memotivasi, ya kok kurang yah. Bukankah lebih enak jika ingin membuat film bergenre komedi, sekalian terjun bebas ke dasar komedi, begitu juga sebaliknya ? Hmmm.

-Ahnaf.