Thursday, September 26, 2019

Tuna Asmara


Oleh: Ontoseno

Pagi-pagi sekali, seperti biasa, Timus sudah pergi ke rumah Ingsun.
“Mus. Nampaknya tak ada dokter yang bakal tahu jenis penyakitku.”
“Sudah kuduga. Berulang kali kukatakan padamu, Sun.”
“Tapi semua bukan salahku. Aku ditakdirkan untuk menjadi seperti ini.”
“Tidak! Jangan percaya sepenuhnya pada takdir. Semua akan baik-baik saja.”
“Baik-baik saja katamu? Bagaimana bisa seseorang alergi dengan tulisan cinta, jijik melihat manusia berpasang-pasangan, muak dengan kata-kata kasih, kekasih, kisah, asih, asuh? Barang-barang menjijikkan yang membuat mataku rusak. Dokter-dokter itu tak tahu apa sebab memerahnya mataku ketika ditunjukkan padaku dua orang yang sedang memadu kasih.”
“Hanya satu obatnya, Sun. Kau harus merasakan apa itu kasih sayang.”
“Aku tak sepenuhnya paham apa itu kasih sayang.”
“Hei! Berapa tahun kau menutup matamu dari kehidupan cinta?”
“Apa maksudmu? Aku bukan manusia yang nilai cintanya nol besar. Aku jamin. Kau Timus, bujang lapuk yang loncat ke sana-sini atas nama cinta, kalah romantisnya denganku.”
“Hahaha. Apa buktinya? Kau bahkan alergi dengan hal-hal romantis.”
“Betul. Tapi alergiku bersifat eksternal, bukan internal. Aku sangat romantis dengan diriku sendiri. Aku berharap bisa menikahi diriku yang romantis ini. Itulah romantisme liberal. Aku menyebutnya demikian, terserah kau setuju atau tidak.”
“Jelas itu penyakit, Sun. Bagaimanapun manusia diciptakan berpasang-pasangan. Aku akan bantu menyembuhkanmu. Kau tahu Maya? Anak gadis Pak Lurah, lulusan Akademi Kebidanan. Dia incaran banyak orang. Kuantar kau ke sana sekarang juga.”
“Tidak. Kedudukannya membutakan hatinya.”
“Bagaimana dengan Lisa anaknya Pak Bero? Dia anak orang biasa, petani. Sekarang juga kita ke sana.”
“Sederhana, tapi tak bangga dengan dirinya sendiri.”
“Kalau Minah?
“Terlalu gemulai.”
“Lasmi?
“Tidak. Pinggulnya besar sebelah.”
“Zahra?”
“Terlalu kekinian. Tak cocok buatku.”
“Arum?”
“Tidak.”
“Nurul?
“Tidak.”
“Soli?”
“Tidak, tidak, tidak. Kau yakin orang-orang itu bisa menyembuhkanku? Memangnya mereka dokter?”
“Sun, kau hanya perlu sentuhan cinta. Hanya itu yang bisa menyembuhkanmu.”
“Jadi maksudmu, orang yang tak tersentuh dengan cinta dari orang lain adalah orang sakit?”
“Tepat.”
“Menurutmu apa ciri orang berpenyakitan seperti itu?”
“Mudah sekali. Jika kau ingin tahu orang yang kekurangan tidur, lihatlah matanya. Jika ingin tahu orang yang kekurangan serat, lihatlah tubuhnya. Jika kau ingin tahu orang yang kekurangan kasih sayang, lihatlah dirimu sendiri.”
“Maksudmu jika mata seseorang merah dan berair obatnya adalah tidur dan orang yang kekurangan serat hanya diobati dengan makan buah, dengan demikian orang yang kekurangan kasih sayang hanya bisa diobati dengan sentuhan cinta dari orang lain. Itukah yang kau maksud?”
“Tepat sekali, Ingsun.”
“Kalau begitu, orang yang memberi cintanya kepada yang dicinta bisa dibilang sebagai orang yang berjasa, karena memelihara kesehatan jiwa?”
“Sudah pasti jasanya tak terhitung.”
“Pemberi jasa, dengan demikian, haruslah memiliki keahlian agar jasanya benar-benar berguna. Berarti, cinta bersifat ekslusif, hanya dimiliki orang-orang yang mumpuni dalam mencinta.”
“Kau ada benarnya, Sun. Tak semua orang yang berpasang-pasangan ahli dalam mencinta. Namun tak dapat disangkal, setiap orang berhak untuk mencintai dan dicintai.”
“Jika begitu, maka wajar saja jika cinta juga bisa menghasilkan kerusakan-kerusakan.”
“Kerusakan yang bagaimana?”
“Permusuhan, agaknya adalah hasil dari kurangnya kualitas dari mencintai.”
“Begitulah, pada akhirnya ia akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Itulah kesimpulannya.”
“Kalau begitu, Timus, masihkah kau ingin mengajakku bersafari ke rumah gadis-gadis itu?”
“Terserah padamu. Kupikir pengetahuanmu tentang cinta sama sekali kosong.”
“Tidak, Timus. Aku hanya berhati-hati dengan benda itu. Tidak pula aku alergi dengannya. Aku hanya muak dengan kualitas mencintai orang-orang sekarang. Coba bayangkan jika seorang pembuat kue yang tidak mumpuni memaksakan diri untuk membuat kue?”
“Tak selayaknya ia disebut sebagai pembuat kue.”
“Tepat. Seperti itulah seorang yang memaksakan diri untuk mencintai, ia tak layak disebut pecinta.”
“Tapi, Ingsun. Bukankah cinta tak memiliki rumus pasti? Berbeda dengan pembuat kue yang harus menghafalkan rumus-rumus membuat kue yang lezat?”
“Setuju. Cinta memang bukan barang ajeg. Kita tak bisa menghitung seberapa besarnya ia di dada seseorang. Tak bisa pula kita menghitung kualitasnya, sebagaimana kita mengukur kelezatan sepotong kue. Tapi Timus, coba kau perhatikan. Dengan tidak adanya ukuran-ukuran pasti yang melekat dengannya, banyak pecinta yang mengaku cinta padahal nol besar.”
“Itu artinya, bagi orang-orang seperti itu, mencintai adalah seni berbohong?”
“Itulah implikasinya.”
“Tapi Ingsun, bukankah berpura-pura mencintai lebih mulia daripada tak mencintai sama sekali? Masih ada harapan untuk cinta palsu itu berubah menjadi ketulusan. Sedangkan tak mencintai sama sekali, apa yang bisa diharapkan?”
“Nampaknya kau menyinggungku. Timus, kalau perbincangan ini dilanjutkan, akan memakan waktu yang lama. Aku harus pulang, memberi makan ternak-ternakku.”
“Baiklah, kutunggu pilihanmu.”
Bersambung….

Reactions:

0 comments:

Post a Comment