CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

PBSB

Program ini memberikan kesempatan kepada para santri dari berbagai Pondok Pesantren untuk mengenyam pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Saturday, March 31, 2018

Politik Sekularitas Ala Cak Nur


Oleh: Ahmad Ahnaf Rafif*

Dua orang suami istri berbeda pendapat mengenai keutamaan keluarga dan karir. Si istri yang baru dinikahi 2 bulan tersebut bersikukuh dengan argumennya ingin menjadi wanita karir. Wajar saja, istrinya merupakan seorang akademisi lulusan universitas ternama luar negeri. Namun suaminya melarangnya untuk menjadi wanita apapun, kecuali mengurusi keluarga. Argumen si suami lumayan masuk akal, ‘jika aku pergi pagi pulang malam, lalu siapa yang akan mengurusi keluarga ?’ Si suami dengan karakternya yang pandai memikat hati wanita akhirnya berhasil meyakinkan istrinya untuk tetap berada di dalam rumah, meskipun impian si istri yang telah dibangun sejak muda untuk menjadi wanita karir harus melayang dalam hitungan detik.
Dua orang yang sudah berteman sejak kecil, kali ini berselisih paham mengenai pekerjaan mereka berdua. Sebut saja si A, yang terus membujuk temannya yang masih satu daerah dengan si B untuk ambil cuti semester depan. Si A beralasan, untuk membayar uang kuliah perlu mendapatkan uang banyak, dan itu hanya mungkin jika mereka berdua ambil cuti kemudian mencari pekerjaan. Namun ternyata si B tidak mau ambil pusing. Si B mempunyai pikiran untuk bisa lulus lebih cepat, sehingga dia tidak mau ambil cuti. Si B lebih senang jika kuliah sambil bekerja daripada memisahkan antara bekerja dan kuliah. Baginya, dengan itu dia bisa mendapatkan dua hal yang ia inginkan, uang kuliah dan kuliah. Ternyata si A tidak berpikiran demikian. Si A tetap tidak setuju dengan cara berpikir si B yang terlalu tidak mau ambil pusing. Menurutnya, cara yang ia pakai merupakan cara yang memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ia terus membujuk si B untuk ikut, namun si B tetap berpegang pada pendiriannya. Sampai suatu hari keduanya ditemukan tidak lagi bertatap muka, hanya karena perbedaan kecil.
Dua kasus di atas contoh kecil bagaimana perbedaan terjadi di sekitar kita. Kasus pertama, perbedaan suami istri yang bisa disikapi dengan dingin meskipun salah satu di antara mereka harus ada yang mengalah. Itu karena perbedaan di antara mereka, meskipun harus beradu otot dan mulut, namun dilakukan di atas pondasi kecintaan. Perbedaan di antara keduanya -meskipun dipandang negatif dan cenderung dihindari- tetap menjadi sebuah jalan bagi keduanya untuk mencapai keluarga yang harmonis. Jika tidak ada perbedaan dan perselisihan mungkin rasa cinta di antara mereka tidak akan teruji dan berkembang. Meskipun banyak juga kasus perselisihan suami istri yang -sayangnya- berakhir di meja pengadilan agama.
Kasus kedua merupakan contoh perbedaan yang tidak disikapi dengan bijak, sehingga menyebabkan pecah kongsi antara keduanya. Si A dengan pendapatnya berjalan sendiri meninggalkan temannya si B yang tetap kukuh dengan pendapatnya. Entah kapan keduanya akan bertemu dan saling memahami. Seperti kebanyakan kasus perselisihan di antara dua sahabat yang masih bisa dihadapi dengan dingin hati.
Sedikit ingin menaikkan level kasus, di negara ini sudah banyak kejadian yang bermula dari perbedaan-perbedaan yang sebenarnya masih bisa dihindari jika mau. Melihat realita yang ada, seakan-akan negera ini kembali lagi ke masa kerajaan-kerajaan Nusantara yang memiliki karakteristik parsial, dimana ada kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan sebagainya. Semuanya berjalan atas nama golongannya masing-masing dan dengan bangga menunjukkan identitas ke-golongan-nya tersebut kepada publik. Semuanya bernanung di bawah kerajaan atas nama organisasi/instansi/golongan/kelompok.
Jauh sebelum semua perselisihan terjadi di Indonesia sekarang ini, seorang intelektual Indonesia jauh-jauh hari sudah menebaknya. Bahkan kini 13 tahun jasadnya sudah tiada, namun ramalannya akan perselisihan itu benar-benar terjadi.
Masyarakat umum menganggapnya sebagai orang yang sekuler, karena gagasannya tentang sekularisasi yang pernah ia sampaikan ke publik. Begitu juga dengan statement nya yang sempat membuat geger dunia per-politik-kan maupun non per-politik-kan Indonesian saat itu, ‘Islam Yes, Partai Islam No!”. Sontak saja, gagasan dan statement nya saat itu mendapat respon dari masyarakat umum, “Cak Nur Sekuler!”.
Sedikit banyaknya tuduhan terhadap Cak Nur tetap saja tidak merubahnya menjadi seorang yang agamis, non-sekuler, negarawan, atau apa pun itu. Sebab terdapat perbedaan pemahaman antara konsep ‘sekularitas’ yang didengungkan Cak Nur dengan konsep ‘sekuler’ yang dipahami masyarakat.
Konsep sekularitas yang ditawarkan Cak Nur bisa dikatakan merupakan konsep yang ingin memisahkan antara individu dengan golongannya. Adalah hasil pengamatannya terhadap individu yang bukannya berpikir bagaimana membangun Indonesia yang lebih sejahtera, namun justru memikirkan bagaimana nasib golongannya ke depan, jika golongan lain yang berkuasa.
Kata sekuler digunakan oleh Cak Nur hanya untuk menjembatani maksudnya dalam menjelaskan konsep pemisahan individu dengan golongannya. Namun belum sempat Cak Nur berkata demikian, ia sudah terlanjur dicap ‘sekuler’ oleh sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat menganggap konsep yang ditawarkan Cak Nur merupakan konsep yang ingin memisahkan antara negara dengan agama. Ditambah lagi dengan embel-embel bahwa Cak Nur merupakan lulusan Amerika, sehingga ingin merubah Indonesia menjadi seperti Amerika.
Tuduhuan itu tentu saja bertolak belakang dengan apa yang diinginkan Cak Nur. Justru apa yang digagas Cak Nur merupakan jalan untuk mengurangi tensi perselisihan di Indonesia. Itulah sebabnya Cak Nur pernah mendeklarasikan diri sebagai orang yang bersedia dicalonkan menjadi calon presiden pada tahun 2004. Walaupun banyak orang mulai dari akademisi, aktivis, hingga masyarakat awam yang memperbincangkannya. Sebab saat itu Cak Nur bukanlah anggota partai politik manapun dan juga bukan aktivis politik. Namun pada akhirnya Cak Nur mengundurkan diri karena melihat realita yang lebih buruk.
Itulah kenapa ia mendengungkan slogan ‘Islam Yes, Partai Islam No!’ Sebenarnya apa yang ia lakukan merupakan sebuah pelajaran bagi bangsa. Meminjam apa yang disebut M. Wahyuni Nafis sebagai ‘desaklarisasi’, atau dengan kata lain ‘pencopotan ketabuan dan kesaklaran dari objek-objek yang semestinya tidak tabu dan tidak sakral’.
Bisa saja Cak Nur membuat suatu partai atau kelompok apa pun itu untuk mengangkat eksistensinya lebih tinggi. Namun seolah-olah Cak Nur mengatakan, ‘satu kelompok saja tercipta lagi, tensi perselisihan bisa semakin memuncak’.
Disadari atau tidak, perbedaan memang merupakan suatu hal yang lumrah. Bahkan junjungan kita mengatakan perbedaan adalah Rahmat. Namun perbedaan apa yang dimaksud dalam sabdanya ? Padahal, jika melihat berbagai peristiwa-peristiwa ‘berdarah’ maupun yang ‘hampir berdarah’ di Indonesia ini, jika dirunut lebih jauh bahwa penyebab utamanya adalah perbedaan -yang dianggap sebagai rahmat itu.
Kecuali, jika antar kelompok mendasari pereselisihan di antara mereka atas dasar cinta, sehingga setinggi apapun tensi yang terjadi, tujuannya tetap untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa. Sedang kelompok hanyalah alat untuk mencapai hasil yang terbaik.

*Mahasiswa Ilmu Alqur'an dan Tafsir semester IV

Thursday, March 29, 2018

Kru Sarung Kembali Adakan Bincang Jurnalistik



Yogyakarta--Rabu (28/03) Kru SARUNG CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali mengadakan Bincang Jurnalistik. Bincang Jurnalistik  yang ketiga ini mengangkat tema “Teknik Wawancara”. Acara yang dimulai pada pukul 16:00 WIB ini diisi oleh M Ridha Basri yang merupakan seorang reporter Majalah Suara Muhammadiyyah. Dia juga merupakan salah satu kru Sarung pada tahun 2014.

            Pembahasan pada bincang kali ini dimulai dengan realita berita masa kini yang lebih cenderung mengedepankan aspek pemuasan pembaca ketimbang objektivitas. Di sini Ridha menjelaskan maraknya berita-berita bias di masyarakat yang mengedepankan kenyamanan pembaca ketimbang kebenaran informasi yang disajikan. Dia juga menegaskan bahwa reporter yang memiliki moral semakin sedikit dan semakin dibutuhkan.
            “Show it! Don’t Tell it” adalah ungkapan yang disampaikan Ridha terkait etika dari seorang reporter. Ungkapan ini menggambarkan bahwa seorang reporter harus menggambarkan suatu kejadian bukan menjelaskan sesuai pandangan dari si reporter. Pada sesi ini sangat ditegaskan bahwa seorang reporter atau penulis berita tidak boleh melakukan interpretasi terhadap suatu kejadian. Hal ini menjadi penting mengingat semakin maraknya berita yang mengandung bias.
            Selain pembahasan mengenai berita yang bias dan intepretasi terhadap suatu kejadian, Ridha juga menjelaskan pentingnya penelitian dalam suatu wawancara. Seorang reporter yang baik haruslah melakukan penelitian terlebih dahulu tentang materi yang akan ia bahas dan sosok narasumber yang akan diwawancarai. Pentingnya mengetahui latar belakang narasumber sangat membantu dalam memahami karakter narasumber untuk  wawancara yang akan dilakukan. Reporter yang baik adalah reporter yang bisa memberikan simpati dan menjaga privasi dari narasumber.
            Bincang Jurnalistik ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama narasumber. Bincang ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas kepenulisan kru maupun kader Sarung. Agenda Bincang Jurnalistik tahun ini akan berakhir pada bincang yang keempat. (Nad/SARUNG)

Wednesday, March 28, 2018

Hadiri Halaqah, Menag Cairkan Dana PBSB Tahun 2018


Hadiri Halaqah, Menag Cairkan Dana PBSB Tahun 2018


Rabu (28/03), Direktorat PD-Pontren dan Dirjen Pendis bekerja sama dengan CSSMoRA mengadakan Halaqah Santri Nusantara bersama Lukman Hakim Saifudin, Menag RI. Dengan tema Kuliah Umum Wawasan Kebangsaan, acara berlangsung pukul 09.30-12.30 WIB.
Sebanyak 525 tamu undangan dan puluhan tamu umum hadir menyemarakkan acara tesebut. Turut hadir pula Dirjen Pendis, Kamaruddin Amin dan rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi. Selain itu, para rektor universitas mitra PBSB hadir menyambut kedatangan Menag RI. Terlepas dari itu, civitas akademika UIN Sunan Kalijaga mengikuti langkah rektor memenuhi gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga.
Dalam perbincangannya, Yudian mengatakan, UIN sedang berusaha mewujudkan salah satu upaya menuju mahasiswa berkarakter moderat. ”Kami sedang mengupayakan adanya ma’had jami’ah (pesantren universitas-red.) sebagai upaya kontrol mahasiswa agar tetap maksimal wawasan kebangsaannya,” ujarnya.
Senada dengannya, Kamarudin Amin mengungkapkan bahwa santri di era sekarang mempunyai tantangan baru. “Di era millenial seperti sekarang, santri dituntut untuk kreatif, terutama menghadapi revolusi industri,” ungkapnya di tengah-tengah hadirin. Menurutnya, adanya Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) merupakan salah satu ikhtiyar untuk mengatasi hal tersebut. Ditambah dengan prediksi yang dilansir Kompas.com, pada tahu 2045 Indonesia termasuk lima negara adidaya di dunia. Ia menegaskan, salah satu syarat hal itu terwujud adalah dengan lahirnya pemuda-pemuda kreatif, termasuk dari golongan santri.
Berbeda dengan mereka, Lukman Hakim mengantarkan hadirin (santri-red.) pada film Dilan dan Milea. Berbagai jawaban dilontarkan ketika pertanyaan tersebut muncul dari Menag. Riuh memenuhi gedung lantai satu Multi Purpose, disertai tepuk tangan dan sorak sorai. “Jadi santri itu yo nggak boleh kudet. Harus berpikir reflektif dan berani menjadi pakubumi Nusantara,” tegasnya. Ia berharap, santri dapat mengambil posisi terdepan di garda bangsa Indonesia.
“Ada dua hal untuk menyikapi hidup; bersyukur dan bersabar. Mensyukuri menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan bersabar dalam kemajemukannya. Dan itu semua, santri punya,” ujar alumni Pondok Pesantren Gontor tersebut.
Menutup acara, Lukman Hakim didampingi Dirjen Pendis dan rektor UIN Sunan Kalijaga menyerahkan beasiswa PBSB tahun 2018 secara simbolis. Enam mahasiswa PBSB yang terdiri dari dua mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, dua mahasiswa UGM, satu mahasiswa UPI dan satu mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati menerima satu persatu beasiswa secara simbolis. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2018 menjadi tonggak pencariran dana PBSB secara normal tanpa tersendat.
Terselenggara pula Deklarasi Ngayogyakarta dari Santri untuk Negeri, oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga di penghujung acara. Hal ini dimaksudkan untuk menolak hoax yang semakin beredar di berbagai media. (nur)

Saturday, March 24, 2018

Buletin Sarung Edisi 19 Februari 2018

Buletin Sarung Edisi 19 Februari 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi 19 Februari 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 12 Februari 2018

Buletin Sarung Edisi 12 Februari 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi 12 Februari 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 05 Februari 2018

Buletin Sarung Edisi 05 Februari 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi 05 Februari 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 29 Januari 2018

Buletin Sarung Edisi 29 Januari 2018

Untuk Buletin Sarung Edisi 29 Januari 2018 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 27 November 2017

Buletin Sarung Edisi 27 November 2017

Untuk Buletin Sarung Edisi 27 November 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi 20 November 2017

Buletin Sarung Edisi 20 November 2017

Untuk Buletin Sarung Edisi 20 November 2017 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Monday, March 19, 2018

Asah Kemampuan Desain, KOMINFO CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Adakan Ngaji Desain Jilid 2


Yogyakarta, Kemarin (18/3) Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali mengadakan Ngaji Desain. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Ngaji Desain jilid 1 yang telah dilaksanakan pada Ahad (19/11) tahun lalu. Kegiatan yang bersifat wajib bagi anggota aktif angkatan 2017  ini dilaksanakan di Stebi Lama PP al-Muhsin Bantul, DIY.
Kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam, mulai dari pukul 10.30 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Ngaji Desain kali ini dimoderatori oleh Ahmad Mushawwir, anggota aktif CSSMoRA angkatan 2016 sekaligus sebagai salah satu anggota KOMINFO CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Sedangkan pematerinya adalah Deni Setiawan, anggota aktif CSSMoRA angkatan 2015.
Materi yang diberikan adalah tutorial pembuatan pamflet menggunakan Adobe Photoshop. "Untuk membuat pamflet yang bagus, setidaknya ada 3 hal yang harus dikuasai oleh desainer, yaitu memahami warna, menyusun tata letak dan pemilihan font," jelas Deni dalam pembukaan materinya.
Materi disampaikan secara santai, namun tepat dan jelas. Mulai dari hal-hal mendasar yang harus diketahui bagi siapa saja yang ingin bergelut di dunia photoshop, seperti mengatur ukuran lembar kerja, pengenalan terhadap tools, di antaranya: move tool, rectangular marquee tool, eliptical marquee tool, crop tool, eraser tool, dan type tool.   Dijelaskan juga cara mengolah objek dan mendesainya seindah mungkin.
Para peserta sangat antusias dalam kegiatan ini. Walaupun kegiatan ini hanya sebentar, namun ilmunya sangat bermanfaat. Penyampaiannya yang santai dan mudah dicerna sangat membantu peserta, terutama bagi yang belum pernah sama sekali menyentuh dunia desain. "Semoga kedepannya masih diadakan ngaji desain ini untuk melatih dan lebih mematangkan ilmu tentang desain," ujar Wiwin sebagai salah satu peserta dalam kegiatan ini ketika diwawancarai.
"Sebenarnya, berapapun ilmu yang saya berikan hari ini dan apa yang kalian terima pada ngaji desain sebelumnya, sudah cukup untuk bekal dalam mendesain. Asalkan mau serius mempelajari, mencoba dan terus berlatih Insya Allah bisa. Namun sebanyak apapun yang sudah dijelaskan jika tidak dipraktekkan ya sia-sia saja," tutur Deni di akhir kegiatan tersebut. Deni juga memotivasi agar yang hadir dalam kegiatan tersebut mempunyai tekad yang kuat untuk mempelajari desain serta menjadi kader desainer yang akan melanjutkan estafet para senior yang sudah ahli dalam bidang ini dan berguna di kalangan masyarakat, khususnya di dalam lingkungan CSSMoRA. (Rad)

Sunday, March 4, 2018

Seminar Nasional: Puncak Acara SERSANTARA Ke-10





 Yogyakarta (4/4)-CSSMORA UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar Nasional sebagai puncak acara Semarak Santri Nusantara  (SERSANTARA) ke-10 yang telah terselenggara sejak bulan Februari lalu. Acara ini dimulai sejak pukul 09.15 WIB-13.40 WIB dan bertempat di Teatrikal Pusat Pengembangan Bahasa (P2B). Seminar ini dihadiri oleh peserta LKTIN dan peserta umum dari berbagai perguruan tinggi sekitar.
         Seminar Nasional dengan tema "Respon dan Solusi Islam terhadap Fenomena Patologi Sosial di Indonesia" ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Phil Sahiron Syamsuddin, M.A., Ahmad Rafiq, Ph.d., dan Khairullah Zikri, Mast.Rel. Selain itu ada juga M. Wahyudi, sebagai moderator yang telah berhasil menuntun jalannya acara dengan lancar hingga usai.        
          "Kami mengucapkan terima kepada segenap pihak yang telah berkontribusi, berpartisipasi dan membantu, baik dalam bentuk morel maupun materiel. Sehingga acara ini dapat terselenggara dengan sukses", ungkap Shalahudin Zamzabella sebagai ketua panitia SERSANTARA dalam sambutannya."Kami juga mengucapkan selamat bagi yang memperoleh juara. Dan bagi teman-teman yang belum mendapat juara, jangan bosan-bosan untuk mengikuti event-event CSSMoRA yang lain", imbuhnya.
"Seminar tadi bagus. Dari materinya saja sudah bisa menarik banyak orang untuk mengikuti acara ini. Tanggapan dari peserta juga lumayan. Tadi ada sekitar 300-an peserta yang datang, saat saya mengisi daftar hadir. Saya sendiri sudah termasuk peserta yang ke-302 ", tukas Muhammad Irkham Maulana, salah satu peserta seminar dari UIN Walisongo Semarang, ketika ditemui di luar ruang teatrikal usai seminar.
          Acara ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba LKTIN, LCSN, dan Lomba Fotografi. Acara seminar nasional ini sendiri merupakan acara puncak dan penutup dari serangkaian acara SERSANTARA.(Akr)

Saturday, March 3, 2018

CSSMoRA Adakan Babak Final LKTIN

CSSMoRA Adakan Babak Final LKTIN


Kemarin (03/03) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mengadakan babak Final Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) yang merupakan rangkaian acara SERSANTARA Ke-10. Acara ini berlangsung di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora mulai pukul 09:30 pagi sampai dengan 16:00 WIB. Acara yang dihadiri lengkap oleh lima belas peserta ini berjalan dengan lancar.
          Acara ini dimulai dengan kedatangan peserta dari homestay yang telah disediakan sebelumnya. Peserta yang diantar oleh bus kemudian memenuhi ruangan acara dan mengambil nomor urut presentasi. Pembukaan acara ini diisi dengan sambutan oleh ketua panitia LKTIN Hamdi Putra Ahmad, ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Melati Ismaila Rafi’i, dan ketua pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga Dr M Al Fatih Suryadilaga. Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari para finalis.
          Kelima belas finalis yang mengikuti perlombaan ini berasal dari berbagai tempat di Indonesia, mulai dari mahasiswa yang berdomisili di Yogyakarta sampai Samarinda turut aktif dalam lomba ini. Tidak ketinggalan para dewan juri yang mengomentari paper para finalis dengan kritis membuat acara semakin menegangkan.
          “Goalnya nyampe, jadi walaupun nggak ngirim surat ke kampus untuk LKTIN ini, ini ada 200 orang yang ngirim abstrak hanya bermodal media online,” tutur Shella Gracia Vennya, salah satu finalis LKTIN saat diwawancari. Ia mengaku bahwa perlombaan ini berhasil menjadi forum diskusi keilmuan dengan beragam perbedaan pendapat. Ia berharap acara ini akan lebih meriah lagi kedepannya dengan harapan yang mengikuti perlombaan tidak hanya mahasiswa dari universitas Islam, tetapi juga berbagai universitas non-Islam seperti dirinya.
           LKTIN Sersantara ini ditutup dengan pemberian sertifikat kepada dewan juri yang hadir sebagai panelis. Tidak lupa juga diadakan sesi foto bersama para finalis beserta dewan juri dan panitia. Pengumuman pemenang lomba ini akan diumumkan hari ini (04/03) setelah seminar nasional, bersamaan dengan pengumuman kontributor dan pemenang Lomba Cerpen Santri Nasional (LCSN). Acara hari ini juga sekaligus akan menjadi penutup seluruh rangkaian acara Sersantara. (Nad)