Pengikut

Selasa, 14 April 2020

Dedikasi Gatra


Abdil*

Cerah menyinari teras kelas, kau duduk di sana
Di bibir meja pimpong, kedua lengan menopang bahu yang datar
Memerhati rutinitas di batas aroma, soal kecil yang dibungkus percakapan
Kening Puan berkerut,
Matahari Tuhan agak terik menembus lengkungan kerudung putih
Kau melirik, sementara langkah sedang dihitung

Kepada kota tua kecil yang pernah kupilah mimpiku di sana
Aku membayangkan warna-warna tampak di antara puncak-puncak menara kala fajar
Ternyata mereka tak perlu bersinar
Mereka tak perlu bersinar untuk kutahu kalau ini biru, dan yang itu hijau

Saat hujan turun, pasir-pasir tak bersua untuk tak ingin basah
Pohon-pohon bertingkah
Dedaunan kuning tak ribut untuk tetap menjelma coklat
Di depan deretan tokoh-tokoh
Di ambang prakata yang tak seberapa
Di antara bait-bait puisi yang tidak selesai
Seorang Permaisuri meringis membasuh muka, dengan rindunya yang rumit
Sementara ujung lengan kemeja putih polosnya, kotor karena air sastra

Jendela rabun yang ditulisi telunjuk
Embun-embunnya tabah tak meminta untuk tetes leluasa
Aku mencintaimu,
Rindu tak bubar karena tak kukatakan
Terlalu sederhana
Mungkin terbaca di paparan cara menyikapiku
Kepada setiap gatra yang selalu kucari posisinya,
Kontak batin berita rindumu,
Garis lurus jalur orbit cerita,
Atau pertemuan tiba-tiba, denganmu
Sering aku ingin menemanimu menangis
Kala kutahu Puan sedang marah karenaku

Kepada kota tua kecil, di sana
Hai, senja kota mulai membencimu, saat dia mulai menulis karenamu,
Dan tanpa dirasa kau menemaninya lagi dari sana
“Aku mulai merasa kau tidak di sana menemaniku di sini saat aku menulis karenamu,”
Dia bersedih, tulisannya masih tentangmu.

Alumni Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Biru Bone*

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar