CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Saturday, August 24, 2019

Orientasi Mahasiswa Baru PBSB 2019



Yogyakarta, Kamis (15/8) telah dilaksanakan pembukaan Orientasi Mahasiswa Baru PBSB UIN Sunan Kalijaga angkatan ke-13 yang bertempat di Joglo LSQ Ar-Rahmah. Acara tersebut dihadiri oleh pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga, diantaranya Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy S.Th.I., M.A., dan Dr. Afdawaiza, S.Ag., M.Ag.
Orientasi ini berlangsung selama tiga hari, dimulai pada hari Kamis, berlanjut Sabtu dan Minggu (15,17,19/8). Hari pertama diisi penyampaian materi mengenai PBSB dan ke-CSSMoRA-an serta materi seputar prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Ilmu Hadis (ILHA). Sebanyak 20 calon mahasiswa  baru PBSB UIN Sunan Kalijaga mengikuti acara ini ; 10 dari prodi IAT dan 10 dari prodi ILHA.
Pada hari kedua, bertepatan tanggal 17 Agustus, diadakan sejumlah games dalam rangka memperingati HUT ke-74 RI. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan berkompetisi untuk mendapatkan hadiah. Hari ketiga, diisi dengan outbound di Pantai Goa Cemara, Bantul, Yogyakarta. Peserta mengikuti sejumlah games sama seperti hari sebelumnya. Setelah games, peserta mendengar materi seputar CSSMoRA Nasional oleh Muhammad Irkham Maulana sebagai ketua umum CSSMoRA Nasional.
Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mengenalkan mahasiswa baru kepada CSSMoRA serta menjalin keakraban antar mahasiswa baru dan mahasiswa lama PBSB, tutur Fata Rusdi selaku ketua panitia pelaksanaan orientasi mahasiswa baru pbsb 2019. Kegiatan ini juga memberikan kesan yang sangat mendalam bagi para mahasiswa baru seperti yang dirasakan oleh Trevina Wigianiska “Saya sangat bersyukur atas berjalannya kegiatan orientasi, karena banyak sekali pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari kegiatan tersebut. Kami para maba PBSB dapat bertemu orang-orang hebat yang sangat memotivasi kami. Kegiatan ini juga sebagai wadah untuk para maba agar saling mengenal satu sama lain tidak hanya sebagi suatu komunitas melainkan menjadikan kami sebuah keluarga yang bersatu dalam CSSMoRa UIN SUKA”
Kegiatan orientasi ini secara resmi ditutup oleh Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag., M.Ag. selaku ketua pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga. Dr. Abdul Mustaqim juga turut menghadiri penutupan kegiatan ini. Berakhirnya kegiatan orientasi ini secara resmi menandakan bahwa para perserta sudah resmi menjadi bagian dari PBSB dan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. (Ai/Arf)

Saturday, August 17, 2019

Harapan Terakhir Kakek


Di bawah bendera yang berkibar utuh
Seorang renta berwajah teduh
Termenung, menerawang jauh
Berbagai ingatan berkelabat cepat
Tubuh tegap, luka yang sekedar berkelabat
Tangis serta suara mengaduh
Tak pernah melunturkan semangat
Deru napas dan desing senapan
Bersama mayat yang bergelimpangan.

“Fiqri, ayah pergi dulu, bangun dan makanlah! ” Teriak suara lantang ayah dari luar kamarku.
“Iya ayah.” Jawabku seraya berhenti membaca tulisan di kertas lusuh yang ku pegang.
Aku tersenyum mendengar derap langkah kaki ayah yang semakin tidak terdengar suaranya. Jujur saja, aku tidak begitu akrab dengan sapaan ayah yang baru kutemui 4 bulan yang lalu, karena memang aku bukanlah anak kandungnya, aku adalah anak angkat dari desa yang kemudian diangkat anak olehnya.
“Ah, sudahlah, lebih baik aku melanjutkan bacaanku yang terhenti” Ucapku sambil tersenyum.
Kini...
Tubuh yang dulunya tegap
Mulai renta, bahkan sekedar berjalanpun seolah berjingkat
Bekas lukanya masih terpampang jelas
Bersama tekad semangatnya yang terus membekas
Sebulir air mata menggantung di pipinya
Yang telah penuh kerut digerus usia
Senyumnya mengembang indah
Di bawah langit Indonesia yang terbentang megah
Perjuangannya, bersama pahlawan yangtelah berkabung tanah
Yang nisannya tak sempat ditandai nama
Atau bahkan hanya sekedar ditimbun tanah.
Kini...
Ia hanya menikmati senjanya
Melihat langit cerah tanpa bercak darah
           Tanpa ancaman penjajah dan penjarah.
            Tanpa terasa air mataku jatuh mengalir dengan sendirinya. Entah kenapa aku sangat merindukan kakek. Kakek yang selalu menjaga dan merawatku sedari aku kecil, bahkan berjuang mati-matian agar aku tetap sekolah. Karena yang aku tau, kakek ingin aku menjadi orang hebat, agar aku bisa menjaga Indonesianya. Iya, Indonesianya. Negara yang pernah kakek perjuangkan kemerdekaannya.
            Aku meringis mengingat cerita kakek sebelum kakek meninggalkanku untuk selama-lamanya di pinggir rel kereta kala itu.
“Fiqri, kamu yang semangat ya ikut lombanya. Kamu harus terus berusaha berlatih dan berdoa, supaya mendapatkan yang terbaik. Kakek hanya bisa bantu berdoa, kakek ingin kamu membacanya dengan khidmat, agar semua orang, terutama pemuda penerus bangsa mendengar bahwa meraih kemerdekaan tidak semudah membolak-balikkan tangan,” Ucap kakek mengusap rambutku lembut.
“Iya kek, aku akan berusaha.” Jawabku dengan penuh semangat.
“Sejujurnya kakek sedih melihat apa yang terjadi pada Indonesia kakek saat ini. Indonesia yang indah disetiap mata yang memandangnya.  Indonesia yang dihuni oleh pemuda-pemuda tangguh penuh semangat. Indonesia yang dipimpin oleh orang-orang yang tegas namun peduli. Namun sekarang Indonesia kakek tidak seperti dulu lagi. Tumpukan sampah berserakan dimana-mana. Pemuda-pemuda yang hanya peduli dengan kesenangan. Para pemimpin yang hanya mementingkan hidupnya sendiri. Kakek harap, kelak ketika kamu dewasa nanti, kamu bisa kembali memperjuangkan Indonesia kakek, agar kembali indah di mata orang-orang yang tinggal didalamnya.” Ucap kakek seraya melihat pada kereta yang akan melintas.
Untuk kedua kalinya aku kembali terisak mengingat sosok kakek. Hari itu adalah hari dimana aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Kakek meninggal tertabrak kereta pada saat itu karena menyelamatkan seorang wanita remaja yang entah mengapa malah berlari mendekat pada kereta. Dan yang membuat hatiku tercabik-cabik, wanita yang diselamatkan kakek adalah seseorang yang memang ingin mengakhiri hidupnya karena malu sedang mengandung. Pada saat itu, aku ingin marah pada dunia. Kenapa mengambil kakekku secepat itu? Padahal keesokannya adalah hari kemerdekaan, hari dimana aku akan membacakan puisi karya kakek dan untuk kakek.
            Aku mengusap air mataku, mengenang kisah 2 tahun lalu. Besok, adalah 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Hari dimana dulu aku mengundurkan diri dari perlombaan karena aku merasa tidak ada gunanya. Dan saat ini, aku bertekad, apapun yang terjadi besok, aku akan tetap mengikuti lomba membaca puisi. Aku ingin semuanya mendengar apa yang sebenarnya para pendahulu harapkan untuk Indonesianya kelak. Agar kakek di atas sana bisa kembali tersenyum melihat Indonesianya yang kembali indah di mata semua orang. (Padi)

Sunday, August 11, 2019

Sudah Tiba Waktunya



           Harum tercium suasana Hari Raya Idul Adha. Gema takbir pada malam hari  saut-sautan bergemuruh tak ada henti-hentinya. Masjid sini keras menantang, masjid sana bak tertantang tidak terima dan memutuskan untuk lebih semangat dan lebih keras, begitulah seterusnya. Alam pun tak mengecewakan, bulan  tersenyum penuh, bintang-bintang  saling berkedip patuh , untuk mengisyaratkan bahwa mereka juga bersemangat merayakan tanpa angkuh. Tak cukup disitu, banyak pasukan dari berbagai desa berkeliling membawa senjata masing-masing, untuk membuat suasana gaduh, riuh, meriah ampuh,  seraya berteriak “ Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha Ilaallahu Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil hamd”.
Di kehidupan lain, di sebuah kamar Pondok Pesantren Kampung Tua, tidak begitu menyengat terasa  bau suasana Hari Raya Idul Adha, karena  tidak menembus  benteng tembok berwarna hijau muda. Hanya dengan lubang  dua jendela yang terbuka,  masuklah udara dingin sampai ke kulit dan suara gaduh dari luar walau lirih tapi terasa. Kemudian  sebuah pintu yang tertuliskan “ Slamet, Sulaiman, Andi, Agung, Hartono, Hasan, Rizki, Ahmad” membuktikan bahwa merekalah penguasa kamar pojok lontai dua.
Guys, besok kalian pada  mau sholat Id dimana ?” Pertanyaan Slamet yang menghangatkan dingin heningnya kamar.
Ya kalo aku sholat dilapangan lah, nabi kan sholatnya juga dilapangan to ?” Sahut Rizki kepada Slamet.
Kalo aku sih ,ngikut kalian-kalian aja.Celetus Hartono sambil meringis.
“Emang dimana yang bagus? masjid atau lapangan?” Tanya Sulaiman dengan wajah lugu.
“Ya nggak tau sih, tapi setauku  di Al-Quran ada tuh, yang ngejelasin , kalo di masjid itu tempat yang layak untuk beribadah, bunyinya gimana ya? surat apa ya? lupa aku.” Jelas Slamet dengan logat jawanya.
 “Lupa apa ora ngerti  haha.” Ejek Hartono yang juga dengan logat jawanya.
“Surat At-Taubah ayat 108, naah kelingan aku ndes.” Tambah Slamet yang tidak terima diejek Hartono.
Rizki yang merasa  dibantah pun menoleh seraya berkata
Yaelah, itu ibadah apa dulu pak bos? kan ini sholat Id, nabi dulu pas sholat  Id di lapangan kok.”
“Pasti ada sebabnya tuh, nabi sholat di lapangan” Celetus Hartono yang sok tau.
“Iya mungkin, aku juga ingat pas ngaji bab Hari Raya dulu di kitab Fathul Wahab , kalo sholat Id di masjid lebih utama, karena masjid tempat yang mulia, kecuali ada halangan, masjid sempit contohnya” Jelas Slamet yang memang ingatannya bertahan lama.
lha itu, mungkin dulu masjidnya sempit, kan kita nggak tauSaut Sulaiman yang pasti ingin ikut berdiskusi.
Mosok sih?Bela si Rizki.
 Nah iyakan? Nabi sholat Id di lapangan itu memang ada alasanya, ya masjid sempit itu tadi.
 Kok kamu tahu?” Belum selesai ngomong Slamet sudah dipotong oleh Rizki.
Nih aku inget kalo dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, dijelaske, kalau nabi sholat dilapangan itu karena bangunan masjid kecil, kalo masjide cilik, berarti yo sempit haha.” Tambah si Slamet sambil menunjukan sebuah kitab dan dengan bumbu candaan.
Iya po? mana sih?Jawab Rizki sambil mendekati Slamet.                                                                                         
Halah luah, kalian ki ribut ngopo, mending besok ayo maen ke kota Jogja, ikut Grebeg Gunungan, eh Met Slamet, kamu kan anak jogja, berarti ngerti to panggonane ?Pecah Hartono.
Hmm, mosok aku nggak tau, aku kan yang punya Jogja, mbok kalian tanya mana aja, pasti sampai ditempat, asalkan tanyanya sama  goggle maps, haha.” jawab Slamet dengan terbahak-bahak.
 “Eh, Grebeg Gunungan itu apa?” Tanya Hasan yang dari tadi diam.
 Grebeg Gunungan itu tradisi Jogja bro, yang biasa diadakan pas Idul Fitri dan Idul Adha.” Jelas Hartono.
 “Iya bro, buat kayak tumpeng raksasa gitu  lho yang nanti isinya hasil bumi.” Tambah Slamet.
 “Tumpeng raksasa? terus diapain itu?“ Tanya Hasan  kepo.
 “Ya diarak, dibawa keliling dari keraton sampai masjid, baru deh dibuat rebutan, banyak kok, biasanya tiga buah tumpeng raksasa”.
 “Wah, seru ya ,tempatku juga ada lho tradisi kalo pas Idul Adha, lucu malah, namanya Kaul Negri dan Abdau” Ucap Hasan tidak mau kalah.
 “Acara apaan itu bro ? kok lucu?” saut slamet dengan cepat.
 “Nanti tuh pas habis sholat id selesai, pemuka adat menggendong tiga kambing dengan kain, terus diarak ,dibawa keliling begitu” jelas anak yang memiliki nama lengkap Hasan Tuhaera itu.
”Terus, diapain itu bro kambingnya? kok digendong segala?” Tanya slamet lagi.
Ya itu kan tradisi turun temurun, terus pas keliling gendong kambing tuh nggak sepi, dibarengi takbir dan sholawat gitu.Jelas si Hasan
Itu Kaul Negri, kalo yang tradisi Abdau apa San Hasan ?” Tanya si Hartono ingin tau.
 “Oh iya, kalo Abdau itu ritual rebutan bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid, biasanya anak-anak muda sih.Tambah Hasan.
Hartono takok wae, punyamu disana punya apa? Di Maluku Tengah kan udah dijelasin sama anak Maluku tuh Hasan, terus punyamu apa?” Tanya Slamet dengan tertawa pelan.
 “Wah ngejek kamu Met, aku itu lahir di Grobogan Semarang, aku pasti tahu apa tradisi pas Idul Adha, dan Grobogan juga punya ,haha.” Jawab Hartono dengan balasan tawa yang lebih keras.
 “ Wah punyamu juga ada, apa namanya, terus gimana ?”Tanya Hasan yang bener-bener kepo.
 Hehe, nggak jauh beda sama Jogja sih, arak-arakan tumpeng begitu, isinya juga hasil bumi, namanya aja yang beda, Apitan, ada juga yang manggil Merti Bumi atau sedekah bumi” jelas si Hartono.
Waah semarang niru Jogja ya haha. “ Ejek Slamet yang bikin tertawa mereka berempat.
Haha, punya kalian tradisinya masih normal-normal aja, punyaku lebih unik dan menarik” ucap Agung yang dari tadi maen HP dengan sisa tawa akibat ulah si Slamet.
Halah, Pasuruan duwe opo?” Celetus si Hartono.
 sssttt, dengerin tuh si Agung, apa Gung punyamu tradisinya?” Potong si Hasan.
“Manten Sapiii!” jawab Agung dengan keras
 Hahahaha” si Slamet dan Hartono langsung tertawa
Mosok sapi mantenan, terus jodone sopo? awakmu Gung Agung ,haha.” Ejek si Hartono.
Eh , emang mantenan itu apa Gung?” Tanya Sulaiman yang dari tadi menyimak mereka bertiga  bahas tradisi Idul Adha.
“Mantenan itu artinya pernikahan, tapi bukan pernikahan yang seperti kalian bayangkan lho ya, maksudnya tuh sapi-sapi didandani sampai cantik, kayak orang yang menikah, kan cantik-cantik.”
Waah, untung Slamet nggak disana ,kalo disana pasti sapinya dinikahi, haha.” Ejek si Hartono yang membuat lainya ikut tertawa.
 Aseeem kowe Har,  eh Gung, terus didandani nganggo opo, bedak, gincu, opo opo?“ Potong si Slamet yang mencoba  mengalihkan perhatian.
 “Ya enggaklah, gila kalo pake begituan” celetus Hartono sok tau lagi.
 Halah sok tau kamu Har , tak jitak malah.” Sahut Slamet yang masih tidak terima diejek Hartono dengan tawa.
 “Dandannya itu dimandiin, terus pake kalung bunga tujuh rupa, balutan kain kafan, sorban, sajadah kek gitu, terus sapi nya diarak keliling kampung, sampai nantinya di masjid untuk disembelih.” Jelas si Agung.
“Wah mantap tuh punya kalian, walaupun aneh sih, kalo di Madura simple, tradisinya pas Idul Adha itu mudik.” Sambung si Sulaiman yang dari tadi juga hanya menyimak.
“Mudik?” Saut Slamet.
 “Iya mudik, cuman di Madura namanya Toron, mudik bawa oleh-oleh, ya untuk menjaga ikatan sosial gitu, antara perantauan sama yang menetap.” Jelas Sulaiman dengan singkat.
Eh kalian bertiga , sini lho, apa nggak bosen ,mabar terus? turun dari ranjang terus cerita tradisi Idul Adha, apa daerah kalian nggak ada jangan-jangan? Ucap Hartono kepada Andi, Rizki dan Ahmad yang sama-sama suka game online dengan petentang-petenteng bercanda.
“Di Gowa tempatku tuh nggak aneh-aneh tradisinya, Cuma mandin benda-benda pusaka , namanya Accera Kalampuang, udah kan? tempatku adakan? Haha.” jawab Andi sambil tertawa yang tidak mau diganggu maen gamenya.
“Oke, nama lengkapku Agam na Rizki, jadi pasti aku orang  Aceh, dan Aceh tentu punya tradisi yang bagus,  yaitu masak bareng daging kurban, terus makan bareng keluarga dan anak-anak yatim piatu, nah agamis kan, oh iya biasanya dikenal dengan nama tradisi Meugang.” Sambung Rizki yang memang anak tertib agamis.
Tak lanjutin, di daerahku ,lucu banget, kalo masuk bulan dzulhijjah begini ada tradisi Mepe Kasur, jemur kasur bahasa indonesianya, jadi pagi-pagi banyak tuh kasur –kasur didepan rumah, nah ,kasur dijemur itu karena konon dapat menolak bala, terhindar dari bencana, menghilangkan keburukan dirumah , begitu teman-temanku, cukup sekian, dilarang banyak Tanya, sedang seru maen game ,haha.” Sambung lagi oleh si Ahmad anak Banyuwangi yang rese dan juga lucu.
        Tawa mereka memaksa waktu untuk terlupa, bahwa detak jam dinding sudah mencapai angka sebelas lebih empat puluh lima. Tanpa ada komandan yang bertugas, mereka bergegas ke ranjang masing-masing dengan begitu tangkas. Tanpa bantal, berselimutkan sarung menjadi ciri khas santri yang kental. Delapan anak dengan fikiran dan bayangan yang sama menemani tidur malamnya, yakni besok ternyata sudah tiba waktunya Hari Raya Idul Adha dengan segala keunikannya.(Adek)
 


                  
     
S