CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Tuesday, October 29, 2019

Kembali Tuai Prestasi, Anggota CSSMoRA UIN SUKA Jadi Presenter dalam The 3rd Esoterik Annual International Conference 2019


            Yogyakarta – Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali raih prestasi dalam The 3rd Esoterik Annual International Conference 2019. Muhammad Mundzir dan Rania Nurul Rizqia terpilih menjadi presenter dalam acara tersebut. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus di Rektorat Utama IAIN Kudus, pada 24 Oktober 2019.
Acara ini mengangkat tema Sufism and Islamic Psychology: Embodiment People Mental in 4.0 Era. Panitia terdiri dari dosen dan mahasiswa jurusan terkait. Proses seleksi dimulai dengan pengumpulan abstrak. Setelah abstrak dinyatakan lolos, maka tahap selanjutnya adalah pengumpulan full paper.
Ada sekitar 140 abstrak yang diterima, namun hanya 10 paper yang diundang untuk presentasi. Dengan mengambil judul, Hadis-hadis Perempuan: Reinterpretasi Sufistik Muhammad Al-Ghazali, Mundzir dan Rania berhasil lolos sampai tahap presentasi. Mereka diundang presentasi bersama peserta lain yang terdiri dari dosen dan mahasiswa.
“Kami mendapat waktu presentasi pukul 13.00 WIB. satu  panel dengan dosen dari UIN Jakarta, STFI Sadra, dan STAI Sunan Pandanaran,” ungkap Mundzir saat diwawancaraoleh salah satu kru Sarung. Menurutnya, ini merupakan pengalaman yang berharga karena dapat memiliki link akademisi di luar Yogyakarta. Mundzir mengaku lelah karena menempuh perjalanan Yogya-Kudus dengan motor, namun semuanya terbayar dengan pengalaman yang didapat.(BAY)*

*Mahasiswi Ilmu Hadis semester lima

Jadi Pemateri Bincang Jurnalistik, Muhammad Basyir Jelaskan Straight dan Indepth News


Yogyakarta - CSSMoRa UIN Sunan Kalijaga menagadakan kegiatan Bincang Jurnalistik. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lembah kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 26 Oktober 2019. Dengan mengusung bahasan Straight dan Indepth News, panitia kegiatan menghadirkan Muhammad Basyir Faiz Maimun Sholeh sebagai pemateri. Pria yang akrab disapa Mas Basyir ini merupakan mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga angkatan 2015.
Sedianya acara dimulai pukul 08.00 WIB., dikarenakan keterlambatan beberapa peserta membuat acara tersebut baru dibuka 45 menit kemudian. Setelah moderator membuka dan memperkenalkan CV pemateri, kegiatan ini resmi dimulai. Sebelumya, Basyir  telah menyiapkan bahan bacaan mengenai materi yang akan disampaikan kepada para peserta. Basyir meminta para peserta untuk membaca dan memahami materi yang akan ia sampaikan.
Sesuai dengan tema yang sudah ditentukan panitia, Basyir menjelaskan tentang straight dan indepth news. Ada hal menarik dalam metode penyampaian materi oleh Basyir. Pria berambut keriting ini tidak hanya mempresentasikan materi yang telah disiapkan, ia juga mencoba memancing para peserta untuk ikut berkomentar. Salah satu metode yang diterapkan adalah dengan cara menanyakan terlebih dahulu mengenai materi yang akan disampaikan. Menurutnya, dengan cara seperti itu, materi yang disampaikan akan lebih membekas di ingatan.
Pada bagian pertama, Basyir menjelaskan tentang definisi straight news. Dengan menggunakan kata kunci “cepat saji”, Basyir menerangkan mengenai pengertian straight news. Ia menanyakan maksud kata “cepat saji” kepada peserta, sebab menurutnya jika sudah paham maksud kata tersebut, maka akan paham pula mengenai straight news. Setelah beberapa jawaban dari peserta dilontarkan, ia akhirnya menerangkan bahwa maksud kata “cepat saji” adalah cepat dalam proses pembuatannya, jadi menurutnya straight news adalah berita yang proses penyajiannya tergolong cepat. “Bahkan anak MA (di sana) ketika disuruh membuat straigh news itu setengah jam saja selesai,” tuturnya.
Selain pengertian, Basyir juga menerangkan mengenai pembagian bentuk, jenis, dan contoh-contoh straigh news. Pada bagian selanjutnya, Ia menerangkan mengenai indepth news. Metode yang sama ia terapkan pada bagian kedua ini. Ia menyimpulkan bahwa indepth news adalah berita yang sifatnya lebih mendalam, serta proses penyajiannya lebih lama jika dibanding dengan straigh news. Terakhir, Basyir menerangkan bahwa ada 3 hal penting yang wajib ada dalam pembuatan indepth news, yaitu latar belakang peristiwa, dampak yang ditimbulkan, serta pendapat pakar di bidangnya.
Kegiatan yang merupakan progam kerja dari Departemen Jurnalistik ini selesai sekitar pukul 12.00 WIB..  Adapun untuk peserta kegiatan, Bincang Jurnalistik ini bersifat terbuka untuk umum. Nadyya Rahma Azhari selaku PJ Bincang Jurnalistik mengungkapkan bahwa secara umum kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat respon positif dari peserta. “Alhamdulillah, (kegiatan ini) ditanggapi dengan antusias oleh peserta,” tutur gadis yang juga menjabat sebagai Koordinator Departemen Jurnalistik ini.

Sunday, October 27, 2019

Si Miskin, Bahasa Indonesia


Oleh: Abay*
Saya masih ingat dengan jelas ketika salah seorang dosen mencoba untuk mengalihbahasakan satu kata berbahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia. Beliau tidak berhasil menemukan persamaan kata yang dapat menggambarkan makna kata tersebut secara sempurna. Kalimat yang keluar dari mulut beliau setelahnya tidak lebih dari “hinaan halus” terhadap Bahasa Indonesia dan pujian teradap bahasanya sendiri. Bahasa Indonesia itu terlalu dangkal, tidak seperti Bahasa Jawa yang memiliki perbendaharaan kata lebih banyak dan makna lebih variatif, kira-kira begitu yang beliau sampaikan.
Ini turut mengingatkan saya pada kejadiaan saat masih di pondok dulu. Sering kali beberapa guru mencoba hal serupa, mengalihbahasakan satu kata berbahasa Minang ke dalam Bahasa Indonesia. Namun yang terlontar dari mulut mereka adalah “Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata yang pas”.
Tentunya kejadian-kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jujur saja, dulu saya juga berpikir demikian. Ikut “mengatai” Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang “miskin”. Banyak padanan kata yang tidak sesuai dengan bahasa daerah. Kita butuh menjelaskan lebih “ribet” dan panjang lebar jika tidak menemukan padanaan kata yang pas.
Namun belakangan saya sadar, Bahasa Indonesia itu bahasa persatuan layakanya yang tertera dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia merupakan bahasa bentukan dari berbagai bahasa. Pada awalnya dibuat dengan kata-kata umum yang banyak digunakan untuk menyatukan berbagai orang dalam satu pemahaman. Bahasa Indonesia mencoba menjadi pemersatu berbagai bahasa daerah agar perjalanan kemerdekaan Indonesia menjadi lebih mudah.
Bahasa Indonesia bukanlah bahasa asli yang lahir dai mulut seorang ibu. Melainkan sebuah bahasa yang dimunculkan dari mulut para pejuang. Sekali lagi, bukan bahasa yang sudah terlahir sejak zaman dahulu kala. Tapi bahasa yang baru lahir kemarin, dengan ketulusan pemersatuan.
Wajar saja jika Bahasa Indonesia dipandang tidak mampu menyaingi bahasa daerah, karena memang ia bukan bahasa yang tercipta begitu saja. Bahasa Indonesia pada masa itu hingga saat ini hanya ingin menyatukan masyarakat Indonesia dalam satu obrolan komunikatif. Bahasa yang mampu membuat mereka memahami satu sama lain.
Pun Bahasa Indonesia juga sadar diri akan kekurangannya. Setiap saat ia memperbaharui diri, menghadirkan panduan-panduan dengan edisi revisi. Mulai dari ketentuan penulisan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hingga kata-kata yang tertera dalam kamus besar. Semua berusaha menyempurnakannya. Sayang sekali kegiatan penyempurnaan itu harus menerima kenyataan pahit bahwa sebagian besar masyarakat justru tidak peduli. Jujur saja, pasti banyak kata-kata yang kamu sangka bukan Bahasa Indonesia ternyata adalah Bahasa Indonesia ketika menilik kamus.
Saya rasa mulai menghargai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan merujuk kamus adalah salah satu bentuk nasionalisme sederhana yang sering dilupakan. Berhentilah “menghina” bahasa sendiri. Ia tahu diri, sadar akan kekurangannya. Setiap saat ia memperbaiki diri dan akan terus demikian. Demi memberikan bahasa yang layak untuk masyarakat Indonesia yang sayangnya entah kapan akan sadar. Terima kasih Bahasa Indonesia, kau memang pejuang sejati.

*Mahasiswa yang pernah “melecehkan” Bahasa Indonesia

Menjadi Presenter dalam ICGS 2019, Mas’udah Mengangkat Paper Bertemakan Kontribusi Perempuan Pesantren



Yogyakarta - CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menunjukan prestasi. Salah satu anggotanya menjadi presenter dalam International Conference on Interdisciplinary Gender Studies (ICGS), yaitu Mas'udah. Acara ini merupakan event terbesar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (SPGA), bekerja sama dengan LPPM IAIN Kudus dan Diktis Kemenag. Event yang dilaksanakan di Kudus ini berlangsung selama dua hari, tepatnya tanggal 23 hingga 24 Oktober. Namun ada kegiatan tambahan yang dilaksanakan pada 25 Oktober, yaitu City Tour:  Kartini Gathering ke Museum Kartini, Jepara. Acara bersifat pilihan, masing-masing peserta  dipersilakan memperpanjang penginapannya secara mandiri.
Tahun 2019 ini adalah tahun ketiga diadakan ICGS. Acara ini bertemakan Building Word Harmony in The Great Disruption Age. Tahun 2017 lalu, tema yang diusung adalah Reinventing Women Leadership in Local Context Toward Global Impact. Sedangkan tahun 2018 mengangkat tema Kontra Radikalisme dan Moderasi dalam Beragama.
Jarak waktu antara tenggat waktu pengumpulan dan info call paper yang hanya dua minggu tidak mengurangi minat partisipasi publik. Acara ini justru berhasil menarik perhatian lebih dari 100 peserta. Seratus peserta ini terdiri dari peneliti, mahasiswa strata satu, mahasiswa  pascasarjana, dosen, hingga wakil rector. Paper yang dikumpulkan tidak serta-merta bisa lolos kemudian presentasi, akan tetapi diseleksi hingga menyisakan 60 peserta.
Berangkat dari kegelisahan mengenai sosok perempuan di lingkungan pesantren yang kurang begitu mendapat kebebasan layaknya laki-laki, Mas'udah mengangkat judul Perempuan Pesantren dan Kontribusinya terhadap Pendidikan Perempuan (Telaah Pemikiran Nyai Khairyah Hasyim Asy'ary). Ia ingin menyampaikan, bahwa terdapat  istilah Bu Nyai, Ning, Abdi Ndalem, dan santri PR. Meskipun mereka mumpuni dalam hal keilmuan, tetapi mereka tidak menonjol dan kurang diperhitungkan. Oleh karenanya, ia mencoba memunculkan kembali pemikiran Nyai Khairiyah. Putri dari Kyai Hasim Asy'ariy ini tidak hanya berhasil mengembangkan Pondok Pesantren Putri Seblak Jombang, akan tetapi juga mendobrak pendidikan perempuan Saudi Arabia dengan  berdirinya Madrasah Kuttabul Banat pada 1942.

Wednesday, October 23, 2019

Hari Santri Nasional : Santri NKRI



 Indonesia yang dahulu dikenal dengan nama Nusantara memiliki keberagaman yang unik dan menarik untuk dikaji dan diteliti lagi dan lagi. Salah satu yang begitu menarik yaitu meskipun ada banyak ragam suku, budaya, bahasa, dan agama, keberagaman tersebut seakan telah hilang terlupakan dibawah semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua). Hal itu pula lah yang menjadi ciri khas tersendiri Bangsa Indonesia di mata dunia internasional. Ada satu lagi yang khas dari Indonesia, yaitu golongan santri.
Menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam. Istilah santri sebenarnya tak jauh berbeda dengan kata cantrik, yang dalam Bahasa Jawa berarti orang yang menuntut ilmu pada orang yang pandai/sakti. Namun perbedaan tersebut nampak jelas jika kita bahas lebih mendalam lagi. Cantrik secara umum lebih identik dengan tujuan untuk mendalami ilmu-ilmu kebatinan atau ilmu kesaktian serta tinggal di dalam pedepokan. Sedangkan santri merupakan orang-orang yang tinggal di dalam pondok pesantren dengan tujuan untuk menuntut ilmu-ilmu agama islam sebagai bekal di kemudian hari. Tak hanya orang yang tinggal dan menetap di pondok pesantren. Para Ulama telah memperluas makna dari istilah santri.
Dr. KH. Abdul Mustaqim, M.Ag., dosen Akhlaq dan Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam tausiahnya beberapa waktu lalu di Pondok Pesantren LSQ Ar-Rohmah, Bantul, telah mengklasifikasi santri menjadi beberapa kriteria. Pertama, Santri Mukim. Santri Mukim adalah santri yang menuntut ilmu sembari bertempat tinggal di dalam pondok pesantren dalam jangka waktu lama. Santri kriteria seperti ini biasanya mondok (nyantri) sambil bersekolah di sekolah formal atau sambil kuliah. Namun ada juga yang hanya untuk mondok saja untuk menekuni ilmu-ilmu agama atau fokus pada hafalan Al-Quran. Kedua, Santri Kalong. Santri Kalong merupakan santri yang aktif mengikuti berbagai kajian-kajian di dalam pondok pesantren. Namun mereka tidak menetap di dalam pondok pesantren. Istilah santri kalong ini tentu saja dinisbatkan pada kalong atau kelelawar yang pergi ketika malam, dalam artian santri tersebut tidak menginap di pondok pesantren namun tetap pulang-pergi antara pondok dan rumah untuk mengikuti kajian di dalamnya. Dan ketiga, Santri Life-In, santri kriteria ini ialah santri yang menuntut ilmu dan tinggal di dalam pondok pesantren, namun dalam jangka waktu tertentu. Biasanya Santri Life-In ini dikhususkan ketika ada event-event tertentu seperti program Ramadhan dan PPL mahasiswa.
 Menjadi santri merupakan salah satu bentuk kaderisasi masyarakat menuju masyarakat yang unggul dan kuat. Tidak berhaluan kanan maupun kiri. Menjadi santri adalah mencoba mencari jalan tengah pada Ukhuwah Islamiyyah dan Wathaniyyah dengan beralirkan Islam Wasathiyyah (islam jalur tengah) , tidak ekstrim, tidak lembek. Namun mencoba merangkul negara dan agama menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Untuk itu, KH. Wahab Chasbullah mencetuskan semboyan Hubbul Wathon Minal Iman dan menciptakan lagu Ya Ahlal Wathon sebagai bentuk perwujudan santri yang nasionalis dan agamis. Sampai sekarang, semboyan dan lagu tersebut masih sering dilantunkan pada event-event khusus dan umum, terutama dalam peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober.
Tanggal 22 oktober memiliki kesan yang begitu istinewa bagi kalangan santri dan kyai. Tanggal tersebut menjadi momentum sejarah perjuangan para kyai dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1945 setelah Hadlorotus-Syaikh KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwanya tentang jihad membela tanah air. Fatwa yang menyatakan kewajiban umat islam untuk berjihad membela tanah air tersebut adalah bagian dari reaksi golongan ulama menyongsong datangnya tentara sekutu yang membonceng NICA ke Jawa Timur, khususnya Surabaya sebagai bentuk tindakan pencegahan maupun perlawanan jika Belanda kembali menjajah dan merongrong kemerdekaan. Mulai saat itulah eksistensi kaum santri mulai terakomodir dengan tindakan nyata untuk membela negara.
 Resolusi jihad yang difatwakan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) tersebut begitu membekas di dalam dada kaum santri, hingga ribuan bahkan ratusan ribu kaum santri turun ke medan perang untuk berjihad dengan semboyan mereka 'Merdeka atau Mati Syahid'. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa resolusi tersebut juga berpengaruh besar pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, dimana rakyat Indonesia (khususnya dari Jawa dan Madura) berkumpul untuk membentuk suatu kekuatan besar guna menindaklanjuti pamflet-pamflet yang berisikan ancaman dari sekutu. Kini setelah 70 tahun indonesia merdeka, berdasarkan Keppres nomor 22 tahun 2015, tanggal 22 Oktober ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional sebagai bentuk apresiasi negara terhadap eksistensi kaum santri, baik dalam mempertahankan keutuhan NKRI, menjaga ke-finalan Pancasila, hingga atas pengabdian mereka kepada negara. Memang sudah saatnya negara memperhatikan eksistensi santri setelah sekian lama terlupakan dari sorotan media, apalagi pada Hari Santri Nasional yang ketiga ini telah mengusung tema Santri Unggul Indonesia Makmur. Tentunya ini mengandung makna yang mendalam dan secara psikologis telah memberikan kesan moril bagi kaum santri untuk brsemangat dalam menuntut ilmu. (Azharin)
*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta*

Friday, October 18, 2019

Borneo Undergraduate Academic Forum

Dua Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Raih Best Paper I dan II dalam 4th BUAF di IAIN Samarinda

Mahasiswa CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga kembali menorehkan prestasi dalam bidang akademik, Anisah Dwi Lestari dan Hani Fazlin berhasil ikut serta dan meraih predikat Best Paper I dan Best Paper II dalam kegiatan 4th BUAF (Borneo Undergraduate Academic Forum) yang diadakan di IAIN Samarinda. Kegiatan ini diselenggarakan oleh PTKIN yang ada di Kalimantan (IAIN Samarinda, IAIN Palangkaraya, IAIN Pontianak, dan UIN Antasari Banjarmasin) secara bergantian. Adapun tema yang diangkat kegiatan tersebut adalah “Contemporary Islamic Studies and the Globalization in the Millenial Era”.
Kegiatan yang berupa konferensi internasional dan persentasi paper individu ini belangsung selama 3 hari, Minggu-Selasa (13-15/10). Kegiatan ini resmi dibuka oleh Rektor IAIN Samarinda, Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M. Pd.. Usai perhelatan, kegiatan ini resmi ditutup oleh Dr. M. Abzar, M.Ag., selaku Wakil Rektor III IAIN Samarinda. Tidak hanya Sasa dan Elin, Prof. Dr. Noorhaidi, M.A, M.Phil., turut memeriahkan acara tersebut sebagai narasumber. Selain beliau, juga dihadirkan narasumber lain, yaitu Dr. H. Mujiburrahman, M.A., dari UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., dari IAIN Samarainda, dan Dr. Nyi Nyi Kyaw, dari Yusof Ishak Institute, Singapura.
Adapun peserta dalam kegiatan ini ialah seluruh mahasiswa se-Indonesia yang abstraknya telah diterima melalui tahap seleksi sebelumnya. Sasa menjelaskan bahwa peserta kegiatan ini berjumlah 100 orang lebih. Mengenai persiapan dalam pembuatan paper, keduanya sama-sama dapat menyelesaikan sesuai dengan jangka  waktu yang telah ditetapkan. Adapun Sasa mengusung judul “Qira’ah Mubadalah dan Arah Kemajuan Tafsir Adil Gender: Aplikasi Prinsip Resiprositas terhadap Q. S. Ali Imran 14” yang mendapat penghargaan Best Paper I. Sedangkan Elin mengusung judul “Pemahaman Hadis tentang Hoax, dengan menggunakan Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zayd” yang juga mendapat penghargaan Best Paper II.
“Ada senangnya karena memang ingin ke Kalimantan, sedih karena Rozi dan Karin tidak dapat mengikuti kegiatan, serta terharu saat best paper 1-2 sub tema kita dipegang sama UIN Sunan Kalijaga. Karena UIN Sunan Kalijaga termasuk pengirim peserta sedikit.” Tutur Elin saat ditanya tentang bagaimana perasaannya saat mengikuti kegiatan tersebut. Tidak hanya itu, Sasa juga mengatakan bahwa sebenarnya terdapat 4 orang delegasi dari CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, namun dua di antaranya tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut.(EFR)*
*Mahasiswi semester tiga Ilmu Alquran dan Tafsir

Monday, October 14, 2019

Tiga Delegasi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Menjadi Presentator dalam Acara Muktamar Pemikiran Santri Ke-2


Anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menoreh prestasi dalam bidang akademik. Pada event Muktamar Pemikiran Santri yang diselenggaran pada 28-30 September lalu, tiga delegasi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi presentator dalam acara yang diselenggarakan oleh Kemenag tersebut. Mereka adalah Muhammad Rafi, Andi Rosyidin, dan Nuzul Fitriansyah. Muktamar Pemikiran Santri ini merupakan rangkaian acara dari berbagai acara yang diselenggarakan Kemenag RI dalam rangka menyambut Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. Adapun tema acara yang diusung tahun ini adalah Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi, dan Perdamaian Global.
Acara Muktamar Pemikiran Santri yang berlangsung selama tiga hari dan bertempat di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Jakarta Barat. Rangkaian acara pada event ini pun beraneka ragam, dimulai dari Malam Kebudayaan Pesantren dengan mengusung tema: Ngopi, Ngaji, Ngomedi, sampai acara perkumpulan Ma’had Aly seluruh Indonesia dan presentasi paper bagi peserta yang lolos seleksi sebagai acara inti.
Sebelum menjadi presentator di acara tersebut, tentunya mereka telah melalui berbagai tahapan seleksi, yaitu mengirimkan paper terkait tema yang telah ditentukan oleh Kemenag. Adapun beberapa sub temanya; (1) Santri dan Wajah Ramah Pesantren di Dunia, (2) Pedagogi Pesantren dan Perdamaian Dunia, (3) Modalitas Pesantren dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia (Pesantren’s Capitals In Promoting Peaceful), (4) Pesantren dan Resolusi Konflik, (5) Santri, Cyber War, dan Soft Literacy, (6) Akar Moderasi dan Perdamaian (As-silm) dalam Tradisi Kitab Kuning, (7) Kesusastraan dan Pesan Damai Pesantren. Dari beberapa sub tema ini terdapat 560 paper yang kemudian diseleksi lagi menjadi 126 paper terpilih untuk dipresentasikan.
Dari beberapa sub tema di atas, Pedagogi Pesantren dan Pedamaian menjadi sub tema yang dipilih oleh salah satu delegasi dari CSSMoRA  UIN Sunan Kalijaga, yaitu Nuzul Fitriansyah. Ia mengatakan bahwa ia sangat senang dan bersyukur bisa mengikuti event ini, karena bisa bertemu dengan santri-santri dari seluruh Indonesia dan bisa menyumbang sedikit pemikiran terkait dengan peran pesantren dalam menyebarkan Islam yang ramah kepada dunia serta menunjukkan bahwasanya pesantren bisa mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Nuzul juga memberikan motivasi kepada kita bahwa sebenarnya kita tidak harus terpaku dalam bidang tulis-menulis. Ia berpesan agar kita melakukan segala sesuatu berdasarkan passion masing-masing. Walaupun, akademisi memang harus menulis, tetapi lebih baik menjalankan satu hal yang sesuai dengan passion. Karena sesuatu yang dijalani dengan rasa suka dan cinta akan menimbulkan hasil yang bagus dan memuaskan.(Efa)*
*Mahasiswi Ilmu Hadis semester tiga

Seduhan Hangat dari Novel I’am Sahraza

Oleh Pena Macet
            I’am Sahraza merupakan salah satu novel best seller yang ditulis oleh dua pasangan sejoli Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra. Tak berhenti pada karya mereka sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit  Amerika yang juga merupakan karya fenomenal dan best seller, mereka kembali melanjutkan cerita perjalanan hidupnya melalui coretan-coretan kecilnya yang menjadi sebuah karya besar, juga tak sedikit memotivasi masyarakat Indonesia. I’am Sahraza merupakan kisah nyata perjuangan kedua pasangan tersebut untuk mendapatkan buah hati.
            Novel ini menceritakan setiap perjalanan hidup mereka setelah menikah. Tantangan yang harus mereka hadapi dalam awal perjalanan rumah tangganya adalah ketika mereka harus menentukan pilihan yang kiranya cukup berat untuk diputuskan, yakni ketika Rangga harus melanjutkan studinya ke Austria, sementara Hanum sedang berada di puncak karir impiannya menjadi presenter TV. Hingga akhirnya Hanum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya untuk ikut bersama suaminya ke Austria.
            Saat masih berada di luar negeri, Hanum mengikuti program inseminasi yang ditangani dokter lulusan kampus terkemuka Eropa. Beberapa kali program tersebut diikuti, namun pada akhirnya harapan mereka musnah ketika Hanum mengalami haid. Selanjutnya, ketika mereka kembali ke Indonesia, kembali mencoba untuk memiliki buah hati, kali ini mereka mencoba  program bayi tabung. Hingga berkali-kali mencoba dengan mengorbankan banyak hal termasuk harta juga fisiknya yang merasakan sakit bertubi-tubi oleh tusukan jarum, namun belum juga menaklukan faktor X yang membuat Hanum tidak bisa mengandung secara alami.
            Orang tua Hanum juga selalu memberikan kekuatan terhadap anaknya dengan memberi semangat juga doa dan solusi yang harus Hanum lakukan untuk bisa memiliki buah hati. Di antara sanak saudara kandunganya yang telah menikah, Hanum lah yang harus melewati waktu yang sangat lama untuk mendapatkan buah hati. Namun begitu, Hanum, Rangga juga keluarganya tak lelah untuk selalu berusaha dan menaruh harapan pada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan karunia serta rahmatnya kepada mereka. Finally, harapan itu terjawab, Tuhan menghadirkan sang buah hati, Sahraza, dalam kehidupan mereka.
            Dalam novel ini tertulis bahwa dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Selagi manusia memelihara harapannya dengan terus berusaha dan berserah diri kepada Tuhan, maka harapan itu akan tumbuh menjadi bagian dari kisah kehidupan kita. Harapan selalu berkesinambungan dengan rasa kecewa. Namun, kecewa hanya muncul ketika usaha tidak ditingkatkan dan hanya merasa percaya diri akan mendapatkannya. Sebaliknya, ketika harapan selalu dibarengi dengan usaha dan doa yang gigih, kecewa akan hanya menjadi bayang-bayang yang takkan kunjung datang. Hidup bukan hanya untuk belajar di bangku sekolah atau instansi pendidikan, namun juga belajar dari pengalaman hidup dan nilai-nilai kehidupan secara reflex.
            Banyak hal yang bisa kita petik dari novel ini. Salah satunya adalah bahwa manusia harus selalu berusaha dan yakin bahwa ada Tuhan yang akan mewujudkan keinginan kita selagi kita terus berdoa, berusaha juga berserah diri. Kita tergantung apa yang kita pikirkan. Keep Fighting for the Real Life! (well)

Wednesday, October 9, 2019

Berita Sarasehan 2019




Sempat Diundur, Sarasehan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga tetap Diselenggarakan
Yogyakarta - CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui Badan Pengurus Hariannya menggelar Sarasehan yang bertemakan “Merajut Kenangan, Berbagi Pengalaman, Eratkan Persaudaraan”. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, acara ini menjadi program kerja tahunan. Sarasehan kali ini diadakan di  Aula Omah PMII yang berada di Gg. Puntodewo no. 164D, Jaranan, Kanoman, Kec. Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu, 05 Oktober 2019. Pada awalnya acara ini akan digelar di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, namun karena ada kendala teknis, acara diundur selama satu minggu.
Acara tersebut sejatinya dimulai pukul 08.00 WIB, namun karena kendala listrik padam acara ditunda hingga satu jam. Sarasehan dihadiri oleh berbagai angkatan aktif dan alumni. Acara ini juga turut dihadiri oleh Dr. H. M. Alfatih Suryadilaga, M.Ag. selaku Ketua Pengelola PBSB CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Teater Rebung dan Hiforya turut memeriahkan Sarasehan kali ini. Acara tersebut diakhiri oleh persembahan dari Teater Rebung  pukul 17.10 WIB.
Sebagaimana tema yang diusung oleh panitia, Sarasehan kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, dengan menitikberatkan acara untuk berbagi pengalaman dan  mempererat persaudaraan bersama alumni. “Tahun ini sedikit berbeda dengan Sarasehan 2018, karena Sarasehan tahun ini kembali ke konsep Sarasehan 2016 (Sarasehan pertama). Hal yang menonjol di Sarasehan 2019 adalah talk show bersama alumni, sebagai usaha memfokuskan acara ini untuk alumni.” tutur Ahmad Faruq Khakiki selaku Ketua Panitia Sarasehan saat diwawancarai oleh salah satu kru Sarung.
Meski sempat ditunda satu minggu karena permasalahn teknis, Sarasehan tetap mendapat antusias dari anggota CSSMoRA, aktif maupun pasif. Terbukti dengan alumni yang hadir terbilang cukup banyak. Mulai  dari  M. Tholib Khoiril Waro yang mewakili angkatan 2010 selaku alumni tertua yang menghadiri acara tersebut, Luqman Hakim yang mewakili angkatan 2014, dan beberapa orang dari angkatan 2015. Beberapa alumni menjadi pembicara pada sesi talk show di acara kemarin. Seluruh peserta Sarasehan sangat antusias dengan sesi talk show ini baik dari segi anggota aktif CSSMoRA maupun dari pihak alumni. “Mereka sungguh- sungguh dalam acara tersebut, bahkan ada yang rela meninggalkan kepentingan rapatnya di tempat lain.” ujar Febrian Candra Wijaya selaku moderator talk show kemarin.
Acara Sarasehan dari tahun ke tahun selalu memberi kesan untuk peserta yang menghadirinya. “Sarasehan ini cukup berkesan bagi saya, relasi antara kakak tingkat dan adik kelas terbangun secara tidak langsung. Tujuannya untuk menghilangkan sekat-sekat di antara keduanya dan juga mengukuhkan solidaritas di angkatan sendiri.” ujar Melala Septiana Gayo, salah satu peserta Sarasehan angkatan 2019. (Arung Lontara)*
*Mahasiswa Ilmu Hadis semester lima