Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Selasa, 29 Desember 2020

Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Kembali Adakan Bincang Jurnalistik Bagian 2


Selasa (22/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mengadakan Bincang Jurnalistik. Kegiatan yang dipromotori oleh Departemen Jurnalistik dan Redaksi Sarung ini berlangsung 2 hari, yaitu 21-22 Desember. Acara tersebut diadakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. Bincang kali ini merupakan follow up dari Bincang Jurnalistik yang diadakan bulan Oktober lalu. Dengan mengusung tema “ Tulis, Edit, Kirim: Nulis Fiksi dan Kiat-Kiat Menyunting Tulisan Agar Naskahmu Terbit. Bincang kali ini mengundang narasumber yang sangat kompeten di bidang kepenulisan dan tulisannya telah melanglang buana dari mulai sudah memiliki buku sendiri sampai menjadi Redaktur media online yang sudah sangat terkenal. Adapun materi yang disajikan tentang tulisan fiksi yang diisi oleh Alfin Rizal, penulis buku “Manusia Bermilyar-Miliyar Cuma Kamu yang Bikin Ambyar” pada hari pertama dan editing tulisan yang diisi oleh Rifqi Fairuz, Redaktur islami.co pada hari kedua  

Pada hari pertama bincang, dengan dimoderatori oleh Hamada Hafizu yaitu Redaktur Pelaksana Redaksi Sarung. Bincang berlangsung sangat hangat dan interaktif. Pemateri memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya tentang penulisan fiksi dan pengalaman-pengalaman penulis dalam menerbitkan buku-buku karyanya. Di sela-sela bincang pemateri menyampaikan sebuah statement yang sangat menyentuh hati peserta “ ketika tidak ada satu penerbit yang menerbitkan bukumu ada satu penerbit di kepalamu yang bisa menerbitkan sendiri bukumu”. Sesi ini diakhiri dengan kata-kata dari pemateri yang sangat membangun semangat untuk menulis “jangan takut menulis jelek karena setiap penulis profesional pernah amatir.

Kemudian bincang hari kedua dilanjutkan oleh Rifqi Fairuz sebagai pemateri. Masih dimoderatori oleh Hamada Hafizu, dialog antara moderator dan pemateri sangat mengalir dan santai. Di awal sesi Rifqi Fairuz langsung membuka dialog dengan interaksi kepada peserta zoom meeting dengan menanyakan apakah dalam proses menulis diperlukan mood yang bagus? Hampir semua peserta mengatakan bahwa dalam menulis diperlukan mood yang bagus. Kemudian Fairuz, panggilan akrabnya mengatakan bahwa hal tersebut adalah mitos. Setelah penyampaian materi. Sesi selanjutnya tanya jawab yang dibawa oleh moderator. Di akhir sesi Fairuz mengakirinya dengan closing statement yang sangat bagus “ menulis bisa dimana saja, tidak diperlukan mood yang bagus yang diperlukan hanyalah data dan data iu sendiri adalah mood dalam menulis”. Bincang dikahiri dengan foto bersama via capture layar zoom.(ar)

Kamis, 17 Desember 2020

Suara Kami



Suara itu...

Yaaa, itu adalah suara rintihan hati

Riuh mengharu suara pilu dari kami

Berharap adanya banyak simpati

Tetapi negeri tetap saja terbelenggu menjadi-jadi.

Cinta itu...

Yaaa, itu adalah cinta para pejuang

Melawan panasnya api menyerang

Demi kaum bebas dari pengekang

Hingga tak tau caranya kembali pulang.

Laluuu...

Akan kah suara dan cinta itu terdengar?

Bagaikan angin melayang-layang

Debu yang berlalu lalang

Embun pagi yang cepat penghilang

Hingga Ombak yang kencang menerjang.

 

Yaaa, itu adalah suara kami

Suara yang hanya didengar oleh telinga,

Dilihat oleh mata,

Namun Tidak dengan hati yang terbuka.

Wahai negeriku

Cepatlah pulih dari rasa sakit itu.

Oleh: Hasaroh

 

Minggu, 13 Desember 2020

Dalam Rangka memeriahkan Harlah CSSMoRA ke-13, Organisasi PBSB Gelar Obrolan Aktivasi Santri sebagai Ajang Kontribusi untuk Negeri

 

Jumat (11/12), Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) menggelar acara Obrolan Aktivasi Santri dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA ke-13. Acara ini bertajuk Aktivasi Santri Nusantara, makin Reaktif, makin Kreatif yang berlangsung secara virtual melalui zoom meeting. Adapaun peserta dari acara ini merupakan bagian dari alumni CSSMoRA, anggota aktif CSSMoRA dan juga dihadiri oleh khalayak umum.

Organisasi dari Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tersebut mempunyai rangkaian acara obrolan aktivasi santri, yang berlangsung 4 hari, mulai tanggal 6, 8, 10, dan 11 Desember 2020. Adapun hari pertama, diisi oleh Rinaldi Nur Ibrahim dengan tema kesehatan. Hari kedua, diisi oleh Hamdi Putra Ahmad dengan tema Jurnalistik. Hari ketiga, diisi oleh Acep Jaelani dengan tema Sosial dan Lingkungan dan hari terakhir, diisi oleh Ustaz Syamsuri Firdaus dengan tema Keagamaan sekaligus doa bersama.

“Alhamdulillah, telah selesai hari ini tepat 11 Desember 2020 rangkaian obrolan aktivasi santri yang memang ini menjadi salah satu rangkaian hari lahir ke-13 CSSMoRA, yang kita kemas dengan tema “Aktivasi Santri  Nusantara” ya. Jadi secara filosofis,  aktivasi santri nusantara ini kita ingin menyampaikan bahwa di dalam kondisi  yang saat ini sedang  membutuhkan banyak kontribusi dari berbagai pihak khususnya santri. Ini teman-teman pemuda dan santri secara khusus dapat turut berkontribusi di dalamnya sebagai contoh dalam bidang sosial dan lingkungan dalam bidang Kesehatan dan apapaun bidangnya saat ini bisa kita anggap turun seperti itu ya, ini harapannya temen-teman bisa turut aktif disana, turut aktif membantu apapun kontribusinya”. Ujar Ketua Panitia Harlah CSSMoRA-13, Abid Shidqi

“Nah, kita ingin dengan obrolan aktivasi santri ini setidaknya muncul motivasi, muncul kemauan untuk turut berkontribusi di berbagai bidang. Dan di obrolan aktivasi santri ini ada beberapa tema yang dibahas. Pertama, berkaitan dengan bagaimana kondisi Kesehatan. Kemudian sosial, lingkungan, dan juga di bidang jurnalistik. Yang terakhir, hari ini berkaitan dengan bidang keagamaan”. Imbuhnya

Acara tersebut dilakukan secara interaktif antara narasumber dan peserta, dengan harapan para audiens dapat menerima materi dengan baik dan tidak terkesan membosankan. Abid mengatakan bahwa konsep dari acara ini adalah gerakan sosial.

“Memang obrolan aktivasi santri ini kita konsep dengan kemasan obrolan ya, kita sama-sama tau lah obrolan itu kan sifatnya ringan dan tidak berat karena saat ini ya teman-teman santri dan pemuda itu justru lebih banyak menimbulkan perubahan dari obrolan-obrolan kecil. Jadi perubahan itu ternyata terbentuk bukan dari obrolan kaku atau obrolan yang sifatnya resmi dan lain sebagainya justru lebih banyak menggagas dari obrolan-obrolan kecil ini”. Jelas Mahasantri asal CSS Universitas Pendidikan Indonesia tersebut

Beberapa rangkaian Harlah CSSMoRA lainnya adalah 20 ribu santri berbagi, pesantren visit, dan kampanye-kampanye lainnya. Terselenggaranya acara ini dibarengi dengan harapan khususnya kepada santri agar mampu berkontribusi sesuai dengan latar belakang bidang masing-masing serta membantu meringankan negeri dalam mengahadapi pandemi.

“Harapannya dari kegiatan ini dapat menjadi stimulus untuk teman-teman santri, teman-teman pemuda supaya mau berkontribusi dalam berbagai bidang. Nah, ini harapannya output dan outcome nya seperti itu. Nah, dari beberapa bidang yang tadi kita jadikan tema di obrolan aktivasi santri, harapannya santri mendapatkan gambaran dari sana dan motivasi untuk turut aktif disana. Itu harapan kami semoga dapat tercapai, kita sama-sama berharap obrolan aktivasi santri ini dapat membantu meringankan beban dari pandemi. Ini goals besar kita lah”. Jelas Abid ketika diwawancarai

Kontributor : Septiana Melala Gayo                                                                 

Rabu, 09 Desember 2020

Surau Rang Caniago (Part 2)

 

Aku belum memulai percakapan apapun dengan Uwo Lina selain perkenalan tadi siang. Ia nampak cukup pendiam di usia tuanya, atau mungkin memang tak banyak bicara. Yang keluar dari mulutnya hanya jawaban dari pertanyan-pertanyaan nenek. Atau mungkin juga karena pertemuan yang baru hitungan jam membuat canggung.

Gaek Rajin nampak sangat lesu di usia tuanya, tapi itu tak menghalanginya untuk mengenali nenek, adik satu-satunya. “Pertemuan mengharukan layaknya drama?” mungkin itu yang dapat menjelaskan semuanya. Hanya air mata tanpa kata. Ada rasa bersalah yang terpancar pada masing-masing mata, namun bahagia juga terpancar jelas. Sekarang aku benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

Aku memilih keluar dan memeriksa notifikasi di handphone. Duduk di beranda depan dengan lampu temaram, rumah ini sangat tua. Aku yakin ada banyak sekali serangga yang hidup di dalam papan dan tiang penyangga. Bentuknya seperti rumah adat Minang kebanyakan, Rumah Gadang dengan atap gonjong. Persis seperti atap rumah makan Padang di Ibukota yang kerap jadi langganan keluarga.

Tak ada notifikasi penting, hanya group chat yang sangat ramai. Ya, aku memang sedikit abai pada benda pipih itu sejak landing tadi pagi. Setidaknya lebih baik sekarang memeriksa percakapan tidak penting dari pada bergabung dengan haru biru nenek. Aku bahkan tidak mengerti dengan kosa kata yang nenek keluarkan saat berbicara dengan Gaek Rajin. “Mungkin bahasa orang terdahulu memang lebih rumit dipahami” batinku yang kala itu hanya mendengar.

“Kenapa indak di dalam saja?” Tanya Uwo Lina sambil duduk di sampingku. Aksen Minang Uwo Lina kental sekali dengan pelafalan huruf  “e” yang seolah ditekan. Sangat lucu jika sesekali mendengarnya.

“Cari sinyal Wo. Lagian juga nggak paham sama percakapan nenek.” Aku mengulas senyum tipis basa -basi untuk menunjukkan sopan santun.

“Bahasa urang tuo memang seperti itu. Indak seperti Bahasa Minang sekarang yang banyak samanya dengan Bahasa Indonesia.” Ternyata Uwo Lina cukup “melek” perkembangan bahasa. “Berapa umurmu nak?” sambung Uwo Lina.

“Dua puluh tahun Wo, dua bulan lagi.” Jawabku seadanya.

“Berapa orang saudara?”

“Anak tunggal Wo.” Uwo Lina sedikit murung mendengar jawabanku.

“Berarti Sari terlambat menikah.” Sambung Uwo Lina dengan gelak tawa di ujungnya. “Tapi ndak baa, asalkan anaknyo padusi[1].” Uwo Lina menangkup wajahku sambil tersenyum dengan mata yang berkaca. Tuturnya lebih seperti gumaman. “Kaulah nanti penerus generasi Caniago yang ada Kia. Penerus keluarga besar nenek kau Kia, penerus satu-satunya.”

Aku sedikit bingung dengan pernyataan Uwo Lina barusan. Uwo Lina bahkan punya tiga orang anak, tapi kenapa aku penerus satu-satunya?

“Di Minang, anak perempuan adalah penerus. Sementara Uwo keterununan Gaek kau, keturunan laki-laki. Ndak bisa mewarisi.” Jawab Uwo seolah paham dengan kebingunganku.[2]

“Wo, kenapa Nenek nggak pernah pulang? Padahal kan masih punya saudara?” Aku dapat melihat perubahan ekspresi Uwo Lina dengan mudah. Lengkung senyum yang tadinya ditarik ke atas, sekarang mulai mengendur ke bawah. Uwo Lina jelas kaget dengan pertanyaanku. Tapi tentu saja aku lebih terkejut dengan ekspresi Uwo Lina. Perasaan takut yang kusembunyikan semakin besar.

“Kia, di dunia ini ada hal yang aneh dan ndak mungkin tapi terjadi. Ada hal-hal yang anak sebesar kau sekarang ini ndak akan paham. Kalau Uwo cerita, takutnya justru membuat salah paham. Lebih baik tanyakan langsung ke Nenek kau, Uwo tidak berani cerita jika Tek Minah belum cerita.”

Jawaban Uwo seketika membuatku tertunduk layu, perasaan cemas dan takut semakin besar. Sebenarnya apa susahnya memberitahu dan membuatku berhenti menduga-duga. Aku semakin pusing karena nenek seperti akan mengingkari janjinya. Seolah belum mau bercerita padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jelas aku bukan orang yang sabar. Satu minggu kukorbankan untuk menemani nenek dan mengambil izin kuliah tapi sekarang aku belum mendapatkan apapun. Enam hari lagi waktu yang kuberikan pada nenek untuk berkata jujur. Jika tidak mungkin lebih baik kembali saja, aku sungguh benci rasa penasaran.

“Lina!” Suara teriakan nenek memutus lamunanaku dan Uwo Lina. Kami bergegas menyusul ke dalam. Sebenarnya ada perasaan kesal saat melihat nenek yang justru malah mengabaikanku dan tak menepati janji. Namun rasa kesal itu sirna saat kulihat Gaek Rajin, yang baru kulihat dua jam lalu terbaring di lantai. Pukul delapan lebih lima belas menit Gaek rajin menghembuskan napas terakhir. Meninggalkan nenek dengan isakan pelan yang nyaris tak bersuara. Air mata berlomba-lomba turun dari kelopak matanya. Nenek tertunduk menatap wajah Gaek Rajin yang sedikit tersenyum, seolah kedatangan nenek adalah penantian terakhirnya.

Di sampingku Uwo Lina juga mengucurkan air mata lalu berlari ke rumah satunya untuk memanggil sang suami yang telah pulang maghrib tadi. Dan di sinilah aku mematung dengan kesedihan yang entah menjalar dari mana. Semua pikiran burukku melambung entah kemana. Mungkin rasa penasaranku memang harus lebih sabar lagi

 

Bersambung...

oleh: Miang

Baca part 1 di https://www.cssmorauinsuka.net/2020/10/surau-rang-caniago.html?m=1

[1]“Tapi tidak apa-apa asalkan anaknya perempuan”

[2]Minangkabau merupakan suku yang menggunukan garis keturunan ibu (matrilinial). Sehingga kewarisan diturunkan kepada keturunan perempuan. Sukupun diwariskan dari ibu, sehingga anak mendapatkan suku yang sama dengan sang ibu.


Jumat, 04 Desember 2020

Mengenal Kaidah-Kaidah Fikih

 

sumber foto: http://makalahirfan.blogspot.com

Salah satu disiplin ilmu dalam Islam di dalam bidang hukum yang masih jarang dipelajari atau diketahui oleh umat Islam sendiri adalah Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam atau yang dikenal dengan nama al-Qawa’id al-Fiqhiyyah. Umat Islam hanya terbiasa dengan Tafsir Alquran, Hadis, Fikih, Usul Fikih, Tasawuf, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Padahal Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam sangat penting dipelajari karena ini merupakan hasil buah pemikiran para ulama terdahulu, terlebih ulama empat mazhab.

 Walaupun dalam pembuatannya terdapat perbedaan, misalnya ulama dari mazhab Hambali membuat Kaidah-kaidah Fikih ketika semua Masail Fiqh (Permasalahan-permasalahan Fikih) sudah diketahui dan terjawab, baru mereka membuat Kaidah-kaidah Fikih tersebut. Lain halnya dengan mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, mereka terlebih dahulu membuat Kaidah-kaidah Fikih, walaupun ada maupun tidak ada Masail Fiqh tersebut, mereka tetap membuatnya. Maka dari itu tidak heran apabila ada Kaidah-kaidah Fikih tersebut tidak ada contohnya.

Kaidah-kaidah Fikih atau al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yang berasal dari kata al-Qawa’id yang merupakan bentuk jamak dari kata qaidah (kaidah) dan al-Fiqhiyyah merupakan bentuk jamak dari fiqh (pemahaman/fikih/hukum Islam). Secara etimologi al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yaitu dasar-dasar atau asas-asas yang berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fikih. Biasanya Kaidah-kaidah Fikih lebih banyak dipelajari bagi mereka yang berada di Fakultas Syariah, namun tidak menjadikan kita tidak mengetahui tentang Kaidah-kaidah Fikih.

Pada dasarnya, mayoritas ulama menetapkan ada lima kaidah utama (al-Qawa’id al-Khamsah) yang mana kemudian di dalam lima kaidah utama tersebut terpecah lagi menjadi Kaidah-kaidah Fikih cabang yang jumlahnya menjadi ratusan kaidah. Selain itu, ada banyak pembagian bidang kaidah sesuai dengan cabang-cabang ilmu fikih, seperti Siyasah (Politik), al-Ahwal asy-Syakhshiyyah (Hukum Keluarga), Muamalah (Hukum Ekonomi atau Transaksi), Jinayah (Hukum Pidana), Qadha (Hukum Peradilan atau Acara), dan Ibadah. Namun, dalam tulisan ini penulis akan membahas Kaidah-kaidah Fikih dalam bidang Siyasah, al-Akhwal asy-Syakhshiyyah, Muamalah, dan Ibadah saja beserta penjelasan dan contohnya.

A.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Siyasah

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعيَةِ مَنُوطٌ بِالمَصْلَحَة

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya tergantung kepada kemaslahatan.”

Maksud dari kaidah di atas yaitu seorang pemimpin harus membuat peraturan sesuai dengan masalahat yang dapat diterima rakyatnya dan tidak membuat peraturan sesuai dengan nafsunya yang dapat memudaratkan rakyatnya. Misalnya, pemerintah membuat kebijakan bagi siapa saja yang rumahnya terkena lahan hijau, maka rumahnya akan digusur. Pemerintah tidak hanya membuat kebijakan untuk menggusur rumah rakyat tersebut, tetapi juga mengganti rugi berupa uang sesuai dengan harga rumah tersebut dan mencarikan tempat gantian yang layak bagi mereka. Seorang pemimpin harus berbuat adil kepada rakyatnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَ كِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah itu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan Tuhan yang Maha Pemurah. Kedua tangannya adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam kekuasaan mereka, keluarga mereka, dan apa-apa yang dilimpahkan kepada mereka.” (H.R. Muslim)

B.     Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang al-Akhwal asy-Syakhshiyyah

لَا يَصِحّ الوَصِيَّةُ بِكُلِّ المَالِ

“Tidak sah wasiat dengan keseluruhan harta.”

Maksud dari kaidah ini yaitu tidak diperkenankan berwasiat dengan seluruh hartanya karena dalam hadis disebutkan bahwa batas maksimal mewasiatkan harta yang dimiliki sebanyak sepertiga dari keseluruhan harta. Diceritakan dalam sebuah hadis, Ketika Sa’ad bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya beliau berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata, “Setengahnya”. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam pun berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya”. Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sepertiga. Sepertiganya itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

C.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Muamalah

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman dengan menarik manfaat (oleh kreditor) adalah sama dengan riba.”

Maksud dari kaidah ini yaitu apabila terjadi pinjam-meminjam, maka berapa pun uang yang dipinjam maka harus dibayarkan sesuai dengan seberapa banyak yang dipinjam, yang meminjamkan tidak boleh meminta lebih uang yang dipinjamkan karena ini termasuk unsur riba, kecuali yang meminjam uang tersebut memberikan uang lebih kepada yang meminjamkan sebagai bentuk terima kasih. Misalnya, Ahmad meminjam uang dengan Zaid sebesar Rp. 50.000,00, maka Zaid tidak boleh menyuruh Ahmad mengembalikan uang yang ia pinjamkan lebih dari itu, kecuali Ahmad dengan inisiatifnya mengembalikan lebih uang kepada Zaid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 275).

 

D.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Ibadah

الإِيْثَارُ فِيْ القُرْبِ مَكْرُوهٌ وَ فِيْ غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

“Mengutamakan orang lain pada urusan ibadah adalah makruh dan dalam urusan selainnya adalah disenangi.”

Maksud dari kaidah ini yaitu sebaiknya kita lebih mengutamakan diri sendiri dalam perkara ibadah daripada orang lain karena ini adalah termasuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Contoh, apabila saat kita ingin melaksanakan salat berjamaah, di depan kita ada saf kosong, maka sebaiknya kita yang mengisinya, jangan sampai kita menyuruh orang lain untuk mengisi saf tersebut, karena semakin di depan safnya maka semakin baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 148).

 

Oleh: Muhammad Torieq Abdillah, Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin


Sabtu, 28 November 2020

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Mengadakan Webinar Nasional Sebagai Upaya Mensyiarkan Islam Moderat

Sabtu, (28/11) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga melalui departemen Pengabadian Pondok Pesantren dan Masyarakat (P3M) melaksanakan kegiatan Webinar Nasional. Webinar yang bertajuk “Pesantren Sebagai Penjaga Moderasi Kajian Al-Qur’an Dan Hadits” tersebut dilaksanakan via room zoom. Dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, kegiatan tersebut dibuka langsung oleh ketua panitia M. Ihsan al-Amin.

Dalam webinar ini, panitia meghadirkan dua orang narasumber sebagai pemateri. Narasumber pertama adalah Ahmad Rafiq, M.A, Ph.D., akan tetapi dikarenakan berhalangan hadir, beliau digantikan oleh Dr. Ali Imran, S. Th. I, M. Si.. Kemudian narasumber kedua adalah Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M. Ag. Selain itu, panitia juga menyediakan E-Sertifikat bagi para peserta, yang akan dibagikan setelah kegiatan ini berlangsung.

Dalam pemaparannya, kedua narasumber mengapresiasi tema yang diangkat oleh panitia kegiatan. Dr. Ali Imran menyinggung pentingnya kita sebagai akademisi untuk memanfatkan teknologi yang ada sebagai sarana mensyiarkan Islam moderat. Sementara itu, Prof. Abdul Mustaqim menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang secara nyata menjadi agen penyebaran Islam moderat.

Meskipun dilaksanakan secara online, hal tersebut tidak menyurutkan antusias peserta untuk mengikuti kegiatan webinar. Terpantau via room zoom, terdapat sekitar 100-san participant yang mengikuti kegiatan webinar ini. Tidak sedikit pula dari mereka yang melontarkan pertanyaan kepada para narasumber.

Ihsan berharap setelah kegiatan ini berlangsung kita semua bisa lebih berhati-hati dalam bertindak, khususnya mengamalkan ajaran Islam. “Harapan panitia setelah acara ini semoga kita bisa lebih teliti dalam mengkaji sebuah hukum (ajaran Islam) yang dilaksanakan, tidak terjerumus pada paham-paham radikal, ekstrim, dan sebagainya”, tuturnya saat diwawancarai oleh tim redaksi. (Nsd.)

Berita ini juga dimuat di website Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kamis, 19 November 2020

Urgensi Memahami Hadis Tentang Kepemimpinan dalam Upaya Pencegahan Ujaran Kebencian di Media Sosial

Hadis sebagai sumber hukum Islam kedua sangat penting untuk diperdalami dan dipahami oleh umat Islam, terkhusus bagi kaum intelektual muda di samping mempelajari alquran beserta tafsirnya. Hadis juga tidak hanya dipelajari dan dibaca begitu saja, tetapi juga dibaca syarh (penjelasan) hadisnya. Terlebih di era disrupsi ini sangat penting untuk mempelajari alquran dan hadis dalam upaya pencegahan hal yang tidak diinginkan di media sosial. Dalam perkembangannya, media sosial yang sebetulnya sebagai tempat komunikasi jarak jauh berubah menjadi berbagai macam fungsi di dalamnya, termasuk sebagai tempat menyebarkan berita. 

Di samping adanya hal positif dalam menyebarkan berita, namun juga ada hal negatif yang mengiringinya. Banyak berita hoax dan ujaran kebencian yang ada setiap saat, apalagi jika itu berkenaan dengan hal sensitif seperti politik. Padahal dalam Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyebutkan melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, namun masih saja banyak orang yang mengabaikan aturan ini.

Tahun lalu merupakan tahunnya politik, di mana pesta demokrasi besar-besaran telah dilaksanakan pada tanggal 21 April 2019 lalu. Bukan hanya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (eksekutif), tetapi juga DPRD, DPD, dan DPR (legislatif) yang diadakan secara serentak. Hal ini mengakibatkan terjadinya kampanye secara besar-besaran, baik itu di dunia nyata seperti memasang baliho atau spanduk, tetapi juga memasang poster di media sosial.

Kekhawatiran terjadi di mana adanya ujaran kebencian kepada calon anggota legislatif maupun eksekutif tersebut di media sosial karena bentuk pengantisipasiannya sangat sulit. Sehingga perlu adanya suatu pemahaman yang diajarkan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam bertindak, seperti memahamkan hadis tentang kepemimpinan.Pada pemilihan umum Presiden yang lalu banyak terjadi ujaran kebencian maupun fitnah yang ada terhadap Presiden kita. Padahal beliau adalah pemimpin kita yang mana kita tidak boleh mencaci dan harus patuh kepadanya dalam bentuk ketaatan.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian yang mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah kalian yang membenci mereka dan mereka membenci kalian, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda: “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian suatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.

Hadis di atas memiliki poin penting bahwa kita harus saling mendoakan diantara keduanya bukan malah sebaliknya yaitu mencaci maki. Kemudian pemimpin itu jelek adalah karena rakyatnya membenci, ingat kata pepatah “pemimpin itu cerminan dari rakyatnya”, maka jika ingin pemimpinnya baik maka rakyatnya harus baik karena pemimpin itu diambil dari rakyat itu sendiri.

Poin terakhir yang paling penting yaitu jika pemimpin kita melakukan tindakan buruk maka cukup benci tindakannya saja, bukan individunya dan tetaplah taat kepadanya dalam bentuk kebaikan. Mungkin jika kita ingin menyampaikan aspirasi melalui cara demontrasi sebagaimana diatur dalam  UU No. 9 Tahun 1998 Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 3 yang berbunyi, “Unjuk rasa atau demontrasi adalah kegiatan yang dilakukan seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum.” Diperoleh dari http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_9_98.htm. 

Tentu saja demonstrasi ini perlu menjaga etika yang ada, jangan sampai ada terjadi kericuhan terlebih ada korban berjatuhan. Namun ada cara lain untuk menasihati pemimpin sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang igin menasihati pemimpin, maka jangan lakukan dengan terang-terangan. Akan tetapi, nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.”

Sudah semestinya kita memperhatikan etika kepada pemimpin agar jangan sampai mencaci maki mereka di khalayak umum terlebih melalui media sosial. Perubahan zaman telah merubah segala aktivitas yang ada. Mungkin saja tidak ada ujaran kebencian dan berita hoax yang ada saat ini jika penggunaan media sosial dilakukan dengan bijak dan menggunakan sesuai dengan fungsinya yaitu mengganti komunikasi yang sebelumnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya dan inilah yang disebut dengan era disrupsi. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, apalagi dalam memutuskan suatu perkara.

Salah satu kaidah fikih menyebutkan, “Seorang pemimpin itu, salah dalam memberi maaf lebih baik daripada salah dalam menghukum.”, maksud dari kaidah ini berhati-hati dalam mengambil keputusan sangatlah penting. Jangan sampai memudharatkan kepada rakyat dan bawahannya. Apabila seorang pemimpin masih ragu karena belum ada bukti yang menyakinkan antara memberi maaf atau menjatuhkan hukuman. Maka yang terbaik adalah memberikan maaf, tetapi apabila jelas dan menyakinkan bukti-buktinya maka seorang pemimpin harus berani dan tegas dalam mengambil keputusan sesuai kaidah (Hafidzi, 2019: 16-17).

Jadi, pentingnya bagi kita untuk senantiasa mempelajari dan memahami semua ilmu agama, terlebih pada ilmu hadis karena hadis merupakan sumber hukum kedua bagi umat Islam. Di samping itu, terdapat banyak urgensi yang ada di dalam mempelajari dan memahami hadis yang berkaitan hak dan kewajiban seorang pemimpin dan rakyat agar terciptanya suatu kesejahteraan di dalam sebuah kekuasaan tanpa adanya ujaran kebencian terhadap pemimpin dan kezaliman terhadap rakyat. Itulah salah satu urgensi dalam mempelajari dan memahami ilmu hadis dalam menghadapi era disrupsi yang terjadi saat ini.

Penulis adalah Kiranda Okti Eka Putri mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Surakarta

Email: kirandaokti@gmail.com

Selasa, 10 November 2020

Wakaf Produktif dalam Tinjauan Hukum Positif dan Hukum Islam

Tanah merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan di bumi yang memiliki fungsi dan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti ekonomi, sosial, budaya, politik, agama, pendidikan, dan lain-lain. Fungsi tanah yang ada seringkali dijadikan sebagai tempat tinggal, pusat pendidikan, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, layanan kesehatan, instansi pemerintahan, dan lainnya.

Namun, dengan bertambahnya jumlah populasi manusia setiap harinya menyebabkan tanah yang ada di bumi semakin berkurang. Hal tersebut menjadikan pertanahan diatur oleh negara dalam hal kepemilikan dan pemanfaatannya untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana tertera dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat”.

Apabila ditinjau dari segi yuridis (landasan hukum), maka terdapat beberapa landasan hukum, baik dari segi hukum positif maupun hukum Islam yang mengatur tentang permasalahan pertanahan, salah satunya yaitu tentang tanah wakaf.

Islam hadir untuk mengatur segala urusan kehidupan baik tentang ibadah maupun muamalah. Dalam aspek mualamah, Islam juga mengatur tentang pertanahan, salah satunya tanah wakaf. Secara bahasa, kata wakaf berasal dari kata ‘waqafa’ yang memiliki arti ‘menahan’ atau ‘berhenti’ atau diam di tempat atau tetap berdiri. Sedangkan secara istilah, wakaf yaitu menahan harta dan memanfaatkan hasilnya untuk jalan Allah.

Dalam penjelasan yang lain, wakaf memiliki arti perbuatan seseorang atau lembaga hukum (wakif) yang memisahkan sebagian dari harta kekayaan berupa tanah milik dan tanah tersebut dilembagakan untuk selamanya demi kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya sesuai ajaran agama Islam. Demikian dengan adanya wakaf yang digunakan untuk memfasilitasi tempat ibadah, membantu penanganan perekonomian umat, dan kesejahteraan umum yang lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan syariah.

 Apabila dilihat dari segi ditujukan dan diberikan kepada siapa, maka wakaf bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu wakaf ahli dan wakaf khairi. Namun fokus tulisan ini membahas tentang wakaf khairi (produktif). Secara artian, wakaf produktif merupakan wakaf yang secara khusus dipergunakan untuk kepentingan keagamaan atau kemasyarakatan, seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan, dan lainnya. Lebih dalamnya, wakaf produktif lebih banyak manfaatnya daripada wakaf ahli, sebab wakaf produktif bertujuan untuk kemaslahatan umat. Pada zaman khulafa ar-rasyidin, khalifah ‘Utsman bin Affan Ra. pernah membeli sumur yang beliau beli dari orang Yahudi dengan harga yang sangat mahal agar umat Islam bisa menggunakan sumur tersebut secara gratis. Hingga saat ini, sumur tersebut masih ada dan digunakan untuk kemaslahatan umat.

Wakaf dilindungi dan dinyatakan dalam hukum, yaitu hukum positif dan hukum Islam. Sudah menjadi suatu keharusan bahwa perkara pertanahan, termasukan perwakafan harus memiliki landasan hukum yang diatur oleh negara maupun agama. Landasan hukum tersebut bertujuan sebagai penguat dari adanya legalitas perwakafan tersebut. Di Indonesia, terdapat landasan hukum yang berkenaan dengan wakaf secara umum.

1.      Hukum Positif

a.       Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977

Wakaf yaitu perbuatan seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaan yang beruapa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.

b.      Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 2004

Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya untuk keperkuan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

2.      Hukum Islam

a.       Alquran

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّى يُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِنُّوْنَ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِه عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (Q.S. Ali ‘Imran/3: 92).

Tafsir dari ayat di atas menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ayat di atas berkenaan dengan salah seorang sahabat yang menginfakkan kebunnya dengan mengharapkan dan simpanannya di sisi Allah Swt.

b.      Hadis

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslan amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Para ulama mengartikan ‘sedekah jariyah’ sebagai wakaf.

Dalam hadis lain, dari ‘Abdullah bin Umar Ra. bahwa ‘Umar bin al-Khaththab Ra. mendapatkan tanah di Khaibar. Kemudian ia mendatangi Nabi Saw. untuk meminta pendapat beliau. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Saya belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga darinya sekali pun. Apa yang engkau perintahkan kepadaku perihal hal ini?” Beliau menjawab, “Jika hendak, engkau dapat menahan asalnya dan menyedekahkannya.” Maksud dari “engkau dapat menahan” adalah mewakafkan.

3.      Integritas Antara Hukum Positif dan Hukum Islam

-          Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 215 Ayat (1)

Wakaf adalah perbuatan hukum atau seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.

Wakaf produktif dilindungi dan memiliki landasan hukum, sebagaimana yang diatur oleh negara dan agama. Penetapan hukum tersebut berlandasan atas hak dan kewajiban yang dipergunakan untuk kemaslahatan umum. Di Indonesia, hukum positif yang menjadi landasan hukum tentang wakaf yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 dan Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 2004, sedangkan dari hukum Islam, yaitu Alquran dan Hadis, ditambah integritas antara hukum positif dan hukum Islam yang termuat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 215 Ayat (1). Dari tinjauan kedua landasan hukum tersebut, maka wakaf, termasuk wakaf produktif termasuk bagian penting dari negara dan Islam.

 

Penulis adalah Muhammad Torieq Abdillah, mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

Referensi

Al-Bugha, Musthafa Dib. 2019. Fikih Islam Lengkap Penjelasan Hukum-hukum    Islam Madzhab             Syafi’i. Solo: Media Zikir.

Al-Sheikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq. 2003. Tafsir Ibnu Katsir            Jilid 2, terj. M. Abdul Ghoffar E.M. Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Pratiwi, Intan. 2015. “IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004         TENTANG WAKAF (Studi Pengelolaan Wakaf Produktif di Yayasan Yatim dan Dhuafa Al-   Aulia Serua, Bojongsari-Depok”. Fakultas        Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri          Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sabtu, 31 Oktober 2020

Terimakasih untuk Satu Judul Cerita

 

Ini malam minggu. Aku tau itu, dan kau juga pasti tidak salah dalam mengira hari. Meski sedang harus berkegiatan di rumah saja, memantau tanggal terutama yang bercetak merah adalah hobiku yang tak pernah bisa kuhilangkan sejak aku mulai mengenal angka bahkan hingga sekarang di saat aku akan menutup diri serapat mungkin ketika harus berhadapan dengan angka yang kurasa memusingkan. Karena, itu bukan aku banget.

Aku tidak pernah tau tentang cerita sejarah yang menjadikan malam minggu sebagai malam dimana orang-orang akan merayap keluar dari rumah dan memadatkan jalanan hanya untuk sekedar bersenang-senang. Padahal tanpa sadar, memilih tidur lebih awal dan bangun lebih telat itu juga bagian dari kesenangan yang bisa dilakukan untuk menikmati akhir pekan.

Yang pasti, sebagai salah seorang remaja, aku juga menunggu malam minggu itu tiba. Tidak, malam mingguku tidak akan sama seperti kebanyakan orang yang memilih keluar bersama kekasih hatinya. Malam mingguku sederhana. Sesederhana mencoret kertas putih tanpa perlu memperhatikan bentuk dan keindahannya. Karena apa pun yang aku lakukan bersamamu itu pasti akan terasa indah dengan sendirinya. Meskipun... kini aku sadar bahwa semua hal yang kuanggap indah itu hanya akan menjadi isi kepalaku, hanya sebatas bayang-bayang semu.

Malam minggu itu waktunya kita menghabiskan waktu bersama, mengobrol, tertawa, atau bahkan hanya untuk saling bergurau. Dan semua seolah memang sudah memiliki siklusnya sendiri. Malam minggu datang lagi maka kita akan melakukannya lagi, lagi, lagi, dan terus. Terus berulang-ulang seperti itu.

Aku senang melakukan hal yang terkesan monoton itu. Dan... kau juga mengaku senang membuang waktumu bersamaku. Menghabiskan kuota internet ber-giga-giga bukanlah masalah besar selama itu aku habiskan bersamamu. Kita terbang bersama waktu yang... ternyata menjadi jawaban dari hubungan tanpa nama yang kita jalani. Setahun terus berkomukasi dengan kata-kata indah khasmu akhirnya menjadikanku mengenal kata jenuh. Kita berjauhan tanpa bisa menyelesaikan jenuh itu bersama-sama, yang pada akhirnya kita sama-sama memilih menyerah dan pergi.

Kita memilih menyebutnya sebagai akhiran, padahal sebenarnya tak pernah ada awalan dari semua bagian yang pernah ada. Ketika malam itu aku memilih untuk bergerak pulang, kau pun tak lagi menahan. Mungkin kau pun dalam mode kejenuhan.

Setelahnya, aku memilih benar-benar beranjak. Kata seorang temanku, move on paling cepat adalah dengan memblokir sosial media. Karena hidup di era digital ini, sosial media lah yang berperan lebih utama dari pada sebuah pertemuan.

Aku memilih mendengarkan sarannya, kublokir semua jalan yang bisa kulewati bahkan untuk sekedar memandang fotomu. Sebulan... dua bulan... tiga bulan berlalu. Hari itu hidupku terasa hampa, ibarat sambal ayam geprek yang lupa dilengkapi penyedap rasa, benar-benar tidak menggugah selera.

Untuk yang kedua kalinya semesta memaksaku menyerah lagi. Menjalani hidup tanpamu membuatku merasa sedang berjalan bukan pada duniaku sendiri. Akhirnya, aku memilih kembali membuka blokiran jalan yang sempat kututup rapat. Kukira kau juga menutup jalan untukku kembali masuk ke dalam duniamu. Ternyata tidak, kau tidak melakukannya. Terbukti lewat story What’s app-mu yang langsung masuk ke dalam What’s-app-ku begitu aku membuka jalannya.

Kukira, tak akan ada lagi sapaan setelah semuanya, namun ternyata aku salah. Karena sedetik setelah aku melihat story-mu, kau langsung menyapaku, berlagak seolah cerita masih milik kita.

Singkat cerita, kita kembali dekat dengan kau yang tak pernah mempersoalkan aku yang pernah memilih pergi. Puing-puing yang pernah menjadi kepingan, perlahan mulai kita susun kembali dan mulai terlihat hasilnya yang tampak indah.

Di saat aku sudah mulai yakin padamu, pun pada diriku sendiri, di saat itulah ternyata aku... aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan hatiku.

Kau pergi.

Tanpa kabar, menghilang, dan lenyap begitu saja. Seketika semua hancur. Semua berantakan. Porak poranda. Bahkan lebih hancur dari sebuah gelas kaca yang jatuh ke lantai.

Lantas, di tengah malam sunyi yang terasa menyesakkan, aku berteriak pada semesta, apa ini yang namanya karma? Tapi kenapa rasanya ini terlalu kejam? Jika memang dia bosan, tidakkah bisa ia sampaikan, seperti yang pernah kulakukan? Mengapa ia memilih langsung mencampakkan?

Sebelum benar-benar terjatuh aku memilih berdiri sebentar, sekedar bertanya kepada orang-orang sekitar, mungkin saja aku tersesat. Dan ternyata bukan aku yang tersesat, tetapi kau yang memang sudah memilih jalan yang baru, yang akhirnya benar-benar membuat aku terjatuh.

Lewat kilas balik dari cerita kita ini, aku ingin kau tau bahwa tidak pernah ada kata sesal karena aku telah mencintaimu. Aku menuliskan ini bukan untukmu, karena aku tau kau tidak pernah suka membaca. Tetapi, aku menuliskan ini kepada orang-orang selain kamu, agar mereka tau seberapa pantasnya kamu untuk dicintai. Agar mereka sadar bahwa orang yang telah meninggalkanku bukanlah lelaki jahat. Ia hanya sedang mencari yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dan yang terbaik versinya bukanlah aku. Dan... aku tidak bisa memaksa untuk itu.

Sekarang, malam telah larut, dan sebentar lagi aku akan tidur karena ini bukan lagi malam minggu kita yang mengharuskanku untuk berjaga, hujan yang turun selepas magrib juga belum mereda, membuatku ingin cepat-cepat bergumul di balik selimut tebalku. Meski cerita ini bukan untukmu, tapi aku ingin kau tau bahwa sekarang aku tidak lagi menangis. Aku berhasil keluar dari lubang hitam penuh air mata yang menyeramkan. Aku berhasil tersadar dari hal yang ternyata selama ini hanya ada di dalam kepalaku.

Terima kasih untuk satu judul cerita yang membuatku tau arti dari perasaan yang tidak boleh dipermainkan. Terima kasih telah mengajarkan aku bahwa bertahan dalam kejenuhan lebih baik dari pada harus merasakan kehilangan.

By: Mandahuuu