Monday, October 14, 2019

Seduhan Hangat dari Novel I’am Sahraza

Oleh Pena Macet
            I’am Sahraza merupakan salah satu novel best seller yang ditulis oleh dua pasangan sejoli Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra. Tak berhenti pada karya mereka sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit  Amerika yang juga merupakan karya fenomenal dan best seller, mereka kembali melanjutkan cerita perjalanan hidupnya melalui coretan-coretan kecilnya yang menjadi sebuah karya besar, juga tak sedikit memotivasi masyarakat Indonesia. I’am Sahraza merupakan kisah nyata perjuangan kedua pasangan tersebut untuk mendapatkan buah hati.
            Novel ini menceritakan setiap perjalanan hidup mereka setelah menikah. Tantangan yang harus mereka hadapi dalam awal perjalanan rumah tangganya adalah ketika mereka harus menentukan pilihan yang kiranya cukup berat untuk diputuskan, yakni ketika Rangga harus melanjutkan studinya ke Austria, sementara Hanum sedang berada di puncak karir impiannya menjadi presenter TV. Hingga akhirnya Hanum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya untuk ikut bersama suaminya ke Austria.
            Saat masih berada di luar negeri, Hanum mengikuti program inseminasi yang ditangani dokter lulusan kampus terkemuka Eropa. Beberapa kali program tersebut diikuti, namun pada akhirnya harapan mereka musnah ketika Hanum mengalami haid. Selanjutnya, ketika mereka kembali ke Indonesia, kembali mencoba untuk memiliki buah hati, kali ini mereka mencoba  program bayi tabung. Hingga berkali-kali mencoba dengan mengorbankan banyak hal termasuk harta juga fisiknya yang merasakan sakit bertubi-tubi oleh tusukan jarum, namun belum juga menaklukan faktor X yang membuat Hanum tidak bisa mengandung secara alami.
            Orang tua Hanum juga selalu memberikan kekuatan terhadap anaknya dengan memberi semangat juga doa dan solusi yang harus Hanum lakukan untuk bisa memiliki buah hati. Di antara sanak saudara kandunganya yang telah menikah, Hanum lah yang harus melewati waktu yang sangat lama untuk mendapatkan buah hati. Namun begitu, Hanum, Rangga juga keluarganya tak lelah untuk selalu berusaha dan menaruh harapan pada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan karunia serta rahmatnya kepada mereka. Finally, harapan itu terjawab, Tuhan menghadirkan sang buah hati, Sahraza, dalam kehidupan mereka.
            Dalam novel ini tertulis bahwa dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Selagi manusia memelihara harapannya dengan terus berusaha dan berserah diri kepada Tuhan, maka harapan itu akan tumbuh menjadi bagian dari kisah kehidupan kita. Harapan selalu berkesinambungan dengan rasa kecewa. Namun, kecewa hanya muncul ketika usaha tidak ditingkatkan dan hanya merasa percaya diri akan mendapatkannya. Sebaliknya, ketika harapan selalu dibarengi dengan usaha dan doa yang gigih, kecewa akan hanya menjadi bayang-bayang yang takkan kunjung datang. Hidup bukan hanya untuk belajar di bangku sekolah atau instansi pendidikan, namun juga belajar dari pengalaman hidup dan nilai-nilai kehidupan secara reflex.
            Banyak hal yang bisa kita petik dari novel ini. Salah satunya adalah bahwa manusia harus selalu berusaha dan yakin bahwa ada Tuhan yang akan mewujudkan keinginan kita selagi kita terus berdoa, berusaha juga berserah diri. Kita tergantung apa yang kita pikirkan. Keep Fighting for the Real Life! (well)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment